~Be A Good Princess~

~Genre: Romance, Drama~

~Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Para siswi yang mempunyai suara melengking itu menarik-narik lengan Rukia untuk segera berdiri dari bangkunya. Dia bisa merasakan Ichigo sedang memperhatikannya di atas panggung, mungkin menyeringai, sementara menunggu gadis pujaan hatinya itu naik ke atas bersamanya. Rukia akhirnya berdiri, dengan kaki yang gemetaran dia pun berjalan lurus, menuju ke tempat di mana dia akan dipermalukan habis-habisan.

Yang mungkin, memang itu tujuannya.

Rukia semacam memberikan tatapan apa-apaan ini? kepada Ichigo, seolah menuntut kejutan yang akan dia dapatkan sebentar lagi. Jika Ichigo tidak menggenggam tangannya, Rukia pasti akan melarikan diri dan bersembunyi entah di mana saja. Gugup mengalahkan rasa malunya kali ini. Semua rentetan kalimat yang sudah disusun di kepala Rukia untuk menyerbu Ichigo menguap habis. Otaknya benar-benar tidak bisa berpikir jernih selain menunduk ke bawah, atau menelan ludahnya.

Jika rasa gugup seperti ini yang dirasakan Orihime barusan, maka ini akan menjadi yang pertama dan terakhir Rukia berdiri di atas panggung dengan ratusan pasang mata yang menontonnya.

"Tunjukkan wajahmu," bisik Ichigo sambil menjauhkan mik dari mulutnya. "Mereka tidak akan melemparimu dengan tomat atau apa."

"Kau akan membayarnya," Rukia balik berbisik dengan tajam, rahangnya mengeras dan matanya berkilat-kilat, seolah-olah akan membakar Ichigo saat itu juga. Pemuda itu hanya memberikan cengiran andalannya, karena memang ini kejutan yang akan dia berikan.

Ichigo lalu membiarkan Rukia untuk duduk di sebuah kursi di sampingnya, yang bagi Rukia tampak seperti papan berjarum. Sementara Rukia meremas ujung roknya, irama dari keyboard mulai mengalun. Nampaknya melodi ini sudah tidak asing lagi di telinganya.

Jangan katakan kalau ini adalah cara Ichigo untuk meminta Rukia menjadi pacarnya.

Cara menyanyikan lagu seperti ini sudah sangat klasik, hampir semua makhluk Tuhan yang benar-benar niat akan melakukannya. Tapi, tidak di depan umum yang justru akan menjadi berita hangat di penjuru kota. Saat Ichigo mulai menyanyi di depan Rukia, gadis itu benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum—bukan senyum tulus atau semacamnya—senyum yang benar-benar gugup hingga membuat wajahnya merah. Dia hanya bisa menutupi mulutnya dengan telapak tangan—menahan agar tidak tersenyum terlalu lebar—sementara matanya bertemu dengan mata Ichigo yang menatapnya sedemikian rupa. Rukia buru-buru memutar kepalanya ke hadapan para penonton yang sedang ikut menyanyikan lirik lagu tersebut.

"Telling the World"-nya Taio Cruz yang sekarang dinyanyikan oleh Ichigo sukses membuat Rukia bungkam. Jantungnya ikut berdebam seiring dengan ketukan irama tersebut, juga dengan suara Ichigo yang tidak disangka-sangka begitu menghayati.

Hanya demi Rukia. Hanya demi dirinya, tentu saja. Gadis yang diidam-idamkannya sejak dulu, dan sekarang duduk di sini sedang menerima pernyataan cinta Ichigo.

Tapi, tanpa disadari, Rukia ikut terbuai dengan lagu tersebut. Sehingga membuat bibirnya bergerak-gerak ikut bernyanyi bersama Ichigo dan teman-temannya yang lain. Dia juga menikmatinya, membiarkan nada itu bergema di benaknya. Ichigo yang melihat Rukia sedang bergumam-gumam, hanya tersenyum lebar tanpa menggubris kicauan teman-temannya di kursi penonton. Pemuda itu merasa hanya ada mereka berdua di sini, gadis yang sedang duduk manis di kursinya, dan kedua tangan itu yang masih meremas ujung roknya. Ketegangannya sudah cukup menguap, namun wajahnya masih merah padam.

Rukia mengira lagu akan selesai, tetapi keyboard masih tetap berjalan, dan tiba-tiba saja tidak ada nyanyian lagi. Gadis itu sudah sadar dengan apa yang berada di sekitarnya, dan dia benar-benar terkejut saat mendapati Ichigo sedikit merunduk di hadapannya. Tangan kanan masih memegang mik, tetapi tangan kirinya berada di belakang punggung.

Dari kursi penonton, Orihime bisa melihat setangkai mawar berwarna violet cerah berada di balik punggung Ichigo. Mulutnya setengah menganga, dan dia hampir ikut tertawa karena ini adalah momen yang paling membahagiakan untuk sahabatnya sendiri. Seandainya mata Rukia beralih padanya, Orihime mungkin bisa memberi bocoran tersebut.

"Aku hanya sedang memberitahu dunia, kalau," Ichigo menarik keluar tangan kirinya, dan mawar violet yang langka itu menjumpai mata Rukia yang melotot sempurna. "Aku sudah menemukan gadisku."

Dan setelah itu, suasana di aula semakin heboh. Murid-murid berdiri dari kursinya dan berteriak satu sama lain, meramaikan suasana sehingga membuat para guru hanya bisa menggelengkan kepalanya di tempat. Ichigo yang dikenal suka berkutat dengan buku pelajarannya saja, sekarang berdiri di panggung dengan gadis mungil itu yang duduk di hadapannya.

Rukia menengok ke kursi penonton, lalu kembali ke Ichigo lagi. Dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Yang Rukia tahu, bunga mawar itu adalah pernyataan cinta, dan yang Rukia tidak tahu, kalau mungkin Ichigo bertujuan untuk melamarnya.

Melamar? Yang benar saja.

Tanpa menunggu lama-lama, Rukia bangkit dari kursinya, dan memeluk Ichigo hingga dia hampir kehilangan keseimbangan. Gadis itu tidak peduli jika sindiran yang sudah merupakan hal biasa bagi anak-anak remaja menyerangnya, dia hanya tidak mau melepaskan Ichigo dari tangannya.

Pemuda itu tersenyum hangat, lalu sedetik kemudian balas memeluknya. "Kaulah satu-satunya alasan aku bisa berdiri di sini."

"Aku sudah sangat lama ingin mengucapkannya." Rukia menelan ludah, setelah dia melepaskan pelukannya. Mawar violet itu masih setia menonton mereka berdua dari tangan Ichigo.

Sementara itu, murid-murid di aula sudah berdiri dari kursinya. Bertepuk tangan secara bergantian seolah-olah Ichigo menampilkan perform yang lebih menarik daripada grup musik dari luar negeri yang lebih terkenal, dan hampir setiap penjuru negara mengetahui mereka. Rukia terhenyak saat itu juga, bersamaan dengan Ichigo, dia menoleh ke aula di mana semua orang mengisi tempatnya masing-masing. Orihime tersenyum lebar dari kursinya saat mata mereka bertemu. Dia bahkan tampak lebih senang daripada mendapatkan penghargaan dari talenta menarinya tersebut.

Ichigo cepat-cepat menyerahkan bunga mawar cantik itu kepada gadis yang lebih pantas memegangnya. Rasa malu kembali menyerang Rukia dan dia hanya merundukkan kepalanya sedikit ke bawah. Ichigo sedikit mengangkat tangan kanannya kepada guru-guru yang melihat mereka dari belakang, memberi isyarat kalau dia minta maaf karena acara pentas seni ini malah digunakan untuk menyatakan perasaan kepada seorang gadis.

Dan dia gadis dari kerajaan.

Seorang guru wanita membalas isyarat Ichigo hanya dengan menganggukkan kepalanya sekali. Pertanda bahwa ini bukan perkara besar, mengingat kalau Ichigo pun baru pertama kali menyumbangkan acara untuk pentas seni di sekolahnya. Dan mereka sudah lebih dari cukup.

Rukia bertanya-tanya di samping Ichigo apakah dia sudah boleh kembali ke tempat duduknya dan menarik napas panjang-panjang. Dan syukurlah permintaannya terkabul, Ichigo mempersilakan Rukia untuk kembali dalam bisikan pelan sedetik kemudian. Gadis itu dengan sangat pelan menuruni dua anak tangga, mendapat senyuman dari setiap murid, yang dikenal maupun tidak dikenalnya.

Rukia berhasil mendapati jalannya menuju kursi penonton paling belakang tanpa harus pingsan karena begitu gugupnya. "Wah!" katanya menarik napas dalam-dalam. Acara masih berjalan setelah perform dari grup Ichigo. "Aku tidak bisa berkata-kata di sana. Aku merasa seperti berada di atas jurang tinggi, mengenakan baju memalukan, dan ditonton lebih dari ribuan orang. Sekarang aku mengerti kenapa banyak orang sering menyebutnya demam panggung."

Rukia merasa lega setelah dapat mengeluarkan isi hatinya yang terus bergemuruh selama dia duduk sendirian di atas panggung. Jika banyak orang yang menganggapnya romantis, maka mereka salah. Ini sama sekali tidak romantis, Ichigo malah memperlihatkannya kepada dunia, ingin mereka tahu kalau dia benar-benar mencintai Rukia.

"Tidak kusangka Kurosaki akan melakukan hal seperti itu. Kupikir selama ini dia tidak pernah bersikap lebih dari biasa."

"Ichigo itu memang naif." Rukia mengiyakan, kedua jarinya memutar tangkai mawar itu, dan dia bisa merasakan bibirnya membuat sebuah senyuman. "Aku sudah mengenalnya dari dulu, jadi aku tahu betul bagaimana sifatnya. Dia tidak pernah berubah."

Rukia melirik ke panggung, Ichigo sudah menyelesaikan perform-nya bersama kawan-kawan. Mata Ichigo tampaknya mencari-cari, dan dia sudah menemukan siapa orang yang diharapkannya itu. Cengiran lebar diberikannya setelah lambaian tangan yang singkat kepada Rukia.

"Berapa menit lagi?" tanya Rukia setelah Ichigo menghilang di balik kerumunan siswa.

"Kurang lebih tiga puluh. Apa kau ingin ke toilet atau semacamnya?"

Walaupun menjawab "Tidak." Tapi Rukia berdiri dari kursinya, dan mencari-cari ke belakang. Orihime ikut memutar tubuhnya, lalu tersenyum lebar melihat Rukia begitu penasaran.

"Pergilah. Aku yakin kau membuatnya menunggu di sana."

"Kau yakin? Kemungkinan Ichigo sedang mengganti bajunya sekarang. Aku hanya ingin... menemuinya." Entah kenapa kata-kata tersebut begitu sulit untuk keluar dari tenggorokannya, fakta bahwa Rukia ingin berbicara lebih jauh dengan Ichigo setelah mereka melakukan 'pesta' kecil-kecilan.

Orihime mengangguk antusias saat matanya menangkap sosok pemuda berambut oranye itu, yang ternyata memang baru mengganti bajunya dengan kaus putih yang benar-benar polos. Hanya ada coretan-coretan abstrak berwarna hitam di depannya. Dia sedang bersenda gurau dengan kawan-kawan musiknya. "Itu dia," tukasnya sambil menunjuk orang yang sedang dicari.

Rukia kembali ragu dengan keputusannya. Haruskah dia meninggalkan tempat duduknya dan berjalan ke sana? Atau nanti setelah pentas ini usai?

Orang-orang tua pasti akan selalu mengatakan ikuti suara hatimu. Pada mulanya Rukia merasa itu hal yang kuno, tetapi sekarang dia melakukannya. "Kau keberatan aku tinggal sebentar?"

"Tidak, tidak. Tentu saja tidak." Orihime dengan cepat menggelengkan kepalanya. Memberikan senyum lebar untuk mengatakan kalau dia baik-baik saja. "Memangnya kenapa kalau kau meninggalkanku sendirian? Aku tidak akan menangis."

Rukia tertawa dengan penuturan dari sahabatnya. "Sampai nanti. Temui aku setelah acara selesai, oke?"

Gadis dengan rambut senja itu mengangguk dan mengangkat ibu jarinya. Sebelum kembali menonton acara tersebut, dia melihat Rukia yang berlari menuju Ichigo.

(*)(*)(*)

"Oh, Rukia." Ichigo menyadari keberadaan Rukia saat mendengar derap langkah kakinya. Di saat yang bersamaan Ashido pergi dari tempatnya, karena dia tahu Ichigo membutuhkan waktu berdua dengan Rukia.

Gadis itu mengambil napas yang panjang untuk mengisi paru-parunya, lalu bertanya dengan tenang. "Apakah hari ini kau sibuk?"

"Tidak. Aku ada banyak jam kosong." Ichigo berhenti sejenak setelah melihat Rukia yang agak tenang. Berbicara dengan orang yang terengah-engah itu rasanya sulit. "Kenapa?" lanjutnya.

"Mungkin ini permintaan konyol, tetapi, maukah kau datang ke rumahku sore ini? Banyak yang ingin aku dan kakek bicarakan denganmu."

"Apa?" Ichigo balik bertanya, dan wajahnya sedikit panik. "Apa aku melakukan sesuatu yang buruk padamu? Uh, seperti, meninggalkan kadal di dalam lokermu atau semacamnya."

Rukia tertawa lepas, dan dia memukul lengan Ichigo pelan. "Bukan itu. Lihat saja nanti. Pengawalku akan menjemput keluarga kalian tepat di depan rumah," seru Rukia, malah tampak gembira. Ichigo melotot, hampir membuka mulutnya lebar-lebar. "Karena sekarang giliranku yang akan memberikan kejutan, dan aku memaksa untuk itu."

"Mencurigakan," gumam Ichigo dengan mata memicing ke arah Rukia. Merasa ditatap seperti itu, membuat Rukia menjadi risih. "Bercanda." Lagi-lagi Ichigo nyengir setelah mengatakan itu setiap kali, membuat Rukia menekuk satu alisnya. "Apakah tidak apa-apa? Kupikir kakekmu sedang sibuk mengurus ini dan itu, dan penjaga di depan gerbang sungguh menyeramkan. Aku yakin keamanan sangat ketat di kastelmu."

"Kalian akan diterima dengan senang hati," ucap Rukia dengan senyum manis, dan kata-katanya membuat Ichigo semakin berpikir macam-macam. Dia hanya seorang anak laki-laki yang tidak mempunyai bakat spektakuler, lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah, dan bertemu keluarga saat makan malam saja. Ibunya seorang yang sungguh lembut, memperlakukan Ichigo yang sudah berusia tujuh belas tahun ini seperti anak kecil—karena secara harfiah anak tunggal sangat dimanja. Sementara ayahnya adalah seorang dokter yang superaktif. Tersenyum adalah motto-nya, dan itu yang selalu membuat keluarganya tampak 'segar' setiap harinya. Apa reaksi mereka ketika mengetahui kalau keluarga Kurosaki ini akan diundang ke kastel Yang Mulia Kuchiki?

Ichigo masih ragu dengan permintaan—yang menurut Rukia—konyol ini. Tapi, tidak sampai hati untuk bertanya lagi dan lagi, jadi Ichigo hanya menurut saja demi kebaikan gadis yang disayanginya sepenuh hati ini. Juga mungkin demi kebaikannya pribadi. "Baiklah," katanya pada akhirnya. "Akan aku tunggu, dan tolong jangan sampai membuat kedua orangtuaku khawatir. Datang ke kastel kerajaan itu sesuatu yang... kau tahulah, mewah."

"Anggap saja ke rumah teman," tukas Rukia enteng, sambil berjalan mendekat pada Ichigo. Dia tahu tubuhnya terlalu pendek untuk ukuran cowok di hadapannya ini, jadi dengan berjingkat Rukia mengecup pipi kanannya. Ichigo lagi-lagi membelalakkan mata, tapi dia hanya tersenyum hangat sedetik kemudian. "Sampai bertemu nanti."

Rukia mengatakannya seolah-olah ini bukan apa-apa. Ichigo masih bingung dengan permintaan Rukia. Bertanya-tanya apakah temannya yang lain juga pernah diundang seperti ini. Sementara menunggu acara selesai, Ichigo kembali berkumpul bersama teman-temannya.

(*)(*)(*)

"Perasaanku tidak enak. Yang seperti ini tidak bisa dibilang main ke rumah teman," tukas Ichigo saat dia keluar dari kereta kuda yang baru saja menjemputnya di depan rumah. Beberapa menit sebelumnya, orangtua Ichigo betul-betul terkejut saat putranya menceritakan permintaan Rukia. Alasan yang diberikan tidak banyak, karena memang Rukia tidak mengatakan apa-apa kecuali memaksanya. Dan pada akhirnya, dengan pakaian yang tidak terlalu berlebihan, mereka sampai di depan kastel Kuchiki yang megah. Walaupun ini sudah yang kedua kalinya Ichigo berada di sini, melihatnya lagi adalah sesuatu yang benar-benar baru.

"Ichigo!" Seorang gadis menyambutnya saat itu juga. Rukia nampaknya sudah menunggu di depan gerbang daritadi. Sambil melemparkan senyum kepada kedua orangtua Ichigo, dia berkata dengan halus, "Terima kasih sudah menerima tawaranku untuk datang ke sini. Masuklah, masuklah. Kita akan berbincang di dalam."

Rukia menawarkan dengan begitu sopan, kepribadiannya sangat berbeda saat berada di sekolah. Ichigo berpikir mungkin dia telah mempelajari betul cara bertata-krama sebagai calon ratu. Rasanya terlalu cepat hari berlalu, Ichigo masih bisa melihat bangku cokelat di mana dia dan Rukia menikmati waktu berdua mereka di sana. Di malam itu, malam pesta.

Semenjak datang ke sini, Ichigo terus mengunci mulutnya seolah-olah dia menyimpan begitu banyak rahasia yang tidak ingin diketahui siapa pun. Dari luar mungkin orangtuanya masih bisa tersenyum dan mengangguk saat duduk berhadapan dengan Yang Mulia, tapi Ichigo tahu kalau mereka juga tegang.

Pikiran Ichigo tidak berada di sana saat Yang Mulia Kuchiki berbicara langsung kepada kedua orangtuanya. Yang dia tangkap hanyalah namanya, nama Rukia, serta kata-kata calon tunangan.

Tunggu sebentar. Calon tunangan katanya?

"Akan sangat menyenangkan bila kalian ingin tinggal bersama kami—dan secara langsung aku merestui putra kalian sebagai calon tunangan untuk Rukia."

Ibu Ichigo langsung mengeluarkan gelak tawa yang gugup, sementara Ichigo hanya melihatnya dengan kerutan alis yang dalam. "Astaga. Itu... itu bukan sesuatu yang bisa kami terima begitu saja."

Mata Ichigo beralih kepada Rukia yang sedang berdiri di belakang sofa, membantu kakeknya—dalam arti memaksa—ayah dan ibu Ichigo untuk menerima tawaran mereka. Menjadi calon tunangan bagi gadis anggun ini seperti mencoba untuk menggapai bulan dengan jarimu, tapi ini benar-benar mimpi jadi nyata bagi Ichigo.

"Kami tidak keberatan, sungguh." Sekarang Rukia ikut menimpali, dan dari kata-katanya dia benar-benar tulus. Suasana canggung ini benar-benar memenuhi ruang tamu. Ichigo justru tidak tahu harus menjawab apa. Mencintai Rukia itu sudah mutlak, tetapi diminta untuk tinggal bersama mereka adalah sesuatu yang terlalu berlebihan.

"Kau serius, Rukia?" bisik Ichigo setelah akhirnya kedua orangtuanya menerima tawaran baik hati ini. Jujur saja, dia masih belum terbiasa. Rukia mengangkat kedua alisnya dengan semangat, senyum mengembang lebar di wajahnya.

Sementara mereka masih berbicara, Rukia menarik lengan Ichigo untuk bangun dari sofanya, dan berkata, "Jalan-jalan sebentar mungkin akan menyenangkan. Temani aku?"

Ichigo berpikir mungkin dari awal ini akan membuat hatinya tidak terlalu terikat. "Ide bagus."

(*)(*)(*)

Karena balkon sudah dijelajahi, Rukia mengantar Ichigo ke setiap kamar yang berbaris rapi di koridornya. Ada banyak lukisan yang digantung di tembok, tampak tersusun seperti di museum, serta karpet biru yang menjulang. Ichigo hanya menelengkan kepalanya untuk mengintip apa yang berada di balik pintu besar itu. Kamar yang kosong tetapi tampak bersih.

"Ini nanti akan menjadi kamar kedua orangtuamu," kata Rukia sambil melayangkan tangannya ke sebuah pintu berwarna gading, seolah-olah dia adalah pemandu sebuah tur.

Rasanya aneh untuk mendengar bahwa Ichigo sudah diterima di keluarga ini. Apalagi statusnya sebagai murid yang ditambah dengan calon tunangan Rukia. "Lalu, apakah aku memiliki kamarku sendiri? Atau, kau tahu, semacam tidur di sofa atau apa."

Rukia mengerjapkan matanya sekali, lalu mengeluarkan gelak tawa yang membuat gema di koridor. "Tidak. Kamarmu tepat di sini." Rukia menunjuk sebuah ruang yang sama luasnya dengan kamar ibu dan ayah Ichigo. "Maaf jika suasana kamar ini tidak sesuai dengan kamarmu yang sebelumnya."

"Ini tidak apa-apa." Ichigo cepat-cepat menyela. "Aku bisa tidur kapan dan di mana saja. Jadi, jangan khawatir soal menata kamarku. Itu... kau tahu, merepotkan."

Rukia mengiyakan pernyataan Ichigo dengan mengangguk, walaupun sebenarnya dia lebih senang menghias kamarnya sendiri. Karena tampaknya waktu berjam-jam yang dipakai untuk mengelilingi kastel ini sudah cukup, mereka kembali ke ruang tamu. Di mana perbincangan mengerikan itu berlanjut.

Atau selesai sampai di sini.

Ichigo melihat bertumpuk-tumpuk barang di samping sofa yang diduduki olehnya tadi. Koper hitam yang familier menjumpai penglihatannya.

"Mom, siapa yang membawa barang-barang ke sini?"

"Mereka," jawab sang ibu sambil menganggukkan kepalanya kepada pelayan-pelayan di kastel kerajaan ini. "Sebenarnya aku masih ragu apakah kita mendapatkan izin yang resmi untuk tinggal di sini."

"Tepat sekali." Alis Ichigo semakin berkerut saat melihat semua barang miliknya benar-benar dibongkar dan dibawa ke sini. "Tapi, karena tampaknya Rukia memaksa"—mata cokelatnya melompat kepada gadis kecil di sampingnya—"maka dengan senang hati aku menerima."

Ibu Ichigo mencibir sambil menahan tawanya. "Kau harus tahu," bisiknya pada Rukia. "Aku selalu memaksa Ichigo untuk setidaknya membantuku di dapur, tapi dia tidak pernah melakukannya dengan senang hati."

Rukia tertawa geli setelah mengetahui sifat asli Ichigo di rumahnya. Ichigo yang merasa dibicarakan langsung membelalakkan matanya. "Mom," erangnya.

"Maaf, Sayang. Aku harus membantu ayahmu di luar." Dengan gesit ibu Ichigo berjalan keluar, meninggalkan Ichigo yang berwajah merah padam. Dan dia yakin ibunya sedang menertawainya diam-diam.

"Kebiasaan buruk," ujarnya pada Rukia saat gadis itu menatapnya dengan tatapan menilai, sambil tersenyum ganjil. "Apa?" tanyanya bingung. "Jangan menatapku seolah-olah aku memang melakukan itu setiap hari. Kau juga tahu, anak cowok tidak seharusnya membantu di dapur."

Tampaknya Ichigo berbicara seperti itu hanya untuk membela dirinya sendiri. "Ya, aku tahu." Rukia mengangguk, menepuk-nepuk lengan Ichigo untuk membesarkan hatinya. "Kelihatannya kedua orangtuamu sudah mulai membiasakan diri di sini."

"Yeah, jadi," Ichigo memulai, walaupun tampak canggung untuk menanyakannya. "Apakah aku juga harus belajar untuk menjadi calon tunangan yang baik untukmu?"

"Sesungguhnya tidak perlu. Karena hal itu akan berjalan dengan sendirinya," jawab Rukia setenang mungkin. "Aku senang kejutan ini berjalan dengan lancar. Dengan adanya kau di sini, aku bisa merasa lebih tenang."

Ichigo hanya tersenyum lega, dan untuk kali ini saja dia ingin sekali memeluk Rukia erat-erat. "Dan tanpamu, itu hanya akan membuat lubang di dalam diriku."

Tidak ada hitungan detik, Rukia segera menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Ichigo, memejamkan matanya, dan membiarkan kehangatan menyelimuti mereka berdua. Sudah sekian lama Ichigo ingin membiarkan gadis ini berada di dalam pelukannya, dan selalu berjanji untuk tidak akan melepaskannya. Karena dialah yang membuat hidup Ichigo lengkap dan lebih berwarna.

To Be Continued


Reply Review:

Prabz SukebeTechnika, Wah, padahal itu kata2 udah sering denger pasti XD. Hohoho, pengennya sih gitu, tapi nanti jadi nyeleweng trus jatoh ke jurang (?). Yaah, di sini mereka udah satu atap, (padahal gak tau apakah di undang2 ada kayak gini). Makasih buat koreksi dan Reviewnya! :D

Naruzhea AiChi, Terlintas aja begitu di otak saya, huehehe. Hmm, istilah 'nembak' mungkin gak digunakan di sini, karena mereka udah saling mencintai, yah, jadi berjalan alami saja XD. Makasih Reviewnya! :D

Poppyholic Uki, Kok tau saya mau yg biasa? (gak nyambung). Makasih Reviewnya! :D

Odagiri, Wah, Oda ternyata ganti pen-name XD, sekaligus Review 4 chapter pula. Dan setiap baca Review-nya saya ngakak terus XD. Makasih banyak Oda! :D

Saya malah cekikikkan sendiri pas ngetik chapter 9 ini. Waah, gak disangka updatenya bakal satu abad begini (?). Maaf banget, saya akhir-akhir ini banyak tugas yg ngantri *biasa, pada minta tanda tangan* sama ulangan harian. Kehidupan SMA yg mengerikan sudah di depan mata, jadi mungkin saya bakal jarang megang komputer *kok jadi galau gini, sih?*

Okelah, curcolnya udahan dulu. Sebelumnya maaf (lagi) kalau fic ini jadi makin garing. Karena saya mampunya cuma sampe sini aja, kamus diksi saya masih di bawah rata2, jadi mohon dimaklumi m(_ _)m

Next chapter itu udah epilog-nya kok. Saya selalu mampet di tengah-tengah cerita, tapi doain aja semoga epilog-nya gak lama kayak gini, huehehe.

Yg udah Review, terima kasih banyak! Otak saya juga udah panas sama kayak CPU-nya, jadi sampai di sini dulu sepik-sepiknya XD. Ketemu di next chapter, and saiyonara~!

PS: Sebenernya gak tau apa raja itu boleh 'ngeadopsi' rakyatnya. Tapi, karena ini udah mentok, dan satu2nya ide yg saya punya, mohon maklumi.