Melt

Chapter 2 : Tahap Pertama

Fanfiction: Vocaloid

Genre : Romance and Friendship

Rated : K+

Pairing : Miku & Kaito

Warnings: OOC, Typos, dll.

Disclaimer: Vocaloid milik Yamaha Corp, Crypton, INTERNET Co. Ltd, & Zero G

"Yang pertama.. Mendekatinya! Ya! Akan kumulai dari sekarang!" ucapku. AKu memang sedang dalam mode semangat! Hehehe.. Hmm, aku ada nomor Kaiko, adik Kaito. Mungkin aku telepon saja, ya?

Tut.. Tut.. Tut..

"Ya, Kaiko disini!"

"Eh, Kaiko.. Ini Miku.."

"Oh, Miku.. Ada perlu apa Miku-san?"

"Hnn.. Kakakmu ada dimana sekarang?"

"Si Kaito? Dia ada di sekolah, main basket. Ada perlu apa?"

"Gak.. Cuma mau ngomong sebentar!"

"Oh, mau kubilangin sekalian?!"

"J-J-Jangan! Udah ya, makasih!"

Tut.. Tut.. Tut..

Ah! Kaiko memang bisa diandalkan! Kaito kan memang ikut klub basket sejak tahun lalu. Tapi sayangnya dia jadi center, jadi sayang sekali, dia terkadang tidak diperbolehkan untuk me-shoot karena tugasnya adalah menjada ring..

Aku berlari-lari kearah sekolah dengan jaket dan rok -mini- berwarna merah muda. Apakah Kaito akan melihati aku? Sudah jangan dipedulikan! Aku berlari-lari ke lapangan basket yang sedang.. Ramai. Dan yang membawa bola adalah Kaito. Tapi..

"PRIIIT! Waktu menyerang habis! Sudah 24 detik! Ganti penyerang!" ucap Big AI-sensei. ISH! Padahal kalau Kaito me-shoot, aku bisa teriak-teriak mendukung Kaito!

Dan 10 menit kemudian, para anggota klub basket keluar dari lapangan. Kelihatan Kaito agak kecewa. Lho kok kecewa? Apa jangan-jangan.. Karena si Big AI-sensei tadi?

"Hei Kaito-senpai.." panggilku. Dia melihatku dan mengeblush. Lho kok malah nge-blush? Lalu ia hanya tersenyum padaku sambil mengelus kepalaku. Ih, naiknya..

"Keren, ya.. Dari tadi kamu nontonin aku, ya?" tanyanya. Eh? Kok bisa tahu? Jangan-jangan dia stalker.. Atau aku yang jadi stalker dia?! DUh, gak jelas banget deh.

"Eng-enggak kok! Aku cuma bosen di rumah, jadi jalan-jalan ke sekolah! Kaito-senpai geer!" jawabku. Ia hanya tertawa kecil lalu menggandengku. Eh?! Aku ngeblush!

"Yuk, kita pergi ke tempat lain! Disini banyak orang," ajaknya. Lalu ia menarik aku dan pergi ke belakang.. BELAKANG SEKOLAH?! KAN DI SINI ADALAH TEMPAT MITOS TENTANG DUA MAYAT ITU!

Flashback

Waktu itu, sekolah sedang gentar karena kehilangan dua orang murid kelas 2 SMP terlihat meninggal dunia di depan pohon sakura. Kata sang saksi mata, mereka berdua sedang saling menyatakan cinta di bawah pohon sakura, lalu tiba-tiba mereka berteriak bersamaan lalu jatuh.2

"Aku tidak lihat kenapa mereka teriak bersamaan, tetapi yang pasti darah mereka habis setelah mati hanya selama 5 menit! Dan bunga sakura yang dulu dikira bunga lily karena putih itu berubah menjadi warna merah muda seperti bunga sakura yang bisanya!" jelas sang saksi mata.

"Lalu, mayatnya yang sudah tak berdarah itu bagaimana?" tanya reporter sekolah saat itu, Utatane Piko, yang sekarang merupakan anak SMA.

"Awalnya aku lari karena takut, tapi aku kembali sekitar 10 menit kemudian, dan kedua mayat itu sudah tak berdaging! Tapi, batang pohon sakura yang dulunya hitam itu berubah menjadi coklat! Awalnya aku juga bingung kenapa itu terjadi.." jelas sang saksi mata, yaitu SF-A2 Miki.

"Ah, Miki-chan. Terima kasih banyak atas informasinya. Aku sangat mengargainya. Dan info ini akan masuk majalah sekolah. Terima kasih banyak, ya!" ucap Piko. Miki hanya tersenyum. Setelah itu Poki dan Miki jalan berdua. Tapi yang parahnya.. Orang-orang, apalagi guru-guru yang suka merawat pohon sakura itu jadi jarang poergi ke situ karea mitos itu.

End of flashback

"Eh.. Kaito-senpai mau apa ke-kesini?" tanyaku. Dia hanya tersenyum, tidak menjawab. Tapi aku memberikan puppy eyes. Dia melihatku sejenak lalu mengangguk-angguk.

"Aku ingin kita mengobrol disini agar tidak ketahuan Leon. Leonkan suka padamu." jawabnya. A-aku tak percaya! Ternyata ada yang menyukai aku selain daun bawang! Eh.. Maaf.. Kok malah daun bawang..

"Sini, Miku.. Ayo kita ngobrol di bawah pohon sakura." ucapnya sambil menarik tanganku dan berjalan ke bawah pohon sakura. Aku takut! Benar-benar takut!

"Ad-ada apa sih? E-e-emangnya penting ya?" tanyaku. Kaito melihatiku. Agak menoleh keluar sedikit, melihati aku lagi, lalu mengangguk.

"Ini sangat penting, Miku.." ucapnya, lalu agak mendekatkan wajahnya padaku.

"Penti apanya! Aku minta tolong untuk cepat, ya.." pintaku. Ia hanya tersenyum kecil. Wajahku benar-benar memanas!

"Aku minta tolong untuk-"

"SUDAH! AKU TAHUT UNTUK BERADA DI BAWAH POHON SAKURA INI!" jeritku, lalu lari dari sekolah. Kenapa aku begini?! AKu takut Kaito akan menembak aku!

Malamnya..

Aku galau! AKu sudah membuat Kaito mulai agak kesal padaku, kan? Daripada galau begini, lebih baik aku telepon Len. Siapa tahu ia punya saran yang bagus untuk menenangkan diri.

"Len.. Tadi di bawah pohon sakura.. Kaito ingin bilang aku sesuatu.. Aku jadi takut mati kayak dua orang itu!"

"Itu kan cuma berlaku untuk orang yang menyatakn cinta saja."

"Iya! Dia mendekatkan wajah kepadaku terus bilang 'aku minta tolong untuk', begitu!"

"Memangnya kalau mendekatkan muka berarti untuk menyatakn cinta?"

"E-eh.." AKu melas. Ternyata kalau Kaito-senpai begitu bukan bverarti ia suka padaku, ya?! Duh, sedihnya!

Setelah itu Len menutup teleponnya. Aduh, aku benar-benar malu.. Gimana kalau Kaito jadi gak suka sama aku gara-gara kejadian tadi? Tapi.. Masih ada tahap kedua dan selanjutnya, kok! Jangan kendur semangatmu, Miku!

Hnn.. Tapi aku tak tahu kan? Kaito itu sukanya apa.. Yasudah.. Mungkin aku bisa telepon sepupunya, yaitu Mokaito.

Tut.. Tut.. Tut..

"Ya.. Ya.. Moka-moka disini.. Sruputt..."

"Hmm.. Moka-kun, aku mau bertanya boleh kan?"

"Ya boleh, lah! Kalau kaga boleh itu namanya aku orang yang jahat banget sama Miku-chan."

"Hmm.. Begini, Aku.. Aku mau tanya.. Kaito itu suka apa ya?"

"Benda atau orang atau makanan atau rumah atau binatang atau-"

"Makanan atau benda, deh!"

"Heh, enak saja kau motong-motong perkataan orang keren kayak Moka-Moka! Minta maaf dulu sana!"

"Eh, iya Mokaito-kun! Maaf! Aku mintanya makanan atau benda."

"Hnn~ Tapi kita harus ciuman dul-"

Tut.. Tut.. Tut..

Dasar manusia mesum! Lebih baik aku tanya yang lain saja. Seperti.. Nigaito? Hmm oke, Nigaito..

Tut.. Tut.. Tut..

"Ini Nigaito.. Ada perlu apa? Aku sedang bikin teh hijau, jadi jangan kebanyakan lama nelponnya."

"Nigaito.. Aku boleh tanya gak?"

"Iya-iya! Apa saja silahkan yang penting ga usah pake lama!"

"Hnn.. Kaito-senpai sukanya makan apa, sih?"

"Hmm.. SPRTTTTTT! KAMU GAK TAU KAITO-NIISAN SUKA MAKAN APA?!"

"I-iya.. Emangnya kenapa sih?!"

"BWAHAHAHAAHA! BWAHA-BWAHA! BWAHAHAHAA!"

Tut.. Tut.. Tut..

Keluarga Shion memang kacau.. AKu jadi bingung mau tanya ke siapa? Ke.. Taito saja! Dia pendiam kan? Oke, aku telepon deh.

Tut.. Tut.. Tut..

"Ini Taito."

"Eh, Taito-kun! Aku mau tanya boleh gak?"

"Tanya apa."

"Kaito-senpai sukanya makan makanan apa, ya?"

"Hnn.. Es cair."

"Hah? Air?"

"Es cair, bodoh! Yang bercreamy-creamy~"

"Kalau mau bilang es krim, bilang jaa, dong.. Jangan malu-malu!

"Ya sudah, tu tau! Dah."

Tut.. Tut.. Tut..

Akhirnya ada yang bisa dipercaya! Sekarang.. Aku harus beli es krim yang banyak!

To Be Continued

A/N : Semoga fanfict ini memuaskan hasrat para pembaca! Terima kasih~ Jangan lupa tinggalkan seutas tali review..