Sungmin's Side.

"Lagu anda bagus?"

Sungmin yang duduk bersila di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuh menatap bingung Lee Hyukjae yang duduk disampingnya. Temannya yang bermata sipit dan berambut lurus panjang tergerai melewati bahu itu balas menatap Sungmin dengan kedua tangan terlipat di dada.

"Aku tidak percaya kau hanya bisa berkata begitu. Kenapa tidak minta tanda tangannya?" Hyukjae melanjutkan dengan nada menuduh.

Sungmin mengerang. "Mungkin karena kemarin aku sedang kesal dan lelah... dan lumpuh otak." Ia memegang pipinya yang agak pucat dan menggeleng-geleng. "Betul, sepertinya otakku benar-benar sudah lumpuh semalam. Bagaimana aku bisa masuk ke mobil bersama dua namja yang tidak kukenal? Dan saat itu sudah hampir tengah malam. Omona, apa yang sudah kulakukan? Aku bukan orang yang seperti itu. Tidak, tidak. Aku sudah gila. Syukurlah aku masih beruntung. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa kemarin?"

Hyukjae mendecakkan lidah. "Hei, kau bukannya bersama orang asing. Kau bersama Cho Kyuhyun. Kenapa kau tidak minta tanda tangannya?" tanyanya sekali lagi, dengan nada penyesalan kental terdengar.

"Cho Kyuhyun orang asing bagiku," cetus Sungmin tegas.

"Lagipula kau tahu sendiri aku bukan penggemarnya, kenapa aku harus minta tanda tangannya?"

"Walaupun bukan pernggemarnya, kau kan tahu temanmu yang satu ini adalah penggemar terberatnya," tegur Hyukjae lagi sambil menekankan telapak tangan di dada. "Aku sudh begitu setia menunggu kemunculannya lagi selama empat tahun ini. Setidaknya kau bisa minta tanda tangannya untukku... Tidak semua orang bisa bertemu langsung dengan Cho Kyuhyun, kau tahu? Dan kemarin, entah dengan keajaiban apa, kau bertemu dengannya, kau bicara dengannya dan dia bahkan mengantarmu dengan mobilnya—"

"Mobil temannya," sela Sungmin. "Temannya juga ada di sana."

Hyukjae tidak mengacuhkan Sungmin. "Kau naik mobil bersamanya. Haah, kalau aku jadi kau, aku akan—"

"Ya, Lee Hyukjae!"

Sikap Hyukjae melunak. "Arra, arra. Tapi kalau lain kali kau bertemu dengannya, jangan lupa minta tanda tangannya untukku."

Sungmin membaringkan diri ke tempat tidur. "Kalau aku bertemu dengannya lagi," gumamnya lirih. Pandangannya menerawang. "Kalau aku bertemu dengannya lagi."

Hyukjae bermain-main dengan salah satu ujung selimut Sungmin lalu tiba-tiba menyeletuk, "Oh ya, kudengar Kyuhyun itu sebenarnya gay. Aku tidak tahu gosip itu benar atau tidak, meski aku bisa mati karena kecewa kalau dia benar-benar gay. Kemarin kau bertemu langsung dengannya. Menurutmu bagaimana? Sikapnya seperti apa? Apakah dia kelihatan normal-normal saja? Terlihat berbeda? Apakah penampilannya berubah setelah bertahun-tahun menghilang?"

Sungmin mengerutkan kening dan berpikir. "Mollayo, aku tidak merasa ada yang aneh pada dirinya. Biasa saja. Aduh, aku kan sudah bilang bahwa kemarin aku lumpuh otak. Aku bahkan tidak ingat lagi baju apa yang dipakainya."

Hyukjae menatap prihatin temannya. "Kau benar-benar tidak berguna. Hanya kau yang bisa demam di musim panas seperti ini. Kepalamu masih sakit? Sudah baikan belum?"

Sungmin tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sedang memikirkan hal lain. Kemudian ia menggigit bibir dan bertanya, "Hyukjae-ah, sebenarnya apa yang kau suka dari Cho Kyuhyun? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?"

Senyum Hyukjae mengembang. "Karena dia tampan, lucu, pandai menyanyi—aduh, suaranya bagus sekali—dan karena dia menulis lagu-lagu yang begitu romantis dan menyentuh. Oh ya, album barunya akan diluncurkan sebentar lagi. Ah, aku sudah tidak sabar!"

"Begitu?"

Tiba-tiba Hyukjae memekik dan membuat Sungmin terperanjat.

"Kenapa? Ada apa?" tanya Sungmin begitu melihat Hyukjae meraih tasnya yang tergeletak di lantai dengn kasar dan mulai mencari-cari sesuatu di dalamnya.

"Nan paboya, nan paboya!" gumam Hyukjae berulang-ulang. "Seharusnya aku langsung tahu begitu kau menceritakannya padaku."

"Apa?" tanya Sungmin heran.

Hyukjae mengeluarkan tabloid dan membuka-buka halamannya, "Nah, coba kau lihat ini."

Sungmin melihat artikel berjudul "Pertemuan Tengah Malam" yang ditunjukkan Hyukjae dan mendadak ia merinding. Artikel itu dilengkapi dua foto seorang Cho Kyuhyun bersama seorang yeoja. Wajah yeoja itu tidak terlihat jelas, tapi Sungmin sudah tentu bisa mengenali dirinya sendiri. Yeoja yang bersama Cho Kyuhyun di dalam foto itu adalah dirinya. Astaga! Apa-apaan ini?

Foto pertama memperlihatkan Sungmin dan Kyuhyun yang sedang keluar dari rumah artis itu. Kepala Sungmin tertunduk ketika difoto sehingga tidak terlihat. Sungmin ingat saat itu Kyuhyun masih berada di dalam rumah sehingga orang itu tidak ikut terfoto.

Foto yang kedua diambil ketika Kyuhyun sedang membuka pintu mobilnya. Sosoknya tidak jelas karena terhalang tubuh Kyuhyun. Sungmin merasa bersyukur karena wajahnya tidak terlihat.

"Aku sempat melupakan tabloid ini ketika aku mendengar kau sakit," kata Hyukjae menjelaskan. "Seharusnya aku bisa menduga ketika kau menceritakan apa yang kau alami semalam tadi, tapi anehnya hari ini kerja otakku lamban sekali. Yeoja itu kau, bukan?"

"Astaga," gumam Sungmin tidak percaya. "Siapa yang mengambil foto-foto ini?"

"Cho Kyuhyun itu artis terkenal," kata Hyukjae dengan nada 'aku-tahu-semua-jadi-percaya-saja-padaku'.

"Tentu saja banyak wartawan yang sibuk mencari berita tentang dirinya. Dan yang satu ini benar-benar berita hebat. Di sini malah ditulis kau kekasih Cho Kyuhyun."

Sungmin menggeleng-geleng dan mengembalikan tabloid itu kepada Hyukjae. Ia masih merinding. "Aku tidak berdua saja dengannya. Ahjusshi berkacamata itu, teman Kyuhyun, yang juga ada bersama kami, seharusnya siapapun yang mengambil foto ini juga tahu, tapi kenapa jadi begini?"

Hyukjae menarik nafas panjang. "Sudah kubilang, Kyuhun itu artis terkenal. Tabloid-tablod harus mencari berita yang bisa menarik perhatian orang. Kalau kalian bertiga yang ada di foto itu, tidak akan ada berita."

Sungmin merasa tubuhnya menggigil. "Untunglah wajahku tidak terlihat. Hyukjae, kuharap kau tidak akan memberitahu siapapun tentang pertemuanku dengan Kyuhyun."

Alis Hyukjae terangkat, "Kenapa?"

Sungmin mengerutkan kening dan menggaruk kepala. "Enak saja mereka membuat gosip sembarangan. Kekasihnya? Aku? Aku tidak mau terlibat dengan urusan seperti gosip artis..."

"Kepalamu masih sakit?" tanya Hyukjae ketika melihat Sungmin terdiam sambil memegang dahi.

Sungmin menggeleng dan tersenyum—manis sekali. "Tidak, aku sudah baikan. Sepertinya gara-gara kecapekan ditambah stres, akhirnya demam. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa. Kau pulanglah dan bantu ibumu. Sekarang kan jam makan siang. Rumah makan ibumu pasti sedang ramai."

"Ibuku juga mencemaskan keadaanmu, jadi aku diizinkan tinggal lebih lama. Oh iya, ibuku sudah memasak bubur untukmu. Tadi aku taruh di dapur. Kau harus makan, arraseo?" kata Hyukjae sambil mengambil tasnya yang ada di lantai. Ia meletakkan tangannya di kening Sungmin dan bergumam, "Sudah tidak panas, tapi tetap harus minum obat. Nanti sore aku akan menjengukmu lagi. Kau ada apa-apa, telepon aku."

"Kau baik sekali, Hyukjae-ah," kata Sungmin sambil tersenyum. "Sampaikan terima kasihku pada ibumu karena sudah memasak bubur untukku. Ah, tidak usah. Sebaiknya aku sendiri yang meneleponnya dan berterima kasih. Oh iya, kau harus ingat. Soal pertemuanku dengan Cho Kyuhyun semalam, jangan kau katakan pada siapapun."

"Ya, ya aku tahu. Kau tenang saja. Istirahat yang banyak ya. Annyeong," kata Hyukjae sebelum keluar dari kamar Sungmin.

Kyuhyun's Side.

Kyuhyun berdiri tegak di dekat jendela besar ruangan kantor manajernya yang berada di lantai 20 gedung pencakar langit. Ia memandang keluar jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia tidak sedang menikmati pemandangan kota Seoul seperti yang dialkukannya pada hari-hari biasa. Ia sedang berpikir karena pagi-pagi sebuah tabloid lagi-lagi memuat artikel yang tidak-tidak—mengomentari gosip gay-nya. Gosip itu merambat dengan kecepatan tinggi. Tidak lama lagi ia pasti akan dimintai penjelasan. Wartawan-wartawan akan mengejarnya... menanyainya... menuntut tanggapannya. Itulah resiko menjadi artis. Kenangan buruk masa lalu itu muncul lagi. Ketika para wartawan mengajukan ribuan pertanyaan tanpa henti, ketika ia merasa begitu frustasi dan harus bersembunyi untuk menenangkan diri. Kini, dengan adanya gosip baru itu, hari-hari penuh perjuangan akan kembali dimulai... atau apakah sebenarnya sudah dimulai?

"Oh, Kyu! Sudah datang rupanya."

Kyuhyun begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari manajernya sudah masuk ke kantor itu.

Jungsoo berjalan ke meja kerjanya dan meletakkan map biru di meja. "Sudah lama?"

Kyuhyun menggeleng dan menghampiri kursi di depan meja. "Baru saja sampai. Ada apa menyuruhku kemari pagi-pagi?"

Jungsoo menyampirkan jasnya di sandaran kursi lalu membuka mp yang tadi diletakkannya di meja. Ia mengeluarkan tabloid dari dalamnya dan menyodorkannya kepada Kyuhyun.

Kyuhyun menerima tabloid yang disodorkan dengan bingung, namun begitu melihat artikel yang ada disana, raut wajahnya beubah. "Apa-apaan ini? Bagaimana mereka bisa... Ini—"

Kyuhyun memandang manajernya dan yang ditatap mengangguk. "Benar. Ini foto yang diambil semalam ketika kita mengantar yeoja itu."

Dengan kesal, Kyuhyun melemparkan tabloid itu ke meja. "Bagus, satu gosip masih tidak cukup rupanya." Ia duduk dan bersandar di kursi. "Bagaimana mereka bisa mendapatkan foto-foto ini? Apakah menurut hyung, yeoja yang kemarin itu ada hubunganya dengan masalah ini?"

Manajernya menggeleng pelan. "Tidak, kurasa tidak. Meski kemungkinan seperti itu tetap ada, sekecil apapun, tapi menurutku tidak begitu."

Kyuhyun mengusap-usap dagu sambil merenung. Ia harus mengakui yeoja yang kemarin itu tidak mungkin ada hubungannya dengan gosip ini, tapi...

"Yeoja yang kemarin itu bernama Lee Sungmin... aku sudah menyelidikinya," kata Jungsoo sambil mengulurkan sehelai kertas kepada Kyuhyun. Ia lalu melanjutkan, "Sedang kuliah tahun ketiga dan bekerja sambilan di butih seorang perancang busana terkenal bernama Kim Heechul. Ibunya orang Korea dan ayahnya orang Jepang. Ayahnya kepala cabang perusahaan mobil dan ibunya ibu rumah tangga. Dia anak tunggal, lahir di Tokyo dan tinggal disana sampai umur sepuluh tahun, lalu karena kontrak kerja ayahnya sudah selesai, mereka pindah ke Seoul. Lima tahun yang lalu orangtuanya pindah lagi ke Tokyo sementara ia menetap di Seoul. Latar belakangnya bersih dan sederhana."

Kyuhyun membaca tulisan pada kertas yang dipegangnya dan tertawa kecil. "Darimana hyung mendapatkan informasi ini? Sampai tinggi dan berat badannya juga."

Jungsoo hanya tersenyum dan mengeluarkan sehelai kertas lain dari dalam mapnya lalu mulai membaca, "Menurut orang-orang yang kenal baik dengannya, Lee Sungmin-ssi yeoja baik-baik dan bisa dipercaya. Tidak merokok, tidak pernah mabuk-mabukan, tidak memakai obat-obat terlarang, dan tidak punya catatan kriminal apapun. Jadi aku berani menyimpulkan dia tidak ada sangkut pautnya dengan foto-foto di tabloid itu." Lalu ia menyodorkan kertas itu.

Kyuhyun menerima kertas yang disodorkan manajernya.

Jungsoo menghela nafas. "Meski harus di akui... secara tidak langsung, gosip yang satu ini telah membantu kita," katanya.

Kyuhyun mengangkat wajah dari kertas di tangannya dan memandang Jungsoo, menunggu si manajer menjelaskan maksud kata-katanya.

"Bukankah gosip ini dengan sendirinya mematahkan gosip gay-mu? Foto-foto itu memperlihatkan kau bersama seorang wanita di depan rumah pribadimu pada waktu yang sangat mencurigakan," kata Jungsoo sambil tersenyum lebar.

Sungmin's Side.

"Aku tahu kau sudah meminta izin untuk tidak datang bekerja hari ini karena tidak enak badan, tapi aku sangat membutuhkanmu sekarang, Miss Lee. Saat ini juga. Kami disini sibuk sekali, apalagi aku, sampai hampir tidak mempunyai waktu untuk menarik nafas panjang. Aku terpaksa memintamu datang, Miss Lee. Tolong datanglah segera, Please.. Kau pasti tidak sedang sakit berat. Kalau tidak, saat ini kau pasti sudah di opname di rumah sakit dan bukannya istirahat di rumah. Okay, Miss Lee?"

Sungmin berbaring di ranjang dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengarkan kata-kata bosnya yang mengalir seperti air bah di ujung sana dengan mata terpejam. Seharusnya ia tidak mengaktifkan ponselnya hari ini. Seharusnya bosnya tidak menghubunginya. Seharusnya bosnya tidak bersikap seperti ini. Orang sakit masa disuruh kerja? Diktator!

"Miss Lee? Miss Lee? Halloooooo? Kau mendengarkanku, Miss Lee? Aku tidak bisa berbicara lama-lama, Miss Lee. We are very very busy! Kau akan datang kan?"

"Ya, ya, Mister Kim. Saya mengerti. Saya akan sampai disana dalam waktu satu jam," sahut Sungmin malas.

"Kau punya setengah jam untuk sampai di studioku, Miss Lee," kata bosnya sambil menutup telepon.

Sungmin menatap ponselnya dengan hati yang dongkol. "Lihat saja, kau akan menerima surat pengunduran diri dariku hari senin nanti, drakula! Penghisap darah! Hhh! Bisa gila aku!"

Sambil mengumpat, Sungmin memaksakan dirinya bangkit dari ranjang dan berjalan berseok-seok ke lemari pakaian.

Empat puluh menit kemudian, Sungmin sudah berdiri di studio Mister Kim, salah satu perancang yang paling populer di Korea Selatan. Yang disebut studio oleh bosnya adalah ruang kerja berantakan yang penuh dengan kain berbagai corak, baik kain perca tak berguna maupun kain yang masih baru. Studio itu terletak di lantai teratas gedung berlantai tiga. Butik Mister Kim sendiri terdiri atas dua lantai; lantai pertama diperuntukkan tamu umum sementara lantai duanya untuk tamu VIP.

Sungmin masuk dan melihat pria rada kurus berparas cantik berpenampilan perlente, berambut dicat cokelat, dan berkacamata tren itu sedang memandangi model kurus dengan tatapan tidak puas. Lalu dengan sekali sentakan tangannya, ia menyuruh model itu pergi dan menyuruh anak buahnya memanggil model lain.

Tepat pada saat model lain masuk ke ruangan, Mister Kim menyadari keberadaan Sungmin dan langsung memekik, "Miss Lee! Kau terlambat. Kenapa—sebentar..." Ia berpaling ke arah model yang baru masuk dan berkata ketus, "Oh no, no! Bukan kau. Apa yang harus kulakukan supaya mereka mengerti model seperti apa yang kubutuhkan? Astaga! Panggilkan Mister Cha kesini."

Sungmin merasa kasihan melihat ekspresi kaget si model wanita. Harus diakui Mister Kim ini bukan orang yang muda. Kadang-kadang orang jenius memang sulit dibuat senang.

Mister Kim kembali memusatkan perhatian kepada Sungmin. "Kau lihat sendiri, Miss Lee, kami sedang sibuk sekali untuk fashion show. Tolong kau antarkan pakaian-pakaian ini untuk dicoba."

Apa? Untuk dicoba siapa? Pakaian mana? Mister Kim selalu mengharapkan orang lain langsung bisa memahami kata-katanya yang selalu tidak jelas.

"Diantarkan kepada siapa dan dicoba untuk apa, Mister Kim?" tanya Sungmin.

Mister Kim menatapnya dengan mata dibelakakkan selebar-lebarnya, setidaknya selebar yang mungkin dilakukan mata yang pada dasarnya sipit. "Astaga, Miss Lee. Kau tentu ingat aku pernah bercerita tentang Cho Kyuhyun, bukan? Dia sudah setuju akan memakai pakaian rancanganku dalam setiap penampilannya. Makanya kau cepat-cepatlah pergi dan pasikan pakaian-pakaian itu sudah cocok dengan ukuran dan seleranya."

Lalu, sebelum Sungmin bertanya lagi dia sudah menunjuk rak pakaian beroda yang ada di dekat pintu, "Itu! Pakaiannya ada di rak itu!"

Tidak, anda belum pernah menyebut tentang masalah ini kepadaku, gerutu Sungmin dalam hati, tapi yang tadi keluar dari mulutnya adalah, "Siapa yang anda sebut tadi?"

"Cho Kyuhyun. Penyanyi itu. Kau tidak kenal? Sudahlah, kenal atau tidak itu bukan masalah penting. Ayo sana. Go! Cepat!" katanya sambil mendorong punggung Sungmin ke arah pintu keluar studionya.

Sungmin mendorong rak beroda yang nyaris penuh pakaian di sepanjang koridor. Masih dengan perasaan sebal, ia berjalan menuju lift. Di tengah jalan, Sungmin berpapasan dengan penjaga butik yang sudah kenal baik dengannya dan diberitahu Cho Kyuhyun sudah menunggu di lantai dua.

Sesampainya di depan pintu ruang peragaan lantai dua yang memancarkan kesan elit itu, ia berhenti beberapa saat. Ia ragu. Kenapa ia harus bertemu Cho Kyuhyun lagi? Apa yang harus ia katakan kepadanya? Apa yang harus ia lakukan? Apakah laki-laki itu sudah tahu tentang foto-foto yang dimuat di tabloid itu?

Sungmin mendesah dan menggigit bibir. Mungkin saja Kyuhyun malah tidak ingat kepadanya lagi. Sungmin mengangguk. Benar, seorang Cho Kyuhyun pasti sudah lupa padanya. Artis-artis pasti sulit mengingat wajah karena setiap hari mereka harus bertemu begitu banyak orang baru. Pasti begitu. Mana mungkin mereka ingat setiap orang yang mereka temui dalam waktu yang singkat, kan?

Dengan keyakinan itu, Sungmin mendorong pintu kaca besar di hadapannya dan kembali menarik nafas. Baiklah, ini saatnya. Lakukan dan selesaikan secepatnya! Tidak usah cemas. Orang itu tidak akan ingat padamu. Kerjakan saja tugasmu.

Ia meraih pegangan itu dan membukanya.

TBC.

Aku update kilat, ya? Mian sedikit pake banget. Soalnya ini larut malam, padahal dari pagi (kesempatan habis tidur sakit, kkk) aku udah ngetik. Maaf ya kalo di chapter sebelumnya aku typo(s) dan ngelakuin banyak kesalahan. ;A; habisnya aku bosen, gak tau harus ngapain lagi di dumay. Mau fangirling tapi gak mood. Mau tidur, tapi gak bisa tidur. Mau minum obat juga males *malah curhat* kkk. Aku pengen bales review boleh? Sekalian give ma thanks and big love buat semuanya udah baca dan review!^^

dessykyumin: kkk, makasih ya udah mau nyempetin baca ff abal ini. meskipun remake, tapi aku harap para readers senang ^^

Jung Sangkyung: iya, mian ya atas kesalahan-kesalahan yang ada di chapter sebelumnya. Usulan untuk menambah alur khusus Sungmin&Kyuhyun diterima! Aku udah tambahin di ceritanya. Jadi, gimana ceritanya? Udah tambah jelas belom? Makasih ya udah mau baca ff ancur ini, ini udah di update kilat kok ^^

: ahaha, iya nih. aku khilaf (_ _)" maafkan aku(?), aku hanyalah manusia yang tak bisa terhindar dari kesalahan. kkk, gomawo udah mau nyempetin mampir baca ^^

Cho Yui Chan: silahkan ^^ iya, aku lagi pusing waktu itu dan aku khilaf chingu ._. ciusan deh, kkk. tersinggung? nggak kok. buat apa? gak ada untungnya juga aku tersinggung XD nah itu dia, tadinya aku mau discontinue aja ini ff, tapi... aku bingung mau di publish dimana. kalo di fb, makin banyak SR-nya DX

JoBel13ve: okay!^^

Park Min Rin: okay. jangan panggil aku author, namaku bukan author (?) *digiles* XD

AYU: kekeke, oke. ini udah di update ya ^^

Lilium Gyumn: oke ^^. makasih udah mau baca ff ini :D

takara-hoshi: nae, makasih udah mau baca ff ini ^^

Mard707: nah itu dia, berhubung aku author baru disini, jadi masih rada gak ngerti. kata temenku (yang juga author disini, tapi fandom lain) itu gampang, tapi pas dilihat lagi sama temenku, temenku jadi rada gak ngerti karena webnya udah di update sama admin ffn sana u_u mohon bantuannya ya ^^