Warning: Slash, Time Travel, Timeline yang loncat-loncat, dan OC.
Disclaimer: J.K. Rowling dan saya. /berasaapagitu /sepakdirisendiri
Ah adegan yang Harry kebalik waktu pertama kali bertemu Tom itu terinspirasi dari gambar Flayu yang ini:
calypte - anna . users. photofile. ru /photo /calypte-anna / 115582148 /large /133279254 .jpg
Bedanya, Harry di situ memakai seragam Gryffindor, kalau yang di fic ini memakai baju bebas yang seperti di buku ke enam. :3
XxXxXx
Chapter 1 _ Choice
Luchino Cafe, London, Juli 1938.
"Hm... Kopi itu apa, Nak Harry?"
"Ah, itu adalah jenis minuman di dunia muggle, Professor Dumbledore." Alis abu-abu itu mengernyit.
"Kopi? Apakah itu sama dengan jus labu?" Harry tertawa pelan dan menggeleng.
"Tidak, Professor. Saya pesankan teh Assam saja ya? Semoga seleranya sama dengan selera anda," kekeh Harry sambil mengangkat tangan kanannya, gestur memanggil pelayan. Ia pun memesankan teh Assam untuk Dumbledore dan Milk Tea untuknya kepada pelayan bertubuh gemuk yang mencatat pesanan sambil melirik aneh ke arah Dumbledore.
"Jadi, apa yang ingin anda tanyakan, Professor?" tanya Harry setelah pelayan itu berjalan menjauhi mereka.
"Hm. Ada banyak yang ingin kutanyakan. Tapi untuk sekarang aku ingin bertanya pada hal yang standar terlebih dahulu. Kau itu siapa, Nak?" tanya Dumbledore yang menatap Harry serius dengan kedua tangannya yang terkatup di depan mulutnya.
"...mungkin anda tak akan percaya. Tapi saya adalah orang dari masa depan, Professor. Saya kembali ke tahun ini dengan misi untuk merubah masa depan," jawab Harry. Dumbledore menganguk mengerti.
"Aku ada firasat bahwa kau pasti dari masa depan. Tapi yang masih aku bingungkan, kenapa kau mau merubah masa depan? Apakah masa depan yang terjadi di masamu adalah masa yang buruk?"
"Yah, kalau bisa dijabarkan, intinya memang masa depan yang terjadi adalah masa depan yang bu─ oh bukan buruk lebih tepatnya, itu adalah bencana. Banyaknya peperangan, runtuhnya kementrian, Hogwarts yang sudah tak aman lagi, dan..." Harry menggigit bibir bawahnya dan menatap ke arah jalanan London sambil menghela nafas.
"...dan anda meninggal, Professor."
Alis abu-abu itu terangkat. Harry masih belum berani menatap kedua mata biru yang sekarang masih menatapnya seakan ia ingin melakukan Legilimens kepadanya.
"Ah─ maka dari itu waktu kita bertemu tadi, kau ingin memegang tanganku?" Harry menoleh ke arah Dumbledore dan tersenyum pahit.
"Yes. Maafkan saya atas tindakan tak sopan tadi, tapi entah kenapa saya harus memastikan kalau anda memang Professor Dumbledore yang saya kenal atau bukan..." lirih Harry. Ia pun kaget dengan permintaannya yang terdengar aneh itu. Ia pun yakin sikapnya tadi membuat Dumbledore serta Tom heran.
'Mungkin yang lebih pas adalah memastikan kalau anda memang masih hidup atau tidak,' pikir Harry.
"Anakku, memang kematian adalah suatu hal yang menakutkan. Tapi itu juga adalah hal yang tak dapat kita hindari. Bagaimana pun juga kita semua pasti akan menemui kematian, Nak," ujar Dumbledore. Harry tersenyum sedih dan menganguk kepada pelayan yang datang membawa pesanan mereka.
"─tapi kematianlah yang menjadi alasan kenapa masa depan menjadi bencana..." Harry mengaduk milk tea-nya.
"Memangnya apa yang terjadi di masa depan, Anakku?" tanya Dumbledore. Beberapa detik, Harry hanya menatap milk tea-nya sambil melihat bayangan wajahnya di permukaan tehnya. Bekas luka yang berbentuk sambaran kilat itu terlihat dengan jelas saat ia menunduk ke bawah. Bekas luka yang ditinggalkan Voldemort kepada dirinya.
Ia pun menutup matanya dan perlahan membukanya sambil menatap raut muka sedih Dumbledore yang ada di depannya.
"Semua ini berawal dari ramalan tentang masa depan yang dibuat oleh seorang professor yang anda rekrut, Sir."
xxxxx
Suara derum mobil besi yang anggun namun tangguh, bunyi mesin-mesin industri yang berdentum keras, dan gema percakapan masyarakat meramaikan kota London di siang hari. Walaupun di dalam sebuah cafe pun, ramainya kota London tetap terdengar oleh kedua orang yang berbeda masa itu. Namun, kebisingan itu seperti diabaikan oleh keduanya yang sedang larut dalam percakapan serius yang diceritakan oleh pemuda berumur enam belas tahun yang di bulan Juli ini akan beranjak menjadi tujuh belas tahun. Sang pria tua berjenggot itu sesekali menunduk ke cangkir putih bergoreskan ukiran bunga mawar di sekitar pegangannya, hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasan dari seorang pemuda belasan tahun itu.
"Jadi, Tom Riddle yang baru kita temui tadi adalah calon Pangeran Kegelapan yang selanjutnya?" tanya Dumbledore memastikan. Harry menjawabnya dengan angukan pelan.
Begitu banyak yang ingin ia katakan kepada sosok Dumbledore di masa lalu, namun begitu banyak juga hal yang tak boleh Dumbledore tahu mengenai masa depan. Menjelajahi waktu adalah hal yang terlarang, itulah hal yang selalu Harry tekankan di pikirannya. Ia bisa mengubah secuil masa depan, namun ia tak bisa mengubah seluruh masa depan. Salah langkah sedikit saja, maka masa depan akan berubah ke langkah yang tidak ia ingin jalani.
Kalau bisa dijabarkan, penjelajah waktu adalah suatu taruhan. Jika ia mendapatkan langkah yang benar, maka masa depan yang dijalaninya akan benar sesuai langkah yang ia ambil. Jika tidak, maka ia akan melangkahi masa depan yang berbeda namun sama buruknya dengan apa yang pernah ia jalani.
Secara tiba-tiba, tawa Dumbledore menyadarkan lamunan Harry dalam sekejap. Harry mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap heran Dumbledore yang tertawa terbahak-bahak. Tunggu sebentar, dari cerita kelamnya yang mengenai masa depan itu apanya yang lucu?
"Ah, maaf, maaf. Aku hanya tak menyangka sosok anak kecil yang begitu arogan tetapi terlihat kesepian itu bisa menaklukkan dunia, bahkan diriku ini, Nak. Ah─ itulah anak muda. Harus lebih hebat dari kami yang tua ini," ujarnya sambil menyeruput tehnya, tetap sambil tersenyum lebar. Harry hanya bisa melongo memandang Dumbledore yang sekarang menambah lima sendok gula penuh dengan alasan tehnya itu kurang manis.
"Ta-tapi Professor... Masa depan yang kelam itu bukan masa depan yang anda inginkan bukan? Bagaimana pun juga saya harus merubah masa depan demi orang-orang yang berharga bagiku, Professor!" tukas Harry. Dumbledore menelengkan kepalanya, memandang pemuda calon-murid-di-masa-depan-nya heran.
"Tentu saja, Harry. Aku juga ingin masa depan tak menjadi seperti apa yang kau jalani itu. Tapi, kau harus mengesampingkan masalah itu dulu, Nak. Tom yang sekarang adalah anak kecil yatim piatu yang tinggal di Panti Asuhan yang sama sekali tidak mengetahui siapa dirinya. Jika kau membunuhnya sekarang, maka itu adalah kesalahan yang paling fatal. Ia hanyalah anak kecil, Harry," jelas Dumbledore sambil tersenyum.
"TAPI DIA YANG MEMBUNUH ORANG TUA DAN TEMANKU!"
Gebrakan kasar yang terdengar dari meja tempat duduk Harry dan Dumbledore itu membuat Dumbledore serta pelanggan cafe yang lain terperangah kaget dan terdiam sesaat. Dumbledore mengamati pemuda yang masih terengah-engah menahan amarah di hadapannya. Pundak yang bergetar serta gertakan gigi yang ditahan di balik bibirnya itu memperlihatkan betapa ia menahan kekesalan serta dendamnya yang mendalam. Setidaknya Dumbledore tahu, yang harus diselamatkan bukan hanya masa depan ataupun Tom. Pemuda misterius bermata hijau cemerlang dengan bekas luka di dahi di depannya ini juga harus ia selamatkan dari apa yang ia jalani di masa depan.
Di umur yang masih muda itu, ia harus berhadapan dengan bermacam-macam masalah. Bahkan sekarang, ia yang harusnya hanya menjadi seorang penyihir muda biasa yang menjalani sekolahnya di sekolah Hogwarts seperti anak lainnya, dibebankan hidup dan mati seluruh manusia, bahkan dirinya sendiri. Menghela nafas, Dumbledore meraih rambut berantakan berwarna hitam itu dan mengusapnya pelan.
"Maafkan aku, Nak. Bukan maksudku menyinggungmu. Tapi itulah kenyataan yang terjadi sekarang," ucap Dumbledore menenangkan.
"Bukan itu maksudku─ tapi... tapi bagaimana pun sosoknya yang sekarang, di pikiranku ia tetaplah Voldemort, Sir."
"Lantas, bagaimana dengan tatapan kasihmu yang tadi kau tunjukkan kepada Tom, Harry?" tanya pengajar Transfigurasi di masa sekarang itu.
"Itu... hanya─ Aku hanya berpura-pura, Sir," tukas Harry yang sekarang memilih memandangi pemandangan kota London di luar.
"Itu bukan pura-pura, Nak. Di dalam lubuk hatimu kau menyadari bahwa Tom yang sekarang adalah bagaikan perwujudanmu di masa kecil, kan? Kau tahu kalau ia sama denganmu yang kesepian akan cinta kasih, dijauhi oleh orang-orang di masa kecilmu, baik dirimu dan dirinya adalah darah-campur, dan bagaimana reaksinya saat ia melihat sihir yang ternyata ia miliki." Terlihat Harry berusaha mengabaikan kata-kata Dumbledore yang menunjukkan kenyataan bahwa dirinya memang bersimpati dengan Tom di masa kecil karena Tom bagaikan cerminan dirinya sendiri.
"Dialah yang membunuh orangtuaku, Professor. Jika ia tidak membunuh mereka, maka aku tidak akan merasakan hal yang sama dengan dia! Aku akan memiliki keluarga dan tidak akan terlibat dalam ketamakannya itu!"
"Tapi sekarang kau berada di masa ini, Nak. Di masa ia bukanlah seorang Pangeran Kegelapan yang membunuh orangtuamu. Dan apa kau tak ingat apa yang membedakanmu dengan dirinya, Harry?" sela Dumbledore. Membuat Harry kembali menutup mulutnya erat dan menyerah dengan perdebatan antara dia dan Dumbledore.
"Rubah masa lalu itu dengan cinta, Harry."
"Cinta, Sir."
"Ya, Harry. Cinta. Berikanlah apa yang kau punya kepada Tom yang sekarang, Harry. Ia sama seperti penyihir biasa lainnya. Namun di masa depan, ia hanya salah mengambil langkah. Ia hanya mengikuti ego dan akal tak sehatnya. Berikanlah ia kesempatan, Nak," pinta pria berjenggot abu-abu berkacamata setengah bulan itu. Harry menghela nafas dan mencoba berpikir jernih.
"...dari dulu, sejak aku tahu siapa pembunuh kedua orangtuaku─ dengan mendendam padanya, aku bisa bertahan hingga sekarang. Menyalahkan semua apa yang terjadi kepadanya dan pengikutnya membuatku bisa kompromi dengan perasaanku. Tapi dari lubuk hati, aku pun sadar kalau pemikiran itu hanya untuk menutupi kesalahanku yang tak bisa menyelamatkan nyawa orang-orang yang berharga bagiku..." Harry tersenyum sedih dan menoleh ke arah Dumbledore.
"Pengecut sekali 'kan, Professor?" kekeh Harry sambil mengacak rambutnya yang berantakan.
"Tidak, Nak. Itu adalah sikap yang sangat tegar dan berani untuk anak seumuranmu. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini," ujar Dumbledore lembut yang membuat Harry tersenyum pahit dan memandang pemandangan kota London untuk terakhir kalinya.
"...aku akan menemui Tom lagi besok..."
Mata hijau milik Harry berkilau terkena pancaran matahari yang mulai bersembunyi di antara awan-awan. Dumbledore terdiam dan tersenyum kepada seorang pemuda di masa depan yang ada di hadapannya.
Takdir yang sudah ia pilih di masa ini. Memantapkan hati yang tadinya ragu akan keputusannya dalam menolong musuh besarnya di masa depan. Pria tua paruh baya itu menganguk pelan sambil menyunggingkan senyumnya.
"Well, selamat datang di masa lalu, Harry."
xxxxxx
Menara Astronomi, Hogwarts School, 30 Juni 1997.
"Kuperingatkan sekali lagi, Harry. Ini hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup. Gagal atau tidak dalam misi ini, kuperingatkan agar kau untuk langsung kembali ke masa kita yang sekarang sesuai dengan umurmu di saat itu. Sihir kuno ini juga hanya bisa bertahan selama paling maksimal 40 tahun. Lebih dari itu nyawamu yang jadi taruhannya, Harry.
Dan harus kau ingat, kau tak boleh lebih berada di masa itu pada saat 'kau' lahir. Jika kau masih di sana sementara kau di masa itu sudah lahir, maka waktu akan mengambil jiwamu baik dari tubuhmu sekarang dan saat kau bayi. Intinya, eksistensimu di dunia ini menghilang sepenuhnya. Waktu tak bisa dipermainkan, kau tahu?" jelas panjang lebar dari seorang remaja putri Gryffindor yang berlutut di lantai kayu menara Astronomi.
Pemuda berkacamata bulat yang menggenggam sebuah kalung emas menganguk mengerti. Rekannya yang masih sibuk menggoreskan sebuah tongkat kayu di lantai itu menatap Harry dengan pandangan serius.
"Kalungkan Time Turner itu di lehermu dan bantu aku membuat pentagram ini, Harry. Jangan membuang-buang waktu," tukas Hermione, remaja putri itu, sambil melanjutkan kegiatan menggoreskan-tongkat kayu-ke-lantai-kayu itu. Dengan sigap, Harry langsung mengalungkannya di lehernya dan ikut menggoreskan lantai itu dengan potongan kayu yang dibagi Hermione. Ron, salah seorang sahabatnya juga, sedang berada di Ruang Aula Besar untuk mengawasi para murid Hogwarts lain yang sedang mendengarkan pemberitahuan mengenai kematian Dumbledore oleh Professor Mcgonagall.
Ya, Dumbledore dibunuh oleh Snape yang sekarang telah melarikan diri bersama dengan Draco Malfoy dan Death Eater yang lain. Ironis memang, orang yang paling ia percaya namun orang yang membunuhnya juga. Mengingat hal yang terjadi beberapa jam yang lalu hanya membuat kepala dan jantungnya berdenyut sakit. Balas dendam adalah hal yang pasti akan ia lakukan nanti jika ia bertemu empat mata dengan Si Rambut Minyak dan Si Ferret itu.
"Yak! Selesai!" teriak Hermione senang dan melempar tongkat kayu itu ke arah kirinya. Ia memandang puas hasil goresan berbentuk pentagram rumit dengan tulisan ancient rune di sekitar pentagram itu. Ditolehkan kepalanya dan ia pun berjalan mendekati Harry. Ia pun mengutak-atik Time Turner di leher Harry.
"Aku akan mengirimkanmu ke masa saat Vo─Voldemort masih berumur sebelas tahun. Bayangkan apa saja yang ada di panti asuhan itu, Harry. Dan... teteskan darahmu di atas pentagram ini," ujar Hermione sambil melangkah mundur, tanpa memutuskan pandangannya ke sahabatnya yang memandangnya bingung.
"Tetes?"
"Gigit ibu jarimu dan teteskan darahmu. Satu tetes tak masalah, Harry. Cepat lakukan sebelum Filch datang! Professor Mcgonagall pasti melakukan pengamanan ketat di lingkungan Hogwarts ini, kau tahu?" sergah Hermione. Harry mengikuti perintahnya dan menggigit ibu jarinya.
Setetes, dua tetes jatuh ke atas pentagram yang secara ajaib, darah itu menyebar mengikuti goresan yang dibuat Hermione dan dirinya. Saat darah itu berhasil mengisi seluruh goresan pentagram, Hermione menggumamkan bahasa yang Harry tak mengerti artinya. Di saat Harry ingin bertanya apa yang Hermione lakukan, cahaya terang bersinar dari pentagram tersebut. Time Turner yang tadinya diam, tiba-tiba berputar kencang mengikuti cahaya yang makin lama menutupi sekitar pandangan Harry.
"Kau harus ingat, Harry. Kesempatanmu hanya sekali. Dan─ kumohon, rubahlah masa lalu itu dengan apa yang kau miliki, Harry. Aku percaya padamu..." teriak Hermione yang makin terdengar samar-samar di telinga Harry. Harry memejamkan matanya saat cahaya itu mencapai setinggi badannya dan menutupi seluruh penglihatannya. Sensasi aneh menyelimuti tubuhnya yang membuatnya terpelanting ke segala arah. Hingga ia meraih ujung cahaya yang amat sangat terang dan tubuhnya terjatuh di lantai batu yang keras, membuat kepalanya terantuk lantai dan kacamatanya terjatuh entah di mana serta kakinya yang melawan gravitasi ─dengan tak elegannya, kakinya terangkat ke atas─.
Penderitaannya berhenti saat ia mendengar suara khas anak kecil yang terdengar penasaran itu. Diliriknya si pemilik suara yang berada tepat di pandangan matanya. Walaupun posisinya terbalik karena ia terlentang di lantai dan pandangannya mengabur, ia tahu siapa anak kecil yang duduk di kursi kayu dengan pandangan meremehkan itu.
"Kau siapa?"
Tom Marvolo Riddle.
Xxxxxx
Stasiun King's Cross, 01 September 1938.
"Kau mau satu ruangan denganku, Tom?" tanya Harry sambil menunjuk satu kompartemen yang masih kosong. Tom mendelik dan melangkahkan kakinya ke arah kompartemen yang ditunjuk Harry tadi, seolah tak mendengarkan apa yang Harry tanyakan. Harry mendengus pelan dan berjalan mengikuti Tom dari belakang.
Tak banyak yang berbeda dari masanya, Hogwarts Express tetaplah sama. Hanya saja, murid-murid yang masuk ke dalam kereta itu adalah orang yang sangat berbeda tentunya. Harry melirik ke arah lorong yang sekarang masih ramai dengan hilir mudik anak-anak kecil seumuran Tom yang mengejar kodok yang melompat-lompat. Harry terkekeh melihat kelakuan anak kecil yang mengingatkannya pada Neville di tahun pertamanya.
Harry tak menyadari bahwa saat ia terkekeh itu ada sepasang bola mata hitam yang menatapnya intens. Tom menatapnya dari balik buku Sejarah Sihir yang ia buka lebar-lebar di depan wajahnya.
Harry Black.
Adalah nama yang membuat penasaran seorang Tom Marvolo Riddle. Tom tak mengerti kenapa dirinya bertindak di luar nalar saat Harry akan meninggalkan kamarnya saat itu. Yang ia tahu, ia tidak suka dengan keberadaan orang yang tidak dikenalnya, apalagi Harry yang tiba-tiba muncul di kamarnya. Buktinya, ia menolak saat Dumbledore dan Harry kembali datang ke panti asuhannya keesokan harinya yang berniat menemaninya ke Diagon Alley, dengan alasan ia sudah tahu di mana letak Diagon Alley dan apa saja yang dibeli berdasarkan surat yang Dumbledore berikan kemarin.
Anehnya, saat Harry bersikeras untuk menemaninya ke Diagon Alley, ia tak bisa menolaknya untuk kedua kalinya. Akhirnya, ia dan Harry membeli perlengkapan sihir mereka bersama-sama. Oh demi apapun, ia ingin menjedukkan kepalanya ke bukunya saat mengingat betapa baiknya Harry saat menjelaskan apa saja yang ia butuhkan dan di mana letaknya─yang sebenarnya Tom sudah tahu apa saja dan di mana─. Lagi-lagi ia bersikap aneh dengan berdiam diri mengikuti Harry kemana ia pergi. Walaupun terkadang ia menyadari ada yang aneh dari kilatan mata hijau cemerlang itu saat menatapnya.
Terkesan seperti ingin membunuhnya, namun juga di saat yang sama ia seperti bersimpati kepadanya─
Hah, benar bukan, otaknya mulai aneh. Ia bersikap di luar kebiasaannya berkat pemuda bermata hijau emerald itu. Terima kasih kepada Harry Black.
Kenapa di saat ia menatap mata hijau cemerlang dan bekas luka sambaran kilat yang membuatnya penasaran itu, tubuhnya seakan-akan tak mengikuti akal sehatnya? Ia bagaikan anak kecil yang merengek-rengek untuk ditemani ke mana saja. Demi lima bir Gin milik Mrs. Cole, menyebutkannya saja membuat Tom mual. Ia memang anak kecil, tapi ia bukanlah anak kecil biasa seperti anak-anak di panti asuhannya.
Sepertinya ia mempunyai koneksi yang aneh dengan Harry yang walaupun ia sendiri tak tahu koneksi apa itu. Seakan-akan antara ia dan Harry adalah satu kesatuan. Tapi kenapa?
"Hei, Tom. Kau sudah memilih masuk ke asrama mana?"
Tom mengernyit mendengar Harry memanggil namanya dengan nama depan. Walaupun ia memang penasaran dengan pemuda di hadapannya, tapi tak berarti juga ia membolehkan orang yang tak ia kenal sebelumnya memanggil namanya seenak jidat.
"Riddle, Black. Panggil aku dengan Riddle. Siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan nama Tom? Dan ya, aku sudah memilih asrama mana," dengus Tom sambil membalik buku sejarah sihir tepat di depan mukanya. Alis Harry menyatu melihat kelakuan anak kecil yang bertindak sangat menyebalkan itu.
"Baiklah, Sir Riddle. Maafkan kesalahanku dalam menyebutkan nama anda. Kalau boleh tahu, asrama mana yang mau anda tempati, Sir?"
"Untuk apa aku menjawab pertanyaan tak berguna itu."
Alis Harry berkedut.
Diambilnya buku itu dari hadapan Tom dan ditariknya pipi pucat Tom dengan tangan kanannya. Tom mengerang keras dan menendang perut Harry sekuat tenaga, namun Harry yang sama keras kepalanya semakin menguatkan tarikannya di pipi Tom yang memerah.
"Apa perlu kuajarkan untuk bertindak sopan di hadapan orang yang lebih tua enam tahun darimu, hah, little brat?!" Terdengar teriakan mengumpat yang keluar dari mulut Tom dan raungan marah dari mulut Harry selama beberapa menit.
Xxxxxxx
Ruang Aula Besar, Hogwarts School, 01 September 1938.
"Macauley, Amabel!"
Seorang anak perempuan berambut hitam bergelombang maju ke kursi tempat Sorting Hat berada. Terlihat Dumbledore tersenyum kepada anak perempuan itu dan menaruh topi lusuh itu di kepala anak itu.
"GRYFFINDOR!" Anak perempuan itu tersenyum bangga dan melangkahkan kakinya ke arah kerumunan asrama Gryffindor. Banyak yang menyalaminya dan tertawa bersamanya. Melihat hal itu Harry hanya menatap bosan dan mengusap-usap perutnya yang masih berdenyut sakit. Merlin, tendangan dedemit kecil itu tak disangkanya sangat menyakitkan. Bagaimana pun juga walau dia anak kecil, anak itu tak bisa dianggap anak kecil biasa.
Ia melirik anak kecil yang ia maksud dan menatapnya tajam. Jikalau tatapan bisa membolongi kepala, maka Harry pasti akan langsung melakukannya kepada Si Rambut Hitam Kelam itu.
"Marvolo Riddle, Tom!"
Sosok anak kecil angkuh itu pun maju ke depan dan duduk di kursi itu. Harry mengamati gerak gerik Tom dengan seksama. Sekilas, saat topi lusuh itu ditaruh di kepalanya, terlihat wajah yang penuh kebanggaan dan keangkuhan. Entah apa yang dibicarakannya dengan topi lusuh itu. Beberapa saat kemudian terdengar teriakan keras dari topi itu.
"SLYTHERIN!"
Sontak di bagian Slytherin langsung berteriak dengan kerasnya dan tertawa senang. Anak kecil itu pun duduk di kursi asrama dan hanya menganguk saat banyak murid yang berbicara dengannya.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya sampailah giliran Harry yang dipanggil. Sebelum ia maju, kepala sekolah di masa sekarang, Professor Dippet, memberitahukan ke murid-murid bahwa Harry adalah murid pindahan dari Brazilian Wizarding School yang mengikuti program studi pertukaran pelajar ─yang tentu saja itu hanya akal-akalan dan sedikit mantra-mantra Dumbledore ke Professor Dippet beserta jajarannya─. Saat topi lusuh itu ditaruh di kepalanya, ia kembali mengingat bagaimana ia di saat tahun pertamanya. Lucu sekali bila di kelas tujuh ini, ia kembali diseleksi di mana asrama yang akan ia tuju.
"Hmm... tunggu dulu, kau penjelajah waktu? Ooh, dari masa depan, Nak? Tak kusangka sekali... Hmm, kau harus kutempatkan di mana─ Ini pilihan yang sangat sulit, kau tahu? Kau memiliki keberanian khas Gryffindor, tetapi kalau kau di Slytherin, kau akan memiliki posisi pertama di sana. Oh, tidak juga, kedua setelah anak kecil angkuh yang sebelum kau itu─ hmm..." Terdengar gumaman suara kecil di kepalanya.
'Aku minta kau tempatkan aku di Gryffindor. Tidak, tidak di Slytherin. Aku tak suka dengan kelakuan anak-anak Slytherin,' pikir Harry.
"Aah─ egois sekali, eh? Padahal dengan Slytherin, kau akan mencapai puncak kehebatanmu. Hmm... kalau kau meminta, baiklah─ GRYFFINDOR!"
Harry pun menghela nafas dan berjalan ke arah murid-murid Gryffindor yang tertawa dan bersorak. Ia menyalami dan menganguk hormat saat beberapa murid laki-laki dan perempuan berkenalan dengannya.
Ia pun mengambil sepotong roti dan meminum segelas jus labu. Ia tak bernafsu makan saat itu. Banyak hal yang dipikirkannya daripada memakan makanan yang walaupun terlihat lezat di hadapannya.
Setelah dibubarkan oleh Professor Dippet, Harry pun melangkah ke arah asrama Gryffindor dengan mengikuti kerumunan anak-anak tahun pertama. Selesai berganti baju, ia pun melemparkan tubuhnya ke tempat tidur tanpa berkata apapun ke teman-teman sekamarnya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan perutnya masih terasa sakit. Dalam beberapa detik, ia tertidur lelap dengan selimut nyaman di sekitar tubuhnya.
xxxxx
Bersambung
A/N:
Aiyaa... Ini kepanjangan ya? Maafkan saya orz orz Chap selanjutnya nanti ta kurangin kok. :3 Chap ini buat penjelasan yang kemarin aja.
Sankyuu review dan fave-nya ; m ; itu sangat meng-aw-kan hatiku /apanya
Btw, yang kemarin pace-nya cepat ya? 8'D Saya ga ngeh kalau ternyata cepet. ww Nanti saya perlambat lagi biar greget(?)
Review please? ;3
