Warning: Slash, OC, dan Time-Travel
Disclaimer: J.K. Rowling
Chapter 2 _ Slug Club
.
Asrama Gryffindor, Hogwarts School, 05 September 1938.
"Aku membutuhkan Professor Snape... Aku tak bisa berjalan lebih jauh lagi..."
"Severus... Aku membutuhkannya..."
"Severus... Kumohon..."
"AVADA KEDAVRA!"
Mata hijau cemerlang itu terbuka lebar.
Nafasnya tak beraturan dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia segera menggapai meja kecil di samping tempat tidurnya dan mengambil kacamata bulat miliknya. Dipakainya kacamata itu dengan tangan yang bergemetar. Tak terasa air mata menetes di wajahnya.
Mimpi itu lagi. Berkali-kali ia memimpikan kejadian yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Ia pun menyeka air mata dan keringat yang mengalir di wajahnya dengan lengan bajunya. Ia menolehkan kepalanya ke sekitar ruangan.
Semuanya masih tertidur. Dari jendela ruangan, ia menyadari bahwa langit masih gelap. Matahari masih belum muncul, kemungkinan saat ini masih jam dua atau tiga pagi hari. Ia mendesah saat mengetahui jam berapa ia terbangun.
Beberapa saat ia masih memandangi pemandangan luar dari jendela yang terdapat di sebelah kanannya. Otaknya masih mencerna dengan apa yang baru ia mimpikan. Ia menggigit bibir bawahnya.
Kenapa ia begitu lemah dan sama sekali tak berguna di saat orang-orang yang terpenting baginya meninggal?
Cedric, Sirius, dan sekarang Dumbledore...
Ia tak berguna. Yeah, embel-embel semacam 'Dia-yang-Bertahan-Hidup' atau 'Dia-yang-Terpilih' adalah dusta belaka yang dibuat oleh orang-orang yang menginginkan kambing hitam atas bangkitnya Pangeran Kegelapan. Kalau ia berhasil membunuh Voldemort, maka ia akan diagung-agungkan oleh semua orang di dunia ini. Dan jikalau ia gagal, maka ia akan dicemooh dan bahkan tak dianggap di dunia ini.
Berulang kali sejak ia menjejakkan kakinya di masa lampau ini, ia berpikir apakah pilihannya ini hanya sebagai pelarian dirinya dari masalah-masalah yang ia hadapi di masanya? Pengecutkah kalau ia sekarang justru tertidur lelap di tempat tidur asrama sementara Hermione dan Ron serta teman-temannya yang lain berjuang untuk hidup dari Voldemort dan pengikutnya?
Hah, itukah hal yang dibanggakan oleh orang-orang tamak itu?
Harry mendesah untuk kedua kalinya di pagi hari ini.
Disingkirkannya semua pikiran negatif itu, ia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Berendam adalah pilihan yang tepat baginya saat ini. Setidaknya pikiran-pikiran negatif yang menempel di tubuhnya bisa terguyur dengan air dingin di pagi hari.
- u -
Pintu Masuk Menara Jam, Hogwarts School, 10 September 1938.
"Oi, Black! Kau mau ke mana?"
Pemuda bermata hijau itu menoleh ke belakang, menatap pemuda berambut hitam ikal kecoklatan dengan postur tubuh tinggi dan tegap yang menghampirinya sambil membawa beberapa buku tebal.
"Perpustakaan. Ada apa, Brawn?" Pemuda tinggi yang dipanggil Brawn itu menganguk pelan sambil tersenyum.
"Boleh aku ikut?" tanyanya.
"Silahkan." Brawn tersenyum lebih lebar dan merangkul pundak Harry.
"Kau benar-benar berbeda dari Black yang biasanya, kau tahu? Walau kemarin semuanya diam saja mengenai ini, tapi kau sekarang terkenal seantreo Hogwarts! Hah, tak ada yang menyangka bahwa keturunan Black akan masuk ke Gryffindor! Tak akan pernah! Aku akan memberimu lima ratus galleon jikalau kau memberikanku lagi tontonan menarik atas wajah merengut dan horror yang ditampilkan oleh si Cerewet Walburga seperti waktu itu."
Harry mendesah pelan dan mengabaikan pujian coretejekan yang dilontarkan teman seangkatannya sekarang itu. Memang benar ia membuat seluruh anak Slytherin menjadi kesal dan mencapnya sebagai musuh besar Slytherin. Hey, hanya karena namanya Black namun berada di Gryffindor dan ia bersitegang sekali dengan Walburga Black, sekarang hidupnya akan selalu dibenci oleh anak-anak Slytherin yang bahkan sama sekali tak ia kenal. Siapa yang menyuruh Walburga menabrak badannya dan melontarkan kutukan padanya sehingga secara refleks ia pun membela diri dan menyerang balik yang ternyata membuat tubuh Walburga terlempar tiga meter ke belakang dan tercebur ke Danau Hitam?
Saat beberapa murid Slytherin menolong Walburga yang meronta-ronta berteriak ia akan tenggelam, ia dihadapkan dengan Orion Black, murid Slytherin tahun pertama yang menunjuk wajah Harry sambil berdesis mengikrarkan sebuah dendam. Oh, baik sekali. Apakah sekarang Harry harus menobatkan dirinya sendiri dengan nama baru yaitu 'Anak-Pemancing-Dendam-Siapapun-yang-Lewat'? Ia pun menggelengkan kepalanya, mencoba mengaburkan ingatan tak menyenangkannya yang ia terima sedari awal tahun ketujuhnya.
"Mau apa kau di perpustakaan, Black? Tak cukupkah kau membuat Professor Slughorn dan Dumbledore menganggapmu anak emas, huh?" kekeh Brawn sambil berjalan mendahului Harry yang sekarang memasuki pintu perpustakaan. Mengerutkan alisnya, Harry mendengus.
Teman satu kamarnya ini memang berbeda dengan Ron. Ia begitu ceria, jahil dan selalu tertawa. Rambut coklat tua yang ikal serta senyum jahilnya itu mengingatkannya pada sosok ayahnya dan Sirius. Entah kenapa, ia selalu menganggap Danny Brawn adalah sosok muda ayahnya. Harry menahan senyumnya saat memikirkan jikalau ayahnya dan dirinya seangkatan dan menjadi sahabat baik.
Dilangkahkannya ke arah deretan buku bertuliskan 'Pengetahuan mengenai Ilmu Sihir Hitam'. Di masa ini, ia harus menyiapkan diri untuk pertarungan yang sewaktu-waktu ia jalani di kemudian hari. Ingat bahwa masa ini adalah masa-masa di mana Pangeran Kegelapan masih di bangku sekolah sihir dan menekuni ilmu hitamnya dengan baik secara diam-diam?
Ia berjalan menyamping mengikuti deretan buku-buku tebal yang ia butuhkan untuk saat ini. Menambah rapalan mantra adalah hal yang paling ia butuhkan. Setidaknya, dengan ini ia merasa lebih aman jikalau Walburga ataupun Orion dan kawanannya akan menyerangnya secara tiba-tiba. Apakah hidupnya memang selalu dipenuhi masalah? Harry menghela nafas sambil mengambil buku di rak ketiga.
"Minggir."
Ucapan satu kata yang terdengar penuh dengan keangkuhan itu berasal dari belakang tubuhnya. Ia pun membalikkan tubuhnya dan menemui sosok anak kecil berambut hitam dengan tatanan rambut yang rapi sedang menatapnya tajam. Harry pun mengerutkan alisnya.
'Ini dia si sumber masalah yang pertama,' batin Harry.
"Kau dengar atau tidak, hah? Kubilang minggir dari situ, Black," dengusnya kesal. Sepertinya kejadian di kompartemen itu masih diingat oleh bocah angkuh satu ini. Membungkukkan badannya, Harry tersenyum jahil.
"Memangnya dengan tubuh kecilmu itu kau bisa mengambil buku-buku itu?" ejek Harry dengan tatapan oh-pasti-kau-butuh-bantuan-dariku.
"Tentu saja bisa. Kau sendiri dengan tubuh kurus dan pendekmu itu saja bisa mengambilnya."
Menajamkan tatapannya, Harry pun melangkah minggir ke kanan dan mengamati gerak gerik bocah angkuh yang sekarang mengambil buku mengenai ilmu sihir hitam di rak pertama. Anak kecil itu pun balas menatap Harry dengan tatapan tajam. Terjadilah perang saling tatap yang pada akhirnya Harry berjalan menjauhi bocah itu dan mencari buku yang lain di pojokan rak.
'Hah, dasar ular. Bagaimana pun masih kecil atau tidak, sifatnya sama buruknya,' cibir Harry dalam hati. Ia pun melirik Tom yang sekarang membolak balik buku itu dan terdiam sebentar, namun beberapa saat kemudian mengembalikannya ke tempat semula tanpa berbicara apapun. Tom pun berjinjit saat ia ingin meraih buku di rak ketiga. Tangannya yang kecil menggapai-gapai buku tebal berwarna hitam yang bertuliskan 'Penyihir-penyihir Ilmu Hitam jilid dua'. Harry menyeringai melihat Tom yang kesusahan untuk mengambil buku itu. Saat ia mendengar Tom berdesis kesal dan mengeluarkan tongkat sihir pucatnya yang terbuat dari yew ─yang sepertinya berniat merapalkan mantra pemanggil ke buku itu─, ia pun berjalan mendekati Tom.
"Lain kali, kalau kau memang kesusahan dan ada orang yang lebih dewasa di dekatmu, mintalah bantuan kepada mereka," ujar Harry bijak sambil mengambilkan buku itu dan menyodorkannya ke arah Tom. Alis hitam Tom menyatu dan mendengus kesal.
"Aku tak perlu bantuanmu, Black." Tanpa bicara lagi, Tom pun berbalik dan meninggalkan Harry yang masih dalam posisi mengulurkan buku itu. Kedutan di dahi Harry bertambah. 'Bocah sialan, angkuh, tak tahu terima kasih, dan brengsek.'
Harry pun menguatkan hati dan berjanji tak akan membantu makhluk sialan itu untuk kedua kalinya. Dimasukkannya buku itu secara paksa ke dalam rak keempat─dengan maksud, jika bocah itu kembali lagi untuk mencari buku itu lagi, ia akan kesulitan untuk mencarinya─ dan merutuk bocah itu lagi, barulah ia meninggalkan perpustakaan dengan hati yang dongkol.
- u -
Ruang Asrama Gryffindor, Hogwarts School, 26 Oktober 1938.
Harry menggulingkan dan melentangkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Ia menguap untuk kesekian kalinya. Tubuhnya lelah dengan rutinitas yang padat. Di tahun ketujuh ini, ia diharuskan untuk belajar lebih giat lagi dan berlatih mantra-mantra baru dan berbagai latihan pertahanan sihir secara otodidak di kamar kebutuhan. Tak lupa dengan acara perkumpulan Professor Slughorn yang memakan waktu hingga tengah malam itu.
Terutama di bulan ini, Oktober, Slughorn memiliki ide yang amat sangat buruk bagi Harry. Pesta kostum yang bertemakan Halloween. Oh Merlin, ia membutuhkan istirahat yang cukup dan latihan bertarung, bukannya bersantai ria sambil memakai kostum vampir ataupun mumi dan bercengkerama dengan professor berwajah kodok itu. Ia tak habis pikir, untuk apa Slughorn mengadakan pesta Halloween yang sebetulnya tak berguna itu.
Godaan untuk menolak ajakan dari Slughorn itu sangatlah besar. Namun, lagi-lagi Brawn dengan seenaknya menyetujui ajakan Slughorn itu dan berjanji akan datang bersama dirinya dengan kostum Halloween yang sangat keren. Entah apa yang ia maksud dengan 'keren' itu.
"Hei, Harry! Daripada kau bermalas-malasan seperti kucing, lebih baik kau memikirkan kostum apa yang cocok dengan kita berdua!" teriak pelaku utama dalam pengganggu hidup Harry selama tahun ketujuh ini. Harry melirik pemuda itu dan mengerang pelan.
"Bisakah kau tidak menggangguku sebentar, Brawn? Dan untuk kostum kerenmu itu silahkan kau pikirkan sendiri. Aku sama sekali tak tertarik dengan pesta itu, kau tahu?" dengusnya meledek dan berbalik memunggungi Brawn. Pemuda tinggi itu mengerutkan alisnya.
Tiba-tiba tubuh Harry terangkat ke atas dan mata hijaunya terbelalak lebar menyadari posisinya sekarang. Ia melayang di atas tempat tidurnya. Dengan seringaiannya, Brawn semakin terlihat menyebalkan.
"Oi, Brawn! Turunkan aku!"
"No. Kalau kuturunkan yang ada kau hanya bermalas-malasan di tempat tidur dan tak akan membantuku. Lebih baik kau melayang di udara saja dan merasakan indahnya tempat tidur kita dari atas sana," kekehnya sambil menggerakkan tongkat sihirnya yang menyebabkan Harry ikut bergerak ke kanan dan kiri. Harry berteriak saat ia merasa tubuhnya digerakkan ke atas dan ke bawah.
"Brawn!"
"Tidak sampai kau mau menggerakkan pantatmu dari tempat tidurmu itu, Black!"
"Ka─"
"Kuhitung dalam hitungan lima detik kalau begitu. Pilih membantuku atau kau jatuhkan dari situ ke lantai?" gertaknya.
"Ap─"
"Lima. Empat. Tiga."
"Oi! Kau menghitungnya terlalu cepat!"
"Dua."
"Fine! Aku akan membantumu dan sekarang turunkan aku, Sialan!"
Brawn menyeringai jahil. Diarahkannya tongkat sihir itu ke bawah dan perlahan tubuh Harry menyentuh tempat tidurnya seperti semula. Harry tersenyum lebar ke arah Brawn yang ikut tersenyum.
"Stupefy!"
Tubuh Brawn terlempar ke belakang sejauh dua meter dan menabrak tempat tidur yang berada di belakangnya. Melihat Brawn menjerit sakit, Harry tersenyum meledek ke arah Brawn.
"Kau tak membuat pilihan bahwa aku tak akan menyerangmu saat kau menurunkanku 'kan, Brawn?" Brawn menggembungkan pipinya kesal dan menggerutu pelan.
"Kau tak bilang kalau kau menyembunyikan tongkatmu di bawah bantal, Brengsek."
- u -
Ruang Asrama Gryffindor, Hogwarts School, 31 Oktober 1938.
Halloween Party. Adalah pesta yang tak pernah Harry rayakan selama hidupnya. Ah, minus saat ia berada di Hogwarts. Ia merayakannya bersama dengan murid yang lain dengan menikmati hidangan selama sehari di Aula Besar yang menampakkan pemandangan monster-monster dan hantu-hantu yang memakai berbagai kostum khas Halloween. Mungkin itu tak bisa diperhitungkan dalam pesta Halloween. Berbeda dengan hari ini yang secara paksa, ia diharuskan ikut dalam pesta tersebut memakai kostum keren yang Brawn usulkan. Yeah, keren katanya. Diliriknya kostum yang ia pakai sekarang di tubuhnya.
Jubah panjang hitam dengan kerah atas yang menjunjung tinggi di sekitar lehernya dengan puring merah darah yang menutupi kemeja putih dan celana hitam panjang. Ditambah pita besar berwarna merah dan bercorak kotak-kotak di bagian dadanya. Fabulous. Jika Malfoy melihatnya, ia pasti ditertawakan sepanjang hidupnya karena penampilannya sekarang bagaikan boneka teddy bear yang memakai jubah panjang hitam. Merlin, apakah sense fashion Brawn sebegitu buruknya?
Ini salahnya juga yang hanya menerima berbagai kalimat yang dilontarkan Brawn saat itu. Hei, salahkan Brawn juga yang mengajaknya membicarakan masalah kostum di saat ia setengah tidur setengah sadar pada waktu itu. Harry menggaruk-garuk rambutnya sambil mengerang.
"Kalau kau terus menggaruk rambutmu, nanti kepalamu botak lo, Black."
Harry menatap tajam orang yang sekarang melangkah masuk ke kamar tidur mereka. Brawn terkekeh melihat tatapan tajam yang dilontarkan padanya. Ia bergerak memutar dan melambaikan tangannya ke arah Harry yang masih menatapnya tajam.
"Bagaimana?" Ia mengedipkan matanya. Harry berjengit.
"Bagaimananya bagaimana?"
"Kostumku! Bagaimana? Sesuai 'kan dengan kostummu?" ujar Brawn sambil berpose dengan berbagai gerakan. Harry memicingkan matanya dan mengamati kostum Brawn dari atas ke bawah. Kain hitam besar yang menutupi seluruh tubuhnya namun terpotong tak rapi─berumbai-rumbai lebih tepatnya─ di bagian bawah dengan dua bolongan tambahan di bagian wajah yang Harry asumsikan sebagai bolongan mata untuk melihat. Harry mengernyitkan matanya.
"...sebelum itu, kau namai apa kostumku ini?"
"Vampir!"
"...dan kostummu?"
"Kelelawar! Pas 'kan?!" ujarnya senang. Harry tersenyum penuh kehangatan dan mendekati Brawn yang masih berpose sambil melepaskan dasi merah kotak-kotak lalu melemparkannya ke arah kanannya.
"Ada ap─GYAA!"
Dua bola mata coklat yang dimiliki Brawn terasa nyeri selama kurang lebih dua puluh lima menit.
- u -
Slurghon's Club, Hogwarts School, 31 Oktober 1938.
"Aaah, Harry! Kemarilah, Nak!"
Mata hijau cemerlang itu bergerak dan mengerjapkan matanya pelan ke arah kanan tubuhnya. Sosok pria setengah baya yang bertubuh gemuk melambai-lambaikan tangannya ke arahnya. Secara otomatis, Harry tersenyum ke arah pria itu dan berjalan mendekatinya.
"Selamat malam, Professor. Terima kasih atas undangannya. Saya sangat senang karena dapat berpartisipasi dalam acara ini," ujarnya. Professor itu semakin menyunggingkan senyumannya dan merangkul pundak pemuda itu.
"Justru aku merasa senang dengan kehadiranmu, Nak. Aku tak pernah melihat mata hijau cemerlang seperti milikmu itu selama hidupku! Dan kepintaranmu itu, oh Merlin, kau sungguh membuatku tercengang dengan ramuan buatanmu!" puji Professor itu sambil menepuk-nepuk pundak Harry. Harry terbatuk kecil saat merasakan kerasnya tepukan itu dan kembali tersenyum.
'Terima kasih kepada calon muridmu yang berhidung bengkok itu, Professor,' batin Harry sambil mengingat-ingat berbagai ramuan yang 'diajarkan' oleh sebuah buku yang dimiliki oleh sang 'Half-Blood Prince'.
"Ah, pujian anda terlalu besar untukku, Professor." Slurghon tersenyum penuh makna dan mengangukkan kepalanya yang besar. Di sudut matanya, ia melihat seorang anak kecil yang memakai jubah Slytherin yang berdiri tak jauh darinya. Matanya yang bulat terbelalak saat melihat anak kecil itu. Ia pun tersenyum kepada Harry.
"Maafkan aku, Nak. Aku harus menemui seseorang dahulu. Kau tak keberatan, kan? Terima kasih atas waktumu, sebelumnya." Slurghon menyunggingkan senyumnya dan mengedipkan matanya.
"Oh, tak apa, Professor! Justru sayalah yang merasa senang." Dengan kalimat itu, Slurghon pergi dengan senyum lebar di wajahnya yang gemuk dan berjalan tergopoh-gopoh menuju orang yang ia maksud.
Senyum di wajah Harry langsung menghilang seketika saat ia merasa Professor itu sudah jauh darinya. Ia pun menghela nafas dan berbalik menuju pintu keluar saat sebuah suara menginterupsi pemikirannya.
"Saya merasa senang untuk berpartisipasi dengan acara ini, eh? Tak kusangka kau pintar dalam berbohong seperti itu, Black." Harry memicingkan matanya dan menatap pemuda yang menghampirinya dengan dua gelas butterbeer di tangannya.
"Kalau berbohong demi kebaikan itu bagus kan, Brawn?" ujar Harry sambil mengambil satu gelas dari tangan Brawn yang terulur kepadanya. Brawn terkekeh pelan sambil melepas kain hitam yang dipakainya─yang cukup membuat Harry terheran-heran, bisa-bisanya ia tahan dengan kostum yang absurd seperti itu.
"Aku tak menyangka kalau kau akan secepat ini masuk ke dalam Slug Club, Black. Ia sangat pemilih, kau tahu? Hanya orang-orang yang dirasa 'istimewa' yang bisa masuk ke dalam klub ini. Aku saja membutuhkan waktu lima tahun untuk bisa masuk ke dalam klub ini," ujar Brawn sambil menghela nafas. Alis Harry terangkat saat mendengar pernyataan itu.
"Tak kusangka kau sangat mengharapkan masuk ke klub ini, Brawn." Brawn berjengit pelan.
"Bukan itu maksud─ hei, sejak kapan anak kecil itu menjadi incaran Sluggie?" Alis Harry berkerut saat ia mendengar panggilan 'Sluggie' itu dan menoleh ke arah pandangan Brawn. Seharusnya ia tak kaget dengan pemandangan yang tak aneh itu. Tentu Professor Slughorn tahu bahwa anak itu mempunyai potensi seseorang yang 'istimewa' dari anak lainnya. Anak kecil yang membuat Harry bisa kembali ke masa lampau dengan sebuah misi rahasia. Anak kecil yang sekarang sedang berbincang penuh kedekatan dan keramahtamahan dengan Professor Slughorn.
Anak kecil yang bernama Tom Riddle.
.
Ia terus tersenyum dengan penuh percaya diri saat melihat Professor itu mendekati dirinya yang sekarang berdiri di dekat lemari buku. Professor yang bernama Slughorn itu menyunggingkan senyum yang sangat membuatnya jijik. Saat Professor itu berada di dekatnya dan bertanya kabarnya, ia menjawab positif dengan tak lupa senyuman manis. Hampir saja senyuman itu berubah menjadi seringaian saat dilihatnya Professor itu melebarkan senyumannya yang semakin terasa aneh.
Tapi tak apa, asalkan pria tua ini mau menjawab pertanyaan yang selama ini teriang-iang di kepalanya sejak ia memasuki Hogwarts.
Setelah obrolan yang tak penting selama sepuluh menit, ia beranikan diri untuk menanyakan pertanyaan itu. Alis pria itu menyatu sebentar dan bola matanya bergulir ke atas, tanda berpikir. Ditunggunya jawaban dari pria itu yang sekarang mengusap-usap dagunya dan memajukan bibirnya.
Tak berapa lama, pria itu menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang membuatnya kecewa. Pria itu tak mengetahui jawaban yang ia cari. Dengan kecewa, ia pun meminta undur diri dengan alasan ia harus belajar di perpustakaan. Terlihat raut wajah yang panik di wajah yang gemuk itu saat mendengar penyataan dari dirinya. Pria itu meminta agar ia tetap di sini dan melanjutkan obrolan 'seru' dengannya. Ia pun menolak dengan halus dan pergi dari tempat yang menjijikkan itu.
Dilangkahkannya kaki kecilnya itu menuju perpustakaan. Ia berharap agar dapat mengetahui jawaban yang lebih pasti dari pertanyaannya itu. Di langkahnya yang kelima, ia sadari bahwa ada seseorang yang bermata hijau cemerlang yang mengikuti langkahnya sedari ia berpisah dengan pria tua itu.
Dengan seringaian penuh makna, ia pun melangkahkan kakinya lebih lebar dan bersiap untuk menyambut orang yang mengikutinya itu di sana.
- u -
Perpustakaan, Hogwarts School, 31 Oktober 1938.
"Tak kusangka, hobimu buruk juga, Black."
Harry berjengit saat mendengar pernyataan yang terdengar dari belakang tubuhnya. Tom Riddle berdiri angkuh di belakangnya sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
"Ini bukan hobiku, Tom. Bisakah kau tak mengagetkanku dengan berdiri tepat di belakangku dan bersikap tak menyadariku sedari kau meninggalkan ruangan Professor Slughorn?" desis Harry sambil menajamkan tatapannya. Tom tersenyum merendahkan dan berjalan ke arah lemari buku di sebelah kirinya.
Harry terdiam. Walaupun ia masih kecil, Tom yang sekarang juga sama bahayanya. Ia memiliki potensi yang lebih dari embel-embel pewaris Salazar Slytherin. Tentu dengan berat hati, Harry menyadari bahwa kekuatan sihir dan kepintaran yang dimiliki Tom lebih besar darinya. Hah, hanya orang bodoh yang tak menyadari itu.
Disingkirkannya pemikiran yang bagaikan mengagung-agungkan Tom itu. Ia pun berjalan ke arah Tom yang sekarang membuka album foto besar milik Hogwarts. Untuk apa ia membuka album lama yang tua seperti itu?
"Sedang apa kau, Tom?"
Anak kecil itu tak menjawab.
Menahan kekesalannya, Harry pun berjalan ke arahnya dan ikut memandangi foto yang terdapat di album itu. Hampir seluruhnya, foto itu memperlihatkan deretan murid Hogwarts per-asrama yang diurut sesuai tahunnya. Di atas kepala masing-masing anak di foto itu, terdapat tulisan yang bergerak-gerak mengikuti arah kepala anak itu. Tulisan yang sepertinya nama dari masing-masing anak. Harry mengamati satu persatu anak yang di album foto itu. Semuanya terasa asing. Tak ada yang ia kenali ataupun ia tahu. Tentu saja, ini adalah album foto tua yang berumur lebih dari lima puluh tahun darinya.
Secuil perasaan ingin tahu seakan berteriak di dalam otaknya. Bagaimana dengan Dumbledore? Apakah ia ada di salah satu foto yang terpampang di sana?
"Bisakah kau tidak menutupi cahayaku? Kau sangat menggangguku, Black." Satu kalimat yang lagi-lagi penuh dengan nada keangkuhan itu didengarnya. Mengerutkan alisnya, ia pun berbalik dari tempatnya tadi dan berjalan ke arah tumpukan buku yang bertuliskan 'Berbagai Mantra dan Fungsinya'.
Setengah jam berlalu dengan keheningan yang menyesakkan. Harry yang masih merasa tersinggung, memilih untuk mencoba membaca berbagai buku yang ia pilih namun hasilnya nihil. Kekesalannya membuatnya tak berkonsentrasi. Lagipula di dalam pikirannya ia terus menerka-nerka apa tujuan Tom membuka album foto Hogwarts?
Apakah ia mencari kenalannya? Mungkin saja, dengan alasan yatim piatu, sangatlah besar kalau ia mencari kenalannya yang mungkin ada di album foto tersebut.
Tapi siapa? Lagipula apa petunjuk yang menunjukkan bahwa ia memiliki kenalan di foto i─
Mata hijau cemerlang itu terbelalak.
Teringat dengan kata-kata Dumbledore di saat ia mengenalkannya pada Pensieve.
Kemungkinan besar, Tom mencari keluarganya dari nama marga yang dimilikinya. Ia mencari 'Riddle' yang tentunya sama sekali tak ada di daftar manapun. Tentunya ia yang sekarang sama sekali tidak tahu dengan asal usul ibunya yang sebetulnya keturunan Salazar Slytherin. Ia yang sekarang adalah anak kecil yang menganggap bahwa ayahnya-lah yang memiliki sihir, bukan ibunya.
Menoleh ke arah Tom sekali lagi, Harry memicingkan matanya. Lalu apa yang harus ia lakukan? Apakah menjelaskan yang sebenarnya ke Tom? Tapi apa yang akan terjadi kalau ia mengetahui yang sebenarnya? Apakah sekarang waktunya Harry untuk menjelaskan semuanya dan mencegah langkah Tom yang akan lebih memilih kegelapan?
'Kau sangat menggangguku, Black.'
Alis Harry berkedut saat mengingat kata-kata sialan itu. Hah, mati pun ia tak akan menjelaskan kenyataan yang sebenarnya ke anak sialan itu. Lebih baik ia menghadapi langsung Tom dengan pertarungan mantra dibanding harus menjelaskan dari hati ke hati mengenai apa yang terjadi di hidupnya sekarang dan nanti.
Namun begitu, Harry melangkahkan kakinya ke arah Tom yang sekarang mengambil satu buku album foto di rak buku itu. Harry pun berjalan ke sebelah Tom dan mengambil satu buku di rak ketiga dan membukanya. Mencoba senormal mungkin untuk mencari celah untuk berbicara dengan bocah sialan angkuh ini.
Mengambil nafas perlahan, Harry pun membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan─ sebelum satu suara yang angkuh itu kembali menginterupsinya.
"Kenapa bisa ada luka aneh di dahimu itu?" Harry mengatupkan rahangnya.
Harry terdiam dan memandang bingung pertanyaan yang tiba-tiba itu. Mendecak tak sabar, Tom kembali berbicara.
"Oi, aku bertanya, kau tahu?" Dipandangnya anak kecil yang masih tak menatap wajahnya dan memilih memandang buku album foto di hadapannya.
"Oi─"
"Namaku bukan 'Oi', Tom. Dan kenapa kau menanyakan hal itu? Sejak kapan kau tertarik dengan diriku, heh?" cibir Harry. Tom memandang Harry dengan pandangan tak suka dan mengalihkan pandangannya lagi ke arah album foto.
"Kalau kau tak mau menjawabnya, tak masalah bagiku."
Harry mendengus pelan mendengar pernyataan Tom yang terdengar marah itu. Ditutupnya buku yang ada di tangannya dan Harry pun kembali memilih acak buku di rak buku kedua.
"Luka ini kudapat saat aku masih bayi. Dikutuk oleh seseorang yang memendam kebencian kepadaku yang masih bayi."
Saat ini, perhatian Tom sepenuhnya ada pada Harry. Terlihat dari pandangannya yang hanya menunduk menatap deretan foto namun tak membalikkan halamannya ataupun melihatnya sama sekali.
"Fuh, bahkan dirimu yang masih bayi saja membuat orang benci padamu. Kurang lebih aku mengerti bagaimana perasaan orang yang mengutukmu itu, Black."
Alis Harry mengerut. Hah, tentu saja ia mengerti, yang mengutuknya adalah sosok dewasa dari dedemit kecil ini.
"Terserah kau mau berkomentar apa. Giliranku bertanya, apa yang sedang kau cari? Sepertinya yang kau cari begitu penting bagimu," balas Harry bertanya.
Sejenak, anak kecil itu terdiam dan hanya menunduk menatap buku yang terbuka lebar yang masih di halaman yang sama tepat di kedua tangan kecilnya. Harry tetap mengamati gerak gerik anak itu.
"Aku tak mencari apapun."
Hah, pembohong.
"Bohong. Tak mungkin kalau kau tak mencari apapun. Kau harus menjawab pertanyaanku tadi, Tom." Tom menatap tak suka ke arah Harry yang ikut menajamkan tatapannya. Setidaknya Harry tak mau kalah dalam ajang saling tatap ini.
Tom mendengus dan mengalihkan pandangannya. Saat Harry merasa ia tak akan mau menceritakan yang sebenarnya, anak kecil itu membuka mulutnya.
"Aku mencari ayahku yang seorang penyihir di sini."
Bingo.
- u -
Ruang Aula Besar, Hogwarts School, 27 Desember 1938.
Sejak pembicaraan mereka di perpustakaan dua bulan yang lalu, Harry tak pernah berbicara lagi dengan anak itu. Setelah pernyataan yang membuat Harry semakin yakin Tom akan melangkah ke dalam kegelapan, Tom langsung berbalik dan menjauhi Harry. Saat Harry menegurnya dan bertanya apa yang terjadi, Tom hanya terdiam dan meminta agar Harry melupakan apa yang ia dengar tadi. Hei, ia bermaksud untuk membantunya, apakah itu sikap yang pantas setelah kau menceritakan sebuah masalah kepadamu?
Setelahnya pun Harry hanya melihat anak itu di saat sarapan, makan siang dan makan malam. Tak sekalipun ia bertemu empat mata dengan Tom sejak hari itu. Entah apakah jadwal mereka yang memang terpisah atau anak itu menjauhinya? Memangnya kenapa? Ia hanya menceritakan apa masalahnya, bukan rahasia yang membuatnya akan terdesak, bukan?
Memikirkan hal itu hanya membuat Harry kesal dan ia menusuk kentang tumbuk yang ada di hadapannya lebih keras. Membuat Brawn yang ada di sebelahnya mengernyit heran dan menjauh sedikit darinya.
Sebetulnya apa yang salah?
.
"Harry anakku! Apakah kau ada waktu?" sapa Dumbledore di koridor saat berpapasan dengan Harry. Mengangukkan kepalanya, Harry pun mengikuti Dumbledore menuju ke ruangannya.
Ia pun disuguhi teh hangat, yang menurut cerita Dumbledore ia membeli teh itu dari toko Muggle─berkat pertemuan pertama mereka yang mengenalkannya pada teh Muggle─. Harry pun mengucapkan terima kasih dan memandangi Dumbledore yang sekarang menyesap tehnya perlahan dan mendesah menikmati teh hangat itu.
"Ada apa, Professor?" ujarnya tanpa basa basi. Setidaknya ia tak mungkin melewatkan waktunya untuk masuk ke kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang lima belas menit lagi akan dimulai. Menaruh cangkirnya, Dumbledore pun merogoh kantungnya dan mengambil sebuah barang dari sana.
Ia pun menaruh barang itu di meja, tepat di hadapan Harry yang merengut bingung.
Sebuah kunci besar dengan beberapa─mungkin sekitar kurang lebih dua puluhan kunci kecil di sekelilingnya.
"Pardon, Sir?"
"Ah, ya, itu adalah kunci rumah untukmu, Harry."
Mata hijau itu membelalak tak percaya. "A─apa maksud anda, Professor?"
Professor berambut abu-abu itu tersenyum penuh arti dan menganguk.
"Ya, aku memberikanmu rumah, Harry. Aku yakin kau sama sekali tak memiliki rumah untuk tinggal nantinya. Apakah kau lupa kalau kau akan lulus tahun depan? Setelah kau lulus, apa kau akan tinggal di jalan?" Harry menatap tak percaya calon kepala sekolah yang masih tersenyum lebar di hadapannya. Setidaknya dilihat dari kunci itu saja, ia yakin bahwa rumah yang akan ia tinggali adalah rumah yang sangat besar. Satu kunci besar untuk pintu masuk rumah dan beberapa kunci untuk pintu kamar dan beberapa pintu yang Harry tak tahu apa itu.
"Err, maaf Professor. Tapi aku kira ini terlalu berlebihan dan aku tak yakin bisa membayar sewa rumah itu. Untuk lulus nanti, aku rasa aku bisa untuk menginap di ruma─"
"Nak Brawn maksudmu? Apa kau yakin kau akan tinggal di sana? Aku meragukannya, Harry. Kau pasti lebih memilih untuk tinggal di jalan daripada menyusahkan orang lain. Dan jangan berkata kalau kau akan tinggal di Knocturn Alley. Aku tahu kalau kau hanya memiliki sedikit uang di kantongmu," ujar Dumbledore sambil tersenyum senang. Membuat mulut Harry terkatup rapat dan tak bisa berkata apapun. Harry hanya bisa menunduk terdiam.
"Jadi aku tak punya pilihan selain tinggal di rumah yang anda sediakan?"
"Ooh, aku tak memaksamu, Harry. Hanya memberikan saran," kata Dumbledore yang mengelus jenggot panjangnya.
Harry tersenyum lemah. Bagaimana pun juga Dumbledore adalah orang yang keras kepala.
"Baiklah. Aku akan tinggal di sana─namun jika nanti aku memiliki uang, aku akan tetap membayar uang sewa kepada anda," ujar Harry panjang lebar sebelum Dumbledore memotong ucapannya lagi.
"Deal. Silahkan ambil kuncinya, Harry." Pria tua itu pun menyesap tehnya sekali lagi lalu tersenyum. Harry meraih kunci itu dan menatapnya tak bergeming.
"Ah, satu tambahan lagi, Nak." Mata hijau Harry menatap Dumbledore yang masih tersenyum penuh makna.
"Ya?"
"Kau akan tinggal dengan Tom di rumah itu."
Kunci rumah itu pun bergemerincing keras saat terjatuh di lantai ruangan Dumbledore.
.
Bersambung
.
A/N: Hah, selesai juga. Brawn yang sebagai OC di sini bukan peran utama banget kok. Jadi tenang aja yang ga begitu suka dengan chara OC di chap ini. ww Tapi nantinya peran Brawn juga penting dalam rangka membantu Harry coretyanggalau. /galauapaan
Selanjutnya mari kita saksikan bagaimana Harry mengayomi dedemit kecil yang sombong dalam satu atap. lol /disectusempra /diavadakedavra
Kalau pace-nya terasa cepat di chap ini, ya, jujur saya cepetin emang. 8'') soalnya masalah utama yang ada di fic ini masih jauuhh lagi. orz Daripada jadinya berpuluh-puluh chapter, jadi ta cepetin aja. Toh gitu-gitu aja kok kegiatan selama di tahun ketujuhnya /soktahu wkakaka
Review please?
