Sebelumnya ...
Angin kencang menerbangkan syal Hinata, membawanya terbang. Dengan cepat Hinata menutup hidungnya dan lari mengejar syalnya.
"Syalku!"
Syal itu tersangkut di lampu taman jembatan satunya. Dengan cepat Hinata berlari berusaha mengambil syalnya. Hinata menatap syalnya yang mengapai-gapai tinggi tersangkut pada lampu taman.
"bagaimana ini?tinggi sekali" gumam hinata pada dirinya sendiri.
Tangan itu menggapai tinggi syalnya yang tersangkut. Dengan, satu tarikan cepat dia menarik syal itu turun. Menggengamnya erat, ia mengarahkan syal itu pada Hinata. Hinata menatap kedua tangan yang mengarah padanya, tangan yang menggengam syalnya erat. Dengan gugup Hinata mengarahkan matanya perlahan kepada wajahnya. Menatap matanya yang gelap dan dingin. Kulitnya yang puncat terselubung rambutnya yang gelap. Bibirnya yang penuh tertutup.
"ini punyamu?"
Kembali menatap matanya lama Hinata menyadari, mata itu hidup dengan caranya yang dingin. Mata itu menatapnya diam, menariknya perlahan ke dalam dunianya. Mata itu ..
Mengedipkan mata pelan, hinata tersadar akan suara yang memanggilnya. Hinata menerima syalnya dengan tangan satunya sementara yang lain masih menutupi hidungnya. Dengan cepat,hinata merundukan kepala dan membungkus wajahnya dengan syal itu.
"I-iya, terima kasih ."
Dia menatap hinata lama sebelum menjawab .
"Angin disini kencang. Ikatkan erat-erat"ucapnya. Matanya masih menatap hinata dalam tidak sedetikpun melepaskan pandangan darinya.
Disclaimer : Naruto punyanya si Om Masashi Kishimoto
Kalo Sasuke Hinata punya sayaaa hohoho *digampar*
Rate : T
Pairing : Sasuke Uchiha dan Hyuuga Hinata
This Chap
"Te- terima kasih a-ano .."ucap Hinata ragu, masih menatap sosok di depanya yang menatapnya lama. Kembali memberanikan diri untuk menatap matanya, Hinata perlahan melihat ke sekelilingnya.
"Se-sepertinya a-aku tersesat."
Sasuke menatap lama gadis ber-syal didepanya. Rambut biru panjangnya yang beterbangan dibawah angin dingin malam. Wajah yang terbiasi oleh lampu diri. Mata peraknya yang menatapnya lembut.
"Ka-kalau ti-tidak merepotkan, bisakah kau membantuku mencari kakak-ku"
Sasuke menatap gadis pemalu di depanya bingung. Dia bahkan belum tau namanya, asalnya. Tapi menatap mata perak yang sendu itu, Sasukepun menghela napas pelan sebelum menjawab.
"Baiklah."
Mereka berjalan bersebelahan walaupun Sasuke menghadap lurus ke depan, Sasuke dapat mengamati Hinata dari ujung matanya. Melihat poninya yang berantakan tertiup angin menampakan wajah seputih salju yang dibungkusnya. Sasuke tidak tau kenapa ia membantu gadis ini, biasanya ia hanya meninggalkan gadis manapun yang berbicara denganya.
Mereka bilang jatuh cinta menghabiskan banyak hari
Menyisakan banyak air mata
Namun, bagiku tidak ada hari yang benar- benar hari
Tidak pernah ada air mata yang akan tersisa
Karena semua rasa itu, baru aku rasakan saat mengenalmu
Gadis bersyalku.
Mereka berdua bersandar pada tiang-tiang yang membantasi sungai. Menatap lurus ke arah sungai yang mengalir di malam hari. Pasangan –pasangan yang bercumbu mesra di sampan yang mengalir di bawah sungai. Kelip lampu yang membiasi sungai yang gelap. Angin dingin yang menerpa wajah cepat.
"Namamu?" tanya Sasuke pendek. Sasuke masih menatap lurus ke sungai depan sambil memperhatikan Hinata dari ujung matanya.
Menoleh ke arah pria di sampingnya. Hinata tersenyum di balik syalnya. Ia menatap wajah pucatnya yang kaku. Menatap rambut gelapnya yang memiliki semburat biru.
"Hinata. Hyuuga Hinata. namamu?"
"Sasuke. Uchiha Sasuke."
Merasakan angin dingin yang menerpa tubuhnya Hinata memeluk tubuhnya erat lalu mengencangkan syal yang menutupi setengah bagian wajahnya. Menggosokan punggung tanganya ke lengan tubuhnya cepat.
Hinata menatap ke arah langit, memikirkan dimana Neji berada apakah dia mencarinya, meskipun mereka telah mencari Neji kemana-mana mereka tetap tidak menemukanya. Hinata membayangkan bagaimana ia harus pulang, ini adalah untuk pertama kalinya ia keluar dari rumah.
Hinata merasakan hangat menutupi tubuhnya. Hinata berpaling kepada pria disampingnya yang telah melepaskan sweaternya untuk digunakan Hinata.
"Te-terima kasih Uchiha-san." Jawab Hinata malu.
Ia merasakan aroma kayu menguar dari sweater yang sasuke berikan. Aroma hangat menerpa tubuhnya memberikan aroma memabukan bagi dirinya. Hinata tidak dapat menahan rasa terima kasih dan bahagia dari dirinya. Ia adalah pria pertama yang tidak berlari ketika melihatnya, pria pertama yang dapat bertahan berdiri di samping hinata. pria pertama yang .. yang memberikan hinata kehangatan.
Tidak terasa butir airmata menurun dari ujung mata Hinata.
Hinata kembali berpaling kepada Sasuke yang masih tidak menunjukan ekspresi apapun. Dengan berani Hinata merapatkan dirinya ke Sasuke perlahan.
"A-ano apakah kau tidak ke dinginan Uchiha-san?ki-kita bi- bisa berbagi sweaternya." Ucap Hinata malu. Jantungnya berdetak cepat tidak beraturan merasakan kedekatan mereka berdua. Hinata tidak mengerti kenapa, ia hanya tidak bisa membiarkan Sasuke kedinginan seperti sekarang.
Menatap ke arah gadis bersyal didekatnya Sasuke mendekatkan dirinya ke arah Hinata dan mengucapkan pelan.
"Aku tidak apa- apa, dan panggil aku Sasuke." Ucapnya.
Pada saat itu mereka berdua tidak mengerti alasan-alasanya. Mereka hanya bergerak berdasarkan perasaan. Rasa kedekatan yang ingin diciptakan. Bahkan Sasukepun perlahan meruntuhkan dinding es yang dibangungnya dihadapan gadis bersyalnya yang merona.
"Hinata!" dari jauh Neji berlari menghampiri Hinata dan memeluknya kencang.
"Kau tau bagaimana aku khawatir mencarimu?" Tanya Neji cemas dan kembali memeluknya sepupu kecilnya kencang.
"A-aku tidak apa-apa." Ucap Hinata menenangkan.
Neji menatap Sasuke, yang berada di samping Hinata, skeptis. Sasuke kembali menatap Neji dingin, ia melihat kedua tangan Neji yang merangkul hinata erat.
"A-ano ini Uchiha Sasuke, dia yang menjagaku sampai kau datang."
Neji mengangguk pelan ke arah Sasuke tanda terima kasih singkat yang dibalas Sasuke dengan anggukan kecil kepadanya.
Hinata melepaskan sweater yang digunakanya dan memberikan kepada Sasuke.
"A-ano terima kasih sweaternya Sasuke-san. Semoga kita bisa bertemu lagi." Ucap Hinata lembut dan memberikan pelukan terima kasih kepada Sasuke, yang menyebabkan wajah pucat Sasuke yang merona.
'A-apa a-apaan d-dia' batin Sasuke gugup merasakan pelukan lembut dari Hinata yang hangat.
Dengan cepat Neji menarik Hinata dari Sasuke dan menariknya menjauh.
"Kau tidak boleh memberikan sembarang pelukan untuk laki-laki hime." Omel Neji.
"Ta-tapi aku selalu memeluk Neji dan Tou-san." Jelas Hinata yang kini memasuki mobil yang akan memulangkanya ke kastilnya yang terjaga.
"Tapi, di dunia luar kau tidak boleh asal memeluk orang yang bukan keluarga. Dia akan menganggap kau menyukainya. " jelas Neji getir membayangkan wajah Sasuke saat dipeluk oleh Hinata.
"Be-begitukah ." Ucap Hinata malu. Hinata merasakan darah memanas di wajahnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa pelukan tadi berarti tanda suka.
'a-apa sasuke-san akan menganggap seperti itu' batin Hinata bertanya-tanya.
Hinata masih tersenyum di dalam syalnya karena masih merasakan aroma kayu kuat dari tubuhnya yang berasal dari aroma Sasuke.
Jarak dapat memisahkan kita
Waktu dapat membagi kita
Namun jika takdirpun ikut menghalangi
Mereka tak akan bisa
Tak akan bisa menghentikan kita untuk selamanya
"Sasuke ini sudah waktunya bagi-mu untuk memilih calon pengantin." Ucap Mikoto singkat sebelum memulai makan malam bersama di keluarga bangsawan Uchiha. Mikoto menatap anak bungsunya yang terdiam lama. Wajahnya menunjukan ekspresi tidak perduli.
"Bagaimana dengan Haruno?" tanya Mikoto lagi.
Sasuke pun masih terdiam sambil memotong daging di hadapanya perlahan.
"Jawab pertanyaan ibu-mu sasuke." Ucap Fugaku, ayah sasuke.
Menghela napas perlahan sasuke meletakan garpu yang dipegangnya dan menatap kedua bangswan Uchiha dingin. "Aku tidak menyukai, Sakura ataupun gadis manapun yang kalian kenalkan padaku." Ucapnya pendek dan kembali melanjutkan makananya.
Mikotopun menghela napas pelan melihat kelakuan kedua anaknya. Anak pertamanya Itachi sudah memutuskan tidak akan menikah, jadi harapan penurus keluarga hanya ada pada Sasuke dan Sasukepun tidak menyukai wanita manapun yang dikenalkanya.
Tunggu tidak menyukai wanita – apa jangan-jangan...
'Jangan-jangan sasuke gay?tidak menyukai wanita' batin Mikoto teriris dalam hati, membayangkan akhir dari generasi Uchiha.
'ooh .. anakku yang malang, bagaimanan ini kau bahkan tidak menyukai wanita lag, ini pasti karena Itachi.' Batin Mikoto sedih sambil menatap putra bungsunya yang diam. Menarik napas tegar akhirnya Mikoto bertanya.
"Sasuke. Jawab ibu dengan jujur. A-apa kau g-gay?" tanya mikoto menatap Sasuke dalam.
Dalam sehentak sasukepun tersedak dan begitupun dengan Itachi yang tadinya hanya terdiam. Sedangkan Fugaku teriris dalam hati mendapati kecurigaanya selama ini terjadi.
'ternyata benar, putra bungsuku tidak menyukai wanita. Aku sudah curiga semenjak dia selalu membawa masuk Namikaze Naruto ke dalam kamarnya.' Batin Fugaku mengerti.
'oh anak ku yang malang.'
'Sasuke-ku ternyata kau gay!' batin itachi tertawa dalam hati.
Sasuke yang kagetpun masih tertegun mendengar pertanyaan ibunya yang tidak masuk akal. Dengan cepat membalikan ekspresinya menjadi normal.
"Te-tentu saja aku tidak guy,bu." Jawab sasuke terbata-bata.
Dengan cepat air mata menuruni wajah mikoto. Sambil terisak mikoto berkata "aku tau sasuke, jangan berbohong lagi hiks.. hiks.. bagaimana ini suamiku, anak kita .. nama Uchiha."isak Mikoto sambil menyandarkan kepalanya ke Fugaku.
Dengan kesal Sasuke membanting garpu ditanganya. "Aku sudah bilang,bu. Aku bukan gay."
"Sudahlah sasuke, tidak apa-apa kalau kau gay." Ucap Itachi santai.
"ayah pernah melihatmu dengan Namikaze Naruto memasuki kamar kalian berdua."
"i-itu i-itu .." jawab sasuke bingung.
Mendengkis marah Sasuke bangun dari meja makan dan untuk pertama kali memaki marah dan dingin "Baiklah, baiklah kalau itu mau kalian. Jodohkan aku dengan siapapun keluarga bangsawan yang kalian mau." Ucapnya sambil menjauh menuju lorong kamarnya.
"Aku tidak peduli lagi." Ucap Sasuke marah.
Esok harinya Mikoto sedang mengumpulkan nama-nama bangsawan dari Konoha.
"Nah .. siapa ya keluarga bangsawan yang bisa menerima ke-gay-an Sasuke apa adanya. Coba kulihat, Namikaze tentu saja tidak. Haruno? Ah dia akan kecewa begitu tau Sasuke itu gay. Coba aku lihat mm .. Syarat menantu dari keluarga yang satu ini hanya adalah dapat menerima anaknya apa adanya. Mm hanya itu, kalau begitu mereka terlihat akan menerima Sasuke. Baiklah aku akan menjadwalkan pertemuan mereka."
Hinata kembali menatap cermin yang berada di depanya singkat dan mengucapkan kata-kata 'mantra' andalanya setiap pagi.
"kata ayah, hidungku ini bukan hidungku. Bukan hidungku." Ucap Hinata sambil memencet hidung gemuknya yang berlipat tersebut. setelah menghela napas kencang Hinata kembali tersenyum setelah merapikan rambut panjang kebiruanya.
"Apakah kau siap Hinata?" tanya Neji.
"Siap tidak siap, aku harus siap nii-san." Ucap Hinata lalu tersenyum.
"Baiklah .. bangsawan yang harus kau temui berasal dari keluarga Uchiha."
Uchiha?
U-uchiha
...
...
...
"Namanya Uchiha Sasuke."
To Be Continue
Mohon maaf sekali lagi atas lamanya update huhuu
Mohon maaf minna. Berusaha membayar hutang kepada reader saya berusaha update-in cerita yang tidak berlanjut bulan ini.
Terima kasih atas dukunganya semua sehingga cerita ini bisa berlanjut.
Review kalian berharga dan membuat saya terus menulis.
Sekali lagi mohon saran, kritik dan review untuk cerita ini dan kalau ada pertanyaan.
Review!Review!Review! Review!Review!Review! Review!Review!Review!
Doumo Arigatou Gozaimasu sudah membaca cerita abal ini, sekali lagi mohon review, serta pendapat dan perbaikan biar saya tau ada yang baca cerita abal ini :D
Terima kasih banyak.. see you next chap minna!
