Fic SYGO kyknya bakal di discontinued deh.. ._."

okelah.. Happy reading!


Ada sms dari broer ternyata

... Apa maksud dari ini?!


Love or Revenge?

Hetalia (c) Hidekaz Himaruya
Rate : T
Action / Romance


Warning!
Don't like, don't read.
Karakter kemungkinan OOC.
Bahasa Indonesianya tidak BAKU.
Mungkin ada TYPO.
Human name used.
Mafia!characters
Belgium's POV


CHAPTER 2


Aku menatap lemas layar hapeku,terpaku akan sms yang dikirimkan broer padaku.

Broer diberi tugas untuk menjalankan misi di Turkey bersama bos utama kami, tampaknya misi itu sangatlah penting sampai bos utama kami ikut campur kedalamnya. Sebenarnya, aku tidak pernah bertemu dengan bos ku yang satu ini.. selama ini aku menerima misi melalui broer. Misi-misi yang kulakukan pun semuanya hanya misi-misi kecil seperti menjadi perantara barang selundupan dan menerima uang, atau terkadang mengejar mereka yang berusaha melarikan diri. Tidak pernah lebih.
Aku nyaris melempar alat komunikasi tak berdosa itu saat mengetahui bahwa tangan kanan Bos utama kami sendiri yang akan memberikanku misi-misi selanjutnya (yang sudah pasti) jauh lebih berat dan lebih penting daripada misi-misiku sebelumnya.
Perasaan takut, kesal, terkejut, dan panik bercampur aduk menjadi satu. Aku melempar handphoneku kearah ranjang sehingga handphone tersebut teruntal dan jatuh ke lantai.
Kuabaikan suara handphoneku yang membentur keras ke lantai kamar dan langsung merebahkan diri ke tempat tidur, lalu menutup mata, berusaha melupakan "surprise" yang broer berikan untukku melalui pesan singkat tersebut. Secara tak sadar, aku terlelap walaupun saat ini masih terhitung pagi.


"Yang benar saja?! Ia sama sekali tidak memiliki persediaan tomat!"
"H-hey! Jangan sembarangan membuka kulkas orang!"
"Tapi, aku lapar,Lovi.."
"Namaku Lovino!"
"Ya ya ya.. terserahlah.."
Aku terbangun dari tidurku saat mendengar suara orang bercakap di luar kamarku, sepertinya dari arah dapur.
Pelan pelan aku bangkit dari kasurku, mengeluarkan pistol yang biasa kuletakkan di bawah bantal untuk berjaga-jaga dan membuka pintu perlahan. Sambil menodongkan pistol dengan satu tangan.
Aku berjingkat tanpa suara menuju dapur dan bersemunyi di balik meja TV.
Aku melongokkan kepala kearah pintu dapur, mencoba mengintip siapa gerangan orang-orang yang bisa masuk ke rumahku tanpa ijin.
Aku kaget melihat orang-orang luar yang sekarang sedang di dapur itu.
Dua orang yang tadi pagi menyerangku di café ada disana! Ya! Tidak salah lagi, itu mereka!
Tampaknya mereka sedang bercakap-cakap didepan kulkas..
Trak!
Aku tanpa sengaja menjatuhkan remote tv.


Nafasku memburu ketika aku melihat mereka sadar kalau remote TV itu jatuh.
Sekali lagi, kau sangat ceroboh Bella, benar-benar bodoh Bella!
Bergegas, aku memutuskan untuk bersembunyi di lemari penyimpanan pakaian musim dingin dekat TV.
Aku buru-buru masuk dan menutup pintu lemari itu perlahan. Lemari ini sangat pengap dan berdebu.
Ku coba melihat keluar dan mendengarkan mereka diluar sana dengan cara mengintip melalui celah kecil pintu lemari.
"Tadi itu suara barang jatuh ya?" Tanya seseorang berambut coklat tua bermata hijau yang tadi mengaku sebagai bosku dan melirik ke luar ruang dapur.
"Sudahlah Antonio, aku yakin itu hanya tikus.." Jawab seseorang disampingnya yang mirip dengan orang sebelumnya.. bedanya, ia memiliki mata coklat dan keriwil di bagian kiri rambutnya.
"Tapi, memangnya ada tikus di apartemen mahal seperti ini?" Tanya orang yang dipanggil Antonio tersebut sambil berjalan keluar dari dapur dan mendekati lemari tempat aku bersembunyi.
Aku menahan nafas ketika ia mulai membuka lemari ini..
Tiba-tiba saja aku berharap bisa menghilang dari situasi menegangkan ini.. Bunuh aku, ambil aku sekarang ya Tuhan!
Pintu lemari terbuka..
"Ah~ ... Rupanya kau, Bella.." kata laki-laki bermata hijau tersebut tanpa ekspresi sambil menatapku.
Aku terdiam, tidak berani sedikitpun menatap matanya, tak berani sedikitpun membuka mulut. Aku bungkam. Teringat akan kejadian di café tadi pagi.
"Hey, sudahlah, jangan mengingat-ingat peristiwa tadi pagi. Aku minta maaf, kukira hermanomu sudah memberitahumu." Katanya tenang dengan tatapan sedikit melembut sambil mengulurkan tangan kanannya.
Tunggu, dia membaca pikiranku ya?
Uluran tangannya menawarkan bantuan untuk turun dari lemari yang terhitung cukup tinggi untuk tinggi badanku.
Terima? Tidak terima?
"A-ah, terimakasih.." aku menyambut tangan kananya tersebut dan turun dari lemari tersebut.
Oke, terima.
Aku menatap mereka dengan tatapan bingung, kesal, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Ah, maafkan kami señorita.. Kami lupa memperkenalkan diri. Namaku Antonio Fernandez Carriedo, dan ini.." Kata orang yang membantuku turun tadi. Bedanya, kali ini tatapan matanya menatapku dengan tatapan lebih tenang dari sebelumnya sambil menyikut seseorang di sebelahnya yang memiliki mata coklat.
"Lovino, Lovino Vargas.. Dan jangan memperpendek namaku, aku benci itu." Lanjut seseorang itu sedikit ketus.
Untuk ukuran mafia mereka bisa dibilang ramah.
"Namaku-"
"Aah~ biar kutebak, namamu.. Bella kan?" Potong Antonio diiringi senyum manis yang dapat membuat gadis-gadis klepek-klepek olehnya.
Oke coret, sangat ramah tepatnya.
"...Ya" Jawabku pelan. Mencoba menghindari tatapan tajam seseorang berkeriwil di sampingnya yang menguarkan aura membunuh, seperti tidak suka melihatku bersama Antonio. Kalau seandainya aura bisa membunuh, mungkin aku sudah tergeletak tanpa nyawa disana. Oke lebay.
"Kau adalah orang paling muda di kelompok kami, dan jujur kami merasa bangga. Jadi, jangan gegabah ya~" kata Antonio sambil tersenyum manis. Lagi pula, ia sendiri gegabah kan? Seperti kejadian tadi pagi di cafe, ia mengeluarkan senjata ditempat umum. Dasar.
Aku menggembungkan pipi, kesal, sambil memalingkan muka. Kesal karena dirinya sok menasihati padahal sendirinya sama saja. Ck, aku ragu memiliki bos seperti dia.
"Kau pasti berpikir aku gegabah yah tadi pagi? Aku hanya ingin bermain-main, aku ingin melihat reaksimu. Ternyata kau malah ketakutan begitu." Kalimatnya diakhiri oleh tawa terbahak-bahak yang semakin membuatku kesal. Makin ragu akan kedudukkannya. Apa benar dia ini bosku? Dan, hey! Dia baru saja membaca pikiranku untuk keduakalinya!
Tap.
Tawanya berhenti saat tangan Lovino menepuk pundaknya. Lovino seakan-akan sudah siap untuk meledak, mukanya merah padam dengan kedutan nadi empati-sisi di jidat kanannya.
"Ah, mi amor~ Kenapa?" Tanya Antonio, masih tersenyum. Ya Tuhan, dia ini bodoh atau memang dilahirkan seperti ini?!
Lovino menarik nafas dalam dan..
"CAZZO! LEBIH BAIK KAU JANGAN MENGHABISKAN WAKTU UNTUK MENGGODANYA! LEBIH BAIK KITA LANGSUNG MEMBERITAHU MISI BARUNYA DAN PERGI MENINGGALKAN APERTEMEN SIALAN INI! TEMPAT INI PANAS, SUMPEK DITAMBAH KAU YANG TIDAK TAHU WAKTU! AKU SUDAH LAPAR KAU TAHU! KAU MAU AKU MATI KELAPARAN DISINI?!" Teriaknya keras dengan muka merah padam dan alis yang bertautan. Keriwilnya sekarang sudah tidak berbentuk. Jujur, teriakannya itu dahsyat sekali. Aku sampai terdiam.
Baru saja aku ingin menenangkannya, telepon berbunyi.
Ya, kuangkat saja.
Klik.
"Halo?"
"JANGAN BERTERIAK-TERIAK! ADIKKU TADI SUDAH NYARIS TERTIDUR TERBANGUN GARA-GARA TERIAKAN BODOHMU ITU! SEKALI LAGI KAU BERTERIAK-TERIAK, ... Akan ada sepuluh, tidak, seratus peluru panas bersarang di kepalamu!"
Telepon ditutup
Astaga, kalau saja tadi kami bertatapan secara langsung, mungkin aku akan mati karena serangan jantung... Tapi sepertinya ada yang aneh.. Kenapa ia juga berteriak?
Ah lupakan.
Aku menatap Lovino yang mukanya masih merah karena kesal. Antonio yang berdiri di sebelahnya masih tersenyum. Aku pikir otot pipinya sudah keram sehingga tidak bisa untuk tidak tersenyum, ya kira-kira begitu.
Aku makin tidak yakin kalau mereka itu sebenarnya adalah bosku.
"Hey.." Sahut si tukang senyum.
"Ya?" Tanyaku acuh tak acuh sambil duduk di sofa, membaca sebuah majalah fashion yang tidak jelas asal usulnya.
"Tatap mukaku kalau sedang bicara!" Katanya dengan tegas, diiringi matanya yang menatap tajam ke arahku.
Malas, pelan, tapi pasti. Kutatap matanya.
Tatapan matanya dari tajam mulai melembut.
"Nah, kalau begini kan aku bisa melihat wajah cantikmu~" katanya sambil tersenyum lagi.
Terdengar dengusan kesal dari Lovino, aku tahu dia kesal, sangat kesal.
Mukaku terasa sedikit panas.
"Y-ya, terima kasih. Memangnya kenapa?" Tanyaku sedikit terbata, ingin memalingkan muka agar tidak menatap mukanya yang.. Uh, bisa dibilang tampan. Tapi.. Dia itu musuh Bella! Jangan bilang kau jatuh cinta pada musuh! ... J-jatuh c-cinta...
"UWAAAAAAAA!" Teriakku sambil menjeduk-jedukkan kepala ke tembok terdekat, aku tidak perduli apa yang akan terjadi pada otakku lagi. Tampaknya usaha menghilangkan pikiran yang sudah mulai terlanjur jauh itu gagal. Aku dapat merasakan mukaku memanas.
"E-eh? Kau kenapa? Aku hanya ingin bertanya apakah kau memiliki persediaan tomat.." Katanya sambil nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal menurutku. Dan sepertinya bingung dengan reaksiku yang bisa dikatakan aneh dan mengejutkan.
"Maaf, .. Pikiranku... Lupakan" Kataku sambil mengelus-elus jidatku, alih alih gegar otak, benjol lah yang kudapat.
Sakit! Ugh
Aku meringis kecil saat memegang benjol tersebut.
"Kau bodoh sih." Ujar Lovino sambil sibuk mengetik sesuatu pada handphonenya, ia cepat sekali mengetik. Handal.
"Ah ya, aku sehabis ini harus pergi makan malam bersama Lovi, aku pamit dlu ya~" kata Antonio sambil menarik tangan Lovino membuat handphone lovino jatuh dengan sangat elitnya ke lantai.
"MERDA! Jaga mulutmu! Dan, Jangan tarik tanganku! Handphoneku ini mahal! Kau tau berapa lama aku menabung untuk ini?! DUA TAHUN! Sampai-sampai aku makan hanya seadanya. Cih" Ujar Lovino kesal sambil mengambil handphonenya yang tergeletak di lantai dan mengelus-elusnya, dan.. Pipinya dengan sukses memerah.
Untungnya ruangan ini diberikan kain karpet, kalau tidak handphonenya mungkin akan terpecah belah menjadi dua (kayak hpnya author).
Dan, Antonio hanya tertawa, seakan-akan reaksi Lovino itu memujinya. Dasar bos aneh.
"Ya.. Yasudah, hati-hati dijalan ya.." Kataku sambil mendorong mereka keluar dan menutup pintu seraya menguncinya.
Aku menghembuskan nafas kesal.
Bos? Bos mafia macam apa yang datang kerumahmu dan menanyakan apakah kau memiliki persediaan tomat?
Aku duduk di sofa dan melanjutkan membaca majalah tadi yang sempat terpotong.
Tadi,.. Lovino ada ngomong sesuatu tentang misi untukku ya?
Ah, lupakan, aku sedang malas membahas hal itu, semoga saja misinya tidak begitu penting.


Selesai~ akhirnya aku berhasil mencoba mengetik fanfic lebih dari 1000 words (dikit) ;w;
Biasanya selalu dibawah 1000 words -3-
Maaf kalo aura mafia"annya gak kerasa.. Lagi gbisa ngetik begitu..
Jadinya entah kenapa pairnya spabel.. Padahal, sebenernya ada banyak x belgium loh~ /dor/
Terus jalan ceritanya jadi kayak lovey dovey ya? .. Maaf -A-"
Btw" ..
SPECIAL THANKS TO PIKII YANG SETIA BANTUIN AUTHOR GAGAL INI BUAT EDIT FANFIC" ABALKU~
Saa..
Mind to review? 0w0