Seorang pria pirang menggeram kesal sambil menatap tajam pria yang sedang berdiri di depannya. Senyuman yang sadis terukir di wajah pria Turki itu, tertutupi oleh gelapnya ruangan.
Love or Revenge?
Hetalia (c) Hidekaz Himaruya
Rate : T
Action / Romance / Humor
Warning!
Don't like, don't read.
Karakter kemungkinan OOC.
Bahasa Indonesianya tidak BAKU.
Mungkin ada TYPO.
Human name used.
Mafia!characters
Belgium's POV
CHAPTER 3
Suara tembakkan menggema di ruangan tersebut beriringan dengan suara rintihan kesakitan dan darah yang mengucur dari tubuh pria pirang itu.
Aku duduk di sofa sambil membaca koran pagi. Kuputuskan untuk tidak pergi ke sekolah dulu beberapa hari ini, aku ingin mencoba memanfaatkan hari-hari broerabsen dari rumah sebagai hari liburan dadakan. Yak, dadakan. Menyenangkan!
Klik.
Pintu depan dibuka oleh seseorang... Tunggu, bukannya pintu itu dikunci?!
Aku menatap pintu tersebut dengan perasaan was-was sambil meraih penggaris besi yang terletak di coffee table sebagai alat pertahanan, lucu? Maaf, ini darurat!
Sebuah kepala berambut coklat menyembul dari depan pintu.
"!Hola¡Bella!" Kata si tukang senyum sambil masuk ke dalam apartemenku. Ia berlari menuju dapur dengan santainya tanpa melihatku sama sekali, melirik pun tidak! Seraya membuka kulkas, mencari benda merah bundar yang-kau tahu apa itu-
Misalkan aku ini adalah tokoh dari sebuah jenis komik dari negeri asal temanku, Honda Kiku, mungkin digambarkan ada 4 kedutan urat di jidatku sekarang.
"Hey kau! Jangan asal masuk ke rumah orang tanpa ijin!" Ujarku kesal sambil menarik kerah belakang bajunya dari kulkas dan menyeretnya ke ruang tamu. Aku tak peduli dia itu bos ku atau bukan.
"Hey-hey, tenang, mi amor~" katanya sambil tersenyum santai dan duduk di sofa. Aku dapat merasakan wajahku memanas sedikit.
Tiba-tiba si lelaki berkeriwil muncul di depan pintu sambil menatapku dengan tatapan tajamnya seperti biasa.
"Hey, si bodoh ini sudah sampai ke sini duluan ya rupanya? Tidak sabar menemu CINTAmu ya?" Kata Lovino sengit sambil menekankan kata 'cinta' dan menggembungkan pipinya, kesal.
Aku dapat merasakan pipiku memerah dan menundukkan kepala. Berusaha menghilangkan perasaan.. Senang? ..
Sekali lagi, mereka menatapku bingung karena sikap anehku. (Baca : menjedukjedukkan kepalaku ke dinding)
Menyukai musuh? Ahahaha! Kau sudah gila, Bella..
Ingat Bella.. Mereka lah yang membunuh orang tuamu!
"Hey, Bella, mau sampai kapan kau memasang wajah bodohmu seperti idiot disana? Apa jangan-jangan kau benar-benar menjadi idiotsetelah menjeduk-jedukkan kepalamu ke tembok itu?" Ujar Lovino sambil menyentil jidatku, cukup keras, membuat lamunanku buyar dan kesakitan tentunya.
"S-sakit! Oh! H-hey.. Boleh aku bertanya sesuatu?" Kataku sambil duduk di sofa, dan menatap dua orang tamu yang entah bagaimana bisa masuk ke rumahku dengan amannya tanpa kutendang keluar rumah dan mengumpat pada mereka berdua.
"Ya, tentu. Apa?" Balas Antonio memainkan bantal di sofaku dan menatapku seperti seorang anak kecil siap mendengarkan dongeng pengantar tidur.
"Satu, bagaimana kabar broer? Mengapa ponselnya tidak dapat dihubungi? Dua, untuk apa kalian datang kesini!? Dan tiga, misi apa yang kemarin kalian katakan akan berikan kepadaku?" Tanyaku bertubi-tubi sambil menatap mereka tajam, tapi tampaknya mereka tidak menghiraukan tatapanku itu.
"Untuk pertanyaan pertama, mungkin ponselnya sedang habis baterainya atau tertinggal." Ah, itu masuk akal, mungkin juga. Broersuka lupa mengisi baterai hapenya dan ia biasanya ceroboh saat meletakkan hapenya.
"Lalu, untuk pertanyaan kedua dan ketiga, kami kesini untuk memberitahumu misi yang seharusnya kuberitahu kemarin, tapi sebelum kau melaksanakan misi tersebut, mulai besok malam, kau harus menuju markas dan berlatih menembak secara khusus untuk menggantikkan hermanomu sementara waktu. Kau tahu kan? Pekerjaan hermanomu untuk organisasi ini?" Antonio menatapku dalam, membuatku sedikit terhanyut oleh lautan emerald matanya.
"Kau tahu bukan?" Tanyanya lagi.
Aku menggeleng.
"Ah, sudah kuduga, dia merahasiakannya darimu, ya?"
"Dia adalah pembunuh jarak dekat maupun jauh untuk organisasi ini, dia adalah pembunuh yang sangat handal." Jawab Lovino sambil berjalan mendekati sofa tempat aku dan Antonio sedang duduk dan duduk di sebelahku.
"Hah?!" Aku menatapnya tidak percaya.
Aku dapat merasakkan tubuhku menjadi kaku.
Broer.. Adalah seorang pembunuh?!
"Kumohon jangan bercanda!" Tegasku sambil menatap Antonio dengan tatapan 'are-you-fucking-kidding-me-my-brother-isn't-a-murderer-he's-a-lolicon!.
"Tidak, hermanomu memang pembunuh, dia melaksanakan semua misi untuk memusnahkan target dengan senang hati untuk organisasi." Jawab Antonio dengan santai, seakan-akan apa yang dia katakan ini tidak mengejutkan sama sekali.
"BROER BUKAN PEMBUNUH, DAMN IT!" Teriakku kesal sontak berdiri sambil menunjukkan penggaris besi di antara kedua mata pria tukang senyum itu.
"Woah, woah, tenang, nona.. Turunkan penggaris itu sebelum ada yang terluka." Kata Antonio sambil mengangkat kedua tangannya di depan dadanya, kalau dilihat dari sikapnya, sepertinya dia tidak mempersiapkan senjata apapun untuk dibawa sebagai jaga-jaga, dasar ceroboh.
Ragu-ragu aku menurunkan senjataku dan menatapnya. Aku dapat merasakan mataku memanas dan mulai basah, tak berapa lama kemudian aku mendapati diriku terisak pelan.
Antonio mendekatiku dan memelukku, tangisku terpecah di peluknya.
Aku dapat merasakan tangan hangat milik Antonio mengelus rambutku pelan, mendekapku erat.
Setelah beberapa saat menangis, tangisku perlahan berubah menjadi isakan pelan.
Aku.. Masih tidak percaya akan semua yang kudengar. Aku kecewa! Aku kecewa! Dulu broer pernah bilang bahwa dia hanya bekerja sebagai bendahara organisasi. Broer pembohong! Aku benci broer! SANGAT MEMBENCI BROER!
Tangisku makin menjadi-jadi, tapi tidak perlu waktu lama untukku, beberapa menit kemudian aku hanya terisak kecil.
"Hey, sudah selesai?" Tanya Lovino dengan tatapan bosan ke arahku.
Aku mengangguk pelan.
Lovino menyodorkan sekotak tisu dihadapanku, aku hanya menatap kotak tisu itu seperti orang idiot.
"Hey, jangan bengong. Aku hanya tidak ingin melihat mukamu yang ingusan dan basah itu." Jelas Lovino sambil memalingkan mukanya, tunggu, aku sekilas dapat melihat pipinya memerah.
Aku tertawa kecil dan menerima tisu itu, membersihkan wajahku sebentar.
"Maaf membuat kalian harus menunggu karena sikap anehku.." Aku meminta maaf sambil menunduk, mencoba menyembunyikan diri dari tatapan mereka berdua.
"Ah? Tidak apa-apa,miss. Itu adalah sikap normal para wanita." Kata Antonio sambil tersenyum ceria, tiba-tiba ia merentangkan kedua tangannya ke arahku dan berkata, "Jangan bersedih, miss! Fusosososososososo~ Fusososososososososososo~ Fusososos-"
'Cheer-up charmnya' terhenti karena kepalanya dilempar dengan bantal. Pelakunya? Tentu saja Lovino.
"Jangan menghabiskan waktu,bastardo!" Ujarnya kesal lalu balik berkutat pada smartphonenya. Hey, aku melihat sekilas dia sedang bermain twitter! Kira-kira.. nama twitternya apa ya.. ?
"Hey, Lovino.."
"Apaan?!"
"Akun twittermu namanya apa?"
"N-Ngapain tanya-tanya?!"
"Pleasee.. Entar ku follow deh!"
"Be-beneran ya! Kalau enggak, kulubangi kepalamu!"
"Iya~, Bella janji kokk~"
" _SudItalia namanya, inget ya, di follow!"
"Oke deh, jangan lupa follow back ya, Lovinooooo~"
"Tsk, demi nambahin followers, iya deh.."
Antonio hanya cengo melihat percakapan kami berdua tentang twitter, tiba-tiba ia mengeluarkan smartphonenya juga dan membuka aplikasi twitter.
"Heey~ Oyabun juga mau di follow~ inget ya! Namanya EspainAntonio4! Jangan lupa EspainAntonio4! Fusososososososososo~"
Katanya sambil menggoyang-goyangkan handphonenya tersebut di depan wajah kami berdua dengan senyum 5 jarinya yang khas.
Antonio memiliki smartphone bermerek iPhone, Lovino memiliki smartphone bermerek Blackberry.. Aku? ..
Aku hanya bisa menjadikan pojokkan sebagai emo cornerku, meratapi nasib Nokia Expressmusic 5310 milikku itu.
.
.
Broer! Aku tarik kata-kataku yang tadi!
Aku menyayangimu Broer! Seperti Natalia menyayangi kakaknya! Kumohon belikan aku handphone baru ya? Please! Minimal Blackberry deh..!
Aku sudah mulai menjadi gila sepertinya..
Dimulai dari pertemuanku dengan dua orang yang mengaku-ngaku adalah bosku di organisasi. Tapi.. Sikap mereka tidak mendukung sama sekali posisi mereka..
Ah.. Aku mungkin memang sudah gila tapi aku baru menyadarinya sekarang..
Dua orang itu tiba-tiba berdiri dan beranjak pergi dari sofa. Menuju pintu keluar, urusan mereka disini selesai.
"Hati-hati di jalan." Kataku sebelum menutup pintu. Kata-kataku dibalas dengan anggukan kecil Antonio.
Aku menutup pintu dan menguncinya lagi seperti semula.
Hari ini lumayan cerah, hanya saja sedikit mendung sih.. Aku memutuskan untuk bersepeda ke minimarket dekat apertemen untuk membeli makanan cepat saji untuk makan pagi, aku sedang malas memasak.
Aku tak peduli jika broer marah-marah karena aku tidak makan sayur, kecuali tomat tentunya.
Dan, hey! Tomat itu sayur atau buah sih?
Sudahlah, jangan dipikirkan.. Itu pertanyaan yang sama membingungkannya seperti pernyataan siapa dulu yang berada di bumi, ayam atau telur? Tentu ayam.. Mana bisa telur menetas kalau tidak ada ayam?
Aku menaiki sepedaku dan mengayuh secara perlahan menuju minimarketdidekat apartemenku. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku, membuat tubuhku sejuk dan segar.
Aku menghentikan sepeda di tempat tujuan, dan mengunci sepedaku di tempat parkiran sepeda.
Aku merogoh kantongku sebentar memastikan baran-barangku semuanya masih ada,
Dompet? Cek. Handphone? Cek. Kunci rumah? Cek.
Aku masuk ke dalam minimarkettersebut, aku dapat mendengar pegawai kasir menyapaku, aku hanya mengangguk dan tersenyum pada pegawai kasir tersebut dan mengambil keranjang plastik yang disediakan di depan pintu masuk untuk menampung barang-barang yang akan ku beli.
Aku langsung menuju bagian sayur dan buah-buahan, memilih beberapa tomat segar lalu memasukkannya ke dalam kantung kertas yang sudah disiapkan. Tak lupa aku mengambil jus tomat di lemari es.
Aku memasukkan semuanya ke dalam keranjang tadi.
Aku melewati bagian makanan instan dan mengambil beberapa mie instan cup dan bungkus yang jumlahnya kira-kira cukup untuk seminggu. Menurut tebakanku, broerakan pergi sekitar seminggu.
Aku melirik lemari es yang terletak tidak jauh dariku, aku dapat melihat sebotol bir kecil di deretan bawah.
Ah, aku ingin mencoba bir..
Aku ingin mencoba bir sekali-sekali. Itu loh, bir dari buah-buahan yang difermentasi. Aku belum berani minum yang asli, yang betul-betul bisa membuatmu mabuk.
Akhirnya kuputuskan aku mengambil satu botol. Secara randomtentunya..
Begitu memasukkan botol bir itu ke dalam keranjang plastik itu, aku menuju kasir.
Tidak ada antrian, berarti pembayaran akan berlangsung cepat.
"Total semuanya 5 euro.." Kata si pegawai sambil tersenyum kepadaku, menungguku mengeluarkan uang.
"Ah iya, maaf.." Kataku sambil menyodorkan selembar uang 5 euro.
Begitu selesai, aku langsung mengambil kantung plastik belanjaanku dan berterima kasih pada pegawai kasir tersebut.
Aku keluar dari minimarkettersebut, ah, mendung rupanya. Aku harus secepatnya sampai ke apertemen..
Aku menggantungkan kantung plastik tersebut ke stang sepedaku dan melepaskan kunci sepeda, aku tidak mau hujan-hujanan lagi dan akhirnya harus berujung sakit. Juga... Besok aku ada latihan.
Aku mengayuh sepedaku secepat mungkin di pinggiran jalan, aku dapat merasakan gerimis mulai turun perlahan dengan rintik-rintik kecil yang makin lama makin membesar. Sakit rasanya.
Aku tidak sempat mengerem sepedaku dan membuatku nyaris menabrak seorang gadis remaja sekitar umur-umur Junior Highschool kalau saja saat itu si gadis tidak menghindar dari sepedaku.
Isi tas gadis itu berhamburan ke jalanan. Aku buru-buru meletakkan sepedaku di pinggir jalan lalu mendekati gadis itu. Aku berniat membantunya dan meminta maaf kepadanya.
Aku mulai memungut barang-barangnya yang jatuh sambil menggumamkan permintaan maaf.
Aku pertama kali menemukan handphonenya, sebuah smartphone bermerek blackberry, di jalanan dengan screennya menghadap ke atas. Untunglah handphonenya itu menggunakan casing, sehingga kerusakkannya bisa dikurangi.
Sekilas aku melihat username twitter pemilik hape tersebut, xWyChan..
Sepertinya aku kenal akun itu..
Aku buru-buru mengambil semua barang yang jatuh dan memberikannya kepada pemiliknya lalu membungkuk dan meminta maaf.
"A-ah, tidak apa-apa.. Aku juga salah jalan tidak lihat-lihat dulu, ahahaha.. Umm.. , kau.. Bella ya?" Katanya sambil menatapku dengan wajah ragu.
Benar, ternyata aku memang mengenalinya. Dia ternyata adalah teman sekelasku.
"I-iya, kenapa?" Aku menatapnya. Hey, hari ini kan sekolah? Kenapa pagi-pagi gini dia bisa disini? Sekarang kan sudah jam 10 pagi.
"Gak sekolah,Bel?" Tanyanya sambil menjinjing tasnya yang kembali sudah terisi.
"Ngg.. Nggak.. Aku sedang sakit, ahahaha. Kau sendiri?" Balasku sambil berusaha tersenyum lemah, berusaha menutupi kebohonganku.
"Ohh, begitu. Aku? Aku ijin, aku harus ke stasiun tv. Uh oh, aku sudah telat jam syuting. Daah, Bella! Aku duluan ya!" Katanya sambil berlari meninggalkanku.
Ya, temanku yang satu ini lebih memilih untuk menjalankan profesinya sebagai artis daripada menempuh pendidikan. Memang masih dibawah umur sih, tapi kecantikannya ituloh..
Aku buru-buru menaiki sepedaku dan menuju apertemen. Untunglah aku tidak terlalu basah kuyup, kalau iya, bisa sakit aku.
Aku langsung menuju kamar dan mengganti bajuku.
Aku lalu membuka secangkir mie instan dan menuangkan air panas dari termos di meja kamarku dan menunggu agar mie tersebut cepat masak.
Aku merasakan kedua kelopak mataku memberat, mengisyaratkan aku mengantuk. Kamar yang hangat dan cuaca hujan, cocok sekali untuk tidur walau sekarang masih terhitung pagi.
Aku menguap sebentar lalu menghampiri segelas mie instan yang sudah matang itu.
Tanpa babibu lagi akupun melahap mie itu, maklum, aku belum makan dari kemarin malam.
Setelah selesai melahap mie instan itu, aku merasa kenyang dan hangat. Kehangatan kuah mie instan itu membuat perutku nyaman.
Aku beranjak pelan dari tempat tidur, menuju dapur. Aku haus, mie itu ternyata juga membuat tenggorokkanku kering.
Pemandangan di ruang tamu yang terletak di sebelum dapur itu membuatku betul-betul membuatku ingin mengamuk kepada kedua orang itu.
Asdf... Saya tau kok ini jelek & ganyambung.
Adegan mafia"anya chap depan ya, maaf kalau fic ini hambar banget..
saya tau kok, aslinya mafia gak begini".. cuma yah.. =w= saya dengan gobloknya nulis humor.. kurang goblok apa coba =w=.
saya usahakan nulis bener" adegan action deh..maaf kalau fanfic ini lebay QwQ
Wah, udh nyaris 2k XDD saya seneng bangeeet! XD
Maaf kalau kebanyakan humor & info" tidak penting lainnya.
Dan hey, coba deh search semua akun twitter disana ;)
So, thanks lagi buat Pikii yang senantiasa bantu edit fic saya jd enak dibaca~
and.. tentang uang"annya itu saya ngasal yo =w=
review please? kritik gpp, saran gpp, flame juga gapapa ~
Ciao!
Kir.
Halo , saya pikii beta reader nya kir ;;) saya adalah anak kece yang tak ada tandingannya *pose henshin* ah btw .. Saya pengen nulis juga di kolom bawah ini -3- soalnnya saya merasa saya perlu ! *dilemparkuda*
Sebelum saya edit sbnrny fanfic ini lebih ke arah comedy karna tata bahasa nya itu loh XD tapi saya edit sebisa saya menjadi fanfic yang punya alur agak serius (y)
Oke sekian dari saya
Pikii Nyan
