Ada sesuatu yang disembunyikannya.
Ada sesuatu yang telah terjadi dalam lima tahun ini.
Sesuatu yang telah mengubahnya.
Sesuatu yang ia simpan rapat-rapat tanpa celah untuk mengintip masuk.
Sesuatu yang terselubung beribu tanda tanya.
Sesuatu yang aku tak tahu apa.
Entah apa itu, tiada yang tahu—termasuk keluarga dan teman terdekatnya. Tetapi, setiap kali aku menatap matanya—sepasang mata itu—aku tahu, dirinya menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang berkaitan dengan dirinya saat ini.
Sesuatu yang aku yakin akan ia katakan kepadaku, cepat atau lambat.
~*::*~
Seperti sebuah labirin, cinta tak selalu berada dalam suatu garis lurus. Terkadang kau harus berbelok ketika menemukan hambatan, atau bahkan memutar dan berbalik arah kemudian mencari jalur lainnya...
.
.
Naruto and all of its characters belong to Masashi Kishimoto. I just write this fanfiction for my own pleasure. No materialistic profit's taken.
.
.
"Ba. Ngun."
"Hmmm—" aku menggeliat, memutar tubuh hingga hidungku kembali mencium bau bantal, "—lima menit."
"Tiiidak." Suara itu memunculkan nada jengkel (dan menjengkelkan) yang melengking dan terkesan memaksa. "Pokoknya kau harus bangun dan berada di sini dalam lima menit."
Kuapan lebar. "Hoaahhh, pertama-tama, jawab pertanyaanku, Tante. Siapa kau?"
Hening panjang.
"KAU HARUS DATANG DALAM LIMA MENIT KALAU MASIH INGIN BERGABUNG DALAM SENAT, HARUNO SAKURA!"
Tuut... tuut... tuut...
Oh, sial.
.
.
mysticahime
2012
Proudly acquaint...
X~*~*~*~*~*~*~*~*~X
LABYRINTH
X~*~*~*~*~*~*~*~*~X
For Kira Desuke :)
.
.
"Hey, I just met you...
...and this is crazy!"
.
.
1st Labyrinth: The Meetings.
Kepalaku berdenyut hebat sepanjang perjalanan menuju kampus. Bising shinkansen yang kutumpangi tidak membuat segalanya jadi lebih baik—yang ada malah membuatku ingin mengamuk dan melempari siapa saja yang berada di hadapanku dengan sepatu dan diktat tebal yang bersembunyi di balik resleting tasku.
Jangan. Ganggu. Aku.
Aku perlu tidur kira-kira empat jam lagi. Serius.
...oke, aku tidak serius.
Kalau empat jam hibernasi itu tidak menghilangkan kesempatanku untuk tetap menjabat sebagai senat fakultas, aku serius akan tetap bergelung di balik selimutku yang nyaman. Hanya saja, kalau aku tidak segera mendobrak ruang rapat saat ini juga, bisa dipastikan bahwa gelar kehormatan 'calon ketua senat' melayang dari genggamanku.
JENG JENG JENG I THREW MY WISH TO THE WELL, DON'T ASK ME I'LL NEVER TELL JENG JENG JENG
Aku mengerang kesal ketika mendapati nama Ino di layar Blackberry-ku. Si Tante itu pasti akan menanyakan di mana posisiku sekarang.
Mau taruhan?
"Halo?" Ponsel itu kutempelkan di telinga kiri.
"Sakura, kau di ma—"
"—Kereta jam 8.20 yang akan berhenti di Shinjuku-eki, gerbong nomor lima, kursi dekat pintu belakang, di sebelah ibu-ibu berambut sang—"
"Bukannya aku peduli dengan semua itu, Sakura!" balasnya gusar. "Bzzz, bisakah kau cepat datang ke sini? Sainganmu si—"
"—si Shikamaru sudah memasang muka bete karena pengumuman ketua senat secara internal belum diumumkan, kan?" selaku cepat. Kugigiti bibir dengan gemas. "Bilang sama dia: me-mang-nya-a-ku-pe-du-li-?. Tidak ada yang menyuruh dia datang hari ini, kok!"—karena sudah jelas ketua senatnya adalah aku, Haruno Sakura. Iya, kan?
"Gitu?" Suara Ino di seberang sana tergantikan oleh suara pemuda bernada jengkel.
"Ho'oh."
"Selama aku di sini, kau nggak bakalan jadi ketua senat, Haruno," katanya dengan nada sarkastik. "Kalau kau tidak datang dalam sepuluh menit, kupastikan kamu bakalan jadi anggota biasa."
Bip!
Kutarik ponsel dari telinga, mengamati layarnya yang lebar dengan kening berkerut. DIA MEMATIKAN TELEPONKU!
Kurang ajar banget.
Nara Shikamaru memang cowok paling asusila di dunia ini.
...dan dia adalah sainganku di senat. Satu-satunya.
~*::*~
Lama sudah keheningan ini mengudara. Semua kepala menatap Juugo-senpai dengan perasaan tegang, termasuk aku. Terutama aku.
Pasalnya, tumpukan kertas pemilihan ketua senat yang terkumpul minggu lalu baru saja selesai dihitung olehnya (metode quick count, kurasa. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia bisa menghitung kurang-lebih delapan ratus kartu dalam waktu satu jam?) dan kami semua menunggu hasil pemilihan itu. Sudah tradisi bahwa ketua senat diumumkan secara internal terlebih dahulu sebelum disebarluaskan melalui radio kampus.
Kalau setiap tatapan bisa membuat rambut di sekujur tubuh bertambah panjang satu mikron, kupastikan Juugo-senpai sudah menjadi gorila dengan bulu sepanjang rambut Rapunzel. Dan aku akan mendapatkan penghargaan sebagai penyumbang tatapan terbanyak.
—tunggu, tatapan itu uncountable, kan? Ah, ya sudahlaaaaahhh~
Senyuman tipis tergaris pada bibir Juugo-senpai, menyatakan bahwa ia sudah siap mengumumkan siapa penerus dirinya sebagai penguasa senat selama setahun ke depan.
Whoa, mendadak jantungku berdebar sangat keras.
(—dan jangan pernah menganggap itu semua karena aku tergila-gila pada senyum Juugo-senpai. Tidak pernah. Titik.)
"Jadi..." Tuhkan tuhkan tuhkaaaannn, kubilang juga apa: dia akan segera mengumumkan siapa ketua senat yang baru!
Duh, kenapa tanganku mulai berkeringat?
"...sudah diputuskan..."
Sekarang rasanya dingin, lagi!
"...bahwa ketua senat yang baru..."
Gosok gosok gosok—ugh, kenapa tidak jadi hangat, sih?
"Tenang, Sakura." Di sebelahku, Ino meremas pundakku, berusaha menenangkan. "Aku yakin ketuanya adalah kamu."
Aku memiringkan kepala. "Se. Ha. Rus. Nya."
"Kecuali kalau ada sabotase." Si Pirang menjulurkan lidahnya padaku.
Perhatianku sepenuhnya teralih dari masalah perketuasenatan. Ada sabotase?
"Maksodh loh...?" Sebelah alis terangkat dan kuberikan dia tatapan laser yang bisa menghanguskan sekujur tubuh bila tidak mau menjawab pertanyaanku.
Ino malah menggerak-gerakkan bibirnya, seolah-olah lipsync mengikuti kata-kataku. Seolah bibirnya seksi saja, cih.
"—Jadi sudah diputuskan, kalian berdua akan menjadi ketua dan wakil ketua senat periode ini." Suara Juugo-senpai segera menamparku. Aku membelalakkan mata, mendapati dia menatapku dan Shikamaru secara bergantian. "Kuharap kalian berdua bisa bekerja sama."
Huh? Dia bilang apa barusan?
Tanganku teracung membelah udara. "Tunggu, aku tidak menyimak tadi—maafkan aku—tadi kau bilang siapa ketua senatnya?"
Kedua alis Juugo-senpai terangkat tinggi. "Sekali lagi, selamat kepada ketua senat yang baru—Nara Shikamaru—dan wakil ketuanya, Haruno Sakura."
Tik. Tik. Tik.
Krik.
Hening.
Satu.
Dua.
Ti—
HEH, YANG BENAR SAJA?—"Tunggu, maksudnya... aku menjadi bawahan orang ini selama satu tahun ke depan? Katakan kau bercanda, Juugo-senpai!" Aku tahu suaraku terlampau keras untuk mengajukan protes, tetapi—
Seisi ruangan menatapku dengan pandangan aneh. Aku balas menatap mereka, kemudian kembali menghunjamkan tatapan pada seniorku yang secara tidak resmi baru saja bergeser dari jabatannya.
"Bilang. Kau. Bercanda," tuntutku dengan nada lambat dan berbahaya.
"Aku. Tidak. Bercanda." Dia membalas dengan nada yang sama—dan kata-kata itu langsung mencekikku seolah ada tangan-tangan tak kasatmata yang melakukannya.
Bohong bohong bohoooonnggg!
Pasti sebentar lagi akan ada seseorang yang berteriak, "Ya, bukan! Kau ketipu, Haruno! Sebenarnya ketua senat yang baru adalah kaaauu! Yeyeye, selamaaaaattt!"
—sayangnya tidak ada yang melakukan hal itu sampai dua menit berlalu dalam keheningan.
Krik.
Semua orang menatapku seolah menunggu reaksiku.
Dan kalau kaukira aku akan tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala karena merasa malu dan tersipu karena memperoleh jabatan wakil ketua—posisi kedua terelit di senat—maka kau salah besar. Karena yang ada, aku malah menjerit keras—"MIMPI APA SEMALAAAAAMMM?"—dan menjatuhkan diriku ke kursi yang sedari tadi menjadi tempat punggung dan bokongku berlabuh.
Ah, Shikamaru pasti akan menolak, ya kan-ya kan? Aku tahu kalau dia orang yang paling tidak mau bekerja sama denganku. Dia pasti akan menolak hal-hal yang merepotkan. Ketua senat itu repot, dan—
"Huh, hanya masalah senat saja, kan? Kita bisa kerja sendiri-sendiri kalau kau mau."
—kata-katanya membuat rahangku melorot sampai ke lantai.
Ya.
Tuhan.
Ku!
Aku tahu aku memang bukan anak yang berlaku paling baik di dunia ini. Aku malas belajar, lebih sering main game daripada membuka textbook. Aku suka menggosipkan orang lain (terutama pemuda tampan dan seksi) bersama Ino. Aku suka diam-diam makan saat kuliah, sering ketiduran juga. Aku pernah menumpahkan susu di diktat Tenten dan malah menyalahkan Kiba. Kalau dihitung-hitung, jumlah kesalahanku di dunia ini mungkin telah menembus angka trilyunan.
Tapi.
Kenapa.
—sekarang aku dijadikan bawahan orang yang menyebalkan ituuuuu?
Tarik napas. Buang. Tarik. Buang. Tarik. Buang. Tarik—
"Kau tidak menolak?" aku mengerjapkan mata tidak percaya. "Jadi ketua senat itu sibuk, lho. Kau tidak akan sempat tidur siang, berleyeh-leyeh sampai lumutan di kasur, bergelung sampai diseret oleh ibumu dan dilempar ke kamar man—"
Shikamaru menatapku dengan kalem. "Tidak akan sibuk. Kan aku punya pesuruh untuk mengerjakan semua tugasku." Kemudian ia menyilangkan kedua lengan di atas kepala dan bersiul-siul seolah segala problematika sudah selesai.
"HOI!"—bagaimana mungkin dia bisa tetap sesantai itu? Ah, dia memang selalu santai. Menyebalkan. "Aku bukan pesuruhmu!"
"Mulai sekarang, ya."
Ingin rasanya kujambak kuncir nanas itu. "Kau—!"
"E-ehm..." Dehaman penuh wibawa dari Juugo-senpai mengusik kami berdua. "Bisakah kalian berdua tenang sedikit?"
Aku mengatupkan mulutku dan kembali duduk diam. Juugo-senpai kembali melanjutkan rapat mengenai beberapa hal yang harus diurus sebelum pergantian tahun akademik; salah satunya masalah ospek jurusan dan segala tetek-bengeknya.
Memendam rasa jengkel, aku menoleh pada Ino dan kulihat dia melakukan hal yang sama. Gerak bibirnya seolah mengatakan 'clover', dan aku tahu apa yang akan kami lakukan setelah ini.
~*::*~
Mungkin kau akan bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan 'clover', dan dengan senang hati aku akan memberitahukannya kepadamu. (Tenang, aku tidak akan menuntut bayaran dari informasi ini.)
Clover yang dimaksud Ino adalah Café Ivy Bloom, café kecil yang berada di seberang kampus kami. Aku dan Ino lebih suka menyebutkan 'clover' karena menurut kami 'Ivy Bloom' terlalu panjang. Lagipula, yang menjadi logo café itu clover, berdaun empat pula.
Clover yang adalah tempatku menggalau.
"Sakura." Nada suara Ino datar sedatar-datarnya.
"Hmmm."
"Aku tahu kau sedang emosi."
"Hm."
"Tapi."
"Hm."
"Kau tidak perlu mengaduk espresso-mu sampai sebegitunya. Lihat, muncrat ke mana-mana! Bzzz."
Aku menghentikan kegiatanku membentuk pusaran cokelat muda di cangkir kertasku, baru menyadari bahwa aku sudah mengotori meja yang menjadi parsialku. Percikan kopi di mana-mana, bahkan ada beberapa tetes yang menggerayangi Blackberry-ku yang sedari tadi kubiarkan berada di atas meja.
"Hehe," aku nyengir. "Soooowwwriiiiie~"
Bola mata aqua Ino berputar jemu. "Kalau ada yang mau diceritakan, bilang saja. Aku tidak akan mengerti kalau kau hanya menumpahkan kopi."
"Siapa yang mau cerita." Kumasukkan sedotan ke mulut dan mengembuskan napas kuat-kuat ke dalam likuid berkafein itu. Blup blup blup—gelembung-gelembung menjijikkan timbul ke bagian superfisial. Kusedot minuman menyedihkan itu dengan setengah hati.
"Bzzz, dasar keras kepala," komentar si Pirang pendek. "Masih jengkel masalah ketua-ketuaan itu, Saku?"
"Tidak," bantahku cepat dan aku segera tersedak. "—sial." Kurasakan ada sebagian cairan yang berusaha menerabas ke rongga hidungku. Menyakitkan.
Sehelai tisu diulurkan Ino kepadaku dan kuterima sembari menggumamkan "trims" dengan rasa malu yang merajalela. Aku sering menganggap diriku kekanak-kanakan, namun biasanya aku tidak pernah melakukan tindakan yang menjatuhkan martabat seperti ini.
Red velvet cake yang kami pesan terhidang di atas meja, bertatakan piring porselen putih cemerlang dan garpu perak yang mengkilap. Dua potong —satu untukku dan satu untuk Ino, walau biasanya aku yang akan menghabiskan semua bagian kue itu. Segera kutarik jatahku menjauhi piring Ino dan mulai menyantap sepotong kecil cake berwarna merah itu.
"Aku tidak mengerti apa yang ada di otak Shikamaru," gumamku tanpa menatap sosok Ino. "Dia selalu menganggapku seperti musuhnya, padahal aku kan tidak pernah berbuat dosa padanya... Eh!"—kudongakkan kepalaku dengan cepat dan sepasang netraku bersirobok dengan manik aquamarine milik Ino—"Sadar nggak sih, Shikamaru selalu berusaha menyaingiku dalam segala bidang? Di klub fotografi, kuliah, lalu senat—"
Ino mengedikkan bahu. "Aku saja baru sadar karena kau bilang barusan."
"Bzzz," kutiru gaya Ino yang biasa muncul kalau aku mengucapkan hal-hal yang kurang ia senangi. "Biasanya kau yang sadar hal-hal kecil seperti ini..."
"Aku sadar kalau hal-hal kecil itu menyangkut Sai atau diriku sendiri." Ia menjulurkan lidahnya. Tampak serpihan-serpihan red velvet cake pada permukaan lidahnya. Jorok.
Bibirku mengerucut dan kuputuskan untuk berdiam diri. Ino memang sahabatku, tapi dia bisa menjadi entitas paling apatis di dunia bila harus berurusan dengan perihal yang sebenarnya bukan bagian untuk dilakoninya.
"Jam berapa sekarang?" Tiba-tiba saja sang gadis pirang bertanya. Garpu peraknya dikulum oleh sepasang bibir yang penuh polesan lipgloss.
Kulirik jam tangan putih di pergelangan tangan kiriku. "Jam sebelas kurang—"
"—Pertandingan!" sambar Ino sambil menghabiskan kuenya lalu meneguk habis isi gelasnya. Ketika melihatku mengangkat sebelah alis, ia segera mendengus. "Maksudku olimpiade renang mahasiswa tingkat prefektur, Sakuraaa. Jangan bilang kau lupa."
Sejujurnya, aku memang lupa.
Dibangunkan paksa di pagi hari buta (sekaligus dimarah-marahi), gagal mendapatkan jabatan yang sudah kuidam-idamkan semenjak masuk kuliah, menjadi bawahan musuh bebuyutan, menumpahkan espresso kesukaanku—ada yang bisa lebih buruk lagi dari semua itu? Jangan lupakan soal kepalaku yang kadang-kadang berdenyut seolah akan pecah dalam waktu singkat.
Melihatku tidak memberikan respons apa pun, Ino memutar bola matanya dengan bosan.
"Ayooo!" Aku baru menyadari gadis feminin itu sekuat ini. Jadi kubiarkan dia menyeretku keluar dari Clover seusai kami membayar semua pesanan kami.
~*::*~
Suasana gelanggang renang di Saitou Sports Center tidak bisa dibilang sunyi senyap. Semenjak kedua kakiku menginjak spasial di balik pintu kaca bening yang berdiri kokoh sebagai pembatas utama, aku bisa mendengar banyak orang bersorak-sorai memberikan dukungan entah kepada siapa. Kurasa pertandingan sesi pertama sudah dimulai.
Kami jelas-jelas terlambat menonton dari awal—sudah lewat beberapa menit dari jam sebelas; yang sebenarnya mukjizat mengingat kami menempuh jarak dua stasiun kereta untuk mencapai tempat ini dalam waktu kurang dari lima belas menit. Ino terlihat kesal saat mengetahui kami kelewatan babak satu.
"Seharusnya aku bawa mobil tadi," gerutunya dengan bibir mengerucut saat kami berdua melintasi lorong antar bangku dan menyelinap duduk pada tempat yang tersisa di tribun utama.
"Kau kan tidak bisa menyetir," aku mencibir dan berujar sinis. "Lagian kayak ayahmu bakal mengizinkan kau bawa mobil ke kampus saja. Aku tahu, kok, kemarin saja saat mau ke rumahku—"
"Bzzz." Hanya itu respons Ino; kedua matanya telah terfokus ke depan sana, menantikan babak kedua yang akan segera dimulai.
Merasa diabaikan, aku pun ikut melayangkan pandangan sinergis dengan Ino. Mengamati riak-riak biru air kolam yang melatari enam orang peserta—
—dan saat itu aku melihatnya.
Dia begitu... berkilauan.
"Ino..." Suaraku terdengar nyaris berbisik. Kekagumanku menyerap habis volume keras yang biasa terkandung dalam setiap dialogku.
Ino tidak menyahut.
"Ino!" Kali ini tangan kiriku mengguncang-guncang lengan temanku, berharap dia akan memberikan atensi penuh pada apa yang ingin kuucapkan. Namun nihil; gadis Yamanaka itu masih menyimak kata-kata reporter pertandingan dengan seksama.
"Pertandingan kedua ini diikuti oleh peserta dari Universitas Hanaba, Perguruan Kantou, Institut Yamagishi—"
Universitas Hanaba? Universitasku? Aku baru tahu ada atlet renang dari kampusku.
...Tidak peduli. Siapa pun yang ikut dari Hanaba, aku tetap mendukung si ganteng yang oh-so-shiny itu untuk menjadi peraih medali emas!
Keenam perenang itu berdiri berjajar di tepi kolam dalam jarak yang sama jauhnya. Mereka berpijak pada sejenis podium dengan nomor tercetak di salah satu sisi datarnya.
Aku mengisap bagian dalam pipiku.
Kulit yang terbakar sinar matahari, otot-otot yang terbentuk hasil latihan fisik selama bertahun-tahun, kedua biner yang tidak terlihat ragu saat memandang lawan-lawannya—
"Gilaaaa, keren bangeeeetttt!" Tanpa sadar kata-kata itu meluncur dari bibirku dengan cukup keras. Beberapa orang menoleh ke arahku dan memberikan tatapan kesal.
"Ha?" Ino menoleh dengan segera. Kedua alisnya berkerut. "Apa?"
"Itu itu ituuuu!" Telunjukku menuding pada satu direksi. "Yang di tengah itu keren pake banget!"
"Bzzz, jangan berteriak tepat di depan telingaku bisa kali, yaaaa..." Kedua tangan Ino sontak menutup kedua sisi wajahnya dengan cepat. Sedetik kemudian ia menyipitkan mata, berusaha menangkap sosok para atlet yang sedang pemanasan sebelum mulai bertanding. "Yang mana?"
Desingan peluit menyebar di udara dan gemuruh air yang dibelah segera terdengar setelah aba-aba diteriakkan. Kedua netraku tak lepas dari sosoknya yang meluncur cepat di bawah lapisan tirta yang kemilau terkena terpaan cahaya.
"Ino! Lihat-lihat! Cepat banget dia berenangnyaaaaa!" Tanpa sadar aku terus berteriak sambil mengguncang-guncang lengan Ino. Berusaha membuatnya yakin bahwa dia yang sedang berpacu di dalam air memang luar biasa. "Ih, ih, ihh—WOH DIA MENANG! Ohmigosh kenapa keren banget, sih, aaaaaa..."
Kutepukkan kedua tanganku keras-keras ketika mendengar bahwa idolaku yang menempati posisi pertama. Pemuda itu mengacungkan lengannya ke udara dan tersenyum lepas. Sorak-sorai pendukungnya menggegap-gempita di dalam hall.
"Kereeennnn~" Aku kembali mengisap pipi.
"Sumpah, kau berisik banget, Sakura." Ino menggumam pelan dari sebelahku. Aku menyikut rusuknya.
Nama-nama juara mulai dibacakan, dan para suporter semakin menggila. "Juara tiga: Sabaku Gaara dari Perguruan Kantou. Juara dua—"
"Kira-kira namanya siapa ya?" Kufokuskan kedua telingaku dan visualisasiku tak beralih dari ketiga pemuda yang berdiri tegak di depan sana. "Dari universitas ma—"
"Juara utama kali ini adalah Akasuna Sasori dari Universitas Hanaba!"
Krik.
Isapan pipiku lepas begitu saja. Alih-alih menarik napas, rahangku malah melorot ke bawah; sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan si announcer.
Saat kesadaranku kembali ke keadaan vital, aku segera melonjak. "DARI UNIVERSITAS KITA! Waaaawww~ Ino, Ino, INO! Woooiiii!—jangan tutup telinga!"
Kulihat Ino memijat-mijat pelipisnya dengan kedua mata terpejam. Migrain-nya kambuh lagi? Ketika ia kembali menatapku, raut wajahnya benar-benar tak terbaca. "Ya ampun, Sakura, kau nanti akan bertemu dengannya lagi, kok, di kampus. Tapi kau harus rajin main ke angkatan atas. Dia teman Sai, ngomong-ngomong."
Sai adalah pacar Ino; satu-satunya laki-laki yang tahan dengan segala kesibukan dan keabsurdan sahabatku. Sejak bertemu di bangku SMA, mereka bagaikan setali tiga uang. Tempel teruuuussss. Sai bukannya cowok freak berkacamata tebal culun yang memakai antena aneh di kepalanya. Salah besar kalau menyangkanya seperti itu. Dia hanyalah seniman ganteng yang suka tebar pesona dan... sedikit playboy.
...dan seksi.
Jangan sampai Ino tahu aku menganggap Sai seksi. Tapi semua gadis memang bilang dia mengagumkan. Biarpun sering berkutat di studio pribadinya untuk melukis, dia tetap melatih otot-ototnya di gym. Orang kaya.
Dan si ganteng itu berteman dengan Sai?
"SERIUS?" adalah pekikanku selanjutnya, dengan suara super duper hyper ekstra ultra keras sekali.
"Iyaaaaaa." Ino menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua belah tangannya, meredam polusi suara yang berpusar di sekitarnya. "Suaramu itu, ya ampuuunn!" Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengucapkan frase asing yang kerap ia gumamkan bila sedang kesal. "Bzzz."
Kalau di hadapanku terletak cermin, aku tahu apa yang akan kulihat pada pantulannya: wajahku yang antusias akan si perenang ganteng.
~*::*~
Berkat tersebarnya pemberitahuan akan kuliah mendadak yang diadakan pukul satu siang, aku dan Ino kembali meluncur ke kampus Universitas Hanaba, berlari-lari kecil karena takut terlambat masuk ke kelas yang dipindahkan secara tiba-tiba ke jadwal hari ini. Seharusnya tidak ada kuliah hari ini, makanya aku dan Ino merencanakan untuk menonton kejuaraan renang tingkat universitas di Saitou.
Dan... kuliah siang itu melelahkan.
Kusandarkan kepala pada meja dan memejamkan mata sementara Ino sibuk dengan ponselnya. Bunyi ctik-ctik-ctik berkumandang di sebelahku, pertanda kedua ibu jari si pirang sedang menari dengan lincah di atas keypad. Mungkin dia sedang berkirim pesan dengan Sai. That two love birds. Sebaiknya aku tidak mengganggu.
Profesor Sarutobi yang sedang mengajar di depan tampak tidak terlalu peduli dengan suasana kelas asalkan tidak ada suara berisik yang mengganggu pekerjaannya. Masa bodoh para mahasiswanya mau tidur atau makan, asalkan jangan berani mengeluarkan bunyi-bunyian. Kalau kau tidak sengaja batuk di kelas pun dia bakal melayangkan spidol ke jidatmu.
Sikutan pelan membuatku terlonjak.
"Apa?" tanyaku tanpa menoleh. Kedua mataku terlalu berat untuk dibuka dan leherku terlalu kaku untuk berotasi ke kontralateral. Yang menyikutku sudah pasti Ino—siapa lagi yang duduk di sebelahku?
"Bzzz, kabar penting, nih, Sakura." Suara Ino mendesis menyelusup lewat helai-helai rambut yang menutupi telingaku. "Soal Akasuna Sasori yang tadi itu."
"Ap—" aku nyaris melupakan kegalakan Profesor Sarutobi yang berkenaan dengan 'suara' ketika Ino buru-buru membekapku sebelum kepalaku benjol terkena spidol. "Apa?" ulangku dengan suara yang jauh lebih pelan.
"Kau perlu terapi soal suaramu yang kayak toa itu, lho." Wajah Ino tampak serius.
"Jangan mengalihkan pembicaraan," desisku geram. "Ikemen kenapa?"
Dare to laugh? Aku memang baru saja membuat julukan tersendiri untuk Akasuna Sasori: Ikemen. Kebiasaanku memberikan julukan supaya tidak ada yang tahu soal orang-orang yang sering kubicarakan dengan Ino.
"Ikemen juga ada kuliah hari ini. Saat ini. Dan bakalan bubar di jam yang sama dengan kita."
Dan sisa jam kuliah hari ini kuhabiskan dengan memandangi jam yang tergantung di atas whiteboard. Mendoakan agar setiap detiknya melompat ekspres agar aku bisa cepat-cepat terbebas dari jerat bangku kuliah.
Ketika Profesor Sarutobi menggumamkan 'pelajaran cukup sampai di sini' pada microphone yang digunakannya untuk mengajar, secepat kilat aku berlari menuju luar kelas. Benar-benar harus secepat kilat karena yang kutahu kelas-kelas yang digunakan senior berada di pojokan lantai empat—cukup jauh dari kelasku berada.
Tak kuhiraukan panggilan histeris Ino di belakangku. Pokoknya aku harussss ketemu dengan Akasuna Sasori!
Hambatan selalu ada; banyaknya mahasiswa yang berlalu-lalang di koridor membuat langkahku tersendat-sendat, bahkan harus berhenti beberapa kali ataupun menyeruak di antara kerumunan yang bergerombol di dekat lift. Kenapa kelas senior selalu mendapatkan ruang kelas di ujung gedung? Benar-benar menciptakan malapetaka.
Syukurnya, ketika aku—dengan terengah-engah—tiba di depan kelas yang kucurigai adalah kelas Ikemen, para mahasiswa masih berada di dalam, memandang lurus ke arah LCD yang menampilkan slide berisi materi kuliah dan mendengarkan dosen yang berceloteh di depan kelas. Setidaknya kupikir begitu.
Jadi kuputuskan untuk berdiri dan menunggu di balik pintu. Menyandarkan punggungku yang baru kurasakan lembab karena keringat. Siapa pun yang keluar pertama nanti akan langsung kuberondong dengan pertanyaan mengenai Ikeme—
—tiba-tiba saja pintu terbuka dan aku nyaris terjengkang ke belakang, bagian posterior kepalaku menabrak... sesuatu yang menimbulkan bunyi redup.
"Akh!"—jenis jeritan memalukan yang jarang kukeluarkan. Aku segera berbalik. "Maaf, maaf, maaaaaafff!" Tubuhku melengkung membentuk bungkukan nyaris siku-siku. "Aku hanya—emmmm, apa di sini ada Akasuna-senpai?" Nyaris kugigit lidahku sendiri karena hampir menyebutkan 'ikemen' pada siapa pun yang membuka pintu itu.
"Kau mencariku?" Pertanyaan itu membuatku segera mendongak.
Dan kedua mataku langsung membulat. Otot rahangku terasa lemas dan nyaris melorot sampai lantai. Kalau aku bisa berteriak 'HAAAAAAHHHH', maka sudah kulakukan dari tadi! Karena, karena...
...karena orang-yang-membuka-pintu-dan-terbentur-belakang-kepalaku adalah orang yang kucari sedari tadi.
Sasori-senpai. Si Ikemen.
Dengan jarak kurang dari setengah meter, berdiri di hadapanku. Fana. Dengan rambut merah halus yang membingkai wajahnya dengan indah. Kedua mata hazel yang memancarkan sorot hangat. Dengan bibir tipis yang memesona...
Demi Tuhan, rasanya jantungku siap melompat keluar kapan saja!
~*::*~
"Chaos! Pokoknya chaos sekali!"
Aku tak peduli Ino akan memusuhiku selama seabad atau menjadikanku sebagai budaknya seminggu ke depan, aku harus menceritakan semua ini kepadanya sebelum kewarasanku berubah total. Pasca bertemu dengan Sasori tadi, aku segera berlari pergi—tidak menjawab kalimat interogatifnya sama sekali—dan menyelamatkan diri dengan segera keluar dari area kampus. Kebetulan sekali sudah tidak ada urusan apa-apa yang harus diselesaikan hari ini di senat atau apalah, aku bisa pulang secepatnya dan mengubur diriku di balik selimut sampai besok pagi, menyesali kebodohanku.
"Chaos kenapa sih? Mana aku mengerti kalau kau cerita sepotong-sepotong seperti ini, bzzz." Ino berusaha mengorek penjelasanku lebih dalam.
"Ya pokoknya pertemuan pertamaku dengan Ikemen tadi tidak memberikan kesan pertama yang bagus. Tadi kepalaku membentur—apanya—pokoknya kena ke salah satu bagian tubuhnya, entah di mana. Uuuuuggghhh!" Kalau di dekatku ada samsak tinju, pasti aku sudah memukulinya sampai pasir di dalamnya beterbangan ke mana-mana.
"Kok bisa?!" Sahabatku terdengar kaget, entah respons atas ceritaku yang mananya.
Kuamati lingkungan di sekitar kampus sebelum menjawab pertanyaannya. Jalanan lengang, nyaris tidak ada kendaraan lewat di sini. Padahal aku perlu taksi untuk sampai ke apartemenku. Dengan mood kacau begini, aku sama sekali tidak berminat berdesak-desakan di chikatetsu yang terkadang terkontaminasi oleh om-om genit atau pencopet.
"Soalnya tadi aku bersandar di pin—eh sebentar." Sebuah taksi kuning meluncur dengan lampu menyala di bagian atasnya. Taksi kosong! Tepat seperti yang kubutuhkan saat ini. "Taksi!"
Mobil sedan kuning itu menyalakan lampu sein dan menepi. Aku segera berlari kecil menuju lokasi pemberhentian taksi tersebut dan—
Cklek!—
Ada tangan lain yang menarik pintu belakang taksi bersamaan dengan tanganku.
Oh.
God.
Masih saja ada gangguan di saat aku akan pulang ke apartemenku!
"Sebentar ya, Ino. Nanti kutelepon lagi," ujarku dengan nada rendah. "Ada orang brengsek yang berusaha merebut taksiku." Lalu aku memutuskan panggilan.
Kupasang wajah judes super menyebalkan terhadap pemilik tangan yang kuyakin adalah laki-laki itu. "Maaf, aku duluan yang—EH?" Kata-kata segera mengambang dan lenyap bagai busa sabun yang terpapar udara, tepatnya setelah kedua binerku menangkap sosok empunya tangan tersebut.
Wajah itu, perawakannya... entah mengapa aku merasa pernah melihatnya sebelum ini.
Deja vu?
"Kau memperlambatku, Nona." Kata-kata itu memecah alam khayalku yang sedang mengingat-ingat di mana aku pernah melihat orang ini di antara tumpukan memoriku. Nada suaranya datar dan mengandung unsur sarkasme.
"Tunggu, tunggu, tunggu—" kusingkirkan tangannya dari pintu taksi, "—apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Menunggu jawabannya, aku bersedekap, menyerongkan tubuhku untuk menghalanginya masuk ke taksi. Pertama, aku yang menyetop taksi ini, bukan dia. Kedua, aku harus tahu apa kilasan-kilasan ingatanku ini hanya imajinasi semata atau aku memang pernah bertemu dengannya sebelum ini.
Raut wajah aristrokat yang menyebalkan ini... rasanya familier.
Namun, tanpa diduga-duga, pemuda di depanku ini malah menaikkan sebelah sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang arogan. "Modus, ya? Aku tak akan tertipu." Dan ia mendorong pundakku lalu bersiap masuk ke dalam spasial taksi.
Aku terperangah.
CIH! Apa tadi dia bilang? Modus? Apanya yang modus?—"Jangan masuk sembarangan!" kutarik lengannya agar tubuhnya yang sudah separuh berada di dalam taksi keluar lagi. Namun ia menolak dan melepaskan cengkraman tanganku. "Tapi aku duluan yang—"
Pemuda itu kini telah duduk nyaman di kursi belakang taksi, menanti taksi melaju—yang tidak akan terjadi karena aku berganti memegangi pintu sekuat tenaga. Wajahnya tidak berganti raut sedikit pun ketika kedua matanya yang sehitam jelaga melirikku.
Menyadari bahwa ia tidak akan bisa pergi tanpa lepas dariku—dan temperaturku yang sedang sangat jelek—pemuda itu bersuara, "Oke, kau mau ke mana?"
"Apartemen Shoutoku." Kupaksakan tubuhku memasuki rongga dari bodi rigid sedan kuning itu sekaligus mendesaknya agar keluar dari pintu yang satunya lagi. "Jauh, kan? Jadi biarkan aku naik taksi ini."
"Oh." Hanya itu yang dikatakan si pemuda. Sekali, ia menyapukan tangannya pada helai-helai rambut hitamnya yang mencuat di bagian belakang. "Kalau begitu, kita searah."
Aku melongo untuk kesekian kalinya hari ini.
...rasanya lututku menjadi lemas.
.
.
.
Kalau saja aku tahu bahwa hari ini adalah pintu awal dari labirin kehidupanku, kuharap aku tak pernah melewati hari ini sama sekali. Karena, tanpa sadar, aku sudah terjebak dalam sebuah maze dimana aku sendiri yang harus menentukan jalan keluarnya.
—dan jalan keluar itu tak akan kelihatan sebelum aku memulai perjalananku...
.
.
K u w a I l i e n d e l e a . . .
.
.
.
Author's Bacot Area
Oke, fine. Bisa dibilang ini kutukan. Saya nyelesein chapter ini tepat sehari sebelum ujian juga (ini udah hari senin, bro), sama persis kayak waktu bikin trailer-nya. Grrrr, kenapa saya malah kepengen nulis kalo disuruh berhadapan sama diktat? DX
Maaf kalo chapter ini mengecewakan. Agak susah bikin 1st POV karena udah kebiasaan pake 3rd POV atau 1st POV tanpa dialog. Diusahakan chapter selanjutnya lebih errrr berkesan dan sebagainya.
Makasih buat Yoruichi Shihouin Kuchiki, fuchaoife, Lucy Cavendish, sasa, tomatblossom, Fujimoto Michi 'Blue, skyesphantom, Shiori Yoshimitsu, Kira Desuke, viddaaaa, Vytachi W.F, Sorane Midori, Lrynch Fruhling, gieyoungkyu, celubba, MK-luv, s4kura-chwan, apricotyboo yang udah review di chapter lalu~
Maaf humornya ga nyempil di sini. Lagi galau parah. Galau yang bener-bener bikin orang pengen mojok di sudut kamar sambil makan coklat ToT
Aturan baca masih sama: no silent readers!
Komentar?
Me ke aloha,
mysticahime
