Ada sesuatu yang disembunyikannya.
Ada sesuatu yang telah terjadi dalam lima tahun ini.
Sesuatu yang telah mengubahnya.
Sesuatu yang ia simpan rapat-rapat tanpa celah untuk mengintip masuk.
Sesuatu yang terselubung beribu tanda tanya.
Sesuatu yang aku tak tahu apa.
Entah apa itu, tiada yang tahu—termasuk keluarga dan teman terdekatnya. Tetapi, setiap kali aku menatap matanya—sepasang mata itu—aku tahu, dirinya menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang berkaitan dengan dirinya saat ini.
Sesuatu yang aku yakin akan ia katakan kepadaku, cepat atau lambat.
~*::*~
Seperti sebuah labirin, cinta tak selalu berada dalam suatu garis lurus. Terkadang kau harus berbelok ketika menemukan hambatan, atau bahkan memutar dan berbalik arah kemudian mencari jalur lainnya...
.
.
Naruto and all of its characters belong to Masashi Kishimoto. I just write this fanfiction for my own pleasure. No materialistic profit's taken.
.
.
Kedua mata masih setengah terpejam, tapi aku memaksa tubuhku berguling keluar dari dekapan hangat selimut. Kuapan lebar tercipta dan aku mengaum keras-keras. Seandainya saja berada di film-film, sudah pasti uap putih menyebar ke mana-mana—atau kalau aku seekor naga, apartemenku sudah hangus terbakar akibat dengusanku.
Kakiku mencari-cari sandal tidur yang seharusnya berada di dekat tempat tidurku. Mana? Mana?—sejauh ini yang teraba hanyalah permukaan lantai yang dingin. Yang kutemukan hanyalah sandal sebelah kanan; masa bodohlah. Aku masih mengantuk, sangat sangat mengantuk.
Mengabaikan ponsel yang berdering di side bed table, aku berjalan keluar kamar dan menuju pintu balkon. Apartemenku berada di lantai tiga dengan sebuah balkon yang menghadap ke arah timur. Sudah merupakan kebiasaan kalau setiap pagi aku mencari kehangatan matahari pagi.
"Aaaarrrhhhh," erangku sambil meregangkan otot-otot punggung. Sebelah mata sedikit terbuka, menyerap cahaya matahari banyak-banyak sebelum aku berlari-lari ke arah stasiun nanti.
Meskipun aku tidak suka bangun pagi, aku senang kalau mendapati diriku terbangun saat matahari terbit dan—
"Kaus yang kaupakai jelek sekali."
Krik.
Kesadaranku melonjak ke angka seratus persen, dan aku menoleh ke sebelah kiri—ke arah sumber suara.
"GYAAAAAAAAAAAAAAHHHHH!"
.
.
mysticahime
2013
Proudly acquaint...
X~*~*~*~*~*~*~*~*~X
LABYRINTH
X~*~*~*~*~*~*~*~*~X
For Kira Desuke :)
.
.
"I wasn't looking for this...
...but now you're in my way!"
.
.
2nd Labyrinth: The Interaction (1).
Pintu terbanting keras di belakangku dan aku menyandarkan punggung, terduduk dengan dahi menempel di lutut. Napasku memburu, jadi kucoba untuk menenangkan diri. Kalau saja aku menyimpan banyak barang di balkon tadi, sudah pasti tetangga sialan itu tidak akan selamat barusan.
Oh, ya. Sejak kemarin sore, aku kedatangan tetangga baru yang super menyebalkan. Setiap kali kami tidak sengaja bertemu, sudah pasti ia mengucapkan hal-hal yang membuatku kesal.
Contohnya barusan.
Aku menarik bagian depan kaus putihku. Mataku bertatapan dengan mata Mickey Mouse yang catnya sudah menghilang di sana-sini. Memperhatikan bahwa... oke, kausku memang lusuh.
Tapi, lusuh bukan berarti jelek.
"Dasar rese, tukang komentar, usil, jeleeeeekkk!" aku berseru keras-keras, yakin umpatanku terdengar ke kamar si tetangga. "Dasar tetangga bawel. Ck, dasar nyebelin!"
Tanpa sengaja, jam dinding yang tergantung di atas pintu depan tertangkap oleh penglihatanku, dan aku terhenyak. Jam setengah tujuh! Kuliah pertamaku dimulai jam setengah delapan, ya ampun ya ampun ya ampuuun!
Cepat-cepat aku menghambur ke kamar mandi dan membanting pintu. Lalu keluar lagi karena menyadari aku belum menyambar handuk dari gantungan. Aku bisa terlambat!
~*::*~
Diktat, tempat pensil, Blackberry, dompet, kartu langganan kereta dan bus—apa lagi?
Aku menyeleting ranselku dengan terburu-buru, dan gantungan ponselku tersangkut. Kusentakkan gantungan itu dan menjejalkannya ke dalam tas, berusaha tidak peduli kalau ada satu bagian talinya terurai. Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan hal-hal semacam itu kalau kau akan berhadapan dengan wajah seram Profesor Orochimaru bila kau terlambat masuk ke kelasnya karena mengurusi hal-hal yang menurutnya kurang penting.
Kupakai kaus kaki dengan terburu-buru—nyaris menabrak meja karena kehilangan keseimbangan. "AW! Astaga, siapa yang meletakkan textbook ini di sini?" keluhku sambil mengusap pelipis yang terbentur ujung textbook tebal—padahal hanya aku yang tinggal sendirian di sini.
Jejalkan paksa kaki ke dalam sepatu kets yang kupakai, kemudian mengunci pintu. Tidak ada yang ketinggalan, kan? Kulepaskan sebelah tali ransel dan kubuka lagi resletingnya untuk mengecek isi tas—ASDFGHJKL, lupa bawa kunci duplikat ruang senat yang diantarkan Ino semalam. Aku kembali memutar anak kunci dan menyambar kunci ruang senat yang berada di sebelah textbook.
Saat selesai mengunci ulang pintu, aku berbalik dan nyaris menjerit.
"KAU!" pekikku keras. Bagaimana tidak kaget kalau sedang terburu-buru dan tiba-tiba saja seseorang menampakkan diri di depan batang hidungmu tanpa suara? "U-U-U—" siapa namanya? Aku lupa. Kulirik papan nama yang berada di sebelah kiri kamarku; miliknya. "Uchiha! Kenapa kau mengagetkanku, ha?" Aku berkacak pinggang dan memanyunkan bibir.
Sebelah alis pemuda itu terangkat. "Siapa yang mengagetkan? Aku mau ke minimarket."
Keningku lantas mengernyit dan pandanganku menelusuri Uchiha dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rambut yang itu-itu saja, kaus putih bertuliskan 'WATCH OUT', celana cokelat pendek, dan sandal karet warna biru. Di saku celananya tersembul gantungan kunci berbentuk ikan paus.
Oh.
"Tetap saja kau mengagetkanku," bantahku tidak mau kalah. Kudorong tubuhnya sedikit karena dia menghalangi jalanku. "Minggir sana, aku hampir terlambat kuliah!"
Lalu aku berlari menuruni tangga dan meninggalkannya.
Tetangga sialan yang menyebalkan itu bernama Uchiha—orang yang sama dengan orang yang berebut taksi denganku kemarin. Pada akhirnya, kemarin kami berada dalam satu taksi. Diam-diaman. Tidak berusaha mengenal satu sama lain. Aku bahkan baru tahu namanya saat melihat papan nama di sisi apartemennya, berada di bawah papan namaku.
303 – Haruno
304 – Uchiha
Selebihnya, aku tidak tahu-menahu soal Uchiha itu, kecuali tabiatnya yang menyebalkan dan senangnya mengomentari siapa saja yang berada di dekatnya—dalam kasus ini, AKU.
Apartemen kami terdiri dari lima lantai, dimana terdapat delapan kamar di setiap lantainya. Kamar satu sampai empat berada dalam satu deret dengan balkon yang menghadap ke timur, sedangkan kamar lima sampai delapan memilik balkon yang menghadap ke arah barat. Setiap kamar terdiri dari dua kamar tidur, satu dapur, satu ruangan besar yang (pada apartemenku) kubagi menjadi ruang duduk, ruang makan, dan ruang belajar; serta satu kamar mandi modern.
Aku cukup mengenal tetangga-tetangga di lantai tiga; ada seorang aktor muda yang sedang naik daun di kamar 302—saat ini sedang ada pekerjaan di luar kota; ada sepasang suami istri muda di kamar 305; seorang mahasiswi jurusan psikologi yang jarang pulang di kamar 306; kamar 307 dan 308 dihuni oleh kakak-beradik—mereka bukan tipe kakak-beradik yang akur. Kamar 301 kosong tanpa penghuni.
Saat aku akan membuka pintu pagar, aku nyaris menjerit kaget lagi karena kemunculan seseorang.
"Kenapa kau, Haruno?" Nara Shikamaru menatapku dengan kening berkerut. Kedua tangannya terbenam di saku celana jeans dan di punggungnya terdapat ransel yang tergantung lemas—sepertinya tidak penuh terisi, jadi buat apa dia membawa tas sebesar itu?
"Kau nongol tiba-tiba." Aku menyipitkan mata. "Tumben sekali aku bertemu denganmu. Bukannya rumahmu di—"
"Jangan menghalangi jalan."
Aku berbalik dan menemukan tetangga menyebalkan itu berdiri di belakang punggungku. Raut wajahnya datar dan tampak bosan. "Siapa yang menghalangi jalan?"
"Kau," jawabnya tanpa nada sedikit pun. "Cepatlah, aku perlu ke minimarket."
Aku baru saja akan membalas, 'loncat saja kau lewat semak-semak itu,' namun tidak jadi karena pada kenyataannya aku memang berdiri di depan pagar khusus pejalan kaki karena tadi bercakap-cakap dengan Shikamaru. Kesal, aku menarik pagar hingga terbuka dan cepat-cepat menyingkir ke jalan.
"Ayo." Lengan Shikamaru kutarik dan aku mulai melangkah. Kalau bisa cepat-cepat pergi dari tetangga baru yang menyebalkan itu. Lewat sudut mata, kulihat dia mengambil arah berlawanan dengan tujuanku dan Shikamaru.
"Siapa itu?" Shikamaru menoleh ke belakang—mungkin bingung karena tiba-tiba aku mengajaknya jalan bersama.
Aku mendengus. "Bukan siapa-siapa. Cuma tetangga. Ayo."
"Ohhh..."
.
.
.
Pemuda Uchiha berhenti melangkah dan berbalik ke belakang, menatap dua sosok—satu lelaki dan satu perempuan—yang melangkah berlawanan direksi dengannya. Tatapannya datar dan tidak terkesan terlalu peduli.
"Oh, itu pacarnya?" tanyanya pada diri sendiri. Sejenak kemudian, pemuda itu mengangkat bahu dan melanjutkan perjalanannya menuju minimarket.
~*::*~
Aku menyandarkan kepalaku pada permukaan meja, menghirup udara dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Kuliah selama dua jam ini benar-benar menguras energiku, terutama karena yang mengajar adalah Profesor Orochimaru. Pria itu menyandang kategori killer semenjak pertama kali mengajar di Universitas Hanaba—bahkan beberapa dosen pun menjulukinya demikian. Sayangnya, dekanat tidak terpikir sama sekali untuk mengeluarkan Profesor Orochimaru (dengan dakwaan membuat mahasiswa stres) karena mata kuliah yang dibawakan beliau selalu memperoleh nilai ujian yang bagus-bagus.
Memang sih, cara mengajarnya enak dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya—sering melakukan tanya jawab, mengadakan kuis, et cetera, tapi sebagai mahasiswi dengan nilai rata-rata, aku selalu merasakan kecapekan setelah mengikuti kelasnya.
Kepalaku digulingkan dari arah kanan dan hidungku membentur meja. "HEI!" seruku keras, memaki siapa saja yang melakukan tindakan tercela itu.
Aku segera mendongak agar bisa mengusap hidungku yang sakit, namun bagian belakang kepalaku berbenturan sesuatu yang keras, dan sepersekian detik kemudian aku mendengar suara perempuan mengaduh. Suara Yamanaka Ino.
"Kau ngapain?" tanyaku bingung ketika melihatnya memegangi dagu. Gadis pirang itu melotot kepadaku.
"Kepalamu itu keras sekali, Sakura. Bzzz," gerutunya dengan suara aneh. "Kenapa kau menabrak daguku ketika aku mencoba membangunkanmu?"
Oh, yang 'keras' tadi itu dagu Ino? "Kenapa aku dibangunkan?" tanyaku bingung. Sedetik kemudian aku tersadar. "JADI KAU YANG MENDORONG KEPALAKU?"
"Suaramu, oh God. Sakura." Ino menoyor kepalaku pelan. Ia berbalik kemudian nyengir pada teman-teman sekelas yang menatap kami semua dengan alis terangkat. Kemudian Ino kembali menghadapku sambil tersenyum. "Ayo, kau harus cerita."
"Cerita?" Aku menelengkan kepala. "Cerita apa? Aku sudah cerita soal tetangga baru yang menyebalkan itu."
"Bukan itu!" Tuing! Jari telunjuk Ino teracung tepat di depan hidungku, membuat kepalaku mundur sedikit.
"Lalu?"
"Kenapa tadi pagi kau datang dengan sainganmu?" Ino membuat penekanan pada kata 'sainganmu', dan aku langsung ber-ooohhh-ria.
Tadi pagi aku memang memasuki kelas bersamaan dengan Shikamaru—tentu saja aku tak mungkin menyuruhnya menyingkir setelah lewat di sekitar rumahku (dan aku masih heran kenapa dia bisa melintas di sana padahal setahuku rumah kami berlawanan arah). Dan kedatangan kami berdua menimbulkan kegemparan, walau aku tidak berpikir macam-macam mengenainya.
Itu kan hanya kebetulan.
"Tidak sengaja bertemu di depan apartemenku," jawabku datar. Kubereskan alat tulis dan diktatku dan memasukkannya ke dalam ransel. Sehabis ini jadwalku kosong dan aku ingin cepat-cepat makan karena tidak sempat sarapan. "Makan, yuk."
"Bzzz, jangan mengalihkan pembicaraan, Sakura." Ino ikut berdiri saat aku berdiri. "Katakan padaku, ada hubungan apa antara kau dengan si Na—hei, hei, tunggu! Jangan tinggalkan aku!"
~*::*~
Rapat perdana senat baru saja selesai setengah menit yang lalu. Kubereskan berkas-berkas laporan pertanggungjawaban dari ketua senat lama—Juugo-senpai—dan memasukkannya ke dalam map. Rapat kali ini mengevaluasi seluruh kegiatan senat tahun lalu dan menetapkan kabinet baru pada kepengurusan tahun ini. Karena menjabat 'hanya' sebagai wakil ketua, aku tidak punya hak untuk menentukan pengurus lainnya. Shikamaru-lah yang memilih.
"Pulang?"
Aku mendongak dari Blackberry-ku—Ino yang bolos rapat mengirim sejuta 'PING!' karena penasaran dengan hasil rapatnya—dan menemukan Nara Shikamaru berdiri di belakangku.
"Kenapa?" aku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan. Tumben sekali dia bertanya. Biasanya kan dia selalu bersikap apatis dan menganggap aku ini kutu yang mudah disingkirkan semudah menjentikkan jari.
"Nanya," katanya sambil mencebikkan bibir. "Ya sudah, aku duluan. Besok kita rapat berdua, bikin program."
Krik.
Tiga.
Dua.
Satu.
"HAAAAAAAAHHHH?"—tunggu, yang di depanku ini SIAPA? Apa benar ini Shikamaru? Nara Shikamaru yang bilang aku 'babu' kemarin? Yang bilang tidak mau bekerja sama denganku? Yang— "Kenapa harus berdua?"
"Berisik." Pemuda itu menutup sebelah telinganya dengan jari telunjuk. Kedua matanya yang sipit menatapku penuh intimidasi. "Kau wakil ketua senat, kan?"
Aku menatapnya bingung. "Iya, lalu?"
"Wakil ketua itu jabatannya nyaris setara dengan ketua, kan?"
"Iya, lalu?"
"Kau mau aku membahas program dengan pengurus yang jabatannya lebih rendah darimu?"
"Iy—HEH, TIDAK BISA!" seruku keras, nyaris menggebrak meja. Aku menggembungkan pipi. Enak saja, sudah nyaris tidak dapat jabatan di senat—dapat pun jadi 'bawahan'nya Shikamaru—sekarang dia mau menggusurku pelan-pelan dari posisi wakil ketua. "Oke, besok kita rapat!"
Kini pemuda Nara itu mengangkat alisnya. "Huh? Ya sudah, besok bawa laptopmu." Lalu dia berbalik dan keluar dari ruang senat. Sesaat sebelum punggungnya benar-benar menghilang, kepalanya melongok lagi ke dalam. "Telat berarti traktir aku makan."
Krik.
"MAKAN BATU!" seruku dan map di atas meja kulempar ke arah pintu. Detik selanjutnya ada ledakan kertas di mana-mana sementara Shikamaru mungkin sudah melenggang dengan hati senang.
Tepukan di kening. Astaga, yang kulempar barusan itu berkas-berkas yang baru saja kubereskan. Ck, aku harus membereskannya sekali lagi.
Oh.
Tuhan.
Ku.
~*::*~
JENG JENG JENG I THREW MY WISH TO THE WELL, DON'T ASK—
"Moshi-moshi?" Kujawab telepon yang masuk setelah menekan tombol hijau. "Oh, Ibu. Apa kabar?"
Ponsel kujepit di antara dagu dan pundak sementara kedua tanganku kembali melanjutkan tugas presentasi yang harus dikumpulkan besok pagi. Meringkas satu bab dari diktat memang melelahkan—kali ini aku terpaksa menandai bagian-bagian penting dengan coretan pensil (yang sama sekali tidak menarik karena berwarna abu-abu, omong-omong) karena stabilo hijauku habis.
"Aku cukup makan, kok," jawabku ketika Ibu menanyakan keadaanku. "Hanya saja tidurku yang kurang, hehehe."
Semenjak dua tahun yang lalu, aku tinggal terpisah dengan kedua orang tuaku. Ayah dan ibuku tinggal di Hokkaido, tepatnya di Sapporo. Karena melanjutkan kuliah, aku tinggal seorang diri di apartemen ini hingga sekarang.
"Kau kurang tidur karena terlalu banyak mengurusi senat, ya, Saku-chan?" Suara Ibu terdengar menyelidik. Aku terkekeh mendengarnya.
"Bukan, Bu. Sekarang sedang banyak tugas—ini saja aku sedang menyiapkan presentasi, haha." Aku menyelipkan gambar ke slide presentasiku agar terlihat menarik. Apa sebaiknya diberi efek animasi juga?—eh, nanti saja setelah selesai. "Bu, ada tetangga baru di sebelah."
"Soalnya selama ini kau kebanyakan tidur, makanya tugasmu menumpuk." Aku mendengus mendengar komentar Ibu. "Tetangga baru? Seperti apa orangnya?"
"Siapa bilang aku tidur terus?" aku menggerutu ketika salah meng-klik sehingga yang masuk ke slide-ku adalah gambar sapi tertawa. Sama sekali tidak nyambung dengan isi presentasiku. "Dia menyebalkan, Bu. Orangnya seenaknya, suka muncul tiba-tiba, tidak menghargai perempuan—"
"Oh, dia laki-laki?"
"Siapa bilang?" Ahhh, save dulu deh. Kalau begini caranya, aku tidak akan bisa mengerjakan tugas dengan tenang.
"Feeling Ibu tidak setumpul itu, Saku. Jadi, katakan. Tetanggamu itu bagaimana?—maksudnya selain seenaknya, suka muncul tiba-tiba, dan tidak menghargai perempuan?"
"Itu saja." Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana si Uchiha itu bertindak. "Aku tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang menyebalkan. Agak-agak mirip Shikamaru, tapi bukan versi pemalas dan tukang tidur." Benar juga, Uchiha itu bangunnya pagi. "Tadi pagi dia sudah bangun saat aku ke balkon."
Terdengar tawa Ibu di seberang sana. "Kau memperhatikannya, eh, Saku-chan? Sudah berapa lama dia tinggal di sebelah kamarmu?"
"Ihh, siapa yang memperhatikan dia!" aku menyalak. "Lebih baik memperhatikan senpai di kampus, Bu. Hahaha. Uchiha baru pindah kemarin sore, jadi—"
—dan sampai setengah jam selanjutnya, aku mengobrol dengan Ibu. Masih seputar topik yang sama: kehidupanku di sini.
~*::*~
Kalau sedang mengerjakan tugas, selalu saja ada distraksi yang mengalihkan fokusku dari apa yang harus kukerjakan. Pertama-tama, ibuku menelepon dan kami berbicara cukup lama di telepon. Lalu sekarang, mendadak aku ingin sedikit membereskan apartemenku.
Kuraih trash bag yang sudah terisi setengahnya, lalu mencari-cari apakah ada yang harus disingkirkan lagi dari apartemenku. Setelah yakin semua yang mau kubuang sudah berada di dalam kantung hitam besar itu, aku mengikatnya dan menyeret kantung besar itu keluar dari kamar apartemenku—
"KAU LAGI!"
—bertemu dengan sosok Uchiha yang juga membawa trash bag di tangan kanannya.
Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya ketika melihat telunjukku yang teracung ke arahnya. "Apa?" tanyanya datar.
"Kenapa aku bisa bertemu denganmu lagi?" Tangan yang tadi mengacungkan telunjuk kini kugunakan untuk berkacak pinggang. "Dan jangan bilang kau juga mau membuang sampah."
"Memang itu niatku," balas Uchiha sambil mengangkat sedikit trash bag-nya. "Kau mau ikut dibuang?"
"HOI!" seruku kesal. Maksudnya aku juga sampah? Kurang ajar sekali dia, ck. "Kenapa kau selalu mengikutiku, sih?" Aku mengomel sambil berjalan ke arah tangga.
"Siapa yang mengikuti." Ia berjalan di belakangku.
"Kau!" aku berbalik dan kembali menunjuknya.
Uchiha berlagak bodoh dan menoleh ke belakang—menganggap aku menunjuk orang lain selain dia. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya. "Cepat jalannya."
Mulutku membulat. "Berisik!"
"Aku tidak berisik."
"KAU BERISIK!"
"Tidak."
"YA!"
Saat tiba di bawah tangga, aku berbalik dan bersedekap setelah sebelumnya meletakkan trash bag-ku di lantai. "Aku tidak berisik, Tuan Uchiha. Kaaauuu yang berisik." Jarak antara kakiku dan tempat tujuanku semakin menipis.
Sebelah alis pemuda itu terangkat. Rambut hitamnya diterpa matahari sore sehingga berwarna agak kecokelatan. "Lihat siapa yang sedari tadi berteriak-teriak."
Aku mengentakkan kaki dan melempar trash bag-ku ke tong sampah raksasa yang berada tak jauh dari pagar. "Kau yang membuatku teriak-teriak, dasar menyebalkaaaannn!"
"Terserah." Uchiha melakukan hal yang sama denganku—melempar trash bag, maksudku. Tak mungkin ia ikutan mengentakkan kaki dengan jengkel. Satu sekon kemudian, ia bersedekap. "Kau mau menghalangi jalanku lagi?"
Aku yang sedang mengamati wajahnya malah menyipitkan mata. "Aku tidak menghalangi jalan. Aku sedang mengamati wajahmu." Mata itu, hidung, rahang... "Kau terasa familiar, tahu. Rasanya aku pernah melihatmu di suatu tempat sebelum ini."
Bibir tipis itu membentuk sudut miring yang terkesan sinis. "Modus lagi."
"Siapa yang modus?" bantahku. Untuk kedua kalinya Uchiha menuduhku memodusinya. Mimpi dia. Daripada memodusi Uchiha-tetangga-sialan, lebih baik aku mengincar Ikemen! Ah, ngomong-ngomong hari ini aku tidak bertemu dengan Ikemen. Kata Ino, hari ini dia ada pertandingan di luar kota. Ckck.
"Wajahmu memang familiar," ujarku sekali lagi. "Rasa-rasanya, aku pernah bertemu denganmu dulu." Kuputar ingatanku mengenai masa lalu. Uchiha, Uchiha, Uchiha... rasanya aku pernah dengar, tapi di mana?
Satu-satunya Uchiha yang kukenal adalah Uchiha Sasuke. Bocah yang kutemui di taman bermain ketika berlibur di Osaka dulu. Anak laki-laki yang ceria, penuh semangat, dan—
"Uchiha Sasuke?" kataku asal, kemudian mengacak-acak rambutku sendiri. Hah, tidak mungkin! Uchiha Sasuke yang kukenal orangnya menyenangkan dan murah senyum. Bukan yang seperti i—
"Kau tahu namaku?" Pemuda itu memiringkan kepala.
Kedua mataku langsung terbuka lebar. "Kau Uchiha Sasuke? Serius?"
"Hn." Dengan singkat, ia mengiyakan. "Kau?"
"Kau tahu namaku, Sa-su-ke."
Kukira, Sasuke akan langsung mengingatku sebagaimana aku mengingatnya. Tapi ternyata, pemuda itu malah melengos dan melewatiku begitu saja. Meninggalkanku seorang diri di dekat tempat sampah, terbengong-bengong karena kejadian ini begitu di luar dugaan.
Aku menepuk-nepuk pipi, berusaha menyadarkan diri.
Benar, kan, Uchiha Sasuke? Rambutnya memang begitu, warna kulitnya juga. Ada garis-garis aristrokat di wajahnya. Nyaris tidak berubah semenjak lima tahun yang lalu. Aku mengenalnya dengan cukup baik selama liburanku yang seminggu penuh itu. Walau tidak kelewat cerewet (bagaimanapun juga, dia laki-laki), Sasuke adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan.
Uchiha yang kini tinggal di sebelah apartemenku jelas adalah orang yang sama dengan Uchiha Sasuke. Aku berani mempertaruhkan nilai ujian akhirku akan hal itu.
Hanya saja...
...kenapa sorot matanya berubah?
.
.
.
Ada hal yang tidak aku mengerti.
Ada hal yang masih terlihat bias di mataku.
Masih ada yang harus digali lebih dalam lagi agar aku mengerti.
Hanya saja...
...itu apa?
.
.
K u w a I l i e n d e l e a . . .
.
.
.
Author's Bacot Area
Long time no seeeeee~ *melambaikan pompom dari langit*
Maaf kelamaan yak, maaf juga kalo feel-nya ngambang. Saya kebiasaan gerakin satu orang doang, pffftt. Salahin RP, salahin salahin salahiiiinnn~ #diunyel
Okeh, di chapter ini Sasori ga nongol sama sekali #bletaks dan kebanyakan scene SasuSaku yang masih ngambang-ngambang gimanaaaa gitu. Dinikmatin dulu aja, ya, nanti juga makin jelas arah ceritanya ke mana, hahaha.
Thanks to: Nagi Sa Mikazuki Ananda, Riepiwu425, uniquegals, Vytachi W.F, sourlollipops, amichy, Sukie 'Suu' Foxie, Kira Desuke, Yoruichi Shihouin Kuchiki, Lucy Cavendish, tomatblossom, AcaAzuka Yuri chan, Syalala-chan, rikananami, Tsurugi De Lelouch, Ucucuba, Cha KriMoFe Doujinshi, fa vanadium, zhymoengill, skyesphantom, Grengas-Snap
Buat yang review pake account, silakan cek PM masing-masing karena bakalan saya bales pake PM. Buat yang anon, makasih! Semoga tetep berkenan ngasih komen XD
Btw, saya nyobain bikin cover fic hahaha. aneh ya? :P
Review again?
Me ke aloha,
mysticahime
04022013
edit: makasih Grengas-Snap buat koreksinya :)
edit2: makasih Lucy Cavendish atas ralatnya :)
