Hallo Minna-sannn... ^o^
Ketemu lagi nih sama Shera...
Shera kangen sama review-an kalian lhooo... xO
Kali ini Shera bikin Fic seputar 'kenakalan remaja' nih..
Meski ANBU di anime sebenernya adalah pihak yang baik, tapi kali ini Shera bikin agak sedikit nakal..
Tapi tenang aja... Shera gak bakalan ngerusak reputasi ANBU kok.. (semoga saja)
nah, kalau bergitu coba cicipi *dzig* Fic Shera satu ini yaaa... xD
~Enjoy Reading~
DISCLAIMER CHARA © MASASHI KISHIMOTO
DISCLAIMER STORY © SHERA LIUZAKI
.
.
_PRESENT_
.
"ANBU"
.
.
9 January 2013
.
.
Mission 1 : OSIS Is A God In KHSI
(OSIS Adalah Dewa di KHSI)
.
Enjoy Reading
.
.
Di Konoha, ada sebuah sekolah menengah akhir yang sudah bertahun-tahun menyandang gelar standar International, namanya Konoha High School International (KHSI). Fasilitas dan kemampuan murid-muridnya sungguh 'luar biasa'. Mengapa dikatakan demikian? Karena meski mereka memiliki IQ yang ultra tinggi menjulang ke angkasa. (*plak* gomen lebay) tapi mereka semua memiliki syndrome laziness, alias MALES.
Pertama, mari kita bahas mengenai murid-muridnya. Murid disini rata-rata adalah golongan menengah ke atas. Uang bukan masalah lagi untuk mereka, berapapun mereka sanggup membayar. Dan sayangnya sekolah KHSI ini sudah terlalu 'kaya' untuk menampung uang mereka. Jadi intinya, murid-murid disini tak bisa seenaknya mengandalkan 'uang' mereka untuk mendapatkan nilai.
Kedua adalah gurunya. Guru-guru disini sudah setaraf dengan professor. Lihatlah saja kepala mereka yang sepertiga botak itu, (*plak*) itu merupakan bukti bahwa otak mereka kelewat encer. Dan guru-gurunya juga tak kalah 'tajir' dari para muridnya, jadi kalau kalian sekolah disini lalu mencoba menyogok mereka dengan uang… ck ck ck lebih baik kalian bersiap untuk di DO (Drop Out) aja deh.
Ada satu lagi hal yang perlu digaris bawahi di KHSI ini, yang membuatnya terlihat berbeda dari sekolah lainnya. Yaitu mengenai OSIS. Ada apa dengan OSIS KHSI? Sebenarnya tak ada yang berbeda jauh dengan kebanyakan OSIS di sekolah-sekolah lainnnya, hanya saja KHSI memberikan hak khusus yang hanya bisa dimiliki oleh OSIS saja. Yaitu pembuatan peraturan.
Di KHSI, peraturan dibuat oleh OSIS dan disahkan oleh tanda tangan kepala sekolah. Segala peraturan yang dibuat OSIS, harus dilaksanakan sebagaimana mestinya, jika tidak akan muncul konsekuensi dari ringan sampai berat. Yah, intinya adalah… bahwa OSIS menjadi dominant penting di KHSI ini melebihi kepala sekolah itu sendiri.
Ok, cukup untuk pembahasan awal kita. Selanjutnya mari focus kepada ketua OSIS kita ini. Ketua wanita pertama yang menyandang gelar 'Ketua OSIS' di tahun pertamanya. Sebenarnya untuk menjadi ketua OSIS cukup mudah, kau hanya perlu menjadi peringkat pertama pararel di setiap ujian, 3 kali berturut-turut. Tapi itu juga tak bisa dibilang mudah mengingat IQ mereka yang 'menjulang' itu.
"Hey, kau!"
Inilah dia, ketua kita mulai beraksi. Di setiap pagi pukul 7 kurang 10 menit, itu adalah jam neraka bagi siswa-siswi KHSI. Mengapa? Karena mereka akan menghadapi ketua OSIS mereka yang super tertib itu.
"Kenapa perhiasanmu banyak sekali? Kau ini bukan pedagang emas, kan? Copot itu sekarang!" pekiknya kencang sambil berkacak pinggang di hadapan seorang murid perempuan yang berdandan menor.
"Kau yang disana! Kau juga! Kenapa membawa anjing ke sekolah? Kau pikir ini penampungan hewan liar?! Cepat bawa pulang!"
"Hey kau! Apa-apaan pakaianmu itu? Kemana seragammu?! Aku takkan membiarkanmu masuk kalau kau tak segera berganti pakaian!"
"Sudah kubilang jangan datang dengan helicopter! Kau pikir itu tak berisik?! Mengganggu warga sekitar!"
"Hey!"
Yah, seperti itulah pekikan-pekikan dari ketua OSIS kita, Haruno Sakura. Di tahun pertamanya, ia sudah dapat mengalahkan 500 lebih siswa bahkan kakak-kakak kelasnya. Itulah sebabnya ia menjadi ketua OSIS di periode tahun ini. Dan yang seperti kita lihat pula, bahwa Sakura sangat mengutamakan yang namanya 'kedisiplinan'. Oleh karenanya ia selalu datang tepat pukul 6.50 pagi untuk mengecek kesiswaan.
"Haahh… mereka ini selalu saja melanggar aturan." Sakura mendesah frustasi sambil menggebrak mejanya. "Apa mereka tak tahu kalau kelakuan mereka itu bisa merusak mertabat dari sekolah ini?!"
"Sudahlah, Sakura-chan. Kau sudah berusaha keras." sahut gadis dengan aura yang suram dan rambut hitam panjang yang menutupi setengah dari wajahnya. Sekilas, kita deskripsikan saja dia sebagai 'sadako' (hantu jepang).
"Kau terlalu tegang, Hinata-san. Mukamu jadi seram kalau kau tegang begitu." Sahut lagi seorang pemuda dengan rambut peraknya yang dikuncir kebelakang, Yakushi Kabuto. "Lagipula sebagian dari mereka yang kau celotehi macam-macam sudah berubah kan, Sakura-san?"
Sakura menangguk menanggapinya. Mereka adalah anggota OSIS. Dengan Sakura sebagai ketuanya, Kabuto sebagai wakil sekaligus penasehat, dan Hinata sebagai sekertaris sekaligus bendahara. OSIS hanya terdiri dari mereka saja, dan kini mereka sedang rapat di ruangan OSIS. Dengan fasilitas bak hotel berbintang 15 tentunya, *plak*.
"Tapi tetap saja aku tak bisa mentolerir pelanggaran seperti itu." Sahut Sakura tak mau kalah sambil mengambil posisinya terduduk di kursi. "Pelanggaran tetaplah pelanggaran, betapapun kecilnya hal itu."
"Kau harus sedikit bermurah hati lah, Sakura-san." Kabuto kini terkekeh kecil melihat ketua-nya itu. Bagi Kabuto, Sakura merupakan anak kecil yang berperan seperti pahlawan bertopeng menumpas kejahatan. Hal itu karena Kabuto yang berada di kelas XI, sedangkan Sakura dan Hinata baru menduduki kelas X.
Sakura mendecih pelan sebelum kembali mengucapkan kalimatnya.
"Apa ada laporan baru?"
"Ada beberapa hal yang perlu kita bahas." Hinata segera bangkit dan berjalan menuju loker yang berada tak jauh dari mejanya. Sakura dan Kabuto yang melihatnya terkadang merasa ngeri juga, selain karena aura gelap dan rambut panjang Hinata yang menyeramkan, juga karena langkah Hinata begitu lembut bahkan nyaris tak terdengar.
"Sebenarnya tak ada masalah baru yang muncul, hanya saja aku ingin mengingatkan mengenai masalah yang belum dapat kita selesaikan." Sahut Kabuto sambil mengetik sesuatu pada layar komputernya.
"Masalah yang belum terselesaikan? Masalah 'itu'?" Sakura melipat kedua tangannya di atas meja dan berbalik menatap serius ke arah Kabuto.
"Iya, beberapa waktu yang lalu ada yang mengeluhkan bahwa buku catatannya hilang, padahal di dalamnya ada latihan soal yang diberikan guru untuk menghadapi ujian. Akibatnya ia jadi tak dapat mengerjakan ujian dengan baik dan mendapat peringkat bawah." Kabuto kembali menjelaskan dengan tangannya yang tak berhenti mengotak-atik keyboard di komputernya.
"Apa ada barang bukti atas kejadian itu? Kemana buku itu sekarang?" sahut Sakura serius.
"Beberapa hari setelahnya buku itu kembali kepada pemiliknya. Tapi catatan mengenai latihan soal itu hilang tak berbekas." Kabuto terlihat menunduk dan membuka laci mejanya.
"Kemarin aku juga mendapatkan laporan yang sama dari guru bagian kesiswaan, bila dihitung… selama seminggu ini kejahilan meningkat sekitar 20% dari biasanya." Kini Hinata tengah memegang sebuah buku besar yang berisikan dokumen-dokumen catatannya.
"Oh ya, ketua. Ini merupakan satu-satunya barang bukti yang ditemukan terselip di buku itu." Kabuto bangkit dari tempat duduknya sambil memegang suatu bungkusan. Ia berjalan menuju ke arah Sakura.
"Ini…" Sakura menerima bungkusan yang diberikan Kabuto itu. Ia membukanya, di dalamnya terdapat sebuah kartu yang memiliki lambang konoha bergaris. (Seperti lambang di dahi itachi).
"Tak salah lagi, ini adalah 'death card'." Sahut Kabuto menegaskan.
Sebenarnya, ada satu masalah yang tak dapat diatasi OSIS-OSIS sebelumnya di KHSI ini. Yaitu ada sekelompok anak-anak jahil yang selalu menargetkan siswa-siswa atau bahkan guru yang tak bersalah. Kejahilannya memang tak terlalu berat, hanya sekedar kehilangan buku, kehilangan makanan, corat-coret jahil, yah… sekedar kenakalan remaja lah. Dan di setiap perbuatannya, mereka selalu meninggalkan tanda seperti sekarang ini. Sebuah kartu yang disebut dengan 'death card'.
Tapi tetap saja, tugas OSIS kan menjaga keamanan warga sekolahnya. Jadi memberantas hal seperti ini merupakan kewajiban bagi mereka.
"Kapan mereka akan menghentikan kebodohan ini…? Aku sudah capek mendengar laporan mengenai ulah mereka." Sakura menghela nafasnya panjang. Ia membuka laci mejanya, di sana telah penuh oleh death card yang ditemukannya pada kasus-kasus sebelumnya.
Hinata dan Kabuto saling bertatapan sejenak. Mereka juga capek untuk menangani persoalan seperti ini, karena bagaimanapun mereka juga harus mempertahankan peringkat untuk tetap berada di bangku OSIS.
"Mereka memang trouble maker sejati. Bahkan kita tak mengetahui berapa jumlah anggota mereka dan bagaimana cara mereka bergerak." Sakura terlihat frustasi.
"Mereka bukan 'trouble maker'. Mereka menyebut dirinya dengan nama 'ANBU'." ralat Kabuto. "Entah apa yang mendasari mereka melakukan hal ini, tapi kegiatan mereka ini sudah sangat meresahkan bagi warga sekolah."
Kalau OSIS diumpamakan sebagai Dewa di KHSI, kalau begitu ANBU menjadi iblis-nya. Mungkin itulah perumpamaan yang tepat saat ini.
-ooOoo-
Sakura berkali-kali menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Ia terduduk di depan meja belajarnya. Di hadapannya ada berbagai buku-buku tebal yang sedang dipelajarinya untuk ulangan besok. Tapi rasanya otaknya sangat berat, berhubung ia mendapat tugas lagi dari OSIS.
"Sakura-san, kurasa kita harus menyelidikinya dengan pasti. Pertama mari kita mencaritahu terlebih dahulu markas mereka. Kali ini, kupercayakan kepadamu."
"Aaakh~!" Sakura memekik sambil menjambak rambutnya. Memang apa yang diucapkan Kabuto itu terlihat mudah, tapi pemraktekannya kan sulit.
.Cklek.
Suara pintu kamarnya yang terbuka membuatnya menghentikan kegiatan dan menoleh ke arah pintu masuk itu.
"Kau bisa botak bila melakukan hal seperti itu, Sakura." Sosok wanita dengan rambut merah darah dan kacamata tebal yang menghiasi wajah eloknya tersenyum ke arah Sakura. Ia melangkahkan kakinya mendekati Sakura.
"Karin-nee…" Sakura merengek sambil menenggelamkan kepalanya di pelukan sang kakak. "Sepertinya aku sudah mulai merasa jenuh."
Karin tersenyum sejenak. Ia membelai rambut adik satu-satunya itu. Orang tua mereka terlalu sibuk untuk mengurus Karin serta Sakura, sehingga Karin memutuskan untuk membawa Sakura tinggal bersamanya di apartement. Kini yang Sakura punya hanya kakaknya. Ia hanya bisa mengandalkan kakaknya saja. Seperti Sakura yang menyayangi Karin, Karin pun sangat menjaga Sakura.
"Tugas sebagai Ketua OSIS memang berat, tapi itu adalah tugas yang mulia." Karin melepaskan pelukannya dan menatap wajah adiknya itu. "Kau sudah berusaha selama ini, apa kau mau menyerah saja sampai di sini? Kemana Sakura, adikku yang pantang menyerah itu ya…?"
Sakura tersenyum ramah. Ia memeluk kembali kakaknya itu. Mereka selalu bersama sejak kecil. Dari SD, SMP, mereka bersama. Jarak satu tahun membuat mereka tak begitu banyak memiliki perbedaan pendapat. Tapi ketika memasuki SMA, Karin memutuskan untuk berpisah sekolah dari Sakura. Alasannya adalah untuk memandirikan Sakura. Ia tak ingin Sakura terlalu bergantung padanya, ia ingin Sakura juga memiliki teman selain dirinya di luar sana.
"Neechan sendiri… bagaimana keadaan di sekolah?"
"Baik-baik saja, seperti biasa."
"Uft! Padahal kita sama-sama ketua OSIS, tapi kenapa hanya sekolahku yang memiliki kepribadian menyebalkan seperti ini?! Aku ingin pindah ke Suna saja!" Sakura kembali memekik frustasi. Karin pun hanya terkekeh mendengarnya.
"Sudahlah, neechan sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
"Benarkah? Asyiiiikkk~"
-ooOoo-
Sakura berjalan dengan tergesa-gesa. Nafasnya yang tersengal bahkan dilupakannya. Ia mengedarkan pandangannya ke lantai sekitar yang dilaluinya. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal karena kebingungan mencari. Mencari sesuatu yang sangat berharga baginya.
"Kemana ya… uh~"
Keringat dingin mulai membanjiri pelupuknya. Ia menghela nafas panjang.
"Sakura-san? Ada apa?" seorang gadis bercepol dua menghampiri Sakura. Perlahan Sakura menatap wajah gadis itu. Sebenarnya bukan gadis itu yang tinggi, hanya saja Sakura yang pend—eh, maksudku kecil.
"Ah!" Sakura sontak menunjuk tepat ke arah gadis itu. "Kau! Aku sudah bilang jangan menggunakan perhiasan yang berlebihan ke sekolah! Cukup ala kadarnya saja…!"
Nah, ini dia. Kebiasaan Sakura muncul lagi kalau ia melihat siswa yang tidak tertib. Gadis bercepol itu pun tiba-tiba mengerutkan dahinya dan menggeram ke arah Sakura. Beberapa gadis yang berada di belakangnya pun ikut melakukan hal yang sama.
"Heh! Kami ini ingin membantumu! Kenapa kau sewot sekali! Jangan sok mentang-mentang kau ketua OSIS yah! Kau itu hanya pengganti karena peringkat pertama tak jadi masuk ke sekolah ini!"
.Dheg.
Hati Sakura mencelos seketika. Memang benar, saat penerimaan murid, Sakura mendapat peringkat kedua. Tapi karena anak yang mendapat peringkat pertama tak jadi masuk ke sekolah ini, maka Sakura yang menduduki peringkat pertama. Mungkin dengan kata lain itu disebut 'menggantikan', tapi bagaimanapun Sakura tak suka disebut seperti itu.
"Dasar ketua tak becus! Bikin muak saja!"
Sakura terdiam saat gadis bercepol bersama kedua temannya berjalan melewatinya. Ia mengepalkan tangannya erat. Sorot matanya meredup seketika. Entah mengapa ia seperti mendapat pukulan telak dari kenyataan itu.
"Ukh~ Apa-apaan sih…" Sakura mengusap keringat—yang sebenarnya sedikit tercampur oleh air mata—nya. Sakura pun berlalu menuju ke ruang OSIS-nya.
Sementara itu seseorang tengah memperhatikannya dalam diam sambil mengemut sebuah permen lollipop. Sosok itu sejak tadi berada di atas pohon tepat di depan jendela aula tempat kejadian Sakura dan gadis bercepol itu berselisih.
"Hmmm…"
Sosok itu bergumam. Ekor matanya mengikuti langkah Sakura sampai sosoknya tak terlihat lagi. Ia bergumam pelan sebelum ia meloncat turun dari pohon itu.
"Target telah ditemukan."
-ooOoo-
Hinata dan Kabuto saling bertukar pandangan bingung. Hinata hanya menggelengkan kepalanya dan Kabuto mengangkat bahunya. Mereka kini sedang terkena aura suram dari ketua mereka yang kini terpuruk di mejanya.
"Kenapa dengan Sakura-chan?" Hinata kembali melirik ke arah Kabuto.
"Kudengar 'Clife' menghilang entah kemana pagi ini." sahut Kabuto sambil merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya.
"Clife?" Hinata memandang bingung.
"Itu adalah gantungan kunci teddy bear pemberian kakaknya. Sepertinya itu adalah benda berharga baginya, karna ia selalu membawanya kemana-mana."
"Lalu sekarang menghilang? Kok bisa?"
"Mungkin terjatuh saat berangkat sekolah tadi pagi. Itulah makanya hari ini kita tidak mengadakan ketertiban pagi seperti biasanya."
"Oh… begitu. Pasti berat untuknya ya." Hinata kembali berkutat dengan data-data keuangan OSIS yang ada di hadapannya itu.
"Yeah… Hinata-san, aku keluar sebentar ya." Kabuto segera bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tasnya. "Aku akan mengerjakan tugasku di rumah. Aku juga titip surat izinku ya, tolong berikan pada guru piket setelah ini. Maaf merepotkan. Terima kasih banyak."
Setelahnya Kabuto menaruh sebuah amplop di atas mejanya dan bergegas keluar dari ruangan itu. Sakura yang mendengar pintu yang terbuka lalu tertutup langsung mengangkat kepalanya. Ekspresinya sudah tak karuan sampai-sampai mungkin lebih seram dari Hinata.
"Kabuto mau kemana?"
"Ia tidak mengatakan apapun. Mungkin sebuah keperluan mendesak, ia juga sampai membuat surat izin untuk pelajaran selanjutnya." Hinata mengklik tombol 'enter' di keyboard-nya. Dan setelahnya printer mulai bergerak mencetak angka-angka hasil kerja Hinata.
"Uft!" Sakura bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati meja Hinata. "Hinata, temani aku mencari Clife yuuuuuk~"
"Gomenasai~ Aku harus mengantarkan surat izin Kabuto-san ke guru piket, aku juga harus mengantarkan berkas ini ke guru pengurus. Maaf ya…" sahut Hinata sambil berjalan menuju pintu keluar.
Sakura pun hanya dapat menghela nafasnya panjang dan mengikuti bayangan Hinata. Ia segera mengunci pintu ruang OSIS dan meninggalkannya. Di belakangnya tanpa ia sadari seseorang tengah mengawasinya. Seseorang dengan sebuah lollipop yang sedang diemutnya. Sosok itu tersenyum misterius. Apakah dia kawan atau lawan?
-ooOoo-
"Haaaahhhh~!" Sakura memekik keras. Angin berhembus lebih kencang di atap sekolah. Sampai-sampai rambut panjang Sakura yang tergerai jadi berantakan dan berkali-kali ia harus membetulkannya. Tapi dengan angin ini, keringat yang muncul akibat mencari Clife-nya kesana-kemari menjadi kering.
"Miaw~"
Tiba-tiba terdengar sebuah suara. Sakura pun menoleh. Sudah dapat diketahui kan kalau itu adalah suara kucing? Tapi sebenarnya bukanlah hal itu yang membuat Sakura terpaku menatapnya, melainkan apa yang sedang dibawa oleh kucing itu.
"Clife!" Sakura mengacung ke arah kucing itu. Hal itu membuat sang kucing mengeong kaget dan meloncat.
Namun sayang sekali, keberuntungan sedang tak berpihak pada sang kucing. Dan sepertinya keberuntungan pun tak ingin berpihak pada Sakura. Kucing itu terpeleset hingga linglung, tubuhnya kehilangan kendali dan terjatuh. Begitu pula Clife yang sedang dibawanya.
"Awas!"
Hanya ada satu kesempatan bagi Sakura. Tangannya memang mampu tuk meraih, tapi ia tak bisa meraih keduanya. Salah satu harus menjadi korban dan terjatuh dari atap gedung sekolah yang memiliki 5 lantai itu.
"Ukh~" Sakura segera menaki pagar pembatas dan meloncat. Tangannya meraih kucing kecil itu dan memeluknya erat. Bersamaan dengan itu pula kakinya menendang Clife dan membuatnya sukses mendarat di lantai atap itu pula.
'Sial~ aku akan terjatuh…!' batinnya. Kini ia hanya bisa merasakan angin kencang yang mengiringi tubuhnya yang kian dekat dengan tanah. Sakura memejamkan matanya, bersiap merasakan sakit yang mungkin membuatnya kehilangan nyawa.
Lantai 5
Lantai 4
Lantai 3
Lantai 2
.Dheg.
Sakura menghitung mundur. Matanya tetap terpejam erat. Jantungnya bahkan mungkin berdebar lebih kencang daripada saat ia sedang menaiki roolercoaster di taman bermain.
'Eng…? Lantai 1?'
Sakura mengerutkan dahinya. Bukankah seharusnya ia sudah melandai sempurna di tanah setelah melewati lantai 1? Tapi ini sudah terlalu lama terlewat dari perkiraannya.
'Apa aku sudah mati?'
"Mau sampai kapan kau membebaniku?"
Tiba-tiba sebuah suara membuatnya bertanya-tanya. Iapun membuka perlahan matanya. Dan sesosok pemuda dengan wajah datarnya memandang lekat ke arah Sakura. Sesaat keelokan sang pemuda membuat Sakura sampai mati kutu.
"Malaikat~" sahut Sakura tanpa sadar. Sang pemuda pun seketika membelalakan matanya mendengar penuturan Sakura. Dan Sakura juga sampai melupakan kalau ia sedang berada dalam gendongan sang pemuda.
"Pffft~ Malaikat kau bilang?" pemuda itu mendengus tertawa ringan. Hal itu seakan membuat Sakura kembali ke alam sadarnya. Wajahnya langsung memerah sempurna ketika menyadari dirinya sedang digendong bridal slyle oleh seorang pemuda yang tak dikenalinya.
"Le…lepaskan aku!" pekik Sakura kencang. Pemuda itupun meliriknya dengan genangan air mata di sudut matanya akibat menahan tawa. Pemuda itu tersenyum sesaat sebelum ia—
.Bruk.
—menjatuhkan Sakura.
"Aww~!" Sakura mengelus pantatnya yang terasa ngilu. Pemuda itu dengan seenak kepalanya langsung melepaskan gendongannya, hal itu membuat Sakura terjatuh dengan pantat sebagai penopangnya.
"Kau baik-baik saja?" sahut pemuda itu dengan polosnya. Senyumnya terlihat licik dan membuat Sakura kesal dibuatnya. Sakura pun bangkit dan menghadap pemuda itu.
"Kau! Apa kau tak tahu kalau ini bisa berbahaya? Menjatuhkan seorang gadis seperti itu benar-benar hal yang mematikan…!"
"Mana yang lebih mematikan, jatuh dari ketinggian 1 meter atau jatuh dari atap sekolah?" balas sang pemuda santai. Sakura sekali lagi menggeram kesal.
"Lagipula kenapa kau langsung menjatuhkanku tiba-tiba?!"
"Kau yang menyuruhku 'melepaskan'mu, bukan 'menurunkan'mu… aku salah?"
Sakura terdiam. Semua perkataannya dibantah mentah-mentah. Ini pertama kalinya ia merasa sedemikian kesalnya. Sakura mengepal erat. Giginya berceletukan menandakan kemarahannya. Sang pemuda pun tersenyum penuh kemenangan.
"Bukankah seharusnya kau berterima kasih atas pertolonganku… ketua?"
Sakura mengatur kembali nafasnya yang memburu. Benar juga, ia harus menjaga kewibawaannya. Sakura menegakkan kembali pungungnya dan menatap tajam ke arah pemuda itu.
"Apa yang kau minta dariku?" sahut Sakura tegas. Matanya masih tak berpaling dari sorotan tajamnya.
Sang pemuda tersenyum.
"Ada luka." Sahutnya. Sakura pun segera melirik bagian yang ditunjuk oleh pemuda itu. Sebuah goresan luka ada di paha Sakura. Wajah Sakura kembali memerah. Ia pun segera menutupi lukanya itu.
"Aku bisa mengobatinya di ruanganku. Kau mau ikut?"
"Tidak akan! Aku bisa mengobati lukaku sendiri!"
"Sebaiknya kau bersikap lebih manis lagi di depan penyelamatmu. Dan lagi, yang kumaksud bukan kamu. Tapi dia." Sahut sang pemuda itu santai sambil kembali menunjuk ke bawah.
Sakura mengikuti arah telunjuk pemuda itu, dan sekali lagi Sakura bisa membuat matanya keluar saking terkejutnya. Ternyata yang di maksud adalah kucing kecil yang tadi diselamatkannya. Muka Sakura memerah total. Ia malu sekali ketahuan GeEr di depan pemuda menyebalkan—menurutnya—itu.
"Bagaimana? Bisa kau perlihatkan kemampuan pengobatanmu kepada sang penyelamat ini?" sahut sang pemuda dengan seringainya.
Sementara itu seseorang tengah mengawasi mereka dari jauh. Orang itu menyeringai dan merogoh sakunya. Ia mengetikkan beberapa pesan singkat dan mengirimnya entah kepada siapa. Kemudia sosok itu pun berlalu menghilang begitu saja.
-ooOoo-
Sakura masih berjalan ragu-ragu. Ia kini sedang mengikuti seorang pemuda yang tak dikenalinya. Meski pemuda itu menggunakan seragam yang sama dengannya, tapi ia seperti tak pernah melihat pemuda itu. Dandanan pemuda dengan rambut mencuat seperti pantat ayam itu terkadang membuat Sakura terkekeh bila mengingatnya.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya sang pemuda tanpa mengalihkan pandangannya. Sakura yang hanya dapat menatap punggung lebar pemuda itu kini menghentikan tawanya.
"Pendengaranmu tajam juga." Sindirnya. "Apa kau murid baru? Aku seperti tak pernah melihatmu."
Pemuda itu terdiam dan menghentikan langkahnya. Sakura hampir saja menabrak tubuh pemuda itu. Saat ia melirik ke depan sana, Sakura baru mengetahui kalau ia telah sampai pada sebuah pintu besar dengan corak dedaunan berwarna emas.
"Aku bukan murid baru. Dan namaku bukan 'kau'." Pemuda itu mengambil sebuah kartu—seperti credit card—dari saku celananya. Sakura masih memperhatikan gerak-gerik sang pemuda.
"Namaku… Uchiha Sasuke."
.Srek.
Pintu itu pun terbuka setelah Sasuke—pemuda itu—menggesekan kartunya pada sebuah alat di sebelah pintu itu. Sakura terpaku, ternyata ada juga tekhnologi seperti ini di sekolahnya. Ia sendiri benar-benar baru tahu.
"Selamat datang… ke markas kami."
Sakura melongo kagum. Saat pintu terbuka dan menampilkan isinya, di sana tedapat banyak furniture yang elegan dan modern. Sungguh seperti ruangan presiden Amerika (Liat aja belom pernah *plak* xD). Sakura mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia memang mengakui kalau sekolahnya merupakan sekolah super elite, tapi ia tak pernah melihat ruangan semewah ini sebelumnya.
"Mau kagum sampai kapan?" Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar pada tembok. Sakura pun hanya mendecih menanggapinya.
"Dimana aku bisa mengobati luka kucing ini?"
Sasuke bangkit dari posisinya. Ia bergumam sambil mengitari ke seluruh ruangan itu. Ruangan yang sangat besar dengan beberapa pintu di sana. Sakura yakin pemuda ini pasti bukan orang sembarangan. Ataukah mungkin ia pemilik sekolah ini? Bisa jadi.
"Coba kita liat di ruangan ini…"
Sasuke melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang berada paling pojok kanan di sana. Sakura pun hanya mengikuti langkahnya saja. Namun tiba-tiba saja sebuah suara menggelegar datang dari arah berlawanan dan membuat kaget mereka.
"Jangan dibuka! Disana ada—"
Terlambat. Pintu itu sudah terbuka, dan menampilkan sepasang pemuda-pemudi yang sedang bergumul di atas sebuah ranjang king size-nya. Mereka melakukan olah raga yang sangat 'spektakuler' dan berhasil membuat darah Sakura mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Aaaakkh~ aahh…ahh…ennghh…Sai…ahhh~"
"Ino…enghh…"
"Ahh~Aaaah~aaah~lebih cepat Sai~aaahhh~"
"nnnnhh~"
"Hhhaaaaa~Aaaahhh~aah~ah~aaaaaaahhh~!"
Suara-suara itulah yang kini mencuci otak Sakura. Tubuhnya pun kini limbung jatuh ke pelukan Sasuke yang berada di dekatnya. Sasuke yang melihat kejadian itu hanya bisa mengeha nafas. Dan lelaki yang tadi berteriak memperingatkan mereka kini menutup kembali pintu itu.
Sakura sekali lagi dibopong oleh tangan kekar Sasuke. Ia didudukan perlahan di sofa. Sakura memang tak pingsan, tapi pikirannya sangat berat sekarang. Ia baru pertama melihat hal seperti itu, apa lagi dengan kedua matanya secara 'LIVE'.
"Kau baik-baik saja? Naruto, ambilkan air putih!" perintah Sasuke pada sang pemuda jabrik yang kini bergegas menuju dapur.
"Apa-apaan ini… sebenarnya dimana aku sekarang ini?" Sakura memegangi kepalanya yang berdenyut tak karuan. Kini kucing kecil itu sudah meloncat ke luar dari sela-sela jendela yang sedikit terbuka.
"Ini air putihnya!" Naruto—pemuda jabrik itu datang sambil membawa segelas penuh air putih dan menyerahkannya kepada Sakura. "Kau baik-baik saja? Tumben sekali Sasuke membawa wanita ke markas?"
"Markas?" Sakura meneguk sepertiga air di gelas itu. Ia menatap Sasuke yang kini bersimpuh di depannya. "Markas apa? Kalian anggota club?"
"Aku belum bilang ya…" Sasuke bangkit, ia menatap ke arah Sakura sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Naruto pun bersandar pada sofa di sebelah Sakura.
"Aku ini ketua ANBU."
.Dheg.
Gelas yang dipegang Sakura sampai jatuh ke karpet di bawahanya karena tangan Sakura yang melemas. Pengakuan Sasuke membuat Sakura mendapat kejutan bertubi-tubi hari ini. Dan bahkan kau melupakan Clife-mu kan? (Clife : "Sakura-chan jahat sekali… T.T)
"Apa?!" pekik Sakura kencang.
"Selamat datang di markas ANBU, Sakura-chan…" sapa Naruto sambil memamerkan senyumannya yang mirip hewan rubah itu.
Sementara Sakura sedang syok atas kejadian yang menimpanya, seseorang tersenyum kemenangan dibalik itu semua. Orang itu sekali lagi mengetikkan sesuatu pada ponselnya dan mengirimnya.
Sebenarnya siapakah yang kawan dan lawan?
Yang jelas kini Sakura sedang terperangkap di markas musuh…
Apa yang akan kau lakukan, Sakura? :3
-TBC-
he he...
Humornya gaje ya?
tapi harap maklum saja ya...
Mind to review?
review please...
Keep Trying My best!
~Shera~
