~Balasan Reviews~

Naomi-chan : weeehh... BBF ya... Hmmm... sayangnya ini ada Ino sebagai anggota cwe sih... :D

ChoWulan : waduh...masa sih gak ngerti? rumit yaaa? T.T
Iya deh... tetep lanjut... nanti coba Shera rinci lebih ringkas lagi ya...

Poetri-chan : Iya deh update kilat... :3
Nye he he...

Cherrysakusasu : he he he Arigatou yaa... :)
Update everyday, sebisa mungkin... :D

poetry-fuwa : waduh... Kalo itu yah maaf aja deh... Kalo nyarinya di in going ya akhrinya pasti bersambung lah... :o

Haruno Yuna : Seru dong... wah, siapa yang orang misterius pengemut lollipop ini.. :3
Nanti ketahuan kok di sini...

Yoo-chan : iya nih... mereka akrab banget yaaa... :3
Siapa ya yang nge-stalk Saku... he he he

~Enjoy Reading~


"ANBU"

.

.


Mission 2 : Naughty Guys Called ANBU

(Anak-anak Nakal yang Dipanggil ANBU)


.

Enjoy Reading

.

.

Well, ini dia…

Tokoh utama kita sedang dilanda masalah serius. OSIS yang bersikeras memberantas kenakalan-kenakalan, dan ANBU sebagai musuhnya yang menyebabkan segala kenakalan. Masalah yang selalu sulit dipecahkan OSIS, yaitu mengetahui letak markas ANBU, kini sang Ketua telah masuk dengan alaminya ke markas itu sendiri.

"Tak usah terlalu tegang, Sakura-chan. Kami bukan orang jahat kok." Pemuda berjabrik kuning ini dipanggil Uzumaki Naruto. Dengan tiga garis seperti kumis membuatnya seperti seekor rubah jantan.

"Maaf ya waktu itu kau melihat kegiatan kami sedang… ehem." seorang gadis berambut pirang panjang dengan sebelah mata yang berkedip duduk di sebelah Sakura. Gadis itu menyebut namanya dengan Yamanaka Ino.

"Ino, cukup. Hal itu malah akan membuat Sakura mengingatnya lagi." Sahut seorang lagi pemuda dengan senyuman datar yang membuat Sakura bergidik melihatnya.

"Kau hanya malu-malu kan, Sai~" Ino segera meloncat ke arah pemuda itu dan memeluknya manja dari belakang.

Sakura hanya dapat berpangku tangan tanpa dapat menjawab hal apapun. Ini hari keduanya berada di markas ANBU. Itu karena seorang lagi pemuda dengan emo style-nya mengatakan…

"Hari ini sebaiknya kau pulang dulu, tapi pastikan kau datang besok. Di tempat ini, di jam yang sama. Dan untuk jaga-jaga akan kedatanganmu, biar gantungan teddy bear ini kupegang dulu."

Ucapannya itu terdengar seperti sebuah perintah dari pada ajakan. Ia sendiri kesal mengapa juga ia harus menurutinya, tapi ketika sadar, ia sudah berada di tempat yang sama keesokan harinya. Seperti sekarang ini. Ia terjebak.

"Em… Sasuke kemana?"

Jujur saja, Sakura gugup. Kenapa? Itu karena ia berada di kandang musuh! Bayangkan saja, sekali kita melakukan gerak-gerik yang tak mereka sukai… bisa-bisa Sakura menjadi korban kejahilan mereka seumur hidup. Parahnya lagi Sasuke sedang tak berada di tempat, ia jadi semakin asing di sini. Meski ia akui juga, orang-orang di dalamnya tak terlalu dingin kepadanya.

"Sasuke sedang ada urusan dengan perusahaannya." Sahut Naruto sambil mengambil posisinya terduduk di dekat Sakura. "Aku penasaran, sebenarnya Sakura-chan itu siapanya Sasuke?"

"Ah, iya iya. Aku juga penasaran, akhir-akhir ini Sasuke sering menceritakan bahwa ada seorang gadis yang sedang menarik perhatiannya. Tapi ia tak pernah menyebutkan siapa gadis itu." Ino kini ikut angkat bicara.

"Apakah mungkin Sakura adalah pacar Sasuke?" Sai langsung bertanya ke persoalannya tanpa basa-basi.

.Glek.

Sakura meneguk ludahnya. Sungguh ia ingin sekali keluar dari sini. Ia bersumpah bahwa ia takkan memaafkan si pantat ayam itu karena telah membuatnya terkurung dalam markas ANBU. (Salahnya sendiri masuk ke markas itu kan? *plak*)

"Tapi aku tak pernah melihat Sasuke mebawa seorang wanita ke markas ini lho…" Naruto meraih sebuah permen lollipop dari saku celananya. "Apa lagi yang dibawa itu adalah musuh besar kita sendiri, ketua OSIS. Aku yakin ia pasti mempunyai sebuah rencana besar."

Sakura bergidik berkat penuturan Naruto itu. Mungkin bisa jadi Sasuke memang sengaja menjebaknya, lagipula mereka memang musuh bebuyutan. Siapapun akan melakukan apapun demi menjatuhkan lawan. Melihat Sakura yang sepertinya makin gugup Naruto hanya terkekeh sambil mengemut permen lollipop itu.

"Hoek… rasanya tak enak." Sahut Naruto sambil melepaskan lollipop-nya. Hal ini sontak membuat Sakura, Ino, dan Sai yang berada di sana berbalik menatapnya.

"Bukannya itu lollipop milik Sasuke? Kau berani sekali mengambilnya." Sahut Ino sambil berjalan mengambil tas selempangnya yang berada di dekat Sai.

"Aku hanya ingin mencicipinya saja, ini juga mau aku kembalikan." Naruto segera membungkus kembali lollipop yang sempat dicicipinya itu. Melihatnya, Ino dan Sakura hanya bergidik jijik saja. Sedangkan Sai tak memperdulikannya dan masih asyik dengan layar laptop-nya yang menampilkan banyak gambar-gambar seperti memonitoring.

Ah, benar juga. Sejak tadi yang diperhatikan Sai itu adalah gerak-gerik seluruh penjuru sekolah. Sakura sampai kagum, darimana ia bisa melakukannya. Tapi sekali lagi, mungkin ini bisa jadi bahan referensi untuknya menyerang balik nanti.

.Ckrek.

Suara pintu terbuka membuat perhatian langsung terpusat kepadanya. Kini berjalanlah dengan gagahnya seorang pemuda yang elok wajahnya dan keren gayanya. Sakura hampir saja bangkit dan melonjak mentertibkan gaya rambut urakan pemuda itu—yang menurutnya seperti pantat ayam.

"Sasuke, bagaimana?" Ino memulai pembicaraan. Sasuke segera berjalan mendekati Sakura. Jujur saja entah mengapa Sakura menjadi gugup dipandangnya.

"Minggir." Titah Sasuke kepada Naruto yang duduk di samping Sakura. Dengan sigap Naruto pun segera menyingkir, daripada kena amukan ketua-nya lebih baik berdiri.

Sakura melirik sejenak ke arah Sasuke. Sasuke menghela nafas panjang dan menyilakan kakinya.

"Kita ada misi." Sahutnya tanpa basa-basi.

Hal ini lah yang ditunggu-tunggu mereka. Apa lagi kalau bukan melakukan kejahilan. Ino yang tadinya sedang menyisiri rambutnya, Sai yang berkutat pada laptop-nya, dan Naruto yang ngedumel tak jelas kini berpaling menatap sang ketua.

"Siapa target kita kali ini?" sahut Ino semangat.

"Seorang guru, ia mengajar matematika. Akhir-akhir ini ia sering membawa sebuah buku tebal yang dibacanya secara sembunyi-sembunyi." jelas Sasuke memberikan perincian.

"Ah...! Jangan bilang kalau-" belum sempat Naruto menyelesaikan ucapannya, Sasuke telah menyelanya.

"Kakashi-sensei."

Mata Sakura membulat sempurna mendengar ucapan Sasuke. Itu karena Sakura tahu betul siapa yang dimaksudnya. Kakashi-sensei merupakan guru yang dikaguminya. Guru matematika yang mengajarinya rumus-rumus yang mudah dimengerti. Tidak, Sakura tidak bisa membiarkan hal ini terjadi lagi.

.Brak.

Sakura menggebrak keras meja yang ada di hadapannya. Sakura sangat kesal sekarang. Ia sudah cukup menahan diri dan kini mereka akan menyusun rencananya di depan Sakura? Musuh terbesar mereka, Sang ketua OSIS?

"Cukup! Aku akan melaporkan kalian ke dewan perwakilan!" seru Sakura tegas sambil meraih tasnya dan bergegas pergi. Namun hal itu segera dicegah dengan tangan Sasuke yang menarik lengan mungil Sakura.

"Siapa yang bilang kau boleh pergi?" tutur Sasuke. "Kau tak lupa bahwa 'Clife'-mu masih ada padaku kan?"

"Ukh~" benar juga, Sasuke memegang sandraan untuk Sakura. Sakura pun hanya dapat menggeram kesal. Ia menghempaskan tangan Sasuke dengan kasar. Sungguh, kalau bukan karena gantungan teddy bear-nya itu…

"Aku akan mengembalikannya, tapi setelah kau ikut kami dalam misi kali ini. Bagaimana?" tawar Sasuke sambil merogoh tasnya, ia mengeluarkan sebuah lollipop rasa tomat yang menjadi kesukaannya.

"Bagaimana kalau kau bohong?" jawab Sakura sambil menatap tajam ke arah Sasuke. "Apa yang bisa kujamin darimu?"

Sasuke menyeringai sebelum ia menghisap lollipop-nya dan menatap Sakura dengan tatapan yang tak kalah tajam darinya. Ino, Sai, dan Naruto pun hanya bisa melihat pertempuran mereka saja. Mau bagaimanapun mereka ini tetaplah musuh.

"Aku akan menjaminkan kesenangan kepadamu."

Sakura terdiam sejenak. Jaminan macam apa itu? Tapi melihat adanya keyakinan yang besar dalam sorot mata kelamnya membuat Sakura seakan mau tak mau terperangkap di dalamnya. Tanpa berkomentar ia pun terduduk kembali ke sofa semula. Sasuke tersenyum puas.

"Baiklah, mari kita beraksi."

-ooOoo-

Setiap Sabtu selalu diadakan pengumpulan laporan akhir pekan tugas OSIS. Sakura berjalan perlahan sambil membawa beberapa dokumen di tangannya. Ia membuka pelan pintu ruang guru dan membungkukkan tubuhnya memberi salam sebelum memasuki ruangan itu. Sakura meneruskan langkahnya hingga ia terhenti di depan sebuah sensei bermasker yang sedang membaca sebuah buku.

"Selamat siang, Kakashi-sensei." Sapa Sakura sesopan mungkin. Sensei yang dipanggilnya itu kemudian menghentikan kegiatannya dan bergegas menyembunyikan buku itu.

"Ah…ah… Ha..Haruno-san, ada apa?" Kakashi nampak gugup sambil menyempil-nyempilkan buku yang tadi dibacanya itu. Sakura hanya mengangkat sebelah alis menatapnya.

"Aku ingin menyerahkan laporan minggu ini kepada sensei." Sakura segera menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya itu.

"Oh, terima kasih banyak." Balas Kakashi mencoba mengambil kembali kewibawaannya.

Sakura membungkuk memberi salam sekali lagi dan akhirnya izin untuk pergi meninggalkan ruang itu. Ia sempat melirik ke arah Kakashi dan melihat bahwa ia kembali membuka buku yang sejak tadi disembunyikannya.

"Kau bekerja dengan baik."

Ternyata ANBU telah menunggu di balik pintu ruang guru itu. Sai sedang memangku laptopnya dan mengotak-atik sebuah deretan angka. Sementara Naruto dan Ino mendiskusikan sesuatu. Sakura berdiri di samping Sasuke yang sedang bersandar di tembok.

"Kenapa aku harus ikut turun tangan? Kau ingin menjebakku kan?"

"Kalau kau tahu ini jebakan, kenapa kau tetap melakukannya? Dan lagi, aku jadi semakin yakin kalau Clife adalah kelemahanmu."

Sakura menggeram, ia benar-benar merasa dongkol sekarang karena telah terjebak dalam perangkap musuh. Dan parahnya lagi ia masuk dengan suka rela. Sakura pun hanya dapat menghela nafas. Ya, yang sudah terjadi biarlah terjadi saja.

"Kita sudah siap." Sahut Sai setelah mengklik tombol 'enter' di keyboard-nya.

Sakura tersentak ketika ia merasakan suatu kehangatan di tangannya. Dan ia mendapati bahwa Sasuke tengah menggenggamnya. Sakura menatap bingung ke arah Sasuke, sedangkan Sasuke hanya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai.

"Kau sudah terlanjur terlibat, sebaiknya kau terus terlibat sampai selesai dan lihat aksi kami."

-ooOoo-

Drrrt Drrrt

Ponsel Sasuke bergetar menandakan sebuah telepon masuk, ia pun segera mengangkatnya.

"Sebentar lagi lampu akan padam. Segeralah bersiap." Sahut Sai di seberang sana. Setelah bergumam 'hm', Sasuke pun mematikan ponsel itu. Ia melirik ke arah seorang gadis merah muda yang mendengus kesal di sebelahnya.

"Show time."

Sasuke menarik tangan Sakura masuk ke sebuah balkon apartemen, hampir saja hal itu membuatnya tersungkur jatuh. Sakura masih mengikuti aba-aba Sasuke untuk mengendap-endap. Jantungnya berdebar tak karuan, ia merasa sampai-sampai akan kehilangan detak jantungnya karena takut. Terang saja, mereka kini sedang menyelindap ke apartemen Kakashi, gurunya sendiri.

Target ANBU dan dengan bantuan 'Ketua OSIS', sungguh luar biasa. Apa yang akan dikatakan seluruh sekolah bila mengetahui hal ini? Sakura sungguh tak ingin membayangkannya. Bisa-bisa jantungnya benar-benar berhenti berdetak nanti.

"Hey,…" Sasuke menepuk dahi lebar Sakura perlahan. Sakura hampir saja memekik kencang atas kelakuan Sasuke yang dianggapnya tidak sopan itu. "Kalau sedang berburu kau harus focus, atau mangsamu akan kabur."

"Aku tahu, aku tahu, cepatlah selesaikan."

"Kau penasaran?" Sasuke menyeringai dibalik gelapnya suasana malam itu. Mereka tengah bersembunyi di balik tirai jendela apartemen Kakashi, sedangkan Kakashi sendiri sedang asyik membaca buku yang Sakura tahu adalah buku yang sama seperti saat di ruang guru tadi.

Memang benar Sakura penasaran. Ia penasaran akan apa yang akan terjadi setelahnya, mengapa ANBU mengincar Kakashi, sistem dan trik seperti apa yang digunakan ANBU dalam aksinya. Secara tak sadar, mungkin Sakura mulai tertarik dengan hal menguji nyali seperti ini. Ataukah—

"Kau menikmatinya, bukan?" Sasuke kembali menarik tangan Sakura, namun kini lebih lembut dari yang tadi.

—Mungkin karena ia tertarik pada ketua-nya?

Sasuke mnaruh jari telunjuknya di depan bibir Sakura, ia menyuruhnya untuk tak mengeluarkan suara karena terlihat Kakashi mulai mengantuk dan menutup bukunya. Ia menuju ranjangnya dan melakukan sesuatu yang membuat Sakura melongo dibuatnya.

Yaitu… membuka celana.

"Aa..Hmmp!"

Sasuke dengan sigap segera menutupi mulut Sakura dan tangan satunya menutupi mata Sakura. Sasuke masih mengintai Kakashi yang sedang mengganti pakaiannya menjadi piama.

'Pe…perasaan apa ini?'

Jantung Sakura terasa berdetak sangat kencang, rasanya begitu hangat dalam rengkuhan tangan kekar Sasuke. Aroma maskulin yang tercium membuatnya merasa nyaman. Beberapa saat setelahnya Sasuke melepaskan rengkuhannya, ia kembali menggandeng Sakura.

"Nah, ini dia…" Sasuke membuka perlahan laci meja kerja Kakashi dan mengeluarkan sebuah buku.

"Kita datang dengan segala persiapan yang ada hanya ingin mengambil buku tak jelas seperti ini?" geram Sakura. Hal ini membuat Kakashi sedikit gelisah dalam tidurnya, Sasuke pun hanya menatap Sakura tajam memberi peringatan.

"Justru karena 'tak jelas' maka harus diambil."

"Maksudnya?"

"Sudahlah, sebaiknya kita segera keluar atau kau mau sensei kesayanganmu itu memergokimu di sini?"

"Ukh~"

Selalu saja, selalu saja ucapan Sakura bisa dibantah dengan mudah oleh Sasuke. Cuma dia satu-satunya yang bisa menandinginya. Mungkin benar, Sakura mulai tertarik padanya.

-ooOoo-

Mereka kini sedang berpesta akan keberhasilan misi mereka kali ini. Siapa itu 'mereka'? Siapa lagi kalau bukan anggota ANBU. Tapi ada satu orang yang murung di tengah kegaduhan mereka di sini.

Sakura memandang jenuh kepada sekelompok anak yang sungguh sangat kelewat jahil. Ia kesal sekali menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak bisa melakukan apapun mengenai sikap mereka. Sementara itu Sasuke telah mengambil posisi duduk di sebelahnya.

"Ketua OSIS tak suka minum ya?" sahut Sasuke yang mendapat deathglare dari Sakura. Tingkah Sakura saat ini membuatnya terkekeh. "Hmph~ Kau memang menarik. Kau takut kami akan membocor kan hal ini kepada pihak luar?"

"Apa yang bisa kujamin bahwa ini takkan menyebar?" tantang Sakura. Melihat Sakura yang dengan berani menatapnya langsung, membuat Sasuke tersenyum.

"Kau bisa mempercayai kami." Sahut Sasuke tak kalah mantap. "Oh ya… aku hampir lupa."

Sasuke merogoh saku celananya, ia mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk beruang dan memamerkannya di depan Sakura. Sakura akan berhasil meraihnya kalau saja Sasuke tak menarik kepalanya dan menciumnya.

"Emmm~!"

Mata Sakura membulat sempurna. Ia melihat wajah Sasuke yang begitu dekat dengannya. Ia bisa melihat jauh ke dalam sorotan mata Sasuke. Sasuke yang menciumnya sama sekali tak menutup matanya, ia menatap tajam ke dalam emerald Sakura. Tak lama ciumannya pun terlepas, menyisakan rasa lollipop tomat di lidah Sakura.

"Ucapan terima kasihmu atas pertolonganku, kuterima." Seringai Sasuke sambil mengembalikan Clife kepada Sakura.

"A…apa…" otak Sakura masih berputar mencerna kejadian yang baru saja dialaminya. Mereka berciuman. Ya, berciuman. Ciuman pertama Sakura. Mengingatnya membuat muka Sakura memerah seketika.

"KYAAAAAAAAA!"

.Bletak!.

Dan jeritan itu diiringi oleh suara benda-benda yang berlemparan. (xD *plak*)

Sementara itu sekali lagi seseorang tengah mengawasi mereka dari jauh. Orang itu mengeluarkan ponselnya, dan mengirimkan kembali sebuah pesan singkat beserta sebuah foto. Orang itu menyeringai dan bergegas meninggalkan tempat itu.

-ooOoo-

"Sakura-san, ada berkas yang harus kau tanda tangani." Sahut Kabuto sambil menyodorkan sebuah lembaran-lembaran berkas. Namun sang ketua sama sekali tak merespon, ia menatap lembaran kertas itu dengan wajah yang bersemu. Pikirannya melayang pergi entah ke mana. Atau mungkin entah ke siapa.

Kabuto memandang bingung. Beberapa hari berlalu setelah Clife ditemukan Sakura nampak sering melamun, lalu nanti tersenyum-senyum sendiri. Pekerjaannya sering terlantar begitu saja. Hari ketertiban yang biasanya diadakan setiap hari pukul 7 kurang 10 juga terhenti sementara. Kabuto melirik ke arah Hinata, dan Hinata hanya menjawabnya dengan gelengan kepala saja.

"Sakura-san?" Kabuto mendekatkan wajahnya.

.Buak.

Saat itu pula ia mendapat pukulan telak di wajahnya. Siapa lagi kalau bukan sang ketua yang menyebabkannya. Hinata pun sampai bergidik melihat kejadian yang di depannya itu. Sakura refleks langsung memukul wajah Kabuto ketika ia membayangkan dirinya dan Sasuke berciuman waktu itu.

"Ah…ah.. Ma,maaf Kabuto-san…" sahut Sakura gugup. Ia mendekati tubuh Kabuto yang tersungkur jatuh di lantai. "Hinata bisa tolong ambilkan antiseptic di Pusat Kesehatan Sekolah?"

"Ah, ba…baik." Hinatapun segera bergegas pergi dari ruangan itu meninggalkan Sakura dan Kabuto. Sakura masih menggumamkan kata 'maaf' sedangkan Kabuto hanya mengelus-elus dagunya yang terasa kaku itu.

"Gomenasai~ Kabuto-san…" sahut Sakura dengan nada penyesalan. Kabuto menatap Sakura yang terlihat gugup itu. Tangannya perlahan menyelip di sela-sela rambut panjang Sakura. Sakura pun hanya bisa memandang bingung ke arahnya.

"Apa kau… telah mengalami sesuatu beberapa hari ini?" sahut Kabuto masih dengan mata lurusnya. Tangannya pun membelai lembut rambut merah muda Sakura.

"Eh? Emm… tak ada." Jawab Sakura dengan seutas garis merah tipis di kedua pipinya. Hal ini seakan mempertegas Kabuto bahwa memang benar telah terjadi sesuatu.

"Kalau begitu… apa kau telah mengetahui markas ANBU?"

Pertanyaan Kabuto seakan menguak kenyataan yang disembunyikan dalam hatinya. Ucapan Kabuto seakan seperti bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan yang menuntut pembenaran. Sakura terdiam tak menjawab.

"Sakura-san, kau bisa mengatakannya kepadaku kalau kau memang mengetahuinya."

.Glek.

Sakura menelan ludahnya perlahan. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Ia bisa saja mengatakannya, lagipula ANBU sudah tak memegang kelemahannya lagi. Tapi bila hal itu terjadi mungkin ANBU akan dikeluarkan dari sekolah. Dan mungkin… ia tak bisa lagi bertemu dengan Sasuke.

"Sakura-san? Bukankah kebenaran dan ketertiban harus di tegakkan? Itu adalah tugas seorang Ketua OSIS bukan?" tegas Kabuto. Tangannya masih membelai rambut panjang Sakura, membuat sang empunya merinding.

"Aku…" Sakura menunduk. Ia bimbang atas apa yang harus dilakukannya.

Mendadak rasanya salah bila ia mengungkap markas mereka, meski Sakura mengetahui hal bahwa mereka melakukan tindak kenakalan remaja. Tapi Sakura belum mengetahui sebenarnya apa motif dibalik segala kenakalan mereka, apa yang melatar belakangi mereka melakukan hal itu, dan sebagainya. Sakura masih ingin mencari tahu akan hal itu sebelum menyerahkannya kepada pihak pengurus. Pemikiran seperti inilah, yang membuatnya harus—

"Aku belum mengetahuinya."

—berbohong.

-ooOoo-

Sakura berdiri dengan mantap di depan sebuah pintu besar bercorak daun. Tangannya mengepal mengumpulkan kekuatan. Jantungnya berdetak kencang tak beraturan, membuatnya semakin menggila dalam pikirannya.

"Aku harus mengetahui yang sebenarnya."

Itulah tekad yang telah Sakura buat sebelum memutuskan untuk datang ke tempat ini. Ke markas ANBU, musuh besarnya. Sakura menelan ludah. Ia gugup, tentu saja. Ia datang dengan sendirinya ke tempat berbahaya ini. Padahal baru beberapa hari sebelumnya ia merasa tempat ini bagaikan neraka yang menampung para iblis kenakalan.

"Sedang apa kau?" tiba-tiba seorang gadis pirang datang merangkulnya. "Wah wah, ternyata kau cukup kecil juga ya."

Ucapan gadis itu membuat Sakura sedikit merasa tersinggung. Bagaimana tidak, bagi seorang perempuan dibilang kecil oleh perempuan lainnya maka itu artinya ia 'pendek'. Oh, sungguh… Sakura sangat membenci kata itu. Ia bahkan berharap bisa menghapus kata itu dari seluruh kamus bahasa.

"Kalau mau masuk, masuk saja." Ino—gadis pirang itu—menarik lengan Sakura dan membawanya masuk. Sakura juga baru menyadarinya bahwa setiap akan memasuki ruangan ini, mereka selalu menggesekan kartu pada alat di samping pintu. Dengan begini tak ada yang bisa masuk selain mereka, sungguh pengamanan yang ketat sekali.

"Ohayou~!" sapa Ino sambil melambaikan tangannya kepada para penghuni ruangan itu.

Naruto nampak sedang asyik bermain video game, Sai seperti biasa sedang menghadap laptopnya, dan pandangan Sakura kini tertuju pada… Sasuke, yang sedang mengemut permen lollipopnya.

"Wah, Sakura-chan…!" Naruto refleks membuang stick PS-nya dan meloncat ke arah Sakura. Sakura pun hanya dapat memejamkan mata dan melindungi diri di belakang tubuh Ino.

.Bruk.

Seketika situasi itu terhenti saat Naruto jatuh tersungkur. Dan penyebab dirinya terjatuh itu adalah kaki Sasuke yang menghalangi jalan. Naruto pun hanya mengaduh saat hidungnya terbentur ke lantai.

"Sasuke-teme! Sakiiiiittttt!" Naruto menggeram kepada Sasuke sambil memegangi hidungnya. Sasuke pun dengan cueknya hanya bersenandung sambil membuang muka.

"Na…Naruto…" Sai mengerutkan dahinya melihat Naruto, begitu pula dengan Ino. Sedangkan Sakura hanya membuka matanya lebar.

"Hidungmu berdarah."

"Eh?" Naruto dan Sasuke yang baru menyadari hal itu langsung kaget.

"Huaa! Aku akan mati! Huaa!" Naruto memekik histeris. Sai pun setelah mengucapkan hal itu langsung kembali berkutat pada laptopnya, sedangkan Sasuke kini mengerutkan dahinya merasa bersalah.

"Naruto berlebihan sekali, itu kan hanya mimisan saja." sahut Ino sambil mengangkat kedua bahunya.

"Tapi itu harus segera diobati." Sakura secara gesit langsung membuka tas selempangnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan berlari menuju posisi Naruto.

"Hiks… Sakura-chan?" Naruto yang sudah sangat ketakutan itu kini menatap Sakura yang duduk di sebelahnya.

"Jangan bergerak dulu, Naruto. Aku akan mengobatimu." Sakura segera membuka kotak kecil itu. Di dalamnya ternyata terdapat berbagai alat medis, meski tak terlalu lengkap tapi cukup untuk jaga-jaga kalau sesuatu terjadi. Seperti sekarang ini.

Selain Sakura yang sedang sibuk mengobati Naruto, mereka semua termasuk Naruto itu sendiri sedang mengamati kecekatan Sakura. Mereka kagum akan cara pengobatan Sakura yang hati-hati, tepat, dan lembut. Rasanya Sakura sudah seperti dokter sungguhan saja. Tak lama Sakura selesai mengobati luka Naruto.

"Baiklah, selesai. Kau masih harus hati-hati jangan sampai terluka lagi." Sahut Sakura sambil membereskan kembali peralatannya.

"Sakura-chan~" Naruto membuka kedua tangannya bersiap merangkul tubuh Sakura. Ia terkagum atas kelembutan Sakura. Namun tindakannya terhenti ketika ia merasakan aura pembunuh datang dari balik tubuhnya.

"Aku bisa membuatmu mati rasa seketika kalau kau mau, Na-ru-to."

Sasuke tengah menatap horror ke arah Naruto. Sai dan Ino yang melihatnya pun ikutan merinding dibuatnya. Mengingat tatapan Sasuke adalah jurus andalannya dalam memainkan batin seseorang. Dan Naruto tahu betul apa maksud ucapannya itu. Ia segera menurunkan tangannya dan melepas niatnya untuk memeluk Sakura.

"Jadi, kau mau apa ke sini?" Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Sakura. Sebenarnya Sakura merasa risih juga berbicara hadap-hadapan dengan Sasuke, karena perbedaan tinggi mereka kira-kira mencapai 30cm. Sakura bisa pegal dengan keadaan itu.

"Tak ada yang special. Aku hanya ingin memberikan peringatan kepada kalian, bahwa ANBU terancam akan terkuak." Sahut Sakura sambil kembali memasukkan kotak medis-nya ke dalam tas.

Semua yang ada di sana hanya terdiam. Sasuke menatap Sakura yang masih mengutak-atik isi tasnya, entah apa itu. Naruto pun bangkit dan menatap Sakura.

"Kau akan membeberkan mengenai markas kami?" tanya Sasuke. Sakura pun meremas tali tas-nya.

"Kalian telah melanggar peraturan. Guru dan murid yang tak bersalah pun menjadi korban. Yang kalian lakukan hanyalan omong kosong yang meresahkan." Jelas Sakura. Tangannya terlihat bergetar, ia sudah berusaha mengumpulkan keberanian menantang ANBU terang-terangan.

"Tapi yang kami lakukan itu—" sebelum Naruto sempat menyelesaikan kalimatnya, tangan Sasuke memberi peringatan untuk berhenti. Naruto pun akhirnya terdiam.

Sasuke menatap tajam ke arah Sakura. Meski Sakura menunduk tak menatapnya, tapi ia dapat merasakan aura sesak yang mengarah kepadanya. Sakura pun hanya dapat menarik nafas panjang dan menguatkan tekad-nya.

"Kami tidaklah serendah itu. Semua yang kami lakukan ada alasannya. Dan alasan itu kujamin memiliki arti. Untukmu, untuk sekolah ini, dan untuk kami." Sasuke berjalan mendekati Sakura.

Sasuke meraih helaian rambut Sakura. Sakura pun sedikit merinding dibuatnya, Sasuke dengan lembut membelai helaian rambut itu. Ia mengangkatnya dan menciumnya tepat di hadapan Sakura.

"Tapi aku tak akan memaksamu untuk percaya. Percayailah apa yang ingin kau percayai."

Sakura terdiam, ia merasakan kehangatan menjalari tubuhnya melalui helaian rambutnya. Perlahan Sasuke melepaskan sentuhannya pada rambut Sakura. Saat itulah Sakura merasakan kehampaan. Ia masih menunduk, menatap lantai yang dingin. Atau mungkin sepasang sepatunya dan sepatu Sasuke yang berhadapan. Membuatnya tersenyum ketika menyadari ukuran mereka yang terpaut jauh itu.

Sakura mengangkat kepalanya. Matanya menatap mata Sasuke. Ia mencari celah di sana. Mencari kebohongan akan setiap kata yang keluar dari bibirnya. Tapi ia tak menemukannya. Gelapnya permata onyx yang mendominasi di sana malah membuatnya seakan terjerumus jauh dan tak dapat kembali. Sakura pun menghela nafas panjang sebelum berbicara.

"Baiklah. Aku memutuskan untuk mempercayai kalian." Sakura berbalik arah dan berjalan menjauhi para anggota ANBU itu. Sasuke yang melihatnya pun sebenarnya agak ragu apakah benar Sakura mempercayainya ataukah hanya tipuan saja.

Namun selangkah sebelum ia keluar dari markas musuhnya itu, Sakura terdiam. Pandangan mata para ANBU masih belum lepas darinya. Sakura berbalik dan menatap ke arah mereka semua. Sakura memandanginya satu per satu.

"Aku telah memutuskan untuk percaya, bila seandainya keputusanku ini salah… aku yang akan menanggungnya." Sahutnya kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.

Ino, Sai, dan Naruto bergantian saling berpandangan. Mereka merasa seperti baru saja mendengar suatu quotes yang hebat. Ino sampai menutup mulutnya yang melongo mendengar ucapan Sakura. Sai pun sampai lupa dengan laptop kesayangannya. Dan Naruto juga bahkan lupa berkedip (*plak* xD).

"Dia benar-benar ketua OSIS yang galak itu kan? Rasanya…aku jadi jatuh cinta padanya." Sahut Naruto dan Ino serempak. Sai pun sebenarnya akan mengucapkan hal yang sama, namun ia takut dihabisi oleh Ino nantinya. Sasuke pun hanya kembali mengambil sebungkus permen lollipop rasa tomat dan membukanya.

"Tidak bisa. Dia milikku." Sahutnya sambil mengemut permen itu.

-ooOoo-

Sakura mengusap rambutnya yang basah. Ia terduduk lesu di pinggir ranjangnya. Matanya meredup menatap lantainya yang dingin. Rambut Sakura masih sedikit lembab hingga beberapa tetes air menetes ke lantai dan membuat genangan tersendiri di sana.

Sakura masih berpikir keras. Ia sudah memutuskan hal yang tak masuk akal. Dan sekarang tak ada gunanya menyesali hal itu. Ia harus bisa menerima keputusan yang telah dibuatnya. Meski ia juga sebenarnya takut akan konsekuensi yang mungkin akan diterimanya.

"Haaahhh~" hela Sakura.

"Apakah terjadi sesuatu?" sebuah suara tepat berada di sampingnya. Sakura menoleh, dan di sana sudah terduduk Karin sambil tersenyum ke arahnya. "Kau harus mengeringkan rambutmu sampai benar-benar kering, kalau tidak kau bisa sakit."

"Neechan…" Sakura terlihat lesu. Karin mengelus lembut rambut Sakura, memberikan adiknya ini kenyamanan untuk berbicara.

"Bagaimana kalau seandainya keputusan yang sudah kubuat salah?" sahutnya lesu sambil kembali menundukkan kepalanya. Karin yang melihatnya hanya mengerutkan dahi bingung, tapi ia mengerti kalau adiknya ini sedang bimbang.

"Percayai saja apa yang telah kau percayai. Dan yakinlah bahwa itu adalah benar. Tak peduli itu memang benar sungguhan atau malah salah. Yang jelas jangan sampai kepercayaanmu goyah. Pilih yang menurutmu terbaik. Seandainya kau tersesat di jalan yang salah, cahaya kepercayaan akan menuntunmu untuk kembali."

Sakura terpaku mendengarkan nasehat kakaknya ini. Ia tersenyum manis, sungguh ia bersyukur memiliki kakak yang selalu ada di pihaknya. Selalu mendukung apapun yang dilakukannya. Selalu berada di sampingnya. Sakura segera memeluk erat tubuh kakaknya itu.

"Sakura sayang kakak~" sahut Sakura manja. Karin pun hanya mendengus menanggapinya dan kembali mengusap rambut Sakura.

Sakura tersenyum hangat, ia merasa bisa melalui apapun tantangan yang ada di depannya nanti. Tapi mungkin ia tak sadar, dibalik ini semua seseorang tengah tertawa puas karena rencananya berjalan sesuai dengan apa yang diharapkannya.

-ooOoo-

Sakura berjalan memasuki aula KHSI dengan semangat baru dalam dirinya. Ia bertekad untuk memulai segalanya dengan senyuman. Sakura melirik jam tangannya. Sekarang pukul setengah 7 tepat.

"Yup, aku harus segera bersiap." Sahut Sakura semangat. Ia akan memulai kembali tugasnya sebagai ketua OSIS yang melakukan ketertiban setiap paginya.

Namun tak lama Sakura melangkahkan kakinya melewati gerbang sekolah, seseorang memanggil namanya.

"Sakura-san...!"

Sakura hampir saja berteriak ketika Hinata telah berada di belakangnya dengan aura menyeramkan seperti biasa. Hinata ini sebenarnya adalah gadis yang manis, hanya saja caranya bicara dan berjalan yang perlahan, rambut panjangnya yang menutupi muka, dan langkahnya yang nyaris tak terdengar membuatnya sudah benar-benar menyeramkan.

"Hi…Hinata? Kau mengagetkanku saja. Kenapa?"

"Anu…itu…sebenarnya…"

Sakura masih menunggu kelanjutan kalimat Hinata. Sedikit banyak ia merasakan suatu keganjalan.

"Itu… sebaiknya Sakura-san jangan berangkat ke sekolah dulu saja sementara waktu."

"Eh?" Sakura mengerutkan dahinya bingung atas pernyataan Hinata. "Memangnya kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi di sini, Hinata?"

"Anu… sebenarnya…" Hinata merogoh saku roknya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengutak-atik ponsel itu sejenak dan kemudian menyerahkannya kepada Sakura. "Gambar ini sudah tersebar sejak semalam di blog sekolah."

Sakura membulatkan matanya. Ponsel Hinata menunjukkan sebuah foto dirinya sedang berada di depan pintu markas ANBU. Itu adalah kemarin saat ia berkata bahwa ia mempercayai ANBU. Tangan Sakura bergetar ketika membaca judul foto itu.

'-Ketua OSIS telah berkhianat dan memihak kepada ANBU. Sekarang mereka sedang menyusun rencana untuk menguasai sekolah ini-'

"Apa-apaan ini…" Sakura menutup mulutnya yang terbuka saking tak percayanya. "Siapa yang menyebarkan hal ini?"

Sakura terdiam sesaat. Apa mungkin ANBU yang melakukannya? Tapi kalau memang benar ANBU yang melakukannya, maka ia telah dikhianati. Tapi ia masih belum mempercayainya. Ia teringat perkataan kakanya untuk tetap mempercayai apa yang telah ia pilih. Meski akhirnya ia tahu kalau itu salah?

"Sakura-san, aku tak ingin mengadu domba… tapi…sebenarnya yang menyebarkan foto itu…"

Sakura melirik ke arah Hinata. Ia sepertinya mengetahui siapa yang menyebarkannya. Sakura mencengkram bahu Hinata. Hal ini membuat Hinata sedikit meringis sakit akibat perlakuan Sakura.

"Hinata, katakan siapa! Siapa yang—"

"Aku pelakunya." Seseorang datang dari balik tubuh Sakura. Sakura pun segera menoleh dan mendapati seorang pemuda tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Sakura kembali membulatkan matanya. Ia sungguh tak percaya akan hal yang berada di hadapannya ini. Sakura melepaskan cengkramannya di bahu Hinata dan berbalik menghadap pemuda itu. Pemuda yang berada satu tingkat lebih tinggi darinya.

"Ka…Kabuto-san?"

Kabuto menyeringai melihat ekspresi keterkejutan Sakura itu. Ia melangkahkan kakinya maju mendekati Sakura. Sakura tetap terpaku di tempat masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan Hinata telah berjalan mundur menjauh.

"Aku selalu ingin menghancurkan ANBU…seandainya saja kau tak menyembunyikan keberadaan mereka dariku, maka kau tak akan terlibat."

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya tak ingin mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Bagaimanapun Sakura telah menganggap Kabuto dan Hinata sebagai saudaranya. Tapi ternyata kepercayaannya kali ini salah.

"Tapi sekarang semua telah terlambat. Aku sudah menyebarkannya di website, aku yakin surat pengeluaranmu dari KHSI akan segera tercetak. Sekali tepuk…" Kabuto meraih helaian rambut Sakura dan mengelusnya, seringai kembali terbentuk di sudut bibirnya.

"Dua lalat mati."

.Plak.

Sakura menampar keras tangan Kabuto. Matanya telah terlinangi air mata yang siap menetes. Ia sungguh tak mempercayainya bahwa ada musuh di dalam sekutunya. Ia dikhianati oleh orang yang paling dekat dengannya. Ia baru saja tejun ke dunia yang sesungguhnya. Dunia yang dipenuhi oleh kelicikan.

Dimana yang paling licik lah yang menang.


-TBC-


Nah itu dia chapter 2-nya...
Gimana nih pemirsa atas tanggapannya?

Mind to Review?
Review yaaaa...

keep Trying My Best!

~Shera~