~Balasan Review~

Hiyoshi Hyun : Tujuannya apa ya... Yah sama aja kalo kamu nakal, atau berbuat ulah, alasannya apa?
ya mencari kesenangan aja kan... xD

Kiki RyuEunTeuk : Oke deeeehhh~ :9

Poetri-chan : continyuuuu... :3

Aguma : Arigatougozaimasu~ :)

iya baka-san : salam kenal juga... :D
Arigatou~ iya gapapa... :D
Iya nih, Sasuke udah lama suka duluan sama Sakura.. tapi kalo Sakura nya masih otw... xD

Haruno Yuna : he he... gapapa.. sifat dasar Sasu-kun... xD *dichidori*
Lemon? Ada dooong... nanti deh pokoknya... Cuman gak banyak-banyak amat.. :)

Kiyuchire : he he Arigatou~!eehh... iya yah... mirip... :D *Ga sadar, peace*
wah, nanti kalo di akhir kan suka ga kebaca tuh... kalo dikurung kayak di chap ini gmna? :o

Ika-chaaaann : Kyaaaa... xD *cipikacipiki*
Nye he he mantep dooonggg~~!

cherrysakusasu : yang jelas Sasu gak akan tinggal diem dong...
Ntar juga Kabuto pasti kena tumbalnya. Dikeluarin gak ya... yang pasti seih kena hukum.. :o

karasu-san :ada dooooong... ada lah... di chap berapa ya nanti, tau deh... xD *mesum mode on*
Kara-san jadi bikin fic yang 'itu' tuh? Yang itu lho... xD *plak* he he he

yukarindha yoshikuni : he he... kebiasan Shera buat update tiap hari... :D
Tapi gak bisa kalo pagi-pagi... soalnya jarang sempet kalo pagi... *bangun siang mulu... xD*

CherryGold26 : wah... sankyuuuuu... xO
Silahkan, silahkan... dengan senang hatiii...

Naomi-chan : Maunya sih adain mereka... tapi kayaknya gak terlalu cocok di sini sih.. :o
kabuto emang jahat kan ya? Jadi Shera gak merusak charakter-nya Kabuto kaann? :o
Sayangnya Orochimaru gak muncul nih di Fic kali ini... xO

Bunga Sakura : he he semoga aja terus menarik sampai akhir ya... :)

Yoo-chan : waduh... waduh... sabar atu neng... ntar dy jadi botak.. xD
*ikutan ngebayangin Sasu ngemut lollipop* wew... sexoy cuy... :Q
Iya dong... cinta gitu loh... :9

Tun'z : KYAAAA... MASAK SIH SAMPE SEBEGITU BAGUSNYA?! *ikutan histeris* xD *dihajar readers*
Salam kenal juga niiihhh.. :D
Keep Trying My Best! *Shera's Quote*

Birumenanti : Wah... oke deh.. jadi makin semangat nih... :D


"ANBU"

.

.


Mission 3 : ANBU vs. OSIS

(ANBU melawan OSIS)


.

Enjoy Reading

.

.

Sakura memandangi Clife-nya. Sesekali ia mengelusnya, berharap keajaiban datang dan Clife mau menemaninya yang sendiri ini. Kejadian di sekolah beberapa waktu lalu benar-benar rusuh. Akibat berita palsu dari wakil ketua OSIS yang memfitnah dirinya berkhianat.

"Padahal aku lah yang dikhianati…" sahutnya pada Clife. Kini Sakura sedang menjalani masa skors-nya selama seminggu. Dan lusa genap seminggu.

Sakura menghela nafas panjang. Ia sungguh berharap untuk segera dikeluarkan saja dari KHSI. Mereka tak mempercayainya lagi. Ah, memang sebenarnya dari awal mereka tak pernah percaya. Ia jadi teringat mengenai kejadian dimana ia menabrak seorang gadis bercepol dua di koridor.

"Jangan sok mentang-mentang kau ketua OSIS yah! Kau itu hanya pengganti karena peringkat pertama tak jadi masuk ke sekolah ini!"

Sakura sekali lagi menghela nafas panjang. Seumur-umur dirinya hidup, baru kali ini ia merasakan pengkhianatan. Ternyata rasanya sesakit ini. Padahal ia percaya bisa menjalani kehidupan SMA yang indah dan penuh tantangan. Tapi kali ini mungkin ia benar-benar di hadapkan oleh tantangan besar.

.Tok Tok Tok.

Tiba-tiba Sakura mendengar sesuatu dari jendelanya. Ia pun melangkah hati-hati menuju ke balik jendelanya dan membuka tirai yang menutupi pemandangannya. Namun ketika ia membuka jendela itu untuk mengintip keluar, tiba-tiba sebuah kerikil kecil terbang bebas dan mendarat di dahi lebarnya.

"Aw!" pekiknya kencang sambil memegangi dahinya. Ia pun melirik ke sumber lemparan itu. Dan di sana seorang pemuda yang sedang mengemut permen lollipop berdiri.

Pemuda itu mengerutkan dahinya dan menggumamkan kata 'ups maaf' kepada Sakura. Rona merah menghiasi pipi Sakura seketika, ia tak menyangka ada juga seseorang yang datang mengunjunginya di masa skorsing seperti ini. Pemuda itu melambaikan tangannya menyuruh Sakura untuk keluar.

Sakura pun mengangguk dan kemudian melesat turun ke lantai bawah dan membuka pintu rumahnya. Beruntung kakaknya sedang kerja part time sekarang, jadi ia berada di rumah sendirian.

"Hai." Sapa Sasuke—pemuda itu. Sakura sebenarnya senang dengan kehadirannya, namun tiba-tiba ia merasa sungkan. Sehingga yang keluar dari bibirnya adalah…

"Mau apa kau ke sini?!"

Sasuke terdiam sesaat mendengar keketusan Sakura. Sakura melirik ke arah Sasuke. ia merasa menyesal telah mengatakannya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak ingin dipermainkan lebih jauh oleh pemuda ini kalau mengakui bahwa ia senang Sasuke datang berkunjung.

"Syukurlah sepertinya kau senang aku datang." Sahut Sasuke cuek sambil tersenyum ala Sai (*plak* xP).

.Dheg.

Sakura merasakan desakan dalam hatinya. Entah karena kesal Sasuke yang mengatakan pernyataan seakan ia bisa membaca pikiran Sakura, atau karena kehadiran Sasuke yang membuatnya lupa akan segala masalah yang menimpanya ini. Sakura pun mempersilahkan Sasuke untuk masuk dan duduk di ruang tamunya.

"Markasmu kecil sekali ya… kau tinggal sendiri?" tanya Sasuke sambil melepas jaketnya.

"Ini bukan markas! Namanya rumah! Aku tinggal berdua dengan kakakku. Kau mau minum apa?" tawar Sakura sambil berjalan menuju dapur yang letaknya tak jauh dari sana.

"Tidak perlu, aku sedang mengemut lollipop." Tolak Sasuke, pandangannya masih mengitari sekitar rumah Sakura. "Tapi kalau kau punya tomat, aku mau juga meminumnya."

Sakura mendecih. Sasuke diam-diam berjalan menuju dapur Sakura, di sana ia melihat Sakura sedang mengeluarkan tomat-tomat segar dari dalam kulkas. Sasuke melangkah mendekat, sepertinya Sakura belum manyadari kehadirannya. Buktinya saja ia masih sibuk dengan kegiatannya tanpa berbalik memandang Sasuke.

.Grep.

Sebuah rengkuhan datang melingkar di pinggang Sakura. Membuatnya kaget hingga hampir saja wajah tampan Sasuke menjadi sasaran tinjunya.

"Sasuke?" muka Sakura memerah seketika saat ia menyadari Sasuke memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Sakura.

"Maafkan aku…" gumam Sasuke.

"Maafkan untuk apa?"

"Gara-gara aku, kau menjadi seperti ini. Sungguh, aku tak pernah bermaksud untuk menjebakmu."

Sakura terdiam sesaat. Pelukan Sasuke mengerat, ia menenggelamkan wajahnya di tengkuk Sakura. Sakura menaruh perlahan tomat-tomat yang dipegangnya. Ia menundukkan kepalanya.

"Aku selalu sendirian."

Sasuke terdiam sesaat mendengar ucapan Sakura sebelum ia mengangkat kepalanya dan menyandarkan dagunya di atas kepala Sakura. Sakura pun menggepalkan tangannya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan siapapun, ia tak ingin menangis di depan siapapun. Tapi rasanya Sasuke membuka kunci hatinya hingga perasaannya meluap naik.

"Aku tinggal berpindah-pindah karena pekerjaan orang tuaku. Oleh karenanya aku juga selalu pindah sekolah. Meski teman-teman bilang 'kita terus berhubungan ya… kami tak akan melupakanmu', tapi cepat atau lambat mereka akan terbiasa dengan keadaan dimana aku tak di sana."

Sasuke bisa merasakan tubuh mungil Sakura bergetar hebat. Ia melepaskan pelukannya dan meraih bahu Sakura. Perlahan tubuh Sakura diputar menghadapnya. Ia menyibak rambut panjang Sakura.

"Kakak akhirnya memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua. Dan aku memutuskan untuk memiliki banyak teman di KHSI… hanya saja…" Sakura menggigit bibir bawahnya. Air mata telah membasahi seluruh pipinya.

"Tak ada yang mau berteman denganku."

Sasuke membelai kedua pipi Sakura. Ia mengecup lembut dahi lebar Sakura. Sakura pun masih terisak dalam tangisnya.

"Dan kalian… hiks… sangat hangat kepadaku. Aku…hanya ingin… hiks… berteman dengan kalian. Kumohon… jangan khianati aku…"

Sasuke segera merengkuh tubuh Sakura. Ia bisa merasakannya, merasakan kesedihan gadis merah muda yang sedang dipeluknya. Tubuhnya sangatlah kecil, jauh bila dibandingkan tubuh Sasuke. Tapi ia lebih tegar dari Sasuke.

"Sakura…" Sasuke kembali meraih kedua pipi Sakura. "Aku berjanji kepadamu, bahwa aku akan memberikanmu kebahagiaan. Aku akan melindungimu. Mulai sekarang, kau memiliki kami."

Air mata masih mengalir dari pelupuk mata Sakura, namun perlahan tangisannya terhenti. Ia memejamkan mata, ia ingin percaya sekali lagi. Ia ingin melihat 'kebahagiaan' yang dijanjikan oleh Sasuke kepadanya. Perlahan Sasuke pun mendekatkan wajahnya, ia mengecup lembut bibir basah Sakura.

Sakura tak melawannya, tapi ia juga tak membalasnya. Tangan mungil Sakura meremas lengan baju panjang Sasuke. Ia bukannya tak suka, tapi ia tak tahu harus melakukan apa. Ia sama sekali tak mengerti hal semacam ini.

"Ennnng~?" Sakura merasakan jari Sasuke yang membuka perlahan mulutnya. Sasuke melepaskan ciumannya, kini mulut Sakura diekploitasi oleh jari telunjuk dan jari tengah Sasuke.

"Buka mulutmu… katakan 'Aaa'.." titahnya sambil menatap tajam ke arah Sakura. Permata onyx Sasuke seakan menembus hatinya hingga membuatnya terasa sesak.

"Aaahh~" Sakura pun mengikuti perintah Sasuke. Beberapa saliva menetes dari sudut bibirnya kala kedua jari Sasuke bermain-main dengan lidahnya. Mata Sakura menyipit, ia tak mengerti apa yang Sasuke coba lakukan kepadanya.

"Kau manis~" Sasuke menjilati aliran-aliran saliva yang menetes di rahang Sakura. Jarinya masih sibuk bergulat dengan lidah Sakura. Sakura pun refleks mengangkat kepalanya, memberikan akses bagi Sasuke untuk menjamahnya.

Drrrrt Drrrt DDddrrrrt

Tiba-tiba sebuah deringan mengganggu kegiatan 'hangat' mereka (soalnya belum 'panas' sih… xD *bhum*). Baik Sasuke maupun Sakura segera melirik ke arah ruang tamu. Kalau suaranya dari ruang tamu, maka itu pasti bunyi ponsel Sasuke. Namun sang empunya malah kembali menciumi tengkuk Sakura.

"Engh~ Sasu…emmm.." Sakura akhirnya mencoba melawan Sasuke saat merasa bahwa ponsel Sasuke tak hentinya berdering. Namun hal itu tak dipedulikan oleh Sasuke, jarinya masih menjelajahi rongga mulut Sakura.

Karena lidah Sakura yang sedang dicumbu oleh jari Sasuke, ia jadi tak dapat mengeluarkan suaranya. Berhubung Sasuke juga tengah sibuk memberikan kiss mark pada lehernya. Akhirnya ia pun mendapatkan ide lain.

.Krauk.

"Aaaakh!" pekik Sasuke saat ia merasa kedua jarinya mendapat gigitan paus (emang paus doyan sama manusia?). "Apa yang kau lakukan?! Aaaah, Sakit!"

Sakura melepaskan gigitannya. Ia menatap Sasuke yang refleks melangkah mundur menjauhinya sambil menghisap kedua jarinya bergantian merasakan perih. Sakura mengatur nafasnya yang masih memburu.

"Itu karena kau tak membiarkanku bicara, baka!" sahut Sakura. "Lagipula kenapa kau tak mengangkat teleponmu itu sih! Berisik saja, bisa jadi itu telepon penting kan?"

Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya memandang Sakura. Ia pun akhirnya berjalan menuju ruang tamu dan meraih tas ranselnya. Sakura mengikuti Sasuke dari belakang. Dengan tingginya yang seperti ini ia tak bisa mengetahui siapa yang sedang menelpon Sasuke.

"Ya?" sahut Sasuke. "Kapan? Baiklah. Siapkan saja apa yang harus kita butuhkan. Dan sepertinya…" Sasuke melirik Sakura, Sakura yang merasa dilirik dengan seringai Sasuke pun jadi memiliki firasat buruk.

"Kita akan kedatangan anggota baru."

-ooOoo-

Tak pernah menyangka kau akan bergabung dengan pihak musuh bukan? Sama seperti yang dipikirkan Sakura. Ia sendiri tak habis pikir bagaimana bisa ia memutuskan untuk bergabung dengan ANBU. Tapi ia tak mempunyai pilihan lain, ia harus mengatakan yang sebenarnya. Ia tak boleh terus terlarut dalam scenario yang telah dibuat Kabuto.

"Sudah sampai mana persiapan kita?" tanya Sasuke sambil kembali membuka bungkus permen tomat-nya yang entah sudah keberapa hari ini.

"Sedikit lagi selesai. Aku akan segera mencetaknya. Dan…ada beberapa juga yang kuubah demi keamanan." Terang Sai. Tangannya dengan lincah mengetik sesuatu di laptopnya. Yah, hanya Sai yang tahu apa yang sedang dilakukannya.

"Aku akan menyerang duluan, setelah itu… kau jangan sampai telad lho Naruto." Ino kini sedang merapikan rambut pirang panjangnya.

"Serahkan padaku!" sahut Naruto semangat. "Sakura-chan, kali ini lihat aksiku ya… kau akan kubuat terpesona."

.Bletak.

Sebuah permen lollipop rasa tomat menggampar tepat ke muka Naruto. Sudah dapat dipastikan itu lollipop siapa kan? Ino dan Sai pun hanya bisa mendengus dan kembali meneruskan kegiatan mereka.

"Sasuke -teme! Jorrroooooookkkk~!" pekik keras Naruto sambil menggeram kesal.

Melihat tingkah mereka, membuat Sakura merasa hangat. Perasaan hangat menjalari hatinya. Meski berada di daerah kekuasaan musuh, entah mengapa ia malah merasa nyaman berada di sini.

"Sebenarnya… boleh aku tahu mengapa kalian berbuat ulah?" tanya Sakura ragu-ragu. Sekali lagi pandangan terpusat pada gadis merah muda itu.

"Kami sebenarnya tak bermaksud jahat. Yang kami lakukan sama sepertimu, menegakkan kebenaran." Jawab Sai sebagai pembuka.

"Hanya saja cara kami berbeda. Kami tak suka terang-terangan, kami lebih suka dengan cara sembunyi-sembunyi dan mengejutkan. Karna bagi kami itu menegangkan." Lanjut Ino sambil tersenyum.

"Menegakkan kebenaran?" Sakura menyerutkan dahinya bingung.

"Hmmm…" Naruto mengambil sebuah buku yang berada di laci meja di sebelahnya. "Kau masih ingat buku ini?"

"Ah, itu buku milik Kakashi-sensei…?"

"Yup. Ini adalah 'Icha-icha Paradise'. Kau mau tahu mengapa kami mengamankan buku ini?" Naruto menyerahkan buku itu kepada Sakura.

Sakura pun dengan ragu menerima buku itu. Ia memandangi cover depannya, buku itu terlihat membosankan untuk dibaca. Tapi sepertinya Kakashi-sensei suka sekali membacanya. Perlahan Sakura membuka buku itu. Saat ia telah membaca beberapa halaman awal…

"KYAAAaaaaa~!" Sakura secara refleks langsung melempar buku itu. Dan Sasuke menangkapnya dengan gayanya yang sok cool *dichidori*. "Apa-apaan itu?! Buku macam apa itu! Seharusnya buku itu tidak pantas untuk dibaca! Apalagi dibawa ke sekolah!"

Muka Sakura memerah sempurna, matanya pun terlihat berlinang menahan malu. Sungguh, ekspresinya sangat menggemaskan sekarang. Seperti anak kecil yang baru saja mengompol di tempat umum (ha ha ha *garing*).

"Sekarang kau sudah tahu kan? Kasus-kasus yang terjadi sebelumnya juga sama. Kami hanya mengerjai orang-orang yang patut dikerjai. Target kami tak sembarangan. Meski kalian, para OSIS, tak bisa melihat kelakuan mereka… tapi mata kami bisa menjangkau segalanya." Jelas Naruto yang diakhiri dengan cengiran khasnya.

"Jadi…kalian…"

"Bisa dibilang kami membantu OSIS untuk menghukum anak nakal." Tegas Sasuke sambil berjalan mendekati Sakura. Ia terhenti saat jarak mereka hanya beberapa langkah saja.

"Karna anak nakal, harus dihukum bukan?"

Sakura kembali ber-blushing melihat seringai maut Sasuke. Ia pun membuang mukanya menghindari tatapan Sasuke. Sedangkan Sasuke sendiri hanya terkekeh gemas melihat tingkah Sakura. Sai, Ino, dan Naruto makin yakin sekarang… bahwa ketua mereka sedang puber—ups—maksudnya sedang jatuh cinta.

"Persiapan selesai." Sahut Sai. Tak lama Ino pun selesai memakaikan rambut palsu-nya untuk menyamar, dan Naruto telah selesai memakai tudung jaketnya yang bisa menutupi wajahnya nanti.

"Baiklah aku pergi duluan." Sahut Ino sambil melambaikan tangan dan mengambil tas-nya. Ia pun memberikan kecupan singkat kepada Sai sebelum meninggalkan ruangan itu.

"Sasuke…" Sasuke menoleh ketika merasa Sakura memanggilnya. "Apa mereka pacaran?"

"Ini sudah tahun keempat bagi mereka." Jawab Sasuke. Sakura pun hanya ber'oh' ria saja menanggapinya.

.Syut.

Tiba-tiba sebuah layar besar muncul di hadapan mereka. Sai masih mengotak-atik laptopnya, mencoba mengatur keselarasan antara laptopnya dengan layar besar itu. Naruto dan Sasuke pun mengambil posisi untuk duduk di sofa. Sakura hanya terdiam, namun ia merasa Sasuke menariknya untuk duduk, dan ia pun menurutinya.

Di layar itu terlihat ruangan OSIS. Dengan layar besar yang dibagi enam, menampilkan gambar setiap sudut ruangan OSIS. Sakura mendesah kagum, ia baru melihat tekhnologi seperti ini secara langsung seumur hidup. Sasuke pun tersenyum melihat ekspresi Sakura.

"Jadi karena ini kalian bisa mengetahui gerak-gerik seluruh penjuru sekolah?" Sakura mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke. "Itu melanggar privasi bukan?"

"Tapi berkat ini pula aku bisa mengetahui 3 ukuranmu dari atas ke bawah." Sahut Sasuke. Hal ini membuat muka Sakura kembali memerah pekat. Ia hampir saja melayangkan pukulan mautnya kapada Sasuke kalau saja tangan Sasuke tak menahannya.

"Bercanda… lagipula kalau aku melakukannya, mereka semua juga ikutan lihat." Sasuke melirik Sai dan Naruto yang serius memandangi layar besar di depan mereka. "Dan aku takkan membiarkannya."

"Itu Ino!" suara Naruto kembali membuat Sakura berpaling ke layar besar itu.

Memang benar, di sana terlihat Ino yang sedang masuk ke ruang OSIS. Sakura merasa aneh sejak tadi, seandainya gambar bisa disadap, harusnya suara juga bisa. Tapi layar itu tak mengeluarkan suara. Dan saat Sakura melirik ke arah Sai, ia melihat Sai sedang menggunakan headset. Sakura pun mengangguk-angguk mengerti jawabannya.

"Tunggu! Ruang OSIS kan tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, kenapa Ino bisa masuk dengan mudah?" sela Sakura. "Jangan bilang kalau kalian juga memiliki kunci cadangan OSIS?"

"Tak perlu menggunakan kunci cadangan. Kabuto itu seorang bedebah yang mudah terpikat oleh godaan wanita. Dia juga sering melakukan kecurangan untuk soal-soal ujian dengan menggunakan alasan 'tugas OSIS'. Karna kami pernah memperingatkannya sekali, mungkin sejak itu ia jadi membenci kami." Tanggap Sasuke datar.

"Hemm..? Suka menggoda wanita..." Sakura terdiam sesaat, tapi setelah dipikir-pikir… "Tapi kenapa ia tak terlihat seperti itu di depanku?" tanya Sakura lagi.

"Kau yakin?" Sasuke akhirnya berbalik menatap Sakura lekat. Ia meraih helaian rambut Sakura. Sakura membulatkan mata, ia baru menyadari kalau Kabuto juga pernah mencoba membujuknya dengan mengusap lembut rambut Sakura.

"Ia hanya mencoba menahan diri untuk memanfaatkanmu terlebih dahulu."

Sakura pun kembali menonton layar di depannya itu. Jauh dari lubuk hatinya ia bersyukur tak termakan rayuan Kabuto. Ino terlihat berbincang-bincang dengan Kabuto, dan setelahnya muncul lah Hinata yang membawa banyak sekali berkas-berkas di tangannya.

"Ah, Hinata!" Sakura refleks bangkit dari tempat duduknya. "Sasuke, itu Hinata! Lihat Hinata pasti disuruh bekerja penuh oleh Kabuto, dan Hinata pasti diancam sehingga ia tak bisa menolaknya! Selamatkan Hinata, Sasuke… Selamatkan dia!"

Mendengar rengekan Sakura, Sai dan Naruto hanya bisa saling menggelengkan kepala. Sai sudah tahu hal ini pasti akan terjadi, karena ia sudah bersama Ino sejak lama… jadi ia tahu tipikal-tipikal wanita seperti apa bila yang bersangkutan adalah sahabatnya. Pasti akan sangat berisik. Itulah sebabnya pula ia menggunakan headset sehingga ia bisa meredam rengekan Sakura.

"Sakura…" Sasuke akhirnya angkat bicara saat Sakura mulai menarik-narik tangannya.

"Kalau kau tak berhenti, maka aku yang akan menghentikanmu." Titah Sasuke sambil menjilat jari telunjuk dan jari tengahnya. Hal ini mengingatkan Sakura pada kejadian di rumahnya ketika Sasuke menciumnya dengan penuh gairah. Sakura pun terdiam dengan rona merah menghiasi wajahnya.

"Sepertinya sudah saatnya aku muncul." Naruto tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ia merapikan kembali seragamnya dan bergegas pergi keluar.

Tak lama di layar terlihat Kabuto yang merangkul pundak Ino dengan mesra. Di sebelahnya Hinata terlihat mencoba memanggilnya. Namun saat Kabuto menoleh, yang dilakukannya malah menampar Hinata hingga tubuhnya terjatuh ke lantai. Sakura sekali lagi akan memekik kesal, namun tangannya dicegah oleh Sasuke.

Layarpun menampilkan sosok Ino dan Kabuto yang berjalan keluar dari ruang OSIS, di sana terlihat Hinata yang dengan perlahan membereskan kembali berkas-berkas yang berserakan. Di salah satu layar, terlihat Naruto mulai memasuki ruangan itu. Ia menghampiri Hinata dan membantunya beres-beres.

Awalnya Hinata menghindari Naruto, namun sepertinya Naruto berhasil membujuk Hinata hingga ia mau mendekat. Setelah berkas-berkas itu berhasil dibereskan, Naruto meminta Hinata untuk menunggunya sedangkan dirinya berjalan ke meja Kabuto.

Naruto duduk di meja Kabuto dan mengutak-atik sesuatu di komputernya. Setelah itu ia menarik Hinata untuk keluar. Namun beberapa langkah sebelum ia keluar, Naruto berhenti dan kembali ke meja Kabuto. Ia mengeluarkan selembar kertas dengan lambang Konoha bergaris (seperti lambang di dahi Itachi, ingat kan?)

Setelah Naruto dan Hinata meninggalkan ruangan itu, layar besar itu pun kembali menciut dan masuk ke langit-langit. Sakura menoleh saat merasa seseorang memasuki ruangan itu. Di sana terlihat Hinata dan di sampingnya ada Naruto yang senyum-senyum tak jelas.

Sakura segera bangkit dan berlari menerjang Hinata. Sebenarnya Naruto sempat berpikir kalau Sakura berlari ke arahnya, tapi ia segera menampikan pikiran itu. Sakura dan Hinata saling berpelukan. Mereka sama-sama menangis. Para pria yang lain pun hanya mengangkat bahu atau sekedar mendengus melihatnya.

.Cklek.

Tak lama Ino pun kembali ke ruangan itu. Ia melepaskan wig-nya perlahan dan mengibar-kibaskan tangannya mencari angin. Keringat membanjiri sebagian seragamnya.

"Bagaimana, Ino?" tanya Sasuke.

Ino tak menjawabnya, ia hanya tersenyum dan merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sebuah alat perekam suara dan mem-play-nya.

"Kabuto-kun~" terdengar suara Ino diseberang sana. "Kudengar Ketua OSIS berkhianat dan memihak kepada ANBU, apakah itu benar?"

"Yup, benar sekali. Ketua OSIS memang telah berkhianat, dan ia pantas untuk dikeluarkan dari Konoha High School International ini. Selanjutnya akulah yang akan menjabat menjadi Ketua OSIS." Kini suara seorang lelaki yang dipastikan adalah Kabuto mulai terdengar.

"Wah, benar juga… ketua macam itu sebaiknya dikeluarkan saja! Dia selalu berisik dengan kebenaran, ketertiban, kedisiplinan, sok suci sekali. Aku benar-benar membencinya."

"Kalau begitu kau memang harus berterima kasih kepadaku. Sebenarnya akulah yang membuat Sakura dikeluarkan."

"Hee? Bagaimana caranya?"

"Mudah saja, aku tinggal menyuruhnya mencari markas ANBU, dan ketika telah ketemu… aku akan menunggu kesempatan untuk mengambil fotonya. Cara itu ternyata berjalan sesuai dengan rencanaku."

"Sebenarnya kenapa kau begitu membenci Sakura-san?"

"Aku tak membencinya, hanya saja aku menginginkan jabatannya. Yang aku benci adalah ANBU!"

"Eh? Apa karena ANBU adalah anak nakal yang merepotkan?"

"Ya, itu juga termasuk."

"Waaaaahhh~ Aku memang benar-benar harus berterima kasih kepada Kabuto-kun nih~"

"Iya he he he."

.Klik.

Dan kaset pun berhenti diputar. Sakura dan Hinata menunduk, mereka sungguh tak bisa mempercayai hal ini. Meski mereka belum lama menjabat sebagai anggota OSIS, tapi mereka merasa sudah dekat dengan sesama. Sakura mengangkat kepalanya, ia memandang Hinata.

"Hinata, kau baik-baik saja kan?" tanyanya. Hinata pun membalasnya dengan sebuah anggukan lemah. "Apa yang telah dilakukan Kabuto kepadamu? Kau tak diapa-apakan, kan?"

"Aku baik-baik saja, Sakura… jangan cemas."

"Syukurlah…" Sakura kembali memeluk tubuh Hinata. Namun sebuah tepukan ringan di bahunya membuat Sakura melepaskan pelukannya.

"Biarkan Hinata istirahat terlebih dahulu." Saran Sasuke, Sakura pun mau-tak-mau akhirnya mengangguk setuju. "Ino, kau bisa membawa Hinata ke kamar tamu?"

"Eits… Aku tak bisa. Aku mau mandi, membersihkan diriku yang sudah menggrayangi tubuh pria brengsek itu." Tolak Ino sambil berjalan meninggalkan tempat itu.

"Biar aku saja yang mengantarnya." Naruto mengangkat tangan menyarankan diri. Hinata pun sontak menunduk, Sakura yang melihatnya terus memperhatikan gerak-gerik Hinata.

"Baiklah, bawa ia ke kamar tamu dan bawakan ia makanan ya." titah Sasuke.

Naruto pun segera memapah Hinata dan menuntunnya menuju kamar tamu. Hinata masih menundukkan kepalanya. Sakura pun terdiam memperhatikan sosok Naruto dan Hinata yang kian menjauh.

"Yak, mission complete. Tinggal kita tunggu besok apa yang akan terjadi." Sahut Sai.

-ooOoo-

Sementara Naruto sedang mengambilkan makanan untuk Hinata, Hinata sendiri hanya terduduk diam di pinggir ranjang. Ia bagaimanapun merasa asing dengan tempat ini. Sama seperti perasaan Sakura waktu pertama kali berada di markas ANBU.

Tak lama waktu bersela, terdengar suara pintu terbuka. Naruto kini membawakan sebuah nampan yang dipenuhi oleh segelas susu, sepiring nasi beserta lauknya, dan buah anggur. Naruto berjalan perlahan mendekati Hinata. Hinata merasa semakin gugup. Entah gugup karena Naruto adalah 'mantan' musuhnya, atau gugup karena Naruto adalah orang yang menyelamatkannya. Sebenarnya yang menyelamatkannya bukan hanya Naruto, hanya saja Naruto yang membawanya keluar.

"Maaf lama menunggu." Sahut Naruto sambil meletakkan nampan itu di atas meja.

"I…iya…" Hinata menundukkan kepalanya.

"Kenapa kau gugup begitu? Tenang saja, aku takkan melukaimu."

"Ah…Bu..bukan itu… aku…"

"Hm?" Naruto duduk di bawah ranjang, membuatnya memperhatikan Hinata dari bawah. Dan tentu saja hal ini membuat Hinata makin gugup.

"Aku…aku…"

"Apa rambutmu itu tak terlalu panjang? Setidaknya pada bagian depan, itu menutupi mukamu."

". . . ." Hinata terdiam mendengar penuturan Naruto. Ia masih ingat ketika semua orang menjauhinya dan mengatainya dengan sebutan 'sadako'. Karenanya ia tak ada yang mau berteman dengannya.

"Kenapa? Kalau berbicara dengan orang, kau harus menatap mata orang itu." Naruto dengan lancangnya menyibakkan poni panjang Hinata dan mendekatkan wajahnya.

Hinata tersentak ketika mendapati wajah Naruto sudah sangat dekat dengannya, dan lagi ia bisa melihat dengan jelas akan hal itu. Naruto sendiri pun kaget ketika melihat wajah Hinata, ia tak pernah menyangka bahwa gadis di hadapannya ini sangat cantik. Mereka pun sontak saling menjauh.

"Ah… Ma,maaf… aku tak bermaksud untuk kurang ajar." Tegas Naruto gugup. Rona merah pun tak abainya menghiasi kedua pipi Naruto.

"I…iya ti…dak… apa-apa…" Hinata pun kembali ke posisi duduknya yang terlihat sangat sopan itu. Mukanya pun telah memerah sempurna, hanya saja rambutnya bisa menutupinya.

Naruto termenung sejenak. Ekor matanya melirik ke arah Hinata yang tertunduk. Ia menggaruk pipinya yang tak gatal, ia seperti memikirkan sesuatu. Atau mungkin ada sesuatu yang ingin dikatakannya, hanya saja ia tak tahu harus mengatakannya seperti apa.

"Anu.. itu…" Hinata akhirnya yang memulai pembicaraan. Tangannya meremas ujung rok sekolahnya. "Apa yang…Na…Naruto-kun pikirkan saat melihat wajahku?"

"Eh?" Naruto menarik sebelah alisnya. "Apa yang aku pikirkan? Apa maksudnya? Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Ti…tidak apa-apa…"

"Hmm… Apa yang aku pikir kan ya… Aku berpikir kalau kau cantik juga."

"Hee?"

"Kenapa kau tak memotong poni-mu? Karena poni itu pandanganmu terhalang kan? Dan kau jadi tak bisa menatap mata orang yang sedang kau ajak bicara."

"Aku…aku… tak bisa melakukannya."

"Kenapa?"

"Karna…karna aku takut… Aku takut menatap mata orang lain. Aku… tak ingin membuat mereka ketakutan."

"Ketakutan? Siapa yang takut? Kenapa mereka harus takut kepadamu? Aku tak mengerti, tapi dimataku kau itu cantik sekali."

.Dheg.

Jantung Hinata tiba-tiba berdetak kencang. Rasanya ia hampir saja meledak karena saking kencangnya. Hinata kembali meremas ujung rok-nya. Wajahnya yang tertunduk ia angkat perlahan. Dengan ragu ia mencoba untuk menatap mata Naruto.

"Nah… begitu baru benar." Sahut Naruto sambil memamerkan senyuman rubahnya. Hinata kembali tersipu dibuatnya.

"Na…Naruto-kun…" Naruto menoleh ketika Hinata mencoba memanggilnya. "Bo…bolehkan aku meminta tolong kepadamu?"

-ooOoo-

Matahari bersinar dengan teriknya. Memberikan sensasi panas pada kulit yang menyengat. Berkali menyerka keringat pun percuma, yang ada hanya akan menambah kegiatanmu saja. Cuaca seperti ini sungguh sangat menyebalkan tentunya untuk seorang siswa yang sedang menjalani sebuah sidang.

"Yakushi Kabuto…" seorang wanita paruh baya dengan rambut pirang yang dikuncir dua kebelakang menatap Kabuto dengan tatapan horror.

"Saya… bisa menjelaskan hal ini." Kabuto mencoba maju selangkah.

.Brak.

Meja kepala sekolah itu digebrak dengan kasarnya oleh wanita itu. Ia begitu geram menatap Kabuto sambil meremas beberapa lembar kertas di genggamannya. Sementara itu tak jauh di sebelah Kabuto ada seorang gadis berambut merah muda yang sedang senyum-senyum.

"Semua sudah 'terlalu jelas' untuk dijelaskan kembali!" pekik kepala sekolah wanita itu penuh emosi. "Aku benar-benar tak bisa mempercayai kalau kau pelaku semua ini. Kau dalang di balik kerusuhan ini! Astaga… mengapa aku bisa sampai mempercayaimu?!"

"Tapi Tsunade-sama—"

"Cukup! Kau kukeluarkan! Mulai sekarang kau bukan lagi anggota dari KHSI. Silahkan anda kemasi barang-barang anda." Sahut Tsunade penuh penekanan.

"Tsunade-sama… aku sungguh bisa menjelaskannya." Rengek Kabuto.

"Keluar!"

Dengan berat hati Kabuto pun keluar dari ruangan itu, namun sebelum keluar ia sempat melirik ke arah Sakura dan membisikkan sesuatu kepadanya.

"Kau tak akan bisa hidup tenang setelah ini."

Sakura melirik Kabuto sesaat. Memang benar, ia sendiri pun merasa bahwa ia harus melewati jalanan bebatu dalam hidupnya. Tapi bagaimanapun ia akan terus melangkah maju. Karna ada banyak orang yang berlari bersamanya. Kalau suatu saat nanti ia terjatuh, akan hadir uluran tangan yang diberikan kepadanya.

"Sakura-san, aku sungguh minta maaf kepadamu." Tsunade nampak frustasi. Ia memijat-mijat keningnya yang tak kalah lebar dari milik Sakura.

"Tidak apa-apa, Tsunade-sama." Sahut Sakura sambil tersenyum.

Rencana ANBU ternyata memang sukses besar. Mereka berhasil menyingkirkan Kabuto dengan mudah. Itu semua karena Kabuto sendiri telah melakukan banyak pelanggaran peraturan di sekolah, jadi mereka hnaya mengumpulkan bukti nyata mengenai kegiatannya saja dan menyebarkannya di website. Kalau Kabuto memanfaatkan website untuk menjatuhkan Sakura, maka mereka tinggal menggunakan cara yang sama untuk menjatuhkannya.

"Tapi Sakura-san, kami tak bisa langsung mengangkatmu sebagai Ketua OSIS lagi setelah ini."

"Apa? Tapi kenapa?"

"Karena terjadinya berita palsu yang disebarkan Kabuto, maka imej OSIS sedang dipandang buruk. Jika hal ini diteruskan, maka akan menibulkan pemberontakan."

"Oh… begitu… Saya mengerti."

"Tapi mungkin ada cara lain untuk mengatasinya." Tsunade mengeluarkan sebuah lembaran print out dan menyerahkannya kepada Sakura. "Itu adalah jadwal ujian minggu depan. Kita akan kembali ke peraturan awal, siapa yang bisa mendapatkan peringkat pertama di setiap ujian, maka ia akan mendapatkan gelar ketua OSIS."

"Baiklah. Saya akan berusaha. Terima kasih banyak." Sakura menundukkan kepalanya memberikan hormat. Kemudian ia pun pergi meninggalkan ruangan itu.

Sakura berjalan dengan riangnya. Hingga tanpa sadar ia menabrak seorang gadis bercepol dua. Gadis itu sampai jatuh terduduk, dan Sakura pun terpental.

"Aw, sakit! Kalau jalan liat-liat hey!" ketus gadis bercepol itu. Sakura menatap gadis itu. Mereka pernah bertemu sebelumnya. Ya, ia adalah gadis yang waktu itu memiliki konflik dengannya (masalah perhiasan, di chap 1 muncul sekilas.).

Sakura bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati gadis itu. Tangan mungilnya terulur.

"Maafkan aku… kau baik-baik saja?" sahutnya sambil tersenyum.

Gadis itu pun mendecih. Ia mencoba bangkit sendiri, namun rasanya kakinya sakit. Ternyata ada luka lecet di bagian betisnya. Gadis itu meringis kesakitan. Sakura pun tak tinggal diam. Ia menyobek lengan bajunya. Hal ini membuat sang gadis melongo. Siapa juga yang mau menyobek kain baju seragam sekolahnya hanya untuk luka yang tak bisa dibilang berbahaya itu.

"Jangan bergerak dulu ya… aku akan membalut lukamu." Sakura dengan lembut mulai membaluti luka gadis itu. Sang gadis pun terdiam menurutinya. Untung saja di sana sedang sepi, jadi ia tak perlu merasa malu.

Tak lama Sakura pun selesai membalut luka gadis itu. Sakura membantu sang gadis untuk berdiri.

"Aku tak akan berterima kasih." sahut gadis itu sambil membuang mukanya, namun seutas garis merah menghiasi pipinya. Sakura tersenyum melihat hal itu. Ia pun membersihkan debu yang menempel pada seragamnya.

"Boleh kutahu namamu?" tanya Sakura ramah. Sebenarnya ia ingin menambah teman. Sakura ingin memiliki banyak teman dan banyak kenangan di sekolah ini.

"Memangnya harus? Tapi kalau kau memaksa… baiklah. Namaku Tenten." Jawabnya ketus, masih dengan rona merah yang belum hilang. Tenten melirik ke bawah kakinya, ia menemukan selebaran jadwal untuk ujian minggu depan.

"Ah, maaf… itu terjatuh." Sakura segera meraih selembaran itu.

"Kudengar ujian minggu depan akan menentukan Ketua OSIS selanjutnya ya?" tanya Tenten yang dibalas dengan anggukan Sakura.

"Yup. Aku akan berusaha untuk mengambil kembali posisi Ketua OSIS." Sahut Semangat. "Lagipula tanpa aku, akan jadi seperti apa ketertiban di sekolah ini?!"

Tenten mengerutkan dahinya. Sungguh tingkah Sakura seperti murid SD saja di matanya. Murid SD yang bodoh dan selalu mengumbar-umbar mimpinya.

Tapi untuk menjadi orang yang bisa meraih mimpinya, kau harus menjadi bodoh. Karna orang bodoh tak akan memperdulikan seberapa tingginya tembok yang menghalangi mereka. Yang ada, mereka akan terus maju.

"Yah, baiklah. Selamat berusaha ya…" Tenten berlalu setelah sebuah tepukan ia berikan di bahu mungil Sakura.

Sakura menolehkan mukanya memandang sosok Tenten yang kian menjauh. Ia tersenyum. Perasaan hangat memenuhi hati Sakura. Ia merasa Tenten memberikannya semangat atau dukungan. Air mata hampir saja menetes dari pelupuknya.

"Yosh! Aku pasti akan menjadi Ketua OSIS lagi!"

Di saat Sakura tengah menyerukan semangatnya, seseorang sekali lagi sedang memperhatikannya. Saat satu musuh telah ditumbangkan, maka akan muncul lagi musuh lain yang lebih kuat dari sebelumnya. Tapi, selama ada yang mendukungmu… semua akan baik-baik saja. Percayalah.

-ooOoo-

Hari ini adalah finalnya. Penentuan mengenai siapa yang akan menjadi ketua OSIS selanjutnya. Beberapa kandidat yang mungkin akan menjabat menjadi Ketua OSIS telah bersiap di aula utama.

Sakura menggenggam erat kedua tangan nya. Di sampingnya ada Hinata yang mengelus pundak Sakura memberi ketenangan. Sekarang poni Hinata sudah tak sepanjang dulu, wajah eloknya bisa terlihat dengan jelas. Tentu saja ini semua berkat bantuan Naruto. Sakura memejamkan matanya saat MC mulai membacakan anggota OSIS yang terpilih.

"Akan ada perubahan jumlah anggota pada OSIS tahun ini. Yang terpilih menjadi Sekertaris adalah… Hyuuga Hinata."

Sakura langsung memeluk tubuh Hinata yang berada di sampingnya. Mereka berteriak-teriak senang—atau mungkin tepatnya hanya Sakura yang berteriak. Hinata pun bangkit dari kursi dan menuju panggung aula.

"Lalu yang menjadi Bendahara Utama adalah… Eh? Kau tak punya nama panjang, marga, atau apapun?" kata-kata MC itu membuat para murid terkekeh geli. "Oh, baiklah, baiklah. Yang menjadi bendahara adalah Sai."

Tepuk tangan meriah kembali mendominasi di sana. Sakura semakin was-was kerena sebentar lagi penentuan Ketua OSIS yang akan dipilih. Ia kembali memejamkan mata sambil menggenggam Clife erat.

"Yang menjadi wakil Ketua OSIS…" MC mencoba menggantung kalimatnya memberikan ketegangan.

"Tak lain dan tak bukan adalah Haruno Sakura!"

.Toeng.

Clife pun terjun bebas ke lantai karena genggaman Sakura yang mengendur. Matanya kembali membulat. Tepuk tangan meriah tak membuatnya bisa mengedipkan mata. Ia masih memutar otak mencerna apa yang baru saja di dengarnya.

"Apa?! Tunggu! Kalau begitu, siapa yang menjadi ketua OSIS?!" pekik Sakura sambil bangkit dari kursinya.

"Benar saja… tanpa diduga sebelumnya, bahwa yang menjadi peringkat pertama sekaligus yang menjadi Ketua OSIS kali ini adalah…"

Sakura memincingkan matanya. Ia mengira-ngira siapa yang sudah merebut posisinya itu. Ia pasti akan segera merebutnya kembali, yang jelas ia harus tahu dulu siapa pelakunya.

"Uchiha Sasuke!"

.Toeng.

Sekali lagi Sakura hampir saja tersungkur jatuh ke lantai jika saja ia tak bertumpu pada kursi.

"A…apa?"

Sakura melirik ke arah panggung di depannya. Di sana sudah terdapat Sasuke yang menyeringai puas melihat ke arah Sakura. Sakura menggeram kesal. Bagaimana bisa ia dikalahkan oleh 'mantan' musuhnya yang kini sudah berbalik menjadi sekutu…?

"Ketua ANBU sekaligus menjadi Ketua OSIS?! JANGAN BERCANDAAAAAA!"

Sabar Sakura…Sabar… Sepertinya kau harus menghadapi Ketua OSIS yang merepotkan ini dulu sampai kau bisa merebut kembali posisi Ketua OSIS itu darinya… :3


-TBC-


Nah... gimana nih kejutan di Chap 3?
Oh ya, kemaren kayaknya ada yang tanya bakal abis di chap berapa... gtu kan?
Hmmm... kalo dikira-kira sih ceritanya gak bakal panjang-panjang banget..
Kayaknya kalo dipikir... nyampe chap 9 deh.. kalo bisa sih lebih panjang lagi.. xD

Oh ya... Kalian udah liat trailer-nya "Naruto The Movie : Road To Ninja" belommm?!
KYAAAA...! Sasuke kembali lhooo... keren banget sumpah!
Dari tailer-nya ajah udah bagus... gimana kalo film-nyaaa...

Ga sabar deh nunggu... xO

Ok, ok.. back to Fiction.
Mind to Review, guys?
Review please...

keep Trying My Best!

~Shera~