~Balasan Reviews~
Ezura Minos : waduh? Masa see? Arigatou banget yaaa... :D
BB? Aduh nggad ada tuh... Gomenasai~ xO
gimana dong? cara lain ada gaa?
Ika-chan : masa sih nggak bisa? Mungkin sinyalnya kali ya yg lagi error... :o
Ck ck ck... Poor, Ika-chan~
Hikari-chan : Siapa haio...? masih jauh nih buat tahu siapa itu... :3
Hatsune Cherry : Silahkaaannnn... dengan sennag hati... :D
Uchiha : he he... okay deh... :3
Sami-chan : woookey~ :9
Nanaki Kizaki : Ouh... iya, iya aku tahu komik ituuuu... yg karakternya kayak Ichigo (Bleach)... xO
Wah, iya juga yah... (lagi-lagi kagak sadar...)
Yuna H Gorjesspazzer : iya dong... pastinya di DO... xO !
Ya jangan sampe orang-orang tahu kalo Sasu juga ketua ANBU,.. :3
Iya nih... gak sabar pengen buruan liat... kayaknya seru banget tuh... :o
Sasusaku Kira : Ehh...? Masa iya? Wah... airgatou~ xO
Naomi-chan : jadinya yang pasti super mesum... wk wkw kw... xD
Haruno Michiko : Siapa haioo... kasih tau gak yaaa... xD
Iya sengaja dibikin dikit, soalnya OSIS bakal gabung sama ANBU sih... nanti kalo kebanyakan takut ribet... :9
Lemon? Ada doooonggg~ tunggu aja yaaa...
Poetri-chan : Kalo Shikamaru sama Neji sih gak janji bakal muncul...
tapi kalo Gaara,... Ada kooo... :9
Yukarindha : Updatenya gak teratur kapan jam nya sih... yang jelas tiap hari deeeehhh (diusahain), he he he.. :D
SugarlessGum99 : Saia juga jatuh cnta sama anda.. XD *plak*
He he biar gak pada lupa sama ceritanya sih... Jadi udate-nya teratur.
Awalnya emang mau gitu sih, tapi tiba-tiba muncul ide baru.. jadi di sambung aja sekalian... he he he
Iya... buruan liat trailernya... keren beudh lhooo.. :o
"ANBU"
.
.
Mission 4 : ANBU Is A Part Of KHSI
(ANBU adalah bagian dari KHSI)
.
Enjoy Reading
.
.
Matahari sangat silau oleh sinarnya. Membuat mata menyipit kala melihatnya. Sungguh hari yang cerah. Hari yang indah. Ya, hari yang damai.
.BRAK!.
Atau mungkin tidak.
"Sasuke!" Sakura menggeram kencang sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Sudah kubilang bukan, jam 7 kurang 10 tepat! 7 kurang 10 tepat!"
Sasuke menatap datar ke arah Sakura sambil mengemut permen lollipopnya. Sakura yang dipandang begitu jadi merasa semakin kesal. Yah, inilah keseharian OSIS. Pertarungan harian antara Ketua dan Wakilnya. Ternyata mereka belum bisa disebut 'mantan' musuh, karena sampai sekarang sepertinya mereka masih musuhan.
"Sakura…" Sasuke melepas permennya dan menatap Sakura lekat.
"Apa?!"
.Haup.
Sasuke memasukkan permen lollipop yang sudah diemutnya ke mulut Sakura yang terbuka. Sakura masih men -loading beberapa saat. Sasuke yang melihat wajah Sakura yang melongo itu hampir saja tertawa terbahak-bahak kalau saja ia tak mencoba menahan diri menjaga imej-nya.
"Aku tahu, aku tahu. Besok aku akan bangun lebih pagi sehingga kita bisa melaksanakan ketertiban pagi seperti biasanya. Ok?" Sasuke tersenyum ke arah Sakura.
"Lalu… Bagaimana lollipop itu? Enak ya?" sindir Sasuke.
.Blush.
Muka Sakura memerah seketika. Pikirannya telah kembali ke asal. Memikirkan kalau mereka telah melakukan ciuman tak langsung. Sakura terdiam seketika. Kepalanya sampai mengeluarkan asap saking mendidihnya (emang bisa tuh?)
"Sasuke, berhentilah mengerjai Sakura." Ino menepuk pundak Sasuke. Meski Ino akui juga sebenarnya menyenangkan menggoda Sakura. Ia masih terlalu 'lurus' sehingga jika dibelokkan sedikit ia akan terpengaruh dan sedikit oleng. Yah, itulah apa yang dipikirkan Ino.
Sekarang ANBU dan OSIS sudah resmi bergabung. Jadi jangan heran kalau di ruangan OSIS ada Ino dan Naruto juga. Tapi keanggotaan dan markas ANBU masih dirahasiakan, dan hanya OSIS yang mengetahuinya. Sekarang mereka memulai suatu program kerja sama. Yaitu dengan OSIS sebagai organisasi pusat, dan ANBU sebagai pihak penghukum.
Ya, kenapa juga mereka tak melakukan kerja sama ini sejak dulu saja. OSIS yang akan mengatur sekolah, dan bila seseorang melakukan pelanggaran maka ANBU yang akan bertindak. Bukankah itu juga bisa saling menguntungkan masing-masing…? Di samping ANBU juga bisa tetap meneruskan kejahilan mereka, tapi ke sasaran yang lebih tepat.
"A..anu… Sasuke-san…" Hinata melangkah maju mendekat ke meja Sasuke. Sasuke pun menoleh dan menatapnya. "Ada berkas yang perlu Ketua baca dan pertimbangkan."
"Berkas?" Sasuke menerima sebuah dokumen yang diserahkan Hinata kepadanya. Sakura pun dengan refleks langsung mengambil dokumen itu dari tangan Sasuke.
"Festival Olahraga?" Sakura membaca selebaran brosur yang berada di dalamnya. "Menarik sekali. Benar juga ya, sebentar lagi saatnya kita melakukan festival olah raga rutin tahunan."
"Festival olah raga? Sepertinya melelahkan." Sahut Sasuke. Ia kembali merogoh saku celananya dan mengambil sebuah lollipop baru.
"Aku setuju." Tanggap Sai. Masih dengan laptop kesayangannya yang berada di atas pangkuannya.
"Tapi itu lumayan untuk membakar kalori." Ino sepertinya sedikit tertarik dengan hal ini. "Hanya saja aku tak ingin kulitku nanti gosong karena terlalu sering terkena sinar matahari. Bagaimana kalau tahun ini kita adakan indoor saja?"
"Festival olah raga? Apakah akan ada perlombaan berenang juga? Akan sangat menyenangkan melihat bikini-bikini berkeliaran." Tanggap Naruto dengan cengiran rubahnya.
"Aku setuju." Tanggap Sai sekali lagi. Dan ia akan menyesalinya kemudian karena kini Ino tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Baiklah sudah kuputuskan! Kita akan mempersiapkan Festival Olah Raga!" sahut Sakura semangat. Yang lainnya pun hanya ikut tersnyum menanggapinya.
-ooOoo-
Sakura sedang membereskan berkas-berkas di meja Sasuke. Jam telah menunjukkan waktu pulang sekolah, maka sekolah kini menjadi sepi. Dan berhubung tak ada yang boleh memasuki ruang OSIS seenaknya, maka Sakura terpaksa turun tangan untuk membereskan meja Sasuke. Sasuke ternyata bukanlah orang yang rapi, ia suka membuang sampah permen lollipopnya sembarangan.
"Dasar ketua pemalas." Sakura terus menggerutu. Pandangannya tercuri oleh sebuah batang permen lollipop yang sudah habis dimakan. Sakura teringat akan kejadian pagi ini dimana Sasuke menyuapinya lollipop yang telah diemutnya.
.Blush.
Muka Sakura memerah seketika. Meski itu hanyalah ciuman tak langsung, ia sendiri tak mengerti. Mengapa setiap memikirkan pemuda itu, jantungnya terasa sesak. Ia seperti kesulitan bernafas.
"Apa yang kau lakukan?"
Sakura menoleh ketika ia mendengar suara seseorang. Dan benar saja, orang yang baru saja kita bahas sedang menyilakan tangannya di depan dada sambil bersandar pada tembok. Benar-benar gaya favorite-nya.
"Sasuke? Kau belum pulang?" Sakura menundukkan kepalanya. Ia kembali berkutik dengan meja Sasuke dan membereskannya. Entah mengapa Sakura merasa gugup untuk menatap mata Sasuke secara langsung.
"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Sasuke diiringi suara kecapan. Hal ini menandakan bahwa ia pasti sedang memakan lollipop.
"Ti…tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."
"Hari sudah mulai gelap, akan berbahaya bagi seorang gadis perawan sepertimu pulang sendiri."
Ucapan Sasuke kembali men-ctar-kan hati Sakura. Tiba-tiba saja perempatan urat terukir di dahi lebar Sakura. Ia pun akhirnya berbalik dan menatap lurus ke arah Sasuke. Sedangkan yang diperhatikan malah asyik memutar-mutar lollipop yang diemutnya.
"Darimana kau tahu aku perawan?"
"Sudah jelas kan?"
.CTAR.
Kali ini benar-benar 'ctar' yang sebenarnya. Karena suara itu berasal dari arah jendela. Sakura menoleh dan mendapati hujan turun dengan derasnya. Mata Sakura membulat seketika, tubuhnya gemetar hebat. Sasuke yang melihatnya hanya terdiam memincingkan matanya.
"Kau takut petir?" duga Sasuke. Merasa tak ingin menjadi bahan olok-olok lagi, maka Sakura mencoba bangkit dan berdiri tegak.
"Aku tak takut, aku hanya kaget saja." Sahutnya dengan penuh percaya diri. Ia pun meraih tas-nya dan bergegas keluar dari ruangan itu.
"Hey!" Sasuke mencoba mencegahnya, namun Sakura makin mempercepat larinya. Meninggalkan Sasuke di belakang sana.
Sakura masih mempercepat larinya. Jantungnya berdebar kencang. Berdebar bukan karena ia berlari, tapi jujur saja ia memang takut. Ia takut akan suara petir, karena ia pernah tersesat dalam badai waktu masih kecil. Sedikit banyak ia gemetar untuk mengingat hal itu.
.CTAR.
"Kyaaa..!" Sakura menunduk dan menutupi telinganya. Ia sudah tak sanggup lagi. Bahkan ia belum keluar dari aula sekolah, tapi ia tak bisa melangkah lebih jauh lagi. Ia takut, ia ingin bersandar pada seseorang. Tapi ia juga tak ingin terlihat lemah di depan orang lain. Ia tak mau dipandang rendah. Itulah egonya.
Sakura terisak dalam diam. Ia bisa saja berbalik dan menghampiri Sasuke di sana, tapi ia tak mau. Terutama di depan pemuda itu, ia sungguh tak ingin memperlihatkan kelemahannya. Ia ingin dipandang setara dengannya. Setidaknya menjadi seseorang yang pantas bersanding di sisinya.
.CTAR.
"Engh~!" suara petir itu seakan meledakkan sebagian dari kesadaran Sakura. Tubuhnya benar-benar gemetar hebat. Air mata sudah tak bisa dibendungnya lebih lama lagi.
"Kalau kau takut, ya katakan saja takut."
Sekali lagi suara itu mengalihkan perhatian Sakura. Saat Sakura menoleh, Sasuke membulatkan matanya melihat ekpresi Sakura. Dimana tubuh kecil itu terlihat sangat rapuh di depannya sekarang. Ia segera berlari menghampiri Sakura dan memeluknya erat. Sakura terkejut atas perlakuan Sasuke kepadanya ini. Tapi tenaganya tak mampu untuk menolak, yang ada malah tangannya menyambut pelukan Sasuke.
"Kau ini… dasar baka!" Sasuke mengeratkan pelukannya, ia menarik tubuh Sakura dan memangkunya, sedangkan dirinya bersandar pada tembok.
Sakura meremas seragam Sasuke. Ia menangis terisak. Tangan Sasuke membelai lembut rambut merah muda panjang Sakura. Memberikan gadis dalam pangkuannya ini sebuah ketenangan. Sakura bisa mendengar detak jantung Sasuke yang berpacu tak kalah cepatnya dari jantungnya.
"Aku mencemaskanmu, kau tahu? Jangan pernah lari dariku lagi." Sasuke berkata lemah. Mukanya dialihkan menjauh, rona merah mulai menjalari pipinya.
"Aku… tak ingin kau melihat keadaanku seperti ini. Aku menyedihkan." Sakura kembali terisak. Sasuke terdiam, tapi tangannya masih membelai rambut Sakura. Perlahan Sakura pun merasa tenang.
"Bersikap jujur itu berbeda dengan lemah." Sasuke melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sakura. "Dengan kau mengatakan kelemahanmu, bukan berarti kau lemah."
Sasuke membuka jaketnya perlahan, dan memakaikannya kepada Sakura. Tangan Sasuke menangkap kedua pipi Sakura. Membuatnya menatap permata onyx yang ada di dalam matanya.
"Dan butuh keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya." Tegas Sasuke lagi. "Kau mungkin ingin menyembunyikan segala kelemahanmu dari orang lain, tapi jangan pernah kau sembunyikan hal itu dariku."
"Sasuke…" mata Sakura yang masih berlinang membuat Sasuke gemas. Kalau saja ia bisa melahap Sakura di sini, sekarang, ia akan melakukannya. Tapi sepertinya Sakura tak bisa langsung ke tahap itu. Dan sepertinya pula Sasuke masih harus bersabar. (Ya, ya, ya… sabar yah Sasuke-kun~ xD *dichidori*)
"Haaahh…" Sasuke menghela nafanya panjang. Sakura pun hanya mengerutkan dahinya bingung. "Benar-benar tipikal kau sekali ya… takut pada petir."
Kini Sakura yang mengerutkan dahinya, ia bingung kenapa Sasuke menghela nafasnya seperti itu. Sasuke menunduk sejenak, kemudian pandangannya naik menatap emerald yang berkaca-kaca itu.
"Aku…memang takut petir. Tapi suatu saat aku akan menghilangkan phobia ini dan berdiri menatap langsung kepada petir itu."
Sasuke tersenyum melihat adanya keyakinan dalam mata emerald Sakura yang masih berkaca-kaca. Sebenarnya sudah sejak lama Sasuke tertarik pada Sakura. Ia tertarik pada permata emerald yang menentang segala sesuatu yang menghalangi jalannya. Melihatnya jauh di dalam matanya, seakan ia bisa melakukan apapun juga.
"Kutunggu kau mewujudkan hal itu." Sahut Sasuke sambil mengacak-acak rambut Sakura. Membuat sang empunya kesal dan merapikan kembali rambutnya. Sasuke kembali terkekeh ringan melihat tingkah Sakura di pangkuannya. Sakura yang melihat Sasuke tertawa seperti itu jadi merona.
"Sasuke…" Sasuke menoleh sambil menyerka air mata yang berada di sudut matanya.
"Arigatou."
Sasuke terdiam. Tawanya reda perlahan. Disuguhi senyuman manis oleh Sakura bisa membuatnya berhenti tertawa. Tak bisa, ia tak bisa menahannya lagi. Tangan Sasuke naik dan melengkup kedua pipi Sakura, membuat Sakura menghadap mukanya secara langsung.
"Sakura… bolehkah aku… menciummu?" tanya Sasuke lirih. Rona merah tak indahnya tergaris di kedua pipi Sasuke. Ia cukup malu juga menanyakan hal itu, tapi ia tak ingin Sakura membencinya kalau ia mencium paksa dirinya. Bagaimanapun juga Sasuke sudah berkali-kali mencium Sakura tanpa izin.
"Enghh~ Itu… seperti bukan dirimu saja…" Sakura mencoba meraih kedua tangan Sasuke di pipinya, dan Sakura bisa merasakan bahwa tangan Sasuke berkeringat. Bisa jadi itu karena ia gugup, sama sepertinya.
"Bolehkah?" merasa belum mendapatkan jawabannya, Sasuke kembali mengulang pertanyaannya.
.Blush.
Sakura kembali bersemu merah. Bahkan petir-petir yang sejak tadi datang untuk menakut-nakutinya sama sekali tak bisa mengalihkan perhatiannya dari pemuda itu. Sasuke telah menangkap Sakura, sama seperti Sakura yang telah lebih dulu menangkap Sasuke. Akhirnya dengan ragu Sakura pun menganggukkan kepalanya.
Sasuke masih terdiam beberapa saat, sepertinya ia juga sedang mengumpulkan keberanian. Ayolah, ini bukan adegan pertama bagi kalian berciuman bukan? (*dibantai SasuSaku* xO). Sasuke meraih helaian rambut Sakura. Ia menyisipkan tangannya di sela-sela rambut merah muda Sakura dan mengusap tengkuknya.
"Sakura…" Sasuke mendekatkan wajahnya, ia mulai memejamkan matanya. Sakura pun ikut memejamkan matanya. Ia bisa merasakan nafas Sasuke yang kian mendekat menerpa permukaan wajahnya.
Bibir mereka menyatu, menghasilkan sebuah suara decapan erotis yang diiringi nyanyian sang hujan. Sasuke menekan tengkuk Sakura, membawanya dalam ciuman lebih dalam. Sakura membuka sedikit matanya, ia melihat kelopak mata Sasuke yang terpejam. Bibir Sasuke tak henti melumat bibirnya lembut.
"Emmnh~mmm~"
Semakin lama tubuh Sasuke semakin menekan tubuh mungil Sakura. Sebelah tangannya pun menahan tangan Sakura dan sebelahnya lagi menahan punggungnya. Sasuke sesekali melepaskan ciumannya, namun tak lama ia melumatnya kembali. Rasa permen lollipop tomat bercampur dengan salivanya. Kecut, asam, manis menyatu dalam mulutnya. Sakura memejamkan mata menikmatinya.
"Aahh~eenn~Mmmmh~"
Tangan Sakura secara refleks menjulut dan melingkar di leher Sasuke. Entah sejak kapan, tanpa sadar Sasuke sudah berada di atas Sakura dengan posisi setengah terduduk. Sakura kembali merona saat melihat Sasuke melepaskan ciumannya.
"Haaahh…aaah~ hah hah haaa~" nafas Sakura terengah. Mulutnya terbuka menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Sasuke semakin gemas saja dibuatnya. Bagaimanapun perasaan ingin memonopolinya bangkit, namun ia juga takut untuk dibenci Sakura.
"Sakura… Aishiteru." Sahut Sasuke sambil memeluk erat tubuh mungil Sakura. Sasuke tersenyum lega saat pelukannya mendapatkan balasan oleh Sakura. Ia sungguh ingin menjadikan Sakura miliknya seorang, hanya saja semua butuh waktu.
-ooOoo-
Sakura termenung di kamarnya yang remang-remang. Ia terduduk di pinggir ranjang. Pakaiannya belum berganti dari seragam sekolah, padahal besok ia akan memakainya lagi. Matanya menatap lantai dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang mengarah pada suatu kejadian. Kejadian yang belum lama terjadi antara dirinya dengan seorang pemuda berambut raven gelap.
.Blush.
Mukanya merona. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Tidak, tidak. Aku yakin itu pasti cuma mimpi."
"Apanya yang mimpi?" Lagi-lagi sebuah suara mengagetkannya. Dan benar saja, siapa lagi kalau bukan Oneechan-nya sang pelaku.
"Karin-nee…!" Sakura tanpa sadar berteriak di hadapan Karin yang sedang berlutut menatap Sakura. Ia sontak melangkah mundur menaiki ranjangnya, dan Karin pun memposisikan dirinya duduk di pinggir.
"Ada apa denganmu?"
"Ke…kenapa Neechan tak mengetuk pintu dulu?"
"Lihat tangan Neechan ini? Sudah memerah akibat mengetuk pintumu barusan."
"Enghh~ Gomen~"
"Apakah terjadi sesuatu di sekolah hari ini, Sakura? Bagaimana harimu sebagai wakil ketua OSIS?"
"Ah! Sungguh melelahkan! Ketua yang sekarang tak lebih dari seorang permalas berwajah tampan yang suka mengemut lollipop rasa tomat dan membuangnya sembarangan!" tutur Sakura panjang lebar.
"Hn?" Karin memiringkan kepalanya menatap Sakura. "Sakura… Kau… menyukainya?"
"Apa?! Tentu tidak! Aku sangat membencinya! Ia selalu jahil kepadaku! Hari ini saja aku…" kata-kata Sakura terputus di sana. Bibirnya terkatup tak dapat menyebutkan kejadian yang terjadi antara dirinya dengan pemuda itu hari ini.
"Hari ini kenapa?"
"Enghh~ tidak. Pokoknya aku tak akan menyukainya… titik!"
"Ouh? Bagaimana kalau kau sampai menyukainya? Kau mau membuatkan Neechan sebuah cake brownish dengan vanilla cream?"
"Eeehhh? Apa-apaan itu? Tidak mau!" Sakura membuang mukanya. Tangannya terlipat di depan dada. Terang saja, Sakura itu paling tidak bisa kalau diminta membuatkan cake seperti itu.
"Berarti kau memang menyukainya." Tegas Karin.
"Baiklah, baiklah. Dasar Neechan, awas kau ya. Kalau Neechan, bagaimana keadaan Suna High School?"
"Terkendali seperti biasa. Tapi mungkin Neechan akan sedikit sibuk karena sebentar lagi Suna akan mengadakan pekan olah raga tahunan."
"Ah! Aku baru ingat." Sakura menepuk dahi lebarnya. "Konoha juga akan mengadakan festival Olah Raga sebentar lagi."
"Benarkah? Baiklah mari berjuang yah.." Karin mengusap rambut Sakura lembut. Sakura pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Kau ingin makan apa malam ini? Biar Neechan siapkan."
"Tidak perlu, Neechan. Sakura ingin minum susu saja."
"Baiklah, biar kubuatkan." Setelahnya Karin beranjak meninggalkan kamar Sakura.
Karin terdiam sesaat menatap Sakura yang kini senyum-senyum sambil mencubiti pipinya dan sesekali bergumam tak jelas. Pandangan mata Karin menyipit seketika, lalu ia pun menutup pintu itu.
Karin mengeluarkan sebuah amplop dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalamnya. Karin membaca setiap kata yang tersurat di sana, pandangannya terlihat kosong. Tak lama ia pun berjalan sambil meremas kertas itu erat-erat sampai lecak. Ia pun memasukkan kembali kertas itu ke dalam sakunya dan pergi menuju dapur.
-ooOoo-
"Sakura-san, ini ditaruh dimana?"
"Sakura -san, bahan-bahannya sudah hampir habis."
"Sakura-san, apakah ini bisa dijadikan mascot? Lalu warna apa yang cocok untuk dasarnya? Kalau yang seperti ini bagaimana?"
"Sakura, Sakura, Sakura…"
Begitulah kesibukan OSIS. Atau mungkin lebih tepatnya kesibukan Sakura. Ia harus menjadi panitia yang membantu setiap persiapan tiap-tiap kelas. Kalau kalian tanya kemana kah anggota OSIS yang lainnya, jawabannya mereka sedang bermalas-malasan di markas ANBU.
"Sakura-san, permatanya telah habis, padahal ini adalah papan yang nantinya akan dipasang di aula utama. Bagaimana ini?"
"Begitu ya, hmmm… Tak apa, jangan khawatir. Aku masih memiliki cadangan di ruang OSIS yang berwarna merah." Sahut Sakura sambil menunjuk ke arah papan yang sedang dihias.
Sakura sungguh lelah, tapi sebentar lagi tiba saatnya festival Olah Raga, dan semua menantinya. Melihat siswa-siswi lain yang semangat bekerja membuatnya jadi semangat untuk membantu pula. Terkadang Hinata atau Naruto turut membantunya dalam menghiasi ruang-ruang kelas, Ino membantunya untuk mencari ide dekorasi, sedangkan Sai mempromosikannya melalui internet.
Hanya satu orang saja yang tak ingin keluar dari istananya itu. Orang yang malah seharusnya menjadi dominant di saat-saat seperti ini. Orang itu tak lain tak bukan adalah sang Ketua OSIS, Uchiha Sasuke. Pangeran yang satu itu malasnya bukan main. Padahal ia bisa mendapatkan gelar ketua OSIS, tapi ia malas untuk bertindak layaknya ketua OSIS.
"Kalau kau mau, kau saja yang mengerjakannya. Aku sih tak mau."
Itulah jawaban atas pertanyaan bila ia dimintai pertanggung jawaban untuk turut membantu. Mengesalkan bukan? Tapi ingat, di sini, OSIS adalah Dewa. Kau tak akan bisa menentang Dewa. Ck ck ck merepotkan (Shikamaru's Quotes… :9).
-ooOoo-
Beberapa hari pun berlalu setelahnya. Persiapan mereka hampir mendekati kata 'selesai'. Dan festival Olah Raga pun tinggal menghitung hari saja. Sakura akhir-akhir ini sering kecapekan dan tidur malam, tapi sebisa mungkin ia selalu menyempatkan diri bangun pagi untuk melakukan ketertiban pagi seperti biasa. Beberapa waktu terakhir kenakalan dan pelanggaran semakin berkurang saja.
Kini tangannya gemetar, jantungnya berdetak kencang, keringat dingin membanjiri pelupuknya, ia terngah berdiri tegak di depan ruang OSIS. Lalu apakah yang membuatnya gugup? Itu semua karena pesan singkat yang baru saja diterimanya pagi ini.
Sakura, bisa kau datang lebih cepat pagi ini?
Aku menunggumu di ruang OSIS.
Uchiha Sasuke
Yup. Itu adalah pesan singkat dari sang Uchiha. Setelah menerima pesan itu, ia langsung melesat ke sekolah bahkan ia melewatkan sarapannya. Kalau ditanya mengapa ia begitu mengutamakan pesan dari Sasuke itu, ia sendiri tak tahu. Ya, mungkin hanya kita yang tahu apa yang terjadi pada Sakura. :3
.Cklek.
Akhirnya dengan segenap keberanian, Sakura memutar knop pintu itu dan masuk ke dalamnya. Jantungnya masih berdetak sangat kencang. Ia bahkan bisa membayangkan alasan mengapa Sasuke memanggilnya ke ruang OSIS pagi buta. Dimana ia pasti menduga bahwa tak ada seorang pun yang datang ke sana. Itulah 'dunia khayal' Sakura. Tapi…
"Ohay—"
"OHAYOUUU, SAKURA-CHAAAAAN…!" sapa Naruto sambil menerjang bersiap melancarkan pelukannya ke arah Sakura.
.Bletak.
Sebuah permen lollipop mendarat sempurna di rambut jabriknya, membuatnya tersungkur jatuh tepat di hadapan Sakura.
"Aw Aw Aw Sakiiiit~!" Naruto mengusap-usap rambutnya sendiri. Dan seorang gadis datang menghampirinya dan membantu Naruto untuk berdiri.
"Na…Naruto-kun baik-baik saja?" Hinata menatap Naruto dengan pandangan cemas.
Sakura menatap Naruto dan Hinata bergantian. Pikirannya masih belum jalan. Ia juga melirik ke arah sampingnya, di sana ada Sai dan Ino yang duduk berdampingan sambil menghadap laptop kesayangan Sai tentunya. Dan satu lagi orang yang sampai membuat Sakura melewatkan sarapannya demi pesan yang dikirim dairinya, Uchiha Sasuke, yang duduk manis menatapnya dengan senyuman jahil.
"Kenapa? Kau tak berpikir bahwa aku hanya memanggilmu dan membuatmu melewatkan sarapan pagimu kan?"
.Jleb.
Sungguh tebakan yang SANGAT tepat sasaran. Sakura tau sekarang, ia dipermainkan lagi kini. Sasuke yang ditatap tajam seperti itu malah cengengesan. Sakura sangat marah sekarang. Bagaimana tidak, kalau ternyata apa yang 'kenyataan' sungguh berbanding terbalik dengan 'dunia khayal'nya.
"SASUKEEEEEE!" Pekik Sakura kencang. Saking emosinya ia sampai tak sengaja melemparkan tasnya ke arah Sasuke. Beruntung Sasuke bisa dengan mudah menangkapnya, tapi sayangnya barang-barang Sakura yang berada di dalamnya jadi terlontar keluar.
"Ah! Barang-barangku!" pekik Sakura kembali. Sontak seluruh mata pun tertuju pada isi tas Sakura yang berhamburan.
Tiba-tiba saja pandangan mereka tercuri oleh sebuah kertas hitam dengan lambang awan merah ditengahnya. Semua yang ada di sana membulatkan matanya lebar-lebar, kecuali Sakura. Karena ia sendiri berlum menyadari adanya kertas itu. Saat Sakura mulai memberesi barang-barangnya, barulah ia menyadarinya.
"Kertas apa ini? Kenapa jenisnya sama seperti ANBU? Kalian ganti lambang?" duga Sakura. Sakura mengerutkan dahinya melihat tatapan aneh pada semua orang di sana.
"Ada apa?" merasa aneh, Sakura pun akhirnya bangkit dan bertanya. Ia merasakan suasana yang berat.
"Pagi ini… ada sebuah laporan masuk dari website pribadi ANBU." Ucap Sasuke mengawali pembicaraan. "Laporan yang menyatakan sebuah pemberontakan."
"Biasanya setiap orang yang ingin menjahili seseorang akan mengirimkan sebuah permintaan bantuan kepada ANBU. Karena itulah website ini dibuat. Hanya saja, mereka yang mengajukan permohonan, harus mendaftarkan dirinya sendiri terlebih dahulu di website itu. Dan semua data yang masuk akan kucek, barulah akan dikonfirm seminggu setelahnya." Terang Sai panjang lebar.
Sekali lagi sebuah layar besar turun dari langit-langit. Sakura bahkan ingin sekali bertanya, sejak kapan fasilitas seperti ini telah dipasang. Namun sepertinya ini bukanlah saat yang tepat.
"Pagi ini, datang sebuah pesan ke website ANBU dengan data yang tak dikenal." Lanjut Ino dengan sebuah pantulan gambar website tersebut di layar besar itu. "Sai pun sampai tak bisa melacak sumber data itu."
Di layar tersebut tertera sebuah pesan yang terbaca:
Sebelumnya perkenalkan kami adalah AKATSUKI. Kami yang akan menguasai dunia kejahilan. Sejarah kalian telah tamat, kami yang akan mengambil alihnya. Tapi, sebelumnya… sebagai salam perkenalan dari kami, kami akan memberitahukan target kami selanjutnya.
Itu adalah Festival Olah Raga di Konoha High School International. Bagaimana? Seperti apa kejahilan kami, yang jelas tak akan sepengecut kalian. Kejahilan kami akan 'menggelegar' dan 'mengejutkan'. Kalian boleh percaya boleh tidak, kami akan memberikan buktinya nanti.
Salam, AKATSUKI.
"Setelah pesan itu terbaca, sebuah fax dengan lambang awan merah yang sama seperti kertas yang kau pegang muncul. Bisa jadi itu adalah lambang mereka." Sahut Naruto yang mulai berubah serius.
"Lagipula… ini seperti surat pendeklarasi perang. Mereka seperti ingin berperang dengan kita." Hinata pun akhirnya berkomentar. "Kalau target mereka festival olah raga, bagaimana kalau ditiadakan saja?"
"Tidak bisa…!" Bantah Sakura, pada akhirnya. Kalau memikirkan mengenai usaha mereka yang ingin mengadakan festival Olah Raga membuat Sakura tak ingin menyerah begitu saja.
"Tidak bisa kita batalkan. Semua telah menanti-nanti mengenai festival tersebut, lagipula berita ini belum tersebar sampai ke luar kan? Kalau begitu inilah tugas kita untuk melindungi festival Olah Raga yang mereka nantikan." Sakura menundukkan kepalanya. Sedih juga rasanya bila harus membatalkan segala jerih payahnya.
Naruto dan Hinata saling bertatapan, begitu pula dengan Ino dan Sai. Mereka mengerti mengapa Sakura bersikeras untuk mempertahankan festival itu, tapi mereka tak mempunyai pilihan. Kalau memang benar AKATSUKI akan menimbulkan kerusuhan di Konoha, maka seluruh murid akan terancam bahaya.
"Kumohon…" Sakura membungkukkan badannya ke arah Sasuke yang terduduk sambil berpangku tangan menatap Sakura. Hati mereka tersentuh dengan jerih payah Sakura. Ino pun bangkit dan mendekati Sakura.
"Tenang saja, aku akan mencoba menanyakan apabila ada keganjalan yang terjadi selama persiapan ini kepada semua murid, sehingga kita bisa mengantisipasinya." Ino menegakkan kembali tubuh Sakura dan menatapnya.
"Ya, aku pun akan berusaha untuk menggolong dana sebanyak-banyaknya untuk membantu mensukseskan festival kali ini." Hinata pun berjalan mendekati Sakura.
"Kau tenang saja, Sakura-chan… aku akan melindungi Konoha dengan segenap kekuatanku." Sahut Naruto sambil menepuk pelan pundak Sakura.
"Aku akan terus mengintai pergerakan mereka dan melacak keberadaan mereka." Sai tersenyum, dan kali ini adalah senyum yang berbeda dari biasanya.
Mata Sakura berkaca-kaca. Ia mengangguk lemah. Sakura pun mendapatkan sebuah pelukan dari Ino. Ia mendapatkan seluruh dukungan dari teman-temannya. Ini pertama kalinya ia merasa tersentuh. Ia menekadkan dirinya bahwa ia juga akan berusaha sekuat tenaga untuk mensukseskan festival kali ini apapun yang terjadi.
-ooOoo-
Hari H, Festival Olah Raga.
Semua panitia memakai sebuah tanda di lengan kiri mereka, hal ini untuk memudahkan bila ada tindakan yang perlu dilaporkan. Sekarang panitia bertugas sebagai pengawas kegiatan.
Karena judulnya saja Festival Olah Raga, maka hampir seluruh kegiatan yang diadakan ber-genre sport. Sebagai pembukaan, festival ini berjalan cukup lancar. Tak ada keganjalan yang cukup berarti, hanya masalah-masalah kecil seperti kehabisan bahan, kebersihan, penerangan lampu, dan hal-hal semacam itu.
Tapi tetap saja hal ini tak bisa membuat Sakura duduk manis menikmati kegiatan yang ada. Ia harus berpatroli keliling sekolah untuk memastikan semua memang benar-benar aman terkendali. Sakura sudah mengitari aula utama, dan ia tak menemukan keganjalan di sana.
.Bruk.
Kepala Sakura berdenyut ketika ia merasa membentur sesuatu yang besar. Tubuhnya linglung dan hampir terjatuh kalau saja seseorang tak menahannya.
"Kau baik-baik saja?" Beruntung orang yang menolongnya adalah Sasuke.
"Ya, aku baik-baik saja. Terima Kasih." Sakura berdiri kembali dengan bantuan Sasuke. "Apa yang kau lakukan di sini? Biasanya kau akan duduk manis di ruanganmu."
"Mana mungkin aku membiarkan bawahanku saja yang bekerja." Sindir Sasuke, Sakura pun mendengus. "Lagipula semua sudah berusaha semampunya. Ino dan Hinata bolak-balik mengecek keamanan peralatan, Naruto juga mengawasi kegiatan, dan Sai masih mencari informasi mengenai AKATSUKI. Semua… pasti akan baik-baik saja."
Sakura terdiam melihat Sasuke yang kini menyerka keringat di pelupuknya. Sasuke hanya menyebutkan mengenai usaha keras teman-teman lainnya, tapi seragamnya sendiri telah dibanjiri oleh keringat. Dan nafasnya pun terlihat tak beraturan.
'Dia pasti berusaha keras juga.' Batin Sakura.
Sakura mengangkat tangannya menuju wajah Sasuke. Sasuke tersentak saat Sakura menghapus keringatnya dengan ujung seragamnya. Tangan Sakura mengusap pelupuk Sasuke lembut. Meski Sakura harus sedikit berjinjit untuk meraihnya, tapi itu bukanlah masalah besar baginya.
"Arigatou, Sasuke-kun~"
Ini dia. Senyuman manis Sakura dan kelembutannya. Sesuatu yang tak bisa ditahannya kembali. Sasuke meraih tangan Sakura di kedua pipinya. Ia mengusapnya dan menggenggamnya. Sakura pun mengikuti gerakan tangan Sasuke.
"Sakura… setelah festival ini selesai…" Sasuke menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sakura berdebar menunggu kelanjutan kalimatnya, suasana di sana begitu canggung baginya.
"Kau mau… kencan denganku?"
.Dheg.
Rasa hangat menjalari hatinya seketika saat Sasuke mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yang bersemu. Sakura pun tak bisa menutupi rasa malunya. Sakura mencoba mengalihkan pandangannya, namun tangan Sasuke mengerat membuat Sakura tak mampu berpaling lagi.
"Emm… iya, baiklah."
"—Perhatian, Perhatian. Acara penutupan akan segera dimulai. Semua harap berkumpul ke aula utama—"
Suara MC dari microphone menggema di setiap ruangan. Sasuke mendecih. Kalau saja MC itu tak tiba-tiba mengganggu suasana romantisnya dengan Sakura, mungkin Sasuke bisa mendapatkan ciuman lagi dari gadis merah muda ini. Mesumnya, Sasuke…
"Ayo." Sasuke menggandeng tangan Sakura menuju aula. Setelah acara penutupan festival selesai, akhirnya semua akan berjalan lancar. Ternyata ancaman itu hanyalah gertakan saja.
Acara penutupan adalah saat dimana semua baik peserta, pengunjung, panita, berkumpul menjadi satu di aula utama. Dan nantinya selama beberapa detik lampu akan dipadamkan, seluruh peserta boleh melakukan 'sesuatu' dengan pasangannya. Tahu kan apa maksudnya? Acara penutup inilah yang ditunggu-tunggu seluruh siswa. Terutama yang sudah memiliki pasangan.
"—Apa semua sudah berkumpul? Kita akan segera memulai acaranya kalau begitu.—"
Sasuke dan Sakura berdiri di sisi panggung. Tangan besar Sasuke makin mengeratkan genggamannya pada tangan Sakura. Sakura melirik ke arah Sasuke, dan wajah mereka berdua bersemu bersama. Sungguh pasangan yang manis… Mereka saling menggenggam tak ingin melepaskan satu sama lain.
"—Baiklah, kita hitung mundur untuk pemadaman lampunya.—"
Jantung Sakura berdetak semakin kencang saat MC mulai menghitung mundur. Namun sesaat Sakura seperti melihat suatu kejanggalan di panggung itu. Hanya saja ia tak menemukannya kembali saat melihat panggung untuk kedua kalinya.
'Mungkin hanya perasaanku saja.' batinnya.
"—5…—"
Pandangan Sakura kembali mengitari panggung itu. Ia tiba-tiba merasa tak enak, mungkin apa yang ia lihat tadi benar-benar suatu keganjalan. Tapi apa? Ia belum menemukannya. Hingga sesaat perhatiannya tercuri oleh sebuah papan besar di atas panggung.
"—4…—"
Sakura membulatkan matanya. Ia menyadarinya sekarang. Sesuatu yang aneh pada papan itu. Yaitu adalah hiasan permata yang berada di papan itu. Seingatnya adalah…
"—3…—"
"Sakura-san, permatanya telah habis, padahal ini adalah papan yang nantinya akan dipasang di aula utama. Bagaimana ini?"
"Begitu ya, hmmm… Tak apa, jangan khawatir. Aku masih memiliki cadangan di ruang OSIS yang berwarna merah."
Dan permata yang dipasang di papan besar itu bukanlah permata pemberian Sakura, kalau diperhatikan baik-baik…permata itu berlambang awan merah di tengahnya.
"—2…—"
"Tunggu! Hentikan!" Sakura menghempaskan tangan Sasuke segera. Karna suaranya kalah dengan suara MC yang menggema itu, maka ia pun berlari menuju atas panggung. Ia berharap ia sempat mencapainya sebelum sesuatu yang lebih parah terjadi.
"Sakura!" Sasuke mencoba meraih tangan Sakura untuk mencegahnya, namun Sakura telah lebih dulu berlari meninggalkannya.
"—1…—"
"TIDAK!"
Sakura akhirnya sampai juga pada panggung itu. Ia segera berlari menuju pusat panggung itu dan menarik sang MC. Sakura menyadarinya, inilah ancaman yang dimaksud AKATSUKI. Bahwa mereka bilang tak akan sepengecut ANBU, dan akan membuat sesuatu yang 'menggemparkan', yap. Ini dia… Ledakan.
.BHUM!.
Seseorang yang berada tak jauh dari sana melirik ke arah panggung dengan seringai kemenangannya.
"Seni adalah ledakan!" Sahutnya sebelum menghilang dan pergi.
Seluruh siswa-siswi berhamburan keluar karena ketakutan. Suara ledakan itu terdengar sangat keras dan mengerikan. Sakura masih memeluk MC itu mencoba melindunginya. Sang MC pun merona menyadari ia sedang dipeluk oleh Sakura, ternyata ia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan juga rupanya.
"SAKURA!" Sasuke segera meloncat naik ke panggung. Dan saat mendapati gadisnya tengah tak sadarkan diri dan posisinya sedang memeluk MC yang notabe-nya adalah seorang pria, membuanya geram.
"Minggir!" hanya dengan pekikan perintah seperti itu langsung membuat sang MC bergidik ngeri, ia pun menyerahkan Sakura dan bergegas turun pergi meninggalkan panggung itu bersama yang lainnya.
HHhhhss. Hhhhsss.
Kuping Sasuke berdengung saat ia sedang membopong Sakura untuk diamankan. Dengan giginya, ia pun menggigit tombol bicara yang terhubung pada headset di telinganya.
"Sasuke! Kau baik-baik saja?" terdengar suara cemas Naruto dari seberang sana. "Apa Sakura-chan juga bersama denganmu? Tadi beberapa saat sebelum acara penutupan dimulai tiba-tiba seluruh kamera pengintai terputus begitu saja. Dan kudengar suara ledakan yang cukup keras dari arah aula utama."
"Sakura bersamaku, kami baik-baik saja." Sasuke menghela nafasnya memandangi wajah Sakura yang masih pingsan. "Naruto, kau sudah menghubungi yang lainnya? Bagaimana keadaan mereka?"
"Semuanya selamat, sepertinya target mereka memang aula utama itu."
"Kumpulkan semuanya di markas, kita bahas selanjutnya di sana."
Setelahnya kontak itu pun terputus sepihak oleh Sasuke. Itu karena ia harus mengutamakan keselamatan gadis merah muda-nya ini dulu. Jujur saja, jantung Sasuke hampir berhenti berdetak saat melihat Sakura berlari menuju arah ledakan. Pikirannya sampai kacau dan tak bisa melogika lagi. Ia sungguh bersyukur gadis ini selamat. Meski kini ia tak sadarkan diri, setidaknya suhu tubuhnya masih hangat, dan jantungnya pun masih berdetak.
"Kau memang bodoh." Sahut Sasuke sambil meraih tubuh Sakura dan memeluknya erat. "Berani sekali kau membuat Uchiha Sasuke menjadi kalut seperti ini."
Sasuke membelai lembut rambut merah panjang Sakura. Menatap kelopak mata gadis-nya yang terpejam menyembunyikan permata emerald di dalamnya.
"Sungguh, janji kencan kita nanti… akan kubuat kau membalasnya."
-TBC-
Yo Yo Yo (DJ mode on...)
bagimana kah chapter ini?!
Selanjutnya bakal bermunculan nih tokoh-tokoh baru...
Kira-kira siapa ya... kalian pasti bisa nebak laaahhh... :9
Ok guys... Mind to review?
No, You have to review! *plak*
Keep Trying My Best!
~Shera~
