~Balasan Reviews~

Uchiharu : He he he... oke deeehhh... :D

sasusaku kira : oke... :D

Chery : wah, nanti diusahakan lebih di deskripsikan lagi deh..
Emang belum keluar kok... tapi liat trailer-nya itu lhooo... T.T
Liat Sasu ngasih bunga ke Saku rasanya mau meledak saking senengnya...
Mereka cocok banget banget banget banget banget banget...!
Kebalikannya gimana? O.o

Sasusaku 4ever : He he he... Sasuke akan lebih mesum lagi selanjutnya... xD

poetri-chan : Iya bener itu Deidara-senpai. :D
Wah... adain gak ya... kalo adain nanti nyambung ke konflik SasuIta dooonggg...

Ezura Minoz : terpesona, mbak... terpesona... (_ _") *gubrak*
Sms? Ouh... bisa dong.. tapi lewat PM aja yaa... jangan lewat sini ah.. malu.. xD *dzig*

chibiusa : oke dehhhhh~

Yuna H. Gorjesspazzer : Betuuulll... wah udah pada apal sama quotes-nya Deidara-senpai yaa... xD
Orang ketiga? Ada dooong... tapi nanti dlu ah,, munculinnya belakangan ajah.. :9 *dibantai readers*

Zenka-chan : Salam kenal, Zenka~ :D
Mengenai kertas awan merah ato 'death card' di tas Sakura, itu bukan surat... cuman kertas doang kok.. :o
Dan mengenai siapa yang naruh, nanti juga Zenka tau sendiri... :9
Surat yang diremes Karin itu juga bakal Zenka tahu nanti, wah... Karin suka gak ya sama SasuSaku? Dia anggota AKATSUKI bukan ya...Nanti juga tahu sendiri... xD *dzig*
Yang pasti pertanyaanmu nanti bakal terjawab semua kok kalo kamu ngikutin Fic ini... arigatou~

Hatsune Cherry : Betul...! Siapa lagi kalau bukan Dei-chan pelakunya... xD *dzig*
Iya dooonggg... di chap ini nih... tuuuh... *blush*

Legolas : Iyaaa... Trying My Best Alwayssss~! xO

Kiki-chan : asiiikkkk~ x9
Lemon di chap ini... semoga anda puas dengan ke-kecut-an nyaaaa... xD *bhum!*

Naomi-chan : Nye he he... emang AKATSUKI cocok banget sih berperan antagonis... :9 *dibantai rame2*
Ehhh? di chap 3? yg telponan Sasu deh.. Saku kapan ? O.o
nanti deh Shera bikin penjelasan mengenai latar belakang para anggota ANBU di satu chap. Tunggu yaa...
Oke deh...semoga puas dengan kencan merekaaa...

Haruno Michiko : Masa sih nggak keluar? Mungkin telad kali yah... biasa lah... kadang FFn suka lemod ngluarin Review..
Orang misterius di awal chap itu emang kabuto, nah kalo orang misterius satunya lagi yang ngemut permen, baru itu Sasuke... begitu lho..
Lemon di chap 5... semoga sukaa...

Sami-chan : He he he arigatougozaimasu~

birumenanti : iya dooong... ikutin terus yaaaa...

Ucucubi : Kalo kelamaan kasian AKATSUKInya kelamaan nunggu muncul giliran... he he he...
Wah? Masa sih? Karena Hinata manis yaa?

Enjoy Reading~


"ANBU"

.

.


Mission 5 : First Date Becomes DISASTER

(Kencan Pertama menjadi BENCANA)


.

Enjoy Reading

.

.

Susana begitu tegang di sini. Acara penutupan Festival Olah Raga benar-benar berantakan seperti apa yang telah direncanakan oleh AKATSUKI. Sasuke menggeram, ia membuka bungkus permen lollipop-nya dan mengemutnya. Hal ini lah yang biasa dilakukannya untuk menenangkan diri.

Emosinya melonjak manyadari bahwa kini Sakura yang menjadi korban ulah mereka. Ino dan Hinata mencoba mendampingi Sakura dan mengobati lecet-lecet ringan yang ada di tubuhnya. Sai masih melacak data melalui internet, dan Naruto mondar-mandir memikirkan sesuatu.

"Ini sih bukan kejahilan lagi namanya. Mereka sudah kelewat batas." Protes Ino. Ia juga merasa cemas pada Sakura, dan diantara mereka tak ada yang mempunyai keahlian pengobatan lebih baik dari Sakura itu sendiri. Jadi yang bisa mereka lakukan hanyalah pertolongan kecil kepada Sakura.

"Sakura-chan belum juga sadarkan diri. Tapi kurasa itu karena ia terlalu memaksakan dirinya dan jatuh lelah." Hinata pun tak bisa dipungkiri lagi sangat mencemaskan mantan 'ketua OSIS'-nya itu.

"Disamping itu, kurasa AKATSUKI memang benar-benar mendeklarasikan perang kepada kita." Sahut Sai menengahi. Seluruh pandangan pun beralih kepadanya.

"Apa kau menemukan sesuatu Sai?" tanya Sasuke. Dan pertanyaannya di sambut oleh monitor yang turun dari langit-langit ruangan itu.

Di layar itu terlihat website ANBU, dan sekali lagi sebuah pesan masuk misterius muncul di sana. Dengan lambang yang sama, yaitu awan merah. Sai pun mengklik pesan itu untuk membukanya.

Bagaimana sambutan kami?

Sesuai yang diharapkan bukan? Ternyata ANBU tak sehebat kabarnya ya, bahkan untuk menemukan peledak kecil itu saja kalian tak mampu. Dan lagi sepertinya kami melukai seorang diantara kalian, benarkah?

Sampaikan permintaan maaf kami kepadanya ya… sepertinya kami sedikit keterlaluan. Lain kali kami aksi kami akan sedikit lebih manis. Sampai jumpa.

AKATSUKI, leader.

.Brak.

Naruto memukul keras lemari kayu yang berada tak jauh darinya. Matanya menyipit menampilkan kengerian di dalamnya. Sasuke pun masih berpangku tangan terduduk di kursinya.

"Kita bukanlah serendah itu bukan?" suara Naruto terlihat parau, namun sorot matanya tak kunjung melembut. "Kalau mereka menginginkan perang melawan kita, lalu kita hanya tinggal menyambutnya saja."

"Tapi… kita bahkan belum mengetahui sedikitpun petunjuk mengenai mereka." Sahut Hinata. Meski ia mengagumi Naruto, tapi melihat matanya yang menajam seperti itu membuatnya sedikit ngeri juga.

"Tidak." Sasuke kembali angkat bicara.

"Kita mempunyai petunjuk."

-ooOoo-

Setelah segala kegiatan seperti membereskan sisa festival, rapat rahasia mengenai AKATSUKI, dan segala embel-embelnya selesai. Akhirnya para anggota OSIS bisa pulang dengan tenang. Kerusuhan yang terjadi sudah bisa diatasi, dan para murid diberi pengertian sehingga mereka tidak akan trauma dengan hal ini.

"Haaa…hhh… melelahkan sekali. Punggungku seperti mati rasa." Keluh Ino sambil mengusap punggungnya. "Sai, nanti beri aku pijatan plus-plus yah~"

"Baiklah, Tuan Putriku." Jawab Sai sekenanya. Naruto, Hinata, dan Sasuke pun jadi cengo melihatnya.

"Naruto, kau antarkan Hinata pulang. Aku akan mengantar Sakura pulang ke rumahnya." Perintah Sasuke dan ia pun meninggalkan mereka menuju markas tempat Sakura tertidur di sana.

Saat memasuki kamar keberadaan Sakura, ia mengusap perlahan rambut merah mudanya. Sakura terlihat tertidur damai dalam mimpinya. Sasuke mengecup kening Sakura. Ciumannya semakin turun ke bawah, dan ke bibir merah Sakura.

"Mmn~" Sasuke melumatnya mesra. Ia tak ingin mengusik ketenangan gadisnya ini, tapi ia juga tak ingin menghentikan aksinya.

Perlahan ciumannya pun sampai pada sudut leher Sakura. Ia menghembuskan nafanya di sana, menghirup aroma yang keluar dari tubuh Sakura. Sakura melenguh saat merasakan geli, hal ini tak membuat Sasuke berhenti begitu saja. Ia membasahi leher Sakura dengan jilatannya. Dan setelahnya ia mencoba untuk meninggalkan tanda kepemilikan di sana.

"Engh~"

.Plak.

Sebuah tamparan keras datang menyapa permukaan kulit di pipinya. Sasuke membulatkan mata, ia melirik gadis merah muda yang menjadi tersangka penamparan itu.

"Enghh~ nyamuk~"

.Toeng.

Sakura mengingau. Menyangka dirinya sedang digigit oleh nyamuk. Sasuke menundukkan kepalanya, tangannya meraih pipinya yang kemerahan akibat tamparan tangan Sakura. Pipinya terasa terbakar perih. Cetikan gigi terdengar menandakan ia menahan marahnya. Saat ia kembali menatap Sakura yang terlelap, perempatan urat terlihat di dahinya.

"Memangnya ada nyamuk setampan aku?!" geregetnya. Ia pun mau tak mau akhirnya menggendong Sakura untuk mengantarnya pulang masih dengan urat perempatan itu. Ia kesal, sungguh kesal. Tapi memikirkan cara pembalasannya nanti kepada gadis itu membuatnya bersemangat.

Sasuke adalah anak dari pemilik Uchiha Corp yang terkenal itu, jadi jangan kaget kalau ia datang dengan helikopter atau hal semacamnya. Hanya saja terkadang ia tak ingin menggunakan kekuasaan keluarganya untuk kegiatan pribadi. Seperti sekarang saja contohnya, ia memilih mengantar Sakura dengan mobil Aston Martin Blue yang dibelinya dengan usaha sendiri mengembangkan saham perusahaan.

Kagumkah? Sebenarnya mungkin itu biasa saja. Terutama untuk Sasuke. Barang seperti ini bagaikan mainan baginya. Terlalu membosankan ketika semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan dengan mudah. Karenanya ia mendirikan ANBU, dengan alasan untuk mencari tujuan hidup baru. Sepertinya tujuan baru dalam hidup Sasuke telah berada pada gadis merah muda yang kini digendongnya kembali menuju pintu rumahnya.

.Ting Ting.

Bel pun dipencetnya. Sulit memang untuk meraih bel dengan tangannya yang masih menggendong Sakura ala bridal style, tapi bukan Sasuke namanya kalau kehabisan akal begitu saja.

Saat pintu terbuka, menampilkan seorang gadis muda dengan kaca mata tebal dan sebelah rambutnya yang terlihat berantakan itu. Warna rambut yang hampir sama membuat Sasuke yakin kalau ia adalah kakak perempuan Sakura.

"Ada apa dengan, Sakura? Ayo masuk, masuk, bawa ia ke kamarnya." Sahut Karin. Ia pun memberikan petunjuk kepada Sasuke untuk membawa Sakura berbaring di ranjangnya.

Sasuke meletakkan perlahan tubuh Sakura. Karin pun menyelimuti Sakura dengan selimut tebal. Sasuke terdiam sejenak mengamati sekitar. Sebenarnya, petunjuk yang dimaksud Sasuke adalah 'death card' dari AKATSUKI yang berlambang awan merah itu. Saat AKATSUKI pertama kali muncul di hadapan mereka, Sakura telah membawa 'death card' itu di dalam tasnya.

Sasuke berpikir, mungkin petunjuk lainnya berada di rumah Sakura, atau mungkin kamarnya. Sasuke melirik-lirik ke segala arah mencari petunjuk meski tak terlihat adanya sesuatu yang mencurigakan di sana.

Sakura mengerjapkan matanya. Ia masih belum terbiasa dengan cahaya yang memasuki pupil matanya. Sakura mencoba bangkit perlahan sambil mengucek-ucek kelopak matanya.

"Kau sudah bangun rupanya?" Karin mengelus permukaan rambut adiknya itu. Di sampingnya Sasuke pun menghela nafas lega melihat Sakura mencoba terduduk perlahan.

"Aku di… kamar?" Sakura melirik kakaknya itu, dan pertanyaannya dibalas oleh anggukan lembut Karin. "Seingatku tadi… aku ada di sekolah."

"Festival telah selesai." Sahut Sasuke. "Semuanya sudah bisa diatasi, para murid pun mau mengerti dan bekerja sama dengan kita."

"Begitu ya… padahal tinggal sedikit lagi maka festival itu akan berjalan lancar." Sakura menundukkan kepalanya.

"Kau sudah berusaha, Sakura." Karin membelai lembut rambut Sakura. Sakura pun tersenyum melihatnya.

"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Sasuke melirik sejenak ke arah Karin. Pandangan mereka saling beradu seketika. Baik Karin maupun Sasuke hanya terdiam. Tak lama setelahnya Sasuke pun menundukkan kepalanya memberi hormat dan pergi meninggalkan ruang itu.

Karin masih memandangi jejak Sasuke yang mulai menghilang. Sakura pun memposisikan dirinya menghadap sang kakak. Karin akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Sakura. Tatapannya melembut seketika.

"Apa dia… pacarmu?" tanya Karin langsung ke sumber yang mengganggu pikirannya. Ditanya seperti itu membuat Sakura gugup menjawabnya.

"Se…sebenarnya… kami belum resmi jadian, hanya saja kami sudah merencanakan kencan."

"Kencan? Kapan?"

"Emm… aku juga tak tahu. Sasuke belum mengatakannya kepadaku."

"Sasuke? Namanya Sasuke? Uchiha Sasuke?" mata Karin membulat sempurna, hal itu membuat Sakura merasa ganjal.

"Kenapa, Karin-neechan? Apa Karin-nee mengenal Sasuke?"

"Em… tidak, tidak, aku baru saja melihat anak itu." Karin mengalihkan matanya dari Sakura, perlahan ia pun bangkit berdiri.

Sakura hanya menatap bingung ke sosok sang kakak yang dirasanya aneh hari ini. Karin keluar dari kamar Sakura, saat pintu kamar itu telah tertutup ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ia mengetikkan beberapa pesan singkat dan mengirimkannya.

"Uchiha…" desah Karin lirih.

-ooOoo-

Sakura membenarkan rambutnya menjadi kuncir dua. Ia memperhatikan pantulan dirinya secara keseluruhan di kaca besarnya, namun ia terhenti sesaat. Sakura kembali merombak tatanan rambutnya. Entah sudah yang keberapa pagi ini, semua jenis gaya rambut telah dicobanya. Tapi belum ada yang pas menurutnya. Hingga akhirnya kembali ke gaya semula dengan bandana merah terikat di kepalanya.

"Haaahh…" Sakura mendesah panjang. Ia kini sedang sarapan bersama kakaknya. Karin yang melihat gerak-gerik Sakura yang lemas tak seperti biasanya hanya bisa mengerutkan dahinya.

"Ada apa denganmu? Menghela nafas seperti itu di pagi hari bisa membuatmu sial seharian lho…" sahut Karin sambil menyodorkan segelas susu coklat kepada Sakura.

"Tak apa. Hanya saja… apa wajahku terlalu standart ya?"

"Kenapa memangnya? Ada yang mengatakan hal itu kepadamu? Beritahu kakak siapa orangnya, biar kakak hajar dia!"

"Tidak, tidak, bukan itu maksudku~ Hanya saja…"

"Hm…?"

"Ah…tidak apa."

Setelahnya Sakura hanya menundukkan kepala dengan wajah merona sambil menghabiskan sarapannya. Karin pun menatap sang adik dengan pandangan yang sulit diartikan.

-ooOoo-

"Haaah~"

Ino dan Hinata saling bertatapan. Ini sudah ke sekian kalinya mereka mendengar Sakura mendesah panjang. Biasanya Sakura selalu semangat dalam hal ketertiban dan kegiatan sekolah. Tapi sejak kejadian festival Olah Raga itu, Sakura terlihat tak bersemangat sama sekali.

"Ada apa denganmu, Sakura? Kau kelihatan tak bersemangat." Ino akhirnya mendekati Sakura yang sedang duduk di meja kerjanya. Sakura pun menoleh membalas tatapannya.

"Tidak apa-apa. Haaahh~"

Dengan jawaban Sakura yang masih diimbuhi desahan nafas itu semakin membuat Ino maupun Hinata saling bertukar pandangan bingung. Saat ini hanya mereka bertiga yang berada di sana. Para anggota OSIS lelaki yang lain sedang mendapatkan tugas untuk membantu club karate berlatih.

"Sakura-chan, kau bisa menceritakannya kepada kami kalau mau… kami mungkin tak bisa membantu mengatasi masalahmu, tapi setidaknya kau akan merasa sedikit lega." Tutur Hinata ramah.

Sakura memandangi kedua sahabat barunya itu bergantian. Ia merengut memikirkan sesuatu, sedangkan Hinata dan Ino memandang dengan tatapan penasaran. Sakura terdiam sejenak, memberikan waktu untuk Ino dan Hinata menambah rasa penasarannya.

"Haaaahhhh~" Sakura pun kembali mendesah panjang dan menenggelamkan dirinya di atas meja.

.Toeng.

Ino dan Hinata memiringkan alisnya memandang Sakura cengo. Akhirnya kini Hinata dan Ino yang saling mendesah pasrah. Mereka pun berbalik dan akan meneruskan pekerjaan mereka yang tertunda.

"Aku…" tiba-tiba saja akhirnya Sakura angkat bicara, hal ini membuat Ino dan Hinata kembali berbalik untuk menatap Sakura.

"Aku akan kencan~"

.Phesssshh.

Sebuah asap mengebul dari atas kepala Sakura. Ini semua karena ia sudah 'tekor' untuk memikirkan bagaimana ia harus berpenampilan untuk menghadapi Sasuke. Ia malu bila harus mengatakannya kepada orang lain, itulah mengapa ia mencoba menyembunyikannya dan memikirkannya sendiri. Tapi semakin dipikirkan semakin bingung otaknya untuk mencerna. Bagaimanapun ini pertama kali baginya.

Untuk kesekian kalinya pula Ino dan Hinata saling petukar pandangan. Sakura masih menyembunyikan wajahnya yang dapat dipastikan sedang bersemu merah, buktinya saja kepalanya berasap… ck ck ck.

"Hmph~ Jadi karena itu kau jadi gugup?" Ino memegangi perutnya mencoba menahan tawa. Sakura pun mengguk lemah untuk menjawabnya. "Harusnya kau bilang dari tadi. Kalau masalah itu katakan saja kepadaku."

Sakura sontak mengangkat kembali kepalanya. Benar juga… kan, Ino dan Sai sudah berpacaran selama bertahun-tahun, pasti Ino sudah mengerti sekali mengnai hal semacam ini. Hinata pun ikutan nimbrung ke percakapan mereka.

"Memangnya… apa yang kau risaukan, Sakura?" tanya Hinata.

"Aku…em… banyak hal yang kurisaukan. Seperti pakaian, cara bicara, tingkah laku, dan semacamnya. Ukkh~ memikirkannya saja membuat kepalaku pusing." Sakura memegangi kepalanya yang terasa berdenyut itu.

"Wah, wah, sepertinya hubungan kalian selangkah lebih maju ya." sahut Ino dengan nada menggoda. Sakura pun dibuat merona karenanya.

"Tapi Sakura… sebenarnya, kau cukup jadi dirimu saja. Kurasa itu sudah cukup untuk Sasuke."

.Cklek.

Tiba-tiba saja suara pintu terbuka menyela percakapan mereka. Sakura, Ino dan Hinata pun menoleh. Para anggota OSIS pria tengah mengibar-kibaskan tangannya di depan leher untuk menyerka keringat yang mulai membasahi tubuh mereka.

"Sai-kuuuun~, sudah pulang yaaa~" Ino segera meloncat menghampiri Sai. Ia mengambil sapu tangan dan mengelap keringat di pelupuk Sai.

"Aku pulang~" balas Sai dengan mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibir Ino.

"Geraaaaaah!" pekik Naruto. Sebenarnya ia kesal karena disuguhi acara lovey dovey-nya SaiIno, makanya ia mencoba memeriahkan suasana agar seluruh perhatian tak terpusat pada pasangan aneh itu.

"Na…Naruto-kun, ingin kuambilkan sesuatu?" tawa Hinata sambil memainkan kedua jari telunjuknya, itulah kebiasaan Hinata ketika dia gugup.

"Bisakah kau buatkan aku mi Ramen, Hinata-chan? Aku lapar sekaliiii~" keluh Naruto sambil menempatkan dirinya terduduk di sofa.

"Ba…baiklah." Hinata dengan senang hati langsung melesat menuju dapur dan membuatkan makanan kesukaan Naruto itu.

Kini yang belum terkena percakapan hanyalah… Sakura. Sakura memalingkan mukanya yang memerah padam. Ia tak ingin Sasuke melihatnya seperti sekarang. Sedangkan Sasuke sendiri juga sepertinya tak terlalu memperdulikan hal itu. Tanpa berbicara sepatah kata pun ia segera keluar menuju markas ANBU.

"Sasuke kenapa?" tanya Ino.

"Entahlah. Dia seperti itu sejak tadi, tak mau berbicara apapun. Dan sepertinya ia selalu menghela nafas panjang." Jelas Sai yang kini memposisikan dirinya duduk di sebelah Naruto dan mulai membuka laptopnya.

"Apa karena AKATSUKI lagi?" tanya Sakura. Akhirnya ia berani juga angkat bicara, itu semua karna ia juga penasaran atas apa yang terjadi pada Sasuke.

"Kurasa tidak. Karna kita belum mendapatkan petunjuk apapun lagi mengenai pergerakan mereka." Sai mulai mengotak-atik laptopnya.

"Kurasa sesuatu tengah mengganggu pikirannya. Ia tak pernah terlihat sedepresi itu, apakah ia menyesali suatu hal?"

.Toeng.

Pernyataan Naruto itu menusuk jauh dalam hati Sakura. Karena bagaimanapun ia sempat berpikir kalau Sasuke mungkin menyesal mengajaknya kencan, karna ia sendiri menyadari kalau tak ada daya tarik yang bisa ditonjolkannya. Sakura pun kembali mengeluarkan aura suramnya.

Semua yang ada di sana pun dapat merasakan aura suram Sakura. Bulu kuduk pun tak bisa ditahan untuk tak berdiri. Ino akhirnya mau tak mau mulai bertindak juga. Karna kalau dibiarkan cerita ini bisa berganti genre menjadi horror… (ha ha ha xD *plak*)

"Sakura, bagaimana kalau kita menyusul Sasuke? Kurasa ia ada di markas ANBU." Tawar Ino sambil menepuk ringan bahu Sakura.

Sakura mengangkat kepalanya. Semua dibuat merinding melihat tatapan horror Sakura, dengan mata yang berkunang-kunang karena terlalu pusing untuk berpikir, ia jadi terlihat seperti hantu saja.

"Kyaaa~!" terdengar suara teriakan dari arah dapur. Dan benar saja, Hinata yang sedang membawakan sepiring penuh ramen yang dipesan Naruto terkejut melihat ekspresi Sakura. Alhasil tumpahlah ramen dalam mangkuk itu.

"Ah, ma…maaf… akan segera kubuatkan lagi." Dengan sigap Hinata pun membereskan pecahan piring dan ramen yang berserakan itu. Naruto pun tak tinggal diam dan ikut membereskannya. Setelahnya mereka kembali memasuki dapur untuk menyiapkan ramen lagi.

"Ck ck ck. Benar-benar deh~" Ino menepuk dahinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat situasi yang terjadi di ruang OSIS ini.

Ck. Cinta masa muda memang rumit. (wk wk wk…)

-ooOoo-

Sakura termenung duduk di depan jendelanya. Memandangi langit senja yang mulai memerah. Pikirannya masih terbayang akan sikap Sasuke hari ini di ruang OSIS.

"Mungkin benar Sasuke menyesal~" keluh Sakura.

.Cklek.

Pintu kamar Sakura terbuka perlahan. Tanpa menoleh pun Sakura tahu siapa orang yang memasuki ruangan pribadinya itu. Karin berjalan mendekati Sakura. Sakura memincingkan matanya. Menatap sosok Karin yang terlihat dengan syal tebal di lehernya dan jaket panjang, sosoknya seperti orang kutub saja, padahal musim dingin sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Hanya cuaca yang sedikit mendung.

"Karin-nee mau pergi?"

"Iya, ada pesta penutupan festival di Suna. Sepertinya Neechan harus menginap juga di sana malam ini…" Karin mendesah pelan di akhir kalimatnya. Sakura mengerti maksud tatapan itu.

"Tenang saja, Neechan~ Sakura akan jaga diri baik-baik." Sakura meraih tangan tangan Karin dan menggenggamnya. Sakura tersenyum menyakinkan sang kakak.

"Hm… Baiklah. Kakak percaya padamu. Jaga diri kamu baik-baik ya, jangan lupa kunci pintu dan makan yang benar." Sahut Karin sambil mengusap tangan mungil Sakura. Sakura pun menjawabnya dengan anggukan. "Ingat, jangan bawa pulang lelaki!"

Sakura tersentak dengan titah Karin barusan. Mukanya memerah seketika, mengingat sosok Sasuke yang langsung muncul dalam bayangannya. Sekali lagi dengan anggukan Sakura menjawab Karin.

Akhirnya Karin mengusap lembut rambut Sakura, ia menepuk pundak Sakura perlahan dan kemudian meninggalkan Sakura. Karin menutup pintu kamar Sakura, seketika senyuman pudar dari bibirnya. Ia segera meraih ponsel yang berada di dalam tasnya.

"Halo? Aku sudah siap. Segera jemput aku." Dengan mengucapkan hal itu, Karin pun menutup telponnya dan berjalan menuruni tangga ke lantai dasar. Sesaat sebelum melangkah semakin jauh, ia menoleh ke arah pintu kamar Sakura, lalu ia meneruskan langkahnya.

Sementara itu Sakura sendiri kembali menghela nafas. Ia tak tahu akan melakukan apa setelah ini. Ingin belajar…malas, tapi tak melakukan apapun jadi membosankan. Akhirnya ia memutuskan untuk berbaring di atas ranjangnya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh dari posisinya.

"Wah…"

Sakura terkejut saat banyak panggilan tak terjawab muncul di ponselnya. Beberapa dari Ino, dan beberapa lainnya nomor tak dikenal. Sakura berniat mengirimkan pesan kepada Ino untuk menanyakan ada apa. Namun belum sempat niatnya itu tercapai, ponselnya kembali berdering.

"Moshi-moshi, Ino…?"

"Sakura? Darimana saja kau?!"

"Ah, gomenasai~ Aku baru menyadari ada telepon darimu."

"Oh, baiklah oke. Aku butuh bantuanmu, sekarang! Kau bisa kan?"

"Bantuan? Memang ada apa?"

"Sudahlah, nanti aku beritahu selengkapnya. Sekarang kau bisa datang ke taman Hiroshima kan? Sudah ya, kuharap kau bisa bergegas! Aku benar-benar butuh bantuanmu!"

"Tapi Ino—"

.Tuuuut Tuuut.

Sakura mengerutkan dahinya. Ia memutar mata bosan dan akhirnya dengan pakaian seadanya dan tas kecil yang diselempangkannya, ia pun bergegas pergi menuju tempat yang telah disebutkan Ino. Dalam perjalanan Sakura banyak bertanya-tanya, akan apa yang telah terjadi sebenarnya. Mendengar penuturan Ino yang kalap, membuatnya mau tak mau berpikir negative.

.Duk.

Sakura menubruk seorang anak kecil, namun belum sempat ia berniat menolongnya, anak itu telah lari meninggalkan Sakura sendiri. Sesaat Sakura menatap aneh ke arah anak itu, namun ia segera menampikkannya.

Mau tak mau Sakura pun kembali meneruskan langkahnya menuju taman yang sudah di janjikan Ino. Ia masih saja belum bisa menghilangkan perasaan-perasaan buruknya. Kata orang, jangan berprasangka buruk dulu sebelum tahu kenyataannya. Karena nanti hasilnya justru lebih buruk dari yang kita bayangkan. Seperti kejadian yang dialami Sakura satu ini…

"Hah…hah..hah… dingin." Sakura mengatur nafasnya sesaat. Saking buru-burunya ia sampai lupa untuk memakai jaket, akibatnya sekarang suhu dingin malam menyapa kulit putihnya.

"Sakura?"

Sakura menoleh ketika merasa seseorang memanggilnya. Awalnya ia mengira itu Ino, tapi ia baru sadar bahwa itu merupakan suara pria. Suara berat yang dikenalinya, dan sejak pagi mengganggu pikirannya. Siapa lagi kalau bukan aktor pemeran utama pria kita..

"Sa…Sasuke?" Sakura mengerjapkan mata menatap sosok berbalut jaket hitam dan kaos merah-nya dan juga tak lupa lambang Uchiha di lengan kanan jaket itu yang dibordir secara halus. "Se…sedang apa kau di sini malam-malam begini?"

"That's my line." Sahut Sasuke sambil menaikkan sebelah alisnya memandang Sakura. "Apa yang dilakukan seorang gadis perawan sepertimu di sini malam-malam begini?"

Sakura mengerutkan bibirnya ke depan. Disebut 'perawan' dalam usia segini memang merupakan sindiran halus bagi Sakura, namun ia merasa benar karena keperawanan memang tak seharusnya diberikan kepada pria yang bukan suamimu.

"Aku dipanggil oleh Ino kesini, sepertinya ia sedang dalam kondisi darurat." Jawab Sakura sambil mencoba mengedarkan pandangannya mengitari taman itu. Ia baru sadar taman begitu terlihat indah jika malam hari. Apa lagi sepertinya malam ini cukup ramai.

"Darurat ya… hmm…" Sasuke seperti mengetahui sesuatu. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkannya kepada Sakura. "Seperti ini yang disebut darurat?"

Sakura melongo melihat ponsel Sasuke dimana ditampilkan sebuah foto Ino, Hinata, Naruto, dan Sai yang sepertinya sedang melangsungkan pesta. Dibawahnya terdapat sebuah tulisan yang sekali lagi mengejutkan Sakura, atau mungkin membakar emosinya dalam sedetik.

From : Ino, informan.

Kami sedang bersenang-senang di sini, jadi kau juga bersenang-senanglah dengan Sakura. Ia akan menuju Taman Hiroshima dalam waktu dekat. Have Fun ya~

Ps. Jangan lupa menggunakan pengaman! (*plak* xD)

.Toeng.

"Eits.." Sasuke segera mengangkat tangannya menghindari cengkraman Sakura. Ia tahu benar nantinya Sakura pasti berniat membanting ponselnya. Itu bisa berbahaya.

"Menyebalkan!" pekik Sakura kencang. Emosinya sudah meledak-medak tak karuan. "Awas saja mereka! Akan aku balas besok! Khhh~!"

"Bukannya ingin merusak suasana ya, tapi bukannya besok hari libur?" sahut Sasuke dengan wajah polosnya. Melihatnya membuat Sakura semakin merasa kesal.

Sasuke terkekeh melihat tingkah Sakura di hadapannya. Tanpa sadar ia pun mengusap pelan pucuk rambut Sakura. Sakura pun tiba-tiba terdiam merasakan hangatnya suhu tubuh Sasuke yang tersalur dari ujung kepalanya. Sasuke terpaku saat melihat ekspresi manis Sakura di hadapannya. Dengan rona merah yang menghiasi kedua pipi Sakura, dan matanya yang berbinar-binar itu, sungguh… bisa menggoyahkan pertahanan Sasuke.

"Sasu—"

.Bruk.

Sasuke melepaskan jaketnya dan melemparnya ke kepala Sakura, hingga menutupi sebagian mukanya. Akibatnya pandangan Sakura jadi tertutup jaket itu. Namun saat Sakura akan melepaskannya, Sasuke menahan jaket itu agar tetap menutupi pandangan Sakura. Rupanya Sasuke tak ingin Sakura melihat ekspresinya yang malu ini, dan lagi ia juga tak ingin tiba-tiba menyerang Sakura bila melihat wajah Sakura yang manis itu.

"Pulanglah. Aku akan segera mengantarmu." Sasuke pun melangkahkan kakinya maju meninggalkan Sakura perlahan. Sakura tiba-tiba saja merasakan kekosongan dalam hatinya.

Melihat punggung Sasuke yang kian menjauh membuatnya merasa tak rela untuk berpisah dengan pemuda itu. Sakura berlari menuju ke sosok Sasuke. Ia melingkarkan tangannya memeluk Sasuke dari belakang. Sasuke pun tersentak mendapat perlakuan manis dari Sakura ini. Langkah Sasuke terhenti seketika. Meski menjadi pusat perhatian sekalipun, mereka tak memperdulikannya.

"Sakura, apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke lirih.

Sosok Sasuke masih diam mematung. Ia sendiri pun bingung akan melakukan apa. Ia ingin membalas, tapi ia takut akan melukai Sakura. Ia ingin menolak, tapi jujur saja ia tak ingin menjauhkan dirinya dari dekapan hangat Sakura.

"Aku…juga tak tahu… tapi aku… tak ingin berpisah dari Sasuke. Lalu aku harus bagaimana?" Sakura sendiri juga merasa malu mengatakan hal ini. Tapi ia sudah belajar untuk bersikap jujur. Pelukan Sakura mengerat, ia memberikan ketenangan untuknya sendiri agar tak gugup.

"Sakura… Kau tahu apa akibat dari perlakuanmu ini?" Sasuke meraih kedua tangan Sakura yang melingkar di tubuhnya. Perlahan pelukan Sakura dilepasnya.

Sasuke menarik pelan tangan Sakura, Sakura pun mengikutinya hingga tubuh mereka saling berhadapan. Sakura masih menundukkan kepalanya, ia belum bisa untuk menatap langsung ke mata Sasuke. Akhirnya Sasuke yang menarik dagu Sakura untuk menatapnya. Emerald bertemu onyx. Sedingin-dinginnya es, akan meleleh bila ditatap oleh kehangatan seperti itu.

"Aku mungkin tak akan bisa berhenti meski kau sudah kelelahan. Apa kau masih mau mencobanya?"

Pertanyaan Sasuke sungguh vulgar baginya, membuat matanya kembali terbuka lebar dan mukanya kembali bersemu. Ia teringat akan pesan yang berada di ponsel Sasuke.

Ps. Jangan lupa menggunakan pengaman!

Sakura segera membuyarkan lamunannya itu. Sasuke kini sedang menatapnya menanti jawaban akan pertanyaannya. Tapi Sakura sendiri tak tahu harus bagaimana. Jangankan Sakura, Sasuke saja sebenarnya malu sekali bertanya hal seperti ini. Meski ini mungkin bukan yang pertama kali untuk Sasuke, tapi hanya kepada Sakura lah ia meminta izin terlebih dahulu.

'Sesuatu sepertinya sedang mempengaruhiku.' Batin Sasuke. Ia tak ingin mengakui kalau memang dirinya telah tergoda akan pesona yang dimiliki Sakura. Ego keduanya saling diuji sekarang.

"Aku…akan mencobanya."

-ooOoo-

Suasana reremangan yang berada di ruangan itu begitu terasa. Sepasang kaum adam-hawa yang belum meresmikan diri mereka sebagai sepasang suami-istri telah bergumul di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa busana.

"Sakura~" Sasuke membelai lembut pipi Sakura yang terasa dingin. Itu pasti karena ia pergi keluar tanpa menggunakan jaket. Sakura pun hanya membalas perlakuan lembut Sasuke dengan senyuman manisnya.

Sasuke kini telah berada tepat di atas tubuh Sakura. Entah sejak kapan mereka sudah dalam keadaan telanjang bulat. Sakura pun tak sadar kapan ia kembali ke rumah dan melanggar janjinya dengan Karin untuk tidak membawa pulang seorang pria.

'Maafkan aku, Karin-neechan~' batinnya sambil memejamkan mata.

Sasuke kini mulai menciumi leher jenjang Sakura. Meninggalkan bercak kemerahan di sana. Ingin menandai bahwa Sakura adalah miliknya, bahwa gadis ini lah yang telah dipilihnya. Bahwa Sakura lah segala kehidupannya.

"Ennnh~" Sakura mencengram rambut pantat ayam Sasuke saat Sasuke mulai mengisapi puting kemerahan Sakura. Memberikan sang empunya sensasi geli yang baru pertama kali dirasakannya.

"Ahhh~! Sasu…" Sakura membuka matanya, melihat adanya sesuatu keras yang menusuk kewanitaannya. Ia belum siap, tiba-tiba saja rasa takut membanjiri hatinya. Sasuke yang menyadari hal itu pun kembali melumat bibir ranum Sakura.

'Ia gemetar. Imutnya~.' Batin Sasuke. Matanya sedikit terbuka untuk sekedar melihat alis Sakura yang berkerut. Ia merasa sangat gemas. Sungguh, ia tak ingin berlama-lama lagi mengulur waktu.

"Mmmmh~! Aaahh~!" Sakura memekik kencang. Sasuke menahan nafasnya merasakan sensasi hangat menjepit kejantanannya.

Sasuke melirik Sakura, tubuhnya masih gemetar hebat. Air mata pun tak bisa dibendung untuk tak mengalir di sudut matanya yang terpejam. Sasuke seketika merasakan sesak melihat ia mungkin yang menyebabkan air mata itu tumpah, hanya saja ia tak menyesal. Karna ia lah yang mendapatkan keperawanan Sakura.

"Sakura…" Sasuke membelai pucuk kepala Sakura. Kelopak mata Sakura yang terpejampun perlahan membuka matanya, menampilkan emerald yang berkaca-kaca.

.Dheg.

Sekali lagi rasa sesak membendungi perasaan Sasuke. Entah setan apa yang merasukinya, naluri pria-nya bangkit seketika. Tanpa mendapat persetujuan dari Sakura, ia menggerakan pinggangnya.

"Aaaah ~Aaa~Aaaahh~eennn~" Sakura mulai mendesah, namun sesekali desahannya terhenti karena ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Sakura masih merasakan sedikit perih di bawah sana, tapi suaranya tak keluar untuk sekedar menolak.

"Sakura…" Sasuke membuka pelan tangan yang berada di mulut Sakura. Ia menciumi tangan mungil itu. Bagaimana pun ia tak ingin dibenci Sakura setelah ini, jadi ia berusaha menahan hasratnya sebisa mungkin.

"Sasuke~ Sakit~" rintihan Sakura mengiris-iris perasaan Sasuke. Ia menundukkan kepalanya. Ia memeluk tubuh gemetar Sakura. Air mata Sasuke pun tak dapat dibendung lagi. Ia merasa mabuk akan aroma Sakura, rasanya ingin sekali memakan Sakura dan menelannya utuh-utuh. Tapi ia juga tak bisa melihat Sakura menangis menahan sakitnya.

"Sasuke~" Sakura mengelus rambut Sasuke yang berada di perutnya. Sasuke mengeratkan pelukannya di pinggang Sakura. Meski di bawah sana mereka telah menyatu, Sasuke sama sekali tak menggerakan kembali pinggangnya untuk menggenjot Sakura.

"Sakura… kau mau… menjadi pacarku?" tanya Sasuke dengan nada lirihnya. Ia sungguh merasa hina. Menyatakan cinta kepada seorang gadis setelah ia merebut keperawanannya. Ia tak berharap banyak kalau Sakura akan menerimanya. Gadis seperti Sakura mungkin akan merasa jijik kepadanya.

Sakura masih terdiam. Ia tahu betul kalau Sasuke mencintainya, tapi ia merasa bukanlah tipe wanita yang disukai oleh Sasuke. Perasaan ragu menghampirinya, meski hatinya mengatakan bahwa ia pun menyukai Sasuke.

"Sasuke… mencintaiku?"

Mendengar pertanyaan Sakura, Sasuke pun mengangkat kepalanya. Sakura terkejut ketika melihat mata Sasuke yang berlinang, dan perutnya yang dibasahi oleh air mata. Ia mengusap air mata Sasuke perlahan.

"Apa itu perlu dipertanyakan?" Sasuke tersenyum sambil menghapus kembali air matanya. Sungguh egonya telah runtuh total, hanya di hadapan Sakura seorang.

"Aku selalu mencintaimu."

Sakura tersenyum. Ia berpikir untuk mempercayai hatinya. Sasuke telah mengajarkan dirinya untuk percaya dan mengikuti hatinya. Sakura jadi ingat saat dimana ia harus memilih siapa yang akan dipercayanya.

"Aku telah memutuskan untuk percaya, bila seandainya keputusanku ini salah… aku yang akan menanggungnya."

Dengan kepercayaan yang dipegangnya, akhirnya ia mengetahui apa yang telah terjadi dan siapa musuh yang sebenarnya. Semua kebohongan akan terungkap nantinya. Cepat atau lambat. Sakura akan mempercayainya kembali. Mempercayai apa yang hatinya bisikkan.

"Aku… juga menyukaimu, Sasuke-kun~" Sakura membalas lirih, namun cukup untuk ditangkap oleh telinga Sasuke. Awalnya Sasuke bengong, ia masih tak percaya akan apa yang didengarnya. Menyadari hal itu, Sakura mencoba menegaskannya kembali.

"Mulai sekarang, Haruno Sakura adalah milik Uchiha Sasuke, dan Uchiha Sasuke adalah milik Haruno Sakura." Sahut Sakura sambil tersenyum manis kepada Sasuke.

Sasuke langsung memeluk erat tubuh Sakura. Menekannya seakan ingin menyatukan Sakura dengan tubuhnya. Sasuke memejamkan mata, perasaan bahagia tak bisa lagi ditutupinya. Ia mengecupi tengkuk Sakura, membuat Sakura bergidik geli dibuatnya.

"Akhirnya…aku mendapatkanmu."

Dengan ucapan itu pun Sasuke kembali menindihi tubuh Sakura dan menyerang kedua gunung kembarnya. Menghisapnya teratur secara bergantian. Keliaran Sasuke meningkat pesat sekarang. Sakura sampai kewalahan dibuatnya. Saat Sasuke mulai menggigiti puting Sakura, Sasuke bisa merasakan pijatan halus di kejantanannya.

'Ukh~ Sial, dia menyempit.' Pekiknya dalam hati. Sasuke pun tak bisa menunggu untuk tak memuaskan 'Sasuke kecil'-nya itu.

"Enghh~Sasu…eeennn…ke…." Sakura mengeratkan pelukannya ke leher Sasuke. Tubuhnya bergoyang hebat akibat perlakuan Sasuke di atasnya.

"Eeeeenghh~" Sakura melenguh saat merasa Sasuke menekan titik nikmatnya. Memanjakan tubuhnya dengan dorongan dan tekanan pada selangkangannya.

"Sakura~" Sasuke pun tak lepas dari pesona sang gadis. Dengan segenap perasaannya, ia memaju-mundurkan pinggulnya menekan titik Sakura. Sakura sampai mengerang bebas akibat perlakuan pemuda yang baru saja resmi menjadi kekasihnya ini.

"Sasu…Aaahh~Aaaa~Aaaakhh~!" Sakura mengerang keras menandakan klimaks-nya yang pertama. Selama hidupnya, baru kali inilah ia dikenalkan dengan hal seperti ini. Kehidupannya sebelum-sebelum ini sungguh biasa-biasa saja. Hingga ia mengenal Sasuke. Selanjutnya, mungkin ia akan mengalami masa yang mendebarkan… :3

Seseorang ternyata sedang mengintip kedua insan yang bergulat itu. Salah mereka juga tak menutup jendela sehingga orang itu bisa dengan mudah melihatnya dari teropongnya. Orang itupun mengalihkan pandangannya ke tas kecil yang dibawa Sakura tadi. Di sana terlihat sebuah gantungan boneka teddy bear. Ingat kan kalau Sakura memiliki benda kesayangan bernama Clife? Namun itu bukanlah Clife.

Orang misterius itu mengeluarkan gantungan yang sama dari saku celananya. Yup, itulah Clife. Lalu kalau Clife ada di tangan orang itu, milik siapa gantungan yang berada di tas Sakura?

"Rencanaku lebih menarik, bukan?" orang itu kembali memasukkan Clife ke dalam sakunya dan menutup teropongnya. Sepertinya ia sudah tak berniat mengintip pasangan SasuSaku itu.

Yang pasti sepertinya gantungan itu yang membuat Sasuke merasa sedikit aneh pada perasaannya. Efek dari boneka itu sendiri mungkin belum diketahui.

Sebaiknya kalian segera sadar, Sakura… Sasuke…

Benda itu bisa saja merusak hubungan kalian…

"Karna Seni itu abadi." Sosok misterius itu pun masuk ke dalam ruangannya dan menutup jendelanya.


-TBC-


Nah... lemon di chap ini gimana?
Sengaja gak dibuat terlalu 'Uhh' nih...
Soalnya lagi gak mesum pikirannya... he he he xD

Oh ya, Gomen karena telad update..
Soalnya ujan di sini... sinyalnya jadi sekarat~
Tapi syukur deh bisa update juga hari ini.

Mind to review?
Please review my Fic...

Keep Trying My Best!

~Shera~