~Balasan Reviews~
CloUdistA-chan : lemonnya keluar di chap kemaren nih... gimana?
Kalo untuk chap selanjutnya mungkin cuma sekilas-sekilas doang... xO *gomenne~
Sasori? Ada dooongg ~ :3
Pernah masuk kok...di chap berapa ya..tapi aku yakin pernah kok... :o
Wah? Masa sih cepet? Padahal chap ini aja telad... T.T
sasusaku Kira : Itachi cuma sligh doang di sini... bukan termasuk peran... xO
Anggota AKATSUKI juga ga sepenuhnya kuambil.. cuma beberapa doang kok...
hatsune Cherry : hweeee... xO *cepe deeehhh...
Oke deh... gomen telad 1 hari yaaa...
haruno Michiko : kayaknya sih belum nih... tapi nanti Shera munculin kok tuh anggota... :9
He he... sankyuu.. xD
*kecuppelukjuga* ha ha ha... xD
Oh...dan mengenai reviews kamu yang telad nyampenya... gapapa kok..
Yang penting kamu bisa baca Fic nya... :D
Shera turut seneng kok pas reviews-nya nyampe..
Karasu-chan : Masa ga ngerti sih? T.T
Hweee~ nggak nyambung ya ceritanya?
Natsu45 : tentuuuu~ :D
yanchan : haio apa...? :9
Lemonan kan? xD
ma Simba : Wah,... masa sih? Bisa yah ngebutnya? :D
Iya deh~ Tapi gomen telad 1 hari yaa~ T.T
Chibiusa : Iya deh...semoga masih inget sama chap sebelumnya ya... T,T
SugarLessGum99 : Nye he he... ashem gak? xD ato kecut ? *plak*
Nye he he ada apa dengan Karin? Gapapa sih sebenernya... xD
Iya nih Sasori-kun dah muncuuulll... asik kaaaan~
Oh ya, tebakan kamu hampir semuanya benar lho.. salut deh... :D
Mozaik : Wah? Masaka? Aduhh~ Lain kali hati-hati lagi deh~ xO
Iyah tapapa.. namanya juga Fiction, ya kadang mirip sama cerita lain lah~
retrogami : SaiIno-nya gak mau diintipin nih!~ gimana doooong? xO
he he tingkah mereka luchu yaah~
Lemonnya implisit doang nih kayaknya...
Uchiha : Masa sih? Aduh senengnya~ xD *dzig, lebay
Hiyoshi Hyun : Wah, oke deh,... udah coba Shera ilangin nih... kalo masih ada yang ketinggalan belum diremove mohon maklum yaa... xO
Karin mencurigakan kah? Liat aja deh siapa yang sebenernya mencurigakan.
Waduh, tadinya Shera ga mau bahas masa lalu Sasuke nih... tapi apa boleh buat deh.. nanti Shera sebutin di chap2 akhir ya...
Eitttaaa~ Bukan Clife yang punya.. tapi... ah.. liat aja deh di chap ini~
Zenka-chan : ah, enggak kok, enggak... tenang aja ya... xD
Wah kalo itu nanti aja deh kasih taunya~ :3
Kiki-chan : Bukan.. dibagian itu adalah... haio siapa anggota AKATSUKI yang punya hobi maen boneka? xD
tebak sendiri ah~
Orang ketiga? so pasti ada dooong~
Zura-chan : hush ah~ Anak kecil ga boleh baca Lemonan... xD
Iya it akatsuki... lebih tepatnya siapa haio?
Nanti deh di chap ini kuperjelas yaa~
Naomi-chan : iya nanti adain deh... tapi cuma sligh aja yah... Shera usahain sebisa mungkin biar jelas deh~
hadeh... Nao-chan mah~ bikin kaget aja nih... T.T
betul! itu memang Sasori~ xD
nanti deh aku kasih senter (?!) *dzig* wk wk wk
adem ayem : iyaaa...okey~
Yoo-chan : Kurang ashem yah? gomenne~ soalnya gak ada hasrat ingin mesum sih~ xD *dzig!
Apa yaa~ Kasie tahu gak ya! nanti juga ketahuan kok sebenernya gimana~ :3
Uchiharu : cuka cama kamyu ugaaa~ xD *dzig, alay
Enjoy Reading~
"ANBU"
.
.
Mission 6 : What Else?! D*mn AKATSUKI!
(Apa lagi?! AKATSUKI Sialan!)
.
Enjoy Reading
.
.
"Jadi… apa yang terjadi?"
Sakura menatap bosan ke arah dua sahabatnya yang sedang 'KEPO' sekali pagi ini. Padahal ia baru saja datang ke sekolah, Ino dan Hinata sudah menginterogasinya dengan pertanyaan yang menurutnya sangat konyol. Bagaimana tidak, Sakura masih kesal karena dibohongi oleh Ino malam itu.
"Sakura, kau masih marah pada kami ya~" Hinata mengerutkan dahinya. Ia juga sebenarnya merasa tak enak telah membohongi Sakura. Tapi saat itu Ino memaksanya.
"Yah, memang aku kesal. Tapi mau bagaimana lagi…" keluh Sakura. Ino dan Hinata saling berpandangan sejenak.
"Jadi benar kalian telah melakukannya?" tanya mereka kompak.
.BLUSH.
Ditanya terang-terangan seperti itu membuat Sakura mendadak kembali teringat kejadian rincinya. Dimana Sasuke sama sekali tak memberinya kesempatan untuk tertidur, akibatnya keesokan harinya ia tidur seharian. Untungnya Karin sepertinya tak pulang hari itu. Meski Sakura cemas juga mengapa sang kakak belum kembali, tapi tak bisa dipungkiri ia juga bersyukur akan hal itu.
"Wah, jadi benar?! Astaga, kalian benar-benar gerak cepat ya? Sekarang kalian resmi pacaran, kan?" kini Ino memborong banyak pertanyaan kepada Sakura. Hinata hanya mengerutkan dahi melihat kelakuan Ino itu.
Untung saja para anggota pria lainnya belum datang. Sasuke sudah datang tadi, tapi ia memilih untuk langsung ke markas ANBU saja untuk memantau keadaan. Sedangkan Naruto dan Sai sepertinya belum berangkat.
"Yaaa, kami pacaran. Tapi… aku merasa aneh, saat itu… Sasuke seperti bukan dirinya saja…" sahut Sakura curiga.
"Ehhh? Ternyata Sasuke seliar itu ya? ck ck ck." Mendengar pernyataan Ino, baik Sakura maupun Hinata jadi salah tingkah sendiri dibuatnya.
"Ti…tidak! Bukan itu maksudku!" bantah Sakura tegas. "Maksudnya, saat itu mata Sasuke seperti gelap sekali… seperti sedang kerasukan atau apalah… Meski ia tak melakukan hal kasar kepadaku…"
"Hmmm… Ternyata Sasuke sedikit tipe sadistic ya…" tutur Ino. Sekarang gantian Sakura dan Hinata yang saling bertukar pandangan. Mengerti bahwa Sakura dan Hinata belum tahu hal itu, Ino pun menegaskan.
"Sadistic adalah orang yang suka menyiksa pasangannya saat melakukan sex."
.GUBRAK.
Sakura terkapar (?) lemas seketika. Ia sungguh salah menceritakan hal seperti ini kepada Ino.
"BUKAN!" teriaknya kencang. "Sudahlah, aku mau ke markas saja menyusul Sasuke…!"
Saat Sakura bangkit dan meraih tas-nya, tiba-tiba terdengar pintu yang terbuka. Ternyata Sai yang sedang memasuki ruangan itu. Pandangan Sakura dan Sai bertemu sesaat, namun Sakura segera melangkah untuk keluar dari ruangan itu. Ino pun segera meloncat memeluk lengan Sai.
"Sai-kun~ selamat da…. Eh?" Ino melongo kaget saat rengkuhannya dilepaskan oleh Sai. Pandangan Sai masih terpusat pada sosok Sakura yang kian mendekat. Melihat hal itu, Sakura pun menghentikan langkahnya menatap Sai dan Ino bergantian.
Sai seperti terbengong menatap Sakura. Matanya bahkan seperti sulit untuk berkedip.
"Apa?" sahut Sakura. Ia merasa Sai terlalu intens melihatnya, ia menjadi risih. "Kalau ada yang mau kau katakan, katakan saja… Kenapa melihatku seperti itu?"
"Sakura…" Sai mendekat ke arah Sakura perlahan. Ino dan Hinata saling berpandangan bingung. Tak biasanya Sai seperti ini. Rasanya sesuatu menyesak dalam hatinya, seakan mengendalikan hampir seluruh tubuhnya.
"Tidak!" pekik Sai tiba-tiba, ia menunduk dan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut tak karuan. "Apa yang terjadi kepadaku, rasanya aku seperti melihat Sakura sebagai Ino. Perasaanku tak bisa ditahan untuk tak menyentuhnya. Ada apa ini?!"
Ino merasa sesak saat Sai mengucapkan kalimatnya. Ia cemburu, tentu saja. Selama ini Sai tak pernah berlaku seperti itu kepada gadis lain. Sekalinya perhatian, yang akan diperhatikannya lebih adalah laptop kesayangannya. Tapi kini mendadak Sai seperti menaruh rasa pada Sakura.
"Sai, bercandamu sama sekali tak lucu. Aku sedang tak mood." Sakura yang merasa sungkan dengan suasana ini akhirnya memilih untuk meneruskan langkahnya keluar dari ruangan itu.
Sekilas bahu Sakura dan Sai bertabrakan. Sekali lagi setruman kecil seakan menyebar ke seluruh tubuh Sai, membuatnya kaget dan langsung menarik tangan Sakura. Tubuh mungil Sakura pun terhempas ke dinding dengan kuncian di kedua lengannya.
"Sai!" Ino mencoba menarik tangan Sai yang mengunci tubuh Sakura. Sedangkan Sakura sendiri meronta menahan sakit yang melanda pergelangan tangannya.
.PLAK.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pucat Sai. Ino lah pelakunya. Kesadaran Sai meningkat seketika merasakan perihnya kuku-kuku Ino yang menggores pipinya. Saat Sai berbalik menatap Ino, ia tersentak. Tubuh Ino gemetar, matanya telah mengeluarkan air mata dan membentuk jalurnya tersendiri di kedua pipinya.
"Sai, ada apa denganmu…? Sadarlah!" Ino tak mengerti apa yang terjadi. Tapi rasa sakit terus memenuhi hatinya. Ia baru pertama kali ini menampar Sai sekeras itu. Tapi itulah bentuk perasaannya. Bentuk rasa kesal dan cemburunya.
Sai yang melihat kondisi Ino akhirnya bangkit dari posisinya dan menghampiri Ino. Ia meraih kepala Ino dan mengusap rambut pirangnya. Ia sendiri tak mengerti, mengapa setiap melihat Sakura ia seperti kehilangan kendali. Sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi sekarang.
"Maafkan aku, Ino…"
Merasa suasana sudah mulai menenang, Sakura melangkah hati-hati keluar dari ruangan itu. Pikirannya ikut kacau. Ia terus bergumam menganalisa apa yang baru saja terjadi. Ia mencoba memutar otak jeniusnya untuk menemukan jawaban dari keanehan yang muncul belakangan ini.
'Sikap Sai tadi… sama seperti sikap Sasuke malam itu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?' batin Sakura.
.Cklek.
Sakura menutup kembali pintu markas ANBU. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang seharusnya berada di ruangan ini. Lalu tanpa disadarinya, sebuah rengkuhan datang melingkari pinggangnya. Sakura mengetahui siapa sosok itu, karena aroma maskulin khas yang dikeluarkannya sudah menyatu dalam indra penciumannya.
"Sasuke-kun~" sapanya sambil mengusap tangan itu perlahan.
"Sejak kapan kau memanggilku 'kun', Sakura?" Sasuke tersenyum di sela-sela helaian rambut Sakura. Dengan jahil ia menciumi tengkuk Sakura, Sakura pun mencubit tangan Sasuke ketika geli dirasanya.
Perlahan Sasuke melepaskan rengkuhannya dan membalikkan tubuh Sakura. Mereka saling bertatapan. Menjerat dengan pesona yang dimilikinya. Sakura terlelap dalam kelamnya mata Sasuke, dan Sasuke pun terlarut dalam hangatnya mata Sakura.
Bibir mereka menyatu. Mendecapkan suara-suara erotis yang menggugah nafsu. Perlahan tangan Sasuke dengan jahilnya memasuki seragam sekolah Sakura dari belakang, Sakura hendak melawannya, namun tubuhnya tertahan oleh himpitan tubuh Sasuke. Sasuke sendiri tak menyangka bahwa ia seagresif ini kepada wanita. Hampir saja Sasuke bisa meraih kaitan bra Sakura dan melepasnya, kalau saja seseorang tak mengganggunya.
.CTAK.
Sakura dan Sasuke refleks saling berjauhan. Mereka melirik ke lantai, di sana ada sebungkus permen lollipop yang telah hancur karena dilempar keras membentur tembok. Permen itu bahkan sampai pecah menjadi beberapa keping. Sakura dan Sasuke saling berpandangan sejenak, mereka kemudian beralih ke sumber lemparan itu.
"Na…ruto?" Sakura mengerutkan dahinya menatap sang pelaku. Naruto menatap sinis ke arah mereka, atau mungkin tepatnya ke arah Sasuke. Ia berjalan mendekat dengan tergesa-gesa.
"Hey, apa yang kau lakukan itu berbaha—"
.Duk.
Belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, Naruto sudah mendorong kasar tubuh Sasuke hingga membentur dinding. Saat Sakura hendak menolongnya pun Naruto menarik paksa tangan Sakura, menyeretnya dan menghempaskannya di sofa.
"Naruto! Apa yang… Kyaaa~! Naruto!" Sakura memekik saat Naruto mencoba menarik wajahnya dan menciumnya. Ia menolak sekuat tenaga. Air matanya telah membendung, tenaganya tak cukup untuk melawan Naruto yang notabe seorang pria itu.
Sasuke yang mendengar teriakan kekasihnya itu tak bisa tinggal diam saja. ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa sahabatnya lah yang menyerangnya duluan dan sekarang sedang memaksa Sakura, gadisnya. Emosinya melunjak seketika.
"Naruto~ henti…kan~!" Sakura masih mencoba meronta menolak perlakuan kasar Naruto kepadanya. Kepalanya mencoba menoleh menjauhkan diri dari wajah Naruto.
.Bhug.
Bogem mentah mendarap di pipi sang rubah. Sakura segera meringkuk di balik tubuh besar Sasuke. Naruto pun terhempas ke lantai dengan sedikit bercak darah mengalir di sudut bibirnya. Naruto mengusap darah itu dan ia pun mendecih membalas tatapan benci dari Sasuke.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Suara pintu terbuka dan teriakan Ino terdengar. Sakura pun segera lari ke pelukan Ino, dan Hinata mencoba menghampiri Naruto. Ino mengelus-elus rambut Sakura, ia menatap ke arah Sasuke dan naruto secara bergantian. Sai pun mengalihkan pandangannya dari Sakura, ia masih takut kalau-kalau ia jadi ingin menyerang Sakura lagi nantinya. Dan ia berjalan mendekati Sasuke.
"Apa yang sedang terjadi, Sasuke?" Sai mencoba menanyai Sasuke, tangannya meraih bahu Sasuke dan menepuknya pelan. Sasuke kembali mendecih dan menghempaskan tangan Sai.
"Tanya saja padanya!" pekik Sasuke kencang, ia memposisikan dirinya untuk duduk di sofa. Ia tak sudi untuk menatap Naruto, begitu pula sebaliknya.
"Naruto-kun, apa yang sebenarnya terjadi?" Hinata mengusap pelan bahu Naruto, namun hatinya tercekat ketika Naruto menghempaskan kasar tangan Hinata. Hinata pun memegangi tangannya yang sedikit kemerahan.
"Cih. Aku hanya tak suka melihatnya menyentuh Sakura-chan." Pekik Naruto. Jawabannya sungguh mengguncangkan hati Hinata. Semua orang tahu, Naruto selalu caper (cari perhatian) pada orang lain, khususnya kepada Sakura. Tapi mereka tak pernah menyangka kalau akhirnya akan seperti ini.
"Apa kau bilang?!" emosi Sasuke kembali menyulut mendengar jawaban dari Naruto itu. Ia hampir saja bangkit kalau Sakura tak bergegas menahannya.
"Tunggu. Naruto, kau menyukai Sakura?" tanya Ino menegaskan. Perlahan tanpa disadari Sai, Ino mencoba menjauhkan Sai dari Sakura.
"Aku juga tak tahu. Hanya saja tiba-tiba perasaanku kesal melihat mereka bersama." Tutur Naruto lagi.
Sungguh, hari ini benar-benar aneh. Apa yang sedang terjadi pada para anggota pria? Sesuatu pasti telah merusak pikiran mereka. Tapi sejak kapan? Seingat Ino, saat pesta bersama malam itu, baik Naruto maupun Sai terlihat biasa-biasa saja. Dan semua terjadi setelah melihat Sakura pagi ini. Pasti telah terjadi sesuatu pada Sakura.
"Sakura, apa kau meminum atau makan sesuatu yang aneh pagi ini? Atau kau memakai sesuatu yang lain dari biasanya?" Ino mulai bergerak mendekati Sakura. Sakura pun bangkit dari sofa dan menghadap Ino.
"Setahuku aku tak melakukan semua yang aneh pagi ini. Aku melakukan hal yang biasa aku lakukan tiap harinya."
"Ini aneh, benar-benar aneh. Pasti sesuatu telah terjadi. Dan mungkin ini ulah AKATSUKI. Tapi apa? Apa yang menjadi sumber keanehan ini? Ukh~! Menyebalkan!" Ino terlihat sangat frustasi. Bagaimana tidak, ini menyangkut Sai juga. Menyangkut pacarnya, tentu saja ia tak akan membiarkan hal ini terjadi begitu saja.
'Tadi aku sarapan seperti biasa, minum susu seperti biasa, memakai parfum seperti biasa,…' Sakura mencoba mengingat-ingat kejadian yang dilaluinya pagi ini. Lalu saat ia hendak mengeluarkan sesuatu dari dalam tas-nya. Ia melirik gantungan teddy bear yang berada di sana.
"Ah!"
Pekikan Sakura membuat seluruh perhatian pun beralih kepadanya. Ia mengangkat gantungan boneka beruang itu tinggi-tinggi. Saat Sasuke, Sai, dan Naruto melihatnya, mereka sontak merasakan perasaan yang sama seperti yang pernah dirasakannya tadi.
"Ada apa dengan Clife-mu itu, Sakura?" Hinata menatap Sakura bingung.
"Aku menemukan sumber permasalahan ini…!" saat Sakura hendak memberitahukannya kepada semua orang, ia terkejut melihat Sasuke, Sai, dan Naruto yang berbondong-bondong berlari menghampirinya dengan aura yang seakan siap menerkam Sakura.
"KYAAAAAA~!"
Dengan pekikan keras dari Sakura itu, terdengar juga sebuah pukulan kencang dan jeritan pria dari arah markas ANBU itu.
Kini Sai, Naruto, dan Sasuke duduk berlutut di lantai dengan wajah yang mendapat luka dari Sakura. Sedangkan Sakura sendiri sedang meringkuk sambil memegangi gantungan beruang yang menurutnya menjadi sumber permasalahan ini.
"Kalian ini, tahan diri kalian sedikit!" Ino sudah sangat kesal dengan ulah para pria yang menurutnya kampungan ini. Hinata pun sebisanya mencoba mencegah Naruto agar tak memandang Sakura.
"Sakura, kau bilang kau sudah tahu sumbernya?" Hinata melirik ke arah Sakura, dan diikuti oleh Ino. Sakura pun mengeluarkan boneka beruang itu kepada Hinata dan Ino, namun ia mencoba menyembunyikannya sehingga para pria tak bisa melihatnya. Itu untuk jaga-jaga agar mereka tak menyerang Sakura lagi.
"Kurasa teddy bear ini lah yang menjadi sumbernya." Sahut Sakura. Hinata dan Ino saling bertukar pandangan tak mengerti sejenak, namun menerka kembali memperhatikan Sakura yang sedang mengutak atik teddy bear itu.
"Bukankah itu Clife-mu? Kau sudah lama memilikinya bukan?" Ino mencoba menganalisa, namun Sakura sepertinya sudah menemukan jawaban itu. Ia segera melepas tali yang terikat di leher boneka beruang itu.
"Tali yang berada di leher Clife berwarna biru tua, sedangkan ini berwarna merah. Lagipula…" Sakura membuka gulungan yang berada di dalam tali kecil itu. Di dalamnya terdapat suatu kertas dengan sebuah lambang awan merah. "Lihat kan, inilah sumbernya."
"Sudah kuduga, pasti ulah AKATSUKI." Hinata menegaskan. Sai, Naruto, dan Sasuke masih saling terdiam. Mereka merasa akal sehat mereka kembali perlahan. Mungkin karena kertas itu telah dibuka oleh Sakura.
"Baiklah, sebaiknya kita bakar saja boneka sialan ini." Ino segera mengambil gantungan teddy bear itu dan membawanya keluar dari ruangan.
Sementara itu, di tempat yang jauh dari markas ANBU, seseorang sedang tertawa jahil memperhatikan laptopnya. Ternyata di layar laptop itu terdapat rekaman Sakura dan kawan-kawan yang sedang bertengkar akibat tingkah para anggota pria yang mendadak agresif dan menyerang Sakura.
"Kau lihat apa?" seseorang datang menghampirinya, ia ikut melihat apa yang ditampilkan di layar laptop itu. "Jangan bilang kau menggunakan 'teknik boneka'-mu itu lagi? Haaa…aahhh… membosankan. Kau ini pria, berhentilah bermain boneka!"
"Hey! Jaga omonganmu! Itu bukan sembarang boneka, aku sudah memasukkan mantra dari Konan dalam boneka itu. Lagipula, kau tak mengetahuinya? Seni adalah keabadian." Sahut sang pemuda dengan nada percaya dirinya. Mendengar kalimat terakhir darinya, pemuda lainnya itu menggeram.
"Bodoh, Seni adalah ledakan! Kau tak lihat ulahku saat meledakkan panggung di KHSI?! Itulah seni!"
"Seni itu Abadi!"
"Seni adalah Ledakan!"
"Abadi!"
"Ledakan!"
"BONEKA!"
"BOM!"
.Toeng.
Apa-apaan ini…mereka malah asyik bertengkar sendiri. Padahal sebenarnya apa yang mereka perdebatkan itu sama sekali tak penting. Yah, abaikan saja mereka… *dibantai* xD
Beberapa saat berlalu, Ino pun kembali ke ruangan itu. Ia mengibas-kibaskan tangannya di depan leher untuk mengambil beberada udara. Suasana seakan kembali seperti semula. Tapi Sasuke, Sai, dan Naruto masih saling diam-diaman tak memandang satu sama lain.
"Hey, Hey, kalian ini bukan anak Play Group lagi yang harus dituntun untuk berjabat tangan kan?" sahut Ino malas. Ketiga pemuda itupun saling berpandangan sejenak, namun sekali lagi pandangan mereka berlalu begitu saja. sepertinya mereka merasa tak enak satu sama lain.
"Ehem… baiklah. Kita bahas saja mengenai boneka kutukan itu." Sasuke medehem mencoba mengambil kembali kewibawaannya. Ia pun bangkit dari sofa dan memasang raut muka serius.
"Sepertinya boneka itu lah yang mengendalikan pikiran kita hingga seperti itu. Dan boneka itu hanya berpengaruh pada laki-laki saja." Naruto mencoba menyesuaikan dirinya dengan suasana. Sedikit banyak Ino, Hinata, dan Sakura lega melihatnya.
"Kalau begitu, bila disimpulkan… AKATSUKI bisa membuat ledakan, bisa menggunakan mantra atau ilmu hipnotis, ahli hacker-cracker sepertiku, dan seorang lagi mungkin penyuka boneka." Sai mencoba menganalisis, ia kembali men-turn on-kan laptopnya.
"Mengapa bisa penyuka boneka? Apakah artinya mereka mempunyai anggota wanita?" Sakura memiringkan kepalanya bingung.
"Bisa jadi, itu karena benda yang dipilihnya adalah boneka, dari benda-benda lain yang dimiliki oleh Sakura." Terang Sai.
"Itu pasti karena mereka mengetahui kalau Sakura selalu membawa-bawa gantungan boneka itu, sehingga mereka berpikir kalau tindakan mereka ini tak akan ketahuan dan sulit terdeteksi." Sambung Ino memberikan argumen-nya.
"Tapi tak banyak yang mengetahui kalau Clife adalah benda kesayangan Sakura, kan?" Hinata pun mulai angkat bicara.
"Atau bisa saja—"
"Ia memiliki koneksi dalam." Sasuke memotong ucapan Sai.
"Ya, benar sekali. Itu artinya, mereka memiliki mata-mata yang dekat dengan kita, atau lebih tepatnya… dekat dengan Sakura." Terang Sai.
"Tapi siapa? Mungkinkah salah seorang dari kita?" Hinata mencoba bertanya-tanya.
"Kita belum pasti akan hal itu. Yang jelas, sebaiknya kita waspada. Kita tak tahu kan, apa yang direncanakan AKATSUKI itu selanjutnya." Sahut Ino. Ia memposisikan dirinya terduduk di dekat Sai. "Sai-kun, apa ada kabar baru di website?"
"Biar kucek." Sai membuka website ANBU, dan seperti biasa, sebuah layar besar turun dari langit-langit memperlihatkan apa yang sedang dibuka Sai.
"Ah! Ada satu pesan masuk lagi. Tapi ini bukan dari AKATSUKI, tapi dari member kita." Sai mengklik pesan itu dan membuka data dari sang pengirim pesan.
Sebuah profil lengkap dengan fotonya terpampang di sana, mulai dari alamat rumah, pekerjaan orang tua, jumlah saudara, tinggi badan, ciri-ciri khusus, ternyata benar… ANBU tak sembarang menerima member untuk dapat mengajukan permintaan jahil di website-nya.
Seorang gadis dengan rambut pirang kuncit empat, dan postur tubuh yang porposional. Seragamnya sama seperti seragam milik kakaknya Sakura, Karin. Itu menunjukkan identitasnya sebagai murid dari Suna High School.
"Temari, salah seorang murid di Suna." Sai sekali lagi mengklik tombol enter untuk membuka pesan yang ada di dalamnya.
Beberapa waktu ini, terdengar kabar dari Kirito High School bahwa seseorang sering memotret para gadis yang sedang berganti pakaian. Salah seornag korbannya adalah adikku, jadi aku tak bisa tinggal diam begitu saja. Namun tak lama orang itu mulai diketahui, dengan ciri-ciri bahwa ia berambut pirang panjang dan sebagian poni menutipi mukanya, dan biasanya ia selalu berkeliaran di dekat ruang ganti wanita.
Kuharap kalian bisa berbalik menangkapnya dan mengerjainya, buat dia kapok!
Aku mohon, ANBU-sama.
"Jadi….?" Sai menutup kembali pesan itu dan layar pun kembali tertutup masuk ke langit-langit. Terkadang Sakura sempat bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa layar sebesar itu masuk ke langit-langit? (Aish… kepo banget sih… xD *dzig*)
"Yah, aku ingin menghilangkan mood tak enak ini sih." Sahut Ino menanggapi.
"Lumayan juga, sudah lama kita tak menjalankan misi." Tanggap Sasuke santai, ia kembali mengeluarkan permen lollipop dari dalam sakunya.
"Lumayan untuk olah raga! Kita juga bisa sekaligus berlibur ke Kirigakure!" pekik Naruto semangat.
"Yosh! Sudah diputuskan! Ayo berangkaaaaatttt~!" Sakura pun ikut terbawa suasana.
Saat semua sedang bersorak-sorai senang menyambut datangnya misi baru untuk ANBU, Hinata malah sebaliknya. Ia terlihat gugup dan tak tahu harus mengatakannya bagaimana. Ia perlahan berjalan mendekati kerumunan ribut itu.
"A…anu…" Semua pun tiba-tiba menghentikan sorak-sorakannya. Mereka berbalik menatap Hinata yang terlihat makin gugup.
"A..aku bukannya mau mengganggu kesenangan kalian… Tapi..bukankah sebelumnya kita harus menyelesaikan berkas-berkas OSIS untuk diserahkan kepada kepala sekolah besok?"
.TOENG!.
Astaga, kalian tak lupa kan kalau selain sebagai ANBU, kalian juga adalah OSIS. Dan tugas OSIS yaitu memberikan laporan hasil kerja kepada kepala sekolah secara rutin setiap minggu-nya. Akhirnya suasana yang awalnya terasa menyenangkan dan ringan, seakan mendapat sambaran petir dan memporak-porandakan bayangan mereka akan liburan di Kirigakure.
Sabar saja lah… (_ _)d
-ooOoo-
"Tadaima~" Sakura melangkahkan kakinya memasuki rumahnya. Ia melepaskan sepatu dan kaos kakinya sambil melirik ke rak sepatu. Di sana ia menemukan beberapa pasang sepatu yang tak dikenalinya.
"Neechan…?" merasa tak mendapat jawaban dari salamnya, Sakura berjalan mengitari rumah menuju dapurnya. Di sana ia juga tak menemukan Neechan-nya. Sakura pun memutuskan untuk segera ke lantai atas, atau tepatnya ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Sakura memasuki kamarnya perlahan. Ia meletakkan tas-nya di samping ranjangnya. Sakura memandangi pantulan bayangannya di cermin besar, ia menatap seluruh tubuhnya secara keseluruhan. Ia pun membuka seragamnya perlahan. Dan sekilas, perhatiannya tercuri pada sebuah rona kemerahan yang berada di dada kirinya.
.BLUSH.
Sakura jadi teringat mengenai perbuatannya dengan kekasihnya beberapa waktu lalu. Tepat di kamar ini mereka melakukannya. Muka Sakura sudah seperti kepiting rebus sekarang.
.Tap Tap Tap.
Suara langkah yang mendekat membuat Sakura terdiam sejenak. Itu pasti suara kakaknya, karna kamarnya dengan kamar Karin bersebelahan. Dan untuk menuju kamar Karin, maka harus melewati pintu kamar Sakura. Sakura secara refleks langsung berlari membuka pintu kamarnya.
"Oneeeeeecha—"
Mata Sakura membulat seketika melihat susuatu yang ada di hadapannya. Emeraldnya membulat sempurna. Benar itu adalah kakaknya, Karin. Dengan tiga orang pria yang tak dikenalinya berjalan mengikuti langkah Karin.
Karin beserta ketiga pria itu pun menghentikan langkahnya. Sakura masih bingung mencerna keadaan yang dilihatnya. Tak biasanya sang kakak membawa pulang pria. Meski tak aneh juga bila pria itu merupakan orang special bagi kakaknya, tapi kali ini… tiga orang?
"Karin-neechan?" tanpa mengindahkan panggilan dari Sakura, atau bahkan berpaling menghadap sang adik, Karin pun melangkahkan kakinya memasuki kamarnya.
Seorang pemuda berambut merah dengan tato kanji 'ai' yang berarti 'cinta' terpasang di dahinya, menatap Sakura dalam diam. Mulutnya terbuka sejenak seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Cherry." Sahutnya datar. Sakura pun mengikuti arah mata sang pemuda, dan bertapa terkejutnya ia saat ternyata tubuhnya sudah setengah telanjang menampilkan pakaian dalamnya dengan corak cherry karena seragamnya yang tak terkancing sempurna.
"Kyaa~!" benar juga. Ia tadi kan sedang berganti pakaian, lalu ia bergegas keluar kamar tanpa menyelesaikannya terlebih dahulu. Akibatnya sekarang ia jadi malu.
Seorang pemuda lainnya dengan warna rambut yang hampir sama seperti pemuda sebelumnya dan pandangan bosan menatap ke arah Sakura. Ia hanya menyeringai sejenak dan mengalihkan merogoh saku celananya.
"Hey, ini milikmu bukan?" pemuda itu menyerahkan gantungan boneka teddy bear kepada Sakura.
"Clife!" Sakura segera meraih boneka itu. Sang pemuda pun menyeringai. Dan meneruskan langkahnya mengikuti Karin memasuki ruangannya. Sakura bingung mengapa bisa Clife ada di tangan pemuda tak dikenalinya itu, namun belum selesai ia menemukan jawabannya, perhatiannya tercuri oleh seorang lagi pemuda asing.
Pemuda yang terakhir jauh berbeda dengan kedua pemuda sebelumnya. Rambutnya pirang panjang, sebagian poninya menutupi wajah, dan tingkahnya yang sedikit kelihatan bodoh. Kalau dilihat-lihat, ia mirip sekali dengan Ino. Seperti Ino versi pria.
"Kau manis juga kalau dilihat secara langsung ya…" sahut pemuda pirang itu dan mengikuti yang lainnya memasuki kamar Karin.
Sakura masih belum bisa mengerti akan apa yang terjadi sebenarnya. Mengapa sang kakak membawa tiga pria sekaligus ke dalam kamarnya secara tiba-tiba. Sakura tak ingin berpikiran macam-macam mengenai sang kakak, ia pun kembali memasuki kamarnya dan berganti pakaian dengan yang benar.
-ooOoo-
Sakura masih melamun memandangi hamparan biru di langit. Burung-rurung yang berterbangan silih berganti membuatnya tak merasa bosan duduk terdiam seperti itu di lantai atap gedung sekolah selama beberapa jam.
Hilir angin di atap sekolah memang sejuk. Sakura sesekali terkekeh ketika mengingat kejadian saat pertama kali dirinya bertemu Sasuke. Saat ia berpikir kalau hidupnya telah berakhir tragis hanya karena melindungi Clife dan seekor anak kucing.
"Sudah cukup lama berlalu setelah hari itu ya…"
Hidup Sakura semakin terasa menyenangkan setelahnya. Hari-hari yang dilaluinya tak terasa sepi lagi, berbagai peristiwa menyenangkan pun sering terjadi. Dan lagi ia terkekeh mengingat betapa senangnya pemuda raven itu kepada lollipop rasa tomat.
"Memang apa enaknya sih permen rasa tomat? Aku sendiri juga baru mendengarnya." Sahut Sakura sambil terkekeh geli.
"Coba sendiri saja."
Sakura menghentikan tawanya seketika. Ia menoleh, ternyata orang yang sedang dibicarakannya sedang berdiri tegak menatapnya. Sakura jadi salting, ia tak menyadari kalau Sasuke sudah berada di dekatnya.
"Anginnya enak juga…" Sasuke memposisikan dirinya terduduk di samping Sakura, ia ikutan menatap hamparan langit di atas sana. "Kau suka berada di sini ya?"
"Tak juga, hanya pada saat-saat tertentu. Kau sendiri, kenapa bisa tahu aku ada di sini?" Sakura melirik ke arah Sasuke. Helaian angin yang memainkan rambut pantat ayamnya seakan memberikan kesan tersendiri untuk Sakura.
"Kau lupa? Mata kami bisa menembus segalanya." Sahut Sasuke sambil mengalihkan pandangannya ke mata Sakura.
Ditatap seperti itu membuat Sakura jadi terjerat dalam pesonanya. Perlahan wajah mereka kian mendekat, baik Sasuke maupun Sakura perlahan memejamkan matanya. Deru nafas yang saling bertabrakan dan angin yang menerpa membuat mereka terlarut dalam suasana.
Ciuman manis pun mendarat di sana. Hanya gerakan lembut dan gesekan bibir yang menyatu. Sakura bisa merasakannya. Rasa permen lollipop tomat yang sering dimakan Sasuke. Namun sepertinya hal itu tak memuaskan hasrat Sasuke, tanpa persetujuan dari Sakura, tangan Sasuke mengelus dada Sakura yang masih berbalut seragam itu.
"Emmm~Sasu…!" Sakura melepaskan ciumannya dan menahan tangan Sasuke. Sasuke pun menatapnya sambil menaikkan alis.
"Apa lagi Sakura? Ini bukanlah yang pertama kan?" rengek Sasuke sambil memutar matanya bosan. Sakura pun mendengus menanggapinya.
"Meski bukan yang pertama tapi aku…" Sakura menundukkan kepalanya, Sasuke masih menunggu kelanjutan Sakura. "Pokoknya nggak mau!"
Setelahnya Sakura hanya berlari meninggalkan Sasuke yang melongo tak jelas menatapnya. Sasuke melirik ke celananya yang terlihat sesak itu. Ternyata 'si kecil' sudah terbangun hanya karena ciuman itu. Ia meremas rambutnya frustasi. Akhirnya Sasuke pun menghela nafasnya panjang dan kembali menatap langit.
"Apa yang harus kulakukan untuk menurunkannya?"
-ooOoo-
Seluruh barang telah dikemasi oleh Sakura. Sepeti rencana ANBU sebelumnya, mereka akan melakukan kejahilan di Kirigakure. Dan setelah surat izin dari kepala sekolah keluar, akhirnya mereka akan berangkat besok pagi.
"Hmmm… Oke. Sudah siap." Sakura mengepak semua yang akan dibawanya ke dalam suatu koper merah kecil.
.Cklek.
Pintu ruang kamar Sakura kembali terbuka perlahan. Sakura melirik sosok Karin sejenak, ia sebenarnya masih agak terganggu mengenai kejadian saat Karin membawa pulang tiga orang pria ke rumah.
"Kau akan berangkat kemana?" Karin mendekati Sakura dan memperhatikan koper yang sudah terisi penuh itu.
"OSIS ada tugas ke Kirigakure. Semacam perjanjian kerja sama lah." Jawab Sakura sekenanya. Ia mencoba agar tak terlihat secanggung mungkin di depan Karin.
"Kirigakure? Ke Kirito High School?" tanya Karin tak percaya. "Kenapa Neechan tak diberitahu sebelumnya…?"
"Ah, Ah, ini masalah kecil yang bersifat pribadi kok. Jadi aku tak ingin Neechan terlalu cemas nantinya." Sahut Sakura sekenanya.
"Masalah pribadi kok sampai OSIS dari KHSI juga datang?"
"Ah, ah, eum… sudahlah! Jangan dipikirkan… oke?! Eh, Neechan masak apa hari ini? Sakura bantu yaaa…" Sakura segera menarik tangan Neechan-nya itu untuk keluar dari kamarnya dan menuju dapur.
Karin terdiam mengikuti langkah Sakura yang terlihat tergesa-gesa. Karin menyadarinya, susuatu pasti sedang disembunyikan oleh Sakura. Tak lama mereka pun sampai di dapur. Sakura segera meraik celemek yang tergantung di dekat kulkas dan memakainya.
"Sakura…" Sakura melirik ke arah Karin yang kini sedang mengikatkan celemeknya. "Apa kau terkejut akan kejadian waktu itu?"
Sakura paham betul apa yang dimaksud oleh kakanya ini. Pasti maksudnya adalah saat Karin membawa pulang pria-pria tak dikenalinya itu. Sakura terdiam sejenak, tangannya berkutik pada tepung di hadapannya.
"Apa… Neechan menyukai salah seorang dari mereka?" tanya Sakura hati-hati. Ia tak ingin menyinggung perasaan Karin.
"Hm… Gimana ya… Neechan sendiri tak tahu. Hanya saja saat ini, mereka bertiga sangat penting untuk Neechan." Jawab Karin sekenanya. Sakura melirik ke kakanya itu. Sang kakak masih memasang wajah datarnya. Itukah wajah seorang yang sedang jatuh cinta? Entahlah, Sakura sendiri baru saja mengenal apa itu 'cinta'.
"Neechan… Sakura…sudah punya pacar." Sahut Sakura lirih. Wajahnya merona seketika. "Dia pemuda yang waktu itu mengantar Sakura pulang. Neechan ingat?"
"Hm? Sasuke, maksudmu?" tanya Karin memperjelas. Dan Sakura pun mengangguk. Karin tersenyum simpul melihat tingkah gugup sang adik ini. Ia pun mengacak-acak rambut merah muda Sakura.
"Kalau begitu kau harus menepati janjimu kepada Neechan ya…"
"Janji? Janji apa?"
"Kau lupa? Cake Brownish dengan Vanilla Cream?" tutur Karin sambil tersenyum penuh arti. Mendengarnya Sakura baru ingat akan hal itu. Nah lho… tepati janjimu, Sakuraaa….
-ooOoo-
"Semuanya sudah siaaappp?!" Ino dengan dandanan heboh khas pantai Timur (?)-nya dan kaca mata anti badai (?!)-nya terlihat sangat bersemangat.
"Yosh! Tiga hari dua malam menginap di Kirigakure!" Naruto terlihat bersemangat.
"Kudengar Kirigakure merupakan desa yang sering di landa hujan, apa lagi suhu mulai mulai terasa mendingin, apa semua akan baik-baik saja?" Hinata sepertinya mulai cemas, Naruto yang berada di sebelahnya pun menepuk pundak Hinata.
"Tenang saja. Justru semakin berbahaya semakin menarik dan mendebarkan… Kau akan segera merasakannya. Dan aku janji semua akan baik-baik saja!" Naruto menyengir memamerkan deretan giginya kepada Hinata.
"Bawaanmu sedikit sekali." Sasuke mendekat ke arah Sakura yang terlihat hanya membawa satu koper kecil saja.
"Yah, karena aku tak terlalu memiliki banyak barang yang bisa kubawa. Aku juga tak perlu sering-sering berganti pakaian kalau tak perlu, jadi kupikir tak apa membawa baju sedikit." Terang Sakura panjang lebar. Sasuke yang mendengarkannya pun hanya mengangguk-angguk.
"Ya, benar juga. Kau bahkan nanti mungkin akan sering tak pakai baju saat bersamaku di Kirigakure." Sahut Sasuke sambil menyeringai, Sakura seketika ber-blushing mendengarnya.
"Yap! Baiklah! Ayo!" Naruto segera menyeru.
Mereka menggunakan jet pribadi sekolah agar bisa cepat sampai dengan selamat di Kirigakure. Seluruh barang bawaan mereka telah dimasukkan ke bagasi. Ino dan Hinata pun masuk ke dalam untuk bersiap. Naruto juga terlihat menyusul masuk. Saat Sasuke membantu Sakura untuk masuk ke dalam, seseorang memanggil.
"TUNGGU DULU!"
Seluruh perhatian pun berpaling pada sosok itu. Termasuk Naruto, Hinata dan Ino yang sudah berada di dalam, mereka melihat melalui kaca jendela. Terlihat Sai yang berlari menuju ke arah mereka. Benar juga, mereka bahkan sampai melupakan salah seorang anggota mereka sendiri. Poor Sai~
"Darimana kau? Hampir saja kau tertinggal." Sahut Sasuke memberikan jalan kepada Sai untuk masuk ke dalam jet. Namun Sai malah terhenti tepat di hadapan Sasuke dan Sakura.
"Hah…Hah…hah… ini gawat." Sahut Sai di sela nafasnya yang terengah.
Ino, Hinata, dan Naruto pun bergegas turun untuk melihat keadaan yang terjadi. Sai segera mengeluarkan laptopnya dan mengutak-atik sesuatu di dalamnya.
"Apa yang terjadi, Sai? Kau darimana saja?" tanya Ino cemas. Ia juga sedikit merasa bersalah karena melupakan kekasihnya itu. Yah, mungkin karena ia terlalu semangat saja.
"Aku barusan ke markas untuk mengambil laptop cadanganku, saat itu aku melihat secarik kertas terselip di engsel pintu." Sai masih mengutak-atik laptopnya.
"Kertas? Apa itu—"
"Death Card." Sahut Sai menyela perkataan Naruto. "Dan aku pun kembali mengecek website ANBU, inilah yang kutemukan."
Sai memutar laptopnya menghadap ke yang lain. Semua melongo melihat tulisan yang ada di layar laptop itu. Dengan jelas tulisan itu berbunyi :
ANBU, kutunggu kau di Kirigakure.
Dan terimalah sambutan dari kami.
AKATSUKI, leader.
Semua saling menukar pandangan tak percaya. Darimana mereka mengetahui bahwa ANBU akan menuju Kirigakure? Sungguh, seseorang pasti sudah memata-matai mereka. Yang jelas, mereka sedang berpikir… apa maksud 'sambutan' yang disebutkan oleh AKATSUKI?
"Bagaimana selanjutnya?" Hinata saling menukar pandangan ke arah Sakura.
"Tak apa. Kita lanjutkan saja." sahut Sasuke. Mereka pun menggangguk setuju, namun ternyata keputusan mereka salah. Sang pilot jet itu turun dari tempatnya dan menghadap Sasuke.
"Maafkan saya, tapi… sepertinya mesinnya rusak." Sahutnya sambil menunduk.
"Apa?!" Ino memekik kencang. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi pada saat-saat keberangkatan? Ino menggeram gemas.
"Tenang saja, kita masih bisa menggunakan jet yang lain." Sasuke segera mengeluarkan ponselnya dan mekan nomor-nomor yang kemudian menelponnya.
Dzzzzt Dddzzzzt
Suara bising terdengar di seberang sana. Sasuke pun mengulang kembali panggilan itu, namun ternyata kembali suara bising itu yang terdengar. Saat Sasuke hendak mencoba kembali, sebuah suara akhirnya terdengar.
"Yo! Dengan AKATSUKI di sini, ada yang bisa kami bantu? Sinyal kalian telah kami hack, kalian tak akan bisa menggunakan ponsel itu lagi. Sekarang bagaimana? Waktu terus berjalan! Ha ha ha ha."
Sasuke menggeram menahan emosi. Sepertinya Naruto, Ino, dan Sai yang mencoba melakukan hal yang sama juga mendapatkan pesan seperti itu. Mereka pun saling berpandangan. ANBU telah memutuskan untuk membantu client, dan kalau mereka membatalkannya sekarang, artinya mereka telah gagal. Dan kalau gagal, artinya kalah. Kalau ANBU kalah, artinya AKATSUKI menang.
"Ooooo… Tidak Bisa! Kita tak akan menyerah begitu saja!" Naruto sepertinya sudah terbakar emosi.
"Sekarang sebaiknya kita memikirkan untuk bisa sampai ke Kirigakure tepat waktu." Hinata menatap cemas ke arah Naruto.
.CRAK.
Semua mata langsung mengarah ke sumber suara itu. Dan bertapa terkejutnya mereka saat suara itu berasal dari ponsel Sasuke yang diremuk oleh sang pemilik. Dengan aura hitam yang menguak keluar dari punggung Sasuke, membuat mereka bergidik ngeri melihat sang ketua.
"Sasuke…" Sakura meneguk ludah yang terganjal di tenggorokannya dengan susah payah.
"AKATSUKI…" Sasuke menggeram. "AKAN KUBUNUH KALIAAAAANNNNN! AKATSUKI SIALAN!"
-TBC-
*ngumpet*
Readers, maafin author plin-plan yang satu ini ya~ T.T
Shera khilaf deh karena telad update-nya~
Kemarin tuh tiba-tiba di tempat Shera mati lampu...jadi hilang semua hasil ketikan Shera~
jadi telad sehari deh chap nya... :'(
Gomenasai, minna~
Chap ini dibuat dengan segala kemungkinan dan imajinasi yang tersisa...
kalau mengecewakan mohon maaf dengan sangat ya~
Mind to Review?
(ga bisa maksa nih~)
Keep Trying My Best! (Always)
~Shera~
