~Balasan Reviews~
Haruno Yuna : he he he Gomenne~ Lg gak mesum sih saat itu~
jadi gak bisa bikit yang ashem"... :D
Pelan2 pasti kebongkar kok...
Kalo gak salah sih chap 9 / 10 selesai.
Kiki-chan : Pria keduanya adalah... *piiiiipp*
Zura-chan : Jia elah... Zura mah kebiasaan dah~
sasusaku Kira : he he... ini udah mulai kebongkar semua kok... :3
hasnistareel : he he masih biasa2 aja yah tuh lemon? *waduh, jgn2 tingkat kemesuman menurun nih~
Iya nih Shera kasih tahu di chap ini deeeh~
Natsu45 : oke deeeeh~
adem ayem : kagak laaa... serem banget deh kalo Clife sampe nge-bhum... :D
Winter Cherry : wah,,, masa ka? oke deh~
Haruno Michiko : he he gomen~
Di chap ini bakal ketahuan jati dirinya Clife nih~
Orang keriga ada dooong~
Hi hi hi, seneng baca review-nya Haru-chan di chap 6 deh.. xD
Ngena semua... nye he he
birumenanti : iya... ini di chap ini bakal KEBONGKAR BONGKAR! xD
Naomi-chan : wk wk wk.. abis dy saking keselnya sih.. x9
Nye he he... akatsuki bakal kebongkar nih di chap ini, Nao-chan... :D
Pelita nya udah abis.. yg sisa cuma senter doang.. xD *dzig
aguma : kubukain dlu jati diri mereka yaaa... :D
Sami-chan : Iya itu sasori, Sami-chan... :D
He he he
adeceloverz-pengguin : arigatou gozaimasu~ :)
~Enjoy Reading~
"ANBU"
.
.
Mission 7 : Who actually AKATSUKI is?!
(Siapa Sebenarnya AKATSUKI?!)
.
Enjoy Reading
.
.
Antara Konogakure dengan Kirigakure, bila ditempuh dengan pesawat jet sekitar 30 menit, kalau menggunakan pesawat biasa sekitar 1 jam. Dan kalau menggunakan helicopter 1 jam 30 menit. Dan kalau… menggunakan kereta?
"SIALAAAAANNN!" sudah entah ke berapa kalinya Naruto menggeram frustasi.
Bagaimana tidak, berterima kasih lah kepada AKATSUKI yang merusak jaringan sinyal di ponsel mereka dan memblokir kontak mereka dengan keluarga atau perusahaan. Itu jadi membuat mereka kerepotan.
Sungguh, ini pertama kalinya dalam sejarah mereka untuk pergi menggunakan kereta ekonomi. Ouh… Poor ANBU~. Ya mau bagaimana lagi, dompet mereka hanya berisikan kartu-kartu dan check saja. Mana ada perusahaan kereta yang menerima bayaran berupa kartu. Beda lagi kalau menggunakan rekening.
"Sudahlah Naruto-kuu—" Hinata mencoba bangkit dari tempat duduknya dan menenangkan Naruto yang malah akan memperburuk suasana. Tapi tiba-tiba saja suara tak diundang terdengar jelas…
.KRUYUUuuuuukk~.
"Ukh~" muka Hinata memerah seketika. Terang saja, suara perutnya itu benar-benar tak bisa ditahan lagi.
"Benar juga… Kita belum makan siang." Sahut Sakura menanggapi. Ia pun mengelus perutnya yang sebenarnya juga merasa lapar.
"Bagaimana bisa makan, kita kan tak mempunyai makanan." Keluh Ino.
Mau bagaimana lagi, mereka tak menduga kalau AKATSUKI telah merencanakan hal ini, jadi mereka tak bisa mempersiapkannya. Sekarang mereka sudah berada di kereta selama 3 jam penuh tanpa makanan apapun. Tentu saja cacing-cacing dalam tubuh mereka memberontak.
"Hey, Sasuke…apa kau masih mempunyai lollipop lagi?" sahut Sai melirik ke arah Sasuke yang sedang mengemut permennya. Seluruh pandanganpun tertuju padanya, Sasuke yang merasa ditatap akhirnya angkat bicara.
"Ini yang terakhir." Jawabnya singkat. Meruntuhkan segala harapan mereka.
"Bagaimana ini~ Kita bisa mati kalau begini terus~" keluh Naruto, ia merasa perutnya benar-benar bergejolak meminta diisi.
"Tak makan selama 3-5 jam tak akan membuatmu mati, Naruto." Sela Sai, pandangannya masih focus kepada layar laptopnya.
"Jadi kita masih harus menunggu kira-kira 2 jam lagi untuk sampai?!" Sakura memekik kencang. Membuat Sasuke yang berada di sebelahnya menutup telinga.
"Aku lapar~" keluh Naruto dan Ino kompak sambil mengelus perut mereka.
-ooOoo-
2 jam 30 menit kemudian mereka pun sampai. Dengan muka lusuh, pakaian yang kusut kesana kemari, perut yang terus merengek minta diisi, dan rambut yang berantakan, sungguh mereka sama sekali tak terlihat seperti siswa dari sekolah super elit KHSI.
Setelah melalui banyak rintangan dan halangan (?), akhirnya dengan menyerahkan kartu pelajar kepada petugas penginapan, mereka diizinkan memasuki penginapan yang telah disediakan.
.BRUK.
Segala barang-barang dilempar begitu saja. Mereka segera memposisikan diri mereka berbaring di futon, dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Sakura yang melihat kerusuhan ini tak bisa tinggal diam saja.
"HEY! Beresi dulu barang-barang kalian! Baru setelah itu kalian boleh malas-malasan!" pekik Sakura kencang sambil berkacak pinggang. Yah, inilah kebiasaan lama Sakura. Tertib, atau… terlalu tertib ya?
"Berisiiiikkk~" Ino merengek menutupi telinganya. Ia pun bangkit dan merangkak untuk berbaring di sebelah Sai.
"Ayolah Sakura-chan, sedikit lebih santai lah~" Naruto menguap lebar sambil merenggangkan ototnya. "Panas sekali di sini~"
"Naruto-kun, tak sebaiknya kau mandi dulu?" Hinata mencoba menyarankan dengan gayanya yang gugup seperti biasa.
"Ah, ide bagus juga. Baiklah." Naruto pun segera bangkit dan melangkahkan kakinya dengan gontai menuju tempat pemandian. Sementara itu Hinata membawa barang-barang bawaannya ke kamarnya. Sakura menghela nafas melihat mereka berdua.
"Kalau Hinata yang bicara… baru dituruti, dasar." Bisik Sakura. Akhirnya pandangannya pun berakhir pada sosok Sasuke. Ia sedang berbaring dengan santainya dengan lollipop yang sedang diemutnya.
"Perasaan ada yang bilang kalau tadi itu lollipop terakhir…?" Sakura melirik penuh arti ke arah Sasuke. Sasuke yang merasa tersindir kembali membuka kelopak matanya.
"Terakhir untuk dibagikan." Sahut Sasuke menanggapi. Sakura pun mendecih mendengar jawabannya.
"Hey, Sasuke! Kau juga! Kau ini kan ketua… berilah contoh yang benar!" Sakura kembali memekik kencang di hadapan Sasuke. Sasuke masih terdiam memejamkan mata, hal ini membuat Sakura semakin kesal dibuatnya.
"Hey, Sasu—"
.GREP.
Dengan sekali tarikan, tubuh Sakura terjatuh di atas tubuh Sasuke. Sakura membulatkan matanya seketika menyadari hal itu. Namun Sasuke sendiri masih memejamkan matanya dan bersikap seolah-olah tak terjadi apapun.
"Kami semua kelelahan, Sakura. Berikan kami waktu untuk istirahat terlebih dahulu." Sahut Sasuke datar masih dengan matanya yang terpejam. Tangan kanan Sasuke telah melingkar di punggung Sakura, menahannya agar tak pergi.
"Lagipula kami tak selincah kau."
.Toeng.
Sesaat tadi, hanya sesaat, Sakura merasa berdebar akan perkataan dan perlakuan Sasuke kepadanya. Tapi setelah mendengar apa yang diucapkan Sasuke selanjutnya. Perempatan urat muncul seketika di dahi lebarnya. Membuatnya mengeluarkan aura panas yang siap meledak.
"Sa-su-ke…"
.BLETAK!.
-ooOoo-
Ketika cuaca mulai mendingin, yang paling enak memanglah mandi dengan air panas di pemandian air panas. Karena ini bukanlah pemandian air panas besar, mereka hanya bisa menggunakannya secara bergantian dengan pengunjung lain. Maksimal kapasitas untuk menampungnya sekitar 2-3 orang saja.
Kali ini giliran para wanita, Sakura sedang menunggu Ino, karena tadi Hinata sudah lebih dulu mandi jadi kini tinggal Ino dan Sakura saja yang belum. Sakura masuk duluan, Ino bilang akan segera menyusulnya, tapi sudah cukup lama berlalu Ino belum juga terlihat kehadirannya.
"Ino lama sekali~" Sakura mengusap handuk kecil ke seluruh tubuhnya. Ia menikmati aroma yang menguak dari sana.
Merasa cukup lama berada di sana, Sakura memutuskan untuk menyudahi mandinya. Namun belum selesai ia memberesi peralatan mandinya, seseorang terlihat datang. Sakura melirik ke arah bayangan itu. Tiba-tiba saja ia membayangkan bagaimana jadinya kalau yang masuk itu ternyata adalah Sasuke.
.Blush.
Membayangkannya saja ia sudah ber-blushing ria. Sejak kapan ia menjadi semesum ini? Ia sendiri tak tahu. Sakura segera menggelengkan kepalanya membuyarkan lamunan akan hal-hal tak seronoh baginya.
Dan saat Sakura kembali memandangi sosok itu, ternyata itu adalah sosok seorang gadis dengan rambut birunya yang kini datang menghampiri. Gadis itu berwajah murung dan tanpa memperdulikan Sakura langsung menempatkan posisinya memasuki pemandian itu.
Sakura masih memandangi sosok gadis itu, ia merasa bingung atas perilakunya. Sepertinya ia mulai merasa penasaran akan sikap sang gadis. Akhirnya Sakura mengurungkan niatnya untuk menyudahi mandinya, ia kembali masuk ke dalam pemandian itu.
"Hay…" Sapa Sakura mencoba mengkarabkan diri. Sang gadis hanya menoleh, lalu ia mengalihkan pandangannya kembali ke air panas itu.
Merasa tak dihiraukan membuat Sakura menjadi salting sendiri, ia pun memilih untuk diam. Sesekali ia melirik ke arah sang gadis untuk memperhatikannya, dan sesekali pula pandangan mereka bertemu.
Beberapa menit berlalu setelahnya, Sakura mulai merasa jenuh. Akhirnya mau tak mau ia pun beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Namun sebelum ia benar-benar pergi, sang gadis akhirnya bersuara.
"A…anu…"
Sakura menoleh dan mendapati sang gadis tertunduk. Sakura pun membalikkan tubuhnya menatap sang gadis dengan pandangan bingung.
"Apa… kau percaya ilusi?" tanya sang gadis tiba-tiba yang membuat Sakura menatapnya bingung.
"Ilusi?"
"Iya. Kau mempercayainya? Bahwa di dunia ini ada yang namanya ilusi?"
Mata sang gadis menatap lurus ke dalam emerald Sakura. Menembusnya dalam dan mengorek kenyataan di sana. Sakura terpaku sejenak, perasaannya seperti melayang seketika. Matanya meredup dan terlihat kosong.
Gadis itu tersenyum simpul. Ia bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju Sakura. Ia menghadap Sakura dan menaikkan dagunya untuk melihat lebih jelas hasil perbuatannya dengan mata emerald Sakura itu.
"Kau… akan mengalami mimpi yang panjang…"
-ooOoo-
Sasuke sedang menyeduh teh hijaunya. Menikmati setiap tetes yang masuk ke dalam tenggorokannya. Ia memandangi suasana malam dari jendela kamarnya. Pakaiannya belum berganti dari yukata sederhana. Hujan rintik-rintik mulai terlihat di kaca jendelanya.
Sementara itu yang lainnya sedang berada di kamarnya masing-masing. Karena dengan perekonomian mereka yang minim (akibat blokiran dari AKATSUKI), mereka hanya bisa menyewa 3 kamar di penginapan sederhana. Tapi yah… itung-itung untuk belajar menjadi orang sederhana. Baik juga sebagai pelajaran hidup.
.Cklek.
Merasa pintu gesernya terbuka perlahan, Sasuke menolehkan matanya. Ia mendapati sosok Sakura yang berdiri di sana. Padahal Sasuke tak mengatur pembagian kamarnya, tapi mungkin Ino memutuskan untuk tidur sekamar dengan Sai, dan Hinata mau tak mau juga akan tidur dengan Naruto.
Sasuke menyeringai ketika Sakura perlahan mendekat ke arahnya. Ia menunggu-nunggu saat seperti ini. Saat-saat bisa berduaan dengan Sakura. Sasuke kembali memandangi pemandangan di depan jendelanya, ia bersikap seolah-olah tak perduli akan kehadiran Sakura. Hal itu untuk mengerjai Sakura, karna Sasuke suka sekali melihat ekspresi kesal dari Sakura.
.Greb.
Namun bukanlah kekesalah ataupun sepatah kata dari Sakura yang didapatnya, melainkan sebuah pelukan dari belakang.
"Sakura?" Sasuke membulatkan matanya. Ia melirik ke belakang, mencoba mengintip apa yang terjadi dengan gadisnya ini.
Sakura sama sekali tak menjawab Sasuke, atau bahkan mengucapkan sebuah suara. Pelukannya mengerat seketika, Sasuke pun merengut bingung.
Seketika tangan Sakura menerobos masuk ke dalam yukata Sasuke. Sasuke pun sekali lagi dibuatnya terkejut. Ada apa sebenarnya ini? Setelah para pria dibuat bernafsu kepada Sakura, sekarang Sakura dibuat bernafsu kepada Sasuke? Yang benar saja.
Selama sibuk dengan pikirannya, ternyata Sakura tak tinggal diam begitu saja. Tangannya membuka kaitan di pinggang Sasuke. Sasuke pun akhirnya bertindak, ia menahan tangan Sakura dan memutar tubuhnya.
"Sakura, ada apa denganmu?" Sasuke menatap wajah Sakura. Di sana ia mendapati Sakura yang menatapnya datar tanpa ekspresi.
.Duk.
Dengan sekali dorongan kencang, tubuh Sasuke di baringkan. Dan Sakura meninihinya. Dengan yukatanya yang setengah terbuka menampilkan lembah di dadanya, dan dirinya yang duduk di perut Sasuke membuat Sasuke kembali terlonjak kaget.
"Sakura… apa yang—"
Belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, mulutnya telah dieksploitasi oleh Sakura. Dengan gesit ia memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Sasuke, menghisap saliva yang ada di dalamnya.
"Emm~!" Sasuke mendorong paksa tubuh Sakura untuk melepaskan ciumannya.
Nafas Sasuke memburu, bagaimana tidak. Pemandangan Sakura yang agresif di depannya benar-benar mengundang nafsunya. Tapi ia sadar, itu bukanlah Sakura-nya, bukanlah kekasihnya. Kerena sekarang mata Sakura menatapnya dalam kehampaan.
"Sakura… sadarlah! Apa yang sedang merasukimu?" Sasuke mencengkran kedua lengan Sakura.
Ia memposisikan dirinya setengah terduduk dan menatap Sakura di pangkuannya. Ia mengguncangkan tubuh Sakura mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi pada kekasihnya itu.
"Sakura!"
.CTAR!.
Suara petir itu terdengar begitu kerasnya bersamaan dengan panggilan Sasuke. Mata Sakura membulat sempurna. Menampilkan emerald-nya yang terkejut. Sakura seperti terseret secara paksa kembali ke alam sadarnya. Ia mengerjapkan matanya.
"Sa…suke?"
Sakura mengerjapkan mata menatap Sasuke yang berada di hadapannya. Sasuke menghela nafas lega, sepertinya Sakura-nya telah kembali. Ia melepaskan cengkramannya di kedua lengan Sakura.
"Haah… Syukurlah kau kembali." Sahut Sasuke merasa lega. Ia pun menundukkan kepalanya. Sakura masih menatapnya bingung.
"Kembali? Ah! Bukankah tadi aku habis mandi? Lalu… eum…" Cerita Sakura terhenti di sana. Ia mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi setelahnya, namun ingatannya samar-samar.
"Sudahlah…Kau baik-baik saja kan?" Sasuke mengangkat kembali kepalanya dan menatap Sakura. Ia meraih helaian rambut Sakura yang tergerai basah, membuat Sakura bergidik geli kala tangan Sasuke tak sengaja menyentuh tengkuknya.
"Aku baik-baik saja…em…" Sakura menyipitkan matanya, ia merasa nyaman atas perlakuan lembut Sasuke. Pandangan mereka kembali menyatu, dengan suasana yang menghangat di sekitar mereka.
.CTAR!.
"Kyaaa~!"
.DUK.
Sasuke kini menerima ciuman mesra dari dahi Sakura. Akibat petir yang menyambar tiba-tiba di hadapan mereka, Sakura terkejut dan dengan refleks menundukkan kepalanya sambil menutupi telinganya. Dengan posisi mereka seperti tadi, Sasuke jadi mendapatkan hantaman keras dari dahi Sakura.
"Auch~" sahut Sasuke lirih. Ia memegangi bibirnya yang terasa perih. Sasuke sudah menduga hal ini, inilah Sakura-nya. Sakura yang selalu lincah di setiap hal yang dilakukannya.
"Ah!" Sakura mengangkat kepalanya menyadari bahwa ia sudah menyundul mulut Sasuke. "Sa…Sasuke… Kau…baik-baik saja?"
Sasuke melirik sejenak ke arah Sakura, tingkahnya terlihat sangat cemas. Perlahan Sasuke merasa mukanya sedikit memerah, akhirnya dengan sebelah tangan ia menutupi mukanya.
"Sakura…"
Sakura menoleh saat Sasuke memanggilnya, dan saat itu pula ia mendapat kecupan di bibirnya. Kecupan singkat yang manis dan membuatnya mematung.
"Aishiteru."
Sakura bersemu mendengar pengakuan Sasuke. Perlahan Sasuke kembali meraih bibir basah Sakura dan melumatnya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Sakura dan menekannya hingga tubuh mereka berhimpitan. Sakura bertumpu pada pundak Sasuke ketika tubuhnya di dorong turun.
"Emmmh~Enng~eeemm~" mata Sakura mulai berlinang. Inilah kebiasaan Sakura ketika mendapatkan ciuman dari Sasuke, dan ini jugalah bagian dari diri Sakura yang disukai oleh Sasuke.
"Aaaah~Emmm~aaa~" Sasuke mencium, melepas, mencium, melumat, begitulah seterusnya. Dengan irama teratur sehingga membuat Sakura kehabisan oksigennya dalam waktu singkat.
"Emm…uhuk~" Sakura tersedak seketika. Sasuke pun menghentikan ciumannya. "Uhuk…em..uhuk…"
"Kau baik-baik saja?" Sasuke menepuk-nepuk punggung Sakura yang masih terbatuk-batuk. Sepertinya Sasuke terlalu agresif kali ini, hingga membuatnya tersedak.
"Uhuk~ emm…" Sakura mencoba menyamankan kembali tenggorokannya. Dan tangan Sasuke masih belum berhenti mengelus punggung dan tengkuk Sakura memberinya ketenangan.
"Kau belum terbiasa ya? Kau seharusnya bernafas menggunakan hidung dan menelan saliva-nya." Jelas Sasuke. Dan dengan penjelasannya itu ia mendapatkan death glare dari Sakura.
"Jangan katakan hal seperti itu secara terang-terangan dong."
"Kalau tak dikatakan terang-terangan kau tak akan mengerti kan?"
"Kau ini~"
"Hey Sakura…"
"Hn?"
"Kau sudah siap kan?"
"Siap apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Sakura, Sasuke sudah menarik tubuh Sakura untuk berbaring di futon-nya. Dan Sakura mendapatkan sebuah seringai dari sang kekasih. Hal itu sudah dapat menjawab akan apa yang akan terjadi selanjutnya bukan?
Yang akan menghiasi malam pertama (?) mereka di Kirigakure adalah pengalaman akan ke-agresif-an Sakura, dan pembalasan dendam dari Sasuke karena membuat 'adik kecil'nya terbangun.
-ooOoo-
"Lalu, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Naruto sambil meneguk segelas cola di hadapannya.
Sepertinya setelah seharian berisitirahat, akhrinya mereka sudah bisa bernafas lega sekarang. Sinyal telah kembali ke ponsel mereka, dan semua rekening pun telah di-unblock kembali. Tapi tujuan mereka belum terlaksana.
"Apa saja informasi yang telah kita dapat?" Sasuke melirik ke arah Sakura yang terduduk dengan mata tertutup. Sasuke pun terkekeh dibuatnya. Ternyata semalaman Sasuke sama sekali tak membiarkan Sakura tidur nyenyak. Yah, mau bagaimana lagi? Gejolak masa muda~
"Kau baik-baik saja, Sakura? Ada tidurmu kurang nyenyak semalam?" Hinata menghampiri Sakura yang terkantuk-kantuk. Sakura pun mengangkat kedua tangannya dan merenggangkan ototnya.
"Sebaiknya kau segera mandi saja sana…" perintah Sasuke, dan Sakura pun yang setengah sadar hanya mengangguk tanda setuju. Kemudian Sakura dengan gontainya pergi menuju tempat pemandian.
"Sasuke, sepertinya semalam kau keterlaluan." Bisik Ino menyindir. Ia tentu tahu apa yang telah terjadi sebenarnya. Ia juga sebenarnya agak mengantuk karna semalaman melakukan hal yang sama bersama Sai.
"Aku memperoleh petunjuk." Sahut Sai yang kemudian disusul dengan pandangan yang lainnya. "Pelaku hanya memotret wanita-wanita yang sedang berganti pakaian olah raga, itu artinya ia selalu mengetahui jadwal pelajaran yang ada. Dan itu juga berarti ia memiliki hubungan dengan sekolah itu, atau bisa jadi ia murid sekolah itu."
Semua mengangguk-angguk tanda mengerti. Sai pun mengotak atik laptopnya.
"Tapi ada satu hal yang ganjal menurutku."
"Apa itu?" Ino angkat bicara, ia memposisikan dirinya duduk di samping Sai dan ikut melihat layar laptop Sai.
"Client kita, Temari. Mengatakan kalau ADIK-nya menjadi korban… Tapi menurut data yang kupunya…"
Semua terdiam menunggu kelanjutan ucapan Sai. Mereka tak bisa melihat apa yang dilihat Sai bersama-sama, karena di sini tak ada layar besar seperti yang ada di markas mereka.
"Adik Temari itu LAKI-LAKI."
Semua mendadak saling berpandangan curiga. Mereka berbisik-bisik menyalurkan pendapat mereka. Sesaat mereka saling terdiam memikirkan sesuatu.
"Kalau begitu, justru client kita ini yang mencurigakan?" Sasuke menaruh telunjuk dan ibu jarinya di dagu dengan gaya berpikir. "Kita bagi kelompok. Sebagian mengawasi client kita ini."
-ooOoo-
Sementara itu seorang gadis merah muda yang tertinggal (?) dari kelompoknya sedang menikmati hangatnya pemandian air panas.
"Nyamannya~ Aku jadi tak ingin keluar dari sini…" Sakura menyandarkan dirinya di dinding pemandian itu. Dengan suasana outdoor, membuatnya terlihat lebih nyaman.
"Ah, baiklah. Kurasa aku harus segera kembali."
Sakura bangkit, ia meraih handuk putih yang sengaja dicantelkannya di dekat pintu. Sakura melilitkan handuk itu ke tubuhnya, ia pun beranjak keluar. Namun ternyata Sakura salah saat mengira tak ada seorang pun yang berada di sana.
Seorang pemuda dengan rambut merah yang lepek karena basah tengah menatapnya dalam diam. Sakura pun masih mencerna akan apa yang sedang dilihatnya. Namun saat kesadaran kembali kepadanya, ia hampir saja berteriak.
"KYAAA—mmmph~"
Pemuda itu segera menyumpal mulut Sakura. Dan hal itu membuat tubuh Sakura terdorong ke tembok yang berada di belakangnya. Pemuda itu menyernyitkan alisnya menatap sosok Sakura yang mulai berontak.
"Sebaiknya kau tak berniat untuk teriak." Sahutnya. Sakura terdiam. Ia seperti pernah melihat pemuda ini, tapi dimana? Ia pun mencoba memutar kembali otaknya.
"Emm!" Sakura mengingatnya. Ia ingat mengenai pemuda ini. Dia adalah salah satu dari pria yang dibawa pulang oleh Karin. Ya, Sakura yakin akan hal itu. Dia adalah pria yang memberikan Clife kepadanya.
"Hey, ini milikmu bukan?"
"Clife!"
Pemuda itu tersenyum seketika. Ia sepertinya tahu jalan pikiran Sakura. Sekali lagi, Sakura pun mencoba untuk memberontak. Namun apa daya, kekuatan wanita memang tak lebih besar dari pria.
"Aku senang kau mengingatku, Sakura-chan~" pemuda itu tersenyum ke arah Sakura. Perlahan tangannya yang membekap mulut Sakura pun dilepaskannya.
"Kau ini… sebenarnya siapa?" Sakura meringkuk mengambil jarak dari sang pemuda. Dengan handuk yang juga hanya menutupi daerah terlarangnya saja itu, sedikit banyak membuat Sakura merona malu.
"Namaku… Akatsuna Sasori. Kuharap kita bisa bertemu lagi, Sakura."
Setelahnya pemuda itu pun meninggalkan Sakura begitu saja. Sakura pun segera meraih pakaiannya dan memaikainya. Itu untuk jaga-jaga kalau seseorang mungkin datang tiba-tiba.
Sakura berlari menuju kamarnya. Ia sungguh merasakan suatu firasat buruk, dan sepertinya ia harus menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kepada teman-temannya.
.Cklek.
Saat pintu geser itu terbuka, Sakura nampak terengah dengan nafsanya. Pandangan pun langsung tertuju kepadanya. Namun Sakura mengerutkan alisnya mengamati sekitar di ruangan itu. Di sana yang seharusnya ada 5 orang, kini tinggal 2 orang saja.
"Kemana yang lainnya?" tanya Sakura.
"Mereka sedang menjalankan misi, tentu saja." sahut Sai, masih dengan laptop di hadapannya. Sakura bahkan sempat berpikir, bagaimana jadinya kalau laptop itu disembunyikan dari Sai?
"Apa kau mandi di Amerika? Lama sekali." Keluh seorang lagi pemuda dengan marga Uchiha. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke?
"Bukan! Di Afrika! Puas?!" balas Sakura tak mau kalah. Karena tak ingin berselisih lebih lanjut dengan 'ketua'-nya itu, akhirnya Sakura menempatkan dirinya terduduk di hadapan kedua pria itu.
"Ada hal yang perlu aku sampaikan kepada kalian." Sahut Sakura memancing suasana serius. Sai dan Sasuke pun memandangnya.
"Kebetulan, ada hal yang harus kau tahu juga." Jawab Sasuke. "Sepertinya dalam kasus kali ini… justru client kita lah yang mencurigakan. Dan saat ini Ino sedang mengawasinya. Naruto dan Hinata mencari petunjuk lain di lokasi kejadian."
"Begitukah… Hmm… Kenapa bisa mencurigakan?" tanya Sakura. "Ah, aku ingin mengatakan kalau tadi aku bertemu dengan pria aneh."
"Pria?" jawab Sasuke dan Sai kompak. Sakura hampir saja terkekeh mendengarnya. Bagaimanapun kalau dilihat sekilas mereka hampir mirip.
"Iya, seorang pria berambut merah dan dengan mata yang menyeramkan." Sahut Sakura mencoba mendeskripsikan ciri-ciri pemuda yang baru ditemuinya.
"Pria berambut merah dengan mata menyeramkan? Kau yakin itu?" Sai sepertinya terlihat sangat antusias. Hal ini mengundang rasa penasaran pada Sakura maupun Sasuke.
"Apa kau menemukan suatu petunjuk lainnya, Sai?" Sasuke menyipitkan matanya. Sai kembali mengetikkan sesuatu pada laptopnya dan memperlihatkannya kepada Sakura.
"Apa ini pemuda yang kau lihat barusan?" Sai memperlihatkan layar laptopnya dengan gambar seorang pemuda berambut merah terpampang di sana. Sakura mengamatinya sejenak, ciri-cirinya dengan apa yang disebutkan oleh Sakura memang benar, tapi ada satu perbedaan jelas yang ada di pemuda ini.
"Tidak. Ia memiliki tato 'ai' di dahinya, sedangkan seingatku pemuda barusan tak memilikinya." Jawab Sakura sambil menggelengkan kepalanya. Namun ia pun kembali memikirkan sesuatu.
"Kalau begitu bukan dia?" Sai kembali memutar laptopnya dan mengotak-atiknya.
"Memangnya siapa pemuda itu, Sai?" Sasuke masih melirik Sai yang terdiam dan meneruskan kerjanya.
"Dia adalah Sabaku Gaara. Adik dari Temari. Tadinya, kalau benar pemuda yang dimaksud Sakura adalah pemuda ini, berarti memang ada yang mencurigakan dari kasus kali ini." Terang Sai masih tak lepas dari pandangannya ke laptop itu.
"Tunggu! Aku pernah melihat pemuda itu… ya…! Tapi dimana ya…" Sakura mencoba memikirkan sesuatu, ia memejamkan mata, mencoba membuka kembali ingatannya yang sudah berlalu. Sai dan Sasuke pun masih setia menunggu Sakura membuka mulutnya.
"Aku ingat! Dia adalah salah seorang pemuda yang pernah datang ke rumahku bersama Oneechan." Jawab Sakura. Sasuke dan Sai saling terdiam sejenak. Ini benar-benar mencurigakan.
"Apa maksudmu dengan datang ke rumah?" Sasuke mulai merasa geram. Ia pikir, ia lah satu-satunya pria yang masuk ke rumah Sakura, tapi ternyata ada pria lain yang masuk ke sana. Sepertinya itu membakar kecemburuan Sasuke.
"Beberapa waktu yang lalu Karin-neechan membawa tiga orang pria ke rumah. Kedua pria, yang aku termui barusan dan yang ditunjukkan Sai kepadaku, merupakan bagian dari ketiga pria itu. Tapi aku masih belum mengenal yang satunya lagi." Jelas Sakura panjang lebar.
"Begitu kah… hmm…" Sai kembali bergumam. "Kalau begitu, kasus kali ini memang benar-benar mencurigakan."
"Sai, beri peringatan 'danger' untuk seluruh anggota! Dan perintahkan mereka untuk segera kembali ke sini secepatnya." Titah Sasuke. Sepertinya mereka sudah memasuki sebuah perangkap. Bisa jadi hal ini berhubungan dengan musuh mereka, AKATSUKI.
-ooOoo-
Susana begitu menegangkan. Liburan yang mereka pikir akan sangat menyenangkan, ternyata justru sebaliknya. Mereka baru saja menyadarinya sekarang. Beberapa jam berkutat dengan diskusi mereka. Akhirnya beberapa kesimpulan pun telah tercapai.
Bahwa misi kali ini adalah jebakan. Itu karena request palsu yang dibuat oleh client mereka kali ini. Sepertinya AKATSUKI menggunakan akun salah satu member di website ANBU untuk membuat request palsu dan memancing mereka untuk datang ke Kirigakure.
Hal ini diperkuat karena sebenarnya kasus mengenai 'seseorang yang memotret diam-diam saat para wanita berganti pakaian' itu tak ada di Kirito High School, itu karena Kirito merupakan SEKOLAH KHUSUS PRIA. Mana mungkin ada kejadian seperti itu bukan?
Satu lagi yang hampir terlupakan. Yaitu mengenai gadis berambut biru dengan aura suramnya yang pernah juga ditemui oleh Sakura di pemandian. Gadis itu terlihat mencurigakan, karena setelah Sakura selesai mandi bersama gadis itu, ia kehilangan kesadarannya dan menyerang Sasuke.
"Dengan ciri-ciri yang sama… orang yang diduga adalah pelaku itu dipanggil dengan nama Deidara." Sahut Naruto mengungkapkan informasi yang didapatnya. "Memang benar ia sekolah di Kirito, dan terlihat suka menggoda wanita. Tapi ia sudah pindah dari Kirito sejak satu tahun yang lalu."
"Kalau begitu kita harus menyelidiki mereka. Meski mungkin gadis berambut biru yang ditemui Sakura sebelumnya tak berhubungan dengan AKATSUKI, tapi itu untuk jaga-jaga saja." Sai masih mengotak-atik laptopnya, mencari data sebanyak yang ia bisa dari internet.
"Lalu yang perlu diselidiki selanjutnya adalah… Sasori, Gaara, Deidara, dan…" Sasuke kembali menaruh jari telunjuk dan ibu jarinya di dagu membentuk angka 7.
"Karin."
Sakura tersentak mendengar nama yang terakhir disebut oleh Sasuke. Sasuke pun melirik ke arah Sakura memberinya peringatan, namun tentu saja itu tak bisa menakut-nakuti Sakura. Karena ini menyangkut kakaknya sendiri.
"Tunggu! Kenapa Karin-neechan juga harus diselidiki?!" bantah Sakura kesal. Sasuke pun menatapnya masih dengan wajah datarnya.
"Kau bilang ketiga pria itu pernah datang ke rumah bersama dengan kakakmu, lagipula apa kau lupa…" Sasuke kembali menatap Sakura dengan tatapan seriusnya.
"Bahwa 'Death Card' dari AKATSUKI pertama kali ditemukan di dalam tasmu."
Sakura kembali terkejut dengan ucapan Sasuke. Tak hanya Sakura, tapi semua yang ada di sana pun ikutan terkejut. Karena mereka juga sampai melupakan petunjuk penting itu. Sakura menggeram, sementara itu Sasuke merogoh sakunya dan mengeluarkan permen lollipop-nya.
"Jadi…kau mencurigaiku?" Sakura menundukkan kepalanya. Pandangannya masih belum lepas dari sosok Sasuke. Semua pun ikut memandang ke arah mereka berdua.
"Aku tak menuduhmu. Hanya saja… Kalau memang benar seperti apa yang sudah kuduga, berarti ketiga pemuda yang datang ke rumahmu dan kakakmu itu memang benar memiliki hubungan atau malah merupakan anggota AKATSUKI."
"Tapi! Bukankah bisa saja seseorang meletakkan kertas itu dalam tasku saat aku sudah berangkat ke sekolah?!"
"Kalau memang benar begitu, maka bagaimana kau menjelaskan mengenai kasus Clife yang ditukar dengan boneka dari AKATSUKI? Hanya beberapa orang saja yang mengetahui kalau Clife benda kesayanganmu, bukan? Lalu kau juga mengatakan kalau seseorang bernama Sasori itu yang mengembalikannya kepadamu."
Argumen Sakura dibantah habis-habisan oleh Sasuke. Ia menggeram kesal. Bagaimana tidak, semua bukti telah terlihat jelas. Tapi Sakura masih menolak untuk mempercayainya. Ia mungkin tak pernah ingin mempercayainya.
"Sasuke cukup!" Ino mencoba melerai pertengkaran argument mereka. Ia juga mengerti bagaimana perasaan Sakura. Ia pasti tak ingin berpikiran negative mengenai kakak kesayangannya. "Mungkin ada alasan tertentu dibalik itu semua."
"Tidak!" sepertinya pembelaan dari Ino justru mempertegas bahwa Karin telah dinyatakan sepihak dengan AKATSUKI. "Kalau begitu apa kau juga berpikir kalau aku adalah anggota AKATSUKI, Sasuke?"
"Sakura~" Hinata bangkit dan mendekati Sakura. Ia meraih pundak Sakura dan mengelusnya. Hinata sudah tak tahan melihat Sakura yang mencoba terlihat tegar. Sasuke pun hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Sakura.
"Bisa jadi."
Jawaban yang keluar dari mulut Sasuke sungguh memutar balikkan logika Sakura. Tubuhnya bergetar hebat, air mata sudah tak dapat lagi membendung di kelopak matanya. Ia menangis dalam diam, meneteskan setiap butir berlian ke lantai.
"Jadi begitu… baiklah…" Sakura mencoba menghentikan tangisnya dan tersenyum. Semua yang ada di sana hanya bisa mengalihkan pandangan mereka dari Sakura karena tak tega melihatnya.
"Kalau begitu mulai sekarang aku akan keluar dari ANBU."
Sakura beranjak meninggalkan ruangan itu. Saat Hinata hendak mengejarnya, tangan Naruto menahannya. Hinata pun hanya bisa menunduk melihat kepergian Sakura. Hati mereka terasa sesak melihat kejadian yang baru saja terjadi.
Sementara itu Sasuke masih terdiam. Sai melirik ke arahnya, dan ia pun menghela nafas panjang. Hanya Sai yang dapat mengetahui ekspresi sesungguhnya dari Sasuke. Ya, ekspresi terluka yang ditunjukkan oleh Sasuke.
"Kau tak perlu melakukannya sampai seperti itu, kan…" bisik Sai kepada Sasuke di sebelahnya.
"Ini demi kebaikkannya."
-ooOoo-
Sakura terisak dalam tangisnya. Tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan aneh. Kini ia sedang berada di Shinkasen yang menuju Konohagakure. Ia sudah meninggalkan seluruh temannya hanya untuk mempercayai sang kakak.
"Hiks… Oneechan~" Sakura terisak. Ingatannya kembali kepada perkataan Sasuke kepadanya beberapa waktu yang lalu.
"Aku tak menuduhmu. Hanya saja… Kalau memang benar seperti apa yang sudah kuduga, berarti ketiga pemuda yang datang ke rumahmu dan kakakmu itu memang benar memiliki hubungan atau malah merupakan anggota AKATSUKI."
"Kalau begitu apa kau juga berpikir kalau aku adalah anggota AKATSUKI, Sasuke?"
"Bisa jadi."
Sakura meringkuk di salah satu bangku penumpang. Tak ada yang mau duduk di sebelahnya karena menganggap dia aneh dan tak pantas di dekati. Tapi Sakura tak peduli akan hal itu. Ia tak peduli.
Jauh dalam hati Sakura, ia juga sedikit curiga dengan tingkah kakaknya akhir-akhir ini. Tapi tentu saja… ia tak ingin menganggap apa yang telah dituduhkan Sasuke kepada kakaknya adalah benar. Sakura justru lebih merasa sakit hati saat Sasuke juga mencurigai dirinya.
"Kenapa, Sasuke…?"
-ooOoo-
Sakura membuka kunci pintu rumahnya. Ia merasa sedikit aneh saat melihat rumahnya begitu sepi seperti tak terurus. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang dirindukannya. Namun ia sama sekali tak menemukannya di dapur maupun di ruang tamu.
"Oneechan~?" Sakura berusaha memanggil kakaknya. Ia pun berjalan menuju kamar sang kakak.
.Tok tok tok.
Sakura mengetuk pelan pintu kamar kakaknya, namun beberapa saat ia tak mendapat jawaban ia pun kembali mengetuknya. Saat ketukan ketiga hampir dilakukannya, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara samar-samar dari dalam. Sakura pun mendekatkan telinganya ke pintu itu dan betapa terkejutnya ia saat menyadari suara apa itu sebenarnya.
"Aaaahh~ Ahh~ Haaaa~ terus~aaahh~"
"Enghh~ Hahh…Hahh~ Ahh~Aaaaahh~Aaaakh~!"
"Ouuhhhh~ Haaa…~AAAaaaahhh~ Ah ah ah~ Aaaa~"
Sakura membulatkan matanya seketika. Sontak Sakura pun membuka pintu itu. Dan sekali lagi betapa terkejutnya ia saat menyadari akan apa yang terjadi di dalam sana.
Kakaknya sedang berada di tengah-tengah himpitan dua orang pria yang Sakura ketahui adalah Deidara dan Gaara. Parahnya lagi, terlihat bahwa 'kejantanan' milik Deidara masuk ke dalam 'lubang' bagian belakang Karin, sedangkan 'kejantanan' milik Gaara sedang memasuki 'lorong' bagian depan Karin.
"O…neechan~" Sakura menutupi mulutnya yang terbuka saking tak percayanya. Kakinya terasa gemetar dan hampir saja ia linglung jatuh kalau saja seorang pemuda tak menahan tubuhnya.
Sakura menoleh melihat siapa pemuda itu. Dan kenyataan selanjutnya kembali membuatnya terkejut. Bahwa dibelakangnya ada seorang pemuda yang diketahuinya bernama Sasori itu. Pemuda itu sedang menyeringai menatap Sakura.
"Kita bertemu lagi, Sakura." Sapanya masih dengan senyuman penuh arti. Sakura kembali menatap sosok kakaknya yang kini bangkit dari posisinya dan memakai pakaian seadanya.
Di sana ada lagi seorang gadis dengan rambut biru yang membantu Karin memakai pakaiannya. Sakura menatap mereka dengan wajah bingungnya. Sementara Karin masih dengan datarnya berjalan mendekati Sakura.
"Oneechan… apa yang terjadi sebenarnya?" Sakura mengerutkan dahinya, ia sungguh tak tahu akan apa yang terjadi di sini sekarang ini. Sang kakak yang biasa menatapnya dengan mata hangat, kini dengan dinginnya berdiri di hadapannya.
"Sudah kuduga kau akan kembali ke sini." Sahut Karin masih dengan wajah datarnya. "Karenanya aku menyuruh mereka semua untuk segera datang secepat mungkin. Dan sepertinya cara ini tepat sekali untuk meyakinkanmu."
"Oneechan…?" Sakura masih tak mengerti apa yang dimaksud kakaknya itu.
"Kau tak mengerti juga? Ternyata memang harus dikatakan dengan jelas ya…" Karin menarik helaian rambut Sakura. Dan saat itu pula Sasori perlahan melepaskan tangannya yang menopang tubuh Sakura itu.
"Kami adalah anggota AKATSUKI. Dan aku… adalah ketuanya."
Dengan sekali dorongan, tubuh Sakura pun terjatuh ke lantai. Semua yang ada di sana menyeringai ke arah Sakura. Mereka telah merencanakan ini semua, dan apa yang telah diduga Sasuke memang benar adanya. Meski begitu… Sakura diajarkan untuk percaya bukan? Mempercayai apa yang diyakininya… meski itu salah sekalipun.
"Kenapa, Oneechan…?"
"Mulai sekarang kau bukan adikku, dan aku bukan lagi kakakmu. Kita adalah musuh."
-TBC-
Nah lho... ketahuan kan siapa itu AKATSUKI?
Terkejut gak? Ah, biasa aja yah...? (_ _")
Oh ya sebelumnya Shera minta maaf nih mengenai balasan reviews-nya.
Akhir2 ini FFn lagi error, jadi banyak reviews yang ngaret~
Shera mohon maaf kalo ada reviews yang ga kebales ya... m(_ _)m
Ok, Mind to reviews?
Please give me~
Keep Trying My Best!
~Shera~
