~Balasan Reviews~

Kiki-chan : He he he... gak nyangka kan? xD *dzig, korban iklan.
Ok nih update... :9

Ah Rin : Termasuk dong... AKATSUKI ada 5 orang total.. :D

Zura-chan : Hallo Zura... :D
Cie elah..tersepona bahasamu.. xD
Squel? Hm... ga tau deh nanti.. :D

hasnistareels : iya yah...kasihan si Saku... tapi nanti Karin lebih kasihan lagi lho~
Nye he he... Banyak yang bakal diskip nih Lemonnya...
Gak keburu ngedeskripsiinnya sih... xO
Iya deh... :X
*makan trasem*

Hatsune Cherry : noproblemoo.. ;D
Oke deeehhh~

Naomi-chan : iya nih Karin nakal ya.. :D *dzig*
He he he... Nao-chan ngrasa begitu kah? Seneng deh bikin Nao-chan dheg2an... xD *geplaked*
lagi musim mati lampu lho, awas nanti salah masuk rumah... xD
Wkwkwk..

Ika-chan : waduh? Masa sih udah ketahuan dluan? O.o
Wah Ika-chan hebat juga nih... Ternyata emang harus bikin yang lebih menggila lagi khusus buat Ika-chan... (_ _")

birumenanti : poorr Sakura~ :'o

Haruno Yuna : dor, salah tebakan! yey... :D
Karin baik yah! penyayang~ :)
Mengenai tujuan AKATSUKI... apa ya? xD *dzig*
nanti bakal tahu deh pokoknya...

~Enjoy Reading~


"ANBU"

.

.


Mission 7 : A Big Battle With AKATSUKI! Or…may be small?

(Pertarungan Besar Dengan AKATSUKI! Atau…mungkin kecil?)


.

Enjoy Reading

.

.

Terkadang, apa yang kau percayai justrulah sesuatu yang salah. Karna dimana ada cahaya, di sana pasti ada bayangan. Semakin terang cahaya itu, semakin tebal pula bayangan yang dihasilkan. Hal itu pun berlaku dalam kehidupan kita. Selama kita mengenal kebenaran, di sana akan ada kebohongan.

Sakura menundukkan kepalanya. Ia sedang berada di sebuah taman bermain yang sepi. Dengan penerangan minim dan angin dingin yang berhembus menyapa kulitnya. Ia mengayunkan ayunan yang sedang di dudukinya. Sakura manatap ke pasir yang diinjaknya.

"Kami adalah anggota AKATSUKI. Dan aku… adalah ketuanya."

"Mulai sekarang kau bukan adikku, dan aku bukan lagi kakakmu. Kita adalah musuh."

Mengingat ucapan kakaknya membuat hatinya terasa sesak. Ia awalnya memang menolak untuk mempercayai ucapan Sasuke, dan sekarang ia tahu sendiri apa yang terjadi sebenarnya. Ini merupakan kali kedua baginya dikhianati.

"Haaahh~ Malangnya nasibmu, Sakura~" Sakura mendongakkan kepalanya. Ia masih berayun pelan sambil menatap bintang di langit sana. Sakura bisa melihat, bahwa langit sedikit mendung. Mungkin itu juga alasan mengapa taman luas itu begitu sepi.

Mengingat mengenai hujan, Sakura jadi teringat peristiwa yang dilaluinya bersama Sasuke. Saat itu petir menyambar dan membuat Sakura ketakutan. Hanya Sasuke yang bisa menenangkannya, bahkan memberikan ciuman manis kepadanya. Lalu saat di penginapan, saat tiba-tiba kesadarannya kembali akibat mendengar petir dan mereka melakukan hal 'itu' untuk kedua kalinya.

Senyum Sakura tiba-tiba memudar saat kembali ke bayangan dimana Sasuke dan dirinya bertengkar. Saat dimana Sakura menolak segala argument Sasuke yang sekarang telah terbukti benar itu.

"Kalau begitu mulai sekarang aku akan keluar dari ANBU."

Sakura menundukkan kepalanya kembali. Perasaan sesak datang menyapanya. Membuatnya hampir meneteskan air mata kembali. Dan bersamaan dengan jatuhnya tetesan air mata itu, tetesan lainnya ikut berjatuhan. Sakura bisa merasakan aura bahwa hujan mulai datang untuk menemaninya.

"Kalau petir datang lagi…" Sakura berbisik pelan. Kepada angin, pasir, ayunan, hujan, atau entah kepada apa. "Kemana aku harus berlindung?"

Tetesan air hujan itu pun terasa semakin deras membasahi taman itu. Pasir yang menjadi pijakannya menjadi hitam karena basah. Dan rambutnya pun jadi lepek. Tapi hal itu tak membuat Sakura berniat untuk beranjak dari ayunan itu. Ia masih terdiam di sana.

Hujan semakin deras menyapa. Sakura mengeratkan pegangannya pada rantai ayunan itu. Ia teringat akan janjinya kepada Sasuke saat mereka berada di aula dan saat Sasuke mengetahui kelemahannya yang takut pada petir.

.CTAR!.

Merasa dipanggil, petir itu pun datang tanpa diundang. Sakura menunduk, bahunya terasa sedikit bergetar. Bergetar karena dingin akibat pakaiannya yang tipis, atau karena takut akan suara menggelegar itu.

.CTAR!.

Petir seakan senang sekali mempermainkan hatinya. Sakura terisak dalam diam. Tangannya semakin mengerat pada rantai ayunan itu. Ia sudah tak memiliki tujuan kemana ia harus pergi, jadi ia hanya bisa diam di sini menunggu sang petir untuk pergi.

.CTAR!.

Petir ketiga pun sukses dilalui oleh Sakura. Di sela isakannya dan tubuhnya yang gemetar hebat. Sakura tersenyum. Pandangannya mengarah kepada pasir di bawahnya, tetapi matanya menatap kosong.

"Aku…memang takut petir. Tapi suatu saat aku akan menghilangkan phobia ini dan berdiri menatap langsung kepada petir itu."

"Kutunggu kau mewujudkan hal itu."

Sakura tersenyum kembali. Dan perlahan ia pun mengangkat kepalanya menghadap langit. Matanya terpejam merasakan derasnya air hujan yang jatuh menerpa permukaan wajahnya.

"Aku sudah mewujudkannya kan, Sasuke…"

"Ya. Kau berhasil mewujudkannya."

Sebuah suara sontak membuat Sakura membuka kelopak matanya perlahan. Suara yang dikenalinya, sangat dikenalinya. Dan juga merupakan suara pemuda yang dirindukannya.

Sasuke. Pemuda itu berdiri menatapnya—yang sedang mendongak—dari belakang, atau tepatnya dari belakang ayunannya. Sakura terdiam memandangi wajah Sasuke.

Dengan wajah Sasuke yang berada di atasnya, itu menghalangi tetesan hujan yang jatuh mengarah ke mukanya. Hal ini membuat Sakura semakin jelas melihat ketampanan wajah pemuda itu, dan lagi rambutnya yang terlihat basah oleh air hujan membuatnya lebih terlihat tampan.

"Malaikat~" sahut Sakura sambil tersenyum.

Sasuke terdiam sejenak. Ia mengingat kejadian yang sama seperti ini. Ya, itu adalah kejadian pertama kalinya mereka bertemu secara langsung. Kejadian saat Sakura terjatuh dari atap sekolah dan Sasuke menolongnya. Sudah berlalu cukup lama sejak kejadian itu.

"Dasar bodoh." Sasuke meraih bibir Sakura dan mengecupnya lembut—masih dengan posisi mereka, yaitu Sakura yang mendongak dan Sasuke yang berada di belakangnya.

Setelah ciuman itu terlepas, Sasuke membawa Sakura ke mobil yang diparkirnya tepat di depan taman itu. Sakura sama sekali tak menolaknya, ia memang sangat merindukan pelukan Sasuke. Tapi ia merasa tak pantas untuk mendapatkannya lagi.

"Sasuke…" Sasuke menoleh saat dirinya akan mengikatkan sabuk pengaman kepada Sakura. "Maafkan aku…"

Sasuke terdiam sejenak, namun senyum lembut kembali menghiasi wajahnya. Ia mengusap rambut basah Sakura dengan segala rasa sayang. Sasuke meraih tangan Sakura, ia melihat luka lecet di telapak tangannya. Itu pasti karena Sakura yang menggenggam rantai ayunan itu, ia pasti menahan rasa takutnya.

"Aku yang seharusnya minta maaf." Sasuke mengangkat kedua tangan Sakura dan mengecupnya. Ia tak bisa melakukan pengobatan seperti yang biasa Sakura lakukan, hanya ini yang ia punya. Doa. Doa agar rasa sakit Sakura bisa menghilang selamanya.

"Sasuke…" Sakura terisak kembali. Melihat hal itu membuat Sasuke terenyuh. Melihat orang yang disayangi terlihat rapuh dihadapannya, apapun akan dilakukannya untuk membuat senyuman kembali terlihat di bibir Sakura. Bagaimanapun ia menyadari, bahwa Sakura pasti sudah mengetahui akan kenyataan yang sebenarnya.

"Sasuke… maaf…maaf… maafkan aku. Maaf aku tak mempercayaimu" Sasuke meraih tubuh Sakura dan mendekapnya. Dengan ringannya ia menggeser dan mendudukan Sakura di pangkuannya. Ia mengusap tubuh Sakura yang dingin itu.

"Sssstt~ Tak apa, semua akan baik-baik saja. Kali ini percayalah padaku." Ucap Sasuke sambil mengecup kening Sakura. Memberikan ketenangan kepada gadisnya ini.

"Tapi kenapa…? Kenapa kau bisa ada di sini?" Sakura mendongakkan kembali kepalanya untuk menatap Sasuke.

"Karna aku tahu hal ini pasti akan terjadi, dan aku segera menyusulmu ke sini."

"Kau tahu? Sejak kapan?"

"Sejak kau meninggalkan Kirigakure. Aku telah mengetahui segalanya."

"Karna itukah kau mengatakannya kepadaku? Agar kejadian ini tak terjadi?"

"Awalnya… kupikir target AKATSUKI adalah ANBU, karena dalam pesan pertama yang mereka kirim disebutkan bahwa mereka mengincar dunia kejahilan yang pernah dikuasai oleh ANBU." Sasuke mengusap kembali rambut Sakura, menyusunnya dalam suatu helaian rapi. Sakura masih terdiam menunggu kalimat Sasuke.

"Dan aku pikir lebih baik kalau kau tak terlibat dengan kami."

Sakura menyadarinya sekarang. Ia sadar akan besarnya rasa cinta Sasuke kepadanya. Akan perlindungan yang diberikan Sasuke pada setiap tindakannya. Sakura sempat meragukan mengenai kepemimpinan Sasuke, tapi kini ia tahu, mengapa Sasuke menjadi ketua ANBU.

"Tapi aku… sudah bukan lagi anggota ANBU sekarang. Kurasa mereka tak akan mengincarku lagi." Sahut Sakura angkat bicara. Sasuke pun kembali menatapnya.

"Siapa yang bilang kau boleh mengundurkan diri?" pertanyaan Sasuke ini membuat Sakura memandangnya dengan tatapan tak mengerti. "Aku ketuanya. Jadi aku yang memutuskan siapa yang masuk dan siapa yang keluar."

Sakura terkekeh mendengar ucapan Sasuke. Inilah Sasuke yang dikenalnya. Pangeran narsis yang selalu bertindak seenak kepalanya. Tapi juga merupakan pangeran yang selalu memperhatikan dan melindunginya diam-diam.

"Tapi Sasuke… kenapa kau tak mencegahku saat aku masih berada di Kirigakure saja?"

"Saat itu aku tak menyadari hal penting lainnya. Aku terlalu focus dengan tujuan AKATSUKI. Dan saat aku kembali menganalisanya, aku menyadari bahwa sebenarnya kaulah yang menjadi sasaran mereka." Sasuke kembali memasang aura seriusnya.

"Aku? Mengapa mereka mengincarku? Em… mungkinkah… mereka tahu kalau kau dan aku pacaran?"

"Itu bisa jadi, tapi selain itu… sepertinya ada tujuan lain dalam pergerakan mereka."

"Tujuan lain?"

Sasuke melirik ke arah Sakura. Ia terdiam sejenak, dan sepertinya memikirkan sesuatu. Sakura masih menunggu jawaban dari pertanyaannya, namun bukannya menjawab, Sasuke malah menyalakan mesinnya dan bersiap untuk pergi. Padahal Sakura masih berada di pangkuannya.

"Sasuke? Hey… Biarkan aku kembali ke tempat dudukku dulu." Sakura terlihat ngeri akan pisisinya. Ia bisa mengganggu Sasuke untuk mengemudi.

"Tenang saja, kau kecil jadi tak akan menghalangi pandanganku atau pergerakanku. Sebaliknya, kau cukup hangatkan saja 'adik'ku itu."

Sakura paham betul yang dimaksud Sasuke 'adik' itu. Bagaimanapun Sakura juga bisa merasakannya, sesuatu yang keras tengah menusuk pahanya dan membuatnya merona merah. Sasuke pun terkekeh melihat tingkah Sakura itu.

-ooOoo-

Saat ini sekali lagi ANBU sedang mengadakan rapat dadakan. Di markas mereka yang menggunakan tekhnologi canggihnya, mereka mencoba mengumpulkan segala informasi dan menganalisanya menjadi satu kesimpulan.

"Jadi yang telah dipastikan dari segala kesaksian Sakura, bahwa anggota AKATSUKI berjumlah 5 orang dengan Karin sebagai ketuanya." Terang Sai sambil menunjukkan foto-foto yang didapatnya dari berbagai sumber di layar besar—yang keluar dari langit-langit.

"Anggota pertama, Deidara. Pernah bersekolah di Kirito. Memiliki keahlian dalam kimia dan fisika. Pernah sekali uji coba nuklir, karena dilarang, maka ia dikeluarkan dari Kirito. Kurasa ia lah tersangka dalam peledakan aula utama saat Festival Olah Raga berlangsung di KHSI."

"Anggota kedua, Akasuna Sasori. Seorang ahli mengelabuhi dan menyelindap. Bisa jadi ia orang yang memasukkan 'death card' ke dalam tas Sakura dan menukar Clife dengan boneka mainannya tanpa sepengetahuan Sakura itu sendiri. Karena kudapati informasi bahwa ia juga sangat menyukai boneka."

"Anggota ketiga, Sabaku Gaara. Seorang yang sama sepertiku, ahli hacker-cracker. Dan kurasa ia lah yang menyebabkan kita kehilangan kontak saat akan ke Kirigakure. Menurutku dialah yang paling merepotkan untuk diatasi."

"Anggota keempat, Konan. Dengan matanya yang tajam, ia bisa menghipnotis orang lain. Keahliannya dalam bidang hipnotis dan ilusi lainnya. Bisa jadi dia yang menyebabkan kita menyerang Sakura dengan ilusinya pada Clife gadungan."

Sakura dan Sasuke saling berpandangan. Mereka memiliki rahasia berdua, yaitu bahwa Konan juga pernah menghipnotis Sakura dan membuatnya menyerang Sasuke secara agresif di Kirigakure. Tapi untuk mengatakannya, Sakura lebih memilih untuk merahasiakan hal ini saja. Toh tak terlalu berpengaruh untuk penyelidikan.

"Anggota terakhir, dan sekaligus merupakan ketua AKATSUKI." Ucapan Sai terhenti seketika. Sakura menarik nafasnya sebelum kembali mendengarkan penjelasan Sai.

"Ketua AKATSUKI, Haruno Karin. Merupakan kakak dari Sakura, keahlian dan tujuan sebenarnya ia membentuk AKATSUKI belum begitu jelas. Hanya saja, kalau semua anggotanya sebegitu hebat pasti ketuanya pun tak kalah hebat. Kita harus tetap waspada."

Setelahnya Sai kembali menutup satu per satu foto para anggota AKATSUKI yang tergambar di layar besar itu. Namun sebelum Sai akan mematikan layar itu dan mengembalikannya ke langit-langit, ia menyadari satu hal yang terlupakan.

"Ah. Aku hampir lupa. Ini dia…" Sai membuka kembali sebuah gambar desa. "Sudah kukonfirmasikan bahwa Kirigakure, desa yang kemarin kita kunjungi, merupakan markas rahasia mereka."

Setelahnya pun layar itu benar-benar tertutup dan masuk ke dalam langit-langit itu. Semua saling bertukar pandangan. Sakura duduk manis di samping Sasuke dengan rengkuhan sebelah tangan Sasuke ke pundaknya.

"Sebenarnya aku berpikir… Apakah sejak awal AKATSUKI memang sengaja membeberkan informasinya kepada kita?" Ino mulai mengajukan arugumennya. Semua pun berpaling menatapnya.

"Kenapa bisa seperti itu?" Hinata mengerutkan dahinya.

"Kalau diurutkan kronologinya, AKATSUKI telah menaruh 'death card'-nya ke dalam tas Sakura. Mereka pasti ingin membuat Sakura dicurigai atau paling tidak 'seseorang yang dekat dengan Sakura' yang akan dicurigai." Lanjut Ino menerangkan mengenai pendapatnya.

"Ah, jadi begitu… bisa saja. Kejadian selanjutnya pun selalu berhubungan dengan Sakura-chan. Seperti orang yang pertama kali menemukan peledak di aula utama dan sasaran pengaruh pheromone Clife gadungan kepada Sakura. Sepertinya AKATSUKI menginginkan kita untuk mencurigai Sakura-chan." Naruto ikut mengambil kesimpulan.

"Itu bisa jadi juga. Jadi kesimpulan sementara atas tujuan AKATSUKI yaitu menjauhkan Sakura dari kita." Sahut Sai lagi diiringi dengan bunyi keyboard laptop-nya yang dipencet cepat.

"Tapi mengapa harus menjauhkan Sakura?" Hinata kembali angkat bicara. Sepertinya akhir-akhir ini Hinata ketularan virus 'KEPO' dari ino.

Sementara itu orang yang menjadi tokoh utama cerita ini malah terdiam dalam dekapan Sasuke. Ia sepertinya memikirkan sesuatu. Ingatannya kembali terputar saat pertama kali ia mengatakan kepada Karin bahwa ia akan kencan dengan Sasuke.

"Kencan? Kapan?"

"Emm… aku juga tak tahu. Sasuke belum mengatakannya kepadaku."

"Sasuke? Namanya Sasuke? Uchiha Sasuke?"

"Kenapa, Karin-neechan? Apa Karin-nee mengenal Sasuke?"

"Em… tidak, tidak, aku baru saja melihat anak itu."

Sakura kembali teringat mengenai percakapannya. Di sana ia merasa aneh akan sikap kakaknya itu. Bahwa mungkin Karin mengetahui sesuatu mengenai Sasuke. Atau mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya? Sakura menoleh melirik sang kekasih yang sekali lagi, sedang mengemut permen kesukaannya.

"Apa kau… pernah bertemu dengan Karin-neechan sebelumnya, Sasuke?"

Pertanyaan Sakura sontak mengalihkan perhatian seluruh orang yang ada di ruangan itu, termasuk Sasuke itu sendiri. Ia berpaling menatap Sakura yang terdiam. Yang lainnya hanya saling bertukar pandangan bingung.

"Saat itu, Karin-neechan terkejut saat namamu kusebut. Dan lagi… Ia mengetahui nama keluargamu padahal aku belum mengatakannya." Jelas Sakura lagi.

Sasuke terdiam mendengar penuturan Sakura. Ia melirik ke lain arah untuk menghindari tatapan mata Sakura kepadanya. Kemudian ia pun mengalihkan kembali mukanya dan mengemut permen itu seolah tak ada apapun yang terjadi sebelumnya.

"Aku tak mengenalnya…" jawab Sasuke sekenanya.

-ooOoo-

Sudah beberapa hari berlalu dalam kedamaiannya. OSIS pun mulai melakukan kegiatan rutinnya seperti biasa. Dan ANBU juga melaksanakan misi-misi yang ringan untuk mengisi waktu luang.

Sakura menegadah ke langit. Ia memang menyukai tempat terbuka, dulu ketika masih tinggal bersama sekeluarga, mereka mempunyai atap tempat berkumpul bersama melihat langit. Tapi sejak pindah bersama Karin, ia jadi jarang berbaring untuk menatap langit.

"Bagaimana kabar ayah dan ibu ya…" Sakura berbaring di atap sekolahnya. Saat telah lelah dalam segala kegiatannya, Sakura memilih untuk memanjakan diri berbaring di atap. Sepertinya Sakura merindukan kelengkapan seluruh anggota keluarganya. Sekarang Karin telah memisahkan diri darinya, dan Sakura hanya bisa tinggal di markas ANBU saja bersama Sasuke.

"Kau bisa hitam kalau sampai tertidur di sini."

Sakura membuka matanya. Ia sudah menduganya, cepat atau lambat pemuda satu ini pasti menemukannya. Sakura pun bangkit terduduk di sana. Dan pemuda itu juga menempatkan dirinya di samping Sakura.

"Kau selalu mengawasiku ya? Apa kau punya radar yang dipasang padaku?" sahut Sakura setengah bercanda.

"Ada kok…" Sakura menoleh mendengar jawaban Sasuke. Tangan Sasuke meraih tangannya, dan menggenggamnya erat. Sakura tersenyum melihatnya. Sakura kembali menoleh menatap hamparan langit yang luas di atasnya.

"Sasuke… kemana keluargamu?" Sakura bertanya lirih, Sasuke terdiam mendengarnya. Merasa tak mendapat jawaban Sakura melirik ke arah kekasihnya itu.

"Maksudmu orang tuaku?" tanya Sasuke yang dijawab dengan anggukan Sakura. "Mereka terlalu sibuk bekerja. Rata-rata orang tua yang berkarir kan seperti itu."

"Hm… Berpikir bahwa dengan bekerja keras mereka akan mengabulkan segala keinginan anaknya. Tapi yang sebenarnya diinginkan anak adalah hal 'remeh' seperti 'kasih sayang'."

Sasuke terdiam mendengar penuturan Sakura. Sepertinya mereka merasakan adanya kesamaan pengalaman. Atau mungkin tak hanya mereka, tapi juga kelompok ANBU lainnya. Entah lah, latar belakang mereka belum semuanya terjawab.

"Karena alasan itulah anak-anak bertindak nakal. Itu semata-mata untuk menarik perhatian orang-orang sekelilingnya. Kami hanya butuh perhatian saja." Sasuke menerawang.

"Sasuke… apa kau..memiliki seorang kakak?" Sasuke menoleh mendapati pertanyaan Sakura. Mereka saling bertatapan sejenak.

"Ya. Seorang kakak laki-laki." Sahut Sasuke dengan senyuman. Tapi Sakura terdiam, menyadari bahwa dalam senyuman itu terdapat suatu kesedihan yang disembunyikan.

"Kakak laki-laki?"

"Namanya Uchiha Itachi. Seorang kakak yang amat kubanggakan. Kakak yang menyayangiku dan selalu berada di pihakku apapun yang kulakukan."

"Sama seperti Karin-nee ya…"

"Hn. Kira-kira begitulah. Oleh karenanya aku juga mengerti bagaimana perasaanmu sekarang."

"Benarkah?"

"Ya… karna Itachi-nii…" Sasuke menundukkan kepalanya menatap lurus ke depan. "Telah berada di surga sana."

.Dheg.

Ucapan Sasuke membuat hati Sakura tersentak. Ia membuka matanya, bahkan mulutnya pun sedikit terbuka mendengarnya.

"Maksudmu…"

Sasuke menoleh menghadap Sakura. Ia tersenyum, sekali lagi Sakura bisa merasakan sesak yang membanjiri hatinya. Dengan cepat Sakura bangkit dan memeluk kepala Sasuke. Sasuke terdiam membiarkannya. Pelukan Sakura pun mengerat. Air mata jatuh membasahi pipinya.

"Maaf…Maaf… maafkan aku…" Sakura bergumam lirih.

Tangan Sasuke bergetar. Ia mengepal erat mencoba menahan perasaanya, dan kini Sakura telah menggantikannya untuk menangis. Sasuke terdiam tak membalas ataupun menolak pelukan Sakura.

"Apa kau tahu satu hal? Itachi-nii…." Sasuke memberikan sedikit jeda pada kalimatnya. "Adalah mantan pacar Karin-neechan."

Sekali lagi ucapan Sasuke membuat Sakura terdiam membulatkan matanya. Ia mematung tak percaya. Perlahan pelukannya pun mengendur. Ia memposisikan dirinya menghadap Sasuke yang terduduk sambil memalingkan wajahnya.

"Karin-nee dan Itachi-nii…."

"Ya. Mereka pernah menjadi sepasang kekasih." Sebuah sambaran seakan menyetrum tubuh Sakura. Mendengar pernyataan Sasuke membuatnya merinding seketika. "Sebelum mereka lama pacaran, tepat saat kencan pertama mereka… Itachi-nii kecelakaan dan meninggal."

Sakura menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia mnutupi mulutnya dan menatap Sasuke tajam.

"Itachi-nii sering menceritakan mengenai kakakmu kepadaku, ia begitu mencintai Karin-neechan. Ia senang sekali waktu bisa berpacaran dengannya. Dan suatu hari saat ia bilang akan pergi kencan… saat itulah… saat Niichan kecelakaan bahkan sebelum sempat datang ke tempat yang telah dijanjikan kepada Karin-neechan. Hari terakhir bagi Niichan di dunia ini."

Akhirnya tangisan Sasuke pecah begitu saja. Membuat jalur sungainya sendiri di pipi Sasuke. Sakura masih mematung tak percaya. Ternyata dunia sesempit ini sehingga sejarah kehidupan mereka saling berkaitan.

"Jadi itulah sebabnya… Karin-nee mencoba memisahkan kita?" Sakura akhirnya angkat bicara.

"Bisa jadi. Mungkin ia dendam kepada keturunan Uchiha setelahnya. Wajar saja kalau memang itu alasannya, kita tak bisa menyalahkan Karin-nee. Karna Itachi-nii juga telah berpesan kepadaku untuk menyampaikan permohonan maafnya, tapi aku... belum sempat mengatakannya."

Sasuke dan Sakura saling terdiam menghabiskan waktu berkutat dalam pikiran mereka masing-masing. Sepertinya permasalahan yang mendasari peperangan antara ANBU dan AKATSUKI merupakan masalah pribadi antar ketua.

-ooOoo-

"AKATSUKI mengirim pesan kembali?" Sasuke berdiri di belakang Sai yang sedang menghadap laptopnya.

"Belum ada pergerakan apapun dari AKATSUKI. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Sai mengklik website ANBU di layar laptopnya, dan memperlihatkannya kepada Sasuke.

"AKATSUKI tak mungkin tinggal diam begitu saja. Mungkin mereka merencanakan hal lain yang lebih berbahaya, berhubung kita telah mengetahui identitas mereka." Ino kembali berargumen sambil meneguk jus strawberry kesukaannya.

"Selama ini selalu AKATSUKI yang memulai peperangan. Bagaimana kalau sekarang giliran kita yang menjadi tuan rumahnya?" Naruto mencoba mengusulkan. Semua pun saling bertukar pandangan.

"Ide bagus. Lalu apa yang akan kita rencanakan?" Sasuke mengangguk-angguk setuju. Semua pandangan pun kembali mengarah kepada Naruto yang sedang menghabisakan mangkuk ketiga mi ramennya.

"Kenapa menatapku? Aku juga tak tahu!" sahut Naruto setelah menelan habis ramennya.

.Toeng.

Semua pun menunduk kecewa. Memang apa yang bisa diharapkan? Naruto hanya akan menambah keruh keadaan saja. Akhirnya mereka pun saling memikirkan caranya. Hinata sepertinya mendapatkan suatu ide, ia berjalan perlahan menuju sebuah lemari plastic besar. Hinata membuka laci paling atas dan mengeluarkan sebuah dokumen yang disusunnya dengan rapi.

"Bagaimana kalau ini?" Hinata memamerkan dokumen itu kepada semua yang ada di sana.

-ooOoo-

Langit mulai memerah, menandakan senja yang mulai datang. Seorang gadis dengan warna rambut merah dan kaca mata tebalnya terduduk di jendela menatap sang senja. Ia terdiam, seakan larut dalam pikirannya.

.Cklek.

Tiba-tiba seseorang berani mengganggunya. Ia melirikkan ekor matanya, namun tanpa bicara ia kembali ke perhatiannya semua. Orang itu adalah seorang pemuda dengan warna rambut yang hampir sama dengannya. Pemuda itu bersandar pada jendela yang sama dan terdiam.

"Ada pesan datang dari ANBU." Sahutnya tanpa basa-basi. Gadis itu menoleh sejenak merasa perhatiannya telah tercuri dengan kabar yang baru didengarnya.

"Kapan dan dimana?" tanya sang gadis tak kalah singkatnya.

"Di Sunagakure, besok lusa."

"Kuserahkan persiapannya kepadamu." Sahut sang gadis. Ia pun melangkahkan kakinya turun dari jendela itu dan beranjak pergi. Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan sang pemuda, tangannya ditahan oleh pemuda itu.

"Ada satu hal yang ingin kubicarakan lagi kepadamu." Pemuda itu melangkah mendekatkan dirinya kepada sang gadis.

"Hentikan, Sasori. Pembicaraan kita selesai. Selanjutnya kau bisa mengutus salah satu dari anggota lainnya untuk bersiap." Gadis itu mencoba melepaskan tangannya dari genggaman pemuda itu. Namun yang dirasakannya hanyalah cengkraman yang kian mengerat.

"Ayolah Karin-san, dalam hal ini hanya kaulah yang bisa. Kau tahu apa maksudku bukan?" Sasori menarik ketua tangannya melingkar memeluk Karin. Karin pun hanya terdiam tak menanggapi.

"Kuperingatkan kepadamu…" Karin tertunduk. Ia membiarkan Sasori menciumi tengkuknya. Ia tak merasakan apapun, ya, ia tak merasakan apapun. Karena ia telah mati rasa seutuhnya.

"Jangan pernah sentuh Sakura!"

Bersamaan dengan larangan yang keluar dari mulut Karin, Sasori menarik paksa tangannya dan menghempaskan tubuh Karin ke ranjang yang ada di sana. Ia segera mengunci pergerakan Karin dan menindihi tubuhnya.

Karin terdiam. Ia tak berniat untuk menolak maupun menerima. Matanya menatap Sasori kosong. Melihatnya membuat Sasori geram. Tapi ia kemudian menyeringai dan langsung mencumbu leher Karin dengan liar.

"Ternyata hatimu memang telah mati bersamanya." Sahut Sasori lirih, namun cukup untuk didengar oleh Karin. "Dengan kau melakukan hal ini, malah akan semakin membuatnya membencimu."

"Justru itu yang kuinginkan."

Sasori menggeram kembali mendengar ucapan Karin. Ia menyobek paksa pakaian Karin dan membuangnya ke sembarang tempat. Ia pun kembali menggerayangi tubuh Karin. Sedangkan sang empunya tetap terdiam menatap langit-langit dengan tatapan hampa. Di sela cumbuannya, Sasori terdiam dan berbisik.

"Serahkan-dia-kepadaku."

-ooOoo-

Sakura memandangi sosok pemuda yang kini tengah memejamkan matanya di sampingnya. Sakura teduduk di atas ranjang, dan di sebelahnya sudah ada Sasuke dengan wajah polosnya tengah tertidur.

Sakura bukannya tak ingin tidur, hanya saja ia merasa tak bisa tidur. Meski Sakura sudah beberapa hari ini tinggal di markas ANBU, sejak ia diusir dari rumah. Ia selalu tidur sendirian, sedangkan sekarang di sebelahnya sudah ada Sasuke, mana sudah tertidur pulas pula.

'Bagaimana ini?' batin Sakura. Keringat dingin pun telah membanjiri pelupuknya. Ia menelan ludah yang mengganjal di tenggorokannya.

Sakura tak tahu harus bagaimana. Ia bukannya merasa tak nyaman tidur sekamar dengan Sasuke, apalagi mereka sudah pernah melakukan hal 'itu' beberapa kali. Tentunya tak asing lagi bagi Sakura. Hanya saja sepertinya sesuatu mengganggunya sehingga ia tak bisa tertidur.

"Apa yang kau lakukan? Cepatlah tidur." Sakura menoleh saat merasa mendengar suara Sasuke. Namun sang pemuda masih memejamkan matanya dan terlihat sangat nyaman. Sakura mendecih melihatnya.

"Aku…tak bisa tidur." Sakura memalingkan mukanya dan kembali memikirkan suatu cara.

"Kenapa?" tanya Sasuke masih dengan matanya yang terpejam dan tak merubah posisinya.

"Entah.. aku juga tak tahu. Hanya saja aku tak bisa tertidur padahal aku lelah sekali." Sakura mengerutkan dahinya, mendadak ia menatap sang kekasih yang tertidur itu. "Apa kau tahu sesuatu yang terjadi kepadaku sekarang?"

Sasuke terdiam. Beberapa waktu berlalu sama sekali tak ada jawaban. Merasa diabaikan, Sakura merengut kesal. Ia memutuskan utnuk bangkit dari ranjangnya, namun tangannya terasa ditahan.

.Greb.

Tubuh Sakura terjatuh di kasur dengan posisi setengah terduduk. Belum sempat Sakura mencerna apa yang baru saja terjadi kepadanya, ia menadari sesuatu bergerak-gerak di kakinya. Dan benar saja, Sasuke telah membuka celana pendeknya dan kini hanya tinggal celana dalam putih saja.

"Kyaa~! Sasuke! Apa yang kau lakukan?!" Sakura refleks merapatkan kakinya dan menutupi daerah kewanitaannya itu. Wajahnya telah memerah sempurna menyadari bahwa Sasuke juga telah berada di depan kakinya.

"Kau malu akan apa? Aku sudah menyentuh setiap titik dari tubuhmu, apa lagi yang kau malukan?" jawab Sasuke malas. Sakura semakin salah tingkah mendengar ucapan Sasuke.

"Kau mau apa?! Ini sudah malam!" larang Sakura masih menahan kedua pahanya agar tak dibuka oleh Sasuke. Sekali lagi Sasuke hanya memutar matanya bosan.

"Aku akan memastikan kau tertidur pulas setelah ini. Percaya saja kepadaku."

"Me…memangnya apa yang akan kau lakukan?!"

Sekali lagi Sasuke pun menatap bosan ke arah Sakura. Sungguh, malam-malam begini saat ia butuh istirahat justru kekasihnya malah membuatnya tak bisa tidur. Sasuke terdiam sejenak, melihat ekspresi muka merah Sakura yang menggemaskan. Lalu tiba-tiba saja dengan sekali hentakan ia menarik celana dalam Sakura dan membuangnya ke sembarang tempat.

"Kyaaa~! Sasu! Kau mau apa?!"

"Sudah kubilang, kan? Aku mau 'meniduri'mu."

"Kyaaa~ Engh~! Sasu~!"

Pekikan kencang itu memandakan suatu pelayanan khusus dari Uchiha kepada kekasihnya, Haruno. Dan benar seperti yang direncanakan Sasuke bahwa Sakura akan tertidur pulas setelahnya. Yang terjadi sebenarnya… kalian imajinasikan saja sendiri yah~ :3

-ooOoo-

Hari yang telah ditunggu tiba. Hari perang blak-blakan antara ANBU dan AKATSUKI. Biasanya memang AKATSUKI yang mendeklarasikan perang mereka kepada ANBU, tapi sekarang waktunya pembalasan kepada AKATSUKI.

ANBU mendapatkan brosur undangan dari Sunagakure mengenai Festival Panen yang diadakan rutin setiap tahunnnya. Di sana akan diadakan sebuah perlombaan yang bisa diikuti oleh siapa saja. Perlombaan yang mengambil garis tengah adil antara ANBU dan AKATSUKI.

Sebuah perlombaan dimana keahlian computer, ahli ilusi, ahli peledak, ahli menyamar, ahli informan, dan berbagai ahli lainnya yang dimiliki baik AKATSUKI maupun ANBU tak bisa digunakan. Perlombaan dimana hanya keberuntungan lah yang bisa menjadikan acuan kemenangan.

Yaitu…

"Kau sudah siap, Sakura?" Sasuke memakaikan sebuah ikat kepala putih dengan lambang ANBU di dahinya. Sakura mengangguk menjawabnya.

Ino, Sai, Naruto, dan Hinata pun memakai ikat kepala yang sama. Ini merupakan pertandingan mereka melawan AKATSUKI secara langsung dan terang-terangan.

Sebenarnya apakah perlombaan yang dimaksud itu? Kalau dilihat-lihat, tak ada alat yang digunakan dalam perlombaan ini. Hanya sebuah tomat. Hah, tomat? Sebenarnya apakah perlombaan ini? Biar MC kita yang menjawabnya… (*plak* xD)

"—Baiklah, apakah semua peserta telah siap? Mari kita mulai saja kalau begitu.—"

Sakura menatap Sasuke sejenak. Di sana pasti ia akan bertemu dengan kakaknya lagi. Sedikit banyak ia takut. Menyadari hal itu Sasuke tersenyum ramah, ia mengacak-acak rambut Sakura.

"Semua akan baik-baik saja."

Sakura mendecih sambil menata kembali rambutnya. Namun setelahnya ia tersnyum mengangguk menyetujui pernyataan Sasuke.

"—Mari kita mulai saja…—"

Sang MC pun memberikan jeda pada kalimatnya.

"—Petandingan Lempar Tomat segera kita mulaaaaaaaiiiii!—"

.Toeng.

Yup. Ini dia. (_ _") pertandingan yang dimaksudkan. Oleh karenanya seluruh ke-intelegency-an tak diperlukan bukan? Ini adalah pertandingan teradil yang penah mereka lakukan. Juga mungkin pertandingan terkonyol.

Sakura dan anggota lainnya berjalan keluar menuju lapangan tempat pertandingan. Di sana banyak juga peserta yang mengikutinya dari seluruh penjuru tempat.

Pertandingan lempar tomat ini cukup sederhana. Dengan anggota 3 on 3 mereka akan saling melemparkan tomat ke arah anggota tim lawan. Dan kalian bisa bersembunyi di drum yang telah di sediakan di tengah-tengah lapangan. Kalau sudah terkena lemparan, berarti keluar. Dan siapa yang anggotanya masih tersisa sampai akhir, maka dialah yang menang. Cukup seru sepertinya…

"Baiklah kita mulai saja pertandingan babak penyisihannya…!—"

Setelah MC menyatakan start-nya, pertandingan penyisihan pun dimulai. ANBU menurunkan Sasuke, Sai, dan Naruto. Peraturan lainnya adalah, mereka tak boleh mengganti pemain sampai pertandingan selesai ke final nanti. Jadi Sasuke, Sai, dan Naruto akan menjadi perwakilan di sini.

Dalam babak penyisihan ini, hanya akan ada 6 regu yang lolos ke tahap semi final. Dan akhirnya akan ke final. ANBU melawan perwakilan dari Sunagakure, sedangkan AKATSUKI dengan anggota Gaara, Deidara, dan Konan melawan Kirigakure.

"Ayo, Saaaaaiiiii~! Kalahkan mereka!" Ino memekik kencang. Sakura dan Hinata tak mau kalah, mereka juga saling menyemangati kekasihnya.

Sai dengan santainya berlindung di balik drum itu. Sementara Sasuke memilih-milih tomat itu dan menatapnya seakan tak rela untuk melemparkannya kepada pihak musuh, beruntunglah ada Naruto yang dengan semangat melempari para anggota musuh dengan tomat-tomatnya.

"Apa-apaan mereka itu?! Hey, Sasuke! Lempar tomatnya ke pada mereka!" pekik Ino. Sakura dan Hinata saling bertukar pandangan. Padahal jelas-jelas Sai yang terlihat sama sekali tak melempari tomat itu, tapi malah Sasuke yang kena.

"Berjuanglah, Naruto-kun~" Hinata menyeru memberikan semangatnya. Naruto yang mendengar itu langsung berpaling dan tersenyum ala Gay-sensei (?!) ke pada Hinata.

.Buk.

Akibat dari kelalaiannya, Naruto terkena lemparan tomat dari satu-satunya anggota musuh yang tersisa. Akibatnya ia jadi dikeluarkan dari ring. Ino pun mendesah sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan Sakura dan Hinata hanya terkekeh melihatnya.

Karena mascot mereka, Naruto, telah keluar, mau tak mau Sasuke dan Sai harus turun tangan. Beruntungnya musuh mereka tinggal satu orang, jadi mereka dengan mudah menumbangkannya. Dan ANBU pun masuk ke tahap semi final.

"Yeeeeyyy~! Bagus, Sai-kuuuuun~!" pekikan keras Ino terdengar kembali.

"Yosh! Good Job~" Sasuke dan Sai mengangkat tangannya untuk melakukan tosh. Naruto pun tak mau ketinggalan, ia segera menghampiri kedua sahabatnya itu di atas ring dan bersiap memeluk mereka.

Namun melihat tubuh Naruto yang dibaluti bekas tomat, Sasuke dan Sai sontak mendorong Naruto menjauh. Sakura, Ino, dan Hinata sontak tertawa melihatnya. Ternyata tingkah mereka ini juga menggelak tawa bagi seluruh penonton, sehingga semua juga ikut tertawa.

Sementara sorak-sorai ramai itu terdengar. Seseorang tengah berdiri menatap punggung Sakura dari belakang. Orang itu mengamati Sakura dalam diam. Ia pun beranjak perlahan mendekati Sakura.

"Sasuke, semanga—emmm~"

Mulut Sakura tersumpal oleh sebuah rengkuhan tangan. Sakura menariknya, mencoba melepaskannya, namun tenaganya tak cukup kuat. Hal itu meyakinkannya bahwa yang sedang menyekapnya adalah seorang pria.

"Kita sering bertemu ya, Sakura-chan~"

Sakura membulatkan matanya. Ia tahu suara ini. Bukannya karena ia mengenal suara ini, tapi suara inilah yang seakan selalu ditemuinya di saat-saat yang mengejutkan. Sakura menoleh untuk melihat wajah sang pelaku, dan benar saja. Dia adalah Sasori. Anggota AKATSUKI.

"Kalau kau tak memberontak, aku tak akan kasar kepadamu." Sasori mendekatkan wajahnya ke tengkuk Sakura. Sakura sekali lagi mencoba memberontak. Ia melambaikan tangannya meminta bantuan, tapi tak ada satu pun yang memperhatikannya.

"Aku berjanji tak akan melukaimu." Sasori berbisik tepat di telinga Sakura. "Tapi tentu ada perkecualian kalau kau melawanku."

Sakura menatap Sasuke yang sedang bergurau dengan Naruto dan sai di atas ring sana. Tangannya menggapai sosok Sasuke, namun ia tak bisa meraihnya. Sakura meronta ringan, ia takut, tubuhnya gemetar. Hal ini malah justru membuat Sasori semakin menyeringai.

'Sasuke…tolong aku!' batin Sakura berteriak.


-TBC-


Fuah~
Nggak nyangka bisa selesai juga nih chap..
Gimana nih pendapat kalian?

Maaf soal LEMON ya..
Shera lagi tobat nih jadi LEMON-nya kurang asem. xO

Oh ya, Shera ada satu pemebritahuan.
mungkin nanti chap akhir bakal ngaret kluar nya..
Tolong maklum yah~
Tapi tetep Shera akan usaha buat tepat waktu
Doain aja semoga nggak jadi ngaret yah... xO

Mind to Review?
Give Me reviews please~

Keep Trying My Best!

~Shera~