~Balasan Reviews~

Ah Rin : Eum... cuma kissing doang deh kayaknya... ;x

Sasusaku Kira : ini dia alasannya... :)
Apa masih kurang mengerti di chap ini?

Hatsune Cherry : Semoga saja... amin.. :9

Naomi-chan : Mengenai Karin... dy sebenernya emang baik kok...
Kalo Sasori... maaf ya, di Fic ini emang sengja dy jd antagonis.. :x
He he he... abis gak kepikiran lomba lainnya, apa lagi lomba lempar tomat ga butuh keahlian khusus kan.. :9
Yah abis Shera mau ganti Fic sih.. (meski belom kepikiran plot-nya)
Semoga akhirnya 'men-ctar-kan' hati Nao-chan yah... :3

Zura-chan : Ya sekali-kali tanding dg ga elite seru juga kan... :9
Wew..syahrini comming~ xD *dzig
Mungkin aja pas lainnya lagi srius lempar2an, dy malah makanin tuh tomat... xD

Chibiusa : Maaf ya review kamu baru aja nyampe... ;o

Hikari Matsushita : motif mereka akan diperjelas di chap ini deh..
Kalo masih belum paham, tanya langsung aja yah~

Nani : Lemon? aduuuhh... ada lagi gak ya... mungkin cuma Lime implisit doang kali yah.. xO

kara : he he, ntar kalo kebanyakan... pusing dah bikinnya.. xD *dzig, alesan.
Sayangnya ShikaTema gak muncul~ cuma Temari-nya doang... ;O

aguma : gomenasai~ Gaara jadi antagonis d sini... xO

Haruno Michiko : Eum... SasuSakuSaso? Tapi bukan Treesome yah... ;x
Iyah, nggak ada flash back sih... tapi nanti diperjelas deh... :)
iya Karin enggak tahu kalau Itachi-nii meninggal sebelum mereka sempet ketemuan di first date.

Kiki-chan : Yeyeye... gomenasai~ di sini banyak char cowok keren yang jadi antagonis sih... T.T
sekali lagi..ga maksud nge-basing yah...

~Enjoy Reading~


"ANBU"

.

.


Mission 9 : Women's Wings Of Beauty

(Sayap-sayap Kecantikan Para Wanita)


.

Enjoy Reading

.

.

"Sakura, apa kau tahu rahasia mengenai kecantikan seorang wanita?"

"Rahasia kecantikan wanita? Apa itu, Neechan?"

"Sebenarnya… manusia memiliki sayap di punggungnya."

"Sayap, Neechan? Mana? Di punggung Sakura tak ada sayap."

"Sayap itu tak terlihat, Sakura. Sayap itu terbagi menjadi dua. Sebelahnya diberikan kepada wanita, dan sebelahnya lagi diberikan kepada pria."

"Kenapa bisa begitu? Kenapa hanya sebelah? Kalau begitu nanti tak bisa terbang dong~?"

"Iya betul. Sayap memang harus sepasang agar dapat digunakan. Dan apabila wanita memiliki sepasang sayap itu, maka ia akan menjadi cantik. Karna itu Sakura… temukan sayapmu yang sebelahnya lagi. Dan rebut sayap itu sebelum sayapmu yang direbutnya."

Sakura kembali teringat akan percakapannya dengan sang kakak beberapa tahun yang lalu. Saat itu Sakura masih terlalu kecil, ia tak tahu apa maksud dari ucapan sang kakak itu. Dan mungkin sampai sekarang pun ia belum mengetahui artinya.

"Mukamu tak usah terlalu tegang begitu." Sahut seorang pemuda sambil menyodorkan segelas air putih kepada Sakura. Pemuda yang telah 'menculik'nya dan membawanya entah ke mana. Yang jelas ke sebuah ruangan yang tak Sakura ketahui letaknya.

Sakura terdiam sejanak sebelum menerima air itu, namun ia tak segera meminumnya melainkan masih terdiam tak menanggapi. Sudah beberapa menit berlalu sejak dirinya di bawa secara paksa ke ruangan ini. Pemuda berambut merah dengan baby face-nya memposisikan diri duduk di depan Sakura.

"Tenang saja, aku tak melakukan apapun pada air itu." Sahutnya sambil kembali terkekeh. Sakura memandang sinis ke arahnya.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" Sakura akhirnya angkat bicara.

"Tak ada. Justru kami ingin memberikan sesuatu kepadamu." Sahut sang pemuda dengan posisinya bersandari di kursi. Sakura menatapnya dengan pandangan curiga.

"Memberikan apa?"

"Suatu informasi penting." Pemuda itu—Sasori—tersenyum atau mungkin tepatnya menyeringai. "Tapi bukan aku yang akan memberikannya."

Sakura kembali dibuat bingung oleh ucapan pemuda ini. Sasori melirik ke arah pintu masuk di ruangan itu. Dan setelahnya seseorang datang membuka pintu itu, Sakura menoleh melihat siapa orang itu. Matanya membulat sempurna melihat sosok di hadapannya ini.

"Ka…rin-neechan…" tubuh Sakura gemetar hebat. Ia tak bisa berkedip, tubuhnya terasa kaku seketika.

Sasori pun menyeringai melihatnya, sementara Karin masih dengan wajah datarnya datang menghampiri Sakura. Ia berdiri menghadap Sakura. Matanya menusuk tajam ke dalam emerald Sakura yang mulai berkaca-kaca.

"Sakura…" Karin berucap memanggilnya lirih.

"Onee…chan…" tangan Sakura mengepal erat. Menahan dirinya akan segala memori-memori yang berputar di kepalanya.

"Sepertinya kau semakin kurus saja." Karin melangkah ke samping Sasori. Ekor mata Sakura pun mengikutinya. "Ada hal… yang ingin kuingatkan kepadamu."

"Hal apa?" Sakura menjawab hati-hati.

"Menyerahlah." Karin mengaskan kalimatnya, dengan sorot matanya yang tajam membuat Sakura bergidik ngeri. "Menyerahlah atas hubunganmu dengan keluarga Uchiha."

.Dheg.

Sakura tersentak seketika. Jadi benar apa yang telah mereka duga, bahwa tujuan utaman AKATSUKI justru adalah memisahkan Sakura dengan Sasuke? Sakura menggelengkan kepalanya. Nafasnya terasa berat seketika mendengar ucapan sang kakak.

"Tapi kenapa, Oneechan? Apa karena Itachi-niichan…?"

Karin terlihat terkejut dengan pertanyaan Sakura. Di sampingnya terlihat Sasori yang tersenyum licik. Karin terdiam sejenak, dan Sasori pun angkat bicara.

"Sepertinya Uchiha bungsu itu telah mengatakan kejadiannya kepada Sakura-mu ya…" sahut Sasori dengan nada menyindirnya, tepat ke arah Karin. Karin pun mendecih menanggapinya.

"Oneechan…?" Sakura terlihat merengek di hadapan sang kakak.

"Sakura…" Karin menundukkan kepalanya sejenak. "Ingatkah bahwa dulu aku pernah menceritakanmu mengenai 'rahasia kecantikan wanita'…?"

Sakura terdiam. Iangatannya kembali berputar. Saat dimana sang kakak terlihat cantiknya, dan Sakura bertanya mengenai kecantikan yang dimiliki sang kakak.

"Apabila wanita memiliki sepasang sayap itu, maka ia akan menjadi cantik."

Sakura merengut tanda mengerti sekaligus bingung. Karin pun memejamkan matanya, mengambil nafas dan keyakinannya. Sementara itu Sasori masih menyeringai memandangi sosok Sakura di hadapannya.

"Saat kita lahir ke dunia… Di punggung kita hanya ada satu sayap." Karin memulai penjelasannya. "Dan di dunia ini, kita harus menemukan sebelah sayap kita yang lainnya. Yang diketahui dimiliki oleh belahan jiwa kita."

Sakura meneguk ludah yang mengganjal di tenggorokannya. Sasori pun terkekeh kecil melihatnya. Karin menarik nafas dalam-dalam.

"Untuk menjadi orang yang 'sempurna', sayap itu harus 'sepasang'. Dan sebelah sayapku… telah kutemukan pada pemuda itu."

Sakura terdiam sejenak. Dalam ucapannya, ia bisa merasakan kalau kakaknya itu sedang menahan tangisnya. Sakura yakin, pemuda yang dimaksud Karin adalah Itachi.

"Semua memang selalu indah pada awalnya… Hingga suatu hari…" Karin menghentikan kalimatnya. "Sayap di punggungku direbut olehnya."

Suasana kembali hening seketika. Air yang berada di dalam gelas yang di pegang Sakura sama sekali tak membuatnya ingin meneguk air itu. Sakura terdiam mengamati keheningan dalam gelasnya.

"Apa maksudnya dengan 'direbut', Oneechan?" tanya Sakura lirih.

"Saat itulah aku sadar. Bahwa untuk menjadi sempurna, diperlukan sepasang sayap. Dan untuk memiliki sepasang sayap itu, kau harus menemukan yang sebelahnya." Karin melirik Sakura yang masih tertunduk.

"Tapi ketika sayapmu telah hilang direbut, maka yang tersisa hanyalah 'kehampaan'. Saat pemuda itu pergi meninggalkanku tanpa pemberitahuan, dan entah sekarang ada dimana, ia juga membawa pergi sebelah sayapku."

Mendengar ucapan sang kakak, Sakura mengangkat kepalanya. Tatapan mereka bertemu. Sakura terkejut melihat adanya aura hitam dalam mata Karin. Ia tak lagi menemukan kehangatan yang pernah dilihatnya dalam mata itu.

"Maka dari itu Sakura…" Karin beranjak dari posisinya. Ia berjalan menjauh menuju pintu masuk itu. Sakura dan Sasori pun masih mengikutinya dengan ekor mata mereka.

"Temukan sebelah sayapmu. Dan rebut miliknya sebelum ia merebut milikmu." Ucap Karin sebelum ia pergi meninggalkan Sakura dan Sasori di sana.

Sakura tediam mencerna maksud dari ucapan sang kakak. Ia memikirkannya baik-baik. Pasti ada suatu petunjuk dari segala ucapannya itu. Sasori yang melihat ekspresi serius Sakura kini menyunggingkan seringainya. Sepertinya Sasori memiliki rencana lain.

-ooOoo-

Sorak-sorai ramai terdengar di sana. Dengan sebuah letusan pistol ke udara menandakan berakhirnya pertandingan lempar tomat tahun ini.

"Yatta~!" Sasuke, Sai, dan naruto melancarkan tosh mereka dan bergegas turun menuju ke anggota ANBU lainnya. Di sana sudah ada Ino dan Hinata menunggu mereka.

"Yatta! Kau keren sekali, Sai~" Ino melonjak untuk memeluk Sai. Dan Sai pun menerima pelukan Ino sambil mengayunkannya. Kecupan ringan pun mereka lancarkan.

"Naruto-kun~ Kau hebat!" Hinata mendekat ke arah Naruto, dan Naruto pun menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Mereka telihat saling malu-malu.

Sementara itu Sasuke merengut. Ia tak mendapatkan sambutan seperti yang didapatkan kedua sahabatnya. Ia memutar mencari sosok merah muda yang seharusnya berada di sini. Merasa tak menemukannya dimana pun, ia hendak berbalik arah dan menanyakannya kepada Ino, namun saat itu lah ia melihat sosok Sakura yang mendekat.

"Sakura!" Sasuke berlari mengampiri Sakura. Sakura yang tadinya sedang tertunduk lesu kini mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke. "Kau darimana saja?! Bisa berbahaya kan kalau kau sampai menghilang!"

Sakura terdiam menatap mata Sasuke. Sasuke hanya memandangi Sakura yang terlihat aneh menurutnya, mata Sakura seakan redup. Sasuke meraih pundak mungil Sakura. Ia menunduk untuk menyamakan tingginya ke wajah Sakura.

"Sakura, apakah terjadi sesuatu kepadamu tadi?"

Sakura menatap mata Sasuke yang menatapnya dengan pandangan cemas. Sakura memejamkan matanya seketika. Ia teringat kembali akan ucapan Karin saat bersamanya tadi.

"Temukan sebelah sayapmu. Dan rebut miliknya sebelum ia merebut milikmu."

Sakura membuka perlahan kelopak matanya. Melihat Sasuke yang mengerutkan dahinya cemas. Ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Aku baru saj ke toilet, tak apa-apa kok." Sakura tersenyum ramah kepada Sasuke. Sesaat Sasuke merasa adanya keganjalan dalam senyuman Sakura, namun ia pun segera menepisnya.

Sasuke merangkul pundak Sakura dan membawanya berkumpul kembali dengan teman-teman yang lainnya. Sakura mengikutinya dalam diam, sebelum beranjak pergi, ia melirik ke arah belakangnya. Ke arah tempatnya muncul tadi.

Di sana terlihat Sasori sedang bersandar pada tembok sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Sakura terdiam menatapnya sejenak, sementara Sasori menyeringa. Ia menggumamkan 'kita akan bertemu lagi' kepada Sakura sebelum ia beranjak pergi dari sana.

-ooOoo-

Sakura termenung di teras menatap sang bulan purnama. Sementara yang lainnya tengah bersorai-sorai merayakan kemenangan mereka melawan AKATSUKI. Sakura melirik ke arah Sasuke sejenak, ia melihat Sasuke yang sepertinya sedang senang bercanda gurau dengan Naruto dan Sai, sementara Ino dan Hinata sedang berada di dapur.

"Haahhh~" Sakura menghela nafasnya panjang. Pikirannya masih terbayang akan kata-kata sang kakak yang ditemuinya tadi.

"Tapi ketika sayapmu telah hilang direbut, maka yang tersisa hanyalah 'kehampaan'. Saat pemuda itu pergi meninggalkanku tanpa pemberitahuan, dan entah sekarang ada dimana, ia juga membawa pergi sebelah sayapku."

"Temukan sebelah sayapmu. Dan rebut miliknya sebelum ia merebut milikmu."

"Apa maksdunya itu?" Sakura menerawang jauh. Matanya tak lepas dari sinar sang bulan yang terpantul di sana.

Karin dan Itachi sempat pacaran, namun di saat kencan pertama mereka Itachi kecelakaan sebelum bertemu dengan Karin dan meninggal dunia. Mendengar pernyataan Karin tadi, Sakura menduga bahwa mungkin kakaknya itu belum tahu kalau Itachi telah meninggal.

"Lalu apa maksudnya dengan 'merebut'…?"

Sakura kembali menerka. Mungkin benar Karin memang merasa terpukul atas kepergian Itachi, oleh sebabnya ia merasa bahwa 'sayap'-nya telah dibawa pergi oleh pemuda itu sehingga ia jadi tak memiliki tujuan hidup lagi. Bisa jadi sejak saat itulah ia membenci keturunan Uchiha.

"Sakura? Kenapa kau tak ikut bergabung dengan kami?" Sakura menoleh ketika ia mendapati Ino sedang memposisikan dirinya terduduk di sebelahnya.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya butuh udara segar saja." sahut Sakura ramah. Pandangannya kembali kepada sang bulan.

"Hm… begitu ya… sepertinya sejak kepulangan kita dari Suna kau terlihat murung saja. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"

Sakura menoleh kembali menatap Ino. Ino tersenyum menyambutnya dan ia meneguk wine yang dibawanya.

"Aku… ingin tahu semua mengenai kalian. Alasan kalian bergabung dengan ANBU, dan bagaimana kalian bisa bergabung?"

Ino terdiam mendengar pertanyaan Sakura itu. Suasana kembali menghening seketika. Ino melirik ke arah gelasnya yang sudah setengah kosong itu, dan ia pun menarik nafas panjang.

"Tak banyak yang bisa kuceritakan. Tapi baiklah kalau kau memang ingin mendengarnya." Ino sekali lagi meneguk wine itu sebelum memulai ceritanya. "Aku akan memulainya dengan kisahku sendiri. Aku bergabung dengan ANBU sebelum aku masuk ke KHSI ini. Saat itu aku hanyalah seorang gadis yang tak tahu akan jadi apa kelak aku dewasa nanti. Dan Sai datang untuk menawariku bergabung dengan ANBU, sejak itulah aku bergabung."

"Dan sejak itu pula kalian jadian?" sambung Sakura. Ino terkekeh mendengarnya.

"Tidak, tidak. Sai dan aku sudah jadian sejak kami masih SMP, hanya saja SMA barulah Sai menawariku masuk ke ANBU." Ino meletakkan gelas kosongnya. "Nah, sekarang mengenai Sai. Sejak dulu, ia suka sekali dengan hal-hal yang berhubungan dengan hacker-cracker. Ia dan Sasuke sudah berteman sejak kecil, jadi mereka duluan yang tergabung dalam ANBU."

"Oh… ternyata keahliannya itu memang bakat ya?"

"Ha ha…begitulah. Ia adalah orang yang misterius dan menggemaskan. Kalau melihatnya sedang serius memecahkan suatu kode sulit, aku jadi jatuh cinta." Jawab Ino sambil tersipu-sipu. Sakura pun mengangguk-angguk menanggapinya.

"Kalau begitu bagaimana dengan Naruto?"

"Hmm… dia itu termasuk anak baru di ANBU, Sasuke menemukannya sedang membolos pelajaran sekolah. Padahal jujur saja, sulit sekali untuk membolos pelajaran di KHSI ini, Sasuke sepertinya menemukan bakat yang bisa dimanfaatkan dari bocah itu makanya Naruto direkrut. Dan berkatnya setelah itu kami jadi mudah dalam urusan membolos."

"Kenapa bisa? Cara apa yang Naruto lakukan memangnya?"

"Dia itu pintar menyelindap. Kalau aku sih pintar menyamar. Gerakan Naruto yang gesit dan cepat membuatnya bisa mengalihkan perhatian lawan, sehingga kami bisa memanfaatkan keadaan setelahnya."

"Oh… begitu? Kalian memiliki keunikannya masing-masing ya…" Sakura mengalihkan pandangannya kembali menatap sang bulan. "Apa sayap kalian telah sempurna?"

Ino terpaku mendengar ucapan Sakura. Ia melirik Sakura. Ino terdiam, ia mengamati Sakura secara keseluruhan dan berakhir pada matanya. Ino memandangi emerald di dalamnya, ia menerka apa yang sesungguhnya sedang dilihatnya.

"Sayap? Sebenarnya apa maksudmu, Sakura?"

Sakura menoleh. Ia menyilakan rambutnya ke belakang telinga. Pandangannya berputar mencari sudut yang tepat. Namun akhirnya terhenti menatap sepasang capung di bawah kakinya.

"Seseorang mengatakan kepadaku… Bahwa wanita akan menjadi sempurna ketika memiliki sepasang sayap di punggungnya. Namun sayangnya saat terlahir ke dunia, sayap itu terbagi dengan orang yang menjadi belahan jiwanya."

"Jadi maksudmu dengan kami menemukan belahan jiwa, kami telah mendapatkan sayap kami?"

"Ya. Tapi bila belahan jiwamu itu merebut sayap milikmu, maka yang tersisa pada dirimu hanya kehampaan."

Ino termenung mendengar ucapan Sakura barusan. Pandangan Sakura masih belum lepas dari sepasang capung yang sedang hinggap diam.

"Tunggu, tunggu. Apa yang kau maksud 'sayap' itu adalah 'kebahagiaan'…? Kau pikir dengan merebut kebahagiaan orang lain kau akan menjadi sempurna?" Ino menaikkan alisnya menatap Sakura dengan pandangan tak percaya. Sakura hanya terdiam tak menanggapi.

Ino menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Matanya terpejam dan ia merileks-kan tubuhnya sambil menarik nafas dalam. Ia pun kembali memulai kembali argument-nya.

"Sakura… entah siapa yang mengatakan hal itu kepadamu, tapi pernyataan itu jelas SALAH. You hear me? That was wrong!" seru Ino tegas. "Biar kuluruskan ya… memang benar saat manusia dilahirkan ke dunia, 'sayap kebahagiaan' terbagi dengan orang yang menjadi belahan jiwa kita, dan kita memang harus menemukan orang itu."

Sakura menoleh, merasa bahan pembicaraan kini menarik perhatiannya. Ino tersenyum menatap sang bulan. Dan saat itu pula sepasang capung yang tadi diperhatikan Sakura terbang melintasi bulan itu.

"Tapi salah kalau dengan merebut 'sayap' itu darinya kau bisa bahagia."

Ino menoleh menatap Sakura. Ia bergerak maju dan duduk tepat menghadap Sakura. Sakura pun memiringkan kepalanya bingung menatap Ino.

"Pernah kau berpikir mengapa Tuhan sengaja memisahkan sepasang sayap itu? Kenapa tak biarkan saja manusia memiliki sayapnya sendiri?" Sakura pun menggeleng menjawab pertanyaan Ino.

"Itu karena Tuhan ingin kau menemukan sendiri 'kebahagiaan' itu. Dan setelah kau menemukannya, bukan lantas direbut. Namun dikembangkan bersama. Bukankah butuh 'sepasang' sayap untuk dapat terbang? Lalu kita hanya tinggal terbang bersama belahan jiwa kita yang memiliki sebagian dari sayap kita itu."

Sakura terpaku seketika. Ia bahkan membuat mulutnya sedikit menganga karena terkejut. Sakura paham kini. Maksud dari ucapan sang kakak. Dan Sakura juga tahu bahwa apa yang diyakini sang kakak salah.

Ya, selama ini Karin mungkin mengira bahwa kebahagiaan tak lagi dapat dirasakannya setelah Itachi pergi darinya. Tapi ia sendiri belum mengetahui kenyataan kalau Itachi telah meninggal bukan? Kenyataan bahwa Itachi sangat menyanyanginya. Kalau begitu Sakura lah yang harus menjadi 'cahaya kepercayaan' yang akan membawa Karin pulang kembali ke jalannya.

"Ino…" Ino menoleh ketika Sakura tiba-tiba bangkit dari tempatnya. "Terima kasih atas pencerahannya yaaa~"

-ooOoo-

Sementara itu, di sebuah ruangan dengan penerangan minim, seorang pemuda berambut merah tengah bergumul dengan seorang gadis berambut biru. Tubuh mereka hnaya terbalut selembar selimut tipis tanpa ada sehelai benangpun yang menutupinya di dalam sana.

"Sasori, kau yakin akan melakukan itu?" sang gadis angkat bicara setelah beberapa saat mereka saling terdiam. Sang pemuda yang kini sedang mengutak-atik ponselnya itu menyeringai.

"Ya. Aku sudah memutuskannya." Sahut Sasori bangga. "Dan kau cukup diam melihat saja, Konan. Kalau kau berani menghentikanku, kau tahu sendiri akibatnya."

Gadis yang dipanggil Konan itu terdiam sejenak. Ia menatap sang pemuda dengan tatapan nanar, ia sungguh tak mengerti mengapa perasaannya kepada pemuda ini tak tersampaikan. Apa lagi yang harus diberikannya agar pemuda ini mau berpaling kepadanya.

"Kenapa kau begitu menyukai gadis itu? Apa yang lebih darinya?"

Sasori terdiam tak menjawab. Pandangannya masih terfokus kepada layar ponselnya. Asal kalian tahu saja, sebenanya kalau kalian perhatikan, dalam beberapa chap awal selalu muncul saat dimana pihak musuh akan mengirimkan sesuatu melalui ponselnya. Sebenarnya semua itu dikirimkan kepada Sasori.

"Karna dia menarik." Jawab Sasori sekenanya. Konan yang mendengar hal itu mengerutkan dahinya, tangannya meremas ranjang tempatnya berbading dan menundukkan kepalanya.

"Tidakkah ini melanggar keinginan Ketua? Apa yang akan terjadi kalau ia sampai mengetahuinya?"

Sasori menghentikan kegiatannya. Ia terdiam sejenak, setelah memberikan pandangan sinis kepada sang gadis Sasori bangkit dan meraih celananya yang tergeletak di lantai. Konan menatap hampa ke punggung Sasori di hadapannya itu.

"Tak akan terjadi apapun. Hanya saja jika kau mengatakannya…" Sasori kini meraih jaket hitamnya dan memakainya. Ia melangkahkan kakinta menuju pintu keluar. Konan pun hanya bisa menundukkan kembali kepalanya.

"Maka selalu akan ada 'perkecualian'." Setelahnya Sasori pun berlalu pergi meninggalkan Konan yang mulai terisak tangis di dalam sana.

-ooOoo-

"Sakura…"

Sasuke terlihat menggertakan giginya, tanda perempatan urat pun muncul di dahinya, menandakan ia sedang kesal. Namun sosok perempuan yang berada di hadapannya malah sedang mengalihkan pandangannya menjauhi tatapan sang pemuda.

Saat ini, sekarang, di ruangan ini, mereka sedang duduk di atas ranjang dengan posisi saling berhadapan. Sakura bersandar pada tembok, sedangkan Sasuke duduk di hadapannya. Beberapa jam yang lalu mereka mesra-mesra saja… namun saat tiba-tiba…

"Kenapa kau harus haid di saat seperti ini sih?!"

Sasuke memekik frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri. Sakura yang melihatnya hanya bisa cengo saja. Bagaimana tidak, saat Sasuke merasa hampir 'kepuncak' kenikmatannya, tiba-tiba saja Sakura berhenti dan berlari ke kamar mandi.

Dan saat kembali ke kamar, yang didapat Sasuke bukanlah kabar baik melainkan kabar yang SANGAT buruk menurutnya. Sakura sekali lagi mengangkat bahunya tak tahu harus melakukan apa. Sementara Sasuke terus berteriak frustasi.

"Aaaaakh~! Sial! Sial! Sial!" Sasuke memukul-mukul bantal yang ada di hadapannya itu dengan keras. Kalau saja mereka memiliki tetangga, pasti sudah ada demo besar-besaran di depan rumah mereka itu.

.Blush.

Sakura tersadar dari imajinasinya. Bagaimana bisa ia berpikir akan dirinya yang memiliki rumah dan tinggal bersama Sasuke? Mungkinkah khayalannya sudah berkembang sangat jauh sejak ia mengenal Sasuke?

"Sasuke~" Sakura mencoba meraih pundak kekasihnya yang sedang menunduk itu. Sasuke pun mengangkat kepalanya perlahan. "Bagaimana kalau kita menghabiskan malam dengan cara yang lain?"

"Cara lain?" Sasuke terdiam untuk berpikir sejenak. "Ah! Aku mengerti maksudmu!"

Sakura terdiam sejenak. Ia memperhatikan Sasuke yang kini turun dari ranjang dan berdiri menghadap Sakura. Namun mata Sakura membulat sempurna ketika ia melihat Sasuke mulai membuka celananya tepat di hadapan Sakura.

"KYAAAA~! Apa yang kau lakukan?!"

.Bhug.

Sakura menjerit keras. Dan sebuah bantal pun terlempar dengan keras menghantam tepat ke 'itu' Sasuke. Hal ini membuat Sasuke meng-ugh ria merasakan 'si kecil' yang terhantam keras. Meski bantal adalah sesuatu yang lembut dan lunak, namun bila dilempar dengan kekuatan super seperti yang dimiliki Sakura… itu lain rasanya.

"Sa…ku..ra.." terdengar Sasuke yang masih memegangi sesuatu-nya yang terasa berdenyut-denyut tak karuan itu. Ia merengek sambil melangkah maju mendekati Sakura. Sakura yang melihatnya pun sontak memundurkan tubuhnya.

"Sasuke~! Jangan…kau lakukan itu~!" Sakura menerka apa yang akan dilakukan kekasihnya itu.

"Tidak bisa… kau benar-benar harus bertanggung jawab~" Sasuke menggeram kembali, kini ia mulai merangkak naik ke ranjang. Sakura jadi bergidik ngeri dibuatnya.

"Ayolah, Sasuke-kun~ jangan ya~" rengek Sakura dengan nada manjanya.

"Kau malah akan memperburuk keadaanmu kalau bersuara seperti itu, Sa-ku-ra-chan~"

"Sasu—emmmph~een~"

Sasuke tak membiarkan Sakura untuk melancarkan protesnya lagi. Ia segera mengunci kedua tangan Sakura ke atas dengan tangan kiirinya, dan sebelah tangannya mencoba membaringkan Sakura dengan benar.

"Sass~emmmh~emm~" Sakura memejamkan matanya. tubuhnya menggeliyat mencoba melepaskan diri.

Sasuke semakin menjadi dibuatnya. Ia bukanlah tipe pria yang menyukai wanita penurut, ia lebih suka tipe pemberontak seperti Sakura. Dengan perlawanan-perlawanan kecil seperti yang dilakukan Sakura sekarang membuatnya malah semakin bergairah.

"Sasuuu~! Kau lupa aku sedang—" sahut Sakura di sela rintihannya.

"Aku ingat, aku ingat." Jawab Sasuke memotong ucapan Sakura.

"Kumohon Sasuke, meski kau bisa melakukan starting-nya, tapi tetap saja kau tak bisa memasukkan 'itu'…!" akhirnya dengan segala rasa malu yang tersisa Sakura menjerit.

Sasuke pun memutar matanya bosan. Kuncian pada tangan Sakura perlahan dilepasnya. Ia membiarkan Sakura mengatur nafasnya yang tak beraturan itu. Sasuke mengedarkan pandanganya ke sekitar ruangan. Ia mencari cara agar tetap bisa melakukan 'itu' meski Sakura sedang halangan.

"Sasuke, ayolah kita tidur saja. Oke?" Sakura kembali merengek manja kepada Sasuke. Namun Sasuke sama sekali tak memperdulikannya, ia masih sibuk mencari cara.

Seketika perhatiannya tercuri oleh suara gemericik air. Saat Sasuke mengikuti arah suara itu, mendadak otak jeniusnya memberikannya sebuah ide cemerlang. Sasuke pun menyeringai puas.

"Sasu…?"

Sakura bergidik seketika melihat ekspresi Sasuke yang menurutnya sangat berbahaya itu. Karena biasanya kalau Sasuke sudah menginginkan sesuatu, ia selalu mencari cara agar sesuatu itu didapatkannya. Dan sepertinya Sakura akan mengalami malam yang panjang hari ini.

"Aku tahu caranya." Sasuke segera bangkit dari ranjangnya dan menarik tangan Sakura. Sakura pun hanya bisa mengikuti keinginan egois kekasihnya itu.

Sakura mengerutkan dahinya saat mereka telah sampai pada tempat yang dimaksud Sasuke. Tempat dengan corak biru dan aksen putih yang mendominasi di sana, dan masih dengan suara gemericik air yang seakan menjadi backsound mereka.

"Kamar mandi?" Sakura menatap Sasuke bingung.

Tanpa mengatakan apapun Sasuke segera membuka pakaiannya yang tersisa. Ia sukses membuat Sakura merona merah padam melihat tubuh atletisnya. Sasuke tersenyum melihat wajah Sakura. Ia berjalan mendekat ke arah Sakura.

"Sasu~" Sakura memundurkan tubuhnya hingga ia akhirnya terhimpit oleh tembok dingin dan basah itu.

Tangan Sasuke segera memposisikan untuk mengunci pergerakan tubuh Sakura. Sakura hanya bisa menutup matanya ketika bibirnya dilumat habis-habisan oleh Sasuke. Sasuke menekan kepala Sakura, membuat akses lidahnya menjadi lebih dalam mengecap rongga mulut Sakura.

"Emmmh~Aaann~Sass~emm~suke~"

Sakura mau tak mau akhirnya menerima segala perlakuan kekasihnya itu. Sasuke perlahan memutar keran shower yang berada di atas Sakura, akibatnya kini tubuhnya dan tubuh Sakura menjadi basah kuyup.

"Sasuke~Apa…yang kau lakukan?" tanya Sakura lirih dikala Sasuke mengganti wilayah jajahannya di leher jenjang Sakura. Dan tangannya membuka seluruh pakaian Sakura.

"Kalau begini, tak masalah meski kau sedang halangan bukan?"

Sasuke kembali menyerang Sakura setelah mengucapkan kalimatnya. Ia kini meraih dada kanan Sakura dan melumatnya. Sebelah kakinya menerobos ke antara kedua paha Sakura di bawah sana.

"Aaaashhh~Enngh~mmm~" Sakura tak bisa lagi menahan desahannya ketika Sasuke menggesekan pahanya di selangkangan Sakura. Sakura pun menutupi setengah mulutnya agar air yang mengalir dari shower itu tak masuk ke mulutnya.

"Sakura~"

Sasuke berguman lirih sambil mengangkat kedua paha Sakura dan melingkarkannya ke pinggang. Sakura pun berpegangan pada kedua pundak Sasuke untuk menahan berat tubuhnya.

"Emmm~Emngh~mmmh~"

Bibir Sakura kembali dilumat mesra oleh Sasuke. Perlahan Sakura bisa merasakan bahwa Sasuke sedang mencoba 'memasuki'nya di bawah sana. Sakura semakik mengeratkan pelukannya.

"Emmmph~!" Ia memekik ketika dengan sekali dorongan keras Sasuke telah memasukinya seutuhnya.

Sebelum bertemu Sasuke, Sakura bahkan tak pernah berpikir mengenai 'pacaran'. Ia tak mengenal apa itu cinta pria-wanita. Yang diketahuinya hanyalah kasih sayang tulus tanpa adanya hubungan tubuh seperti ini.

Meski begitu bukan berarti ia menyesal, hanya saja ia merasa bahwa semua ini terlalu cepat baginya. Ia tak ingin terlalu terlena terhadap sesuatu. Karna sesuatu itu bisa hilang darinya sewaktu-waktu. Hilang meninggalkannya dan pergi membawa sebelah sayapnya.

"Emmmngh~emmmngh~aaah~ ah ah ah~haaa~ennn~ aaaaahhhhhhh~"

Sakura membuka matanya perlahan. Tubuhnya bergoyang akibat gerakan Sasuke. Ia menatap mata Sasuke yang terpejam di hadapannya. Ia sungguh tak bisa berpikir akan jadi seperti apa dirinya bila Sasuke meninggalkannya. Mungkin kini Sakura memahaminya, mengapa Karin begitu membenci keturunan Uchiha. Sakura pun bisa saja menjadi seperti kakaknya sekarang kalau ia dikhianati oleh Sasuke.

Di balik jendela yang setengah tertutup itu. Seorang pemuda berambut merah bertengger di atas pohon melihat pemandangan SasuSaku itu. Ia mendecih tak suka melihatnya. Ia pun mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya. Seketika seringai pun muncul di sudut bibirnya. Ia menyeringai puas dan mengantongi kembali kertas itu.

Pemuda itu memincingkan matanya menatap Sakura yang kini sedang di serang habis-habisan oleh pemuda lainnya dengan rambut raven yang mencuat. Pandangan benci dilancarkannya kepada sang pemuda. Ia berbisik sebelum ia meloncat turun dan pergi.

"Kau akan kurebut darinya… Sakura."

-ooOoo-

Sakura bersenandung kecil di setiap langkahnya. Ia terkadang memainkan rambutnya yang tergerai bebas itu. Sakura sedang mood sekali hari ini. Itu karena besok adalah hari ulang tahun Sasuke, dan ia berencana untuk memberikan kekasihnya itu kejutan.

'Sasuke menyukai apa ya?' batinnya menerka. Ia sedang mencari sosok Ino untuk meminta bantuan darinya, namun sejauh ini ia berkeliling, sosok Ino sama sekali belum ditemukannya.

"Hmmm…dia ada dimana ya…" Sakura mengitari setiap sudut yang dilewatinya, ia menoleh ke sana ke mari mencari sosok Ino.

Sakura tiba-tiba teringat akan sesuatu. Mungkin lebih baik kalau ia datang saja ke markas ANBU, siapa tahu Ino ada di sana. Atau paling tidak ada Sai yang bisa ditanyanya.

Sakura pun dengan riangnya melangkahkan kaki menuju markas mereka. Ia bahkan tak menyadarinya, seseorang sedang mengamatinya dari jauh. Karena markas ANBU berada di gedung lama—meski sudah disulap menjadi istana mereka—tak akan ada yang menyadarinya.

Setelah Sakura sampai tepat di depan pintu masuk ANBU, ia merogoh sakunya. Seperti yang pernah diketahui sebelumnya, bahwa untuk bisa masuk ke dalam markas ANBU dibutuhkan sebuah kartu yang nantinya akan digesekkan ke alat di samping pintu masuk itu.

"Eh? Kanapa tak ada?" Sakura masih mencoba mencari-carinya di dalam saku, dan ia pun mengedarkan pandangannya untuk mencarinya.

Seseorang berjalan dengan santai menuju ke arahnya. Ia terhenti tepat di belakang Sakura. Sosok itu menyeringai melihat Sakura yang sedang kebingungan mencari kartunya.

"Kau cari apa, Sakura-chan~?" Sosok itu segera melengkuh tubuh mungil Sakura. Sakura pun melonjak kaget karenanya.

Mata Sakura membulat mengenali suara itu. Sontak ia mendorong tubuh pemuda itu dan mengambil posisi menjauh darinya. Sakura memasang ekspresi siaganya. Ia tak menduga ada yang mengikutinya. Betapa cerobohnya ia sampai menunjukkan secara langsung keberadaan markas ANBU kepada musuh mereka sendiri.

"Sasori…" Sakura bergumam lirih. Mendengar namanya disebut membuat pemuda itu tersenyum penuh arti. "Mau apa kau ke sini?!"

"Tenang lah… aku hanya ingin bicara saja denganmu." Sahut Sasori dengan santainya. Ia pun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Bicara apa lagi? Tak ada yang perlu dibicarakan sekarang!"

"Wow~ Sejak kapan kau menjadi begitu ganas?"

Sakura terdiam kembali. Ia menyernyitkan alisnya. Sasori mengeluarkan sebuah kartu dari dalam saku celananya, dan benar saja, itu adalah kartu yang sedang dicari Sakura. Sakura pun kembali menatap tajam ke arah pemuda itu.

"Bagiku sangat mudah untuk mencuri atau menyelindapkan barang, tapi aku tak akan melakukan hal ini seandainya kau adalah gadis yang penurut."

-ooOoo-

Sakura terdiam berdiri menatap pemuda berambut merah yang sedang menikmati angin di atap sekolahnya. Sakura tak habis pikir, betapa merepotkannya menghadapi orang yang ahli menyelindap seperti pemuda ini. Sasori dengan mudah bisa menemukan jalan rahasia menuju KHSI, sehingga ia tak perlu masuk dari gerbang utama. Dan hal ini membuatnya tak tertangkap oleh para penjaga.

"Sebenarnya… apa yang ingin kau bicarakan." Sakura berucap hati-hati. Pandangan curiga masih terlihat di matanya.

"Ada 3 hal yang akan kubicarakan di sini." Sasori bersandar pada pagar sambil menatap Sakura di hadapannya. "Sebelumnya… tak bisakah kau mendekat sedikit? Suaraku tak akan sampai ke sana."

Sakura terdiam mendecih perlahan, namun ia akhirnya ikut bersandar pada pagar pembatas itu. Sakura masih menjaga jarak dari sang pemuda merah, Sasori terkekeh melihatnya.

"Pertama… mengenai kakakmu." Sasori memulai pembahasannya. Sakura terdiam seketika mendengarnya. Perhatiannya tercuri seketika. "Aku yakin kau sudah menyadarinya, kalau Karin belum mengetahui kenyataan mengenai kematian Uchiha sulung itu."

Sakura diam meng-iya-kan dalam hati. Sakura menerawang jauh ke langit biru di atas sana. Hamparan biru dengan corak putih yang teratur, pernah sekali Sakura bertanya, apakah orang yang sudah meninggal ada di sana?

"Apakah kau berpikir untuk menceritakan hal itu kepada Karin?" Sasori melirik ke arah Sakura. "Biar kuberitahu, kalau itu percuma saja kau lakukan."

Sakura pun melirik membalas tatapan serius Sasori.

"Apa maksudmu?"

"Karin tak akan mempercayai ucapanmu. Hatinya telah dipenuhi dengan kebencian. Tak ada lagi yang tersisa, kegelapan telah menyelimutinya sejak pemuda Uchiha sulung itu meninggalkannya." Sakura melongo mendengar ucapan Sasori. Ia pun sebenarnya membenarkan hal itu.

"Tapi semua belum tentu. Aku tetap akan memberitahukannya kepada Karin-nee." Tegas Sakura.

"Karin… selalu membenci pemuda itu." Sasori berbisik lirih. "Pemuda itu telah membawa seluruh kebahagiannya ke surga. Tak ada yang tertinggal untuk Karin. Hidupnya adalah untuk membalaskan dendam itu."

"Aku tak percaya kepadamu!"

Perasaan Sakura meledak seketika. Ia berteriak ke arah Sasori dengan keras, membuat Sasori menutupi sebelah telinganya. Namun melihat ekspresi Sakura itu malah membuatnya senang.

"Lalu hal kedua yang akan kukatakan kepadamu adalah…" Sasori bangkit dari tempatnya bersandar itu. Ia melangkah mendekati Sakura. Mata Sakura pun menyipit seketika menjaga jarak dengan sang pemuda.

"Aku menyukaimu. Sejak pertama saat aku memata-mataimu, aku telah jatuh hati kepadamu."

Sakura tersentak mendengar pernyataan Sasori itu. Tubuhnya mematung seketika, Sasori semakin mendekat ke arah Sakura. Ia meraih helaian rambut Sakura dan membelainya lembut.

"Jangan bercanda kepadaku!" Sakura segera mendorong tubuh Sasori dan bergegas pergi. Namun tangannya terhenti oleh tangan kekar Sasori. Sakura menggeram mencoba melepaskan diri dari genggaman Sasori, namun itu malah membuat Sasori semakin mengeratkannya.

"Aku juga ingin kau mendengarkan hal terakhir yang akan kuberitahukan kepadamu…"

Sakura tediam. Gerakan tangannya perlahan mencoba melepaskan diri. Tatapan Sasori menyorot serius ke dalam mata emerald Sakura. Sakura pun terdiam menunggu kelanjutan ucapan Sasori.

"Karin… menderita kanker otak."

.Dheg.

Sakura terdiam. Terdiam mematung tak dapat memikirkan apapun. Ia tak bisa menerima apa yang telah didengar oleh telinganya. Mulutnya pun terbuka saking tak percayanya.

"Pernah kau memasuki kamarnya?" tanya Sasori. Sakura kembali ingat, sejak awal ia tinggal bersama sang kakak, ia tak pernah masuk ke kamar Karin. Hanya Karin yang masuk ke kamarnya.

"Kalau kau masuk ke dalamnya… kau akan menemukan, kertas-kertas yang dibuangnya di tempat sampah." Sakura merasakan tubuhnya sedikit merasa lemas. Tangan Sasori masih menopangnya.

"Kertas dari Rumah Sakit yang berisikan tulisan-tulisan mengenai penyakitnya. Karin selalu menjagamu, lebih dari siapapun. Ia selalu menyayangimu, lebih dari apapun. Sekarang kau mau mengkhianatinya? Di saat terakhir dalam hidupnya?"

Tubuh Sakura linglung seketika. Segera Sasori pun meraih pinggang Sakura dan menahannya agar tak terjatuh. Sakura gemetar hebat. Matanya telah berkaca-kaca. Sasori membelai lembut rambut panjang Sakura. Sasori menyeringai, rencananya berjalan sesuao yang dipikirkannya.

"Keinginan Karin sebelum ia mati adalah membuat seluruh keturunan Uchiha menderita, sama sepertinya. Hanya itu yang paling diharapkannya seumur hidup. Sebenarnya ia pun tak ingin melukaimu, hanya saja kau berpihak kepada musuh, jadi ia terpaksa menganggapmu musuh."

Sakura diam tak menanggapinya.

"Dan setelah Karin mati, akan ada kekosongan posisi ketua di AKATSUKI. Tapi…Aku memberikamu satu kesempatan."

Sasori meraih kepala Sakura dan menolehkannya agar metapanya secara langsung. Air mata pun telah membanjiri pipinya hingga basah.

"Kau bisa meneruskan posisi dan cita-cita Karin dengan menjadi bagian dari AKATSUKI, atau kau memilih untuk tetap berpihak pada ANBU dan membiarkan Karin terus menderita sampai mati?"

Sasori mengecup lembut bibir Sakura. Sakura tak bisa membalasnya atau menolaknya. Bahkan mungkin ciuma itu tak berarti baginya, hanya saja Sasori puas akan hal itu. Sakura dilepaskannya perlahan, Sasori pun melangkah menjauh. Ia meninggalkan Sakura dalam kebimbangannya.

"Mana yang akan kau pilih Sakura? Pilihanmu itu… jadi penentuan akan akhir yang baik, atau buruk. Atau mungkin…sangat buruk."


-TBC-


Nah teman-teman... apakah motif AKATSUKI telah jelas di sini?
lalu apa kalian mengerti mengenai 'sayap' yang dimaksudkan?

Ini adalah chap semi-end. Berarti chap depan adalah the last chap-nya.,..
Ga terasa yah.. T~T

Oh ya, Shera udah ngasih pemberitahuan kalau mungkin chap akhir bakal ngaret kan?
Gomen sebelumnya ya, soalnya Shera ada penelitian kelompok di skolah, jadi sibuk banget..
Tapi tetep Shera usahain enggak ngaret lama-lama kok.. xO

Ok, mind to review, guys?
Lets review this!

Keep Trying My Best!

~Shera~