~Balasan Reviews~

Guest : Tapi sifat Karin gak jelek-jelek amat lho... nih Shera kasih buktinya.. ;O
Ini chap akhri... jadi semuanya diperjelas di sini.. :)

Chibiusa : Namanya juga lagi serius ngikutin lomba liatin Tomat-eehh-lomba lempar tomat maksudnya...
Iyah... ini sampe kelar dah... ;D

hasnistareels : wagu itu tulisan... membahana baday euy... O_O
He he Sasu+mesum = perfect! xD *dichidori

Sami-chan : Iya nih nasibnya bergantung pada chap ini... wk wk wk... ;3

SugarlessGum99 : hweee... kasiaaann... xD nya ha ha ha
Nih nih... liat tebakanmu yah... di chap ini nih.. :)

CloUdis'tA-chan : haduuuh... yaudah gapapa... yang penting masih bisa baca kan...? :)
Sasuke nggak mungkin rela lah ngelemparnya, mungkin malah diem-diem dikantongin lagi... xD
Lemon di chap ini gimana? udah Hot belom?
Eh, jatuh cinta... pernah laaah~ *blush, jadi malu*
maaph nih gak bisa cepet2 banget update yang satu ini...
Tapi semoga tetep memuaskan yah... :)

sasusaku Kira : Eh...? Iya dia enggak jahat ko... sebaliknya.. Sasori jadi devil banget... T.T
Gomenasai~

Tun'z : he he he... ok update otw! xO

Ika-chan : waduh? masa iyah sih Ika-chan...? O.o
Enggak tahu tuh Shera... xO
Gomen, gomen~

Sky Pea-chan : *thums up* xD

Ryuchi Uchiha kun : oke... :)

no name : iyah... sip... :)

Hatsune cherry : yosh.. :D
Insya Allah enggak akan menggantung kok endingnya... :D

Ah Rin : Wah... ntar menentang SasuSaku lovers deh.. gomen yah~

Karasu-san : nah ini chap klimaks-nya nih... ;9

Lyla : Iya sih, tapi Karin enggak jahat-jahat amat kok... :)
Di chap ini pembuktiannya..

birumenanti : iya deh... untungnya selesai nih.. he he :D
malahan nambah pembendaharaan imajinasiku..

Kiki-chan : he he he... iya deng lupa... xD *dzig
Gomenasai~ update otw~

Haruno Michiko : He he cepet kah? masa sih?
tapi iia deng, nanti Shera pasti kangen liat reviews2 yang biasanya ada... T.T
cekidot di chap ini yah... :)

~Enjoy Reading~


"ANBU"

.

.


Mission 10 : Sasuke or Karin? ANBU or AKATSUKI?

(Sasuke atau Karin? ANBU atau AKATSUKI?)


.

Enjoy Reading

.

.

Suatu saat di dalam kehidupan, kau pasti akan dihadapkan oleh jalan yang bercabang. Kalau bisa kau ingin mendapatkan keduanya, tapi kalau tidak? Mana yang akan kau pilih? Kasih sayang seorang kakak? Atau rasa cinta dari seorang pria?

Sakura memikirkannya. Ia masih merenungi pernyataan Sasori kepadanya hari ini.

"Ada 3 hal yang akan kubicarakan di sini."

"Aku menyukaimu. Sejak pertama saat aku memata-mataimu, aku telah jatuh hati kepadamu."

"Karin… menderita kanker otak."

"Keinginan Karin sebelum ia mati adalah membuat seluruh keturunan Uchiha menderita, sama sepertinya. Hanya itu yang paling diharapkannya seumur hidup. Sebenarnya ia pun tak ingin melukaimu, hanya saja kau berpihak kepada musuh, jadi ia terpaksa menganggapmu musuh."

"Dan setelah Karin mati, akan ada kekosongan posisi ketua di AKATSUKI. Tapi…Aku memberikamu satu kesempatan."

"Kau bisa meneruskan posisi dan cita-cita Karin dengan menjadi bagian dari AKATSUKI, atau kau memilih untuk tetap berpihak pada ANBU dan membiarkan Karin terus menderita sampai mati?"

Sakura beringsut perlahan. Ia menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana. Sakura pusing, kepalanya sudah lelah untuk memikirkan hal-hal berat seperti ini. Bukankah seharusnya kehidupannya menjadi menyenangkan dan mengelak tawa? Mengapa yang datang kepadanya selalu saja masalah, masalah, masalah, dan masalah.

"Apa salahku~? Apa aku tak punya hak untuk bahagia?" Sakura bergumam lirih.

Ia terduduk sendiri di atap gedung sekolah. Karena markas ANBU tak bisa membuatnya merasa tenang, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke atap memandangi hamparan langit berbintang. Malam yang semakin larut pun tak membuatnya berniat untuk pergi.

Kenyataan yang diterimanya membuat Sakura menjerit dalam hati. Menggeliyat meronta untuk mempercayai ucapan Sasori. Ia tak ingin mempercayainya. Tapi… akhir-akhir ini apa yang dipercayainya selalu salah. Ia tak bisa lagi untuk percaya.

"Kenapa semua harus terjadi…?"

Sakura sempat berfikir, akankah lebih baik kalau dirinya dan Sasuke tak pernah bertemu sebelumnya? Mungkin dengan begitu ia bisa dengan mudah memilih Karin dan terus berada di sampingnya.

Tapi…memikirkan seluruh kenangan yang mereka lalui bersama selama ini, membuatnya tak bisa menyesal. Karna ia justru bersyukur, bersyukur telah bertemu dengan sebelah sayapnya yang hilang. Kalau ia tak bertemu Sasuke maka ia tak akan mengenali ANBU, maka ia tak akan bisa menyelamatkan Hinata dari Kabuto, maka Karin tak akan membentuk AKATSUKI yang melawan ANBU.

Semua begitu membingungkan untuk Sakura. Dunia ternyata tak semudah yang pernah dibayangkannya.

"Sakura?"

Sakura sontak mengangkat kepalanya mendengar seseorang memanggil namanya. Ia sudah menduga cepat atau lambat pasti seseorang akan menyusulnya datang ke atap. Sejujurnya Sakura bersyukur kali ini bukan Sasuke yang datang.

"Ino…"

"Ada apa denganmu? Malam-malam di tempat seperti ini memang kau tak takut?" Ino menunduk menatap Sakura. Rambutnya yang panjang ikut dimainkan oleh angin.

"Tidak. Ada hal… yang lebih menakutkan di dunia ini." Sakura menundukkan kembali kepalanya.

"Karin… menderita kanker otak."

Sakura mengeratkan pelukannya yang melingkar di lututnya. Ino yang melihat hal itu hanya menatap Sakura tak mengerti. Ino masih menunggu penjelasan dari Sakura.

"Kematian. Sesuatu yang tak bisa dilawan dan harus dihadapi. Sesuatu yang memisahkan kasih sayang dan membawa pergi kebahagiaan."

Ino terdiam mendengar penuturan Sakura. Dalam setiap kata yang didengarnya, seakan ada tangisan Sakura yang melejit di sana. Ino mendongak ke atas melihat taburan bintang, ia tersenyum.

"Tapi mati…bukan berarti menghilang."

Kini gantian Sakura yang berpaling menatap Ino. Ino memejamkan mata sejenak menikmati angin yang datang mengucapkan salam kepada tubuhnya. Ino menolehkan wajahnya perlahan menatap Sakura.

"Walaupun raganya mati, tapi kalau masih ada satu orang saja yang mengingatnya… jiwanya tetap hidup di sini." Ino menunjuk ke dadanya, tepat ke hatinya. "Kematian itu bukan sesuatu yang menakutkan. Karna semua orang akan mengalaminya, kita hanya akan terpisah sementara saja. Dan di surga sana kita akan bertemu kembali."

Sakura terpaku melihat sosok Ino di hadapannya. Ia sedikit merasa kagum akan kedewasaan Ino. Sakura pun tersenyum ramah. Ino memposisikan dirinya terduduk di sebelah Sakura. Mereka bersama memandangi langit.

"Ino… boleh aku bertanya satu hal?"

"Yap. Apa itu?"

"Em… ini mengenai Sasuke~"

Ino terkekeh melihat tingkah Sakura yang malu-malu ini. Ia merasa Sakura seperti adiknya sendiri. Ino senyum-senyum sendiri sebelum memulai ceritanya, namun saat Sakura kembali menatapnya dengan muka bingung Ino pun mulai bercerita.

"Setahuku… Sasuke itu sangat playboy dulunya." Sakura sedikit kaget mendengar ucapan Ino, hatinya mendadak merasa ngilu. "Ia selalu dekat dengan wanita-wanita cantik dan kaya. Tapi tak pernah ada satu pun yang diseriusinya."

"Be…benarkah?" Sakura sontak menundukkan kepalanya. "Dia…playboy ya? de..kat dengan…banyak gadis?"

"Ha ha ha. Jangan cemas, Sakura. Aku yakin kok kalau sekarang hanya kau wanita yang dicintai Sasuke."

"Kenapa bisa begitu? Aku tak yakin dia mencintaiku. Playboy itu kan rata-rata ucapannya selalu terdengar sangat terpercaya, tapi ternyata…"

"Hm… iya juga sih. Untungnya Sai tidak begitu.. ha ha ha."

Sakura terdiam. Sepertinya candaan Ino tak membuatnya merasa lebih baik, atau mungkin malah menambah buruk suasana. Ino pun berhenti tertawa dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

"Apa…Sasuke benar-benar mencintaiku?"

"Apa yang membuatmu ragu kepadanya, Sakura? Bukankah selama ini ia selalu memperhatikanmu?"

Sakura tediam. Ino menerka sejenak, otaknya menganalisa setiap ucapan Sakura dan menyimpulkannya. Ino sepertinya paham maksud dari perasaan Sakura saat ini. Mungkin Sakura merasa pergerakan Sasuke dalam berhubungan terlalu cepat sehingga terkadang ia sulit mengimbanginya.

"Sasuke terkadang meminta sesuatu yang tak bisa kuberikan…" Sakura menyahut lirih.

"Maksudmu sex?" tanya Ino blak-blakan. Terkadang Sakura merasa risih juga bila Ino membuka terang-terangan apa yang dimaksudnya.

"Eum… yeah. Karna kadang aku tak ingin melakukannya, tapi Sasuke akan memaksaku melakukannya. Meski…bukan berarti aku membenci melakukan itu dengannya…tapi aku…em…hanya belum siap saja." Sakura entah sejak kapan jadi ketularan gugupnya Hinata.

"Ha ha ha. Kau memang lucu sekali ya, Sakura. Memang sih… Lelaki tak pernah mau rugi dalam berpacaran."

"Maksudnya?"

"Sebelum pacaran, mereka pasti berpikir akan keuntungan yang didapat selama berpacaran dengan wanita itu. Tapi ketika seorang laki-laki tak memperdulikan hal itu lagi, artinya ia sudah mulai serius." Sahut Ino sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Sakura.

Sakura tersenyum dibuatnya. Ino pun mengacak-acak rambut Sakura, sungguh membuat Sakura merasa seperti mempunyai kakak lagi.

Ah, mengingat mengenai kakaknya. Sepertinya ada hal lain yang harus dipikirkan oleh Sakura. Ia harus bisa memutuskan mengenai tawaran dari Sasori. Bagaimanapun ia mencintai Sasuke, dan ia juga menyayangi Karin. Mereka berdua begitu berharga baginya.

-ooOoo-

Sakura terduduk diam sambil memandangi langit dari jendela kamarnya. Kamarnya yang sekarang berada di markas ANBU. Sakura berpaling mengamati sekitarnya. Suasana begitu tenang dan sepi. Saat ini para anggota lainnya sedang mengadakan rapat di ruang OSIS, tapi Sakura izin dengan alasan sakit perut.

Sakura teridiam memikirkan sesuatu. Memikirkan rasa rindunya kepada seseorang. Siapa lagi kalau bukan kakaknya. Kakak kesayangannya yang selalu berada di sisinya sejak ia kecil.

Drrrt Ddddrrrrt Drrrt

Sakura merasakan getaran di saku roknya. Ia merogohnya dan mengeluarkan ponselnya. Sakura membulatkan mata melihat nama Kaasan di layar ponselnya. Sakura gugup sebelum ia akhirnya mengangkat telepon itu.

"Moshi-moshi?" sapa Sakura ragu. Tak terdengar jawaban selama beberapa detik dari seberang sana, hanya suara gaduh yang tak Sakura mengerti itu.

"Sakura? Kau ada dimana sekarang?" Akhirnya suara sang Kaasan terdengar. Sakura eebenarnya sangat senang sekali mendnegarnya, karna bagaimanapun ia merindukan Kaasan-nya.

"Aku…em… Ada di.. rumah teman." Jawab Sakura asal. Mau bagaimana lagi, ia tak bisa mengatakan kalau Karin telah mengusirnya dari rumah dan sekarang ia tinggal bersama seorang pria.

"Kenapa kau tak memberitahukan kepada Kaasan dan Tousan…?"

"Eh? Memberitahukan…mengenai apa, Kaasan?"

Jantung Sakura bedetak dengan kencangnya. Ia meneguk ludah yang mengganjal di tenggorokannya mendengar pertanyaan sang Kaasan. Begini lah memang kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu dari orang lain, pastinya akan selalu merasa dheg-dheg-an.

'Apa aku sudah ketahuan tinggal bersama Sasuke?' batin Sakura menjerit.

"Kenapa kau tak mengatakan kalau Karin sekarang masuk rumah sakit?!"

.Dheg.

Ucapan Kaasan-nya justru makin membuat Sakura terkejut. Ia mematung seketika. Logikanya berpikir dan mencerna setiap kata yang didengarnya barusan.

"Sakura? Kau masih mendengarkan, kan?! Sekarang cepatlah datang…!"

-ooOoo-

Sakura berlari dengan tergesa-gesa. Ia menolehkan kepalanya mencari sebuah ruangan yang telah diberitahukan kepadanya oleh petugas resepsionis. Berulangkali diingatkan oleh petugas keamanan untuk tidak berlarian di dalam Rumah Sakit tetap tak menghentikannya.

Sakura naik ke lantai 3 ketika ia tak menemukannya di lantai 2. Dan tepat saat Ia masuk ke dalam lift, seorang pemuda tengah berdiri seorang diri di dalamnya. Sakura bisa saja mencari lift lain, karna batinnya menjerit tak ingin berduaan dengan pemuda merah itu sekarang. Tapi saat ini ada yang lebih penting daripada itu.

Sakura masuk perlaham ke dalamnya. Ia mencoba mengambil jarak sejauh mungkin dari sang pemuda, namun pemuda itu malah senyum-senyum memperhatikan Sakura dari jauh.

"Kau akan menemui Karin?" pertanyaan Sasori tak mendapat jawaban apapun dari Sakura. Sakura seolah menggapnya tak ada di sana, sang pemuda pun mendecih. "Kalau begitu sampaikan salamku kepadanya."

Saat pintu lift itu terbuka, Sakura segera keluar dari dalamnya. Sakura menoleh sejenak kepada sang pemuda. Dan sebelum pintu itu tertutup, Sasori membisikkan sesuatu.

"Aku berada di atap."

Setelahnya tanpa buang-buang waktu lagi Sakura segera berlari mengitari tiap ruangan yang ada di sana. Ia mencari sebuah digit angka 101. Sakura menemukannya, tak lama ia pun menemukannya.

.Cklek.

Sakura membuka pintu itu perlahan, di dalamnya sudah ada kedua orang tuanya dan sosok Karin yang terbaring lemah di atas ranjang. Nafas Sakura terengah, bahkan entah mengapa terasa begitu berat untuknya.

"Sakura~" Ibunya terisak dalam pelukan sang ayah. Sakura berjalan mendekat perlahan, pandangannya tak lepas dari sosok pucat sang kakak.

"Okaasan~" Sakura menepuk pundak ibunya perlahan. Sang ibu pun segera bangkit dan memeluk putrid bungsunya itu.

"Karin~ Karin~ Karin~ Sakura… hiks…" sang ibunda tengah terisak. Sakura pun tak bisa untuk tak ikut larut dalam kesedihannya. Sekali lagi kenyataan pahit datang menghampirinya. Segala ucapan Sasori memang benar adanya.

"Tousan, apa benar…. Karin-neechan…"

"Karin memiliki kanker di kepalanya. Dan sepertinya itu sudah ada sejak lama, tapi ia tak pernah berniat mengobatinya. Mungkinkah… karena biaya operasi yang mahal? Padahal… kalau saja ia mengatakannya… Kami bisa menolongnya. Dasar anak bodoh." Sang ayah tak bisa lagi menjaga kewibawaannya untuk tidak menangis.

Sakura terisak dalam diam di pelukan sang Kaasan. Mungkin benar, alasan Karin menyembunyikan penyakitnya adalah karena tak ingin mengkhawatirkan semua orang. Sejak dulu ia memang seperti itu, selalu menyimpan masalahnya sendiri dan berusaha menyelesaikannya sendiri.

Karin tak pernah bergantung kepada orang lain. Tak pernah sekalipun Sakura merasa direpotkan olehnya. Sakura terdiam. Ia menangisi dirinya yang tak bisa melakukan apapun sekarang.

Tidak.

Sakura mendadak mengehentikan tangisnya. Sorot matanya yang tak bisa lepas dari sosok lemah Karin menjadi meredup seketika.

'Ada. Ya, ada yang bisa kulakukan untuk Oneechan.' Batin Sakura.

Sakura pun perlahan melepaskan pelukan sang ibunda. Ia mengusap air mata Kaasan dan Tousan-nya. Sakura tersenyum singakt sebelum ia meminta izin untuk segera pulang menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.

Sakura berjalan keluar dari ruangan itu. Sebelum sosoknya pergi, Sakura melirik kembali ke dalam melalui kaca di pintu itu.

"Oneechan~ Aku…akan meneruskan harapanmu."

-ooOoo-

Atap Rumah Sakit. Sekarang di sinilah Sakura berada. Dengan pandangannya yang menyorot tajam kepada sosok pemuda di hadapannya. Sang pemuda kini tersenyum licik. Ia tentu sudah merencakan hal ini secara matang.

"Aku berada di atap."

Ucapan itu seakan memberikan arti bahwa ia sedang menunggu Sakura di atap. Dan tentu saja ia yakin kalau Sakura akan datang dengan segera menyusulnya. Semua sekali lagi karena perhitungan matang.

Sakura terdiam melihat sosok Sasori yang mulai mendekatinya. Ia juga masih terdiam saat Sasori mulai membelai rambut panjangnya yang tergerai bebas. Namun ia tak bisa diam saja saat Sasori mencoba menciumnya untuk kedua kalinya.

"Kali ini, aku yang akan bicara." Sahut Sakura. Masih dengan sebelah tangannya yang menahan tubuh Sasori agar tak mendekat lagi.

"Baiklah." Balas Sasori sebelum melancarkan decihannya.

"Mengenai tawaranmu…"

Kalimat Sakura terhenti di sana. Ia terdiam tak meneruskannya, Sasori pun memandangnya. Melihat sepertinya ada keraguan dalam hati Sakura, Sasori kembali mendekatinya.

"Dengarkan aku, kau mungkin masih berpikir cara lain untuk menyelamatkan Karin. Tapi kutegaskan sekali lagi… itu percuma." Sasori meraih kepala Sakura dan menariknya. Menempelkan keningnya di kening Sakura.

"Aku tahu."

Sorotan mata Sakura kembali meredup. Sasori masih tak melepaskan rengkuhannya. Ia meraih bahu Sakura dan melingkarkan kedua tangannya di sana. Sakura tak membalasnya maupun menolaknya.

"Tapi kau masih bisa mewujudkan keinginannya yang tertunda. Mewujudkan cita-citanya. Bayangkan lah mengenai pengorbanan yang telah diberikannya kepadamu."

Ucapan Sasori seakan mencuci otak Sakura. Pikirannya kini dipenuhi oleh kegelapan fital. Bahkan ia melupakan sosok Sasuke. Ah, benar. Sasuke, Uchiha Sasuke, keturunan Uchiha terakhir yang sangat dibenci kakaknya.

"Tidak. Ini salah! Ini sama sekali bukanlah salah Itachi-nii maupun keturunan Uchiha!" pekik Sakura sambil kembali mendorong tubuh Sasori jauh-jauh. Namun tangannya digenggam seketika oleh Sasori.

"Sakura, sadarlah…! Lelaki itu telah memanfaatkanmu!"

"Memanfaatkan?"

"Kau tak pernah berpikir? Sasuke adalah tipe orang yang selalu bergerak berdasarkan untung-rugi. Dia bukanlah tipe yang akan melakukan sesuatu tanpa membawa manfaat bagi dirinya sendiri."

Sakura membulatkan matanya seketika. Ia kembali terdiam, menciptakan suasana hening di sana. Kembali ingatannya berputar saat dimana ia sedang berada di atap gedung sekolah malam hari bersama Ino. Saat ini menceritakan mengenai masa lalu Sasuke. Dan saat Ino menderitakan mengenai alasan ANBU terbentuk.

"Dia itu pintar menyelindap. Kalau aku sih pintar menyamar. Gerakan Naruto yang gesit dan cepat membuatnya bisa mengalihkan perhatian lawan, sehingga kami bisa memanfaatkan keadaan setelahnya."

"Ha ha ha. Kau memang lucu sekali ya, Sakura. Memang sih… Lelaki tak pernah mau rugi dalam berpacaran."

Itu adalah salah satu contoh mengapa Sasuke merekrut Naruto dan Ino sebagai ANBU dan mengenai perasaan lelaki saat berpacarann. Mereka yang berada di ANBU memiliki kemampuan yang bisa dimanfaatkan dan mendatangkan keuntungan. Bahkan Hinata pun sangat rapi dan bisa diandalkan untuk mengatur berkas-berkas mereka yang berantakan.

"Kau pernah bertanya kepadanya… mengapa ia merekrutmu menjadi anggota ANBU?"

Ucapan Sasori kembali membutakan hatinya. Memang benar, selama ini ia tak pernah sekalipun merasa dibutuhkan dalam misi. Mereka hanya melakukan tugas mereka masing-masing tanpa bantuannya. Seakan ada atau tidaknya Sakura di sana seperti tak ada pengaruhnya.

"Yang jelas… jawabannya cuma satu…" Sasori menggantungkan kalimatnya di sana. "Itu karna ia ingin menghancurkanmu."

.Dheg.

Sakura merasakan tubuhnya lemas seketika. Bahkan untuk menopang berat tubuhnya sendiri pun ia tak mampu. Mau tak mau Sakura kini berpegangan pada pundak Sasori.

"Kalau Karin pun bisa membenci keturunan Uchiha karena pengkhianatan Itachi… Sasuke pun bisa membenci keturunan Haruno karna kematian Itachi."

"Tidak…"

"Seperti halnya Karin yang membenci Uchiha. Sasuke pun pastinya membenci Haruno."

"Tidak…!"

"Apakah kau tak merasa curiga akan Sasuke? Mengapa setelah ia datang, hidupmu jadi dipenuhi oleh masalah…?"

"TIDAK…!"

Sakura beringsut menunduk sambil emnutupi telinganya. Air mata sudah membuat jalurnya tersendiri di pipi Sakura. Melihatnya membuat Sasori menyeringai licik. Ia pun berjongkok untuk menyesuaikan tingginya dengan Sakura.

"Sakura… sekarang…hanya aku yang kau punya." Sasori kembali meraih kepala Sakura dan memeluknya. Ia mengecup lembut dahi Sakura dan tersenyum setelahnya. Senyuman yang sangat memancarkan kepuasannya akan keberhasilan rencana yang dibuatnya.

"Tinggalkan ANBU. Lupakan Sasuke, Sakura. Lupakan mereka semua."

-ooOoo-

Sasuke sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang seharusnya berada di sini, si meja kerjanya. Tapi sekarang tak ada seperti biasa. Saat ini Sasuke sungguh membutuhkan benda 'itu'. Itu karena ia sudah kecanduan, bagaimana lagi sejak dulu benda itulah yang selalu bersamanya.

Menurut kalian apa yang sedang dimaksudkan di sini? Kira-kira benda apa yang sangat disukai Sasuke dan membuatnya tak bisa hidup kalau tak memakannya. Ah, aku sudah mengatakan 'memakan'nya. Pasti kalian sudah bisa menebaknya.

.Cklek.

Suara pintu yang terbuka tak membuat Sasuke berpaling dari mejanya yang kini sudah sangat berantakan itu. Sasuke mengacak-acak rambutnya, keringat telah membasahi seluruh pakaiannya karena menahan diri untuk mencicipi rasa itu.

"Akh! Kemana ya~" pekik Sasuke.

Sosok di belakangnya itu pun masih terdiam tak berniat untuk berucap sedikitpun. Dan dengan langkahnya yang hati-hati, sosok itu berjalan mendekat. Sasuke sama sekali tak menyadarinya, atau mungkin terlalu sibuk hingga tak menyadarinya.

"Sasuke-kun~"

Dengan sapaannya yang manja sebuah rengkuhan diterima Sasuke melingkar di pinggangnya. Akhirnya hal ini membuat Sasuke sadar dan melirik tangan itu.

"Hn?" Sasuke menoleh melihat siapa yang sedang mengganggu acara pencarian harta karunnya itu.

"Sakura? Ada apa?" Sasuke perlahan melepaskan pelukan Sakura dan berpaling menatapnya. Sesaat Sasuke merasakan adanya kekelaman di emerald Sakura, namun hal itu segera ditepisnya saat Sakura mulai berbicara.

"Em… tak apa. Hanya sedikit rindu saja." sahut Sakura diiringi dengan senyumannya.

"Oh, baiklah. Em..Sakura apa kau melihat hartaku di sini? Seingatku selalu kuletakkan di sini." Sasuke kembali memalingkan mukanya mencoba mengobrak-abrik mejanya.

"Maksudmu pemen rasa tomat yang biasa kau makan saat kau sedang galau itu?"

Ucapan Sakura mengehntikan kegiatan Sasuke seketika. Ia terdiam tak berkutik. Dan dapat Sakura lihat adanya sebuah perempatan urat tergambar di kening Sasuke. Perlahan Sasuke pun berbalik menatap Sakura kembali.

"Itu bukan 'permen', tapi 'lollipop'. Dan aku tak memakannya saat sedang 'galau', hanya saat aku butuh itu saat sedang 'berpikir'."

Sakura hanya ber-oh ria menanggapi pernyataan Sasuke itu. Sasuke terdiam melihat adanya keanehan dalam diri Sakura, tapi sepertinya ia belum menyadari hal itu.

"Sasuke…" Sasuke menoleh saat merasa Sakura memanggilnya. "Aku punya satu. Kau mau?"

"Ah!"

Sasuke terlihat sumringah saat Sakura merogoh saku rok-nya dan bersiap mengeluarkan sebuah permen lollipop kesukaannya. Sakura melirik Sasuke sejenak, sebelum Sasuke bisa meraih lollipop itu, Sakura kembali menyembunyikannya ke belakang tubuhnya.

"Apa lagi, Sakura?" tanya Sasuke bosan. Ia sudah tak sabar untuk mengecap rasa tomat yang asam manis itu.

"Kemana anggota ANBU yang lainnya?" bukannya menjawab Sakura malah mengalihkan pembicaraan. Membuat Sasuke semakin geregetan saja.

"Mereka sedang ada rapat untuk panitia kelulusan kelas XII."

"Lantas kenapa kau ada di sini?"

"Itu karena aku ingin mencari sesuatu."

"Permen ini maksudmu?"

"Itu lollipop! Sudahlah cepat berikan kepadaku!"

Sasuke meraih tubuh Sakura dan menariknya agar dapat mengambil permen itu. Namun ternyata Sakura lebih pandai dalam hal menyembunyikan barang, Sasuke pun kebingungan mencarinya.

"Sakura! Ayolaaaaahh~" Sasuke akhirnya merengek, ia sudah menyerah mencari. Sakura terkekeh sejenak melihatnya.

"Kalau kau menginginkannya, kau harus mengabulkan satu permintaanku."

Sasuke hanya memutar mata bosan dan menatapnya dengan tatapan 'cepat-katakan-apa-itu'. Sekali lagi hal ini hanya bisa membuat Sakura terkekeh ringan.

"Make Love to me."

Ucapan Sakura sungguh membuat Sasuke membulatkan matanya terkejut. Sasuke bahkan lupa menutup mulutnya yang sedikit terbuka itu dan masih memperhatikan Sakura. Sedangkan yang diperhatikan malah senyum-senyum jahil.

"Apa…?"

"Make Love… ML.. Masa kau tak tahu?" jawab Sakura dengan nada menyindirnya.

Sungguh pasti ada yang aneh dari diri kekasihnya ini. Sasuke mengerutkan dahinya. Jangan-jangan sesuatu sedang merasuki gadis—err…wanita—merah muda di hadapannya ini. Sasuke meraih kedua pipi Sakura dan menatap emerald-nya tajam.

"Kau… tak sedang terpengaruh sesuatu kan?"

Mendengar hal itu Sakura segera menggelengkan kepalanya cepat. Ia meraih kedua tangan Sasuke dan menggenggamnya.

"Kenapa? Apa Sasuke-kun tak mau melakukannya denganku…?" Sakura menatap Sasuke dengan wajahnya yang terlihat sangat kecewa. Tentu saja bagi Sasuke ini adalah kejadian langka, berhubung Sakura selalu menolaknya kala ia ingin melakukan itu.

"Bukannya aku tak mau juga sih~" Sasuke menggaruk pipinya yang tak gatal. Sasuke bingung mau menanggapinya seperti apa.

"Aku…menyukai Sasuke-kun~ Akhir-akhir ini pikiranku hanya dipenuhi olehmu… Dan kalau kubiarkan begitu saja aku bisa meledak." Sakura pun menundukkan kepalanya. Matanya mulai berkaca-kaca.

Sasuke terenyuh seketika. Ia meneguk ludahnya yang tersangkut di tenggorokan. Kalau kekasihnya sudah memperlihatkan sisi manisnya seperti ini… lelaki mana yang tak tahan? Yah mungkin kecuali dia homo.

"Hentikan aku kalau aku berlebihan ya…" ucap Sasuke sambil menggendong tubuh Sakura bridal style.

Sakura mengangguk menjawabnya. Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Sasuke. Sasuke pun berjalan menuju kamar. Setelahnya Sakura hanya terdiam, sorotan mata emerald-nya meredup. Kegelapan kembali terpantul di sana.

Sasuke menurunkan tubuh Sakura perlahan ke ranjang. Mereka saling berpandangan sejenak. Dengan hati-hati Sasuke menyusup melalui helaian rambut Sakura dan menariknya mendekat. Mereka memejamkan mata, merasakan decapan satu sama lain yang saling beradu.

"Emmmh~"

Saat Sakura mulai melancarkan desahannya, Sasuke mulai berani menggerayangi dada Sakura. Dengan sentuhan-sentuhan lembut yang main lama semakin liar itu membuat desahan Sakura tak tertahankan lagi.

"Eengh~Emmmh~Sasu~eeemm…emmm…"

Sasuke melepaskan ciumannya, ia membaringkan tubuh Sakura perlahan ke ranjang. Sakura hanya bisa memejamkan mata ketika Sasuke mulai menggigiti lehernya dan meninggalkan bercak kemerahan di sana.

"Sas…suke… emmmh~ emm…emmnghh~ enn..emmmh~"

Tangan Sasuke meraih bra Sakura dan melepaskan kaitannya. Sebelahnya lagi sedang mencoba menurunkan celana dalam Sakura. Sekali tepuk dua underwear terlepas. Mungkin itu yang sedang dicoba Sasuke.

"Engh~ aaahhh~eeenn~ eeng…"

Sakura mencoba membuka matanya perlahan. Ia melihat Sasuke yang dengan lahap tengah 'menyusu' kepadanya. Kedua gunung kembarnya menjadi sasaran perbuatan Sasuke yang liar. Puting itu sudah sangat mengeras dan kemerahan akibat hisapan dan jilatan Sasuke.

"Sasu…aaaah~ Enghhh~ Aaahh…ah…aaahhhh~"

Sasuke menurunkan ciumannya. Tak lupa ia juga meninggalkan banyak bercak kemerahan di setiap jalur yang dilewatinya. Sasuke sudah tak akan menahan diri lagi sekarang, karna ia telah mendapat persetujuan langsung dari sang wanita.

"Sasuke~ tunggu~"

Sakura memekik saat kepala Sasuke kini telah berada di antara kedua pahanya. Sasuke pun menghentikan niatnya yang ingin menikmati 'bibir basah' Sakura di bawah sana.

"Kenapa? Kurasa aku belum cukup 'keterlaluan' untuk dihentikan." Jawab Sasuke dengan wajah polosnya.

"Bu…bukan itu. Em… tapi… aku… hanya merasa risih saja ketika.. eum..kau tahu…" sejak kapan Sakur amenjadi segugup ini. Untungnya Sasuke masih dengan sabar menunggu kekasihnya itu melanjutkan kalimatnya. "Ketika… kau menjilatnya."

"Kenapa? Tenang saja Sakura… ini akan sangat nikmat."

"Tapi Sasu—Kyaaaa~! Engh~ enn~"

Kali ini tanpa persetujuan dari sang pemilik, Sasuke membuka lebar kedua paha Sakura. Memperlihatkannya sebuah fenomena 'basah' yang menggiurkan. Sakura sudah tak bisa lagi melakukan apapun. Kekuatannya tentu saja tak akan berpengaruh banyak untuk menghentikan keliaran Sasuke saat ini.

"Engh~ aaahhh…hah..ah…haa~ aaah~ Aaahh~…enghh~"

Sakura melirik Sasuke di bawah sana. Matanya sudah mulai berkaca-kaca menahan malu sekaligus nikmat yang disajikan oleh Sasuke. Dan tangannya pun meremas keras rambut raven pemuda itu.

"Engh~ Sasu,…aah..~ henti…uukkh~ eeenn~ aaahh~"

Desahan Sakura seirama dengan hisapan dan jilatan Sasuke di lorong kenikmatannya. Sasuke memjamkan mata, bahkan mungkin ia lebih menikmati menjilat Sakura dari pada permen lollipop kesukaannya. Karna baginya milik Sakura ini jauh lebih enak dibanding apapun.

"Aaaah~ Ahh…Aaaa…Aahh…hah..hah…AAAAAAaaaaaaaaa~!"

Dengan desahan panjang dan erangan kencang dari Sakura, mulut Sasuke dipenuhi oleh cairan manis itu. Sasuke kembali dengan lahapnya menyambut rasa itu. Seakan mearin di sana, lidah Sasuke bergerak keluar masuk dengan lincahnya.

"Sasu~ eeenngh~ eennn…"

"Baiklah, kurasa kau sudah cukup basah."

Sasuke menjilati sudut bibirnya, memperlihatkan seringai sexy-nya kepada Sakura. Sakura hanya bisa pasrah menanti menu utama yang akan dirasakannya setelah ini. Sasuke menurunkan resleting celananya, dan mengeluarkan 'benda' kebanggaannya itu.

"Sakura~"

Sasuke menunduk untuk dapat meraih bibir Sakura dan menciumnya. Sementara tangannya bekerja untuk memasukan 'Sasuke kecil'-nya itu ke dalam tubuh Sakura. Dengan sekali hentakan keras Sasuke pun masuk ke dalam.

"Ukh~ Haaaaa~ aaah~"

Sakura sontak melepaskan ciumannya, dengan seutas saliva yang saling menghubungkan bibirnya dengan bibir Sasuke menggantung di sana. Sasuke kembali meraih bibir itu, melumatnya ganas secepat gerakannya di bawah sana.

"Ennn~Emmmhh~emmnh…aaahhh~"

Desahan Sakura terhalang oleh ciuman Sasuke. Sasuke menaikkan kedua paha Sakura ke pundaknya, ia masih menggenjot Sakura dengan iramanya yang cepat. Tak lupa juga kedua tangannya meraih gundukan-gundukan sakura dan memijatnya.

"Engh~eeenn~aaahhh~aah…hah…aaahh~"

Pikiran Sakura terasa melayang seketika. Ketiga titik sensitive-nya sedang dimainkan dengan ganas. Bercak keringat dan cairan cinta mereka membaur menjadi satu kesatuan. Menyatukan kedua insane yang saling mencintai.

Sakura kembali memejamkan matanya. Air mata mengalir melalui sudut matanya. Sasuke yang melihat itu hanya mengira kalau itu karena perbuatan sex mereka, meski terkadang Sasuke juga bingung mengapa wanita selalu meneteskan air mata saat melakukan sex? Karena sakit kah? Tapi ini bukan yang pertama, seharusnya tubuhnya sudah terbiasa.

"Sakura~ Aishiteru~"

Kau tak mengerti Sasuke. Kau tak mengerti yang sebenarnya terjadi pada wanita-mu itu. Karna air matanya bukanlah disebabkan rasa sakit pada selangkangannya yang mungkin terlalu keras kau tekan. Tapi karena rasa sakit lain yang berasal dari hatinya.

Semakin Sakura merasa berdebar akibat perlakuan Sasuke kepadanya, semakin sakit rasanya hingga membuat hatinya perih. Karna Sakura sudah memutuskannya, memutuskan sesuatu yang akan menjadi tembok penghalang antara dirinya dengan Sasuke. Ia bahkan tak mengira perasaannya sedalam ini kepada pemuda yang sedang berada di atasnya itu.

Tapi keputusan sakura telah bulat. Matanya yang terpejam kembali terbuka perlahan. Ia meraih leher Sasuke dan memeluknya erat.

'Sayonara… Sasuke.'

-ooOoo-

Seperti waktu yang tak mungkin berhenti berputar, kehidupan pun akan terus berjalan. Sekeras apapun kau mencoba menghindari jalan yang bercabang, suatu hari kau akan menghadapinya.

Hidup hanya sekali. Jalani semuanya dengan perasaan yakin dan pantang menyerah. Ambilah keputusan yang tak akan membuatmu menyesal nantinya. Lakukan hal… yang tak memberikanmu alasan untuk menyesalinya.

Sebuah pintu dari kayu mahoni terbuka perlahan. Menampilkan sesosok pemuda dengan rambut merah dan jubah AKATSUKI-nya. Pemuda itu menyeringai melihat siapa tamu yang datang ke kediamannya itu.

"Aku sudah menunggumu… Sakura."

Sasori mempersilahkan wanita merah muda itu untuk berjalan masuk. Sesaat ia melirik adanya bercak-bercak merah di tengkuk Sakura. Sasori menggeram seketika, ia tahu betul siapa yang pelaku yang meninggalkan 'noda'-nya di sana. Tapi ia segera menahan emosinya mengingat sebentar lagi wanita itu akan menjadi miliknya.

Sakura melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Sakura sudah hafal letak-letak ruangan di tempat ini. Bagaimana tidak, ini adalah rumahnya. Atau mungkin sekarang menjadi 'mantan' rumahnya, sejak ia diusir oleh kakaknya sendiri.

"Baiklah Sakura… Kau sudah memantapkan hatimu bukan?"

Sakura mengedarkan pandangannya. Di sana sudah ada para anggota AKATSUKI lainnya. Dengan wajah mereka yang tak kalah dinginnya dari wajah yang ditampilkan Sakura sekarang. Kalau bisa berkomentar, Sakura sangat tertekan dengan keadaan ini. Ia sungguh ingin lari dari dunia macam ini. Tapi bukanlah tipikalnya untuk melakukan itu. Setidaknya ia bukanlah seorang pengecut.

"Percayalah Sakura… keputusanmu kali ini sangat tepat. Kau harus membalas budi akan kebaikkan kakakmu, kau harus menghancurkan Uchiha." Bisikan Sasori kembali mencuci otak Sakura. Pandangannya semakin menggelap. Sasori pun menyeringai di belakang Sakura.

"Ucapkan sumpahmu, dank au akan resmi menjadi ketua AKATSUKI."

Tubuh Sakura gemetar, namun ia mengepalkan tangannya erat memberikan keyakinan kepada dirinya sendiri. Sakura menarik nafanya dalam-dalam sebelum mengucapkan sumpahnya di depan seluruh anggota AKATSUKI. Karna setelah sumpahnya terucap, tak ada lagi jalannya untuk kembali.

"Aku—"

"TUNGGU..!"

Sebuah suara datang mengganggu acara mereka. Tentu saja hal ini menyita seluruh perhatian para anggota AKATSUKI beserta Sakura itu sendiri. Mata Sakura membulat ketika melihat sosok yang berada di hadapannya dengan pakaian Rumah Sakit. Sosok orang yang sungguh 'sangat' dikenalinya.

"Onee…chan…"

Sakura mendesah melihatnya. Sosok sang kakak yang terlihat berpegangan kepada tembok untuk menahan berat tubuhnya sendiri. Sakura hendak datang mengahmpiri sang kakak, namun tangannya ditahan oleh Sasori. Dan para anggota yang lain pun bergegas mengambil posisi berada di depan Sakura dan Sasori, menghalangi Karin untuk mendekat.

"Le..paskan… tangan kotormu dari Sakura!" pekik keras Karin. Ia mencoba menerobos ketiga anggota AKATSUKI, namun usahanya sia-sia saja. Yang ada tubuhnya malah terbanting ke lantai.

"Oneechan…!" Sakura sekali lagi akan bergerak menolong sang kakak, tapi genggaman di tangannya dipererat oleh Sasori. "Lepaskan! Aku harus menolong Oneechan! Sasori, lepaskan aku!"

"Tak akan…!" Dengan sekali dorongan tubuh Sakura dihempaskan ke dinding. Dan kedua tangan sakura pun dikunci agar tak melarikan diri darinya.

"Sakura~" Karin merintih sambil memegangi kepalanya. "Maafkan aku…Sakura…"

"Oneechan~" air mata pun tak bisa lagi dibendungnya. Sakura masih mencoba melepaskan diri, meski ia tahu itu percuma saja.

"Sakura aku…aku tak pernah bermaksud untuk membuatmu terlibat dalam masalah ini… atau bahkan melukaimu…" Karin mencoba menggapai sosok Sakura yang jelas-jelas berjarak cukup jauh darinya.

"Oneechan~ Maafkan Sakura Oneechan~ Sakura tak bisa membalas segala yang telah dikorbankan untuk Sakura~" Sakura merintih menahan sakit pada pergelangan tangannya, juga sakit pada hatinya yang melihat sosok lemah sang kakak di hadapannya.

"Tidak Sakura… Justru aku yang telah dibutakan oleh kebencian. Tanpa mengetahui mengenai kejadian yang sebenarnya, aku memutuskan untuk menuntut balas." Karin tersenyum lemah di sela tangisannya. Tangannya masih memegangi kepalanya yang berdenyut tak karuan.

"Oneechan…"

Karin meraih kembali tembok yang ada di sampingnya, ia merambat naik perlahan. Tubuhnya berdiri dengan menopang pada sang tembok. Ia menatap lurus kepada adiknya yang ditahan di sana.

"Sakura… apa kau… mencintai pemuda itu?" tanya Karin lirih, namun cukup untuk dapat didengar oleh Sakura. Sakura tediam sejenak, ia bimbang akan segala yang berputar di otaknya. Akhirnya Sakura pun mengganggukan kepalanya lemah. Hal ini membuat Sasori geram melihatnya.

"Bukankah sudah kubilang! Lelaki itu hanya memanfaatkanmu saja!" Sasori menggeram ke arah Sakura, dan genggamannya pun dipererat. Sakura merintih menahan sakit yang melandanya itu.

"Hentikan! Jangan sakiti, Sakura!" Karin kembali menerjang untuk menyelamatkan sang adik, dan sekali lagi pun tubuhnya terpental akibat sebuah dorongan dari Konan.

.Bruk.

Namun kali ini tubuh Karin tak terjatuh ke lantai, melainkan seseorang tengah menopangnya. Seluruh pandanganpun berpaling. Sakura kembali membulatkan mata melihat sosok di belakang Karin.

"Hi…Hinata?" Sakura memandang bingung, namun Hinata dengan lembut menopang tubuh Karin dan membuatnya berdiri kembali.

"Apa?! ANBU!" Sasori menyadari bahwa Hinata merupakan anggota ANBU, dan ia menduga bahwa di pasti akan ada anggota ANBU lainnya berkeliaran di sini. "Hey kalian semua, bersiap—"

.Grep.

Tangan Sasori seketika diangkat dan dikunci dari belakang. Akibatnya kuncian pada tangan Sakura terlepas begitu saja, menyisakan luka kemerahan di kedua pergelangan tangannya.

Sakura merintih perih memegangi tangannya. Dan saat ia menoleh mencari tahu siapa yang sedang menahan pergerakan Sasori itu, mata Sakura kembali membulat. Sosok itu menampilkan ekspresi datarnya kepada Sakura.

"Sasuke…? Apa yang kau—"

"HEY BODOH! SIAPA YANG MENYURUHMU MEMUTUSKAN HAL INI SEENAKNYA! DASAR BODOH!" Sasuke pun berteriak kencang dengan kekuatan toa masjid (?) sampai membuat Sakura menutupi telinganya. Sasuke sepertinya sangat marah mengetahui hal ini.

"Dasar! Pantas saja kau aneh akhir-akhir ini! Kenapa sih kau tak mengatakannya?! Tak ingin merepotkan? Cih, kalau sudah begini malah jauh lebih merepotkan!" melihat Sasuke yang marah-marah kepadanya dengan banyak perempatan urat tergambar di dahinya membuat Sakura terdiam seketika.

Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri lagi kini. Kanyataan bahwa ia sangat mencintai pemuda ini bukanlah sesuatu yang bisa ditutupi lagi. Rasa sakit yang melandanya adalah kerena ia mencoba membunuh perasaannya. Berpura-pura mencintai memang sulit, tapi berpura-pura tak mencintai jauh lebih sulit.

"Ayo pergi!"

Konan memberikan aba-aba kepada yang lainnya. Dan mereka pun bergegas menerobos pintu keluar untuk melarikan diri. Namun seketika sebuah balok kayu berukuran besar tejatuh tepat di hadapan mereka. Para anggota AKATSUKI itu sampai meneguk ludah melihatnya. Kalau terkena, sudah dipastikan mereka akan tewas.

"Kalian pikir bisa kabur semudah itu dari kami?!"

Ternyata sang pelaku adalah Naruto yang berada di lantai dua. Ia memamerkan senyuman rubahnya kepada ketiga AKATSUKIers itu. Dengan gayanya yang lebih condong ke 'aneh' daripada 'keren' itu malah membuat Sakura tersenyum dan Sasuke mendecih. Hanya Hinata mungkin yang merasa kagum terhadapnya.

"Ck! Sial!" Sekarang Deidara mencoba menerobos melalui jendela di hadapannya. Dan ia berhasil keluar dengan mudah, ia pun menyeringai dan bersorak kepada mereka sebelum pergi. "Selamat tinggal, Bodoh!"

.Toeng.

Tepat saat Deidara menoleh keluar, di hadapannya sudah ada tiga orang polisi yang mengacungkan pistol ke arahnya. Deidara hanya bisa mengangkat kedua tangannya dengan tatapan cengo. Sementara itu di dalam terdengar sebuah suara misterius.

"Percuma saja, aku sudah mengirimkan polisi dan menyebarkan wajah kalian melalui internet." Sosok itu keluar dan duduk dengan santainya di sofa. Tak lupa juga laptop kesayangannya yang berada di pangkuannya.

"A…apa?! Tak mungkin! Aku sudah menghilangkan jejak keberadaan kami dengan laptopku!" Gaara menggeram.

"Maksudmu ini?"

Sontak Gaara pun menoleh menuju sumber suara itu, dan betapa terkejutnya ia melihat seorang wanita berambut pirang panjang yang sedang memamerkan sebuah benda yang kita tahu adalah sebuah laptop. Tapi bukan itu yang membuat mata Gaara berkaca-kaca sekarang, melainkan keaadaan laptop itu yang sudah sangat hancur lebur.

"Tidaaaaaakkkk~! LAPTOPKUUUU~!" pekik Gaara frustasi sambil tertunduk lemas.

"Naruto, Ino, Sai…" Sakura memandangi satu per satu teman-temannya yang bermunculan secara berurutan itu. Ia pun tak bisa menahan haru lagi untuk tak menangis.

"Sakura…" dengan bantuan Hinata, Karin dibopong berjalan mendekati Sakura. Dan Sakura pun meraih tangan kakaknya itu, pelukanpun dilancakannya. "Sakura…kau memang anak bodoh. Kau sudah memiliki sahabat-sahabat yang menyayangimu, lantas mengapa kau malah memilih untuk mengkhianati mereka?"

"Tapi… Oneechan~ bukankah Karin-neechan sangat membenci Uchiha? Itulah sebabnya Karin-nee membentuk AKATSUKI?" Sakura melepaskan sejenak pelukannya untuk menatap wajah sang kakak.

"Kau perlu tahu, sebenarnya… yang membentuk AKATSUKI adalah Sasori." Sahut Karin sambil melirik ke arah Sasori yang masih dikunci pergerakannya oleh Sasuke. "Dia lah yang menutupi kenyataan mengenai kematian Itachi, dan membuatku buta akan kebencian."

Sakura melirik menatap Sasori, Sasuke mengeratkan kunciannya ketika Sasori mulai memberontak melepaskan diri.

"Tapi Sasuke datang kepadaku… dan menceritakan semuanya." Pandangan Karin bergeser kepada sang Uchiha bungsu. "Saat itulah aku mengerti bahwa apa yang kulakukan selama ini salah. Maafkan Oneechan, Sakura… aku telah gagal sebagai kakak."

"Oneechan~" Sakura ikut terlarut dalam ucapan Karin, mereka kembali berpelukan bersama. "Oneechan tak gagal! Karin-nee selalu memberikan yang terbaik untuk Sakura, tapi Sakura tak bisa memberikan apapun…"

Sakura menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia pun tak ingin mengkhianati siapapun, ia ingin terus bersama Sasuke tapi ia juga ingin membalas kebaikan Karin kepadanya. Karna bagi Sakura mereka berdua sama-sama berharga untuknya, dan ia tak bisa mengorbankan salah satunya.

"Hey Sakura, ada satu hal lagi yang perlu Neechan ingatkan." Sakura memandang sang kakak dengan pandangan bingung. "Ketika kau sudah menemukan seseorang yang berharga untukmu, kau harus siap untuk mengorbankan semua yang kau miliki deminya."

Sakura terdiam mendengar pernyataan sang kakak. Ia pun mengangguk lemah menanggapinya. Karin membelai lembut pipi Sakura untuk menghapus jejak air mata yang mengalir di sana.

"Hey! Siapa yang bilang kau itu tak berguna heh?!" Sakura sontak melirik ke arah Sasuke.

"Tapi aku…"

"Kalau tak karena kau, kami tak bisa menyusun jebakan untuk menggerebek markas AKATSUKI ini." Jelas Hinata dengan senyumannya.

"Eh? Jadi aku umpan…?" Sakura mengerutkan dahinya.

"Tak juga, lagipula kalau tak ada Sakura-chan rasanya kurang." Sakura menoleh menatap sosok Naruto yang berjalan turun.

"Kami ini berkumpul bukan atas dasar saling menguntungkan. Tapi karena adanya rasa kekeluargaan." Ino turut menyumbangkan argumennya.

"Satu lagi. Catat ini!" Sasuke mencuri lagi perhatian Sakura. "Apa aku pernah memintamu untuk berguna untukku?"

Sakura tediam memandangi wajah serius Sasuke. Sebenarnya Sasuke cukup kesal karena Sakura tak memeprcayainya, padahal Sasuke sudah mengatakan untuk mempercayainya. Tapia pa mau dikata, ini semua diperburuk akibat hasutan Sasori.

"Kau itu… cukup dengan berada di sampingku saja selamanya. Itu…sudah sangat berguna untukku."

Ucapan Sasuke yang diiringi dengan garis-garis merah di pipinya membuat Sakura terenyuh. Memang benar Sasuke tak pernah meminta Sakura untuk melakukan apapun yang berguna untuk Sasuke. Dan Sasuke sudah merasa cukup dengan keberadaan Sakura di sisinya. Karin pun ikut tersenyum melihatnya.

Sakura memang menyanyangi keduanya, baik Sasuke maupun Karin. Tapi suatu saat akan tiba dimana ia harus memilih salah satu dari mereka. Ketika kau sudah menemukan seseorang yang berharga untukmu, kau harus siap… untuk mengorbankan segala yang kau miliki demi dirinya. Itulah kodrat alam yang tak bisa diubah. Karna kalau tidak, kau pasti akan kecewa.

-ooOoo-

Mentari cukup bersinar hari ini. Kenapa dikatakan cukup? Karena cuaca saat ini tidak terlalu panas, tapi juga tidak terlalu dingin. Sejuk, dengan angin yang berlarian kesana-kemari memainkan rambut orang-orang yang sedang berkumpul di sana.

"Sudah setahun berlalu sejak hari itu ya…" sahut Sasuke lirih. Sakura masih terdiam berdoa di depan sebuah nisan berukirkan 'Haruno Karin'. Matanya terbuka perlahan, ia mengelus nisan itu sambil tersenyum.

"Tapi bagiku rasanya seperti baru kemarin saja kejadian itu terjadi. Saat dimana kita menggrebek markas AKATSUKI. Karena sampai sekarang pun kalau mengingatnya hatiku berdebar tak karuan saking menyenangkannya." Naruto bercerita panjang lebar masih dengan kebiasaannya cengar-cengir seperti rubah.

"Setelah itu akhrinya seluruh anggota AKATSUKI masuk penjara kan? Biar tahu rasa mereka, sudah membuat ANBU kerepotan seperti itu." Ino mulai lagi mengeluarkan argumennya.

"Untungnya timing kita pas, sehingga semua berjalan sesuai dengan rencana." Sai kini tak terlihat membawa laptopnya, ah, salah… itu karena sekarang laptop itu sedang berada di dalam tas Ino. "Ngomong-ngomong, Ino… kapan kau akan mengembalikan laptopku?"

"Eits! Nanti, setelah Sakura selesai berdoa, dan… setelah kau memberikanku pulau Hawai!" jawab Ino sekenanya. Sai pun hanya bisa mendengus pasrah mendengarnya. Mau bagaimana lagi, saat ini Ino sedang merajuk dengan alasan Sai terlalu perhatian kepada laptop daripada kepada dirinya.

'Habis kalau laptop tak akan mengeluhkan apapun dan tak berisik…' batin Sai, namun yang tampil di wajahnya hanyalah senyuman datar seperti biasanya.

"Sakura, ini bunganya." Hinata menyerahkan sebuket bunga bakung kepada Sakura, dan Sakura pun menerimanya.

"Baiklah, setelah ini kita mau kemana?" Naruto terlihat bersemangat.

"Selama setahun ini kita belum juga mendapatkan order untuk berbuat jahil ya… Sai, apa kau tak pernah menemukan sesuatu di website?" Ino pun melancarkan argumennya kembali.

"Aku tak akan bisa mengetahuinya kalau laptopku masih kau sandra, baka.." Sahut Sai dengan suara yang sangat lirih bahkan nyaris tak terdengar.

"Tapi mungkin… itu… bisa saja karena orang-orang nakal yang pantas untuk dijahili sudah mulai berkurang." Ucapan Hinata membuat semua mengangguk setuju.

Mereka pun berlalu menuju mobil yang telah terparkir di depan pemakaman keluarga ini. Sementara itu Sasuke masih menunggu Sakura selesai merapikan nisan sang kakak. Wajah Sakura terlihat lebih dewasa sekarang, mungki karena setahun telah berlalu sejak mereka bertemu sehingga perubahan pun terjadi dengan alaminya.

"Aku teringat mengenai ucapan terakhir Karin-neechan sebelum ia meninggal."

Sasuke masih terdiam membiarkan wanitanya terlarut dalam kenangan nostalgianya. Sakura menerawang, jauh ketika saat terakhir Karin masih ada di dunia ini. Di samping Sakura yang sedang menangisi keadaan sang kakak yang mendadak kritis, Karin meraih tangan Sakura dan menggenggamnya.

-FLASBACK-

"Ingat Sakura, ketika kau dihadapkan kembali oleh jalan yang bercabang… percayalah kata hatimu. Dan jangan pernah khianati mereka yang mencintaimu sepenuh hati. Karna mereka yang benar-benar menyayangimu, tak akan menjerumuskanmu ke jalan yang salah."

"Oneechan~"

"Lalu… Sasuke…" Karin menoleh menatap sosok Sasuke yang berada di samping Sakura. Karin meraih tangan Sasuke dan menyatukannya dengan tangan Sakura.

"Kutitipkan Sakura kepadamu… Tolong jaga dia dengan baik ya~ Kalau sampai kau melukainya atau membuatnya menangis, aku akan mengutukmu dari surga sana."

Sasuke terkekeh sejenak mendengarnya. Lucu saja orang yang sedang setengah sekarat itu masih bisa bercanda. Sasuke tersenyum dan menggenggam tangan Sakura erat, Sakura pun membalas genggamannya.

"Aku meminta restumu untukku menikahi Sakura."

Ucapan Sasuke tentu saja membuat kakak-beradik Haruno itu membulatkan matanya seketika. Dengan senyuman bangga Sasuke mengatakan lamarannya kepada sang kakak. Karin terdiam dan tersenyum perlahan.

Entah karena pandangannya yang sudah mulai kabur ataupun memang benar, tapi Karin seakan melihat adanya sayap di belakang punggung Sakura dan Sasuke. Sebelah kiri dimiliki oleh Sakura, sedangkan yang kanannya dimiliki oleh Sasuke. Bersama, sayap mereka terlihat sangat indah.

"Semoga kalian bisa terbang bersama selamanya." Karin tersenyum melancarkan doanya yang akan disampaikan langsung kepada sang maha pencipta. Karin memejamkan matanya, ia berucap untuk yang terakhir kalinya.

"Akhirnya aku… bisa kembali kepada sayapku di surga sana."

Saat kalimat itu selesai terucap, tangisan Sakura pecah seketika. Ia memeluk erat tubuh Karin yang sudah tak bernyawa itu.

-FLASHBACK_END-

Sakura bangkit perlahan. Ia berdiri masih memandangi nisan di hadapannya itu. Sasuke pun ikut memandanginya. Angin kini mungkin ingin menjahili kedua insan itu dengan memainkan rambutnya. Sakura pun mau tak mau berkali-kali membetulkan rambutnya.

"Karin -nee dan Itachi-nii… pasti sudah bahagia di durga sana." Sasuke akhirnya mengeluarkan suaranya. Sakura mengangguk dengan senyumannya.

Perlahan tangan Sasuke meraih tangan Sakura dan menggenggamnya. Namun pandangan mereka belum terlepas dari sang nisan. Sakura tersenyum sambil membalas genggaman tangan Sasuke.

"Janjiku kepadamu. Setelah lulus nanti…"

Sakura terdiam. Ia mengingat-ingat janji apa yang dimaksud Sasuke. Karena mungkin janjinya sudah terlalu banyak sehingga Sakura tak bisa mengingat semuanya.

"Maukah kau menikah denganku?"

Sasuke menoleh memandang sang wanita merah muda itu. Sakura melongo dibuatnya, Sasuke pun membalik badannya menghadap Sakura. Tangan Sakura diraihnya, dan betapa terkejutnya saat ia mendapati sudah ada sebuah cincin permata yang melingkar di jari manisnya.

"Sasuke…tapi… sejak kapan…" Sakura menatap jarinya tak percaya. Seingatnya bahkan tadi saat ia sedang berdoa ia tak memakai cincin. "Apa saat kau menggenggam tanganku? Tapi…bagaimana bisa…? Dengan satu tangan…?"

"Kau tak ingat? Tak ada yang tak bisa kulakukan."

Sakura mendecih menanggapinya. Namun tak dapat dipungkiri pula, ia sungguh bahagia mendapatkan kejutan seperti ini. Ciuman manis mendarat di bibirnya. Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang Sakura, dan Sakura melingkarkan kedua tangannya si leher Sasuke. Tak lama, ciuman mereka pun berakhir.

"Jawabanmu?" tanya Sakura dengan seringainya. Muka Sakura memerah seketika. Ternyata Sakura masih saja manis sama seperti setahun yang lalu, setidaknya Sasuke bersyukur akan hal itu.

Sakura pun mengangguk. Sasuke terkekeh melihat kegugupan Sakura. Dengan sekali kecupan di dahinya Sasuke membulatkan teladnya untuk menjadikan Sakura wanita terakhir dalam hidupnya. Sakura melepaskan pelukannya, ia menggandeng tangan Sakura dan berlalu menuju teman-teman mereka yang pastinya sedang menunggu.

Dddrrrt Drrrt Ddddrrrrtt

Namun langkah Sasuke terhenti seketika saat sebuah deringan dapat dirasakannya. Sakura melirik Sasuke yang kini mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan yang terbaca di layarnya. Sakura merengut ketika melihat sudut bibir Sasuke yang membentuk seringai.

"Sasuke, apa itu dari…"

Tanpa menjawabnya Sasuke kembali menggandeng Sakura keluar dari tempat itu menuju ke mobil mereka. Saat sosok mereka mulai terlihat, Ino sudah bersiap dengan berkacak pinggang menunggu mereka. Naruto pun sepertinya sudah mengomel-ngomel karena tak sabar menunggu.

Namun saat sebelum Sasuke sampai pada gerbang depan, ia mengirimkan pesan yang baru saja diterimanya kepada keempat temannya itu. Naruto dan Sai yang merasakan ponselnya bergetar segera meraihnya, dan diikuti oleh Hinata juga Ino.

Sasuke berdiri dengan Sakura di sampingnya. Wajah Naruto dan Ino yang tadinya sangar kini mendadak jadi berseri-seri. Sai dan Hinata pun tersenyum setelah membaca isi pesan itu.

"Akhirnya ANBU mulai beraksi kembali!"

Di setiap cahaya selalu ada bayangan, dan semakin terang cahaya itu maka semakin tebal pula bayangan yang dihasilkan. Tapi ingat, teorinya pun bisa dibalik. Jika ada bayangan di sana pasti ada cahaya, dan semakin tebal bayangan itu, semakin terang cahaya yang ada. Kau hanya perlu menemukan cahaya itu.

ANBU alias ANak Bikin Ulah. Target mereka adalah anak-anak nakal yang penurut mereka pantas dihukum. Kejahilannya ringan kok, tergantung perbuatan dari si korban itu sendiri. Karena itu, berhati-hatilah. Bisa saja ANBU melihat 'kenakalan'-mu dan berbalik mengerjaimu.

"Ah!" Saat semua sedang bersorai semangat lagi-lagi Hinata menghentikan suasana itu. Seluruh pandangan pun mendadak menjadi suram bahkan sebelum Hinata menyebutkan kalimatnya. Karena mereka tahu… apa yang akan diucapkan Hinata.

"Kita kan harus menyerahkan laporan mingguan OSIS besok."

Oh tidak. Kalian melupakannya lagi, beruntung saja ada Hinata yang selalu mengatur jadwal kalian. Atau mungkin… tidak. Ya, tidak.

"TIDAAAAAKKK~!"


-OWARI-


Nah lho... gimana nih hasil lembur dua malem ini?
Lemonnya hot enggak? Kurang ya? iya kan? pasti iya...?

Haduh... semoga enggak deh...
Gimana deh keseluruhan Fic ini?
Shera mau ngucapin terima kasih buat para readers yang udah baca Fic ANBU ini sampe tamat yah...

Tunggu Fic Shera selanjutnya yah... :D
give me Your Blessed Review, please~

-I'm nothing without you guys-

Keep Try My Best Always!

-Shera Liuzaki-