Evil Town
Chapter Four
TaoRis Side
Tao tengah membaringkan Yoona yang tertidur kelelahan karena menangis. Air matanya mulai mengering disekitar pipinya. Tao menatap miris Yoona, Tao jadi mengingat rekan satu grupnya. Apakah mereka baik-baik saja sekarang ini? Entahlah... Tao tidak tahu. Tao merindukan mereka sekarang. Dia hanya bisa berharap mereka selamat.
Tao merasakan sebuah tangan tengah mengelus rambutnya. Dia menatap orang tersebut yang tidak lain adalah Kris.
"Ada apa Tao? Wajahmu terlihat sedih."
Tao terdiam. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan Kris. Kris kemudian duduk disamping kanan Tao.
"Aku merindukan teman-temanku." Tao akhirnya berbicara. Suaranya sedikit serak, menyatakan bahwa dia menahan isakannya.
Kris memeluk Tao, menenangkannya. Tao menyamankan wajahnya dibahu tegas Kris.
"Aku tahu. Aku juga dulu seperti itu." Ucap Kris. Tao membulatkan matanya mendengar pernyataan Kris. Tao melepas pelukannya dan menatap Kris.
"Ma-maksudmu?."
"Bukan hanya aku yang berada ditempat ini. Tapi juga teman-temanku." Kris menghela napasnya sebelum melanjutkan.
"Kami berada dalam pesawat waktu itu. Pesawat kami mengalami kejadian yang tak terduga. Beberapa dari kami terjun dari pesawat dengan menggunakan perasut sebelum pesawat jatuh ketanah dan meledak dengan keras."
'Sama denganku' Batin Tao pilu.
"Ada delapan orang yang selamat dalam kejadian itu. Sisanya tujuh orang tewas karena tidak sempat menyelamatkan diri. Kami sangat asing dengan tempat ini, dan dua orang dari kami tewas oleh zombie tak lama setelah kami mendarat. Sejak saat itu kami makin waspada pada apapun." Kris menyamankan posisi duduknya sebelum kembali bercerita. Pandangannya kembali menerawang keatas.
"Kami terpisah menjadi dua grup karena diserang oleh monster yang kau lawan. Sahabat baikku Wooyoung tewas karena mahluk itu. Dan satu temanku lagi yang bersamaku tewas dimakan oleh monster besar."
Kris berhenti bercerita mengingat ucapannya mulai bergetar. Mengingat memorinya bersama teman-temannya membuat dadanya sesak. Melihat sahabat-sahabatmu mati dihadapamu, sedangkan kau tidak bisa menyelamatkan mereka. Itu membuatnya sangat terpukul dan selalu merasa bahwa semua adalah salah dirinya.
Tao memeluk Kris dan mengusap punggungnya. Memberikan rasa nyaman pada Kris, Tao tahu bagaimana perasaan Kris sekarang. Dia merasakan hal yang sama dengan Kris, merindukan teman-teman berharga mereka. Mereka melepas pelukan mereka.
"Terima kasih." Ucap Kris sambil menatap wajah Tao.
Entah didorong oleh perasaan apa. Kris mendekatkan wajahnya pada Tao dan sedikit memiringkan wajahnya kekiri. Tao menutup matanya begitu wajah mereka makin dekat, begitu juga Kris yang menutup kedua matanya
Jarak wajah keduanya makin dekat, kedua bibir mereka hampir bersentuhan. Hanya tinggal beberapa mili hingga kedua bibir mereka menempel satu sama lain.
"Ehemm."
Suara deheman terdengar disuasana hening tersebut. Kontan kedua namja tersebut menjauhkan diri mereka masing-masing. Rona merah mulai menjalar di wajah mereka ketika menatap Yoona yang melihat mereka berdua sambil cekikian diposisi tidurnya. Wajahnya sedikit lebih baik dari sebelumnya ketika dia menangisi Jessica.
"Maaf, kalau kalian tidak keberatan aku akan berbalik dan kalian bisa melanjutkan apa yang baru saja kalian ingin lakukan." Ucap Yoona sambil menahan tawanya dan mulai berbalik arah posisinya.
Kris dengan gugup menatap wajah Tao yang menunduk. Tao tengah menyembunyikan rona merahnya dan debaran jantungnya yang lebih keras dari pada dia bertemu seekor monster. Perutnya seperti diisi oleh kupu-kupu yang tengah terbang ketika wajahnya dekat dengan Kris.
"Ti-tidurlah Tao, a-aku akan berjaga disekitar sini." Ucap Kris gugup dan mulai berdiri.
Tao mengangguk tanpa memandang wajah Kris. Dia merasa sangat malu sekaligus gugup sekali bila bertatapan dengan Kris. Kris kemudian berjalan meninggalkan Tao bersiaga jika ada sesuatu yang datang.
Tao membuang napas gugupnya setelah merasa Kris pergi. Dia mulai berbaring, ingatan wajah Kris yang begitu dekat dengan wajahnya kembali muncul. Dengan cepat dia menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir wajah tampan Kris dari pikirannya. Wajahnya makin merona merah.
'Perasaan apa ini?.' Batin Tao sambil memegang dadanya yang berdebar-debar.
Kris berkeliling ditempat mereka, berjaga dari sesuatu yang akan membahayakan mereka. Dirinya sedikit tidak fokus karena kejadian sebelumnya, dimana dia hampir mencium Tao. Kris mengacak rambutnya frustasi.
"Aku sudah mulai gila. Bagaimana mungkin aku mencium seseorang yang baru kutemui?" Kris menendang sebuah kerikil dengan kaki kanannya.
"Apa aku menyukainya? Hah! Jangan bodoh Kris! bagaimana bisa kau menyukai seorang namja yang memilki wajah manis dan mata indah itu... Eh...?" Kris merona mendengar kata-katanya yang terakhir yang meluncur begitu saja dari bibirnya barusan.
"Wajah manis? Mata indah? Aku benar-benar sudah gila."
.
.
.
.
Suho Side
Suasana begitu mencekam ditempat itu. Masing-masing insan yang ada disana diam tanpa kata. Hanya suara semilir angin malam dan juga kepakan sayap yang terdengar oleh telinga siapapun yang ada disana. Dua insan ah... tidak satu insan manusia dan satu mahluk aneh tengah saling melempar tatapan mata mereka.
Masing-masing dari tatapan itu menyiratkan rasa marah. Mata merah dengan nafsu membunuh beradu dengan mata hitam kecoklatan yang memandang sang mahluk yang tengah terbang itu dengan tatapan marah namun juga penuh kesedihan.
Sang mahluk aneh bernama Chanyeol melepas pandangannya. Kemudian dia menatap seorang namja yang tengah terduduk sambil menstabilkan deru napasnya. Orang yang berada dibelakang namja yang telah menganggunya kini menatap dirinya karena merasa diperhatikan dengan perasaan takut.
"Hari ini kau beruntung manis. Tapi... suatu saat aku akan mendapatkanmu." Chanyeol memberikan senyum mengerikannya pada Baekhyun. Membuat Baekhyun makin ketakutan oleh kata-kata Chanyeol. Jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya.
"Coba saja jika kau bisa menyentuhnya." Balas namja lain yang tengah mengacungkan satu pedangnya pada Chanyeol. Namja itu tak lain adalah Lay, kakak dari mahluk yang hampir membunuh Baekhyun.
Chanyeol tersenyum remeh pada Lay. Dia melipat kedua tangannya didada.
"Hmph, hasilnya tetap akan sama Yi Xing. Kau akan gagal seperti sebelumnya."
Lay menggertakan giginya marah dengan kata-kata Chanyeol.
"Baiklah... aku pergi dulu," Chanyeol membalikkan badan bersiap untuk pergi. Sebelum dia pergi, Chanyeol memutar kepalanya kesamping kiri menatap Baekhyun.
"Kita akan bertemu lagi." Dan setelahnya dia terbang dengan cepat meninggalkan lima insan disana yang menatap kepergiannya.
Lay menatap nanar Chanyeol yang tengah pergi. Dia kemudian menyimpan kedua pedang miliknya di balik punggungnya, membuat tanda X disana dengan dua pedang berada didalam sarungnya. Lay berbalik dan berjalan menuju arah Baekhyun.
"Gwaenchana?." Tanya Lay dalam bahasa Korea. Membuat Baekhyun yang tengah terduduk terkejut.
"A-ah ne, aku baik-baik saja." Balas Baekhyun sedikit kikuk. Lay memberikan tangannya pada Baekhyun, bermaksud untuk membantunya berdiri. Dengan senang hati Baekhyun menerima uluran tangan Lay. Lay menarik tangan Baekhyun hingga posisi Baekhyun kini tengah berdiri. Tiga insan manusia kini tengah pergi menuju kearah Baekhyun dan Lay.
"Baekhyun kau tidak apa-apa?." Tanya Suho pada Baekhyun sambil meraba-raba bagian tubuh Baekhyun. Memastikan bahwa Baekhyun tidak terluka sama sekali.
"Sudahlah hyung aku tidak apa-apa." Ucap Baekhyun sedikit risih dan mempoutkan bibirnya diperlakukan seperti seorang anak kecil oleh Suho.
"Kami khawatir kau terluka pabo." Ucap Chen sambil menghela napas.
Suho menatap Lay yang tengah menatap mereka. Merasa diperhatikan, Lay menatap Suho.
"A-ano, siapa kau?." Ucap Suho dalam bahasa Korea. Suho tidak yakin Lay mengerti bahasa yang dia ucapkan. Namun dia terkejut begitu Lay menjawab pertanyaannya.
"Namaku Zhang Yi Xing. Kau bisa memanggilku Lay. Aku penduduk asli pulau ini." Jawab Lay.
"E-eh kau bisa berbahasa Korea?." Tanya Sunny kaget.
"Ne." Jawab Lay.
"Namaku Suho, ini Chen, Baekhyun dan Sunny." Suho memperkenalkan dirinya dan yang lain pada Lay. Lay mengangguk dan menatap sekeliling.
"Jika kalian ingin bertanya lagi atau apa, kita pergi lebih dahulu ketempat yang aman. Hutan ini bernama Mendez dan banyak monster Bilia disini." Ucapan Lay diangguki oleh empat orang lain.
Mereka pun kini kembali berjalan dibelakang Lay. Suho berjalan disamping kiri Lay. Mereka berjalan dengan keheningan. Mereka bahkan tidak tahu sekarang waktu menunjukkan jam berapa. Langit begitu gelap dengan awan hitam diatas sana. Mereka merasa tidak ada suasana siang ditempat ini.
"Tentang mahluk yang menyerang ki-"
"Nanti saja Suho-ssi." Suho langsung diam tanpa mau berkata lebih lanjut.
HWUSH
Angin malam yang dingin menerpa mereka. Merasakan betapa dinginnya angin itu menyentuh kulit mereka. Sepanjang mereka berjalan, tidak terdengar suara apapun selain langkah kaki mereka. Tetes air hujan kini menerpa kepala mereka. Hanya sebatas gerimis, namun cukup membuat beberapa dari mereka menggigil kedinginan.
Mereka kini berjalan menaiki sebuah bukit terjal. Berjalan dengan penuh kehati-hatian agar salah satu dari mereka tidak jatuh kembali kebawah. Jalanan yang mereka lewati cukup licin karena terkena air hujan. Detik demi detik berlalu namun ujung bukit ini masih belum terasa. Mereka tidak bisa melihat karena gelap, lampu senter yang mereka bawa pun hilang entah kemana.
Lay menghentikan langkahnya. Membuat Baekhyun dibelakangnya menabrak punggungnya.
"Lay-ssi ada apa? Kenapa berhenti?." Tanya Baekhyun heran. Ucapan Baekhyun membuat tiga orang lainnya pun menghentikan langkahnya.
"Diam sebentar, aku mendengar sesuatu." Balas Lay yang membuat keempat lainnya mengerinyit heran. Mereka tidak merasakan dan mendengar sesuatu yang Lay maksud.
Lay menajamkan indra pendengarannya. Sekecil apapun suara bisa ia dengar dan rasakan. Suara ini, suara derap langkah kaki yang lain selain mereka. Berasal dari bawah sana menuju kearah mereka, jaraknya cukup jauh namun sesuatu itu berjalan dengan cukup cepat. Jika didengar dari langkah kakinya dia memiliki empat kaki.
Lay terlonjak kaget begitu dia tahu betul mahluk apa yang kini menuju kearahnya. Lay mengambil kedua pedangnya dari sarung pedang dipunggungnya. Suara pedang yang keluar dari tempatnya membuat keempat insan yang tidak tahu apa-apa semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
"Sesuatu datang kearah kita. Percepat jalan kalian menuju keatas bukit SEKARANG!." Seru Lay yang membuat keempat lainnya tanpa ba-bi-bu segera mempercepat kecepatan lari mereka menuju kearah bukit. Napas mereka terengah-engah dilanda rasa lelah dan haus.
Mereka kini tengah berada diatas bukit, ditempat yang datar dengan pepohonan tinggi yang menjulang. Lay menginstruksikan pada Suho sebagai leader agar mencari tempat aman. Sedangkan Lay, dia tengah menunggu mahluk itu datang tak jauh dari bibir bukit.
Suho, Chen, Baekhyun dan Sunny kini tengah berlindung dibalik pohon besar. Menatap kearah Lay yang jaraknya kira-kira 25 meter. Mata mereka kini telah terbiasa dengan suasana yang cukup gelap disana. Hingga pandangan mereka dalam keadaan gelap sedikit lebih baik.
Lay tengah memasang kuda-kuda begitu mendengar suara langkah kaki itu makin dekat. Bahkan keempat orang yang tengah bersembunyi bisa mendengar cukup jelas suara derap langkah kaki yang cukup cepat menuju kearah mereka.
Suara itu makin keras dan makin terdengar oleh telinga mereka masing-masing. Baekhyun menggenggam tangan kanan Suho erat karena takut. Chen mulai berkeringat dingin dan tubuhnya mulai merinding. Sedangkan Sunny berdoa agar mereka selamat dari sesuatu yang menuju mereka itu.
Sesuatu itu terbang dari arah bawah, kemungkinan melompat.
TAP
Keempat kakinya menapak pada tanah dihadapan Lay. Jarak mereka terpaut kira-kira 10 meter.
"Hoo... Ternyata kau lagi." Ucap Lay disela kesunyian. Lay mulai menyempurnakan kuda-kudanya melihat mahluk yang ada dihadapannya.
"Ma-mahluk apa itu?." Ucap Suho tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Baekhyun makin mempererat genggamannya pada tangan Suho. Mata Baekhyun tertutup karena takut melihat sosok mahluk tersebut.
Reaksi Chen tidak jauh dari Suho, membuatnya makin ketakutan. Sunny menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat sosok mahluk tersebut yang tidak jauh dari mereka.
"GRAAWWWWWWWW." Mahluk tersebut mengeram cukup keras. Membuat keempat orang yang bersembunyi menutup telinga mereka karena kerasnya geraman tersebut. Jika ada beberapa ekor burung disana, dipastika burung-burung tersebut akan terbang ketakutan dan pergi dari sana.
"Kali ini... akan kubuat kau mati." Ucap Lay.
Tak jauh dari mereka. Chanyeol tengah menatap mereka dengan senyum tampannya. Dia telah kembali menjadi manusia sebelumnya dengan sayap hitam bak gagak bertengger dipunggungnya. Tidak dalam mode monster seperti ketika dia hampir membunuh Baekhyun. Chanyeol tengah duduk disalah satu batang pohon sambil memperhatikan Lay yang tengah berhadapan dengan sebuah mahluk besar.
"Ahh... Sebuah kesempatan untukku." Chanyeol menatap Baekhyun dibalik pohon yang tengah ketakutan. Dia menjilat bibirnya menatap Baekhyun.
"Aku akan segera mendapatkanmu manis khekhekhe." Kekeh Chanyeol sambil berdiri.
Lay menatap tajam monster dihadapannya. Monster yang pernah dia temui sebelumnya namun tak sempat dia bunuh.
Monster itu besar sebesar harimau bahkan lebih, tubuhnya berbulu hitam seperti anjing dan memilki tiga kepala yang memang terlihat seperti anjing. Kepala kanannya hanya sebatas tengkorak namun memiliki mata yang berwarna merah. Kepala kirinya hancur tak terbentuk, hanya menyisakan rahangnya yang bergigi tajam dengan air liur yang mengalir disudut bibirnya.
Sedangkan kepala satunya yang ditengah layaknya wajah anjing biasa namun dengan mata merah dan gigi yang lebih tajam. Cairan hitam keluar dari sudut matanya entah karena apa. Tubuhnya penuh luka dimana-mana karena tebasan pedang Lay sebelumnya. keempat kakinya mengeluarkan kuku tajam seperti kuku yang dimiliki oleh Chanyeol.
Sang monster menggeram kembali dan berlari menuju kearah Lay. Dia melompat dan mencakar Lay.
Namun Lay berhasil menghindar.
TAP
Suara langkah kaki lainnya terdengar. Lay menatap tak percaya dengan mahluk lainnya yang datang. Anjing yang sama dengan anjing yang dia lawan, namun anjing ini masih dalam keadaan sempurna.
Suho dan yang lainnya membeku dengan apa yang mereka lihat. Mahluk yang sama datang ketempat mereka. Membuat mereka makin ketakutan.
"Cih! Kalian ingin menyerangku sekaligus rupanya." Ucap Lay sedikit mundur dari hadapan kedua anjing yang tengah saling mendekatkan diri tersebut. Lay menatap kedua anjing itu dengan waspada.
Sang anjing mulai mendekati Lay. Satu anjing berjalan kesamping kanan Lay dan satu anjing berjalan ke arah kiri Lay. Membuat posisi Lay terkurung. Kedua pedangnya dia arahkan masing-masing pada kedua monster anjing tersebut.
DRAP
DRAP
Kedua anjing tersebut melompat kearah Lay secara bersamaan. Bersiap untuk menikam dan menyerang Lay tanpa ampun.
CRASH
Dan tempat itu kini telah ternoda oleh darah.
.
.
.
.
KaiHun Side
TREK
Luhan memberikan beberapa buah makanan kecil juga air minum pada Kai dan Sehun. Luhan meletakkan makanan dan minuman tersebut diatas meja didepan Kai dan Sehun yang tengah duduk disebuah kursi.
"Makanlah, aku tahu kalian lapar." Ucap Luhan yang juga duduk dihadapan Kai dan Sehun.
"A-ah terima kasih Luhan." Kata Sehun sambil mengambil sebuah apel dan segelas minuman yang diberikan Luhan. Begitu juga dengan Kai, dia langsung mengambil makanan dan minuman yang tersedia dan memakannya. Perutnya sudah sangat lapar dan kerongkongannya kering setelah berlarian bersama Sehun.
Luhan tersenyum menatap kedua namja didepannya yang lahap memakan dan minum apa yang dia sediakan.
"Apa kalian tidak tahu makanan yang kalian makan itu beracun..."
Kontan kata-kata Luhan membuat Sehun dan Kai menghentikan aktivitasnya. Mereka menatap Luhan dengan mata terbuka lebar. Mereka menatap Luhan dengan tatapan horor.
"Aku hanya bercanda hahaha." Tawa Luhan melihat ekspresi Kai dan Sehun yang sangat lucu dimatanya. Kai kemudian menghela napas lega mendengar bahwa itu hanya sebuah candaan. Sedangkan Sehun menatap wajah Luhan yang sedang tertawa itu tanpa berkedip.
Sadar bahwa dirinya diperhatikan. Luhan menatap Sehun yang masih menatap dirinya.
"Ada yang salah denganku Sehun?." Tanya Luhan sambil memiringkan kepalanya.
Mendengar namanya disebut, Sehun kembali sadar setelah sebelumnya sedikit melamun.
"A-ah tidak, tidak ada apa-apa." Sehun pun kembali makan tanpa mau memandang wajah Luhan yang dia yakin tengah menatapnya bingung.
Tak lama, datanglah monster yang diketahui adalah monster yang Luhan panggil sebagai 'Brother' ketempat mereka. Monster itu membawa sesuatu ditangannya yang besar dan menakutkan setelah sebelumnya pergi entah kemana. Beberapa buah sayuran dan jeruk ada dalam genggaman monster itu. Dia memberikannya pada Luhan.
"Thank you Brother." Luhan mengambil buah dan sayuran tersebut. Sang monster menjatuhkan dirinya disamping kanan Luhan yang tengah duduk. Mata monster tersebut menatap garang pada Kai dan Sehun. Merasa ditatap oleh monster tersebut, Kai dan Sehun berpura-pura tidak tahu. Mereka begitu takut melihat sang monster itu, walaupun monster itu tidak melukai mereka sama sekali.
Beberapa menit kemudian
Suasana kini hening diruangan tersebut. Sehun tengah menatap Luhan yang sedang mengelus-elus wajah monster tersebut. Mulutnya menyanyikan sebuah lagu yang begitu indah didengar siapapun orang yang mendengarnya. Kai sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"A-anu Luhan, bolehkah aku bertanya?." Ucap Sehun memecah keheningan disana.
Luhan dan Kai mengalihkan pandangan mereka pada Sehun.
"Tentu, apa itu?." Balas Luhan.
Sehun diam sejenak, antara ingin berbicara dan tidak. Dia menghela napasnya dan dengan keberanian yang ada akhirnya dia menatap Luhan.
"Apa yang terjadi dengan tempat ini?."
Luhan terlonjak kaget mendengar ucapan Sehun.
"Kupikir kau akan bertanya kenapa aku memanggil monster sebagai kakakku." Luhan tersenyum lembut. Kai dan Sehun diam melihat senyum Luhan yang penuh kesedihan.
"Akan aku ceritakan apa yang aku tahu. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Saat aku dan kakakku Joseph Lupin tengah memetik sayur dan buah dikebun keluarga kami. Tiba-tiba orang-orang desa berteriak-teriak minta tolong dan berlari kesana kemari. Membuat aku dan kakakku kaget karena kejadian yang tiba-tiba. Aku masih mengingat ada seorang warga yang tengah digigit oleh warga lain" Luhan memeluk dirinya sendiri. Menceritakan masa lalunya yang mengerikan membuat dirinya takut.
"Kakak membawaku lari kerumah kami. Aku dan kakak melihat ayah tengah dibunuh oleh dua warga yang menerkamnya layaknya binatang dihalaman rumah. Kami menerobos masuk kerumah, aku menangis ketakutan sedangkan kakak masih berlari sambil melindungiku. Kakak membawaku kegudang tempat kami biasa menyimpan suplai makanan."
Flash Back
Luhan dan kakaknya Lupin tengah duduk terengah-engah didalam gudang. Wajah mereka menyiratkan rasa panik dan takut setelah apa yang mereka lihat.
"KYAAAAAAAA." Jeritan seorang yeojya yang mereka kenal membuat keduanya terlonjak kaget.
"I-ibu." Ucap Luhan sambil mnegeluarkan air mata mendengar jeritan orang yang dia sayangi.
Lupin bangkit dari duduknya, dia mengambil sebuah parang didekat keranjang gandum disisi ruang gudang. Luhan menatap sang kakak yang tengah diam berdiri didepan pintu gudang yang tengah terkunci.
"Kakak, kau mau kemana? Jangan pergi kak, jangan tinggalkan aku." Luhan berdiri dan memeluk kakaknya dari belakang sambil terisak pelan. Bahunya bergetar karena menangis. Lupin melepas pelukan Luhan dan menatap Luhan yang sedang menangis.
"Luhan, ingatlah ini. Kakak akan selalu melindungimu, menjagamu dan mencintaimu. Kau adikku yang kusayangi, kakak tidak ingin melihatmu terluka Luhan." Lupin memegang kedua bahu Luhan yang masih terisak.
"Kakak akan mencari bantuan, kakak berjanji akan kembali dan melindungimu juga menjagamu sampai kakak mati. Untuk sementara, kau diam disini jangan mencoba untuk keluar."
Luhan mengangguk sambil mengelap air matanya.
"Kakak janji padaku?."
"Iya, kakak janji."
Luhan tersenyum dan mengecup bibir kakaknya. Lupin tersenyum melihat wajah Luhan.
"Tersenyumlah selalu, jangan bersedih Luhan." Lupin mulai membuka pintu gudang.
"Kakak akan kunci dari luar agar tidak ada seorang pun yang masuk. Tunggulah kakak."
Luhan menangguk.
"Hati-hati kak."
Sebuah senyum terukir diwajah Lupin sebelum menutup pintu gudang tersebut dan menguncinya.
CKLEK
Menit demi menit berlalu, jam demi jam, hari demi hari bahkan minggu demi minggu terus berlanjut. Luhan masih diam digudang rumahnya, menunggu datangnya sang kakak kembali padanya. Luhan tidak pernah berputus asa menunggu kembalinya Lupin untuk menyelamatkannya.
Namun rasa putus asa datang dibulan keempat dan sang kakak belum muncul dihadapnnya. Stok makanan digudang hampir habis olehnya dan Luhan kini mulai menangis dalam gudang.
"Hiks kakak hiks aku rindu padamu kak hiks." Tangisan pilu terdengar dalam gudang, Luhan tidak henti-hentinya menangis selama hampir satu minggu di dalam sana. Memanggil-manggil nama kakaknya Lupin yang tidak kunjung datang.
Luhan kini tengah terbaring kelaparan karena stok makanan sudah habis. Air matanya berhenti mengalir, mungkin karena telah habis setelah seminggu dia menangis dalam kesedihan.
"Ka-kakak."
BRAK
Pintu gudang hancur berkeping-keping dihantam oleh sesuatu. Luhan terlonjak kaget dan langsung berdiri. Dia menatap takut dibalik pintu gudang, suasana begitu gelap diluar sana. Ah... bahkan beberapa bulan sebelumnya juga hanya gelap, siang tidak pernah dia rasakan lagi.
Luhan membeku begitu melihat sesosok mahluk besar muncul dihadapannya. Mahluk yang mengerikan seperi monster itu berjalan kearahnya. Luhan ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya namun suaranya hilang entah kemana. Mahluk itu makin mendekat pada Luhan, dan Luhan pun mundur kebelakang hingga menabrak dinding kayu gudang.
"GRRRHHHHHH." Mahluk itu menggeram melihat Luhan.
Tidak ada tempat untuk kabur lagi, dia mulai merosot hingga posisi duduk. Air mata yang hilang entah kemana kini mengalir kembali dari kedua kelopak matanya. Mungkinkah karena itu air mata terakhirnya, dia kan segera mati oleh mahluk didepannya. Wajah Lupin tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Monster itu kini tepat berada dihadapan Luhan.
"Kakak... tolong aku..." Ucap Luhan sambil menutup matanya.
Luhan merasakan jari-jari tangan yang besar dan dingin dari monster tersebut menjalari pipinya. Entah kenapa, sentuhan ini begitu familiar bagi Luhan. Dengan keberanian yang ada, Luhan membuka matanya perlahan. Dia melihat monster itu masih berdiri dihadapannya dan jari tangannya masih mengelus-elus pipi Luhan.
Luhan menatap wajah sang monster, dia bisa melihat dengan jelas kedua bola mata mahluk tersebut. Seperti tersihir oleh mata itu, untuk sedetik wajah monster itu tiba-tiba menjadi wajah Lupin kakaknya. Luhan menggelengkan kepalanya dengan apa yang dia lihat. Sepertinya dia berkhayal atau sesuatu lainnya.
Pandangannya terarah pada kain atau mungkin baju sobek disana sini yang tengah dipakai mahluk tersebut.
Mata Luhan terbuka lebar begitu mengetahui baju yang dipakai oleh mahluk tersebut sama dengan baju yang dipakai kakaknya Lupin terakhir kali. Luhan membeku, dia menatap mahluk tersebut tidak percaya. Mungkinkah?
"Grrrhhhh." Mahluk itu menggeram pelan dan memegang pipi Luhan dengan kedua tangannya. Mahluk itu menatap Luhan dengan matanya yang penuh kelembutan.
Air mata jatuh kembali dari mata Luhan. Namun kali ini bukan air mata kesedihan atau karena ketakutan, melainkan air mata lega dan bahagia.
"Ka-kakak, ini kau kak?."
Mengerti akan apa yang dikatakan Luhan, monster itu mengangguk kecil. Monster itu melepas tangannya dari wajah Luhan.
"Kau kembali hiks kau kembali kak hiks aku... maaf aku hiks sempat putus asa." Luhan mulai terisak dia mendekat pada monster itu lalu memeluknya. Setelahnya dia menangis keras dalam pelukan monster tersebut.
TBC
AN : Kalau ada yang berspekulasi masa zombie baik atau bisa ingat gitu. Maka jawabannya aq ambil di film Resident Evil 2 Apocalypse. Dimana Nemesis yang udah jadi monster itu bisa ingat Alice dan membantu dia. Itu loh inspirasinya.
Author : Hiks hiks aq sedih waktu ngetik yang akhir mau nangis *meluk monster Lupin*
Kris : Thorrr~ napa adegan kissingnya gak jadi sih? *wajah melas*
Author : Masih puasa Kris oppa. Jauh dilubuk hatiku yang terdalam*halah* aq juga pengen banget bikin kalian ngelakuin kegiatan oh yes oh no. Tapi nanti yah *wink*
Kris : Oke deh *wink*
Author : Gomawo yang sudah mau mereview, ini aq balas satu-satu.
Eternal Clouds : Aigoo chingu mian review di chap 2 gak kebalas telat soalnya ehehe. Sekalian aja ma review di chap 3. Pertanyaan chingu tentang Chanyeol dan Luhan sudah terjawab. Kyungsoo kira-kira muncul di chap 6 kalau Xiu Min di akhir.
Henry Park : Puasa chingu kalau mau yang ada 'itu'nya nanti sabar hahaha XP
angelwin : Baekkie gak mati kok tenang aja. Iya, kayaknya sebelum lebaran juga udah tamat sih. Mungkin 20 chapter *gak yakin*
.5 : Emang serem booo#plak Oh ya donk HunHan tapi masih lama kayaknya. Makasih jempolnya
mrs. ChoKyu : Duh... jadi suka malu kalau dibilang keren*kepedean* Mungkin Kyungsoo muncul di chap 6 atau 7(?) XD
BlackPearl08 : Pertanyaan tentang Luhan sudah terjawab. SuLay SuLay SuLay ayam *Gulai ayam kaleee*. Wahaha chingu penasaran yah? Tenang aja, rahasia yang belum kebuka bakal diketahui kok.
Kitsune Syhufellrs : Aq juga suka pair SuJu tapi lagi hiatus(?) dulu :D Moga jalan ceritanya gak bikin kecewa chingu yah
Evil Thieves : Itu panggilan Baekkie ke Chanyeol di ff aq yang lom jadi. Aq pakai disini deh hehehe. Kyungsoo atau Dio mungkin chap 6 atau 7 *gak konsisten* XD
liaonduts : Oh itu kepanjangannya aku kira apaan. Luhan gak jahat kok tuh hihihi
Yooooona : Aku pusing sama huruf 'o' chingu hahaha cap kaki tiga kali khekhekhe#plak tuh da KrisTao momentnya
icyng : Kan aq juga inspirasi dari Resident Evil. Ahhh chingu aq tahu loh maksud 'dimakan' itu wkwkwk XP Bukan monster yang manggil Luhan Brother tapi Luhannya. Itu monster gak bisa bicara. Yang terakhir masih rahasia loh#digaplok
Jung Jisun : Annyeong juga ^_^ gak apa2 chingu. Chanyeol disini aq bikin jahat, entah gimana nanti aq juga masih mikir nih#digetok
mayuka47 : YAP BENER YANG ITU *capslock jebol* aq meleleh ngeliatnya chingu haahhhhh~ TaoRis looks like so SEXY grawwww(?) ini dah dilanjut kok review lagi yah
Brigitta Bukan Brigittiw : Dio mungkin chap 6 atau 7 kayanya. Sekarang pun diganggu lagi ahahah XP
Minnie Seongnim : Maksud chingu yang kawan yang mana? Gak apa panggil aq eonnie ehehehe. Gomawo sudah bilang keren dan dijadiin fav apalagi karya aq yang rated M hohohoho#dilempar truk.
BabySuDo : Ini sudah dilanjut cintah (?) review lagi yah
REVIEW PLEASE *bbuing bbuing bareng Tao*
