Evil Town

Chapter Six

KaiHun Side

Suasana begitu mencekam di kediaman Luhan, tidak ada satu orang pun yang mau berbicara. Luhan masih berdiam diri disamping Lupin yang terlihat terlentang sambil menahan sakit disekujur tubuhnya. Sehun sama dengan Lupin, duduk sambil terkadang meringis atau merintih kesakitan jika bergerak sedikit saja. Seluruh tubuh Sehun terutama punggungnya terasa sakit dan dadanya yang diarahkan oleh telapak tangan Kyungsoo tadi terasa sangat panas dan perih. Kai berdiri disamping Sehun sambil tetap menatap Kyungsoo.

Kyungsoo masih menatap tajam Kai sambil mengarahkan telapak tangannya pada Kai. Sedangkan Kai masih menatap Kyungsoo dengan sorotan mata yang tidak seorang pun mengerti apa maksud dibalik makna tatapan Kai pada Kyungsoo. Kyungsoo menggertakan giginya karena Kai diam tak menjawab pertanyaannya. Mata hijaunya makin berkilat tajam menatap langsung arah mata Kai.

"Jawab aku brengsek! Kenapa kau tahu namaku?." Teriak Kyungsoo marah. Kai tetap diam, tidak bergerak sedikit pun atau pun menjawab pertanyaan Kyungsoo. Kontan hal itu makin membuat Kyungsoo murka. Kyungsoo mengarahkan telapak tangannya pada Kai.

SYUT

Tubuh Kai tertarik kedepan tepatnya kearah Kyungsoo dan dengan sigap Kyungsoo mencekik leher Kai lalu dia banting Kai ketanah.

BUAKH

"Akkhhh." Rintih Kai begitu tubuhnya membentur tanah cukup keras. Tangan kanan Kyungsoo masih mencekik leher Kai. Mata Kyungsoo menatap Kai tanpa belas kasihan. Mata Kai tertutup karena menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.

"Kai hyung!." Seru Sehun panik dan berlari menuju Kai. Namun baru maju selangkah Sehun sudah terjatuh kembali karena tubuhnya tidak kuat dan kaki kanannya terasa sakit seperti terkilir. "Ugh... Sial!." Desis Sehun sambil memegang kaki kanannya yang terasa sangat perih dan berdenyut.

"Sehun kau tidak apa-apa?." Luhan mendekat pada Sehun yang tengah meringis kesakitan.

"Aku tanya padamu sekali lagi, dari mana kau tahu namaku? Jika kau tidak jawab maka aku akan membunuhmu disini." Geram Kyungsoo, tangan kanannya makin kuat mencengkram leher Kai dan tangan kirinya yang terbuka berada diatas dada Kai.

Masih tidak ada jawaban dari Kai. Kyungsoo tentu makin marah, dan cengkramannya pada leher Kai pun makin kuat.

"Cepat jawab perta-"

"Kau tidak berubah sedikitpun Kyungsoo hyung,"

Kai membuka matanya, memperlihatkan mata hitamnya yang kelam. Bibirnya menyunggingkan senyum tulus pada Kyungsoo. Kyungsoo sedikit terperangah melihat wajah Kai yang tersenyum, entah kenapa wajah didepannya begitu familiar. Cengkraman tangan Kyungsoo dileher Kai sedikit mengendur.

"Syukurlah... ternyata hyung masih hidup." Lanjut Kai.

Kyungsoo terdiam tak bergerak sedikitpun. Wajahnya yang semula menampilkan rasa amarah kini berbubah perlahan.

"Kau tidak ingat aku hyung?." Tanya Kai yang melihat keterdiaman Kyungsoo. Kyungsoo menatap dalam mata Kai yang tersiratkan rasa sedih dan rindu. Kai mengangkat tangan kanannya dan mengelus pipi kiri Kyungsoo. Kyungsoo tersentak mendapat sentuhan dari Kai.

'Kyungsoo hyung! Hari ini kau membawakanku bekal apa?'

Sebuah memori terlintas dibenak Kyungsoo secara tiba-tiba.

'Hyung... aku sayang padamu Kyungsoo hyung.'

'Jangan tinggalkan aku hiks Kyungsoo hyung hiks'

Beberapa memori kembali terlintas dibenak Kyungsoo. Tanpa sadar dia melepas cengkraman tangannya pada Kai dan mulai menjauh dari Kai. Kyungsoo mulai menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya yang bebas. Kepalanya terasa berdenyut, memori itu membuatnya kepalanya sakit dan perih. Kyungsoo mulai berjongkok masih sambil memegang kepalanya, wajahnya terlihat kebingungan.

'Kai... aku membawakanmu kimbap dan buah pisang hehehe'

'Nado Kai, hyung juga menyayangimu'

'Kai tolong aku...'

"ARRGGHHHHH." Kyungsoo berteriak histeris, kepalanya menggeleng kekanan dan kekiri. Kedua matanya melotot, wajahnya menyiratkan rasa sakit yang luar biasa. Mulutnya terbuka, mengeluarkan suara teriakannya yang keras.

Semua penghuni disana terlonjak kaget begitu melihat reaksi Kyungsoo yang tiba-tiba. Terutama Kai yang merasakan hatinya begitu sakit dan sesak melihat Kyungsoo tengah kesakitan. Kai beringsut dari posisinya, dia berdiri dan memperhatikan Kyungsoo.

"HENTIKAN! HENTIKAN!." Teriakan Kyungsoo makin keras dan kontrol terhadap dirinya pun mulai hilang. Tubuhnya bergerak tidak beraturan.

"Kyungsoo hyung kau tidak apa-apa?." Kai berlari mendekat pada Kyungsoo namun Kyungsoo dengan cepat mengarahkan telapak tangannya pada Kai. Kai terpental kebelakang dengan keras, sebelum Kai mendarat ke tanah Lupin yang telah sadar berhasil menangkap tubuhnya terlebih dulu. Membuat Kai tidak terjatuh membentur lantai.

Kai meringis merasakan sakit dibagian dadanya yang terasa panas. Dia turun dari pelukan Lupin, dan kembali berlari kearah Kyungsoo.

"KAI HYUNG JAUHI DIA." Seru Sehun yang tengah diobati oleh Luhan. Luhan menatap Kai khawatir yang tengah berlari menuju Kyungsoo yang tidak terkendali.

Kai menatap pedih Kyungsoo yang tengah berteriak-teriak kesakitan, ini salahnya benar-benar salahnya. Jika dia tidak memaksa Kyungsoo mengingat dirinya, Kyungsoo mungkin tidak akan menjadi seperti ini. Tapi apa mau dikata? Dia sangat senang bertemu dengan seseorang yang berharga dihidupnya setelah lima tahun orang itu menghilang entah kemana. Dan orang itu adalah Kyungsoo, seseorang yang ada dihadapannya kini.

Kai masih mengingat wajahnya, wajah hyung favoritnya disekolah. Wajah hyung yang selalu melindungi dan menyayanginya. Wajah seseorang yang selalu berada disampingnya ketika dia senang maupun sedih, wajah orang yang dia sayangi dan cintai. Dia tidak tahu kenapa Kyungsoo berada ditempat ini, namun dia besyukur bisa bertemu dengannya disini. Walaupun situasinya tidak sebaik yang dia pikirkan

Kai masih mengingat wajah Kyungsoo sebelum menghilang entah kemana. Wajahnya yang sekarang tidak berubah sama sekali, wajah manis dengan mata besarnya. Kata-katanya yang kasar namun penuh perhatian didalamnya. Rambut hitam sedikit bergelombang bagai gulungan ombaknya pun masih terlihat sama sebelum dia pergi dan menghilang. Yang berbeda hanyalah satu, mata hitam bak langit malamnya tergantikan oleh warna hijau yang mengintimidasi.

GREP

Kai memeluk Kyungsoo dengan erat. Kyungsoo tidak melawan, namun masih berteriak-teriak menahan rasa sakit dan panas dikepalanya. Dia masih belum tersadar sama sekali, membuat Kai makin khawatir.

"Hyung sadarlah hyung... ini aku Kim Jongin. Kumohon hyung sadarlah, cepatlah ingat aku." Ucap Kai ditelinga Kyungsoo, berharap Kyungsoo bisa mendengarnya dengan jelas.

Sehun dan Luhan hanya bisa menatap Kai dengan raut wajah khawatir. Mereka tidak tahu dengan apa yang terjadi diantara Kai dan orang berjubah yang Kai panggil Kyungsoo itu. Mereka hanya bisa berdoa dan berharap semoga tidak terjadi hal yang buruk.

Lambat laun Kyungsoo mulai berhenti memberontak dan berteriak-teriak. Kai masih tetap memeluknya, takut jika dia melepaskan Kyungsoo maka dia akan pergi kembali dari hidupnya. Sudah cukup dia kehilangan Kyungsoo selama lima tahun, dan kini dia kembali bertemu dengannya. Dia tidak ingin kehilangan Kyungsoo untuk yang kedua kalinya, tidak akan pernah.

Kyungsoo mulai terdiam, tidak berteriak maupun berontak lagi. Tubuhnya dia sandarkan pada pelukan Kai, wajahnya dia dengan nyaman bersandar dibahu kanan Kai. Napasnya masih terengah-engah dan wajahnya berkeringat cukup banyak. Matanya masih tertutup, namun perlahan terbuka. Mata yang semula hijau itu kini berubah menjadi hitam kecoklatan.

"K-K-Kai..." Kyungsoo berkata pelan, sedikit berbisik disamping telinga Kai.

Kai membeku mendengar ucapan atau mungkin panggilan Kyungsoo, mungkinkah dia sudah mengingat dirinya sekarang. Kai melepas pelukannya dan menatap wajah Kyungsoo yang terlihat kelelahan dan lemah, kedua tangannya memegang bahu Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum lemah menatap Kai yang terlihat sangat terkejut. Air mata mulai turun dari pelupuk mata Kai.

"H-hyung... ka-kau sudah mengingatku?." Tanya Kai tidak percaya. Kyungsoo mengangkat kedua tangannya dan mengelus kedua pipi Kai lembut.

"Kau ternyata sudah besar Kai... kau juga terlihat tampan." Ucap Kyungsoo lemah, sedikit bercanda dalam kata-katanya. Kai memegang kedua tangan Kyungsoo yang masih mengelus pipinya. Kai melepaskan tangan Kyungsoo dan mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo. Menyatukan bibir mereka dan saling memagut dalam satu kesatuan yang utuh. Kedua mata mereka tertutup, merasakan rasa rindu yang membuncah di hati mereka. Air mata juga mengalir dari pelupuk mata Kyungsoo.

Suatu Tempat Bernama Los Plagas

Didalam salah suatu gedung paling besar di Los Plagas, terdapat beberapa orang yang tengah berkumpul dalam sebuah ruangan.

"Cih... D.O mulai kembali mendapatkan ingatannya. Aku bisa merasakan auranya" Ucap salah seorang yang tengah duduk.

"Itu sudah lima tahun, dan khasiat obat yang mengendalikan dirinya pun sepertinya sudah habis." Timpal orang lain yang tengah berdiri tidak jauh dari orang yang tengah duduk itu.

"Padahal dia orang terkuat diantara kita... tapi benar-benar orang yang merepotkan." Ucap lainnya didalam sana.

"Kalau begitu bawa dia kemari secepatnya, dia adalah asset berharga untuk rencana kita."

"Baik master."

.

.

.

.

Suho Side

Suho dan yang lain tengah berkumpul dan duduk disuatu gua, api unggun tengah menyala dihadapan mereka. Mereka duduk dengan cara melingkar, menghangatkan diri dan mengisi perut mereka yang haus dan kelaparan setelah apa yang terjadi.

Diluar pintu gua, Lay dan Taeyeon tengah berbincang-bincang. Suho menatap mereka berdua sedikit tidak suka.

"Kalau begitu, aku pergi dahulu." Ucap Taeyeon dan kemudian pergi dari sana seorang diri. Lay menatap kepergian Taeyeon sebelum kembali masuk dalam gua dan bergabung dengan yang lainnya. Lay duduk dan menyamankan posisinya disamping kanan Suho.

"Lay-ssi terima kasih atas pertolongan anda selama ini." Ucap Sunny sopan pada Lay.

"Tidak apa-apa, itu sudah tugasku dan panggil saja aku Lay." Balas Lay sambil tersenyum, Lay mulai menegak air minum didepannya karena haus.

"A-anu Lay-ssi eh Lay... itu te-tentang," Baekhyun berkata dengan nada gugup dan kepalanya menunduk tidak berani menatap Lay. Baekhyun juga sedikit enggan untuk bertanya namun rasa penasarannya lebih dari apapun.

"Tentang adikku Chanyeol... benar bukan?." Tanya Lay to the point, dia menyimpan kedua pedangnya disamping kanannya sebelum akhirnya menatap wajah Baekhyun yang menatapnya dengan sorot mata ingin tahu yang besar.

Baekhyun mengangguk pelan. Semua mata yang ada disana mulai menatap Lay. Lay menghela napasnya sebelum bercerita, wajahnya sedikit terlihat murung dan terlihat sedih.

"Jika kau tidak ingin bercerita, kami tidak memaksamu Lay." Kata Suho sambil mengelus punggung Lay.

"Tidak, aku harus memberitahukan ini pada kalian karena... Chanyeol sudah mengincar nyawa Baekkie Suho." Lay menghela napas.

"Aku dan Chanyeol dahulu tinggal di Cina. Ayahku keturunan Cina sedangkan ibuku keturunan Korea, aku mirip dengan ayah sedangkan Chanyeol mirip dengan ibu. Ketika Chanyeol lahir, ibu meninggal dunia dirumah sakit. Kematian ibu disebabkan karena ada 'sesuatu' yang berada dalam tubuh ibu sebelum melahirkan Chanyeol. Ayahku yang seorang dokter pun tidak mengetahui apa 'sesuatu' itu." Keempat mata yang mendengar cerita Lay mengerinyitkan dahinya dengan 'sesuatu' itu. Mereka penasaran apa sebenarnya yang ada dalam tubuh ibu Lay.

"Kemungkinan itu adalah sebuah penyakit atau mungkin virus. Maka dari itulah, Chanyeol lahir dengan kondisi cukup mengenaskan. Tubuhnya terkadang bisa berubah menjadi monster mengerikan dan juga bisa menjadi normal layaknya manusia biasa. Walaupun begitu, aku tetap menyayanginya sebagai adik kecil kesayanganku. Ayahku jadi lebih sibuk menganalisis virus itu hingga menghiraukan kami Ketika kami di Cina maupun di Korea Chanyeol sering mendapat hujatan cacian, makian, bahkan kekerasan dari orang-orang yang tidak sengaja pernah melihatnya berubah maupun anggota keluarga kami ketika aku tidak disampingnya."

Flash Back On

Chanyeol kecil (10 tahun) dalam mode manusia tengah menangis tersedu-sedu dihdapan beberapa orang. Wajahnya kotor penuh dengan pecahan telur, lumpur, dan bahkan ada beberapa luka memar akibat lemparan batu dari orang-orang tersebut. Beberapa orang berteriak-teriak, mencaci maki Chanyeol bahkan beberapa kerabatnya pun ada disana.

"PERGI DARI SINI DASAR MONSTER!."

"DASAR PEMBUNUH, KAU TELAH MEMBUNUH IBUMU DENGAN LAHIR KEDUNIA INI."

"TIDAK ADA SEORANG PUN YANG MENYAYANGI MONSTER JELEK SEPERTIMU."

"MONSTER JELEK SEPERTIMU PANTAS MATI."

Cacian dan makian yang mengiris hati kecil Chanyeol terus-menerus keluar dari mulut orang-orang tersebut. Bahkan mereka tak henti-hentinya melempari Chanyeol yang tengah diam sambil menangis dengan telur, batu, dan lumpur. Tidak ada rasa belas kasihan yang ditujukan pada Chanyeol oleh mereka. Chanyeol makin keras menangis dalam kesendirian.

Hatinya begitu sakit, sangat sakit mendengar kata-kata mereka. Hampir setiap hari dirinya mendapat hujatan dan cacian dari mereka. Apa salahnya? Dosa apa yang dia perbuat pada mereka? Chanyeol tidak pernah sekalipun melukai seseorang dalam hidupnya. Apakah karena dirinya yang bisa menjadi mahluk mengerikan dan meninggalnya ibunya ketika dia lahir? Apa karena itu?

Chanyeol selalu berpikir, untuk apa dia hidup didunia ini jika hanya merasakan penderitaan dalam hidupnya. Tidak pernah ada seorang pun yang menyayanginya selain ayah dan kakaknya Lay. Semua orang selalu menatapnya dengan pandangan takut dan marah sehingga tidak ada yang mau mendekat padanya. Tidak ada yang mau bermain dengan dirinya, tidak ada yang peduli pada dirinya.

Kesepian dan kesedihan selalu dia rasakan, membuatnya selalu menangis hampir setiap hari. Chanyeol pernah mencoba untuk membunuh dirinya sendiri, namun ketika saat itu tubuhnya menjadi monster sehingga membuat dirinya sulit melukai dirinya. Dia sudah lelah dan letih mengahadapi semuanya, jika ini jalan hidupnya maka dia sudah pasrah. Yang dia ingin kan hanya secepatnya malaikat mencabut nyawanya hingga dia tidak perlu menderita lagi.

Suatu hari, keluarganya pergi dari Korea menuju sebuah pulau yang tidak diakui oleh peta dunia. Hanya beberapa orang yang mengetahui tempat tersebut, dan ayahnya adalah salah satunya. Sebuah pulau yang indah dan terlihat makmur, tidak ada pemerintahan dan kekuasaan. Mereka hanya diatur oleh norma-norma yang ada beserta adat istiadat disana.

Orang-orang disana biasanya adalah orang yang sedikit berbeda dari manusia pada umumnya, orang-orang yang dijauhi dikampung halamannya entah karena apa. Entah karena memiliki penyakit aneh dalam tubuhnya namun juga ada manusia biasa disana yang hanya ingin hidup tenang. Chanyeol (15 tahun) terlihat sangat gugup ketika dia berada disana, memori tentang orang-orang yang selalu menyiksa dirinya terlintas dalam benaknya. Dia menggelengkan kepalanya, menghilangkan memori mengerikan itu. Mereka tengah sibuk berbenah dirumah baru mereka.

Lay menepuk kepala Chanyeol yang tengah melamun. Chanyeol menatap wajah Lay yang tersenyum padanya.

"Jangan khawatir, ayah bilang orang-orang disini ramah Channie."

"Be-benarkah hyung?."

Lay mengangguk dan Chanyeol sedikit tersenyum

Benar apa yang dikatakan Lay, penduduk disana sangat ramah dan tidak menghiraukan sisi lain dari Chanyeol. Penduduk disana terdiri dari beberapa ras dan suku bangsa, namun bahasa tidak menjadi kendala disana. Mereka menerima Chanyeol apa adanya, bahkan Chanyeol kini bisa merasakan yang namanya bermain dengan teman sebaya. Kesedihan dan kesepiannya menghilang entah kemana, Chanyeol kini tengah merasakan kebahagian dalam hidupnya.

Flash Back Off

Lay terdiam tidak melanjutkan, membuat yang lainnya heran.

"Kau tidak apa-apa?." Tanya Suho khawatir. Suho tidak tahu ternyata Lay yang sangat hebat dan kuat itu menyimpan rasa sakit dalam hatinya dan menyimpannya seorang diri.

"Tidak apa-apa Suho, hanya... sedikit... trauma."

"Kau tidak perlu melanjutkan jika-"

"Tidak apa Suho, kalian harus tahu semuanya."

Suho menatap Lay khawatir, dia tahu tubuh Lay sedikit bergetar jika menceritakan masa lalunya tentang pulau ini.

"Saat itu..."

Flash Back On

Penduduk pulau Sandez, pulau yang kini tengah ditinggali oleh Chanyeol kedatangan pendatang baru yang cukup membuat penduduk disana resah. Pasalnya, mereka sangat tertutup dan bahkan tinggal dihutan Los Plagas yang sangat lebat. Hanya ada satu bangunan besar disana, yang sepertinya dijadikan tempat tinggal mereka. Mereka tidak tahu apa yang sedang mereka kerjakan disana.

Waktu berlalu dan para penduduk mulai melupakan pendatang aneh itu, karena mereka juga tidak pernah menampakan batang hidung mereka sekali pun. Mereka tidak tahu, bahwa pendatang itu tengah merencanakan sesuatu yang jahat pada penduduk disana.

Chanyeol sedang bermain dengan teman-temanya seperti biasa, sedangkan Lay tengah berlatih martial arts diperkarangan rumah. Dan tiba-tiba terjadi kegaduhan tak jauh dari mereka.

"ARRGGHHHHH." Jerit seseorang.

Mereka melihat seorang warga tengah menggigit warga lainnya tanpa ampun. Membuat warga disekitar mereka menjadi panik dan berteriak-teriak ketakutan. Warga lain berhasil mengamankan warga yang telah mengigit seorang warga lainnya hingga tewas. Wajah orang itu telah berubah, menjadi sangat mengerikan. Dan yang paling membuat Lay terkejut adalah, mahluk itu hampir sama dengan Chanyeol ketika berubah dalam mode monster. Mereka membawa mahluk aneh itu kerumah Mr. Zhang ayah Lay karena perintah ayah Lay yang seorang dokter.

Mahluk itu diikat dengan kuat disebuah kasur, memberontak dengan keras. Ayah Lay menyuntikan cairan penenang pada monster itu hingga tertidur. Kemudia dia menganalisis monster tersebut dengan cairan sampelnya yang dia ambil. Cairan dari dalam tubuh mahluk itu kemudian dia teliti dengan mikroskopnya. Dan alangkah terkejutnya dia, begitu menyadari sampel tersebut sama dengan sampel milik istri dan anaknya Chanyeol.

Ayahnya tidak sadar jika sang monster tengah berada dibelakangnya, berhasil melepas semua ikatan yang ada. Merasa ada sesuatu dibelakangnya, Mr. Zhang terlonjak kaget dan mundur. Monster menggeram dan berari kearahnya siap untuk menerkamnya, namun sebelum dia menerkan Mr. Zhang kepalnya terputus oleh tebasan pedang Lay.

"Ayah, keadaan diluar kacau... para warga mulai berubah seperti mahluk ini." Ucap Lay panik.

"APA?."

Chanyeol tengah berlari dari temannya yang telah berubah jadi mahluk mengerikan. Napasnya terengah-engah karena lelah dan keringat mulai keluar disekujur tubuhnya. Tiba-tiba Chanyeol terjatuh karena tersandung batu. Dia panik melihat mahluk itu makin dekat padanya, rasa takutnya mulai mempengaruhi dirinya. Mahluk itu kemudian mencekik Chanyeol dan mengangkatnya.

"Uhukkk tolong..." Ucap Chanyeol lemah, matanya menatap sekeliling yang tengah kacau balau. Dia melihat dan mendengar teriakan dan jeritan histeris.

Mahluk itu makin erat mencekik leher Chanyeol, membuatnya mengingat dirinya yang dulu pernah hampir mati dicekik oleh pamannya yang benci padanya. Hal itu membuat dirinya kembali mengingat memorinya dahulu.

'PERGI KAU MOSNTER!'

'MENJAUH DARI KAMI DASAR MONSTER'

'MATI KAU MONSTER JELEK'

Cacian dan makian oleh orang-orang padanya muncul dalam memori Chanyeol. Hatinya mulai merasakan rasa sakit dan sesak yang luar biasa. Air mata turun dari pelupuk matanya dengan deras.

Lay tengah berlari mencari Chanyeol, dan dia melihat adiknya kini tengah dicekik oleh salah satu mahluk mengerikan. Matanya terbuka lebar begitu melihat punggung Chanyeol yang terlihat menonjol, bergerak-gerak seperti ada seseuatu disana. Dan Lay pun membeku begitu sepasang sayap keluar dari balik punggung Chanyeol. Sayap hitam bak gagak terbuka lebar.

BRUGH

Mahluk yang tengah mencekik Chanyeol kini terbujur kaku terpotong-potong oleh Chanyeol yang telah berubah jadi monster.

"GRAAHHHHHHHHHH." Teriak Chanyeol murka dan terbang tinggi dari sana.

"CHANNIE!." Seru Lay menatap kepergian Chanyeol.

Flash Back Off

"Setelah itu, suasana makin tidak terkendali disini. Ayah meninggal setelah aku tidak bisa menyelatkannya dari beberapa zombie yang menyerangnya. Jumlah mereka kian banyak membuat warga lain kwalahan dan akhirnya terkontaminasi menjadi seperti mereka. Hanya beberapa yang bisa bertahan hidup disini, dan setelah itu aku tidak tahu kemana Chanyeol pergi. Namun, pada saat itu aku menemukan Chanyeol tengah memakan seorang yeojya dengan bentuk monsternya. Membuatku murka dan juga sedih. Pada akhirnya aku memutuskan untuk memburu dan membunuh Chanyeol."

.

.

.

.

TaoRis Side

Taemin menatap ketiga insan manusi didepannya masih dengan wajah polos. Kris masih terduduk sambil meredakan rasa sakit diperutnya. Tao tengah menenangkan Kris agar tidak bertindak ceroboh, sedangkan Yoona masih waspada dengan Taemin.

"Hmm... Yang aku bawa ke Las Plagos siapa yah?." Ucap Taemin sambil memperhatikan mereka satu-persatu. Mata ungunya menatap Tao yang menatap Kris khawatir. Taemin tersenyum melihat Tao.

"Lakukan Kuro Taem." Desis Taemin dan setelahnya, mahluk hitam mirip dirinya meluncur kearah Tao dengan cepat. Mahluk itu berubah menjadi lebih besar, dan perutnya terbuka lebar menampakan ruang kosong didalam sana.

Merasakan ada sesuatu yang mendekat, Tao melihat kearah Taemin dan kaget begitu melihat mahluk hitam dengan cepat menuju kearahnya. Tubuhnya tidak bisa bergerak melihat mahluk itu membuka lebar-lebar perutnya, bermaksud memasukkan dirinya kedalam sana. Mata Tao terbelalak begitu Yoona maju didepannya, yang menyebakan masuk ke dalam perut mahluk hitam itu. Secara otomatis, perut mahluk hitam itu tertutup dan meluncur kembali menuju Taemin.

"Y-Yoona noona." Seru Tao panik melihat Yoona masuk dalam perut mahluk hitam. Dia bisa melihat sebuah gerakan memberontak dalam perut itu, namun dia tidak tahu apa yang terjadi didalam sana.

"Apa yang kau lakukan padanya?." Tao menggeram marah pada Taemin yang masih tersenyum polos

Kris menatap tajam Taemin. Matanya berkilat marah.

"Jangan salahkan aku. Noona ini yang mengorbankan dirinya, padahal yang aku incar adalah kau." Taemin menunjuk Tao.

"Tapi... tidak apalah, yang penting sudah aku dapatkan. Nah... sampai jumpa lagi." Bersamaan dengan itu Taemin pergi dari sana bersama mahluk hitam itu.

"HEI KEMBALIKAN YOONA NOONA." Teriak Tao namun Taemin tak menggubris dan hanya berjalan pergi dari sana.

TBC

Mianhae dua hari gak diupdate *bow* libur dulu ehehehe#plak

Author juga minta maaf gak bisa balas review kalian masih ada yang harus aq kerjain soalnya. Mianhae semua *deep bow*

Thanks To : mrs. ChoKyu, sari2min, Brigitta Bukan Brigittiw, BeBaek Cinta Chan Chan, Jisaid, Kim Woonkie, mayuka57, Minnie Seongnim, see riskina, Emily Hwang, Raichi Lee Sangjin ELF, dinodeer, golden13, liaonduts, gembul, angelwin, Htaey029, DeLu Elforever, BlackDiamond17, sunnyduck.

REVIEW PLEASE *Puppy eyes bareng Tao*