AN : Mian chingudeul baru diupdate lagi. Kerjaan author dikantor banyak jadinya gak bisa cepet diupdate deh sebelum lebaran author mesti nyelesain beberapa laporan jadi harap maklum kalau nanti updatenya agak lama lagi. Juga mian kalau banyak typho, author ngetiknya buru-buru banget tiap istirahat dikantor yang cuman satu jam. Mian juga gak bisa balas review kalian lagi aq gak enak jadinya *deep bow* kemungkinan fic ini tamat di chap 15an.
Evil Town
Chapter Nine
BaekYeol Side
Chanyeol tiba-tiba menarik bibirnya dan terkulai lemas dipangkuan Baekhyun. Baekhyun sempat kaget merasakan reaksi Chanyeol, namun hatinya lega begitu melihat dada Chanyeol naik turun. Untunglah... Chanyeol hanya tertidur, Baekhyun sempat mengira Chanyeol akan pergi selama-selamanya tadi.
Baekhyun tersenyum mengingat kejadian sebelumnya, apalagi ketika mereka berciuman. Baekhyun merasakan bahwa Chanyeol tersenyum dalam ciuman mereka. Dan sebelum Chanyeol tertidur, Baekhyun masih bisa mendengar ucapan 'terima kasih' dari Chanyeol. Entah kenapa, hatinya begitu bahagia saat ini.
Baekhyun berharap Chanyeol akan sedikit memahami rasa kasih sayang yang dia berikan walau itu hanya sedikit. Baekhyun tahu, mungkin apa yang dia katakan dan lakukan untuk Chanyeol tidaklah seberapa untuk menutupi luka dihatinya. Namun, Baekhyun berharap walaupun hanya sedikit dia ingin melihat Chanyeol bahagia.
Baekhyun menatap wajah damai Chanyeol yang tengah tertidur dalam pangkuannya. Wajahnya begitu tenang, bagaikan anak kecil polos yang tidak berdosa. Berbeda dengan Chanyeol yang tengah bertransformasi jadi monster atau Chanyeol yang tengah dilanda nafsu membunuh. Wajahnya yang sekarang terlihat lebih cerah dan entah kenapa dimata Baekhyun begitu tampan.
Baekhyun merasakan wajahnya merona, begitu membayangkan wajah tampan Chanyeol yang sebelumnya mencium bibirnya. Baekhyun akui, jika dia menikmati ciuman Chanyeol dan merasakan dadanya berdebar-debar tak terkontrol. Baekhyun menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya dan juga menyentuh bibir Chanyeol dengan tangannya yang bergetar.
Kaget dengan apa yang lakukan, Baekhyun menarik kembali kedua tangannya dari bibir Chanyeol. Wajahnya memerah dan jantungnya berdebar-debar makin keras entah karena apa. Namun, dengan sedikir dorongan dari hatinya dia kembali menyentuh Chanyeol namun kali ini pipinya. Baekhyun mengelus pipi Chanyeol sambil tersenyum, menikmati apa yang dia lakukan.
Baekhyun kaget ketika Chanyeol membuka matanya dan menangkap basah dirinya yang tengah mengelus pipinya. Baekhyun dengan refleks mengangkat tangannya dari pipi Chanyeol dan membuang muka dengan wajah makin memerah. Chanyeol tersenyum melihat tingkah Baekhyun yang sangat lucu.
Chanyeol dengan sekuat tenaga menyentuh pipi Baekhyun dengan satu tangannya. Merasakan ada sentuhan di pipi kanannya, Baekhyun menatap Chanyeol yang tersenyum tulus padanya. Baekhyun membalas senyuman Chanyeol dan memegang tangan Chanyeol yang tengah memegang pipinya itu.
"BAEKKIE!." Teriak sebuah suara yang Baekhyun hapal betul suara milik siapa itu.
Tak berapa lama, Suho dan yang lain mengarah menuju Baekhyun dan Chanyeol. Mereka sempat terkejut begitu melihat Chanyeol yang tengah tertidur dipangkuan Baekhyun. Lebih terkejut lagi dengan tangan Chanyeol yang tengah memegang pipi Chanyeol. Dalam pikiran mereka, mereka mengira Chanyeol akan melakukan hal yang jahat pada Baekhyun.
"Baekkie, menjauh dari dia." Seru Chen dengan suara panik. Namun Baekhyun masih tetap tenang disana menghiraukan seruan Chen.
Suho menatap Baekhyun dengan maksud untuk menjelaskan apa yang terjadi. Begitu pun dengan Lay yang menatap Chanyeol dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Lay kemudian menatap Baekhyun yang mulai sedikit gugup dan merasa tidak nyaman dengan pandangan mereka. Baekhyun melepas genggaman tangan Chanyeol dipipinya dengan hati-hati.
"E-emh... hyung kumohon jangan sakiti Chanyeol. Bi-biarkan dia bersama dengan kita hyung." Baekhyun berkata sambil menatap kebawah, kearah wajah Chanyeol yang masih menatapnya tanpa mau menatap keempat mata yang memandangnya aneh.
"Apa kau bodoh? Dia itu ingin membunuhnu, biarkan aku membunuhnya sekarang sebelum adikku membunuhmu." Lay berjalan mendekati mereka berdua. Kedua pedangnya dia pegang dengan sangat erat dan matanya menatap tajam Chanyeol namun juga tersirat rasa kesedihan dimatanya.
Baekhyun dengan pelan menurunkan kepala Chanyeol dan bangkit berdiri dihadapan Lay, kedua tangannya dia bentangkan lebar-lebar bermaksud menghadang Lay. Lay berhenti didepan Baekhyun dan menatap tajam sang namja manis itu.
"Minggir." Kata Lay dingin dengan matanya yang masih menatap tajam Baekhyun. Kemudian dia menatap Chanyeol yang tengah kesusahan untuk bangkit.
Baekhyun sedikit merinding mendapat tatapan tajam dari Lay, namun dengan cepat perasaan itu menghilang begitu dia memikirkan Chanyeol. Bahkan sekarang Baekhyun sudah berani membalas tatapan tajam Lay. Lay sedikit terlonjak kaget mendapati Baekhyun membalas tatapan matanya.
"Tidak akan." Balas Baekhyun tegas.
Lay mengacungkan pedangnya dihadapan wajah Baekhyun, masih menatap Baekhyun dengan tatapan tajamnya yang menusuk. Namun, Baekhyun tidak gentar sama sekali dengan apa yang dilakukan Lay. Ketiga insan manusia lain menatap mereka dengan raut wajah tegang, tidak berani ikut campur sama sekali.
"Jangan membuatku melakukan kekerasan padamu Baekhyun-ssi." Desis Lay.
"Dan jangan membuatku marah dengan sikapmu Lay-ssi." Balas Baekhyun.
"Apa kau bodoh? Kau sedang melindungi seorang monster yang akan membunuhmu nanti." Lay sedikit bergetar ketika mengucapkan kata 'monster', lidahnya sedikit kelu namun tak ada seorang pun yang merasakannya.
Baekhyun menatap kebelakangnya, dimana Chanyeol tengah berdiri sambil meringis kesakitan. Baekhyun tersenyum tulus melihat Chanyeol yang masih hanya menatap dirinya, dia kemudian kembali menatap Lay.
"Aku memang bodoh, karena bodohnya mau melindungi seorang monster seperti katamu. Tapi... yang kulindungi sekarang bukanlah seorang monster, melainkan seorang manusia yang hidupnya terkekang oleh topeng monster. Seorang manusia yang ingin hidup layaknya manusia biasa, menginkan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang sekitarnya. Namun yang dia dapat hanyalah rasa sakit dihatinya karena cacian dan makian dari orang-orang," Baekhyun menggigit bibir bawahnya entah karena apa.
"Jika dia ingin memakanku setelah ini, dengan senang hati aku akan memberikan diriku padanya," Keempat insan disana terlonjak kaget dengan apa yang dikatakan oleh Baekhyun. Mereka sangat terkejut dengan ucapan konyol atau mungkin lelucon Baekhyun, namun tertepis oleh mata Baekhyun yang mengisyratkan bahwa dia benar-benar serius.
"Kenapa kau bertindak sejauh ini Baekhyun-ssi?." Tanya Lay sambil menurunkan pedangnya.
Baekhyun berjalan menuju Chanyeol dan berhadapan dengan dirinya. Mata Chanyeol tak pernah sekalipun lepas untuk memandang Baekhyun. Kedua tangan Bekhyun kemudian memegang kedua tangan Chanyeol dengan erat dan menatap mata Chanyeol. Baekhyun tersenyum padanya, begitupun dengan Chanyeol. Lay terkejut melihat adiknya yang tengah tersenyum itu.
"Karena aku mengerti perasaannya yang kesepian dan kesedihannya yang amat dalam. Aku tidak tahu mengapa? Aku hanya ingin membuatnya bahagia walaupun aku harus mati ditangannya Lay-ssi. Setidaknya... aku tidak menyesalinya. Sebagai seorang kakak, apa kau tidak mengerti perasaan adikmu? Membunuhnya bukanlah cara yang tepat, tetapi pahami perasaannya dan membuatnya nyaman dan hangat saja itu sudah cukup baginya." Jelas Baekhyun sambil merapikan poni rambut Chanyeol dengan lembut. Chanyeol kemudian memeluk Baekhyun dalam diam sambil menutup matanya.
Lay terdiam membeku dengan apa yang diucapkan oleh Baekhyun juga dengan apa yang dia lihat. Kedua pedangnya terlepas dari genggaman tangannya dan matanya menatap kosong Chanyeol. Memori akan masa lalunya kembali berputar dalam pikirannya. Membuat Lay tanpa sadar menitikan air mata mengingat masa lalu Chanyeol.
Dadanya sesak dan sakit mengingat kebodohannya selama ini. Lay hanya bingung dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi Chanyeol setelah kejadian mengerikan itu. Semua yang dia kenali mati dan berubah menjadi monster dan zombie satu persatu. Ditambah lagi, Chanyeol juga ikut andil dalam kehancuran desanya dengan membunuh beberapa orang.
Saat itu dia sangat tertekan dan tanpa berpikir panjang Lay memutuskan untuk membunuh adiknya Chanyeol, dengan pergi memburu Chanyeol kemanapun dia pergi. Lay tidak memikirkan perasaan Chanyeol seperti apa pada saat itu, hatinya sudah tertutupi oleh amarah dan kesedihan.
Lay mulai terisak mengingat semua yang terjadi, air matanya yang turun mulai makin deras. Suho berjalan kearahnya dan memeluk Lay untuk menenangkan Lay. Lay mulai menangis didada Suho, meluapkan kesedihan dan amarahnya dengan air mata. Tak jarang, Lay mengucapkan maaf pada Chanyeol dengan keras disela tangisannya yang pilu.
Chen menatap nanar dengan apa yang terjadi didepan matanya. Chen ikut sedih melihat Lay yang tengah menangis dengan keras, Chen bisa memahami perasaan Lay. Sunny tengah menangis sesegukan, tidak bisa menahan air matanya melihat semua yang terjadi dihadapannya
Tanpa mereka sadari, sesosok mahluk yang tengah terbang menatap sekumpulan manusia itu dengan pandangan lapar. Mata putih tanpa pupilnya menatap Sunny dan sang mahluk menjilat bibirnya, memperlihatkan giginya yang runcing bak gergaji. Mahluk yang terlihat seperti seekor kelelawar besar sebesar manusia remaja dengan kepala mirip seekor srigala dan kedua kakinya yang bercakar seperti seekor elang.
Mahluk itu kemudian menukik kebawah menuju arah Sunny yang masih diam menangis sesegukkan. Merasa ada yang medekat kearahnya, Sunny melihat keatas dan matanya menatap tidak percaya dengan sesosok mahluk mengerikan yang sedang menuju kearahnya.
Mahluk itu membuka cakar dikakinya, bermaksud untuk menangkap Sunny. Ketika mahluk itu sudah mendekat pada Sunny, Chen mendorong tubuh Sunny hingga membuat dirinya lah yang tertangkap oleh monster kelelawar tersebut.
"Arrgghhh." Chen meringis kesakitan begitu kedua kaki kelelawar itu memegang erat kedua bahunya. Dan terlihat dengan jelas cakar itu sedikit menusuk kulit Chen hingga menimbulkan noda merah dilengan baju namja tersebut.
"JONGDAE-ssi." Teriak Sunny sambil berlari menuju kearah Chen yang mulai naik keatas dibawa oleh mahluk tersebut.
Teriakan Sunny membuat yang lainnya terlonjak kaget. Apalagi mereka melihat Chen tengah dibawa oleh seekor monster terbang mengerikan itu. Lay melepas pelukannya dari Suho, mengambil kedua pedangnya dan berlari kearah Chen dan kelelawar itu. Sebelum dia pergi, pergelangan tangannya ditahan oleh Suho.
Lay menatap Suho yang memandang jauh kedalam matanya dengan raut wajah khawatir.
"Pergilah ketempat persembunyian, aku akan menyelamatkan Chen." Ucap Lay sambil tersenyum pada Suho.
"Hati-hati Lay." Balas Suho sambil melepas tangannya pada pergelangan tangan Lay. Lay pun kemudian berlari mengejar monster yang tengah membawa Chen itu.
.
.
.
.
TaoRis Side
Kris dan Tao tengah berlari diheningnya suasana hutan disana. Kedua tangan mereka saling bertautan tanpa ada yang mau melepasnya sama sekali. Napas mereka sedikit terengah-engah dan wajah mereka berkeringan karena lelah berlari dari kejaran monster dibelakang mereka.
Hanya suara derap langkah kaki yang terdengar, juga hembusan angin yang menusuk kulit mereka. Tidak ada suara binatang malam atau suara lain yang menyatakan ada kehidupan disana. Mereka terus berlari tanpa melihat kebelakang mereka dan mata mereka fokus pada jalan yang sedikit gelap.
Mereka berhenti sekiranya cukup jauh dari tempat mereka sebelumnya. Dada mereka naik turun, terlihat jelas kelelahan dan rasa letih diwajah mereka. Mata mereka berdua menatap bangunan besar yang berdiri tegap dihadapannya. Bangunan dengan struktur seperti rumah Luhan namun lebih besar dengan dua lantai.
Kris menatap wajah Tao yang memandang rumah tersebut sedikit ngeri. Rumah itu tanpanya tidak terlihat ada kehidupan didalamnya sama sekali, terlihat jelas dengan ruangan didalamnya yang terlihat begitu gelap dan terlihat sepi. Namun, tidak ada yang tahu mahluk apa yang sekiranya ada didalam rumah tersebut.
"Kita beristirahat dirumah itu," Ucap Kris yang diangguki ragu-ragu oleh Tao.
Kris tersenyum melihat raut wajah Tao yang sedikit takut. Kris mengecup bibir Tao yang membuat namja bermata panda itu merona.
"Jangan takut, aku akan melindungimu." Tao mengangguk pelan sedikit malu.
Kris menarik pergelangan tangan Tao dan mulai berjalan pelan. Satu tangan Kris memegang pistol revolver miliknya dan matanya bersikap waspada dengan keadaan disekitarnya. Begitupun dengan Tao yang melihat kekanan dan kekiri, memastika tidak ada mahluk atau sesuatu yang mencurigakan disana.
Sejauh mereka berjalan sampai depan rumah besar itu terlihat aman-aman saja. Kris melepas genggaman tangan Tao dan mulai membuka pintu dihadapannya. Kris meneguk ludahnya ketika mulai membuka kenop pintu tersebut.
CKLEK
Suara pintu yang terbuka menggema dari dalam rumah tersebut, membuat siapapun yang ada didalamnya tahu betul ada yang datang kesana. Kris kemudian membuka pintu tersebut dengan pistol yang mengacung kedepan, bersikap waspada jika akan ada yang menyerang mereka.
KRITTT
Suara derit pintu kemudian menggema dirumah tersebut. Kris dan Tao dengan perlahan masuk dalam rumah tersebut. Sepi, sunyi dan gelap adalah suasana yang pantas disandang dirumah itu. Kris berjalan menuju ruang tengan dengan Tao yang masih dibelakangnya. Kris berusaha menemukan saklar lampu rumah tersebut dan setelah dia menemukannya dan menekan saklar tersebut. Ruangan tempat Kris kemudian menyala dan suasan pun cukup terang sekarang, dan syukurlah tidak ada monster aneh didalam sana.
Kris menghela napasnya dan kemudian duduk disalah satu kursi yang ada disana bersama Tao. Namun, ketengangan mereka terusik oleh suara pintu yang terbuka lebar dengan menimbulkan suara cukup keras. Mereka berdua bangkit dari kursi mereka, Tao berlindung dibelakang Kris. Mata mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat dihadapan mereka.
.
.
.
.
Xiumin Side
Xiumin tengah menunggangi Baek-Gu (Serigala putih raksasa) ditempat Kris dan Tao sebelum mereka pergi dari sana. Xiumin kemudian turun dari Baek-Gu dan menatap sekumpulan monster yang menuju mereka dengan jumlah cukup banyak. Xiumin mengacungkan kedua pistol revolver yang sama dengan milik Kris kehadapan monster-monster itu.
"Let's go Baek-Gu." Xiumin kemudian berlari kekawana monster itu sambil memuntahkan timah panas dari kedua pistolnya. One shot killer selalu berhasil dia lakukan pada monster-monster mengerikan itu. Sepertinya, Xiumin sedikit lebih berpengalaman dibanding Kris dalam menggunakan senjata api.
Baek-Gu dengan tubuh besarnya, mengahajar habis-habisan monster-monster tersebut dengan cakar dan taringnya. Monster yang dia serang kebanyakn mati dicabik-cabik atau dimakan olehnya tanpa ampun. Satu yang kemampuan uni Baek-Gu adalah darah yang menempel pada dirinya menghilang begitu saja, membuat bulunya tetap bersih berwarna putih tak ternoda.
Hanya dalam waktu 10 menit, monster-monster itu habis tidak tersisa oleh Xiumin dan Baek-Gu. Xiumin mendekat pada Baek-Gu dan mengelus leher srigala itu dan memeluk kepalanya.
"Kerja bagus Baek-Gu." Ucap Xiumin masih terus mengelus Baek-Gu.
"TOOLLOONNGGG." Teriakan tolong seseorang mengalihkan perhatian mereka. Xiumin dan Baek-Gu melihat seekor monster yang tengah terbang membawa seorang manusia yang sedang memberontak dan berteriak minta tolong.
Xiumin menatap Baek-Gu dan mengangguk. Baek-Gu berlari kearah monster tersebut sedangkan Xiumin tengah membidik sang kelelawar terbang dengan pistol miliknya.
DOR DOR
Kedua peluru meluncur kearah monster kelelawar itu dan menembus tepat satu kekepalanya dan satu kearah dada sang monster. Monster itu terjatuh dan membuat genggamannya pada Chen terlepas.
"UAAHHHHH." Chen berteriak ketakutan begitu meluncur ketanah.
BUGH
Chen meringis menahan sakit namun anehnya tidak terlalu sakit begitu jatuh ditanah. Tapi aneh, tanah itu lembut dan hangat membuat Chen segera membuka mata dan terkejut dia tengah mengendarai atau menunggai sesuatu yang besar dan berbulu yang ternyata adalah Baek-Gu.
.
.
.
.
KaiSoo HunHan Side
Sehun dan Luhan menatap tak percaya dengan apa yang terjadi. Mereka memandang ngeri dinding rumah yang berlubang cukup besar itu, dan kemudian memandang Kyungsoo yang terengah-engah. Kyungsoo menurunkan kedua tangannya dan merasa perih pada kedua telapak tangannya karena menggunakan kekuatannya cukup kuat.
"Han Han kau obati Kyungsoo dan Kai. Aku dan Lupin akan melihat Yunho, apakah dia masih hidup atau tidak." Titah Sehun pada Luhan. Luhan mengangguk mengerti dan segera berjalan menuju Kai dan Kyungsoo.
Sehun menatap Lupin yang sepertinya luka diseluruh tubuhnya mulai pulih. Membuat Sehun sedikit iri dengan kemampuan Lupin yang mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Lupin menangguk dan pergi bersama Sehun keluar untuk mencari Yunho yang entah berada dimana. Mereka melewati dinding rumah yang berlubang itu dan berjalan lurus.
Sehun sedikit merinding melihat tembok rumah Luhan yang berceceran disekitar lubang rumah itu. Serangan Kyungsoo pada Yunho pasti cukup kuat dan setidaknya bisa membuat Yunho terluka parah. Sehun menajamkan penglihatannya ditengah suasana gelap dan rintikan air hujan. Sama halnya dengan Lupin yang menajamkan semua indra yang ada pada dirinya, namun hasilnya nihil.
Mereka terus mencari kesana kemari untuk menemukan Yunho yang berada entah ada dimana. Tak jauh dari rumah Luhan, Sehun menemukan potongan kain yang Yunho gunakan dengan sedikit bercak darah disana. Sehun memegang erat kain itu dengan rasa kesal dan penuh emosi.
"Cih, dia berhasil kabur rupanya." Desis Sehun sambil menatap kearah hutan didepannya.
-oOo-
Ditengah hutan yang cukup jauh dari kediaman Luhan, terlihat seorang namja yang tengah digendong oleh namja lain. Sang namja yang tengah digendong itu kini tengah tertidur, membuat sang namja yang menggendongnya kesal dan mencacai maki namja tersebut. Namun tentu saja, cacian tersebut tidak akan terdengar oleh namja yang tengah menggendongnya itu.
"Aish... berat sekali sih dia ini," Namja itu memutar kepalanya melihat Yunho yang masih tertidur di bahunya. "Tidak aku sangka kau akan merepotkan aku seperti ini," Namja itu kembali menatap kedepan dan terus berbicara seolah-olah namja yang digendongnya itu mendengar apa yang dikatakan olehnya.
"Taemin juga belum kembali ke Los Plagas dan kau malah tiduran dibahuku sekarang. Misimu gagal untuk menangkap D.O dan kau sekarang malah membuat aku kesal," Namja itu mempoutkan bibirnya kesal.
"Master Soo Man juga pasti akan memarahi aku dan kau karena gagal. Aish... sudah kuduga seharusnya tadi kau ijinkan aku untuk menangkap D.O juga. Paling tidak membiarkan aku membunuh monster buatan D.O. Tapi lihatlah sekarang? Kau benar-benar menyebalkan Yunnie."
"Berisik Boo, kau membuat tidurku terganggu." Yunho akhirnya terbangun dan menatap wajah yang dia panggil Boo itu dari samping kanannya. Namja yang dipanggil Boo itu menatap Yunho dingin.
"Nah... karena kau sudah sadar, cepat turun dan berjalanlah sendiri. Menggendongmu sungguh sangat berat tahu." Titah Boo sambil menggembungkan pipinya kesal dengan Yunho.
"Apa kau setega itu menyuruh aku berjalan dengan luka disekujur tubuhku?." Tanya Yunho sambil memutar bola matanya bosan dengan sikap kekanakkan Boo.
BRUGH
Boo dengan sengaja menurunkan Yunho dari gendongannya. Membuat pantat Yunho dengan sukses mencium tanah dibawahnya.
"Aww... Appo~. YA! Jaejoongie apa yang kau lakukan hah?." Tanya Yunho kesal sambil mengusap pantatnya yang terasa sangat sakit. Jaejoong menatap Yunho tajam, telunjuknya mengarah pada wajah Yunho yang tengah duduk sembari mengusap pantatnya.
"Berhentilah bersikap manja Yunnie. Aku tahu kau hanya ingin aku gendongkan? Kau ingin mencuri kesempatan dekat-dekat denganku kan? Kau pikir aku ini siapa hah?." Seru Jaejoong dengan jari telunjuknya menusuk-nusuk dahi Yunho.
Yunho menelan ludahnya gugup dengan apa yang dikatakan oleh Jaejoong. Dia benar-benar lupa dengan kemampuan Jaejoong yang bisa membaca pikiran seseorang dan mengendalikan pikiran mereka. Yunho benar-benar takut sekarang pada Jaejoong.
"Hooo... kau sadar juga akhirnya jika aku mempunyai kemampuan membaca pikiran HAH?." Jaejoong makin memperdalam tusukkan jarinya pada dahi Yunho. Membuat Yunho sedikit merintih.
"Mianhae Boojae~ ehehehe." Yunho tertawa kaku sambil menggaruk belakang rambutnya yang tidak gatal. Jaejoong menarik telunjuknya dari Yunho dan berjalan pergi meninggalkan Yunho.
"Pulang saja sendiri Yunnie. Aku pulang duluan pai-pai~." Dan setelahnya Jaejoong berlari meninggalkan Yunho.
-oOo-
Lupin dan Sehun kini tengah kembali kerumah Luhan. Disana melihat Kyungsoo dan Luhan yang tengah menyembuhkan luka memar disekujur tubuh Kai. Luhan menatap Sehun dan Lupin yang tengah kembali setelah pergi mencari Yunho diluar sana.
"Bagaimana?." Tanya Luhan yang tengah memegang sebuah kain basah untuk Kai. Luhan memberikan kain itu pada Kyungsoo dan Kyungsoo mulai membersihkan wajah Kai dengan kain tersebut.
"Dia berhasil kabur namun terluka. Kurasa sebaiknya kita pergi dari sini. Disini sudah tidak aman lagi Luhan dan juga ada kemungkinan mereka akan kembali." Jawab Sehun dengan mimik muka serius.
Luhan mengangguk dan mulai berpikir sebentar setelah mendapat sebuah ide.
"Kita pergi kerumah bibiku saja. Tidak jauh dari sini dan cukup aman disana. Dan kita bisa mengobati Kai dengan lebih layak disana" Usul Luhan pada mereka. Sehun dan Kyungsoo mengangguk setuju dengan usul Luhan.
Mereka kini mulai bersiap untuk pergi dari rumah Luhan setelah mereka mengumpulkan dan membawa bahan makanan dan lainnya. Kai tengan digendong Lupin dibahunya karena masih tidak sadarkan diri.
"Kita berangkat." Ajak Sehun dan mereka pun kemudia berjalan pergi dari rumah Sehun.
Mereka berjalan dengan cukup waspada dengan keadaan sekitar mereka, takut-takut jika ada monster lain yang menyerang. Tak lama mereka akhirnya sampai dirumah bibi Luhan yang cukup besar itu. Luhan dengan segera membuka pintunya dan mereka pun masuk setelah memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
Namun mereka kaget, terutama dengan Sehun dengan apa yang dia lihat dihadapannya. Begitupun dengan objek yang dia lihat.
"T-Tao hyung."
TBC
Thansk To :
Bigitta Bukan Brigittiw, Melodyatlantick, JIRA, sari2min, Jung Jisun, .5, TaoRis407, dindut, , BabySuDo, Eternal Clouds, BlackPearl08, KDS, kyuaniee flee, RizkyKey, angelwin, BeBaek Cinta Chan Chan, Emily Hwang, Taryshineexo, chiagitta, Yooooona, SmiLeND, icyng, mayuka57, Raichi Lee Sangjin ELF, kimhyunshi, Kim Eun Eri, ryu jihyun, Kitsune Syhufellrs, savannah, Htaey029, golden13, Hana KimChii, WhiteCat Shii, Gembul, HaeRaFishy, Junny Louis, dinodeer, gembul, Hyesunnie.
KAMSAHAMNIDA *hug & kissu#plak*
Review Please *Puppy Eyes bareng HunHan*
