Evil Town
Chapter Thirteen
(Chapter ini Full Of Romance)
HunHan Side
Semua terdiam mendengar kisah pilu Kris. Mereka semua hanya bisa bersimpati pada namja yang bahunya tengah bergetar dan terisak dihadapan mereka. Namja yang mereka pikir begitu kuat dan dingin itu, sekarang tengah rapuh dalam pelukan Tao. Tao yang tidak tahan melihat kekasihnya terus bersedih itu, kini membawa Kris kesebuah ruangan atau kamar guna menenangkan Kris.
Suasana kembali canggung dan sunyi begitu Tao menutup pintu kamar tersebut. Mereka terdiam, tidak tahu harus berkata atau bertindak bagaimana sekarang ini. Kyungsoo terlihat menghela napasnya.
"Maaf... aku akan membawa Kai ke kamar lain. Jangan khawatir, aku akan mengobatinya," Ucap Kyungsoo memecah keheningan diruangan tersebut. Sehun terlihat menganggukkan kepalanya pada Kyungsoo.
"Kalau begitu bisa kalian beri aku bantuan membawa Kai ke ruangan yang ada disana." Pinta Kyungsoo sambil menunjuk sebuah ruangan yang pintunya terbuka.
"Tentu, biar kakakku yang membawa Kai kesana." Kata Luhan sambil mendekat pada Lupin dan berbicara padanya agar membawa Kai keruangan yang ditunjuk Kyungsoo. Mengerti apa yang dikatakan oleh adiknya, Lupin dengan segera membopong kembali Kai dengan hati-hati menuju ruangan tersebut diikuti oleh Kyungsoo.
Begitu sampai, Lupin membaringkan Kai disebuah kasur yang cukup nyaman namun sedikit kotor.
"Terima kasih." Ucap Kyungsoo pada Lupin. Lupin mengangguk dan pergi dari ruangan tersebut.
Luhan yang tengah duduk dengan Sehun menatap Lupin yang keluar dari ruangan dimana Kai dan Kyungsoo berada didalamnya. Pintu ruangan tersebut ditutup dari dalam, mungkin Kyungsoo membutuhkan privasi untuk menunggu hingga Kai sadar. Lupin berjalan menuju Luhan dan mengatakan sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh Luhan dan membuat Sehun hanya bisa mengangkat alisnya bingung.
Luhan terlihat mengangguk dan mengucapkan 'Hati-hati' pada Lupin. Lupin kemudian pergi dari sana, tepatnya pergi keluar rumah tersebut entah apa yang akan dia lakukan. Sehun menatap Luhan meminta penjelasan, mengerti arti tatapan Sehun Luhan pun menjelaskan.
"Kakak akan berjaga diluar dan meminta kita untuk beristirahat." Jelas Luhan yang diangguki mengerti oleh Sehun.
Suasana kembali hening dan terlihat canggung. Luhan tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana, setiap dia melihat Sehun hatinya selalu menghangat dan dia takut salah tingkah jika Sehun tersenyum padanya. Sedangkan Sehun juga tidak tahu harus bagaiamana, suasana disana sangatlah canggung. Jadi Sehun hanya bisa menatap sekitarnya saja, dan sedikit-sedikit melirik Luhan yang entah kenapa terlihat sangat gugup.
"Ehem... Rumah ini sangat besar yah?." Kata Sehun memecah keheningan disana. Matanya mulai mengamati rumah besar bergaya eropa klasik tersebut.
"Y-yah begitulah. Rumah bibiku memang lebih besar dibandingkan rumahku." Jawab Luhan tanpa mau menatap Sehun. Sehun mengalihkan pandangannya pada Luhan.
"Lalu kemana perginya bibimu?." Tanya Sehun.
"Entahlah... aku juga tidak tahu." Luhan tahu Sehun tengah menatap dirinya, namun dia tidak cukup berani menatap Sehun. Padahal sebelum-sebelumnya dia tidak seperti ini jika dia melihat atau berhadapan dengan Sehun. Luhan merutuki apa yang tengah terjadi pada dirinya.
Hening, suasana itu kembali mengisi keadaan antara Sehun dan Luhan. Sehun sedikit kesal dengan Luhan yang tidak mau menatap dirinya. Ada apa sebenarnya dengan Luhan? Sungguh Sehun sangat ingin melihat wajah Luhan yang menatapnya seperti sebelum-sebelumnya. Namun yang dia dapat sekarang Luhan lebih tertarik menatap kelantai dibanding menatap dirinya.
Sehun menghela napasnya bosan dan kesal. Dengan segera Sehun berdiri dan berjalan mendekati Luhan. Luhan yang bisa merasakan dan melihat bahwa Sehun berada didepannya hanya bisa diam membeku tanpa tahu apa yang harus dia lakukan. Luhan tahu betul Sehun tengah kesal karena dirinya yang tidak mau menatap Sehun, tapi jika dia menatap Sehun yang ada hanyalah Luhan ingin sekali pergi dari Sehun karena takut Sehun bisa melihat wajahnya yang memerah dan mendengar suara jantungnya yang berdetak keras.
"Luhan... bisa kau ajak aku berkeliling rumah ini?." Pinta Sehun masih menatap Luhan yang masih menundukkan wajahnya. Luhan berdiri masih tanpa mau menatap wajah Sehun dan berjalan lebih dahulu dari Sehun, membuat posisi Sehun berada dibelakangnya.
"Tentu... ikuti aku saja Sehun." Jawab Luhan yang kemudian berjalan pelan. Sehun mendengus sebal melihat sikap Luhan yang aneh dan makin membuatnya kesal, dengan sedikit malas dia mengikuti Luhan dibelakangnya.
Sehun menatap kagum dengan rumah besar berlantai dua ini. Walau terlihat sudah kusam dan kotor, namun arsitekturnya masih sangat terlihat jelas dan khas dirumah besar ini. Rumah ini, seperti yang dikatakan oleh Luhan memiliki tujuh kamar tidur yang masing-masing memiliki kamar mandi, tiga kamar mandi besar, dua dapur, satu ruang keluarga, balkon yang luas, perpustakaan dan taman seluas satu hektar.
Kini mereka tengah menuju lantai dua untuk pergi menuju balkon. Mereka kini menaiki tangga dengan ornamen yang cukup artistik itu. Ditengah-tengah perjalanan kaki Luhan sedikit tergelincir dan membuatnya jatuh kebelakang namun berhasil ditangkap oleh kedua tangan Sehun. Mereka terdiam dengan posisi dimana tubuh Luhan dalam pelukan Sehun dan mata mereka saling menatap satu sama lain.
Sehun senang akhirnya dia bisa melihat wajah Luhan lagi dan Luhan hanya bisa diam membeku melihat Sehun yang menatap dirinya intens. Wajah Luhan merona melihat wajah tampan Sehun dan jantungnya berdetak keras seperti saat sebelumnya. Takut reaksi darinya akan diketahui oleh Sehun, dengan segera Luhan menarik dirinya dari pelukan Sehun. Sehun kembali kecewa melihat reaksi Luhan, namun dia bisa melihat pipi Luhan yang merona.
"Ma-maaf... aku ceroboh." Ucap Luhan.
"Tidak apa-apa. Berhati-hatilah, tangganya memang cukup licin." Sehun kembali menaiki tangga tersebut namun dengan memegang tangan kanan Luhan. Luhan tersentak begitu merasakan sentuhan lembut ditangannya dan kemudian sadar bahwa kini Sehun tengah menggenggam tangannya.
"Jangan dilepas! Biarkan seperti ini." Perintah Sehun ketika dia merasakan tangan Luhan yang mencoba melepas genggaman tangannya.
Luhan terdiam tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya Luhan hanya bisa pasrah begitu Sehun menarik tangannya agar dia kembali berjalan dengannya. Sehun menggenggam tangan Luhan erat dan bisa merasakan hangatnya ketika tangan mereka bersentuhan. Sehun tersenyum menikmati apa yang tengah dia lakukan. Luhan yang melihat senyum diwajah Sehun juga akhirnya tersenyum, mungkin ini tidak terlalu buruk.
Mereka kini berada dibalkon yang menyajikan pemandangan diluar yang pasti tidak berbeda. Yaitu gelap dan sunyi, tanpa ada cahaya bulan atau taburan bintang dilangit malam. Luhan menatap sedih langit yang masih kelam itu, tangan mereka masih bertautan karena paksaan oleh Sehun yang tidak mau melepasnya. Sehun menatap wajah Luhan yang terlihat sedih itu.
"Aku rindu... rindu saat aku melihat matahari terbit. Rindu saat malam aku melihat bulan dan bintang. Sudah lama aku tidak melihatnya." Ucap Luhan masih sambil menatap langit dan berharap Tuhan mendengar dan mengabulkan keinginannya untuk melihat sang mentari kembali hadir. Namun... dia tahu itu adalah sia-sia.
Sehun hanya bisa menatap sedih Luhan, merasakan bagaimana kesepiannya dan ketakutannya hidup ditempat ini hanya dengan kakaknya yang sudah berubah menjadi monster. Jika itu adalah dirinya, mungkin dia tidak bisa bertahan disituasi seperti itu. Namun Luhan berbeda, dia tetap tegar dan sabar menghadapi semua ini. hal itulah yang membuatnya sangat mengagumi sosok namja disampingnya ini
Sehun melakukan hal yang sama dengan Luhan. Menatap langit yang terlihat gelap dan kelam itu.
"Aku berjanji... jika Matahari, Bulan, dan Bintang tidak pernah kembali hadir disini. Maka... aku akan membawa seorang Joseph Luhan keluar dari pulau ini dan membawanya kedunia dimana dia bisa melihat Matahari, Bulan, Bintang. Bahkan walau hal itu mengorbankan nyawaku sekalipun, asalkan dirinya dapat tersenyum. Maka... itu bukanlah apa-apa untukku. "
Luhan terperangah mendengar ucapan Sehun. Dia menatap Sehun yang menatap lurus kelangit sambil tersenyum. Hatinya tersentuh oleh ucapan Sehun yang terdengar sangat serius itu, padahal dia bukan siapa-siapa bagi Sehun namun Sehun... dia... bagaiamana mungkin dia bisa berkata seperti itu?
"Sehunnie..."
Sehun terkejut mendegar panggilan Luhan yang dia sukai yang tidak dia dengar cukup lama dari mulut Luhan. Sehun menatap Luhan yang tengah menangis dan terkejut begitu Luhan memeluk dirinya dengan erat. Sehun membalas pelukan Luhan yang terasa sangat pas dan nyaman dalam dekapannya.
"Tidak apa-apa... bahkan jika aku tidak bisa kembali melihat Matahari, Bulan ataupun Bintang. Asalkan kau selalu disampingku... itu sudah lebih dari cukup Sehunnie..." Kata Luhan disela isakannya.
Hati Sehun terasa bahagia mendengar ucapan Luhan, dia sangat senang dan bahagia mendengar kata-kata itu dari mulut Luhan. Sehun melepas pelukannya dan dengan segera mencium bibir Luhan dengan bibirnya, membuat Luhan sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Sehun.
KaiSoo Side
Kyungsoo masih terlihat setia disamping Kai yang masih tidak sadarkan diri itu. Kedua tangannya masih memegang erat tangan Kai, memberikan rasa hangat dan kekuatan pada Kai. Harapan agar Kai tersadar masih tidak lepas dari benak Kyungsoo. Dia ingin... ingin sekali melihat senyuman Kai yang sudah lama tidak dia lihat. Dia merindukan panggilan Kai padanya, dia merindukan kasih sayang Kai yang diberikan hanya untuknya. Kyungsoo sangat merindukan Kai, sangat merindukannya.
Sudah hampir lima tahun dia tidak bertemu dengan sosok Kai lagi dalam hidupnya. Terakhir yang Kyungsoo ingat adalah ketika dia pergi dengan riang menuju rumah Kai yang tengah mengadakan pesta ulang tahun untuk Kai. Namun... diperjalanan dia ditangkap oleh seseorang yang tidak dikenal dan dibius hingga tidak sadarkan diri. Selanjutnya yang Kyungsoo ingat, seseorang memberinya sebuah obat berbentuk pil padanya dengan paksaan yang membuat dirinya tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Dan sekarang ketika dia sadar, dia berada dalam pelukan Kai dan waktu sudah berlalu selama hampir lima tahun sejak saat itu.
"Kim Jongin... kumohon... cepatlah sadar. Aku merindukanmu Kai, kumohon sadarlah..." Ucap Kyungsoo sambil menyibak poni Kai dengan lembut dan memberi kecupan didahi Kai.
Merasakan ada seseorang yang memanggil namanya dan merasakan tangannya yang hangat juga dahinya yang seperti dikecup oleh seseorang. Kai yang mulai mendapatkan kembali kesadarannya, perlahan mulai membuka kedua matanya. Pandangannya sedikit kabur untuk sesaat, namun perlahan makin terlihat jelas. Kai mengerjapkan matanya beberapa kali agar penglihatannya sedikit lebih baik.
Pandangannya kini mengarah pada seseorang disamping kirinya, dimana disana ada Kyungsoo yang tertidur dengan menggunakan tangan Kai sebagai tumpuan kepalanya. Kai tersenyum melihat wajah Kyungsoo yang terlihat kelelahan karena merawat dirinya yang tidak sadarkan diri. Wajah yang sudah lama tidak dia lihat, wajah orang yang sangat Kai sayangi dan cintai.
Perlahan, tangan kanan Kai yang bebas mulai bergerak menuju wajah Kyungsoo. Dengan lembut Kai mengelus pipi putih nan halus milik Kyungsoo, membuat Kyungsoo yang semula tertidur kini terbangun. Kyungsoo mengerjapkan matanya sebelum akhirnya sadar bahwa Kai kini tengah tersenyum menatap dirinya,
"Hallo Kyungsoo hyung~." Sapa Kai sambil sedikit terkekeh tanpa tahu bahwa Kyungsoo yang sangat khawatir pada keadaannya mulai terisak.
"Bo-bodoh... bagaimana bisa kau bilang -Hallo Kyungsoo hyung- disaat aku khawatir padamu?." Kyungsoo mulai menangis karena Kai. Menangis karena lega dan bahagia kini Kai sudah sadar.
Kai tersenyum tulus melihat Kyungsoo yang menangis karena dirinya. Seperti saat dahulu, Kyungsoo akan selalu menangis jika melihat dirinya sakit atau terluka. Kai mulai mengubah posisinya menjadi duduk dan dengan segera memeluk Kyungsoo. Kyungsoo terisak makin keras didada Kai. Kai menenangkan Kyungsoo dengan mengelus punggung Kyungsoo dan berbisik ditelinga Kyungsoo bahwa dia baik-baik saja.
Perlahan... Isakkan dan tangisan Kyungsoo mulai mereda. Kai melepaskan pelukannya dan melihat wajah Kyungsoo yang merah karena menangis dan basah karena air mata. kai menghapus air mata yang turun dari pelupuk mata Kyungsoo dengan ibu jarinya. Dan kemudian Kai memberi kecupan pada kedua kelopak mata Kyungsoo. Memberikan rasa kasih sayang dan cintanya pada namja dihadapannya.
"Jangan menangis lagi hyung... aku baik-baik saja," Ucap Kai sambil menatap wajah Kyungsoo. Kyungsoo menangguk pelan dan memberikan senyumnya pada Kai.
"Oh ya... bagaimana dengan keadaan yang lain?." Tanya Kai yang teringat dengan kawan-kawannya yang lain.
"Semua baik-baik saja Kai. Dan... jika tidak salah temanmu yang bernama Tao ada disini." Jawab Kyungsoo sambil membersihkan beberapa luka di wajah Kai dengan kain basah.
"Benarkah? Tao hyung masih hidup dan sekarang ada disini?." Ucap Kai tidak percaya. Kyungsoo mendengus sebal.
"Kau tidak percaya padaku?." Kyungsoo mempoutkan bibirnya kesal.
"Tentu saja aku percaya padamu hyung... bahkan jika kau mengatakan kita berada dibulan pun aku akan percaya padamu." Goda Kai yang membuat wajah Kyungsoo merona karenanya.
"Ya! Berhenti menggodaku Kim Jongin." Seru Kyungsoo sebal. Kai tertawa pelan melihat Kyungsoo yang terlihat lucu ketika dia marah itu.
"Tapi syukurlah... Tao hyung masih hidup. Aku senang mendengarnya."
"Kau bisa menemui dia nanti Kai. Dia sedang menenangkan temannya yang tengah sedih."
"Teman? Siapa?." Tanya Kai antusias. Mungkinkah salah satu diantara Baekhyun, Suho atau Chen?
"Jika aku tidak salah dengar namanya Kris." Kata Kyungsoo sambil mengingat-ingat nama orang yang hampir membuatnya takut karena tiba-tiba bertindak kasar padanya itu.
"Kris? Aku tidak pernah mendengar nama Kris sebelumnya." Kai menaikkan alisnya begitu mendengar nama Kris dan sedikit kecewa karena ternyata bukan salah satu hyungnya yang lain.
"Mungkin dia orang yang Tao temui dalam perjalanannya."
Kai mengangguk dengan ucapan Kyungsoo. Mungkin juga sih orang yang bernama Kris itu orang yang Tao temui atau mungkin orang yang menyelamatkan Tao. Kai jadi ingin melihat seperti apa orang bernama Kris ini.
Kai melihat Kyungsoo yang terlihat kelelahan dan beberapa kali menguap karena mengantuk. Kai menggeser posisinya kesebelah kanan, membuat ruang yang cukup untuk dua orang dikasur tersebut. Kyungsoo melihat Kai heran dan wajahnya memerah begitu Kai menepuk-nepuk ruang kosong disamping kirinya. Kai bermaksud agar Kyungsoo tidur disampingnya.
Kyungsoo masih diam, tidak mau bergerak dari posisinya. Membuat Kai malah mendengus sebal.
"Hyung~ tidurlah disampingku... please..." Pinta Kai dengan nada amat memohon itu. Kyungsoo berdiri dari duduknya dan berbalik.
"Ti-tidak usah... aku diluar saja." Namun sebelum Kyungsoo berjalan keluar, Kai keburu menarik pinggang Kyungsoo hingga Kyungsoo terbaring tepat dimana Kai memaksa Kyungsoo tidur ditempat tersebut.
"Jangan malu-malu Kyungsoo hyung~ hehehe." Kai membuat posisi Kyungsoo kini berhadapan dengan dirinya. Kedua tangan Kai memegang erat pinggang Kyungsoo agar makin dekat dengan dirinya. Sehingga, wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter saja.
"Kau masih tidak berubah Kim Jongin." Ucap Kyungsoo sambil tertawa pelan.
"Hmm... begitukah? Perasaanku juga tidak berubah. Bagaimana denganmu hyung?."
"Sama denganmu."
"I Love You." Ucap Kai.
"Love You Too." Balas Kyungsoo dan kemudian Kai menghapus jarak diantara mereka berdua dengan menyatukan bibir mereka yang akhirnya membuat mereka terlarut dalam sebuah ciuman.
TaoRis Side
Kris masih terlihat tengah bersedih setelah dia menceritakan masa lalunya dipulau menyeramkan ini. kris tengah terduduk dan menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang terlihat sangat kacau. Tao masih setia disamping Kris untuk menenangkannya. Sejujurnya... Tao sangat terkejut melihat Kris yang selama ini terlihat sangat kuat dan juga terlihat dingin itu bisa begitu rapuh.
Tao bisa memahami bagaimana perasaan Kris sekarang karena bagaimana pun dia akan sangat shock juga jika mengalami hal yang sama dengan Kris. Menyaksikan sahabat-sahabatmu mati dihadapanmu dengan dirimulah yang membunuh mereka, yang sebenarnya kau tengah dikendalikan oleh seseorang. Itu lebih mengerikan bila dibandingkan dengan melihat temanmu mati oleh seekor monster sekalipun.
Tao memeluk Kris dari samping, melingkarkan kedua tangannya dileher jenjang Kris dan mengistirahatkan kepalanya dibahu Kris. Yang bisa Tao lakukan sekarang hanyalah memberinya rasa hangat dan nyaman agar Kris tidak makin rapuh dan bersedih kembali. Kris sedikit terkejut mendapat perlakuan dari Tao, yang Kris tahu bahwa Tao bermaksud membuatnya nyaman dan tidak terlalu terpuruk oleh masa lalu.
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu Kris. Kau harus tahu, bahwa teman-temanmu juga yakin bahwa kau yang waktu itu bukanlah dirimu. Temanmu yang telah tiada pun pasti tidak menyalahkan dirimu karena mereka tahu, bahwa itu bukanlah dirimu Kris," Ucap Tao.
"Jangan terus terlarut dalam kesedihan masa lalu. Kau harus terus semangat dan berjuang hingga kita bisa keluar dari pulau ini Kris. Aku yakin... temanmu pun ingin agar kau terus berjuang dan bertahan hidup di pulau ini." Lanjut Tao.
Kris sedikit tersenyum dengan ucapan Tao, hatinya sedikit lega dengan apa yang Tao ucapkan padanya. Kris memutar kepalanya kesamping kiri, dimana Tao tengah menyandarkan kepalanya dibahu Kris.
"Terima kasih." Kris mengecup puncak kepala Tao, membuat Tao untuk beberapa saat merasa begitu nyaman hingga menutup kedua matanya menerima kecupan Kris didahinya.
"Sekarang... aku tahu kenapa aku benar-benar menyukai dirimu Tao," Lanjut Kris yang membuat Tao merona mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Kris untuknya.
Tao melepas pelukannya dan menatap wajah Kris yang menatapnya jauh kedalam manik mata Tao. Tao kembali terkejut begitu Kris mengecup bibirnya kilat. Sedangkan Kris hanya bisa tersenyum dalam hati melihat wajah Tao yang memerah sempura, sungguh wajah Tao sangat manis menurut Kris.
"Sekali lagi terima kasih Tao." Tao mengangguk malu.
Kris kemudian memeluk Tao erat dan membuatnya nyaman dalam pelukannya. Kris sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirimkan Tao padanya ditempat terkutuk yang tengah mereka tempati ini. Jika mungkin, Kris ingin tetap seperti ini dimana dia bisa selalu berada disamping Tao dan memeluknya. Begitu pun juga dengan Tao, dia ingin selalu Kris berada disampingnya dan selalu memeluk dirinya seperti ini. pelukan Kris terasa hangat dan Tao terasa terlindungi oleh Kris.
Sejenak suasana menjadi sepi, sepi bukan karena suasana canggung tetapi karena suasana yang membuat mereka berdua begitu nyaman dan tentram.
"Kris..." Ucap Tao memecah keheningan.
"Hmm." Respon Kris masih tetap memeluk Tao yang entah kenapa selalu membuat dirinya merasa begitu hangat dan nyaman. Tao menarik dirinya dari pelukan Kris dan menatap Kris dengan wajah serius, Kris mendesah kecewa ketika rasa nyamannya hilang ketika Tao melepas pelukannya.
"Orang yang bernama Jaejoong itu... mari kita temukan dia dan beri dia pelajaran." Ucap Tao.
Kris terkejut mendengar ucapan Tao yang menyebut nama orang yang sangat dia benci itu. Walau Kris tidak tahu bagaimana rupa orang yang bernama Jaejoong itu, namun kebencian dan dendamnya tidak akan pernah hilang. Sesungguhnya... Kris juga berpikiran hal yang sama dengan Tao, Kris ingin sekali membalas apa yang Jaejoong lakukan padanya dan teman-temannya.
Namun... sekali lagi Kris teguhkan dalam hati, bahwa dirinya bukanlah lawan bagi Jaejoong. Kemampuan mereka berbeda sangat jauh dan Kris tahu bahwa Jaejoong itu bukanlah seorang manusia biasa. Dihatinya sedikit tersimpan rasa takut pada Jaejoong jika suatu saat nanti dia akan kembali dikendalikan oleh orang itu. Tidak... Kris tidak ingin kejadian itu terulang kembali pada dirinya.
Terlebih jika Kris akan melukai Tao dan bahkan mungkin membunuhnya, sama seperti yang dia lakukan pada ketiga sahabatnya yang lain. Tidak... Kris tidak akan pernah memaafkan dirinya jika dia melukai Tao bahkan sedikit pun Kris tidak akan mau melukai Tao.
"Kris... kau kenapa?." Tanya Tao sedikit khawatir dengan keadaan Kris yang hanya diam saja. Kris menatap Tao dan memegang kedua bahu Tao.
"Tidak Tao... jangan pernah kita bertemu dengan orang bernama Jaejoong itu." Ucap Kris tegas. Tao sedikit tersentak dengan ucapan dan tatapan mata Kris pada dirinya. Seolah Kris mengatakan bahwa Jaejoong sangatlah berbahaya dan melarang dirinya untuk macam-macam dengan Jaejoong.
"Tapi Kris... dialah orang yang membuatmu melukai teman-temanmu. Kita harus menemukannya dan membuatnya merasakan apa yang kau rasakan. Kita harus memberinya hukuman atas apa yang dia lakukan terhadapmu." Kata Tao tidak mau kalah.
Sejujurnya Tao tidak mengerti dengan jalan pikiran Kris. Bukankah memang seharusnya orang bernama Jaejoong itu merasakan apa yang dirasakan oleh Kris dan membalas dendam adalah salah satunya cara yang bisa mereka lakukan pada Jaejoong itu.
"Tidak Tao, aku tidak bisa melakukan hal itu." Kris menggelengkan kepalanya dan kemudian menatap Tao dengan pandangan mata memohon.
"Kenapa Kris? Sudah sewajarnya kita membalas dendam atas apa yang diperbuat olehnya padamu," Tao membalas dengan nada yang cukup tinggi. Kris hanya bisa menggelengkan kepalanya yang malah membuat Tao makin kesal karenanya.
"Ada apa denganmu Kris? Kenapa kau tidak mau membalas apa yang dia lakukan padamu? Jawab aku Kris." Teriak Tao pada Kris sambil melepas genggaman tangan Kris pada bahunya dengan kasar.
"Kumohon Tao... mengertilah keadaanku." Kata Kris dengan nada memohon. Namun Tao masih tetap keras kepala dengan pendapatnya.
"Aku mengerti keadaanmu Kris."
"Tidak Tao, kau tidak mengerti."
"Aku bilang aku mengerti keadaanmu Kris."
"Kau tidak mengerti sedikitpun keadaanku Huang Zi Tao." Kris mulai merasa kesal dengan Tao, tidak tahukah Tao dengan apa yang ditakutkan Kris didalam hatinya.
"Aku sanagat meng-."
"KAU TIDAK MENGERTI PERASAANKU." Ucapan Tao terpotong oleh teriakkan Kris. Tao sedikit terkejut dengan Kris yang berteriak cukup keras padanya. Entah kenapa hatinya begitu sakit ketika Kris membentak dirinya.
Kris mulai memandang Tao lembut begitu mengetahui wajah Tao yang terlihat kecewa karena dia berteriak keras padanya. Kris dengan segera memeluk Tao, walaupun Tao sedikit menolak pelukan Kris namun Kris dengan sekuat tenaga memeluknya tanpa mau melepas pelukannya pada Tao.
"Aku takut... sangat takut jika kita bertemu dengannya dia mengendalikanku lagi. Dan yang paling aku takutkan adalah... aku akan melukai dirimu Tao. Sudah cukup aku melukai teman-temanku dengan tanganku dan aku tidak ingin melukai dirimu. Jika itu terjadi... aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku. Aku tak bisa memaafkan diriku jika aku melukai dirimu, melukai orang yang sangat kusayangi dan kucintai. Aku mencintaimu Tao... sangat mencintaimu... jadi kumohon... jangan pernah pergi dari sisiku."
Tao terdiam mendengar kata-kata Kris. Hatinya sakit karena ternyata dia tidak bisa memahami perasaan Kris dan malah bertindak egois. Tao tidak tahu bahwa ternyata alasan Kris tidak ingin membalas dendam pada Jaejoong karena takut bahwa Kris mungkin akan melukai dirinya. Sungguh... Tao tidak pernah berpikir sampai kesitu.
Tao merutuki kebodohannya sendiri yang tanpa sadar sudah membuat Kris terluka karena dirinya. Tao mengangakat wajahnya, menatap wajah Kris yang menatapnya lembut. Tatapan yang penuh dengan kasih sayang dan cinta juga bermakna bahwa Kris tidak ingin kehilangan dirinya.
"Maaf... Kris..." Ucap Tao menyesal dengan nada sedikit bergetar karena merasa bersalah. Ingin sekali Tao menangis karena kebodohannya. Kris menggelengkan kepalanya.
"Tidak... aku yang harusnya meminta maaf karena telah membentak dirimu sebelumnya Tao. Maafkan aku Tao." Tao mulai menangis mendengar kata maaf dari Kris.
Kenapa Kris begitu baik pada dirinya yang sudah membuatnya bersedih karena keegoisannya. Kenapa Kris tidak marah pada dirinya saja? Begitu besarkah cinta Kris padanya? Jika iya, maka Tao amat sangat bersyukur dan berjanji akan selalu berada disamping Kris. Karena Tao juga mencintai namja yang ada dihadapannya ini.
Kris mengahapus air mata Tao dengan kedua ibu jarinya dan kemudian menghapus jarak diantara mereka berdua. Bibir mereka bertemu dan saling bertaut, meluapkan emosi mereka yang terpendam dalam hati mereka. Kris mulai membaringkan Tao hingga dia berada diatasnya, namun dengan bibir mereka yang masih saling menempel.
"Bolehkah?." Tanya Kris ketika dia melepas ciuman mereka.
Mengerti apa yang dimaksud oleh Kris, Tao mengangguk malu dengan wajah yang memerah sempurna. Kris tersenyum dan kembali merasakan bibir Tao yang tidak pernah dia merasa bosan untuk dirasakan.
TBC
Maaf *bow* untuk sekarang author tidak bisa membalas review kalian terlebih dahulu. Karena keterbatasan waktu dan takutnya kalian malah makin lama nunggu updatenya. Maaf juga untuk beberapa typho dan juga saran dari kalian akan author pertimbangkan.
Thanks To : evilwin, tiikaa, Minki 'Light Pearl' Kim, Kim Eun Eri, creepyJIRA, Ryu JiHyun, Kitsune Syhufellrs, Septaaa96, Jin Ki Tao, Brigitta Bukan Brigittiw, Natasha Kim, Dhila001204, Lala Anandita, icyng, kimhyunshi, chiagitta, Jung Jisun, wufan-gun, BlackPearl08, Kim Jae So Zhang Jae So, mayuka57, Melodyatlantick, acidcid, sunnyduck, Taryshineexo, BeBaek Cinta Chan Chan, LeeKim, HaeraFishy, SabrinaEXO, cmutzninot, Akita Fisayu, Raichi Lee Sangjin ELF, shin ah chan, , golden13, hunhanmi, WhiteCat Shii, Gyunikai7, HunHanie, Happy Bubble.
KAMSAHAMNIDA atas review kalian yang berharga *deep bow*
Review again please *Ngasih foto TaoRis NCan XP*
