Evil Town

Chapter Twenty Two

Warning : Typho and Chara Death

(AN: Maaf kalau kurang bagus alurnya di chap ini )

"Uhukk..."

Jaejoong terbatuk dengan darah yang mulai mengalir keluar perlahan-lahan dari dalam mulutnya. Darah merah pekat mulai turun dari sudut bibir Jaejoong. Dia terkejut mendapati Kris yang sudah ada dibelakangnya dengan pisau belati miliknya sendiri yang Kris tusukkan di punggungnya. Jaejoong mulai merasakan racun dari pisau miliknya mulai masuk dan menyebar didalam tubuhnya. Bahkan napas Jaejoong mulai terasa makin berat dan pandangannya mulai mengabur akibat efek samping racun tersebut.

'Sial.' batin Jaejoong kesal.

Racun ini berbeda dengan racun yang pernah Jaejoong berikan pada Yunho. Dimana racun baru buatannya mampu membunuh siapapun yang terkena racun tersebut akan mati dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Berbeda dengan racun yang dia berikan pada Yunho yang akan membuat orang yang terkena racun itu akan mati dalam waktu kurang dari tiga hari.

CRACK TRANG TRANG

Kris mencabut pisau yang menancap dari punggung Jaejoong dan langsung membuangnya kesembarang arah. Kris tahu kini dialah pemenangnya dan Jaejoong sudah kalah. Kris segera menarik Taeyeon yang masih terdiam membatu disana, bermaksud menjauhkan mereka berdua dari Jaejoong. Waspada dengan apa yang akan Jaejoong lakukan setelah ini. Apakah Jaejoong masih bisa bertahan atau tidak.

"Terima kasih, Kris," ucap Taeyeon masih dengan wajah shock. Dia sudah merasa pasrah saat Jaejoong akan membunuhnya namun ternyata dia berhasil diselamatkan oleh Kris.

"Yah, sama-sama," balas Kris dengan nada pelan. Tercetak jelas bahwa namja tinggi itu kini tengah kelelahan dan tenaganya sudah hampir terkuras habis. Hal itu terlihat dari kulit wajahnya yang makin pucat dan keringat yang bercucuran didahi dan area sekitar wajah Kris.

Kini mereka berdua mulai kembali fokus menatap Jaejoong yang tubuhnya mulai perlahan limbung.

Jaejoong mulai merasakan tubuhnya mulai melemah dan saraf tubuhnya seperti akan lumpuh. Namun... dengan sekuat tenaga dia menggerakkan tubuhnya kesamping hanya untuk menatap kedua musuhnya.

"A... aku tidak akan hosh mati ditempat hosh ini... akan kubalas kalian brengsek..." Jaejoong mulai berjalan dengan susah payah menuju Taeyeon dan juga Kris. Membuat dua orang dihadapannya mundur beberapa langkah. Kris dan Taeyeon entah kenapa begitu takut sekarang ini. Terlebih melihat Jaejoong yang dalam keadaan sekarat masih mampu berjalan dan berbicara.

Tap Tap Tap

Jaejoong terus berjalan perlahan-lahan menuju Kris dan Taeyeon sembari mengucapkan cacian dan makin pada mereka berdua. Sedangkan Kris dan Taeyeon hanya bisa terus melangkah mundur dan bersikap waspada jika Jaejoong akan melakukan sesuatu pada mereka.

DEG

Napas Jaejoong tercekat saat merasakan tubuhnya tiba-tiba terasa sangat sakit. Jaejoong merasakan suatu gejolak dari dalam perutnya perlahan naik keatas.

"Uhukkk..." Jaejoong kembali terbatuk dan refleks satu tangannya menutup mulutnya. Bisa Jaejoong rasakan telapak tangannya basah dan Jaejoong tahu bahwa itu adalah darah miliknya. Napasnya makin terengah-engah dan ritmenya pun makin pendek. Penglihatannya pun makin memburuk dan hingga akhirnya Jaejoong ambruk dengan posisi terlentang.

Melihat musuh mereka yang sudah ambruk dan tidak berdaya, Kris dan Taeyeon menatap satu sama lain dan mengangguk. Mereka tahu mereka telah menang melawan Jaejoong dan saatnya mereka kembali menuju mansion, tempat dimana mereka berkumpul setelah bertarung. Meninggalkan Jaejoong yang masih terbaring disana.

Untuk sesaat kesadaran Jaejoong menghilang, namun dia kembali tersadar dan mendapati bahwa dia tengah terlentang ditanah sekarang. Racunnya sudah mulai bereaksi dan membuat satu persatu saraf ditubuhnya mati total. Jaejoong membuka perlahan kedua matanya dan menatap langit yang warnanya begitu hitam dan kelam. Warna yang melambangkan hidupnya.

'Apa aku akan mati disini? Apa hanya sampai disini saja hidupku?' Jaejoong mulai berucap dalam hati.

Flash Back

"PENCURI! BOCAH ITU MENCURI DAGANGANKU, TANGKAP BOCAH ITU!" seorang pria paruh baya berteriak sambil menunjuk seorang bocah yang tengah berlari menjauh dari sana. Jelas saja hal itu membuat orang-orang yang mendengar teriakkan sang pria paruh baya langsung menatap bocah lelaki yang masih berlari itu. Suasana pasar yang ramai itu pun makin riuh saat pria paruh baya itu berteriak-teriak.

"HEI BOCAH PENCURI! JANGAN LARI KAU!"

"KEMARI KAU BOCAH!"

"BERANINYA KAU MENCURI BOCAH KECIL!"

Orang-orang langsung berlarian mengejar bocah lelaki kecil itu, membuat sang bocah mau tidak mau mempercepat larinya. Sebisa mungkin dia harus bisa menghindari kerumunan dengan masuk ke gang-gang kecil, dan jika dia tertangkap maka habislah sudah.

Bocah lelaki itu mulai berbelok dan memasuki sebuah gang kecil dengan diikuti oleh beberapa orang dewasa yang mengejar dirinya. Dia terus berlari dan berlari sambil mengecoh orang-orang yang mengejar dirinya itu. Hingga akhirnya, bocah lelaki dengan rambut panjang sebahu dan berpakian lusuh juga compang-camping itu berhasil lolos dari kejaran mereka.

Jaejoong kini tengah bersembunyi didalam gedung kosong dan baru saja orang yang mengejar dirinya melewati gedung tersebut.

"Kim Jaejoong, kau kembali berhasil mengecoh mereka hihihi." Bocah kecil yang ternyata adalah Jaejoong itu terkikik pelan mendengar ucapannya sendiri. Jaejoong mulai duduk kembali dengan nyaman didalam bangunan tersebut.

Kim Jaejoong yang kini berumur 10 tahun sudah hampir satu tahun hidup sendirian dijalanan. Kedua orang tuanya membuangnya karena Jaejoong merupakan hasil hubungan diluar nikah dan kedua orang tuanya dipaksa untuk menikah satu sama lain. Hidup Jaejoong sangat menderita karena selalu disiksa oleh kedua orang tua kandungnya dan yang lebih parah eomma dan appanya memiliki keluarga lain saat dia mulai berumur lima tahun. Hingga akhirnya pada saat Jaejoong berumur yang kesembilan, kedua orang tua Jaejoong bercerai dan membuang dirinya.

Kebencian Jaejoong semakin besar saat dia dibuang oleh kedua orang tuanya dan Jaejoong bersumpah dia akan membalas dendam pada kedua orang tuanya suatu saat nanti. Apalagi Jaejoong pernah melihat eommanya yang begitu bahagia dengan keluarga barunya saat Jaejoong tidak sengaja melihatnya disebuah rumah besar. Saat itu, hati Jaejoong terasa perih dan sakit melihat kebahagiaan mereka. Membuat matanya berkaca-kaca dan Jaejoong langsung berlari dengan kencang menjauh dari sana saat itu juga.

Hidup dijalanan bagi Jaejoong adalah sebuah neraka. Kekerasan akan menjadi sahabat baikmu dan kelaparan akan selalu membayang-bayangi dirimu. Terlebih orang-orang banyak yang tidak peduli dengan keadaan Jaejoong juga orang lain yang bernasib sama dengannya. Dan Jaejoong benci mereka, benci pada manusia seperti itu. Manusia yang sama dengan kedua orang tuanya.

Mencuri adalah kebiasann Jaejoong jika dia tidak memiliki uang untuk sekedar makan. Mencuri adalah pilihan antara mati kelaparan atau tetap hidup walau konsekuensinya juga besar. Namun, Jaejoong tidak peduli akan hal itu. Selama dia masih bisa hidup dan berusaha mengubah hidupnya, maka dia akan mengambil pilihan kedua.

Jaejoong mulai membuka bungkus roti yang dia curi dari pedagang tadi. Jaejoong sangat kesal karena pedagang bertubuh tambun itu begitu pelit padanya. Dia sudah memohon agar pedagang itu mau memberikan sepotong roti untuknya, namun Jaejoong malah dicaci maki dan diusir. Maka dari itu Jaejoong tidak ada pilihan lain selain mencuri roti tersebut.

KRUYUK~

Perut Jaejoong mulai berbunyi begitu menatap roti yang ada didalam genggamannya. Dengan tidak sabaran, Jaejoong mulai memakan potong demi potong roti tersebut. Namun alangkah kagetnya saat tubuhnya tiba-tiba terangkat dan terlempar keaspal jalanan.

Jaejoong merintih kesakitan dan dia langsung membeku melihat sekelilingnya yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang mengejar dirinya. Jantung Jaejoong langsung berdetak dengan cepat karena takut, terlebih melihat tatapan mata mengerikan mereka. Tubuh Jaejoong bergetar dan dengan segera Jaejoong menerobos kerumunan tersebut.

Sialnya, Jaejoong gagal dan seseorang langsung menendang dirinya hingga kembali ketempat semula. Membuat Jaejoong kembali merintih kesakitan karena tendangan orang tersebut.

"BOCAH TENGIK! KITA HABISI BOCAH INI!" seru seseorang yang ternyata adalah pedagang roti yang salah satu rotinya sudah dicuri oleh Jaejoong tadi. Pernyataan pria pedagang roti itu diangguki oleh orang-orang tersebut.

Tanpa berprikemanusiaan, orang-orang itu langsung memukuli tubuh mungil Jaejoong yang terus berteriak minta ampun.

'Benci! Aku benci mereka semua, suatu saat aku akan membalas dendam.'

Kebencian dan kemarahan sudah tertancap dalam hati seorang Kim Jaejoong. Diusianya yang masih sangat muda, hatinya sudah dipenuhi oleh kegelapan karena bayang-bayang masa lalu. Dia membenci semua manusia yang menghiraukannya dan dia lebih membenci kedua orang tua kandungnya yang sudah membuangnya. Jaejoong tidak pernah menerima dirinya diperlakukan seperti sampah oleh eomma dan appanya.

Suatu saat nanti, kelak Jaejoong akan membalaskan dendamnya yang dipenuhi oleh kebencian dan kemarahan yang ada dalam dalam hatinya pada kedua orang tuanya. Dan juga pada semua orang yang sudah memandang rendah dirinya selama ini.

-oOo-

Tubuh Jaejoong yang penuh luka dan memar terbaring kaku ditengah aspal jalanan yang sepi. Semua orang yang memukulinya sudah pergi meninggalkannya begitu saja tanpa kasihan. Tidak mengetahui rasa sakit ditubuh dan hati Jaejoong saat ini.

Bulir air mata mulai mengalir turun dari sudut mata Jaejoong, bersamaan dengan rintikan air hujan yang mulai turun dari langit hitam dan kelam kala itu.

'Apa aku akan mati disini? Apa hanya sampai disini saja hidupku?' Jaejoong mulai berucap dalam hati. Dan dengan perlahan dia mulai menutup kedua matanya.

-oOo-

Ketika sadar, Jaejoong sudah terbaring didalam sebuah kamar yang begitu asing. Dia bisa merasakan kasur yang dia tiduri sangat empuk dan kain spreinya pun begitu wangi. Sudah lama sekali Jaejoong tidak merasakan tidur dengan kasur yang nyaman, karena selama dia hidup dijalanan hanya beberapa carik kertas koranlah alasnya untuk tidur. Dan kain-kain lusuh yang dia temukanlah yang menjadi selimut bagi dirinya dikala dinginnya angin malam menerpa tubuh mungilnya.

Jaejoong terbangun dan sedikit merintih karena rasa sakit ditubuhnya. Jaejoong bisa melihat perban yang melilit dibeberapa bagian ditubuhnya. Jaejoong mulai mengamati ruangan yang dia tempati, dan dia yakin dia bukan berada dirumah sakit tetapi disebuah kamar tidur. Terlihat dari perabotan berupa lemari pakaian, televisi, dan lainnya berjejer dengan rapi.

Satu hal yang Jaejoong tahu, dia tengah berada dirumah orang yang menyelamatkannya. Jaejoong sudah mengingat semuanya, mengingat saat dia dipukuli hingga babak belur dan pingsan ditengah hujan deras. Memikirkan bagaimana kejamnya orang-orang yang sudah memukuli dirinya membuat Jaejoong mengepalkan kedua tangannya erat dan juga membuat suara gemertak gigi yang sangat kentara. Jaejoong sangat marah dan juga emosi pada orang-orang itu.

Tak lama, pintu kamar terbuka dan menampakkan pria paruh baya berkaca mata berjalan menghampiri dirinya.

"Jadi kau sudah bangun rupanya," ucap pria paruh baya itu.

"Siapa kau?" tanya Jaejoong dengan nada dingin. Bukannya Jaejoong tidak sopan atau tidak tahu berterima kasih. Jaejoong tidak pernah percaya pada siapapun setelah kedua orang tuanya membuang dirinya dan orang-orang tidak menghiraukan dirinya. Bahkan pada orang yang ada dihadapannya pun, Jaejoong tidak percaya sama sekali.

Pria paruh baya itu terlihat tersenyum simpul mendengar nada dingin yang dilontarkan oleh mulut Jaejoong. Jelas saja hal itu membuat Jaejoong menaikkan alisnya tidak mengerti kenapa pria paruh baya itu tersenyum mendengar nada tak bersahabat yang dia lontarkan.

"Kau anak yang sangat menarik. Perkenalkan namaku Lee Soo Man, seorang Professor dan juga seorang Dokter." Pria paruh baya yang ternyata adalah Soo Man itu berjalan makin mendekat pada Jaejoong. Hal itu tidak luput dari pandangan Jaejoong yang menatapnya tajam. Soo Man berhenti disamping kanan kasur Jaejoong.

"Apa maumu? Kurasa kau membawaku kemari dan mengobatiku bukan tanpa alasan kan? Kau pasti meminta imbalan dariku, benar begitu?" tanya Jaejoong beruntun. Soo Man menggelengkan kepalanya.

"Sayangnya... tidak ada sama sekali niatan seperti itu Kim Jaejoong."

Jaejoong membulatkan matanya mendengar ucapan Soo Man. Bagaimana dia bisa tahu namanya?

"Hahaha... jangan kaget seperti itu. Aku memiliki banyak koneksi untuk mendapatkan informasi apapun." Jaejoong mendengus mendengar nada sombong dalam kalimat tersebut.

"Tapi memang benar, aku punya alasan lain. Aku ingin kau menjadi salah satu anak angkatku Kim Jaejoong."

Untuk yang kedua kalinya Jaejoong terkejut mendengar ucapan Soo Man.'anak angkat' katanya? Kenapa dia ingin sekali mengangkat dirinya sebagai anak? Cih, lagi pula dia tidak pernah ingin dijadikan anak oleh siapapun hingga dia mati.

Jaejoong perlahan bangkit dari kasurnya dengan sedikit rintihan yang keluar dari mulut kecilnya. Dan dengan sedikit terpincang-pincang dia pergi menuju pintu keluar dari kamar tersebut.

"Sudah kuduga kau akan menolak tawaranku bocah kecil."

Jaejoong terus berjalan, tidak menghiraukan perkataan Soo Man. Hingga akhirnya salah satu tangannya kini tengah meraih kenop pintu tersebut.

"Jika kau menjadi anak angkatku, maka semua dendammu akan terbalas."

Jaejoong membeku mendengar ucapan Soo Man, Soo Man juga bahkan tahu kalau didalam hatinya dia memiliki dendam. Jaejoong menurunkan tangannya yang sudah meraih kenop pintu dan berbalik menatap Soo Man.

"Aku terima tawaranmu, kau memang licik," ucap Jaejoong dengan senyum sinis. Soo Man tersenyum lebar medengar ucapan Jaejoong.

-oOo-

Mulai saat itu Jaejoong sudah menjadi anak angkat dari Soo Man dan belajar banyak tentang kedokteran dan juga pengetahuan lainnya. Selain dia, ada Yunho. Namja yang lebih muda beberapa hari darinya yang merupakan anak angkat pertama Soo Man. Tidak berbeda jauh dengan Jaejoong, Yunho juga dibuang oleh orang tuanya dan dijadikan anak angkat oleh Soo Man.

Mereka berdua sama-sama dingin dan acuh tak acuh satu sama lain ketika pertama bertemu. Tapi itulah keunikan dari mereka berdua. Karena terkadang tanpa sadar mereka akan bercakap atau bertukar pikiran maupun gagasan jika sedang diberi tugas oleh Soo Man. Hingga hal itu membuat keduanya jadi makin dekat satu sama lain, walau mereka tidak terlalu banyak berbincang.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun berganti. Mereka berdua sudah menginjak usia remaja, di usia mereka yang sudah berumur 13 tahun mereka sudah sangat dekat. Mereka lebih sering terlibat percakapan dan pertengkaran yang sudah jelas Jaejoong yang selalu menang. Meski begitu Jaejoong juga selalu kalah karena tidak bisa membuat Yunho berhenti memanggil namanya dengan sebutan Boo atau Boojae.

Saat Soo Man memperkenalkan anak angkat lain yaitu GD dan Sulli, mereka tidak terlalu peduli. Dan setelah itu Minho dan Taemin yang menjadi anggota keluarga mereka, reaksi mereka berdua tetap sama. Meski begitu, mereka berdua memang harus membimbing dongsaeng-dongsaeng tersebut atas perintah Soo Man.

Dan akhirnya hari itu tiba, hari dimana mereka melakukan ritual dengan pemanggilan iblis. Dengan ritual itu, mereka akan mendapat kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa dengan resiko ketika mereka mati maka arwah mereka akan menjadi santapan sang iblis itu sendiri. Jaejoong tidak peduli akan hal itu, dia mengikuti semua ritual demi mendapatkan kekuatan dan demi membalas dendam pada orang-orang yang sudah membuang mereka.

Saat itulah, Jaejoong pertama kali merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Kebahagiaan saat dia menggunakan kemampuannya yang membuat appa kandungnya membunuh semua keluarnya dan dirinya sendiri dan juga sang eomma kandungnya yang membunuh anak tercintanya dan diakhiri dengan suaminya yang membunuh eomma Jaejoong. Puas, Jaejoong sangat puas setelah melakukannya karena kini mereka telah menerima penderitaan dan rasa sakit yang hampir sama dengannya.

Bukan hanya disitu saja, Jaejoong sangat mendukung rencana Soo Man yang akan menjadikan sebuah pulau sebagai objek percobaan. Sebelum rencana sebenarnya mereka, yaitu menyebarkan semua virus dan parasit hasil ciptaan Soo Man pada sebuah negara yang tidak tunduk pada Soo Man.

Soo Man ingin menguasai dunia dengan memberi ketakutan pada semua orang akan virus buatannya dan parasit yang merupakan pemberian dari iblis. Siapapun yang tidak tunduk, maka negara itu akan hancur oleh virus dan parasit tersebut. Mereka semua akan mati mengenaskan dan menjadi mayat hidup atau bahkan menjadi monster yang akan menyerang manusia yang masih hidup.

Jaejoong tidak peduli dengan berapa banyak korban yang akan mati akibat rencana mereka. Selama dia bisa melihat penderitaan orang-orang yang sudah membuat dirinya sangat menderita maka dia akan merasa senang. Sudah sepantasnya mereka semua merasakan bagaimana penderitaan Jaejoong, bukan hanya kedua orang tuanya tetapi juga orang-orang menjijikan yang selalu memandang rendah dirinya.

Flash Back End

Namun, perasaannya akan dendam dan kebencian sempat goyah saat dia tidak sengaja mendengar Minho mengucapkan 'Cinta' dan juga memberikan 'Kasih Sayang' pada Taemin.

Cinta?

Apa itu Cinta?

Apa itu Kasih Sayang?

Kenapa dengan hanya mendengar namanya saja perasaannya menjadi sangat hangat? Apa Jaejoong pernah merasakan cinta dan kasih sayang? Apa Jaejoong pernah merasakan hatinya menghangat saat dia berada didekat seseorang atau mungkin saat orang itu memberikan perhatiannya padanya?

Mustahil, itu tidak mungkin terjadi. Tidak ada orang yang mencintainya dan tidak ada orang yang memberinya kasih sayang selama ini.

Benar begitu bukan?

Flash Back

"Yun, jika aku bertanya apa impianmu? Maka apa jawabanmu?" tanya Jaejoong tanpa menatap langsung pada Yunho. Matanya masih tetap fokus pada buku tebal didalam genggaman tangannya.

"Impianku adalah, aku ingin selalu bisa berada didekatmu Boo. Aku ingin terus melindungimu dan selalu menjadi seorang pahlawan dimatamu hehehe." ucap Yunho sambil terkekeh pelan pada Jaejoong disampingnya. Dimana kini mereka berdua tengah membaca buku diperpustakaan milik Soo Man saling berhadapan.

Jaejoong tersenyum untuk pertama kalinya saat mendengar kata-kata itu dari mulut Yunho.

"Impianmu aneh Yun. Tapi... terima kasih karena kau selalu ingin melindungiku. Walaupun keadaan malah sebaliknya." Yunho mempoutkan bibirnya kesal mendengar ucapan terakhir Jaejoong.

"Kita akan selalu bersama sampai kapanpun, itu sudah pasti," lanjut Jaejoong dan entah karena dorongan apa, Jaejoong mengecup bibir Yunho. Sangat singkat, tapi hal itu cukup membuat keduanya kaget dan merona. Jaejoong bahkan bisa merasakan jantungnya yang berdetak keras dan wajahnya makin memanas jika mengingat apa yang sudah tadi dia lakukan pada Yunho.

'Perasaan apa ini? Rasanya begitu hangat,' batin Jaejoong sembari memegang dadanya yang terasa hangat seperti yang dia katakan.

Flash Back End

Jaejoong tersenyum getir mengingat masa lalunya yang penuh dengan kebencian dan kedengkian. Hatinya sudah digelapkan karena dendam. Tapi mengingat masa-masa itu, masa saat dia bersama dengan Yunho yang selalu membuat Jaejoong lupa akan kebencian dan dendamnya. Masa itu sungguh tidak ingin Jaejoong lupakan sama sekali.

Senyum getir Jaejoong berubah menjadi senyum tulus saat mengingat saat-saat dia mengecup bibir Yunho pertaa kalinya dan wajahnya langsung merona.

Andai saja hal itu terulang kembali maka Jaejoong akan sangat bersyukur. Dan Jaejoong tahu satu hal kenapa dia tiba-tiba mengecup bibir Yunho saat itu dan kenapa wajahnya merona saat dia sadar dengan apa yang dia lakukan.

Cinta

Yunho yang selalu berada disampingnya dan memberikan perhatian padanya. Tanpa sadar menumbuhkan rasa yang asing bagi Jaejoong. Dan rasa asing itu terus tumbuh disaat Jaejoong selalu berduaan dengan Yunho kapanpun dan dimanapun, terlebih saat Yunho mengatakan kata-kata yang Jaejoong anggap aneh. Namun, kata-kata itu selalu membuat hatinya berdebar-debar entah karena apa?

Jaejoong membuka kedua matanya dan kembali menatap langit hitam.

Yun... ternyata aku menyukaimu. Dan bodohnya, aku mengetahuinya disaat yang tidak tepat. Yun... apakah kau menyukaiku? Apa kau merasakan debaran yang sama disaat kita berdua selalu bersama-sama? A-aku menyesal... aku ingin kembali pada saat itu Yun. Aku ingin mengatakan aku menyukaimu dan mungkin kita tidak akan berakhir seperti ini. Kita mungkin akan selalu bersama-sama hingga akhir.

Mata Jaejoong terasa panas dan mulai berkaca-kaca, dan tidak lama Jaejoong mulai menangis dalam diam. Air mata tangisannya itu membuat bola mata berwarna coklat keemasannya berubah menjadi hitam kembali. Dan mata Jaejoong kembali tertutup bersamaan dengan hembusan napas terakhirnya.

Aku mencintaimu... Yunho

DEG DEG

Yunho terkesiap merasakan sebuah firasat buruk yang menelusup masuk kedalam hatinya. Dia mempunyai firasat yang buruk tentang Jaejoong.

'Perasaan ini... Boojae? Tidak mungkin,'

Yunho yang tubuhnya sudah tidak bertenaga dan sekaratpun mempercepat kecepatan berjalannya. Tidak peduli akan cara berjalannya yang terpincang-pincang dan rasa sakit saat dia menggerakkan bagian tubuhnya secara paksa.

Yang ada didalam pikirannya kini hanya ingin bertemu dengan Jaejoong dan memastikan bahwa firasat buruknya tidaklah benar.

Terus dan terus berjalan tanpa arah, hanya dengan instinglah Yunho akhirnya bisa melihat seseorang yang tengah terbaring kaku. Jantung Yunho langsung berdetak keras saat dia kenal betul siapa orang yang tengah terbaring itu.

Jaejoong, Boojaenya.

Dengan perasaan yang tidak bisa ditebak dari pancaran bola mata Yunho. Yunho dengan pandangan kosong, yang hanya tertuju pada tubuh Jaejoong seorang. Dia mulai kembali menggerakkan kakinya yang sudah bergetar entah karena apa.

BRUGH

Baru beberapa langkah, Yunho sudah ambruk dengan posisi tengkurap. Matanya masih tidak bisa lepas dari Jaejoong. Dengan sekuat tenaga dan dengan sisa kekuatan yang ada, Yunho memaksakan diri mendekat pada Jaejoong yang jaraknya hanya lima meter darinya. Kedua tangannya dia pakai untuk mendorong tanah dan kedua kakinya dia dorong agar tubuhnya bergerak maju.

SREK SREK SREK

Dengan napas yang terengah-engah dan keringat yang makin bercucuran disekitar area wajahnya. Yunho terus mendekat pada Jaejoong, hingga akhirnya dia bisa melihat wajah Jaejoong dari dekat.

Mata Yunho mulai berkaca-kaca dan dia mulai menangis pelan menatap wajah Jaejoong yang pucat. Satu tangan Yunho mulai bergerak perlahan, membelai wajah dan mengusap rambut lembut milik Jaejoong untuk yang terakhir kalinya. Dingin... tubuh hangat yang selalu dia rasakan saat dia menyentuh Jaejoong kini begitu dingin.

"Yun, jika aku bertanya apa impianmu? Maka apa jawabanmu?" Yunho tersentak mendengar pertanyaan tiba-tiba itu dari mulut Jaejoong. Sejenak dia berpikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaan tersebut.

"Impianku adalah, aku ingin selalu bisa berada didekatmu Boo. Aku ingin terus melindungimu dan selalu menjadi seorang pahlawan dimatamu hehehe." ucap Yunho sambil terkekeh pelan pada Jaejoong disampingnya. Dimana kini mereka berdua tengah membaca buku diperpustakaan milik Soo Man.

Yunho terkejur melihat sebuah senyum simpul dari bibir Jaejoong. Bagaimana bisa? Selama ini Jaejoong tida pernah sama sekali tersenyum pada siapapun tapi barusan dia... dan ugh kenapa hati Yunho berdebar saat dia melihat senyum Jaejoong barusan?

"Impianmu aneh Yun. Tapi... terima kasih karena kau selalu ingin melindungiku. Walaupun keadaan malah sebaliknya." Yunho mempoutkan bibirnya kesal mendengar ucapan terakhir Jaejoong.

"Kita akan selalu bersama sampai kapanpun, itu sudah pasti," lanjut Jaejoong dan entah kenapa, Jaejoong mendekat wajahnya pada Yunho dan mengecup bibir Yunho singkat. Hal itu cukup membuat keduanya kaget dan merona. Yunho bahkan bisa merasan wajahnya memanas dan suara jantungnya yang berdebar begitu keras terdengar. Semoga saja Jaejoong tidak mendengar suara debaran jantungnya.

'Perasaan apa ini? Rasanya begitu hangat,' pikir Yunho sembari memegang dadanya dan kemudian menyentuh bibirnya yang tadi dikecup Jaejoong.

Yunho tersenyum miris mengingat memori itu, memori terindah dalam hidupnya saat bersama dengan Jaejoong. Yunho merasa sedih karena dia tidak bisa melindungi Jaejoong seperti yang Yunho katakan pada Jaejoong saat itu. Dan lagi, ternyata mereka tidak bisa bersama-sama hingga sampai kapanpun seperti yang Jaejoong katakan. Mereka harus terpisah disini, ditempat terkutuk ini.

Yunho mulai mendekatkan wajahnya pada Jaejoong dan mengecup bibir Jaejoong yang sudah membiru. Air mata mulai turun dengan deras dari kedua mata Yunho yang tertutup, air mata itu bereaksi sama dengan apa yang terjadi pada Jaejoong. Mengubah bola mata perak Yunho kembali menjadi hitam.

"Saranghae... Boojae,"

Dan akhirnya Yunho terkulai lemas saat jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak. Menandakan bahwa dia kini telah pergi, pergi ketempat dimana Jaejoong berada.

-oOo-

CRASH CRASH

"Ugghhh."

"Ukkhhh."

Dua namja merintih kesakitan saat monster hitam itu berhasil melukai tubuh mereka dengan cakar tajam miliknya. Dua namja yang tidak lain dalah Xiumin dan Tao, terlihat sangat kelelahan dan juga tubuh mereka cukup banyak luka cakaran dari monster tersebut.

GD tersenyum puas melihat mereka berdua.

"Hanya masalah waktu hingga kalian mati ditanganku," ucap GD yang kembali maju menyerang mereka bersama dengan monster disampingnya.

TBC

AN :

Uwwoohhh akhirnya bisa update juga *sujud syukur*

Big Thanks to :

devinatan98, Brigitta Bukan Brigittiw, Hyegun EXOtics, adinda faradisa, tiikaaa, anonstalker, Park Ri Yeon, nanda, Qhia503, HungryBirds, Shin Min Hwa, Kan Rin Min, Kim Eun Eri, JaeRyeoCloudnia, No Name, christina, HunHan's wife, Byun Lalla Chan, golden13, apin, nauranadiva, taryshineexo, Kim Jae So Zhang Jae So, KecoaLaut, miparkland, JennyChan, TwinsAka THe X, sari2min, Phindi liule Panda, Crayon That XX, byun sungra, Raichi Chan, needtexotic, BabySuLayDo, Clorophylpanda, Baby Panda Zi TaoRis EXOtics, Vanesha, Tania3424, Taoris shipper, Vness EXOTicsBaekYeol, Kim Haerin-ah, SaranghaeEXO,dinodeer, ananda huang, Elftic, byun jong hwa, Anggun Nita, blue minra, InnadinESW, Xylia Park, ury, GrisELF VIP.

Mianhamnida tidak bisa membalas review kalian lagi (ToT)

Hanya bisa mengucapkan banya-banyak terima kasih yang tidak terhingga dari kalian semua

So

Mind to Review Again#Bbuing bbuing