Evil Town
Chapter Twenty Three
Warning: Typho dimana-mana.
"Hosh... hosh... hosh..." Napas Tao maupun Xiumin makin pendek dan mulai terengah-engah. Wajah mereka sudah dibanjiri oleh peluh karena rasa lelah yang amat sangat dan juga tenaga mereka yang mulai habis. Bukan hanya itu saja, tubuh mereka dipenuhi oleh luka sobek akibat cakaran dari monster peliharaan GD yang sangat buas dan liar.
Kedua namja yang masih berdiri dengan sisa tenaga itu pun mulai kembali memasang kuda-kuda dan meningkatkan kewaspadaan saat GD dan sang monster hitam mulai kembali maju menyerang mereka. Xiumin mengangkat kedua pistolnya sebahu dan membidik GD maupun sang monter dengan senjata apinya tersebut. Dilain pihak, Tao berdiri memunggungi Xiumin dengan kedua punggung mereka yang bersentuhan dan Xiumin pun mulai menembakkan beberapa peluru tersebut pada target bidikannya.
DOR DOR DOR DOR
Beberapa peluru Xiumin berhasil menembus dan melukai sang monster, membuat mahluk itu mengerang kesakitan. Namun tetap saja, monster itu berlari menerjang menuju arah mereka. Monter itu tidak peduli akan luka tembak yang dia terima dari Xiumin, seakan peluru yang menembus tubuhnya bukan apa-apa.
Berbeda dengan GD yang bahkan sebelum peluru itu mengenai tubuhnya, namja dengan mata berwarna kuning kemerahan itu tiba-tiba menghilang dari pandangan Xiumin. GD menggunakan kemampuannya menghentikan waktu dan akan muncul tiba-tiba tanpa diketahui. Itulah sebabnya dia dan Tao kini dalam posisi saling memunggungi, agar kehadiran GD bisa langsung diketahui secepatnya.
DOR DOR DOR DOR
Xiumin terus menembakkan peluru panas pada kepala monster hitam itu. Cukup untuk membuat langkah monster itu memelan karena banyaknya luka tembak ditubuhnya.
Tao mengangkat pedangnya dengan kedua tangan. Matanya mengawasi dari kanan ke kiri dengan tajam, begitupun dengan indra pendengarannya. Tao sudah siap untuk menunggu kehadiran GD dan bertarung dengannya.
"Yo~, kau mencariku?" tanya sebuah suara yang membuat Tao tercekat, Tao hapal betul milik siapa suara tersebut. Matanya melirik kebawah, dimana GD tengah berjongkok.
Sebelum Tao melakukan pertahanan karena dia tidak menyangka GD akan muncul dari sana. GD menerjang Tao dengan satu tangan yang terulur kedepan dan GD langsung mencekik leher Tao. Pedang Tao terlepas dari genggamannya dan kedua tangan Tao langsung mencengkram erat tangan GD yang mencekik lehernya.
GREP
"Uugghhh," Tao terbatuk begitu merasakan sakit ditenggorokannya karena GD mencekiknya cukup kuat. Bahkan tubuhnya sedikit terangkat karena cekikan namja yang kini tengah tersenyum penuh kemanangan itu. Tetapi Tao sedikit terkejut, tubuhnya tidak membeku seperti sebelumnya saat GD menyentuh tubuhnya. Membuat Tao sama seperti Xiumin, diam tidak bisa bergerak dan energi mereka dihisap.
"Jangan khawatir, aku sudah menyerap 100% energi dari kalian berdua. Jadi aku tidak bisa menghisap lagi, itu adalah batasku," ucap GD yang membuat Tao terkejut karena GD bisa mengetahui isi pemikirannya.
"TAO!" teriak Xiumin ketika dia melirik Tao dibelakang yang kini tengah dicekik oleh GD.
GD menggerakkan tangannya yang mencekik leher Tao ke kiri dan mengayunkan kekanan sekuat tenaga.
BRUGH
"Uaagghhh!"
Tao terlempar dan punggunya menimpa tanah cukup keras, membuat punggunya terasa sangat sakit.
Xiumin menggeram marah atas apa yang GD lakukan pada Tao dan ia bersiap untuk menyerang GD. Xiumin langsung terlonjak saat tubuh bagian kanannya tertekan cukup keras dan rupanya sang monsterlah yang menyerang dengan ekornya.
"Uhukkk," Xiumin terbatuk dengan sedikit mengeluarkan darah dari mulutnya akibat hantaman keras dari ekor sang monster. Tubuhnya terpental dan terjatuh disamping Tao yang tengah merintih kesakitan dipunggung dan lehernya.
"Xi-Xiumin," Tao kaget saat tubuh Xiumin kini terbaring disampingnya. Tao perlahan bangkit dan membantu Xiumin untuk duduk.
GD menaikkan sudut bibirnya melihat mereka berdua. Dia yakin, mereka sudah tidak bisa bertarung lagi dan putus asa saat ini. Mata GD melirik pedang Tao yang terbaring disampingnya, GD mengambil pedang tersebut dan menggenggamnya erat. Setelah itu, GD perlahan melangkah maju menuju mereka berdua dengan monster peliharaannya yang kini berada disamping kirinya.
TAP
Xiumin dan Tao terkejut begitu melihat GD dan monsternya kini berada dihadapan mereka. Dengan menampilkan seringainya, GD makin mendekat pada mereka dua langkah.
"Ada permintaan terakhir?" GD mulai mengangkat pedang yang digenggamnya tinggi-tinggi. Membuat Xiumin dan Tao yang melihatnya hanya bisa pasrah akan takdir yang akan menimpa mereka setelah ini.
Tao menutup matanya dan menundukkan wajahnya. Setetes air mata miliknya turun dan jatuh ketanah.
'Maafkan aku Kris. Kurasa... kita tidak akan bersama lagi.' Ucap Tao dalam hati.
'Chen... Baek-Gu... maafkan aku,' Xiumin pun mulai menutup matanya.
GD tersenyum dan bersiap untuk menebas mereka berdua.
TWITCH
GD terlonjak kaget merasakan sensasi barusan. Namun, hal itu tidak menghalangi dirinya untuk melancarkan aksinya mengayunkan pedang yang dia genggam.
CRASH
Pedang GD telah menebas sasarannya.
CRAT CRAT
Darah mulai berceceran disana.
PLUK PLUK
BRUGH
Bau anyir darah yang begitu menyengat dan ceceran darah langsung mengotori tempat tersebut. Xiumin dan Tao yang membuka mata langsung kaget melihat GD yang ternyata menebas kepala monster peliharaannya hingga terpotong. Dan kepala monster itu kini tengah berada dihadapan mereka berdua dengan tubuh sang monster yang sudah ambruk.
Kedua pasang mata itu kini kembali fokus pada GD yang masih terdiam.
'Taemin... kekuatan black shadow hunternya telah lenyap. Jaejoong sunbae dan Yunho sunbae mereka... sudah tewas,' pikir GD yang mengerti akan isyarat sensasi yang baru saja dia rasakan.
TRAK
GD melepaskan pedangnya. Kemudian namja bermata kuning itu mengangkat wajahnya, menatap langit hitam dengan wajah sendu. GD menghela napas panjang masih dengan memperhatikan sang langit.
'Jika mereka bertiga sudah dikalahkan... itu berarti...' GD menundukkan kepalanya dan menatap sebuah kalung sederhana dengan huruf S&J diujungnya yang berarti Seung Hyun dan Ji Yong.
'Hanya akulah pilar terakhirnya sekarang... Menurutmu, apa yang harus aku lakukan... Seung Hyun hyung?' batin GD sambil menerawang.
Flash Back
"Aku pulang," ucap Ji Yong kecil yang berusia 10 tahun sembari masuk kedalam rumah kecil miliknya. Rumahnya yang berukuran 6x7 meter itu dulu hanya dihuni oleh tiga orang saja. Dia, hyungnya Seung Hyun dan eommanya yang terbaring sakit keras dikamarnya. Appanya pergi meninggalkan eommanya yang terbaring lemah dua tahun lalu, hanya untuk wanita lain.
Bukan hanya itu, dia membuang mereka bertiga karena alasan sudah tidak kuat lagi hidup menderita dengan mereka. Selain itu, keluarga appanya juga tidak ada sama sekali yang peduli dengan kehidupan mereka. Sedangkan keluarga eomma, dia tidak memilik keluarga dan hidup sebatang kara sebelum appa menikahinya. Dan kini, saat ini hanya dia dan hyungya yang menempati rumah tersebut.
Ji Yong terlonjak kaget saat hyungnya yang lebih tua dua tahun darinya kini tengah berdiri dengan melipat kedua tangannya didada. Dia pikir hyungnya masih bekerja dan belum pulang saat ini. Wajahnya terlihat jelas bahwa dia kini tengah marah padanya dan dia tahu alasan kenapa hyungnya marah.
"Kenapa wajahmu babak belur lagi... Ji Yong?" tanya Seung Hyun pada Ji Yong dengan nada tidak bersahabat.
Ji Yong memalingkan wajahnya, tidak mau menatap wajah hyungnya yang tengah marah. Dirinya memang kini tengah dalam keadaan yang tidak baik. Wajahnya banyak luka lebam dan memar karena dia habis berkelahi. Bajunya yang rapi sebelumnya jadi acak-acakkan dan robek disana-sini. Ji Yong masih enggan berbicara pada hyungnya sehingga hal itu membuat suasana begitu sunyi.
Seung Hyun menghela napasnya melihat tingkah laku adiknya itu. Dia kemudian berjalan mendekat padanya, membuat Ji Yong sedikit kaget dan berusaha mundur karena takut.
GREP
Seung Hyun memeluk adik tercintanya dengan lembut. Hal itu membuat Ji Yong membeku dan menatap wajah hyungnya yang sedikit lebih tinggi darinya. Seung Hyun masih belum melepas pelukannya dan Ji Yong pun menyamankan kepalanya didada hyungnya. Dan itulah yang akan mereka lakukan jika mereka tengah dalam kondisi yang buruk.
Pelukan kasih sayang akan selalu Seung Hyun berikan pada Ji Yong jika Ji Yong terkena masalah. Ji Yong tidak bisa berbuat apa-apa pada hyungnya jika dia memang terbukti salah. Bisanya Ji Yong akan langsung memintaa maaf dan berjani tidak akan mengulanginya lagi. Tetapi ini beda, ini adalah ketiga kalinya Ji Yong berkelahi dan Ji Yong tidak tahu bagaimana perasaan hyungnya saat ini. Mereka untuk beberapa saat masih berpelukan yang entah apa makna dari pelukan tersebut.
Setelahnya, Seung Hyun melepas pelukannya dan menatap lurus Ji Yong.
"Katakan pada hyung, kenapa kau berkelahi lagi Yongie?" tanya Seung Hyun yang kali ini menggunakan nada lembut pada Ji Yong. Tangannya mengelus beberapa luka lebam dan memar di wajah Ji Yong. Dan untuk sesaat Ji Yong merasakan kenyamanan dan kehangatan saat hyungnya menyentuh wajahnya.
Ji Yong menggigit bibir bawahnya antara ingin bercerita atau tidak dengan hyungnya itu. Namun, saat melihat pandangan kakaknya yang mengisyaratkan dia untuk berbicara maka Ji Yong pun terpaksa mengatakannya.
"Aku berkelahi dengan Taeyang dan temannya... Itu karena... Dia bilang... Keluarga kita miskin, terbuang, pengemis dan dia juga menghina hyung... Maka dari itu... A-aku tidak bisa menahan emosiku hyung. Ma-"
GREP
Seung Hyun langsung memeluk adiknya tiba-tiba dengan sangat erat. Ji Yong bisa merasakan bahunya terasa hangat dan basah, itu berarti kini kakaknya tengah menangis entah karena apa? Hal itu juga membuat dirinya tidak bisa menahan diri, matanya mulai memanas dan mulai berkaca-kaca.
"Jangan dengarkan mereka Ji Yongie. Kau harus bisa menahan emosimu dan tetap tegar. Jangan terpancing oleh ucapan mereka, jangan melawan api dengan api. Dan hyung mohon dengan sangat, jangan berkelahi lagi," ucap Seung Hyun pada Ji Yong disela isakkannya.
"Melihatmu terluka seperti ini membuat hyung terluka juga. Hanya kau satu-satunya orang yang hyung punya di dunia ini. Bagaimana jika kau terluka parah dan pada akhirnya pergi meninggalkan hyung sendirian? Hyung tidak bisa hidup seperti itu, hyung tidak akan bisa bertahan." Seung Hyun melepaskan pelukannya dan kembali menatap wajah adiknya yang basah karena air mata sama seperti dirinya.
"Hyung hidup karena dirimu. Hyung hidup untukmu dan kau adalah alasan hyung untuk tetap hidup. Jika tidak, hyung pasti sudah menyusul eomma sekarang," lanjut Seung Hyun dengan air mata yang makin deras membasahi pipinya.
Ji Yong tercengang mendengar ucapan hyungnya. Dia tidak tahu jika dia begitu berharga bagi Seung Hyun hyung dan dia menyesal karena telah membuat hyungnya sedih. Ji Yong menganggukkan kepalanya pelan dan memeluk hyungnya erat, menangis dalam pelukan hyungnya.
"Hyung menyanyangimu, sangat menyayangimu Ji Yongie. Jadi hyung mohon, jangan tinggalkan hyung sendirian didunia ini." Bisik Seung Hyun ditelinga Ji Yong yang mengangguk dan tangisan Ji Yong pun makin kencang.
Setelah kejadian itu, Ji Yong menjadi lebih tegar dan sabar menghadapi olokkan teman-temannya. Dia sudah berjanji pada hyungnya agar menjadi orang yang kuat dari cacian orang lain, sama seperti hyungnya. Dan Ji Yong sangat bahagia saat Seung Hyun selalu memuji dirinya karena hal itu. Sebagai hadiah, Seung Hyun memberikan Ji Yong sebuah kalung bertuliskan S&J dan tentu saja Ji Yong sangat senang mendapatkannya.
Tapi tetap saja, Ji Yong masih merasa bersalah dan sedikit kesal pada hyungnya. Bagaimana bisa Ji Yong hanya diam saja dan hyungnya bekerja keras diluar sana hanya untuk bisa memberinya makan dan juga kebutuhan lainnya.
Ji Yong pernah membujuk hyungnya agar dia ikut bekerja sepertinya. Walau hanya sebagai pengamen jalanan dan penjual koran, Ji Yong tentu dengan senang hati akan melakukannya. Tapi Seung Hyun tetap bersikeras menolak permintaan adiknya. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Ji Yong disaat dia bekerja mencari uang nanti. Seung Hyun takut Ji Yong akan terluka, karena jalanan bukanlah tempat yang aman bagi adiknya.
Sempat terjadi pertengkaran hebat saat itu. Saat dimana Ji Yong bersikeras ingin membantu hyungnya bekerja dan diam-diam Ji Yong melakukan pekerjaan yang sama dengan hyungnya. Ji Yong tertangkap basah saat itu oleh Seung Hyun dan membuat dirinya di kunci didalam rumah selama tiga hari. Dan mereka tidak saling berbicara satu sama lain dalam beberapa hari meski begitu Ji Yong masih tetap nakal bekerja tanpa sepengetahuan hyungnya.
-oOo-
Ji Yong tersenyum lebar melihat uang hasil jerih payahnya hari itu. Jumlahnya cukup banyak dan Ji Yong sudah bertekad untuk memberi hyungnya sebuah hadiah sebagai permintaan maaf. Dan Ji Yong juga berjanji bahwa hari itu adalah hari terakhirnya dia bekerja. Senyum lebarnya terus tertampang begitu Ji Yong membayangkan bagaimana reaksi Seung Hyun akan hal ini.
Ji Yong baru saja membeli sebuah sepatu diseberang jalan dengan uang tersebut. Tidak mahal harganya namun sepatu itu sangat bagus dan cocok untuk hyungnya. Sepatu milik hyungnya yang sekarang sudah rusak dan kusam, maka dari itu Ji Yong membelikannya sepatu baru.
Diperjalanan pulang, Ji Yong selalu menatap sepatu tersebut dan tersenyum membayangkan reaksi hyungnya. Hal itu membuat dirinya tidak sadar bahwa sebuah mobil melaju kencang dengan ugal-ugalan menuju dirinya. Dan ketika Ji Yong memalingkan wajahnya, mobil itu sudah sangat dekat dengan dirinya.
CKIT
BRAK
Ji Yong terjatuh dengan tubuhnya yang menimpa aspal jalanan. Sepatu yang dibelikan untuk hyungnya pun hampir terlepas dari genggamannya. Dan mobil yang hampir menabrak dirinya sudah kabur melarikan diri.
Ji Yong berdiri dan sedikit merintih karena telapak tangannya terluka. Ji Yong sangat terkejut begitu mendapati orang-orang yang tengah mengerumuni sesuatu dan entah kenapa perasaannya menjadi sangat tidak enak. Ji Yong menelan ludahnya takut dan dengan langkah ragu dia mulai berjalan menuju kerumunan yang tidak jauh darinya itu.
Ji Yong menerobos paksa kerumunan massa itu hanya untuk melihat seseorang tengah terbaring dengan darah merah disekitar tubuhnya.
DUK
Genggaman tangan Ji Yong terlepas begitu saja, membuat sepatu yang dia genggam terjatuh ke aspal jalanan. Tubuhnya terasa lemas dan mati rasa saat dia melihat siapa orang tersebut. Tidak lain dan tidak bukan orang yang tengah terbaring itu adalah Seung Hyun, hyungnya.
Tubuh Ji Yong bergetar hebat dan matanya mulai berkaca-kaca tanpa dikomando dia langsung berlari menuju tubuh hyungnya yang terbaring itu. Ji Yong duduk disamping hyungnya yang ternyata masih hidup, hanya saja napasnya tidak teratur dan darah yang keluar dari bekas lukanya makin banyak. Kepalanya juga terdapat sebuah luka berat yang membuat darah terus mengalir keluar dari sana. Matanya tertutup, namun dia terlihat tengah berusaha membuka matanya.
Ji Yong ingat. Saat dia akan tertabrak mobil itu, dia merasa tubuhnya seperti terdorong oleh sesuatu dan dia pikir bahwa itu adalah mobil tersebut. Tapi ternyata, itu adalah hyungnya yang mendorong tubuhnya dan membuat hyungnyalah yang tertabrak mobil tersebut. Entah dari mana hyungnya tiba-tiba datang menolongnya, Ji Yong tidak tahu sama sekali.
Ji Yong mulai menangis dan menatap sekelilingnya.
"SIAPA SAJA! AKU MOHON TOLONG KAKAKKU. SIAPA SAJA AKU MOHON hiks hiks!" teriak Ji Yong pada orang-orang disana sembari terisak. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mau memberi pertolongan, mereka hanya berbisik-bisik. Jika mereka menolong maka mereka diharuskan membayar biaya rumah sakit yang tidak sedikit harganya. Maka dari itu tidak ada satu pun yang berniat menolong mereka berdua terutama Seung Hyun yang kini tengah kritis.
Tangisan Ji Yong makin keras saat tidak ada satu orang pun yang mau menolong hyungnya. Namun, tangisan Ji Yong mulai memelan begitu merasakan sentuhan ditangannya. Ji Yong mengalihkan pandangannya pada sentuhan ditangannya. Ternyata itu adalah tangan Seung Hyun yang memegangnya, walau ada beberapa bercak darah menempel Ji Yong tidak peduli akan hal itu.
Ji Yong membalas uluran tangan Seung Hyun dengan lembut. Kedua tangannya kini memegang tangan kiri Seung Hyun yang sedikit berlumuran darah. Air mata tidak henti-hentinya keluar dari manik mata Ji Yong. Sebuah perasaan takut menelusup dalam hatinya, dia takut Seung Hyun akan meninggalkannya. Ji Yong tidak ingin hyungnya pergi meninggalkannya sendiri, dia ingin meminta maaf karena semua ini salahnya.
"Yo-Yongie... haahhh... ja-jangan menangis lagi..." ucap Seung Hyun dengan susah payah. Matanya perlahan terbuka dan menampilkan manik mata kecoklatan miliknya yang sama dengan adiknya Ji Yong. Seung Hyun menatap pilu adiknya yang masih menangis disampingnya, tangisannya makin keras saat di mulai berbicara pada Ji Yong.
"Hiks jangan tinggalkan aku hiks jangan tinggalkan aku hyung... Aku mohon..." tangisan Ji Yong makin tidak terkendali, dia bahkan tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya. Persetan dengan mereka semua, mereka bahkan tidak mau membantunya.
Seung Hyun menggelengkan kepalanya pelan.
"A-aku tidak akan meninggalkanmu... Yo-Yongie, tidak akan pernah bahkan sekalipun haahhh," napas Seung Hyun mulai memendek dan hal itu membuat Ji Yong makin ketakutan. Melihat itu mengingatkannya pada ha dan kejadian yang sama saat dia melihat eommanya untuk yang terakhir kalinya.
"Maafkan aku hyung hiks ini semua salahku... Jika saja aku menurut padamu untuk hiks tidak bekerja maka hiks maka hiks," Ji Yong tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan hanya bisa menangis makin keras. Dia hanya bisa menatap sang kakak dengan memasang wajah menyesal dan amat sangat bersalah.
"Ini bukan salahmu... Haahhh ini salahku karena kerasa kepala melarangmu... Maafkan hyung Yongie, hyung minta maaf." Air mata mulai turun dari sudut mata Seung Hyun.
"Hyung sangat menyayangimu Yongie... Kumohon jangan membenci hyung," Seung Hyun tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir turun. Disisi lain tangisan Ji Yong makin pecah mendengar ucapan hyungnya, ditambah entah kenapa hatinya begitu sakit dan perih melihat ekspressi hyungnya.
"Aku tidak akan membenci hyung... Jadi kumohon... Jangan tinggalkan aku. Hyung bilang hyung tidak bisa hidup tanpa aku dan hyung bilang hyung hidup untukku hiks jika hyung pergi aku harus bagaimana?"
Seung Hyun tersenyum dan dengan sekuat tenaga menaikkan tangan kanannya yang digenggam oleh Ji Yong menuju wajah adiknya yang basah karena air mata. Jari tangan Seung Hyun mengusap pelan pipi Ji Yong dan Ji Yong kembali menggenggam tangan hyungnya yang menempel dipipinya.
"Kau harus tetap hidup untuk hyung Yongie... Jadilah seseorang yang berguna bagi orang lain dan bantulah orang-orang yang membutuhkan bantuan seperti kita dan atau siapapun itu... Kelak kau akan menemukan kebahagian setelahnya Yongie." Ji Yong hanya terdiam mendengar ucapan atau mungkin permintaan hyungnya.
"Kau adalah adikku... Dan aku yakin kau bisa tanpaku..." Seung Hyun mulai menangis kembali.
"Hiks adikku tersayang... Aku benar-benar tidak ingin berpisah denganmu hiks," Seung Hyun menangis dengan kencang begitu dia merasakan hidupnya tidak lama lagi. Ji Yong menggigit bibir bawahnya mendengar ucapanya hyungnya.
"Hyung... Hiks," Tangisan Seung Hyun mulai memelan begitu melihat wajah sedih adiknya. Tidak seharusnya tadi dia berkata seperti itu. Tapi dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Ji Yong, dia masih ingin bersamanya dan melindunginya. Mata Seung Hyun kemudian melirik sesuatu dibelakang Ji Yong.
"Sepatu itu..." Seung Hyun menatap sebuah sepatu yang tergeletak dibelakang Ji Yong.
"Kau membelikannya untukku?" tanya Seung Hyun dan Ji Yong mengangguk pelan.
"Terima kasih... Hyung sangat senang..." Seung Hyun tersenyum hangat pada Ji Yong.
"Tapi maafkan hyung, hyung tidak bisa memakainya hiks. Aku menyayangimu Yongie..." ucap Seung Hyun sembari sebelum akhirnya tubuhnya perlahan mati rasa dan napasnya makin sesak.
Setelah kematian Seung Hyun yang membuat Ji Yong shock dan trauma. Hidup Ji Yong menjadi kacau balau, terlebih ketika dia mengingat sang kakak. Hanya rasa sakit dan sesak akan kesalahannya yang menguap dihatinya dan Ji Yong tidak bisa menahan rasa itu lebih lama.
Ji Yong melupakan masa lalu dan traumanya. Sebelum akhirnya dia bertemu dengan Soo Man yang mengubah hidupnya dari awal menjadi seperti sekarang ini. Dan namanya pun berganti dengan titel G-Dragon atau disingkat menjadi GD.
Flash Back End
GD mulai menangis mengingat masa lalu yang ingin dilupakannya, membuat Xiumin dan Tao yang melihatnya terkejut melihat musuh mereka tengah menangis. GD membalikkan badannya, memunggungi Xiumin dan Tao yang masih menatapnya heran. Mata GD yang tertutup perlahan terbuka, dan alangkah terkejutnya matanya kembali berwarna coklat seperti semula.
"Pergilah," ucap GD setelah beberapa saat terjadi keheningan disana.
"Semua sudah berakhir... Jadi alangkah baiknya kalian pergi dari tempat ini. Selain itu, kau yang memiliki anjing putih besar." Xiumin tersentak karena merasa dialah orang yang GD maksud.
"Kembalilah padanya sekarang sebelum kau tidak bisa bertemu dengannya lagi." Xiumin membulatkan matanya mendengar ucapan GD. Bukannya dia tidak paham, tapi Xiumin paham betul apa maksud ucapan GD. Tapi kenapa? Memang apa yang akan terjadi pada Baek-Gu?
"Kenapa?" tanya Xiumin tidak mengerti.
"Kenapa kau yang musuh kami dan hampir membunuh kami malah membantu kami sekarang?" lanjut Xiumin.
"Itu karena aku memiliki janji yang belum aku tepati." Balas GD yang mulai kembali menerawang.
'Jadilah seseorang yang berguna bagi orang lain dan bantulah orang-orang yang membutuhkan bantuan seperti kita dan atau siapapun itu... Kelak kau akan menemukan kebahagian setelahnya Yongie.' Kata-kata terakhir Seung Hyun terngiang dalam kepalanya.
"Dan jika kalian ingin pergi dari pulau ini. Masuklah kedalam Los Plagas menuju lorong rahasia diantara pintu sebuah kamar dan tangga dilantai dasar. Kalian akan menemukan jalan menuju pantai di belakang Los Plagos dan ada sebuah perahu yang bisa kalian pakai disana." ucap GD yang kemudian berlalu pergi dari sana, meninggalkan Xiumin dan Tao yang hanya bisa memandang punggungnya.
"Tunggu!" teriak Tao yang membuat GD menghentikan langkahnya.
"Terima kasih... atas bantuanmu," lanjut Tao yang membuat GD tersenyum.
'Hyung... bukankah aku sudah melakukan permintaan terakhirmu sekarang? Aku ingin bertemu denganmu secepatnya hyung,' ucap GD dalam hati sebelum kembali melangkah.
TBC
Huwaaaaa akhirnya selesai juga chap 23. Makasih buat reviewers baru dan reviewers setia ff ini #hug&kiss :D
Bagi yang nanya sampai berapa chap ini tamat, kemungkinan 26 atau 27an yah
Mian author gak bisa balas review kalian untuk yang kesekian kalinya#jedotin kepala
Thanks For :
needtexotic, KaiSooEXOShipper, tiikaaa, Byun Lalla Chan EXOtics, honey chan, Kim Eun Eri, HunHan's wife, KecoaLaut, JaeRyeoCloudnia, lynnaelfsiwonest, Shin Min Hwa, christina, ury, Brigitta Bukan Brigittiw, Raichi Chan, Qhia503, No Name, ceekuchiki, golden13, Kan Rin Min, awlia, Tania3424, Park EunRa JewELFishy, Arista Estiningt, Guest, ICE14, Choi Min Gi, Kim Jae So Zhang Jae So, siti maryam, lana, BabySuLayDo, Riszaaa, sung jiwoo, Melodyatlantick, ClorophylPanda, prmsanta, Lana, hungrybirds, CrayonThat XX, Hami, tiptipany, dinodeer, StepiiiN, TarysihineEXO, ay cloud, kia, anaknyahunhan, renren2198, miparkland, apin, springyeol.
