A Gift © Soulless-Fariz

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Friendship

Rated : T+

Warning : AU, OOC (dikit), Typo(s), ABALness, GAJEness, alur maksa/kecepetan/kelambatan, dll yang tak bisa disebutkan :D


~0~

...Seperti sebuah sinar cahaya yang merambat di pagi hari di ufuk timur.

Cahayamu selalu menghangatkan tubuhku yang dingin bagai es di kutub ini.

Tak pernah lelah menyinariku setiap pagi, memberi semangat untuk memulai hari.

Kisahmu takkan pernah redup oleh kegelapan, cahaya hati abadi yang akan selalu menemaniku...

~0~


Hujan di pagi itu tidak terlalu deras, Hinata melihat keluar jendelanya, melihat setiap tetes hujan yang turun melalui kaca jendelanya. Sesekali ia menghembuskan nafasnya di jendela kaca itu agar terbentuk sebuah embun, lalu ia tuliskan sebuah kata. Hawanya dingin, walau penghangat ruangan disana sudah terpasang dan menyala. Ruangan yang sedang ia tempati adalah kamar tidurnya, bertemakan warna ungu gelap yang dihiasi boneka-boneka lucu di atas tempat tidurnya. diatas rak pun juga tertata berbagai macam buku novel, maklum jika Hinata dulu memang hobi membaca novel, tak luput juga berbagai koleksi foto yang tergantung di dinding-dinding kamarnya, fotonya bersama teman-temannya, keluarga, dan yang paling spesial adalah fotonya bersama Naruto. 'Tak ada kehangatan yang lebih hangat darimu' hatinya berkata, tentu saja yang ia maksud adalah Naruto. Lalu sesaat kemudian sepasang bola mata amethys-nya tertuju pada seseorang yang berjalan di depan rumahnya, tertutup payung bulat berwarna merah yang diputar-putar. Orang itu berhenti tepat di depan gerbang rumahnya, membunyikan bel rumah.

Dengan sigap Hinata turun untuk membukakan pintu, karena disana tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Hiashi, ayah Hinata sedang berada di luar kota karena urusan mendadak tentang pekerjaan mereka, ibunya pun juga ikut menemani. Hanabi yang selaku adik Hinata juga sedang repot dengan proses masuk kuliahnya di sebuah Universitas nomer dua terbaik, ia mengambil jurusan kedokteran. Sedangkan Neji, kakak Hinata, sedang sibuk bekerja di sebuah perusahaan di luar negeri. Jadi, sendirianlah Hinata di rumah, sepi.

KREEK!

Sebuah kenop pintu yang berbentuk bulat dengan bahan dasar marmer itu diputar, terasa cukup dingin terkena efek hujan diluar, pintu yang berukuran cukup besar itu terbuka, sedikit demi sedikit suara deru hujan dari luar masuk kedalam melalui celah-celah pintu yang terbuka. Karena hujan, suara pintu tidak terdengar, Hinata melihat seseorang yang membelakanginya, sepertinya dia kenal.

"Uhm, siapa ya?" Hinata bertanya kikuk, mencari arah untuk memperhatikan orang itu. Lalu dia menurunkan payung-nya yang basah, ternyata dia adalah Naruto. Hinata sempat kaget, 'kenapa dia kesini?' dalam hatinya.

"Hai Hinata, kukira kamu sudah melupakanku," cengiran Naruto yang khas kembali muncul. Hening sejenak menyelimuti, mereka hanya saling pandang, tak sepatah kata pun yang keluar memecah keheningan deru hujan yang terdengar sangat keras itu. Naruto melambaikan tangannya didepan wajah Hinata, tersadar dari lamunannya.

"Eh." Hinata salting, bingung, wajahnya bersemu merah.

"Kalau boleh bertanya, biasakah aku masuk? Di luar sini dingin sekali." tanya Naruto yang sudah terlihat kedinginan, dengan reflek Hinata mempersilahkan Naruto masuk ke dalam rumahnya, terlihat begitu klasik, masih sama seperti terakhir Naruto kemari. Perlu diketahui, Keluarga Hyuuga sangat mengagumi hal-hal yang berbau klasik, jadi hal itu wajar saja. Naruto terlihat sedikit kagum, 'tidak berubah sama sekali' batinnya sambil tersenyum.

Langkah mereka terhenti di sebuah ruang tamu yang cukup besar, disana terdapat tiga sofa besar dengan meja di tengah-tengah, sebuah televisi berukuran besar pun juga ada disana, lengkap, mungkin terlalu lengkap untuk sebuah ruang tamu. Di meja itu terdapat sebuah vas bunga yang tidak besar, berisi dua tangkai bunga mawar putih yang masih terlihat segar, mawar putih adalah bunga favorit Hinata. Tak luput juga sebuah rak buku kecil berisi novel dan majalah terpapar disana.

"A-aku akan membuat minuman dulu, Naruto bisa duduk disana." ujar Hinata canggung seraya pergi kearah dapur, langkah kakinya terlihat lebih cepat. Naruto hanya mengangguk sambil terus memperhatikan ruangan, karena kebiasaan lamanya yang kembali, Naruto berjalan-jalan sendiri, bukan malah duduk di ruang tamu itu.

Hingga langkah kaki Naruto terhenti di sebuah pintu di lantai atas, papan bertuliskan 'HINATA's ROOM' ada di depan pintu itu. Naruto kembali mengingat-ingat, nostalgia dengan pemandangan yang sudah lama tak ia jumpai. Karena kamar itu tidak dikunci, Naruto pun masuk kedalam tanpa menghiraukan apapun. Lancang, mungkin, namun itulah kebiasaan Naruto, suka nyelonong sendiri. Kamar yang Naruto masuki tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil pula, warna ungu mendominasi ruangan itu yang disertai corak warna lavender di langit-langit dinding. Berbagai foto terjajar menghiasi dinding kamar itu, keluarga, teman, dan tak terlewat fotonya bersama dengan Hinata juga ada disitu, momen-momen saat mereka bahagia. Senyum simpul kembali menghiasi sudut-sudut bibirnya. Naruto memperhatikan sebuah foto diantara foto-foto yang lain, dimana ada dirinya dengan Hinata yang sedang berada di sebuah marcusuar, Hinata membawa sebuah mawar putih.

'Andaikan saja waktu itu aku tidak pergi...' dalam hati Naruto berbicara seperti itu. Mungkin dia menyesal dengan kepergiannya sepuluh tahun lalu.


.

-0-

FLASHBACK

-0-

.

"A-aku mau dibawa kemana?" tanya Hinata cemas, "Kenapa mataku di tutupin pakai kain?" tangan kanannya memegangi penutup kain yang menutupi matanya, jalannya terseret-seret, menimbulak sebuah suara.

"Sudah ikut saja, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu, Hinata!" jawab Naruto semangat yang diikuti sebuah cengiran.

Naruto dengan erat menggenggam tangan Hinata, berhati-hati melangkahkan kaki mereka, banyak rerumputan disana. Ilalang juga menghiasi pemandangan.

"Hampir sampai kok, Hinata." Naruto memberitahu Hinata, namun tetap saja hati Hinata tidak tenang.

Mereka tiba di sebuah padang rumput, terlihat marcusuar disana, nampaknya tempat itulah yang Naruto tuju.

Tak berapa lama, mereka tiba. Dengan perlahan Naruto membuka kain penutup mata Hinata, sorot cahaya di senja itu menghiasi pemandangan di langit berwarna oranye pada sore hari itu, banyak kupu-kupu dan capung yang lalu lalang di padang rumput itu. Hinata mengedarkan pandangannya ke seluruh padang rumput yang terhampar luas itu, tidak jauh dari sana ada pantai, ombak nya tidak terlalu kencang, saat itu bukan periode untuk pasang. Hinata terkagum-kagum dengan pemandangan disana, ia berlari menuju pantai, menarik tangan Naruto yang tadinya masih memegang kain punutup berwarna hitam itu.

"Ini sangat indah, Naruto!" ujar Hinata terkagum, "Tempat ini benar-benar mengagumkan!" Hinata berlarian kesana kemari, Naruto hanya bisa melihatnya se ceria itu, mungkin ini adalah hari yang sangat istimewa untuk Hinata. Samar-samar Naruto teringat sesuatu hal kecil, apa itu?

"Hinata!" panggil Naruto sambil melambaikan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sedang membawa sesuatu, disembunyikan di balik punggungnya, mungkin Naruto mau memberi kejutan untuk Hinata. Hinata pun menghentikan kekagumannya, berjalan mendekat kearah Naruto yang sedang berdiri tersenyum. Setelah jarak mereka hanya tersisa satu meter, Naruto dengan pelan memegang tangan kanan Hinata, wajahnya bersemu merah, sedangkan tangan kiri Naruto siap-siap menunjukkan sesuatu yang berada di balik punggungnya, "Aku punya satu permintaan..." sejenak jeda pada kalimat Naruto, keduanya saling bertatap pandang, seolah berbicara lewat mata mereka, "...tutup kedua matamu sebentar." lanjutnya, Hinata menutup kedua matanya, perlahan.

Naruto melepas genggaman tangannya, dia pun menyiapkan sebuah kotak pada tangan kirinya serta setangkai bunga mawar putih pada tangan kanannya. Ia mendekatkan wajahnya kepada Hinata, berbisik. Hinata bisa merasakan setiap hembusan nafas Naruto di telinga kirinya.

"Mungkin aku bukan yang terbaik sebagai sahabatmu, namun aku tahu apa yang bisa membuatmu bahagia," bisik Naruto perlahan, wajah Hinata semakin memerah, ia mengangguk kecil tersenyum simpul, "Selamat ulang tahun yang ke dua belas, Hinata. Kini buka kedua matamu." lanjutnya. Sebuah mawar putih dan sebuah kotak berada didepan wajah Hinata, Naruto nyengir, Hinata memeluk Naruto, menangis bahagia.

"Kau bodoh, Naruto, kau tahu itu..." ucapnya disela tangisan, "...dan kau adalah sahabat terbaikku, kau tahu itu!" Naruto hanya tersenyum mendengarnya, mengelus-elus rambut indigo yang lembut bagai sutra itu.

"Sekarang hentikan tangisanmu, kamu terlihat jelek jika sedang menangis," ledek Naruto yang melepas pelukannya, menghapus air mata bahagia itu, "Sekarang, bukalah hadiah ini." ucapnya setelah menghapus air mata Hinata, menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas bergaris berwarna ungu.

Secara perlahan dia buka hadiah itu, sebuah kalung berbentuk huruf N berwarna emas. Hinata tersenyum memandang kalung itu.

"Aku berikan kalung ini, agar kamu bisa ingat selalu denganku, walau kelak suatu saat aku akan berada jauh darimu. Aku juga membeli kalung untuk diriku sendiri, berbentuk huruf H, tanda agar aku juga bisa ingat denganmu setiap saat." jelas Naruto panjang sambil memperlihatkan kalung berbentuk huruf H yang berada di dalam kaos hem bergaris kotak, tergantung di leher Naruto.

"Aku mengerti, Naruto. Mana mungkin aku bisa melupakan sahabatku?" tawa kecil Hinata menghiasi kalimatnya barusan. Lalu Naruto mengambil sesuatu dari saku celananya, sebuah kamera digital berwarna biru.

"Sekarang ayo kita abadikan momen ini dengan berfoto!" ucap Naruto semangat seraya mengambil sebuah tripod kecil yang tidak jauh dari sana, ia membawanya tadi.

"Kamu ini, kemana-mana selalu membawa kamera!" celoteh Hinata yang sekarang mengambil sebuah spot di dekat pantai, marcusuar tadi menjadi latar belakangnya. Setelah siap, Naruto men-timer kameranya dan segeralah dia mengambil posisi di samping Hinata.

CKRIK~!

Marcusuar itu menjadi latar yang sangat indah, ditambah lagi dengan langitnya memberi sebuah siluet pada marcusuar itu, langitnya pun juga sangat indah, berwarna oranye menyala, sepertinya, langitnya juga sedang bahagia, seperti yang dirasakan Hinata.

Hari itu adalah tanggal dua puluh tujuh Desember 2003, tepat pada dua belas tahun usia Hinata.

.

-0-

FLASHBACK END

-0-

.


Naruto kembali mengedarkan pandang ke seluruh ruangan itu, terlihat sangat nyaman sekali. Banyak novel yang berjejer di rak buku di sebelah kasur Hinata, ia ingat jika Hinata sangat suka menulis dan membaca novel, ia ambil salah satu novel yang ada disana, sebuah novel yang pernah ia berikan pada Hinata, masih tersimpan disana. Ia bolak-balikkan novel yang sedang ia pegang, 'masih bagus' batinnya.

"Naruto?" sebuah suara dari pintu kamar Hinata terdengar, rupanya Hinata baru saja tiba disana, sambil membawa secangkir teh hangat, harumnya sangat khas, bau melati. Naruto menoleh, salting sendiri karena telah ketahuan berada di kamar Hinata.

"Eh, umm, ano, a-aku bisa menjelaskan ini padamu Hinata!" ucap Naruto sambil nyengir, ia taruh novel yang sedang ia pegang di belakang punggungnya, tangannya yang satu lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Tidak apa-apa, Naruto." Hinata menggeleng kecil sambil menaruh secangkir teh itu diatas sebuah meja belajar di dekat pintu.

"Eh?"

"Kamu kan sahabatku, jadi tak apa kamu masuk ke kamarku, lagipula kamu dulu juga sering masuk ke kamarku tanpa meminta izin terlebih dahulu!" ucap Hinata tersenyum, sedikit menahan tawa pada akhir kalimatnya, "Ini, minum dulu teh yang baru aku buatkan." Hinata berlalu ke meja tempat ia menaruh teh dan duduk, disana ada sebuah laptop berwarna putih yang tidak terlalu besar, ia buka dan ia nyalakan.

Naruto berjalan mengambil kursi lain dan menaruhnya disebelah kursi yang ditempati Hinata, lalu mengambil teh dan meminumnya, "Sangat persis dengan yang ibumu buat." ujar Naruto sambil manggut-manggut.

"Aku belajar itu dari ibuku." Hinata mengambil kacamata yang tergeletak di belakang laptopnya, lalu memakainya.

Sesaat setelah booting laptopnya, terpampang sebuah wallpaper, foto Hinata bersama Naruto, tiba-tiba Naruto tersedak minumannya saat melihat foto itu pada wallpaper Hinata.

"Kau tak apa, Naruto?" tanya Hinata khawatir, tangannya secara reflek memegang lengan Naruto, namun segera ia lepaskan setelah mendapat anggukan kecil dari Naruto, ia taruh teh itu ke meja tadi.

"Aku tak apa, hanya terkejut melihat wallpaper-mu..." Naruto menyenderkan bahunya di kursi, "...itu kan foto saat ulangtahun-mu ke dua belas. Lagipula kamu juga masih jelek saat itu." ledek Naruto diikuti tawanya.

Hinata cemberut, "Itu karena aku tak punya foto kita berdua yang paling baru!"

"Oh."

"Oh?"

"Jelas saja kamu nggak punya, kita kan baru aja bertemu. Sebenarnya sih aku mau ngajak kamu ke bukit itu lagi, berfoto, lalu..." Naruto menggantungkan kalimatnya.

"Lalu?" Hinata penasaran.

"Lalu aku mau kita menggali kapsul waktu yang sepuluh tahun lalu kamu kubur disana." jelas Naruto tiba-tiba, Hinata teringat tentang kapsul waktu itu.

"Oh iya! Aku sampai lupa tentang kapsul waktu itu!" Hinata menepuk dahinya tanda jika ia lupa.

"Uh-uh," Naruto menggelengkan kepala, mengambil teh yang masih tersisa setengah gelas dan menyeruputnya, "Lagipula sekarang masih hujan, kita masih punya banyak waktu untuk dihabiskan disini sambil menunggu hujan reda." Naruto kembali menaruh cangkir teh itu. Saat itu juga wajah Hinata menjadi sedikit merona merah.

'masih punya banyak waktu untuk dihabiskan disini?' dalam hati Hinata bertanya apa maksud Naruto itu.

Hinata menutup-buka folder yang ada di dalam laptopnya, mencari sesuatu.

"Kamu sedang mencari apa?"

"Uh, aku sekarang masih dalam tahap menulis novel. Kukira kamu bisa memberiku ide tentang kelanjutan novel yang aku buat." jawab Hinata mencari folder dalam laptopnya, entah itu ekspresi cuek atau salting.

"Novel?" Naruto kembali bertanya lagi.

"Iya, aku sekarang menjadi novelis." ucap Hinata malu-malu.

Naruto menganga, "No-novelis?" terbata-bata ia mengucapkan kalimat itu, "Bukankah itu adalah cita-citamu sejak kecil?"

"Benar!" jawab Hinata singkat sambil tersenyum bangga, "Umm, kudengar kamu sekarang juga sudah menjadi seorang fotografer?" Hinata bertanya balik pada Naruto.

"Kamu tahu darimana?"

"Aku melihat banyak hasil jepretan di dalam blog-mu, nampaknya banyak yang suka tentang blog-mu itu," ucap Hinata, "Nah ketemu!" sebuah folder yang bernamakan 'A Gift' ia buka, disana ada banyak folder tulisannya dari chapter satu hingga Chapter empat puluh sembilan, dan kini Hinata bingung dengan ending yang akan dia buat seperti apa. Naruto yang melihat sekilas hanya bisa terkagum-kagum dengan tulisan Hinata.

"Ini semua kamu sendiri yang menulis?"

Hinata mengangguk, "Sekarang aku beri tahu garis besar tentang novel ini, lalu berikan sebuah ide tentang ending-nya, aku sangat bingung tentang bagaimana ending novel ini."

"Baiklah, kamu sangat tepat memilihku tentang hal seperti ini!" ucap Naruto semangat, lalu Hinata menjelaskan tentang novelnya.


~0~

...Ungkapan hati inilah yang tidak bisa keluar dari hatiku.

Tentang perasaan sebenarnya yang aku rasakan padamu.

Namun aku tidak pernah sanggup mengungkapkannya pada dirimu.

Dirimu yang begitu sempurna dimataku, yang tak sanggup kumiliki...

~0~


"Jadi begitu!" jelas Naruto panjang lebar, kedua tangannya mencak-mencak seperti dosen yang sedang mengajar mahasiswanya.

"Aku mengerti..." Hinata manggut-manggut sambil melihat keluar jendela, "...eh hujannya sudah reda!"

Naruto menoleh kearah jendela, benar hujan sudah reda. "Jadi?" Naruto bertanya sambil kembali menatap Hinata yang sedang mengenakan kacamata, 'kamu kelihatan lucu memakai kacamata'.

"Uhm, jadi..." Hinata bingung, mencoba mengalihkan pandang namun kedua bola mata sapphire berwarna biru itu terus mengejar amethys milik Hinata, hingga ia dengan pasrah menatap sepasang bola sapphire yang berada sekitar 30 cm di depannya. Suasana hening kembali mendatangi mereka berdua, tak sepatah katapun terucap dari bibir kedua orang yang sedang saling bertatapan itu.

Dengan lembut tangan Naruto menyentuh pipi Hinata, lagi. Hinata menutup kedua amethys-nya, jantungnya berdetak lebih kencang daripada sebelumnya, semakin cepat, rona merah terpancar dari wajahnya. Hanya Naruto yang suka menyentuh pipi Hinata seperti itu, walau sudah terbiasa, momen kali ini Hinata rasakan sangat berbeda, terasa aneh, dan romantis.

Naruto perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.

25 cm.

20 cm.

15 cm.

10 cm.

5 cm.

Naruto menarik tangan yang sedang berada di pipi Hinata, lalu menyentuh dagu Hinata, "Ayo kita pergi ke bukit" Hinata membuka matanya, bisa ia liat wajah Naruto yang hampir tak memiliki jarak di depan wajahnya yang merah padam itu, dan ia menarik kursinya selangkah kebelakang dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Naruto tertawa melihat ekspresi Hinata seperti itu.

"Itu tidak lucu Naruto!" suara cemberut Hinata terdengar dari balik kedua tangan yang menutupi wajahnya, Naruto mengacak-acak poni Hinata.

"Haha, sekarang cepatlah mandi dan kita akan pergi ke bukit, aku akan menunggumu di ruang tamu..." Naruto berdiri, "Aku pinjam laptop-mu sebentar." mengambil laptop itu dan beranjak keluar dari kamar menuju ruang tamu.

Hinata masih terdiam disana sambil menutup wajahnya, rona merah masih terlihat di wajahnya, jantungnya masih berdegup kencang seperti tadi, mungkin sedikit malu. Lalu tangannya perlahan membuka wajahnya, meletakkan tangan kiri di depan dadanya, terdiam sebentar, 'perasaan apa ini? Kenapa aku selalu gugup dalam keadaan seperti itu?' bantinnya. Tak lama kemudian Hinata bergegas ke kamar mandi.


~0~

...Aku selalu tak mampu mengungkapkan perasaan ini kepadamu.

Mungkinkah ini adalah cinta? Yang selalu mereka bicarakan?

Apakah hanya aku yang merasakan cinta itu kepadamu?

Menunggumu seperti layaknya menunggu keputusan yang tak pasti...

~0~


To Be Continued ~


A/N : lagi blank nih mo nulis kayak apa :D jadi maaf ya kalo pendek, buat review nya terima kasih, untuk selanjutnya, review anda menentukan update chapter selanjutnya :) makin banyak makin cepet ;) arigatou ~