A Gift © Soulless-Fariz
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rated : T+
Warning : AU, OOC (dikit), Typo(s), ABALness, GAJEness, alur maksa/kecepetan/kelambatan, dll yang tak bisa disebutkan :D
~0~
...Kedatanganmu selalu membuatku bertanya-tanya.
Apakah kamu orang yang hatiku selalu bicarakan tentang cinta?
Cinta yang tak jelas keberadaanya di hatiku.
Sebuah penantian panjang yang tak ada batas akhir waktu...
~0~
Siang itu, Hinata dan Naruto berjalan menuju bukit, bukan siang yang cukup panas karena hujan baru saja reda. Hinata terlihat begitu cantik mengenakan blus berwarna kuning dengan blazer berwarna ungu tua bergaris putih vertikal, jeans panjang berwarna biru muda pun juga ia kenakan. Hinata kali ini memakai kacamatanya, hal yang tak biasa ia lakukan.
Seperti biasa, Naruto berjalan diatas pagar pembatas trotoar sambil menaruh kedua tangannya dibelakang kepala, memandang langit yang masih berwarna abu-abu mendung. Rintik-rintik hujan juga masih berjatuhan, kadang menetes di dahi Naruto, lalu mengelapnya dengan tangan. Hinata kadang juga mencuri-curi pandang kearah Naruto, tanpa sepengetahuannya tentu saja.
Hinata teringat kemarin saat di depan cafe, saat Naruto ingin mengatakan sesuatu kepada Hinata, namun karena suatu hal, maka ia tidak sempat mengatakannya. 'Hubungan apa yang kamu maksud, Naruto?' wajah Hinata tiba-tiba murung, tidak seperti tadi yang terlihat tersenyum. Naruto yang melihat Hinata pun langsung turun dari pembatas, berjalan sejajar disamping Hinata, memasang wajah penuh tanya.
"Ka-kamu kenapa, Hinata?" Naruto memandang wajah Hinata yang murung itu, semakin khawatir.
"..." tidak ada respon dari Hinata, lamunan itu sedang mengambil alih dirinya.
Naruto melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Hinata, "Hinata?"
"Eh?" Hinata tersadar dari lamunan singkatnya itu, wajahnya sedikit memerah mengetahui Naruto sudah berada didekatnya.
"Kamu sakit?"
"Tidak!" Hinata menggeleng cepat, Naruto memegang dahi Hinata dengan tangannya.
"Tidak panas kok!" Naruto juga meyakinkan diri jika Hinata tidak sakit, "Tapi kenapa wajahmu tiba-tiba murung begitu?"
"A-aku..."
"...kamu kenapa?"
"Aku juga tidak tahu." Hinata kembali memalingkan wajahnya kearah lain, hatinya sedang kalut saat ini.
"Eh?" Naruto tambah bingung dengan Hinata, "Kamu ini,-"
"-sudahlah, aku tidak apa-apa kok, Naruto!" Hinata mencoba memasang ekspresi gembira dihadapan Naruto, walau Naruto tahu jika itu adalah ekspresi palsu, terlalu dipaksakan. Naruto tahu jika ada sesuatu yang tidak beres dengan Hinata.
"Hei," Naruto menahan lengan Hinata, langkah mereka terhenti di tengah jalan, "Kamu nggak perlu menyembunyikan sesuatu dari aku, kamu bisa cerita ke aku." wajah Naruto nampak serius kali ini, pegangannya pun terasa lebih erat.
"Aku serius, Naruto. Aku tak apa." Hinata tersenyum, melepaskan pegangan Naruto yang sedang memegangi lengannya. Senyuman itu adalah senyuman yang bisa meluluhkan hati Naruto, senyuman tulus, bukan dipaksakan seperti tadi.
"Baiklah." mereka berjalan lagi, seperti tak ada kejadian sebelumnya, Naruto kembali berjalan diatas pagar pembatas trotoar.
'Maafkan aku Naruto, aku hanya tak ingin kau menjadi orang lain jika aku mengatakan hal itu kepadamu.' batinnya terus berbicara seperti itu, hatinya makin kalut, kacau tak tahu arah kemana ia akan bertindak. Hening menghampiri mereka lagi untuk sejenak.
"Jadi, kemana dulu kita akan pergi?" akhirnya Naruto membuka suara, menoleh kearah Hinata yang sedari tadi berjalan sambil menunduk, "Bagaimana kalau kita pergi ke kedai-yang-telah-menjadi-cafe itu?" tanya Naruto meminta pendapat. Hinata menoleh dan berfikir sebentar. Lalu dia menyetujuinya dengan sebuah anggukan kecil. Senyum simpul muncul di sudut-sudut bibirnya yang mungil itu, Naruto selalu tahu bagaimana cara untuk membuat Hinata senang.
~0~
...Aku selalu menunggu keajaiban datang dari Tuhan.
Menanti sebuah pernyataan paradoks yang mungkin tidak akan kau ucapkan.
Reflek hatiku selalu bertanya-tanya padamu saat ku bermimpi.
Akankah aku akan menjadi orang yang mengisi sisa hidupmu? Akankah...
~0~
Walaupun bukan siang yang panas, es krim tetap akan menjadi santapan yang lezat. Bayangkan kamu bisa memesan sebuah es krim jumbo dengan aneka rasa, ditambah lagi dengan wafer stick yang menambah kenikmatan. Itulah mengapa kedai-yang-sekarang-menjadi-cafe itu adalah tempat favorit Naruto dan Hinata, terlebih lagi dengan Kakek yang ramah itu, Kakek Jiraiya.
"Jadi, ini tempatnya?" tanya Naruto pada Hinata, melihat cafe yang berada didepannya dengan ekspresi cengok, "Ini kelihatannya bukan milik Kakek Jiraiya?!" Naruto mencak-mencak melihat cafe itu, dia yakin bahwa apa yang ia lihat sekarang bukan apa yang ia percayai.
"Tenang dulu, Naruto..." Hinata berusaha menenangkan Naruto yang mencak-mencak tidak karuan disebelahnya, "...kita bisa tanya dulu."
"O-oke." Hinata kemudian berjalan masuk kearah cafe itu, lain dengan Naruto yang duduk di sebuah kursi.
Tak berapa lama, Hinata kembali, membawa secarik kertas bertuliskan sesuatu, "Jadi?" Naruto bertanya.
"Ternyata aku salah mendapatkan informasi, cafe ini bukanlah kedai yang dulu milik Kakek Jiraiya." jelas Hinata yang baru saja menghentikan langkah didepan Naruto, "Tapi aku mendapatkan ini." Hinata menunjukkan secarik kertas yang ia tadi dapatkan saat di dalam cafe itu.
"Uh? Apa itu?" Hinata menyodorkan kertas itu kepada Hinata, dia baca, "Sebuah alamat?" Hinata kemudian mengangguk.
"Kurasa itu adalah tempat kedai Kakek Jiraiya berada." Naruto kemudian manggut-manggut.
"Kalau begitu..." Naruto berdiri dari tempat dia duduk, "...ayo kita kesana."
"Err, kamu yakin, Naruto?" tanya Hinata meyakinkan, "Alamat ini kan lumayan jauh dari sini."
Naruto kemudian memasang ekspresi yakin, "Untukmu, Hinata. Jika perlu aku akan mengarungi samudera hanya untuk bisa membuatmu tersenyum!" gombalan lain dari Naruto keluar, Hinata tersenyum tanpa sepengetahuan dirinya, menyembuhkan sedikit rasa sakit dihatinya, mungkin itu sebuah kata-kata sulap.
"Kata-katamu itu, sama seperti dua belas tahun lalu." senyum Hinata masih tersisa di wajahnya, senyum indah yang Naruto harapkan tidak akan pudar dari dirinya, sebuah senyum tulus dengan penuh rasa sayang didalamnya.
"Hehe," Naruto nyengir gaje di hadapan Hinata, "Kalau ke alamat ini, mungkin sekitar dua jam dari sini, kalau jalannya lancar mungkin lebih cepat." Naruto kembali memandangi kertas yang ia pegang itu, ia tahu tempat yang akan mereka tuju, walau tidak sepenuhnya yakin.
"Kamu tahu tempat itu?" Hinata bertanya lagi.
"Sedikit, aku pernah lewat disana."
"Uh, lalu kita naik apa kesana?"
"Bus saja." ucap Naruto seraya berjalan ke sebuah halte yang tak jauh dari sana, Hinata pun mengikuti dari belakang.
~0~
...Hanya pada dirimulah aku bisa menunjukkan sifatku.
Sifat asliku, dan begitu juga dengan sifatmu, sifat aslimu.
Aku tak perduli tentang kemunafikan orang tentang kita berdua.
Aku hanya perduli tentang bagaimana aku sekarang denganmu...
~0~
Seperti kata Naruto, tidak sampai dua jam mereka sampai ke daerah yang mereka tuju, daerah yang jauh dari perkotaan, lebih tepatnya di daerah pinggiran. Masih banyak terlihat bangunan-bangunan kuno asli Jepang berada disana, serasa seperti kembali ke beberapa dekade sebelumnya. Udaranya sangat segar, sangat sejuk, terjejer pula pepohonan di pinggir jalan sangat rapi, meneduhkan jalanan yang mereka lewati disana. Banyak juga terlihat bunga-bunga di sepanjang jalan yang mereka lihat, bagaimana masih ada daerah seperti ini disini? Mereka sangat terkagum-kagum.
Tak berapa lama mereka berjalan, terlihat sebuah kedai di sudut perempatan yang terlihat ramai dengan pembeli, memang kedai itu sejak dulu banyak diminati oleh banyak orang. Naruto dan Hinata berjalan santai mendekati kedai itu, kedai itu masih terlihat sama seperti terakhir Naruto melihatnya, kokoh dan selalu rapi. Kakek Jiraiya terlihat sedang melayani para pembeli itu dengan sangat ramah, karena Kakek Jiraiya sudah terbiasa, jadi ia sangat cekatan melayani satu per satu para pembeli dengan sangat cepat.
Tak berapa lama, para pembeli itu sudah habis, hanya tersisa Naruto dan Hinata yang masih berdiri disitu.
"Ee, Kakek Jiraiya?" Naruto mendekati perlahan tempat dimana Kakek Jiraiya terduduk.
Kakek Jiraiya pun sedikit terkejut, ia tidak pernah bisa melupakan wajah yang ada didepannya semenjak sepuluh tahun lalu, "Naruto?" Kakek Jiraiya lantas berdiri dan memegang pundak Naruto, "Kau terlihat sudah besar!" Naruto pun nyengir sambil memegangi rambutnya.
"Hehe, iya Kek! Sudah sepuluh tahun!" Naruto sangat bersemangat dengan Kakek Jiraiya, karena sudah lama tidak bertemu.
"Apa kabar, Kakek?" Hinata membuka senyumnya, Kakek Jiraiya langsung mengalihkan pandangannya dari Naruto.
"Hinata?" Kakek Jiraiya mengingat-ingat wajah perempuan yang ada didepannya, namun dengan cepat ia teringat, "Kemana saja kalian tidak pernah muncul? Sini duduk dulu, Kakek buatkan es krim kesukaan kalian." Kakek Jiraiya langsung mengambil sebuah kursi dan menempatkannya di sisi kedai, lalu pergi membuatkan es krim untuk Naruto dan Hinata.
"Wah, ternyata Kakek Jiraiya masih ingat, ya?" Naruto tersenyum saat melihat Kakek Jiraiya, ternyata Kakek itu masih ingat dengannya walau sudah sepuluh tahun lamanya.
"Iya!" Hinata pun ikut-ikutan memasang wajah bersemangat seperti Naruto, seketika perasaannya yang tadi hilang, mood-nya berubah secara drastis.
Kemudian datanglah seorang perempuan, Anko namanya, cucu Kakek Jiraiya yang ikut membantunya saat liburan seperti sekarang ini. Naruto pun terkesima melihat Anko, cantik. Usianya mungkin masih sekitar sembilan belas tahun-an, dulu Naruto beberapa kali bertemu dengan Anko saat membantu Kakek Jiraiya. Hinata yang melihat Anko pun merasa sedikit 'cemburu' dengannya karena mengalihkan perhatian Naruto.
"A-anko?" Naruto bertanya padanya ketika Anko menaruh dua gelas es krim jumbo penuh rasa itu. Anko pun tersenyum, masih sama seperti dulu.
"Apa kabar, Naruto, Hinata? Lama tidak bertemu." ucapnya setelah menaruh gelas es krim itu, lalu mengambil kursi dan duduk disana dengan mereka berdua.
"Wah, kamu sekarang sudah besar ya!" Naruto tersenyum melihat Anko, dia perhatikan dari atas hingga bawah
"I-iya!" Anko terlihat bersemangat dengan mereka berdua, walaupun Hinata hanya diam sembari memakan es krim nya. Lalu Kakek Jiraiya pun ikut bergabung dengan mereka, kedainya sudah terlihat sepi karena sekarang sudah mulai sore, jadi Kakek Jiraiya bisa bersantai.
Mereka bercerita tentang karirnya, tentang bagaimana Kakek Jiraiya bisa berada disini, tentang bagaimana Naruto sekarang bisa menjadi fotografer profesional, tentang bagaimana Hinata menjadi seorang novelis amatir, lalu tentang bagaimana Anko sekarang kuliah kedokteran dengan hobi sampingannya menjadi seorang model sebuah majalah, walaupun masih terbilang cukup muda, Anko mempunyai kharisma dan bentuk tubuh yang sangat bagus.
Karena Naruto adalah seorang fotografer dan Anko adalah seorang model, mereka bisa nyambung ngobrol tentang fotografi, tentang bagaimana Anko adalah seorang photogenic. Naruto dan Anko lantas pergi ke belakang kedai, disana mereka berfoto-foto, karena juga pemandangannya juga sangat indah disitu. rimbun pepohonan dengan berbagai jenis bunga dan kupu-kupu ada disana.
Sedangkan Hinata hanya bisa melihat Naruto dan Anko dari balik jendela kertas kedai, ia mencoba tenang walau rasa cemburu memenuhi hatinya. Kakek Jiraiya hanya memperhatikan Hinata di depan kursi tempat ia duduk, Kakek Jiraiya mengerti apa yang Hinata sedang rasakan hanya dengan melihat mimik wajah Hinata yang terlihat tidak riang.
"Ini tentang Naruto, ya?" Kakek Jiraiya membuka obrolan. Hinata yang sedari tadi melamun melihat Naruto dan Anko pun kaget mendengar kata-kata itu, bagaimana Kakek bisa tahu?
"Eh?"
"Ini tentang Naruto, kamu mencintainya, 'kan?" Kakek Jiraiya melanjutkan lagi, "Ini normal jika kamu merasa seperti itu."
Hinata hanya terdiam mendengar ucapan Kakek Jiraiya, hatinya bertanya-tanya, apa jawaban yang harus ia berikan tentang pertanyaan itu. Lalu Hinata memutuskan untuk hanya mengangguk saja, lalu kembali memainkan es krim yang tersisa pada gelasnya, memutar-mutar dengan sendoknya.
"Apa dia belum mengetahuinya?" Kakek Jiraiya lanjut bertanya, mereka-reka tentang hal yang sedang dialami Hinata.
Hinata menggeleng lagi, "Belum, Kek. Aku tidak berani mengatakannya. Aku takut..." suara Hinata terdengar lirih di akhir kalimatnya yang menggantung, Kakek Jiraiya lalu melanjutkan kata-katanya.
"Takut dengan apa?"
"Aku takut jika nantinya Naruto akan berubah..." Hinata menghela nafasnya, "...dan aku juga bingung bagaimana untuk mengungkapkan perasaan yang terus mengganjal seperti ini. Rasanya sakit."
Kakek Jiraiya mengerti tentang hal itu, meskipun Kakek Jiraiya sudah mengerti dengan lika-liku perjalanan cinta seperti kisahnya dengan Tsunade, dulu ia pernah mengalami hal yang sama seperti Hinata. Namun karena keberanian Kakek Jiraiya, ia pun berani mengungkapkan perasaannya.
"Biarkan berjalan apa adanya." Hinata kemudian menatap Kakek Jiraiya yang ada dihadapannya dengan penuh tanya, "Kalau dia juga mencintaimu, dia juga akan mengungkapkan perasaannya kepadamu, hanya saja, jangan selalu berfikir negatif. Karena jika seorang lelaki telah memutuskan untuk mencintai seseorang, dia akan tetap terus mengejarnya cintanya itu." jelas Kakek Jiraiya.
"Tapi Naruto terlihat mencintaiku seperti sahabat ketimbang seperti kekasih." Hinata mengeluh lagi, ia sedikit belum mengerti tentang masalah yang dihadapinya.
"Seorang laki-laki akan terus berusaha menjaga orang yang dicintainya dengan caranya sendiri, dia juga akan mencintai orang yang ia cintai dengan caranya, walaupun terkadang caranya itu tidak bisa dicerna oleh logika." jelas lagi Kakek Jiraiya, kali ini Hinata sedikit mengerti, namun masih ada banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
'Apakah Naruto juga seperti itu?' Hinata bertanya pada dirinya sendiri, apakah Naruto adalah seorang yang mencintainya sebagai kekasih? Ataukah hanya sebagai sahabat? Hinata terus berfikir tentang dua hari yang akan dia lewati dengan Naruto, Naruto selalu berusaha membuat dirinya bahagia, sebagai kekasih atau sebagai sahabat? Beribu-ribu pertanyaan terus muncul dalam fikirannya.
"Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan, jalani saja," Kakek Jiraiya berbicara lagi, "Namun jika kamu masih belum yakin, yakinkan dirimu dengan suatu cara."
"Seperti?" Hinata memiringkan wajahnya.
"Seperti berhenti memberi kabar atau berhenti menemuinya untuk beberapa saat, jika dia mencintaimu, dia akan mencarimu," Kakek Jiraiya menghentikan kalimatnya sebentar, berfikir sejenak, "Sibukkan dengan pekerjaan sehingga kamu lupa dengannya."
'Bagaimana aku bisa melupakannya untuk sejenak jika Naruto muncul dikepalaku terus?' batinnya semakin tidak tenang, pikirannya bingung harus berbuat apa.
"Yang penting, jalani saja dulu," Kakek Jiraiya tersenyum sambil memegang pundak Hinata, lalu Kakek Jiraiya melihat jam, "Wah sudah sore, aku harus menutup kedai." Lalu dia pun beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Hinata seorang diri disana.
'Yang penting, jalani saja dulu.' kata-kata Kakek Jiraiya barusan masih muncul dalam benak Hinata.
"Anko! Bantu Kakek disini." Panggilan itu lantas membuat Anko yang tadinya masih asyik dengan Naruto menghentikan kegiatannya, lalu membantu Kakeknya. Sedangkan Naruto kembali ditempat dimana Hinata duduk sendirian.
"Mau menggantikan Anko menjadi model sementara?" Naruto menawarkan untuk berfoto, namun Hinata menggeleng, "Baiklah." Lalu Naruto duduk di kursi dimana ia duduk tadi, disebelah Hinata. Naruto hanya bisa melihat Hinata yang sedang memainkan handphone-nya.
Tapi tak beberapa lama Hinata mulai membuka mulutnya untuk berbicara, mereka berbicara hingga Kakek Jiraiya dan Anko pulang, walaupun kedainya tutup, Naruto dan Hinata masih mengobrol didepan kedai, duduk disana, hingga akhirnya hujan kembali mengguyur bumi. Hingga malam menjelang mereka menunggu hujan reda.
Mereka berdua berjalan kembali ke halte dimana bus mengantar mereka tadi, hari itu sudah malam, sekitar jam delapan.
"Kenapa tadi harus turun hujan lagi sih." keluh Hinata yang berjalan sejajar dengan Naruto, Naruto pun menoleh kearahnya.
"Mungkin Tuhan masih menginginkan kita untuk bersama lebih lama lagi!" ucap Naruto sambil meraih tangan Naruto, menggenggamnya dan mengangkatnya, menunjukkan jika mereka masih bisa bersama untuk lebih lama lagi, Hinata hanya menurut sambil merona sedikit, tak terlewat juga senyum kembali muncul di bibirnya.
"Umm, Naruto." panggil Hinata lirih, namun masih bisa didengar oleh Naruto yang sedang memandangi langit, bintang-bintang terlihat begitu banyak malam itu.
"Hmm?" Naruto menoleh, mengalihkan pandangannya dari langit yang sedang ia tatap barusan.
"Aku masih berfikir..." Hinata menggantungkan akhir kalimatnya, ragu-ragu untuk melanjutkannya, sambil berfikir, ia kemudian menatap langit yang Naruto lihat tadi, bintangnya memang banyak.
Naruto memiringkan kepalanya, bingung, "Berfikir tentang apa, Hime?" Suaranya sedikit canggung pada akhir pertanyaannya, baru pertama kali ini Naruto memanggil Hinata dengan sebutan Hime, "Tidak apa kan kalau kamu kupanggil Hime?" Naruto bertanya lagi untuk memastikan agar tidak canggung jika ia mau memanggil Hinata dengan sebutan Hime lagi. Hinata mengangguk sambil terus berfikir.
"Te-tentang kata-katamu kemarin." Hinata berbasa-basi sambil terus berfikir, apa yang akan dia katakan pada Naruto? Dada Hinata akan semakin sesak jika perasaannya tidak segera ia ungkapkan.
"Uh? Yang bagian mana?" Naruto mengingat-ingat perkataannya kemarin, bagian mana yang dia maksud?
"Pada bagian tepat sebelum teman-temanmu memanggil."
Naruto berhenti sejenak sambil mengingat-ingat, tertinggal beberapa langkah dibelakang Hinata, lalu berjalan lagi mengejar beberapa langkahnya yang tertinggal oleh Hinata, "Oh itu." jawaban Naruto sangat singkat, perasaan Hinata semakin bingung.
"L-lalu? Apa yang ingin kamu tanyakan kemarin?" Hinata bertanya sekali lagi, memastikan agar ia akan mendapatkan jawaban yang bisa sedikit membuat hatinya reda.
"Hmm, itu. Aku juga sedang berfikir." Naruto sendiri juga bingung tentang pertanyaannya kemarin, ternyata Hinata masih ingat tentang kata-katanya itu.
"Be-berfikir tentang apa, Naruto?"
"Err," Naruto menaruh kedua tangannya di belakang kepala, berusaha bersikap biasa, walau sebenarnya dia sendiri juga bingung, "Pernahkah Hime berfikir tentang hubungan kita..." Naruto menarik nafas dalam, bersiap untuk kata-katanya selanjutnya, "...lebih dari ini?" jantung Naruto berdetak tidak beraturan.
"Seperti?" Hinata juga merasakan jantungnya berdetak tidak beraturan, apa yang sedang dia pikirkan sama persis dengan apa yang Naruto pikirkan, 'apakah dia mencintaiku sebagai kekasih?'
"Seperti sepasang kekasih, mungkin?" nadanya canggung, namun tidak terdengar suatu keraguan dalam kalimatnya, mata Hinata kini telah mengawasi dirinya, walau Naruto sendiri masih tetap memandang langit. Ungkapan perasaan itu sangatlah tidak mudah bagi Naruto, juga bagi Hinata.
"Ke-kekasih?" Hinata berhenti berjalan, terus mengulang-ulang kata-kata yang barusan dikatakan Naruto dalam pikirannya, apakah ini takdir?
"Ya, mungkin saja, aku hanya berfikir, bukan memintamu."
Hinata berfikir sejenak, mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk mengungkapka perasaannya pada Naruto, namun dia masih sedikit ragu, "A-aku juga terkadang berfikir seperti itu, Naruto." Hinata kembali menghentikan langkah kakinya. Berfikir tentang dirinya dan Naruto, apa yang akan terjadi pada mereka berdua?
"Lalu?"
"Aku hanya saja takut jika kamu nantinya akan berubah, tidak seperti ini lagi."
Naruto berhenti dan membalik badannya, melihat Hinata yang sedang tertunduk seperti itu, tangannya saling bertautan seperti kebiasaannya, "Aku juga tidak ingin dirimu berubah karena itu..." Naruto berjalan menghampiri Hinata yang berada beberapa langkah didepannya, memegang kedua pundak Hinata dengan sangat lembut, "...dan aku tahu, kamu adalah sahabat terbaikku!" lalu tangan Naruto turun memegang kedua tangan Hinata.
"Aku bingung, Naruto." Hinata kembali menatap bola mata sapphire yang berada didepannya. Naruto memeluk tubuh mungil dan dingin Hinata dengan perlahan, aura hangat menyelubungi tubuh Hinata, sebenarnya ia tak ingin melepaskan pelukan itu, namun pelukan itu hanya berlangsung sesaat. Sangat cepat.
"Aku tahu, Hinata," ia pegang kembali tangan Hinata, lalu berjalan lagi, "Aku pikir sebaiknya kita lupakan saja kejadian ini."
"Aku juga berpikir seperti itu."
"Hmm. Aku rasa kita harus menunggu bus datang." ucap Naruto ketika ia melihat halte yang dituju sudah terlihat, seolah sudah melupakan kejadian yang baru terjadi itu.
Ketika sampai disana, Hinata dan Naruto duduk menunggu disitu. Mereka menunggu hingga satu jam.
"Ini sudah jam sembilan lebih." Naruto mulai bingung, bus yang mereka tunggu belum juga datang.
"Aku mengantuk, Naruto." mata Hinata acap kali tertutup, walau sudah ia mencoba untuk membuka, rasa kantuk itu lebih hebat daripada keinginannya untuk membuka mata.
"Tidurlah di bahuku, Hime!" kemudian Naruto membaringkan kepala Hinata secara perlahan di bahunya, tangannya juga melingkar di bahu Hinata, agar terasa hangat, karena hawanya pada saat itu sangat dingin.
Nyaman Hinata rasakan saat bersandar di bahu Naruto, setiap kehangatan ia rasakan walau ia sedang tertidur disana. Hawa dingin sudah menghilang dari tubuhnya, rasa hangat itu mengalahkan rasa dingin yang menusuk tulang.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit.
Waktu berlalu sangat cepat, Naruto terus memandangi Hinata yang sedang tertidur dibahunya. Dia terus bertanya pada dirinya, sahabat atau kekasih? Dua pilihan itu sangat sulit baginya, terlebih dia sudah sangat mengenal Hinata, pertemuan yang baru terjadi dua hari ini membuat Naruto gelisah, perasaan tidak bisa dibohongi, bukan? Itulah yang Naruto rasakan.
Perlahan ia dekatkan wajahnya ke wajah Hinata, memutus jarak yang tadinya sudah dekat menjadi sangat dekat lagi, sebuah kecupan pun tercipta. Bibir Naruto mengecup bibir Hinata dengan pelan, walau Hinata tidak menyadarinya, mungkin dia akan menyadarinya dalam mimpi tidurnya, dan akan menjadi rahasia pribadi Naruto yang tidak akan ia katakan kepada Hinata.
Tidak lama bibir mereka bertemu, bukan sebuah kecupan dengan hasrat, namun sebuah kecupan kasih sayang yang tulus. Tak lama kemudian, bus yang mereka nantikan telah datang.
~0~
...Biarkan saja menjadi rahasia kita berdua, walau kau tidak tahu.
Sebuah rahasia yang akan selalu aku simpan dan ingat dalam memori.
Sebuah kenangan berharga yang akan selalu ku kenang setiap saat.
Hingga pada saat memoriku terhapus dan ingatanku hilang...
~0~
To Be Continued ~
A/N : Wah, baru sempet ngelanjutin, author lagi asik belajar ngedit foto ^^v buat review nya yang sudah, arigatou ~ buat yang terakhir mungkin rada awkward yah -.- soalnya cuma itu ide standar kebawah yang ada di otak author sekarang author XD harus mikir gimana kedepannya ini fict :D
