A Gift © Soulless-Fariz
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rated : T+
Warning : AU, OOC (dikit), Typo(s), ABALness, GAJEness, alur maksa/kecepetan/kelambatan, dll yang tak bisa disebutkan :D
~0~
...Sebuah kata yang sulit terucap ini akan selalu menjadi misteri
Misteri yang selalu muncul di setiap langkah dan nafasku.
Cukup aku saja yang tahu, tidak untukmu, tidak untuk orang lain.
Aku akan menunggu, hingga hari dimana kau akan menyadarinya...
~0~
Naruto terbangun di kamar tidurnya, ia mengedarkan pandang, mengucek dan mengedipkan mata yang masih berlumur dengan kotoran di pinggir matanya. Ia masih terlihat mengenakan pakaiannya yang kemarin. Mungkin terlalu lelah, jadi ia langsung saja tidur selepas mengantar Hinata pulang dari perjalanannya kemarin. Macet, ditambah lagi hujan. Ia masih terdiam di tempat tidurnya, menyentuh-nyentuh bibirnya yang berwarna merah muda itu. Dia masih terdiam berfikir diatas kasurnya yang empuk itu, apakah yang dia lakukan itu benar? Dia memikirkan berbagai kemungkinan.
Tak berapa lama dia berfikir, ia menoleh kearah jam dinding yang tergantung diatas dinding yang berada didepannya, sekarang sudah jam sembilan rupanya. Dia bergegas mengambil handuk yang tergantung di kamar mandinya.
'Apakah ini benar?'
'Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?'
'Perasaan apa yang aku rasakan ini?'
Setelah mandi dia berpakaian, sebuah kaos oblong dan celana boxer, dia tidak berencana menemui Hinata hari ini, mungkin karena beberapa alasan. Dia berjalan keluar kamarnya menuju dapur untuk membuat sarapan.
"Aku lapar." Naruto memegangi perutnya yang sudah berbunyi bak sebuah acara di panggung orkestra yang sedang berjalan. Belum sampai membuka kulkas untuk mencari bahan yang ia butuhkan, perhatiannya teralihkan oleh sebuah ketukan di pintu depan.
TOK TOK TOK!
"Hah?" Naruto menoleh kearah pintu yang berada tidak jauh darinya, ketokan pintu itu terdengar lagi, kini Naruto berjalan kearah pintu berwarna coklat yang tidak terlalu besar itu, ia putar kenop pintu berbentuk bulat berwarna perak yang sudah sedikit berkarat.
CKLEK!
Sedikit demi sedikit pintu itu terbuka, perlahan sinar matahari masuk melalui sela-sela jarak pintu yang terbuka. Seorang perempuan berdiri didepan pintu, siluet cahaya matahari menghalangi Naruto melihat seseorang yang berdiri didepannya, ia hanya bisa melihat perempuan itu sedang membawa sebuah kotak berwarna hitam.
"Hai Naruto!" suara yang sangat familiar terdengar, Naruto tidak ragu dengan suara itu, suara Hinata yang sangat khas.
"H-hinata?" Naruto berusaha menutupi sinar matahari yang sangat terang dengan tangan kirinya, ternyata memang benar Hinata yang sedang dia lihat, "Kau ada disini?" Naruto bertanya lagi, ia bingung mengapa Hinata bisa ada disini.
"Ada alamat rumahmu di catatan di handphone-ku. Apa kamu sudah lupa?"
"Oh, iya," Naruto teringat saat dia menuliskan alamat rumahnya di handphone Hinata, "Jadi..." Naruto bertanya lagi memastikan mengapa Hinata disini, menggantungkan kata-kata terakhirnya tidak terlalu panjang.
"Oh itu..." Hinata mengangkat kotak hitam yang ia pegang itu, "...aku membawakanmu sarapan," Hinata tersenyum simpul, "Aku harap aku belum terlambat untuk membawakanmu sarapan karena sudah agak siang."
"Tidak-tidak-tidak, aku belum sarapan, tidak apa."
"Baguslah kalau begitu."
"Masuklah dulu, aku akan menyiapkan minuman dulu." Naruto masuk kedalam lagi, diikuti dengan Hinata yang mengedarkan pandang ketika memasuki ruangan itu, sebuah apartemen kecil yang lumayan nyaman. Ya, ini adalah apartemen, bukan rumah Naruto yang dia tempati dulu, karena rumah itu sudah terjual.
"Apartemen-mu nyaman juga." Hinata manggut-manggut sambil menaruh kotak yang ia pegang pegang daritadi, menyiapkan kotak-kotak yang ditumpuk itu. Kotak pertama berisi empat potong sandwich, kotak kedua berisi steak daging sapi dengan saus-nya, lalu kotak terakhir berisi kentang goreng.
"Umm, Hinata?" Naruto membuka isi kulkasnya, mencari-cari sesuatu, "Kamu mau minum apa?"
"Aa, susu saja."
"Seperti biasa, huh?" Naruto segera mengeluarkan sekotak susu bubuk dan satu bungkus kopi dari lemari di dekat kulkas, lalu dia ambil dua buah gelas berukuran tidak terlalu besar dari lemari lain didekatnya. Setelah itu Naruto mengambil alat pemanas air dan ditaruh diatas kompor lalu menyalakannya.
Hinata berdiri dan menuju dapur, disana dia mengambil dua buah sendok, garpu dan juga piring, memandang Naruto sebentar yang sedang sibuk dengan pekerjaannya membuat minuman, lalu kembali ke meja makan tadi. Tak lama kemudian Naruto datang dengan membawa segelas susu putih dan segelas capuccino, menaruhnya di meja lalu berjalan lagi ke depan untuk menyalakan televisi LED yang berukuran tidak terlalu besar, lalu akhirnya dia kembali duduk di kursi di meja makan itu.
"Wah," Naruto sedikit terkejut dengan makanan yang dibawakan oleh Hinata, makanan khas eropa? Sejak kapan Hinata bisa memasak? "Sejak kapan kamu bisa memasak, Hinata?" Naruto bertanya sambil menghirup aroma makanan yang berada didepannya.
"Aku belajar memasak sewaktu aku kuliah di Oxford."
"Oh." Naruto hanya ber-oh ria dengan jawaban Hinata yang singkat itu.
Setelah itu, Naruto dan Hinata segera menyantap makanan yang ada didepan mereka dengan lahap, terutama Naruto yang sudah sangat lapar.
~0~
...Seperti sebuah mimpi, aku tak bisa terbangun dari dunia ini.
Mataku selalu terpejam tanpa kata yang mewarnai hatiku.
Walau mulut bisu ini terus mencoba untuk berbicara kepadamu.
Aku tak bisa melihat dan meraih tanganmu yang berada jauh disana...
~0~
"Wah, enak sekali!" ucap Naruto selepas menelan daging terakhir di mulutnya, lalu dia meminum capuccino yang masih tersisa seperempat gelas itu. Hinata hanya bisa tersenyum sambil sesekali tertawa kecil melihat Naruto yang mulutnya berlumuran saus daging sapi yang dia makan.
"Err, Naruto? Ada saus di bibirmu, biar aku bersihkan," tawa Hinata lalu berhenti, mengambil sebuah tisu di samping meja, perlahan dia berdiri, memajukan tubuh mungilnya kedepan meja untuk meraih Naruto yang berada di sisi lain meja, lalu membersihkan saus itu. Naruto terdiam sejenak, menatap Hinata yang sangat perhatian terhadapnya, "Nah sudah bersi..." Hinata menggantungkan kalimat terakhirnya, ikut terdiam memandang Naruto yang sedang memandangnya. Momen aneh itu terjadi sekali lagi pada mereka. Hening, hanya suara televisi yang menjadi latar suara mereka diantara keheningan.
"Eh," Naruto kemudian tersadar, momen aneh itu semakin ia rasakan dalam, semakin dalam ke hati dan perasaannya, "Aneh, haha." Naruto tertawa memaksa untuk meredakan situasi yang ia hadapi, aneh memang. Lalu Naruto dengan kaku berdiri dan membersihkan piring serta gelas, hendak ia bawa ke dapur, namun Hinata menghadang jalannya.
"Biar aku saja! Naruto ganti pakaian saja." Hinata merebut piring dan gelas yang dibawa dan membawanya ke dapur.
"Eh? Memangnya kita mau kemana?" Naruto bingung, buat apa Hinata menyuruhnya untuk ganti pakaian?
"Sudah ganti pakaian saja dulu, nanti kuberitahu." Hinata tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu menyibukkan diri dengan piring dan gelas itu.
"B-baiklah." Naruto membalikkan badannya, berjalan menuju kamarnya yang berada tidak jauh dari situ.
'Kira-kira kemana Hinata akan mengajakku?' Naruto terus berfikir, seolah setiap kata-kata Hinata menjadi tujuan hidup yang perlu ia rencanakan. Sambil mencari-cari pakaian yang tepat, Naruto menemukan sebuah kemeja bermotif kotak-kotak dengan lengan panjang berwarna putih dilemarinya, sesaat ia mau mengambil kemeja itu, namun dia urungkan, lalu dia mencari pakaian yang lebih terlihat santai. Tak berapa lama ia mengaduk-aduk lemarinya itu, ia menemukan sebuah shirt berwarna abu-abu dengan sebuah gambar lambang pion catur berwarna hitam, ia ambil dan pakai. Sebuah jaket berwarna biru muda laut seperti matanya ia kenakan.
Lalu dia kembali mencari celana. Setelah memilih, pilihannya ajatuh pada sebuah jeans tiga per empat berwarna biru dongker. Setelah menyisir rambut jabriknya itu, Naruto keluar kamar. Naruto bisa melihat Hinata sedang menonton televisi, menunggunya mungkin? Sebuah suara pintu kamarlah yang menginterupsi kegiatan Hinata, dia menoleh.
"Kamu sudah selesai rupanya."
"Iya. Memangnya kita mau kemana?"
Hinata berdiri, mematikan televisi, "Bawa juga kameramu, Naruto."
"Untuk?"
"Sudahlah bawa saja."
"Baiklah." Naruto bergegas kembali ke kamarnya, mengambil seperangkat kamera SLR yang berada dalam sebuah tas selempang yang tidak terlalu besar untuk dibawa. Ia semakin bingung, kemana? Dulu Hinata tidak pernah mengajak Naruto bermain kecuali di bukit pohon maple, itulah mengapa Naruto sedikit bingung.
~0~
...Selalu ada yang tak terduga dari dalam hati dan dirimu.
Membuatku bingung dengan setiap perkataan dan tindakanmu
Tak bisa kuungkapkan apakah yang sebenarnya terjadi antara aku dan kamu.
Hanya waktu yang dapat mengungkapkan semua rasa yang terjadi ini...
~0~
Naruto mengingat-ingat jalan yang ia lalui bersama Hinata sekarang, terasa sangat familiar, tapi ingatan itu hanya timbul dan tenggelam di memorinya. Jalanan ini menuju ke taman di pusat kota, walaupun sudah sedikit berbeda dari sepuluh tahun lalu -karena renovasi yang sering dilakukan akhir-akhir ini tentunya. Ya, Naruto ingat kalau jalan ini, melewati sebuah perpustakaan dan sebuah restoran, jalan ini menuju ke taman di pusat kota. Di taman itu selalu diadakan sebuah festival sebulan sekali, dengan berbagai tema setiap bulannya selalu menjadi daya tarik dari taman itu untuk para warganya.
Surak-surai suara ramai di taman itu sudah terdengar, walaupun masih satu blok dari sana. Banyak orang menuju taman itu, ada yang terlihat dengan keluarganya, ada juga yang terlihat dengan kekasihnya. Hampir seluruh orang di kota itu kesana, tak terelakkan lagi juga orang dari luar kota ada yang datang juga disana.
"Taman?" Naruto memandangi taman yang sudah mulai terlihat didepannya, banyak orang terlihat lalu-lalang didepan loket tiket, mulai dari anak kecil hingga manula sudah berbaris rapi didepan loket tiket itu. Mereka selalu disana untuk mendapatkan hiburan terbaiknya setiap bulan disana.
"Ya." Hinata menjawab singkat sambil memandang takjub taman itu, masih tidak berubah, sama seperti saat dia terakhir kali kesini. Tema yang diusung bulan ini adalah 'Couple Month', terpajang sangat besar di pintu masuk menuju taman. Semua orang terlihat berpakaian ala sepasang kekasih. Hinata sudah tahu, jadi dia tidak kaget dengan tema itu. Lain dengan Naruto yang terlihat sedikit terkejut.
"Uh," Naruto memandang juga papan besar itu sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya, "Couple Month?" ekspresinya saat ini terlihat sangat konyol.
"Ayo kita masuk, Naruto!" Hinata menarik lengan Naruto yang berada tepat di sebelah tangannya, sedangkan Hinata sangat bersemangat, Naruto hanya pasrah mengikuti langkah kaki Hinata disebelahnya. Ketika berada di bawah papan yang bertuliskan 'Couple Month' itu, sebuah ide terlintas di benak Naruto.
"Hinata, berdirilah disana." Naruto menunjukkan sebuah tempat di dekat pintu sambil mengeluarkan kamera-nya.
"Disini?" Hinata berdiri di tempat yang ditunjukkan Naruto, bertanya untuk memastikan pada Naruto.
"Geser ke kanan sedikit," Naruto mengarahkan Hinata yang hanya nurut padanya, "Pas!"
CKLEK~
Beberapa kali Naruto mengambil foto Hinata dengan berbagai gaya, tiba-tiba ketika seseorang lewat, sebuah ide juga terlintas di pikiran Hinata.
"Adik? Boleh minta tolong foto kami berdua?" Hinata mengambil kamera yang dipegang Hinata dan menyodorkannya kepada seorang anak muda.
"Boleh." anak itu mengambil kamera lalu berjalan sedikit menjauh untuk mengambil foto Hinata dan Naruto.
CKLEK~
Setelah acara singkat itu, Hinata dan Naruto masih harus menunggu karena antriannya yang cukup ramai itu, maklum karena festival itu hanya diadakan sebulan sekali.
Tidak sampai dua puluh menit menunggu, akhirnya mereka bisa memasuki taman itu. Dengan wahana yang sangat banyak, ditambah lagi dengan food court luas yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman jenis asia, eropa dan amerika. Karena tema yang ditampulkan kali ini adalah 'Couple Month', tidak heran jika setiap sudut yang mereka lihat, semua orang selalu berjalan berpasangan, ada yang mengenakan gaun, tuksedo dan berbagai kostum lain yang sangat menarik untuk dilihat.
Mereka berjalan melewati berbagai wahana menarik, namun tidak satupun wahana yang mereka coba. Naruto tahu jika Hinata sedang mencari sebuah wahana favorit-nya. Hinata mengedarkan sepasang bole amethys-nya pada setiap sudut wahana yang bisa ia lihat, dan itu memang benar, pandangannya tertuju pada suatu wahana yang berada di tengah taman. Wahana itu adalah wahana favorit-nya, bianglala. Dulu Hinata dan Naruto selalu menaiki bianglala ketika kemari.
"Kamu mau naik itu?" tanya Naruto kepada Hinata sambil menunjukkan jarinya kearah bianglala yang Hinata pandang.
"Iya."
"Masih sama seperti dulu rupanya." Naruto tertawa kecil, lalu menggandeng tangan Hinata berjalan menuju bianglala yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Memangnya kamu tidak?" Hinata melepaskan tangan Naruto, berjalan mundur di depan Naruto, menjulurkan lidah meledek Naruto lalu dia berlari kearah bianglala itu. Meninggalkan Naruto yang masih berjalan santai, memandangi punggung Hinata yang terlihat menjauh darinya. Tersenyum.
'Aku lega kalau kamu masih sama seperti dulu, malaikat kecil-ku.' ucap Naruto dalam hati, sambil tersenyum memandangi Hinata yang terlihat seperti anak kecil didepan loket masuk ke wahana itu.
Naruto mengambil kamera yang berada di tangannya, lalu mengambil foto Hinata dari jarak jauh disana. Wajah Hinata terlihat sangat cantik saat itu. Setelah cukup mengambil foto, Naruto berjalan menyusul Hinata disana, ia lihat Hinata melambaikan tangan, dua buah karcis terlihat di tangannya.
Naruto berlari kecil kearah Hinata, tidak terlalu jauh. Setelah sampai, mereka berdua menaiki bianglala itu.
Pemandangan dari bianglala itu sangat indah, hampir seluruh kota terlihat dari atas sana. Benar, bianglala itu sangat besar, itu yang menjadi daya tarik bagi Hinata menjadikan bianglala itu wahana favoritnya. Kembali Naruto mengambil kameranya, mereka berfoto disana.
"Pemandangannya masih sama seperti dulu, hanya sedikit berubah, namun masih tetap sama," Hinata berkata dalam pandangannya ke berbagai arah dari bianglala itu, Naruto mengangguk setuju. "Naruto..." ia memanggil Naruto yang dengan cepat menoleh kearahnya, sebelum melanjutkan kalimat, Hinata mengambil tas Naruto yang berada tergeletah disebelah Naruto, "...apa kamu membawa kamera lagi?"
"Ada, cari saja di tas ku."
Hinata membuka tas Naruto, tak terlalu sulit untuk mencari sebuah kamera saku yang berada disana, "Tidak adil jika hanya kamu saja yang mengambil foto." Hinata tersenyum simpul sambil memegang kamera saku berwarna hitam yang ia temukan di tas Naruto, menaruhnya kembali di tempat ia mengambilnya. Setelah itu Hinata mulai menyalakan kamera itu dan mengambil foto Naruto, walau sedikit kaku, Naruto ternyata bisa bergaya juga.
Bianglala yang mereka naiki saat itu tidak terlalu banyak penumpang, setelah sekitar dua puluh menit berikutnya, mereka turun dari benda raksasa itu. Mereka kembali berjalan-jalan lagi, mencoba berbagai wahana yang belum mereka coba sebelumnya. Tidak lupa juga, mereka mencoba wahana 'Lover's Cave', dimana mereka menaiki perahu berbentuk angsa memasuki sebuah goa yang gelap. Konon kisahnya, kalau ada sepasang muda-mudi yang memasuki goa itu sambil berciuman, mereka akan menjadi jodoh.
'Hell no! Aku tidak percaya dengan kisah konyol seperti itu.' Naruto membuang jauh-jauh pikiran itu dari kepalanya, dia sangat tidak percaya tentang hal-hal seperti itu. Walaupun sebagian orang yang melakukan ciuman di dalam goa itu memang menjadi jodoh, -seperti kisah milik Sasuke yang dulu pernah berciuman dengan Sakura saat kesini, dan kabarnya mereka sekarang sudah bertunangan, dan akan menikah dalam waktu dekat ini.
Mungkin Naruto berfikir kalau cerita itu sudah terlalu tua untuk seorang berumur dua puluh lima tahun seperti dia, makanya dia ragu, walaupun disepanjang jalan di goa itu, Naruto bisa dengan kapan saja mencium Hinata yang berada disebelahnya itu.
"Tidak ada apa-apa didalam sana tadi." ucap Hinata ketika turun dari perahu angsa itu, Naruto hanya sweatdrop mendengarnya, jelas saja tidak ada apa-apa, semua orang yang masuk kesana kan menggunakan waktu untuk berciuman di dalam sana, tapi beda dengan Naruto yang tidak melakukan adegan yang-menurutnya-itu-sangatlah-tidak-masuk-akal.
"Iya." Naruto hanya mengangguk setuju dengan Hinata yang merasa bosan itu. Kini jam sudah menunjukkan pukul empat sore hari, sudah empat jam ketika mereka sampai disana.
"Mungkin kita makan dulu di food court?" tawar Naruto yang sudah terlihat lapar karena kesana-kemari di taman, mencoba berbagai wahana. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Hinata setuju dengan tawaran Naruto. Lalu mereka segera pergi menuju food court yang tidak jauh dari sana.
Di tengah perjalanan, Hinata terlihat masih bosan, dia hanya memandangi langkah kakinya sendiri sambil sesekali menendang kecil batu kerikil yang dia lewati. Naruto mengerti itu, ia berfikir untuk mengajak Hinata naik bianglala lagi nanti saat matahari terbenam. Karena pemandangan saat matahari tenggelam diatas bianglala itu sangat indah, lebih indah daripada tadi siang saat mereka menaiki bianglala.
"Sudah, jangan cemberut gitu." Naruto berusaha membuat Hinata terlihat ceria lagi, namun tidak berhasil.
"Wahananya sudah tidak semenarik dulu lagi." celetuk Hinata.
"Kalau kamu masih suka dengan bianglala itu, aku bisa mengajakmu untuk naik lagi saat matahari tenggelam." tawar Naruto dengan sedikit keraguan, ragu jika Hinata juga sudah merasa kalau bianglala itu tidak menarik juga, namun keraguan itu dihilangkannya begitu cepat.
Seketika raut wajah Hinata berubah, tawaran Naruto rupanya memang tepat seperti apa yang Hinata inginkan, menginginkan kalau Naruto mengajaknya lagi naik bianglala, "Benarkah? Yey!" Hinata terlihat senang lagi.
"Tapi dengan satu syarat." Naruto mengangkat telunjuknya, sebuah isyarat.
"Apa itu?" Hinata bertanya pada Naruto, apakah syarat itu?
"Sehabis naik bianglala itu..." Naruto menunjuk kearah bianglala yang tadi mereka naiki, "...kita pulang."
"Aku kira apa." jawaban Hinata datar seperti juga wajahnya, dia mengira syarat itu adalah sesuatu yang lain.
"Haha." Naruto tertawa kecil. Food court yang mereka tuju sudah berada di depan mata.
Dengan segera Naruto memesan berbagai makanan, Hinata hanya duduk di tempat dimana ia akan makan nanti, sepertinya Naruto memang sudah merasa sangat lapar. Dengan sabar menunggu Naruto, Hinata melihat isi kamera yang tadi ia bawa untuk mengambil foto Naruto memandangi Naruto yang berada beberapa meter di dekatnya. Tidak beberapa lama setelah memesan makanan, Naruto kembali dan duduk di kursi di depan meja Hinata.
"Akhirnya bisa makan juga." Naruto terduduk lega di kursi itu, menaruh tas yang ia bawa. Mengeluarkan handphone-nya untuk mengecek sesuatu, sambil sesekali mencuri pandang kearah Hinata.
"Lihat Naruto, eskpresimu sangat konyol di foto ini." Hinata terkikik lalu menunjukkan hasil jepretannya yang memperlihatkan saat Naruto sedikit ketakutan saat berada didalam wahana rumah hantu. Naruto hanya bisa memegangi wajahnya karena malu, namun juga tertawa melihat ekspresinya sendiri.
"Lihat ini juga, Hinata!" Naruto menunjukkan foto Hinata dengan ekspresi yang tak kalah konyol dengan dia, Hinata hanya bisa menggembungkan kedua pipinya, terlihat sangat lucu.
Sepuluh menit berselang, makanan yang Naruto pesan sudah tiba. Dengan lahap Naruto memakan Spaghetti yang dia pesan, Spagetthi itu berukuran jumbo. Sedangkan Hinata hanya tertawa kecil memperhatikan Naruto makan seperti itu, memang Naruto kalau sedang lapar akan terlihat konyol saat makan.
Saat matahari menjelang tenggelam, Naruto dan Hinata baru beranjak dari food court. Berjalan menyusuri dari wahana ke wahana yang mereka lewati, tak satupun orang yang beranjak dari taman itu, keadaannya masih ramai seperti saat mereka tiba disini, bahkan tampak lebih meriah. Ada anak kecil berlarian kesana-kemari sambil membawa kembang api, pemandangannya saat itu sangat indah dimana matahari nampak akan tenggelam, momen yang selalu ditunggu oleh semua orang ditaman di akhir acara.
Tak banyak orang saat itu yang mengantri untuk naik bianglala, jadi Naruto dan Hinata mungkin bisa melihat matahari tenggelam dengan sempurna. Mereka naik, tidak berapa lama kemudian, bianglala itu mulai berputar.
"Momen inilah yang selalu ditunggu, disaat matahari tenggelam, dan kita bisa melihat matahari itu dengan sempurna saat tenggelam." Hinata berdecak kagum di balik kaca tembus pandang itu, menghadap lurus sejajar kearah matahari. Hinata tidak duduk di kursi, melainkan duduk di bawah, kedua lututnya ditekuk didepan dada, itulah kebiasaan Hinata saat melihat matahari tenggelam, momen favorit Hinata.
Naruto melihat Hinata di bawah situ ikut duduk disebelahnya, menekuk kedua lututnya seperti yang Hinata lakukan, dia pandang Hinata lekat-lekat dari dekat. Wajahnya terkena sinar matahari berwarna orange gelap, rambutnya terurai bebas disana, membuat sebuah siluet pada sisi-sisi wajahnya yang imut itu.
"Tuhan selalu membuat sesuatu yang menakjubkan di dunia ini." Hinata tersenyum lebar, pandangannya masih tidak lepas dari matahari yang semakin tenggelam.
"Tuhan juga menciptakan seorang makhluk indah yang sedang berada di sampingku." Naruto memandang Hinata yang mengalihkan pandang kearahnya, mereka saling bertatap satu sama lain. Terdiam membisu, seolah mereka berbicara hanya dengan tatapan mata. Hinata kembali mengalihkan pandangannya kearah matahari lalu menempelkan tangan kirinya di kaca itu, begitu juga Naruto yang berada disebelah kanannya menempelkan tangan kanannya di kaca, membentuk sebuah lingkaran di kaca itu.
Hening itu masih mendominasi suara diantara mereka berdua, Naruto mendekatkan wajahnya perlahan kearah Hinata yang masih terdiam, ia mengangkat tangan kirinya ke dagu Hinata, membuat Hinata memandangnya lagi dengan jarak yang sangat dekat. Perlahan jarak antara kedua wajah itu hilang,kecupan bibir Naruto mendarat tepat di bibir mungil Hinata. Hinata menutup matanya, menikmati setiap detik ciuman itu. Detak jantungnya terasa lebih cepat. Momen itu memang tidak terduga oleh Hinata, dan juga Naruto.
Sebuah suara ledakan dari kembang api mewarnai keheningan yang tercipta diantara ciuman itu, saat ini matahari sudah benar-benar tenggelam. Suara dan gelap tidak mereka hiraukan, hanya ciuman itu yang bisa menghiasi waktu mereka di dalam bianglala itu. Ciuman yang penuh hasrat dan kasih sayang.
Ciuman bibir itu cukup lama, bertahan hingga bianglala itu berhenti, menyadarkan mereka kalau waktu mereka di dalam bianglala sudah habis. Setelah keluar, terlihat banyak orang yang menyaksikan berbagai kembang api diterbangkan kearah langit, lalu meledak dengan kombinasi warna-warna indahnya.
"Eh." Naruto sedikit canggung setelah ciuman tak terduga itu, walaupun tak terduga, Hinata masih menikmati ciuman darinya dengan tidak menolak ciuman itu.
"Ada apa?" Hinata melihat Naruto yang sedikit canggung, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Pulang." jawaban Naruto sangat singkat, Hinata mengerti, itu adalah syarat yang Naruto berikan padanya tadi.
Disepanjang perjalanan, mereka pulang terlihat seperti sepasang kekasih, berbeda dengan saat mereka datang di taman itu. Memang benar apa kata Kakek Jiraiya, biarkan berjalan apa adanya. Mungkin ini adalah jawaban atas apa yang mereka berdua selalu pertanyan dalam hati mereka masing-masing tentang hubungan mereka yang tidak bisa mereka jelaskan satu sama lain.
~0~
...Hangatnya cintamu menyambut cintaku di musim gugur.
Terjawab sudah kini semua kebingungan diantara kita berdua.
Mengungkap sebuah rasa yang sudah lama kita pendam dalam hati.
Hingga pada saatnya tiba, aku akan selalu menerima cintamu...
~0~
Setelah tiba di rumah Hinata, Naruto tidak langsung pulang kerumahnya. Apa yang dia lakukan?
"Capek juga habis dari taman seharian penuh." Hinata menghempaskan tubuhnya ke kasurnya, sedangkan Naruto hanya duduk di sebelahnya, berfikir sesuatu.
"Oh iya Hinata," Naruto teringat, Hinata menoleh oleh penggilan barusan, "Aku akan membuatkanmu sesuatu." Naruto berdiri dari kasur itu, menaruh tas nya yang masih dia bawa dari tadi.
"Sesuatu?" Hinata mengangkat tubuhnya dan memiringkan kepalanya, sesuatu apa yang akan Naruto buatkan untuk Hinata?
"Kamu tunggulah disini," Naruto berjalan keluar kamar itu, "Untuk membuatmu menunggu, copy saja data foto-foto yang tadi ke dalam laptop-mu." Naruto menunjuk kearah tasnya yang berada di kasur itu sambil mengedipkan matanya.
"B-baiklah." Hinata segera berdiri dan berjalan kearah laptop yang berada di meja berdesain tahun 60-an itu, membuka laptop dan menyalakannya. Setelah beberapa saat, desktop wallpaper Hinata terlihat, ia segera mengambil sebuah kabel USB, kamera SLR dan kamera saku yang berada di dalam tas itu.
Hinata membuka sebuah aplikasi pemutar musik, memainkan berbagai lagu dari band asal Jepang yang dulu cukup terkenal, Do As Infinity, sembari menunggu proses copy sedang berlangsung. Banyak sekali foto yang mereka ambil di taman tadi. Setelah proses copy selesai, Hinata melihat foto itu satu-persatu, ada foto dimana ia berpose sendiri, foto Naruto yang terlihat konyol dan juga foto mereka berdua disana. Hinata tersenyum sendiri saat melihat foto-foto itu.
Tak berselang beberapa lama, Naruto kembali dari pekerjaannya yang membuat sesuatu untuk Hinata itu. Ia membawa sebuah piring besar dan dua buah gelas. Ternyata 'sesuatu' yang Naruto maksud tadi adalah makanan. Naruto memasak makanan untuk Hinata.
"Kamu bisa memasak?" Hinata kaget melihat Naruto membawa makanan itu, menaruh piring dan gelas disebelah laptop Hinata.
"Ya!" jawab Naruto singkat dengan sebuah semangat, "Ayo sekarang dimakan." Naruto menaruh sendok diatas piring itu.
"Itadakimasu!" ucap Hinata yang selanjutnya memakan hidangan yang berada didepannya itu.
Malam itu, Naruto menginap di rumah Hinata, karena sesaat setelah itu hujan deras kembali mengguyur Jepang yang membuat Naruto terpaksa menginap disana.
To Be Continued ~
A/N : Maaf minna-san kalau agak lama gak update *plak soal nya lagi ga sempet-sempet bikin fict, gara-gara tugas dan mau UTS ~ ini aja disempetin bikin fict :P ~ buat review sebelumnya terima kasih ^o^v maaf lagi nih ya kalo ceritanya rada garing -.- soal nya lagi blank mau mikir apaan. buat chap selanjutnya, mungkin chap ke-5 adalah chapter penutup untuk fict ini xD silahkan reviewnya :))
