A Gift © Soulless-Fariz

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Romance

Rated : T+

Warning : AU, OOC (dikit), Typo(s), ABALness, GAJEness, alur maksa/kecepetan/kelambatan, dll yang tak bisa disebutkan :D


~0~

...Bayang wajahmu selalu nampak dimataku

Sebuah bayang yang terus muncul dipikiranku

Sebuah angan yang tak bisa kuucapkan kepadamu

Perasaan yang selalu kupendam jauh-jauh dari hatiku...

~0~


Pagi itu Hinata bangun, masih terlalu pagi mungkin. Matahari pun masi menampakkan setengah wujud bulatnya yang berwarna oranye terang. Cahaya-cahayanya merembet menelusuri tanah Jepang, terlihat sangat indah jika dilihat. Hinata mengucek matanya, mengedarkan seluruh pandang ke arah seisi ruangan yang beberapa hari ini ia pandang setiap bangun tidur. Sembari mengumpulkan nyawanya dari alam bawah sadar, Hinata teringat sesuatu, Naruto.

Hinata mengambil langkah, masih sedikit gontai karena baru saja bangun tidur. Hinata pergi keluar kamar, mencari Naruto, namun tidak ada tanda-tanda kehadirannya.

"Kemana kau pergi, Naruto?" Hinata menghela nafas, lalu kembali kekamar. Ia akan mandi.

Dua puluh menit Hinata mandi, berjalan menuju kamar. Sepucuk kertas dibawah sebuah pulpen berwarna hitam menarik perhatiannya, mungkin sebuah surat yang ditinggalkan Naruto? Hinata berjalan kearah dimana kertas itu berada, di meja.

Hinata mengambil dan membaca corak tulisan yang ada di kertas itu,


Untuk Hinata,

Maaf Hinata, aku pergi tanpa baru

ingat jika ada sesuatu yang harus kukerjakan.

Oh iya, bukalah kapsul waktu kita, disana ada

sebuah kertas yang berisi sebuah pertanyaan untukmu.

Baca dan fikirkan. Jangan menghubungiku dahulu,

aku akan kerumahmu nanti untuk jawabannya.

Naruto.


'Sebuah pertanyaan?' Hinata sedikit berfikir untuk beberapa saat, pertanyaan apa yang Naruto tulis untuknya? Dia mengkalkulasi banyak kemungkinan disana, beribu-ribu, bahkan ratusan ribu mungkin. Tak lama, Hinata menaruh kertas itu di meja, dan mulai ganti pakaian.

Ia turun kebawah, menuju dapur, buat apalagi memangnya kalau tidak untuk membuat sarapan? Bahkan saat Hinata tiba di dapur pun ia terkejut, ternyata Naruto sudah menyiapkan sarapan untuknya. Naruto ternyata sangat perhatian terhadap sesuatu yang Hinata pun tidak menyadarinya, mungkin inilah kelebihan Naruto, selalu memperhatikan detail yang biasanya tidak disadari oleh banyak orang.

Sebuah Omelet dan susu.

Hinata masih berfikir bahkan saat dia menyantap sarapannya, sangat pedulikah Naruto terhadapnya? Terhadap seorang sahabat masa kecilnya yang pernah Naruto kenal hingga sekarang. Ia teringat pada kertas yang ia kantongi itu, kapsul waktu.

Mengambil sedikit waktu setelah sarapan, ia kembali ke kamar untuk mengambil sesuatu. Handphone, dompet, kaca, tas, dan perlengkapan lainnya.

Setelah selesai, Hinata pun berlalu dari rumahnya menuju bukit pohon maple.

Selama perjalanan, tidak ada hal yang begitu menarik perhatian Hinata, jalanan tidak terlalu ramai, angin sepoi-sepoi menambah perasaan nyaman. Para burung berkicau layaknya sedang berkomunikasi satu sama lain. Pagi itu terlihat seperti sebuah hari untuk Hinata.

Ia memasuki gerbang kecil menuju bukit itu, gerbang yang sudah usang dan reyot, maklum saja jika gerbang itu sejak dulu memang tidak pernah diganti. Hinata sempat terdiam sejenak, teringat dengan Naruto. Teringat dengan sebuah kejadian di masa kecilnya, disini, tepat di gerbang yang sedang ia lewati. Namun tidak terlalu lama berdiam disitu, ia melanjutkan lagi jalannya menuju bukit. Berbagai macam kupu-kupu dapat ia lihat, rindang pepohonan masih memperlihatkan sinar matahari dari sela-sela dedaunan yang dimiliki pohon itu. Bunga mawar, berwarna merah yang senada dengan pakaian yang sedang ia pakai. Ia petik sebuah tangkai dengan bunga yang terlihat paling besar, ia bawa sepanjang perjalanannya ke bukit yang tidak terlalu jauh itu, hanya sekitar kurang sepuluh menit agar bisa sampai disana.

Kicau burung masih sering terdengar bersamaan dengan suara berbagai serangga yang menghasilkan sebuah musik orkestra hutan, sangat natural. Tak luput berbagai hewan juga ia lihat disana, mulai dari tupai, kucing liar, anjing, dan berbagai macam hewan lagi.

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya Hinata sampai di bukit maple itu. Masih terlihat sama seperti tiga hari lalu. Ia duduk dibawah pohon itu, menyandarkan diri, mungkin karena sedikit kelelahan. Dengan sebuah MP3 pemberian Naruto itu, ia menyetel lagu melalui sebuah headset yang ia kenakan.

Sekitar dua puluh menit lain ia habiskan untuk istirahat, dan kemudian ia mulai mulai menggali dengan sebuah sekop kecil yang memang sudah ada disitu. Karena posisi yang tidak terlalu sulit, dengan mudah Hinata menggalinya.

Sebuah kotak dengan ukuran yang tidak terlalu besar ia temukan di bawah tanah. Bentuknya sama seperti sepuluh tahun lalu, hanya saja warnanya sudah sedikit memudar. Setelah ia angkat kotak itu, Hinata duduk sebentar, berfikir sejenak, disini atau pulang?

Dengan sebuah keyakinan, akhirnya ia memutuskan untuk pulang dengan membawa kotak yang sudah ia bersihkan sedikit dari tanah.

Hari itu sudah mulai siang, matahari sudah berada tepat diatas kepala saat Hinata sampai di rumahnya, ia lemparkan tas yang ia bawa ke sebuah sofa yang berada di ruang tamu, lalu ia menuju kamar mandi, membersihkan kotak itu, atau yang ia sebut kapsul waktu. Cukup singkat ia membersihkannya. Lalu ia dengan cepat berlari membawa kotak itu ke kamarnya

Dengan hati-hati ia keringkan dari sisa air yang masi menempel di sela-sela ukiran kotak yang terbuat alumunium dan kayu sebagai cover-nya. Sebuah kunci kecil ia ambil, membuka gembok kecil yang berada di depan kotak.

CKLEK~

Suara gembok kecil itu terbuka, dengan sangat perlahan ia buka, kesan pertama adalah: berdebu. Walaupun di dalam tanah, kotak itu tetap terkena debu. Berbagai foto yang ia masukkan terlihat lagi, ia ambil, ada banyak foto yang ia masukkan disana, Hinata pun hampir lupa pernah memasukkan berbagai foto-foto itu disana. Ia lihat foto itu satu-per-satu, tak sadar sebuah senyum simpul kecil menghiasi wajah mungilnya, foto itu ia lihat bergantian. Setelah itu, ia mengambil sebuah note berisi tulisan tangannya, sebuah note yang masih ia hafal betul apa isinya, karena itu ia men-skip note yang ia temukan setelah foto.

Sebuah alumunium pembatas lain dia temukan disana dan ia buka.

Sebuah benda-benda yang sebelumnya sesekali ia pernah lihat. Benar, benda itu adalah benda milik Naruto. Foto, sebuah mainan, dan, sebuah kertas? Hinata mengambil kertas itu, membuka lipatannya dengan perlahan.

Sebuah kata-kata yang terangkai menghiasi kertas itu, lima buah kata dengan tulisan tangan khas milik Naruto saat masih sepuluh tahun lalu. Hinata meneteskan air mata, ia terdiam sejenak, kata-kata itu mungkin akan merubah hidupnya, Hinata menutup mulutnya dengan tangan kirinya, air mata masih menetes dari kedua bola mata lavendernya. Pandangannya teralihkan saat ia mendengar pintu depan rumah terbuka. Dengan membawa kertas itu, ia berlari keluar kamar yang pintunya tidak tertutup itu, menuju lantai bawah lalu ia melihat sosok yang memang sudah ia duga, Naruto.

Hinata langsung menumpahkan tubuhnya dalam pelukan Naruto yang sedang tersenyum itu.

"Kau! Beraninya kau menuliskan kata-kata bodoh ini dalam kapsul waktu yang kau berikan." sisa tangisannya masih terdengar, entah tangisan kebahagiaan atau kesedihan.

"Oh, kukira kau akan menungguku terlebih dahulu sebelum membuka kotak itu," Naruto tersenyum, melihat Hinata yang berada dalam pelukannya, mengelus-elus rambut Hinata yang berponi itu, "Jadi?"

"Jadi?" Hinata kembali bertanya kepada Naruto.

"Jadi apa jawabanmu?"

"Kau bahkan tidak bertanya padaku, bagaimana aku mau menjawab!" isak tangisnya sedikit mereda dibandingkan yang tadi.

"Baiklah kalau begitu," Naruto melepas pelukan Hinata, melihatnya lekat-lekat, jantungnya berdebar-debar, ia mengambil sesuatu di kantong celananya, namun tidak memperlihatkannya kepada Hinata. Kemudian Naruto berjongkok dengan satu kaki dipakai sebagai penopangnya, memegang kedua tangan Hinata dengan satu tangannya. Membuka kotak yang ia ambil dengan satu tangan lainnya,

"Hinata, will you marry me?"

Hinata kembali meneteskan air mata, dengan sebuah senyum kecil ia membalas, "Yes I do!"

Dipasangkanlah cincin indah yang berada dalam kotak yang Naruto bawa itu. Setelah ia pasang, Hinata kembali memeluk Naruto, sebuah tepuk tangan terdengar dari luar pintu. Dalam pelukan Naruto, ia membuka pintu itu. Tak disangka, semua teman dan keluarga Hinata berada disana. Sakura, Kiba, Shikamaru, Chouji, Sasuke, Garaa, semua berada disana, bahkan Neji, dan kedua orang tuanya, yang pergi karena sebuah urusan pun juga ada disana.

"Ternyata, Naruto sudah menyiapkan semua ini untukku."


~0~

...Memang bukan sebuah kata yang indah untuk di ucap

Namun itu semua sudah cukup untuk membuatku bahagia

Sebuah cerita yang tidak bisa kita bandingkan dengan yang lain

Sebuah kisah cinta kita dimana orang lain tidak akan memahaminya...

~0~


The End ~


A/N : Yah, walaupun pendek banget sih, daripada jadi fict yang tak ada endingnya. mending di bikin endingnya walau pendek kan ya xD maaf minna-san kalau nggak pernah apdet :D yosh ~ saya Fariz, pamit undur diri menutup kisah fict A Gift.