Rin: Wahh, puas merkosain Len

Len: Huweee, Rin jahat TT_TT

Irzhie: Kalo gitu Rin, bacain nih disclaimernya

Rin: Uokeh Master

VOCALOID BUKAN MILIK MASTER,

TAPI MILIK YAMAHA CORPORATION

TAPI HATI RIN TETAP MILIK MASTER

Irzhie: Wee? Kayaknya ga ada deh tulisan gitu

Rin: Gapapa lah Master. Buat improve XD

Irzhie: Walah. Ya udah deh selamat membaca

CHAPTER 2

#Flashback beberapa waktu sebelum pertemuan pertama mereka#

RIN POV

Namaku Akane Rin. Bersama Okaa-sanku yang bernama Yowane Haku, aku tinggal di suatu pemukiman kumuh. Meski kumuh, orang-orang di sini memiliki rasa sosialis yang tinggi, berbeda dengan di luar kumuh.

Okaa-san bekerja sebagai Office Girl di suatu pabrik. Aku pun juga bekerja sambilan di sana usai jam sekolah. Meski gaji kecil, itu sudah cukup untuk membiayai kehidupan kita sehari-hari.

.

.

.

Suatu hari, kami mendengar kabar bahwa pabrik telah ditutup akibat resesi ekonomi. Terpukul dengan berita ini, aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang untuk menghidupi kebutuhan kami.

Di tengah kedepresianku, terbesit pikiranku untuk menjual diriku saja pada laki-laki hidung belang di luar sana. Lebih mudah dan bayarannya pasti lebih besar. Aku tahu ini pekerjaan kotor dan aku sendiri masih buta soal dunia seperti ini, tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Daripada jadinya Kaa-sanku yang tenggelam dalam niat jahat ini.

Tetapi sebelum aku menjalankan niatku, tiba-tiba Kaa-san mengatakan sesuatu yang mengejutkanku.

"Rin, Kaa-san mendapat kabar baik! Kaa-san baru saja dihubungi oleh teman lama Kaa-san. Dia mengajukan pekerjaan sebagai pembantu di rumahnya. Dan dia juga bersedia membiayai sekolahmu disana. Tapi tempatnya jauh dari sini. Kau ingin ikut?"

Mulutku menganga mendengar berita ini. Berpikir aku kejatuhan durian apa ini sampai dengerin berita gembira kayak gini? Orangnya sendiri yang akan membiayai sekolahku? Saking senangnya aku ingin menangis, tapi berhasil kutahan. Berpikir aku selamat dari niat kotor ini.

"Iya Kaa-san, aku mau! Kesempatan kayak gini mah jangan disia-sia'in!" begitulah kataku dengan antusias.

.

.

.

Segera setelah itu, aku pun keluar dari sekolah lamaku. Sedih juga sih rasanya walau aku sendiri ga punya teman di sana, karena aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan belajar dan bekerja.

.

.

.

Pagi harinya kami sudah berada di stasiun karena kereta kami berangkat jam 9. Perjalanan 3 jam lamanya cukup buatku untuk tidur.

.

.

.

Sesampainya di sana, dengan bermodalkan kertas alamat kami pun akhirnya sampai di tempat tujuan.

"Wah, gede juga rumahnya ya Kaa-san, tapi pabrik tempat kita dulu bekerja masih jauh lebih besar lagi." ucapku sambil bercanda. Okaa-san pun hanya tertawa kecil saja.

Di dalam, kami disambut oleh tuan rumah yang bernama Kagamine Rinto.

"Wah, sudah lama ya Yowane-san. Kau ternyata masih belum berubah."

"Bapak juga tidak berubah."

'Heee, ternyata mereka sudah lama saling kenal ya?' Gumamku.

"Kalau begitu mari kutunjukan kamar kalian."

.

"Waahh, ruang keluarga dan kamar jadi satu. Seperti di hotel aja" kataku pada Okaa-san (meski ga terlalu mirip hotel juga sih).

"Hussh, kau tidak sopan Rin!" ketus Okaa-san.

"Hahaha, tidak apa. Oiya, akan kujelaskan lebih rinci mengenai cara kalian bekerja nanti."

.

"Baiklah, kalian sudah paham kan? Kalau begitu saya ke kantor dulu ya. Rumah saya titipkan pada kalian. Saya juga sudah berpesan pada anak saya untuk pulang cepat agar dapat berkenalan dengan kalian."

.

"Baiklah Rin, ayo kita mulai beres-beres!"

Dengan segera aku mulai membersihkan rumah bagian belakang. Di tengah-tengah kesibukan tiba-tiba kumendengar Kaa-san berbicara dengan seseorang.

'Ah, mungkin tamu yang sedang mencari tuan rumah ini kali' pikirku. Setelah selesai, aku berpikir untuk membereskan ruang kerja. Tapi pemandangan tak terduga terjadi di depan mataku!

Saat kubuka pintu, mataku terbelalak. Di depanku ada anak cowok dengan rambut honeyblond sama sepertiku namun 'spiky' sedang bertelanjang dada! Dan dia pun juga melihatku! Dengan refleks aku...

"KYYAAAAAAAA!"

"GYYAAAAAAAA!"

Kami pun berteriak bersamaan.

"MAAFKAN SAYA!" BRAKKK!

Aku salah masuk kamar! Ternyata itu kamar anaknya! Dan sepertinya dia seumuran denganku.

Tapi jantungku terus berdegup kencang. Aku telah melihat 5 detik pemandangan yang tak kan bisa kulupakan. Dadanya yang bidang itu. Aahhh! Mukaku rasanya seperti mau terbakar kalau memikirkannya, bahkan mengalahkan panasnya api (keburu mati dong).

BERSAMBUNG KE CHAPTER 3

Len: Master, emangnya Rin bakal laku ya?

Irzhie: Lho, emangnya kenapa?

Len: Yah, masa Master ga tau sih? Dia itu kan dada nya rata. Belum lagi sama sifatnya

Len: Umm, Master. Kok kayaknya sini panas ya..?

Irzhie: Kayaknya aku tahu penyebabnya. Tuh di belakangmu

Len: Hiieee! Rin! Kapan kau di belakangku!?

Rin: Ohohoho! Baik sekali ya kau mencemaskanku! Sebagai hadiah, mau aku "beri" ga!?

Irzhie: Well, pembaca. Mending jangan diliat ya adegan ini. Ayooo reviewnya, dibakar juga boleh XD