VOCALOID BUKAN MILIK SAYA

TAPI MILIK YAMAHA CORPORATION dkk

WARNING! ALUR CERITA GAJE, TULISAN GAJE,

DAN BERBAGAI MACAM KEGAJEAN LAINNYA

CHAPTER 4

LEN POV

Malam ini seperti biasa, aku melewatkan jam makan malamku sendirian saja, tanpa ada siapa pun yang menemani.

Dan entah bagaimana tiba-tiba terbesit pikiranku untuk mencoba mengajak Rin makan malam. Tapi ga enak juga kalau aku cuma ngajak Rin aja, mungkin lebih baik aku juga mengajak Haku-san.

Aku mengecek apa nasi masih cukup banyak, dan ternyata masih banyak. Dan aku pun mencoba memberanikan diri untuk pergi ke kamar Rin dan Haku-san.

Sesampainya di depan kamarnya, aku pun mulai mencoba mengetuk pintu. Tapi entah kenapa rasa canggung di dalam diriku muncul begitu saja, padahal aku belum mengetuk pintunya. Dengan sedikit dorongan hati, akupun sukses mengetuk pintunya.

RIN POV

Di kamarku, aku sedang membaca buku pelajaran dan Okaa-san sedang menonton acara berita di TV. Di rumah kami sih memang ada TV, tapi jauh lebih kecil dan murahan. Udah gitu, banyak 'semut'nya lagi. Makanya sekarang Kaa-san jadi lebih betah di kamar.

'Tok-Tok-Tok'

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu di kamar kami.

'Len? Kenapa dia ke sini?' pikirku. Aku langsung menduga kalau itu Len karena kan Tou-sannya selalu pulang malam. Dengan segera aku pun membuka pintu.

"Len? Ada apa?" tanyaku.

"Umm, anu... Rin, kau mau makan malam denganku ga? Oiya, Haku-san juga boleh ikutan."

ajak Len.

Aku sedikit terkejut dengan ajakannya itu dan aku pun menjawab "Wah maaf Len, sebenarnya aku dan Kaa-san udah..."

"Eh, gapapa kok Len. Saya udah makan malam. Si Rin juga sebenarnya belum makan. Kebetulan sekali." kata Kaa-san yang tiba-tiba malah memotong pembicaraanku sambil tersenyum dan kemudian malah mendorongku keluar kamar.

'Eh? Lho? Kaa-san?'. Aku pun kebingungan kenapa Okaa-san ngomong kayak begitu.

"...Ayo." kata Len sambil mengajakku.

'Kaa-san kenapa ngomong kayak gitu sih? Padahal tadi kan kita udah makan. Ya udah deh, gapapa.' Pikirku sambil berjalan.

.

Ini pertama kalinya aku makan berdua saja dengan cowok. Aku tak tahu apa yang harus kubicarakan. Dan Len pun cuma diam saja sambil menikmati makanannya.

"Rin, gimana sekolahnya? Kamu sudah mulai terbiasa belum di sana?" tanya Len yang tiba-tiba membangunkanku dari lamunanku.

"Ah, iya lumayan. Lebih bagus dari sekolahku yang lama. Dan teman-teman di kelas juga baik, termasuk Utatane-san dan Miku-san."

"Piko dan Hatsune-san dulu sebenarnya satu SD denganku, makanya kita akrab. Kecuali Piko, dulu Hatsune-san sebenarnya juga 1 TK denganku." cerita Len yang kurespon dengan -oh- ria saja.

'DHEG'

'Huh? Kenapa aku merasa kesal ya? Padahal kayaknya tadi aku baik-baik aja. Ah biarlah.'

Selesai makan, aku pun mulai membereskan meja makan. Tapi sesuatu yang tidak biasa justru terjadi pada Len. Dia malah ikut membantu membereskan makanan yang seharusnya menjadi pekerjaanku.

"Ah, ga usah Len, biar aku aja." jawabku seraya menolak bantuannya itu.

"Ah gapapa Rin, kadang-kadang kalau lagi semangat aku juga suka bantuin pembantuku sebelumnya." katanya sambil melanjutkan beres-beresnya. Memang sih aku terbantu, tapi juga jadi bersalah di saat yang sama.

"Oiya, besok-besok kita makan sama-sama aja yuk. Mungkin lain kali bersama dengan Haku-san." kata Len.

"Eh? A-apa tidak apa-apa? Aku takut Tou-sanmu akan marah..." kataku dengan ragu-ragu.

"Tidak apa-apa. Lagian aku tau betul kok kapan aja Tou-san bakal pulang cepat. Jadi kau tak perlu takut." jawab Len.

"Terima kasih Len, tapi kayaknya kalau ngajak Kaa-san nggak mungkin deh. Sekitar jam 5 sore aja Kaa-san udah makan malam, jadinya aku yang meski belum laper juga harus ikut makan. Aku juga ga tau kenapa Kaa-san bisa kayak gitu. (Mungkin penyakit fiktif yang dibuat oleh author supaya mereka bisa makan berdua XD).

Len hanya tertawa kecil dan kemudian berkata "Oh gitu. Ya udah aku ga maksa sih, lagian kan kasihan ninggalin Haku-san makan sendirian aja."

Selesai beres-beres, aku dan Len kembali ke kamar masing-masing. Setelah masuk ke kamar, aku disambut dengan Okaa-san yang malah cengar cengir melihatku.

"Gimana Rin? Makanannya enak?" tanya Kaa-san.

"Iya enak, tapi Kaa-san ngapain sih pake bohong segala bilang kalau aku belum makan tapi Kaa-san malah udah?" tanyaku dengan nada sedikit sebal.

"Hahaha, maaf ya Rin. Habis si Len kayaknya suka sama kamu tuh." jawab Okaa-san dengan nada jahil.

"Ah Kaa-san ngawur deh. Oiya, si Len tadi ngajakin aku makan malam tiap hari. Aku belum jawab sih, tapi sebenernya aku pengen nolak, soalnya kan Kaa-san..."

"Gapapa kok Rin. Ga usah pikirin Kaa-san. Kaa-san makan sendiri aja juga gapapa. Kaa-san tahu kalau selama ini sebenernya kamu belum lapar pas jam makan Ibu, tapi kamu malah jadi nemenin Kaa-san makan. Maaf ya Rin."

"Ya deh gapapa." jawabku disertai dengan uapanku yang cukup lebar. "Kaa-san, aku udah ngantuk nih. Aku gosok gigi dulu ya, abis itu tidur."

.

.

.

NORMAL POV

Keesokan harinya di sekolah, Luka-sensei memberikan tugas Matematika yang membuat satu kelas, tidak, bahkan beberapa kelas yang diajari oleh Luka-sensei mampu membuat murid-muridnya berteriak: "Eeeehhh!?" dengan volume dan intonasi yang sama. Tugas ini bisa dibilang dua kali lebih banyak dari biasanya karena memang sebentar lagi sekolah akan mengadakan ujian.

"Kerjakan tugasnya sekarang. Kalau belum selesai bisa dikerjakan di rumah dan dikumpul besok!" kata Luka-sensei dengan tegas. Dan seperti yang bisa diduga, tak ada satu pun murid yang bisa menyelesaikannya dalam dua jam pelajaran itu, sehingga memaksa mereka untuk melanjutkan tugas matematika di rumah.

"Aduuhhh, penyakit mau ujian gini nih, PR satu aja langsung numpuk dalam hitungan detik..." kata Piko yang masih meratapi PR Matematikanya.

"Ah kau lebay deh! PR nya bisa kamu selesai'in kok dalam waktu 30-60 menit kalau dikerjainnya niat. Makanya nanti belajar, jangan nge-game mulu. Dan itu termasuk kau juga, Len-kun! Ya udah deh, aku musti cepet balik nih buat ngerjain tugasnya!" kata Miku yang kemudian melesat pulang.

"Uuuhhh... Hatsune-san kan gak kayak kita yang pas-pasan, makanya gampang ngomong kayak gitu. Ngerjain begini mah bisa 2-3 jam. Ya udah deh Len, aku balik dulu ya." kata Piko yang masih lesu.

LEN POV

Kuakui, kondisiku sekarang ini sama kayak Piko. Aku cuma bisa menghela napas panjang. Otakku juga tidak seencer Hatsune-san.

"Len, yuk kita pulang." ajak Rin kepadaku.

"Eh iya, ayo." jawabku.

"Rin, kamu Matematikanya udah selesai?" tanyaku basa-basi meski mungkin aku sudah tahu apa jawabannya.

"Belum nih. Maaf ya Len, kayaknya nanti aku musti kerjain PR nya dulu sebentar sebelum lanjutin beres-beresnya." kata Rin.

"Eh Rin, kerjain PR nya sama-sama yuk! Aku sebenarnya ada yang ga ngerti nih rumus-rumus Matematikanya. Plis mau ya...?" pinta Len pada Rin.

"...ya udah boleh, nanti aku coba ajarin sebisaku." jawab Rin.

"Oke, nanti kerjain di kamarku ya."

RIN POV

"Eh? Di kamar Len?" tanyaku yang tiba-tiba membuat mukaku sedikit memerah.

"Iya, jangan takut. Aku ga bakal apa-apain kamu kok." kata Len senyum.

"A-aku ga mikir kayak gitu kok!" bantahku sambil malu-malu. Mendengar kalimat 'kamar Len' tiba-tiba membuatku teringat dengan pertemuan pertamanya yang sangat memalukan.

.

Sesampainya di rumah, aku membawa PR Matematikaku dan pergi ke kamar Len. Di kamarnya, Len sedang menyiapkan tempat untuk kita mengerjakan PR Matematikanya.

Dari hasil pengamatanku, sepertinya Len memang lemah dalam pelajaran ini. Terbukti dari banyaknya dia bertanya.

"Rin, soal yang ke 90 gimana sih caranya, kok rumusnya kayaknya agak beda sama yang sebelumnya?" tanya Len yang mendekatku untuk memperlihatkan PR-nya padaku.

"Oohh, kalau yang itu caranya...". Tanpa kusadari tiba-tiba wajahku menjadi sangat dekat dengan wajah Len! Mungkin ada sekitar 2 cm. Wajahku pun memerah. Kami terdiam selama entah berapa lama, rasanya waktu menjadi sangaaat pelan seakan aku dibawa ke dunia lain.

Len tiba-tiba menjauhkan wajahnya dariku yang juga membuatku kembali ke dunia nyata dan melanjutkan pertanyaannya tadi seolah tidak terjadi apa-apa. "...padahal tadi caranya sama kayak soal ke 80, tapi jawabannya malah jadi aneh."

"Iya, pas soal ini memang lebih susah sih. Caranya gini..." jawabku yang juga sedang berusaha melupakan 'adegan' barusan.

.

Selesai mengerjakan PR, aku mulai beranjak untuk keluar dari kamar Len. Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu yang lupa kukatakan pada Len.

"Oiya Len, soal ajakan makan malammu...aku terima ajakanmu." kataku.

"Oh, oke kalau gitu." kata Len yang kemudian mulai membereskan tempat kita belajar. Dan akupun keluar dari kamar Len.

Setelah cukup jauh dari kamar Len, tiba-tiba lututku roboh yang juga membuat buku pelajaranku juga ikut terjatunh dari tanganku karena teringat dengan 'adegan' tadi. Mukaku kembali memerah dan tanpa kusadari aku menutup mulutku dengan kedua tanganku.

Bersambung ke Chapter 4

Weeee! Ternyata ditungguin ya? Padahal saya sangat jarang sekali update gara-gara ngejalanin hobi saya yang sudah menggila ini, jadinya kayak begini deh. Masih sangaaat banyak kesalahan-kesalahan yang ada di fanfic ini dikarenakan keteledoran saya dari chap 1 sampe sekarang. Jadi ya saya minta maaf dan makasih banyak ya udah diliat XD

Seperti biasa, review ya XD