The Love Between Gods and Humans : The Dark Of Olympus
Chapter 1
Author : Yuuna Emiko
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Naruto x Hinata (NaruHina), slight Sasuke x Hinata (SasuHina), Sasuke x Sakura (SasuSaku)
Rating : T
Genre : Adventure, Romance, Fantasy
Warning : OOC, gaje, abal-abal, miss typo, alur maksa, alur kecepatan, EYD berantakan, alur berantakan, Ide pasaran, Hinata-centric, dll.
DON'T LIKE.., DON'T READ..,
"…." Berbicara biasa
'….' Dalam Hati
"….." Makhluk Mitologi berbicara.
"….." Ramalan
Summary : "Hinata Hyuuga, seorang gadis kutu buku dan Shikamaru Nara seorang pemuda malas, ber IQ tinggi, mempunyai satu persamaan yaitu menyukai Mitologi Yunani. Tanpa disangka mereka bertemu Apollo, Ares, Afrodite dan dewa-dewi lainnya karena Hinata adalah seorang Suta dan Shikamaru adalah seorang Tsuki yang diramalkan oleh Oracle Delphi , akan membantu Olympus. Bagaimanakah petualangan mereka? Dan Siapakah sosok asli Apollo, Ares dan Afrodite serta Dewa-Dewi lainnya?"
A/N : Naruto, Sasuke, Sakura : 23 tahun, Hinata, Shikamaru : 21 tahun (Naruto, Sasuke dan Sakura di bilang senpai karena mereka ikut kelas percepatan)
Apollo : Naruto
Ares : Sasuke
Afrodite : Sakura
Athena : Tsunade
Zeus : Minato
Hera : Kushina
Hestia : Kurenai
Hermes : Kakashi
Poseidon : Jiraiya
Hades : Orochimaru
Dementer : Mei Terumi
Hephaestus : Kankurou
Dionisos : Killer Bee
Artemis : Naruko
Chapter 1 : "Conjecture"
Dimulailah pencarian Naruto, Sakura, dan Sasuke untuk mmencari pembawa Golden Light Carrier dan Silver Light Carrier. Mereka menyamar menjadi mahasiswa dan mahasiswi di Universitas Konoha. Tempat Tsunade atau Dewi Athena menjabat sebagai kepala sekolah. Awalnya mereka kesulitan mencarinya tapi lama-lama mereka menemukan tanda bahwa mereka para pembawa memang berada di sana.
"Huh! Sudah seminggu kita disini tapi kita hanya dapat menemukan petunjuk yang sangat samar." Ujar Naruto menggerutu.
"Sudahlah Naruto jangan menggerutu terus menerus. Lebih baik kau membantu Sasuke-kun berpikir." Jawab Sakura dengan tampang kesal sambil melipat tangannya di dada. Mereka saat ini sedang berada di kantin Universitas Konoha, banyak orang berlalu lalang di sekitar mereka sehingga membuat mereka harus berhati-hati jika membicarakan tentang misi pencarian tersebut.
"Baiklah. Tapi sepertinya ada aura aneh disekitar kita." Ucap Naruto sambil mengedarkan kepalanya ke sekeliling dan dia mendapati seorang gadis berambuat Indigo tengah berjalan menuju arah mereka. Naruto sangat yakin aura aneh tersebut berasal dari gadis Indigo tersebut.
"A..no, Sumima..sen. Senpai-senpai dipanggil o-leh kepala sekolah." Ucap gadis tersebut dengan wajah memerah. Hinata teringat dengan senpai baru berambut blonde tersebut, meningat pertemuan pertama mereka.
'Ah.. ternyata hanya itu. Tapi ngomong-ngomong gadis ini manis juga, ah.. tunggu sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya? Aku lupa.' Ucap Naruto dalam hati.
"Oo.. Baiklah. Arigatou ya er- Hinata-san." Ucap Sakura yang sempat berhenti sebentar untuk melihat nama tag Hinata.
"Kami pergi dulu." Ucap Sakura lagi sambil menarik Sasuke dan Naruto bersamanya sementara Hinata hanya terpaku di tempatnya berdiri.
Di perjalanan menuju Ruang Kepala Sekolah, Naruto memutuskan untuk membicarakan aura aneh yang dia rasakan tadi kepada Sasuke dan Sakura tapi niat tersebut terhenti karena Sasuke terlebih dahulu membuka pembicaraan.
"Naruto, Sakura apa kalian meresakan hal yang sama dengan apa yang ku rasakan?" Tanya Sasuke sambil menghadapkan wajahnya ke arah Sakura dan Naruto, meminta jawaban.
"Iya, Sasuke-kun. Aku merasakannya. Aura ini adalah aura Bangsa Suta. Naruto kau yang telah bertemu dengan Bangsa Suta pasti mengenalinya juga kan?" Ucap Sakura dengan wajah serius.
"Tepat sekali. Aku curiga bahwa gadis tadi merupakan keturunan Bangsa Suta yang tersisa dan merupakan Sang Pembawa." Ujar Naruto.
"Ya, sama. Tapi lebih baik kita bicarakan ini dengan Tsunade." Timpal Sasuke yang dibalas anggukan oleh Sakura dan Naruto. Setelah itu perjalanan hanya diisi oleh keheningan. Hingga sampailah mereka di Ruang Kepala Sekolah. Mereka segera saja memasuki ruangan itu.
"Tsunade, ada apa kau memanggil kami kesini?" Tanya Sasuke langsung.
"Sambar, Sasuke. Aku hanya ingin mengetahui sejauh apa misi kalian telah terlaksana." Ujar Tsunade.
"10 persen mungkin." Jawab Sasuke seadanya.
"Kami baru menemukan petunjuk kecil yang mengarah pada seorang Mahasiswa Fakultas Kedokteran bernama Hinata Hyuuga. Dia memiliki aura yang sunggu aneh." Ucap Naruto.
"Sudah kuduga. Aku juga merasakan hal yang sama setiap kali berdekatan dengannya dan kalian juga harus menyelidiki seorang Mahasiswa Fakultas Kedokteran yang bernama Shikamaru Nara. Aku juga merasakan aura yang aneh saat berpapasan dengan dia. Dan pastikan mereka tak tahu bahwa kalian menyelidiki mereka karena mereka merupakan murid yang sangat cerdas." Jelas Tsunade panjang lebar.
"Baiklah." Ucap ketiga serempak kemudian menghilang ditelan angin.
"Huh! Ketiga orang itu kebiasaan kalau pergi nggak bilang-bilang." Gerutu Tsunade.
~The Love Between Gods and Humans~
Hinata POV
Gerak gerik mereka sungguh aneh. Dan kenapa setiap dekat dengan mereka kalung ini bergoyang. Apa ada hubungannya dengan mereka. Siapa mereka sebenarnya? Apakah mereka berniat buruk atau malah sebaliknya, atau bahkan mereka Dewa. Ah.. ku yakini diriku bahwa rupa Dewa nggak seperti itu. Mungkin Para Dewa itu tua. Tapi segala kemungkinan dapat terjadi di dunia ini. Apalagi setelah mengetahui semua kebenarannya.
Hinata POV End
Hinata masih berdiri di tempatnya tadi, memikirkan tentang senpai-senpainya yang aneh. Hinata sebenarnya penasaran, dari pertama kali senpai-senpai itu menampakkan diri mereka di Universitas Konoha ini, mengapa kalungnya selalu bergerak sendiri saat bertemu dengan mereka. Hinata bingung dengan semua itu. Tapi karena sibuk memikirkan itu semua Hinata tak sadar bahwa sudah ada orang yang berdiri disampingnya, lebih tepatnya seorang pemuda berambut nanas yang sedang menguap.
"Hinata, kau sedang apa disini? Sebentar lagi mata kuliah dari Kurenai-sensei akan segara dimulai." Kata pemuda itu dengan tampang mengantuk. Jika kalian mengira pemuda ini kurang tidur semalam, anda sangat salah karena setiap hari begitulah tampangnya, selalu mengantuk.
"Ah! Aku hanya lagi melamun, Shikamaru-kun. Hmm.. Arigatou ya telah mengingatkan." Ucap Hinata membalas perkataan Shikamaru seraya tersenyum.
"Ck.. Douita. Kalau begitu ayo jalan." Ucap Shikamaru sambil melangkah diikuti dengan Hinata keluar dari kantin untuk meuju ke kelas mereka.
Di perjalanan mereka berdua tidak berbicara sama sekali. Hening melanda perjalanan itu cukup lama, sampai suara Shikamaru memecah keheningan tersebut.
"Hinata, kau merasakan ada hal yang aneh dari senpai kita yang baru, Kurenai-sensei, serta kepala sekolah kita Tsunade-sensei?" Tanya Shikamaru dengan tatapan masih mengarah ke depan.
"Ya, aku merasakannya. Entah mengapa setiap aku berpapasan dengan mereka, kalung ku bergoyang, seperti menarikku menuju diri mereka." Ucap Hinata dengan pandangan menerawang.
"Ya, sama. Sebenarnya itu sangan merepotkan." Ucap Shikamru lagi. Hinata dan Shikamaru merupakan teman sedari kecil hanya saja mereka tidak mengetahui bahwa mereka memiliki kekuatan khusus. Setelah Hinata bercerita tentang kebenaran dirinya, Shikamaru terkejut karena Hinata berasal dari bangsa Suta dan Shikamaru pun akhirnya juga menceritakan kebenaran tentang dirinya. Itulah ceritanya.
"Ah! Mungkin saja mereka itu Dewa yang sedang menyamar." Gumam Hinata.
"Sempat terpikirkan sih, tapi berpikir itu sangat merepotkan." Ucap Shikamaru. Hening kembali melanda, tapi itu takkan bertahan lama karena tempat yang sedari tadi mereka tuju telah tampak di depan mata.
Ketika mereka memasuki ruang kelas, suasana kelas telah hening dengan seorang wanita berambut cokelat dan warna mata yang merah tengah menjelaskan di depan kelas, sambil memegang buku di tangan sebelah kanannya.
"Ah! Sensei, gomen! Kami terlambat." Ucap Hinata sambil membungkuk diikuti dengan Shikamaru.
"Oh! Tak apa. Silahkan tegakkan badan dan duduk di bangku kalian masing-masing." Ucap guru tersebut sambil tersenyum ramah.
"Sangkyu, Kurenai-sensei." Ucap Hinata dan Shikamru serempak. Setelah itu mereka menegakkan kembali tubuh mereka dan segera berjalan menuju tempat duduk mereka masing-masing.
"Baiklah kita lanjutkan pelajarannya." Ucap Kurenai kemudian kembali menerangkan lagi.
"Ck.. Mendokusai." Gumam Shikamaru kemudian meletakkan kepalanya diatas lipatan tangannya, ia meresa bosan dengan mata kuliah Kurenai-sensei karena ia telah mengerti sepenuhnya tentang mata pelajaran ini.
"Oke, anak-anak. Silahkan kalian baca buku kalian halaman 87-92!" perintah Kurenai kemudian berjalan menuju tempat duduknya dan ikut membaca materi pelajaran yang akan diterangkannya nanti.
Kurenai POV
Hinata dan Shikamaru adalah diskripsi yang sangat cocok untuk Bangsa Suta dan Tsuki. Mata lavender dan otak cerdas dari Bangsa Suta serta IQ tinggi dan Wajah mengantuk dari Bangsa Tsuki. Sepertinya mereka lah orang di cari-cari oleh Naruto, Sasuke dan Sakura selama ini.
Mungkin sebaiknya aku cepat-cepat melapor kepada Tsunade. Akan ku jelaskan semuanya. Mungkin sebaiknya juga memanggil Naruto, Sasuke dan Sakura. Ah! Sebaiknya aku cepat bertindak.
Kurenai POV End
Hinata merasa gelisah dan tidak focus. Sedari tadi kalungnya terus bergerak, seperti menariknya kearah Kurenai begitu juga dengan kalung milik Shikamaru. Mereka saling berpandangan kemudian megangguk kecil. Mengerti rencana masing-masing, mereka segera akan melaksanakannya tetapi rencana itu sepertinya tidak akan berjalan lancar.
"Anak-anak, silahkan pahami materi itu. Saya akan keluar sebentar dan nanti saya akan kembali lagi kesini untuk menjelaskan materi yang kalian baca." Ucap Kurenai kemudian keluar dari kelas. Ia terdiam berdiri di depan ruang kelas seraya melihat daerah sekitarnya, kemudian menghilang ditelan oleh lidah api yang menyala-nyala.
Hinata dan Shikamaru yang melihat itu terkejut seketika. Mereka seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat tadi. Seakan itu hanyalah ilusi, mereka tidak semudah itu mempercayainya.
"Hey, apa kau tadi melihat, Kurenai-sensei menghilang seperti ditelan oleh lidah api yang menyala-nyala?" Tanya Shikamaru kepada seorang dibelakangnya.
"Hah! Kau bermimpi ya? Mana ada yang seperti itu?" Ucap orang tersebut dengan alis yang bertautan serta memasang wajah konyolnya.
"Ah! Sudahlah." Desah Shikamaru. Ia merasa tidak puas dengan jawaban orang dibelakangnya. Tapi ketika ia melihat wajah terkejut Hinata, keingin bertanya itu pun mucul kembali ke permukaan hatinya.
"Hinata, kau lihat kejadian tadi?" Tanya Shikmaru dengan wajah sedikit berharap.
"Yah, aku melihatnya. Sangat jelas sekali." Ucap Hinata dengan pandangan masih mengarah ke tempat Kurenai menghilang tadi.
"Hinata, kita perlu bicara." Ucap Shikamaru dengan pandangan serius sambil menatap Hinata. Hinata yang baru sadar dari terkejuannya segera mengalihkan pandangan ke arah Shikamaru.
"Ya, kita memang perlu bicara." Ucap Hinata lirih tapi masih bisa di dengar dengan jelas oleh Shikamaru.
"Tapi tidak disini." Ucap Shikmaru lalu beranjak keuar dsari kelas diikuti dengan Hinata dibelakangnya.
Sementara itu, Kurenai sudah berdiri di depan ruang kelas Naruto, Sasuke dan Sakura. Ia pun mengetuk pintu ruangan kelas itu untuk memanggil mereka.
"Masuk!" terdengar suara wanita dari dalam ruang kelas tersebut. Pintu terbuka dan menampakkan Kurenai tengah berdiri di depam ruang kelas sambil tersenyum ramah.
"Sumimasen, Anko-sensei. Bisakah saya meminjam Naruto, Sasuke dan Sakura sebentar. Saya ada keperluan dengan mereka ." Ucap Kurenai sopan kepada Anko.
"Oh, silahkan Kurenai-sensei." Ucap Anko mempersilahkan Kurenai untuk bertemu dengan Naruto, Sasuke dan Sakura. Maka keluarlah ketiga orang tersebut menemui Kurenai. Setelah mereka bertemu Kurenai segera menjelaskan maksud dan tujuannya datang kemari.
"Jadi, aku ingin membicarakan masalah Bangsa Tsuki dan Suta kepada kalian." Jelas Kurenai, sementara Naruto, Sasuke dan Sakura hanya diam mendengar penjelasan dari Kurenai.
"Aku ingin kita membicarakannya di ruangan Tsunade." Ucap Kurenai lagi kemudian kembali menghilang ditelan oleh lidah api yang menyala-nyala. Diikuti Sakura yang menghilang ditelan sekumpulan bunga Sakura, kemudian Naruto ditelan hembusan angin dan cahaya yang sangat menyilaukan dan Sasuke ditelan oleh petir yang menyambar-nyambar.
"Hey, Hinata kau lihat kan? Dugaan kita benar, mereka adalah Dewi dan Dewa Olympia." Ucap Shikmaru dari balik tembok.
"Ya, Shikmaru-kun. Manusia fana tidak dapat melihat kekuatan mereka karena tertutupi oleh kabut tebal." Balas Hinata sambil tersenyum senang.
"Iya, Hinata. Walaupun merepotkan aku ingin segera menemui mereka dan bertanya mengenai Bangsa Tsuki dan Suta." Ucap Shikamaru dan hanya dibalas dengan anggukan cepat oleh Hinata, tanda bahwa Hinata setuju.
"Yah, sebaiknya kita mengikuti mereka ke ruang kepala sekolah." Ucap Shikmaru lagi kemudian mereka segera berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Bagaimana mereka bisa mengetahui lokasi Kurenai, maka dari itu kita kembali ke beberapa saat yang lalu..
"Hinata, kita perlu bicara." Ucap Shikamaru dengan pandangan serius sambil menatap Hinata. Hinata yang baru sadar dari terkejuannya segera mengalihkan pandangan ke arah Shikamaru.
"Ya, kita memang perlu bicara." Ucap Hinata lirih tapi masih bisa di dengar dengan jelas oleh Shikamaru.
"Tapi tidak disini." Ucap Shikmaru lalu beranjak keuar dari kelas diikuti dengan Hinata dibelakangnya. Mereka segera berjalan menuju taman belakang Universitas Konoha untuk membicarakan suatu masalah penting. Setelah sampai disana, Shikamaru membuka percakapa lebih dahulu.
"Hinata, aku rasa cuma kita yang dapat melihat semua ini dengan jelas." Ucap Shikamaru, sementara Hinata hanya menjawab ucapan Shikamaru dengan anggukan singkat.
"Ini pasti karena kabut yang menghalangi penglihatan manusia fana." Ucap Shikamaru lagi.
"Yah, kau benar Shikamaru-kun. Mungkin yang mereka lihat adalah hal yang sangat bertolak belakang, mereka menganggap kalau Kurenai-sensei berjalan normal layaknya seorang manusia fana biasa." Ucap Hinata panjang lebar.
"Dan kalau dugaan kita benar, Kurenai-sensei dan para senpai baru itu serta kepala sekolah kita sendiri adalah Dewa dan Dewi Olympia." Tebak Shikamaru.
"Hmm, Shikamaru-kun bagaimana kalau kita ikuti saja Kurenai-sensei. Aku masih dapat menangkap arah gerakan kalung ini untuk mendapatkan posisi Kurenai-sensei saat ini." Usul Hinata dengan tatapan yang mengarah ke Shikamaru.
"Ya, kau benar Hinata. Aku juga masih dapat menangkap arah geraknya." Ucap Shikamaru.
Mereka akhirnya berlari menyusuri koridor untuk mencari keberadaan Kurenai. Sampai akhirnya Iris Lavender Hinata menangkap sosok Kurenai yangsedang berbicara dengan Naruto, Sasuke dan Sakura.
~The Love Between Gods and Humans~
Di kantor Kepala Sekolah
Sejak kedatangan emapat orang tersebut dalam ruangan Tsunade, keadaan di ruangan itu menjadi sunyi hanya tatapan mereka saja yang terus menatap tajam pada lawan bicara di hadapan mereka, yaitu Seorang Dewi dengan wujud Yunani-nya yaitu Athena atau yang biasanya dipanggil Tsunade.
"Jadi, ada apa kalian kemari saat jam pelajaran?" Pertanyaan Tsunade akhirnya memecah keheningan dalam ruangan tersebut. Sementara yang lain masih tetap terdiam. Hinata dan Shikamaru pun sudah sampai di depan ruang Kepala Sekolah dan meletakkan telinga mereka di dekat pintu.
"Hmm, bisa dibilang kami telah mendapatkan petunjuk." Ujar Naruto menjawab pertanyaan Tsunade.
"Apakah itu?" Tanya Tsunade lagi dengan dahi berkerut.
"Di perkirakan Gadis Bangsa Suta dan Pemuda Bangsa Tsuki yang kita cari adalah mahasiswi dan mahasiswa dari fakultas saya sendiri, yaitu Hinata Hyuuga dan Shikamaru Nara." Ucap Kurenai dengan wajah yang meyakinkan dan nada yang tegas.
"Apa yang membuat kau yakin Kurenai?" Tanya Tsunade lagi.
"Mudah saja, ciri-ciri dan nama klan dari Bangsa Suta dan Tsuki. Mereka memenuhi semua itu." Ucap Kurenai yakin.
"Itu saja tidaklah cukup, Kurenai. Itu adalah keputusan yang kurang bijak." Ucap Athena dengan sedikit nada kesal.
"Tenanglah, Tsunade. Aku sering memperhatikan mereka. Ketika aku mengajar mereka, aku melihat mereka, dan mereka selalu menampilkan raut wajah yang gelisah dan dalam keadaan memegang dada mereka seperti menggenggam sesuatu. Aku sangat yakin sekali bahwa yang mereka genggam adalah kalung itu." Jawab Kurenai panjang lebar.
Sementara Naruto, Sasuke dan Sakura hanya menyaksikan interaksi antara kedua dewi tersebut. Di balik pintu Hinata dan Shikamaru masih setia mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tsunade, aku juga sudah bilang kan. Kami juga mulai curiga dengan mereka." Ucap Sakura mengeluarkan suaranya yang sedari tadi tertahan di tenggorokan karena menyaksikan interaksi antara Kurenai dan Tsunade.
"Ah! Baiklah aku percaya." Desah Tsunade yang akhirnya percaya dengan dugaan dan perkiraan Kurenai, Naruto, Sakura dan Sasuke.
"Kau membuang waktu kami, Tsunade." Ucap Sasuke dingin sambil menatap tajam ke arah Iris sewarna madu tersbut.
"Kau sungguh sinis, Sasuke." Ujar Tsunade dengan raut wajah kesal, karena risih ditatap oleh Sasuke. Sementara Naruto menolehkan kepalanya ke arah pintu seraya menyeringai tipis.
"Kenapa kau menyeringai, Naruto?" Tanya Sakura karena irisnya tidak sengaja menangkap seringaian Naruto.
"Ah! Tidak ada apa-apa. Lebih baik kita cepat membahas masalah misi itu." Ucap Naruto setelah mengontrol keterkejutannya dengan baik sambil menghela nafas.
"Jadi, jika Hinata dan Shikamaru memang benar orang itu. Kita akan segera melapor ke Minato dan melaksanakan misi kedua yaitu penyalamatn Olympus." Ujar Tsunade dengan nada serius. Sementara yang lain tetap mendengarkan, begitu juga dengan kedua orang yang berada di balik pintu. Hinata dan Shikamaru terkejut mendengar misi penyelamatan Olympus. Mereka pun bertanya-tanya, Apa yang sedang terjadi dengan Olympus? Mengapa Olympus harus diselamatkan? Itulah yang saat ini mungkin tengah dipikirkan oleh Hinata dn Shikamaru.
"Kalian sudah sudah tau kan tugasnya masing-masing?" Tanya Tsunade kepada Naruto, Sasuke dan Sakura. Dan hanya dibalas anggukan singkat dan wajah serius dari mereka bertiga.
"Bayangan telah bertambah, Kebaradaan yang tidak diketahui oleh orang di sini. Di balik sebuah kayu mahoni kalian bersembunyi." Ucap Naruto tiba-tiba sambil menutup matanya. Semua orang di ruangan itu menatap ke arah Naruto dengan pandangan bertanya dan dahi yang berkerut, bingung. Begitu pula dengan Shikamru dan Hinata mereka tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan Naruto.
"Artinya.." Ucap Naruto masih dengan mata terpejam sambil berjalan ke arah pintu kemudian membukanya.
"Ini." Lanjtut Naruto lagi tapi kali ini ia menampakkan iris blue saffirnya sambil tersenyum lebar.
Sakura, Sasuke, Kurenai, dan Tsunade terkejut, karena yang terlihat setelah pintu terbuka sepenuhnya adalah sesosok gadis manis berambut indigo dan seorang pemuda bertampang malas, berambut nanas. Mereka adalah Hinata dan Shikamaru yang juga sedang memasang raut wajah yang terkejut tapi Shikamaru segera sadar dari keterkejutannya dan memasang kembali wajah mengantuknya, begitu juga dengan Sasuke yang segera mengganti wajah terkejutnya dengan raut wajah yang datar.
"Kita kedatangan tamu, rupanya." Ucap Tsunade sambil tersenyum tipis.
"Gomenne, minna-san." Ucap Hinata sambil membungkuk. Hinata merasa tidak enak karena sudah ketahuan mendengar pembicaraan mereka atau dengan kata lain menguping.
"Ah! Biasa saja." Ucap Naruto sambil tetap mempertahankan senyumnya. Senyuman Naruto sukses membuat pipi Hinata terasa memanas.
"Jadi.." Ucap Tsunade menghentikan ucapannya, dan beralih memandang Hinata serta Shikamaru. Sementara Hinata segera mengalihkan perhatiannya ke arah lain, sedikit rasa takut hinggap dalam dirinya Karena tatapan Tsunade yang tajam, dan Shikamaru masih saja memasang tampang malas.
"Kalian mendengar semuanya?" Tanya Tsunade masih menatap tajam Hinata dan Shikamaru. Keadaan menjadi sangat tegang.
"Ehem.. sebenarnya iya." Ucap Shikamaru santai, sambil menguap. Mereka yang melihat kelakuan Shikamaru hanya bisa sweatdrop.
"Huh! Tsuki memang selalu seperti itu." Ucap Kurenai mendesah pelan yang cukup bisa di dengar oleh Sasuke dan Sakura yang memang berada di dekatnya. Mereka berudua yang mendengar itu, hanya memandang Kurenai singkat.
"Hoy, kalian! Hinata dan Shikamaru, ayo tebak siapa kami ini.." Tantang Naruto sambil menunjuk Hinata dan Shikmaru.
"Dobe, untuk apa kau tantang mereka?" Tanya Sasuke penasaran sambil memandang Naruto penuh arti.
"Hanya untuk menguji saja, Teme." Ucap Naruto sambil memamerkan senyum lima jarinya.
"Mendokusai.." Desah Shikamaru.
"Ayooo.. cepatlah, tebak." Kata Naruto tidak sabaran. Tingkah lakunya membuat semua orang di ruangan itu memandang tak percaya ke arah Naruto, kecuali Sasuke dan Sakura tentunya.
"Kau sangat kekanak-kanakan Naruto. Kau memalukan!" Ujar Tsunade kesal, sementara Naruto hanya menngerucutkan bibirnya.
"A-ano.., Me-menurutku, ka-kalau dilihat dari ca-ra Naruto-senpai meng-hilang yang di-disertai dengan angin yang berhembus dan ca-cahaya menyilaukan, mungkin Naruto-san i-itu Dewa Apollo." Jelas Hinata panjang lebar dengan terbata-bata karena gugup dipandangi semua orang di ruangan tersebut. Tak lupa juga telunjuknya yang mulai bermain dan kepalanya yang dengan setia selalu menunduk.
"Wahh.. wahh.. Kau betul sekali Hinata-chan!" Ucap Naruto dengan menekankan kata Hinata-chan. Sementara Hinata yang mendengar namanya dipanggil dengan suffix –chan, pipinya tambah merona bahkan sudah menyaingi tomat, makanan kesukaan Sasuke.
"Ayo, tebak lagi!" Teriak Naruto semangat.
"Hmm.. Mendokusei, dilihat juga tahu kan, Kau Sasuke-senpai, pasti Dewa Ares, Sakura-senpai, ya.. Dewi Afrodite sedangkan Kurenai-sensei sudah jelas Dewi Hestia." Ucap Shikamaru dengan malas. Semua mengalihkan pandangan ke arah Shikamaru, kemudia semuanya tersenyum puas mendengar jawaban Shikamaru kecuali Sasuke tentunya yang tetap memasang senyum biasa.
"Bagaimana kau mengetahuinya, Nara-san?" Tanya Sakura dengan pandangan yang masih tertju kea rah Shikamaru.
Shikamaru memandang Sakura dengan bosan.
"Huh! Mudah saja. Seperti yang dijelaskan oleh Hinata tadi. Cara menghilang kalian terlalu khas dan sesuai dengan tugas kalian." Jawab Shikamaru dengan sedikit seringaian puas.
"Kau memang cerdas, lalu bagaimana dengan saya? Ada yang bisa menebak siapa saya? Karena alasan tadi tidak berguna karena aku tidak pernah menggunakan teknik menghilang." Ucap Tsunade sambil tersenyum tipis, memandang Shikamaru dan Hinata secara bergantian.
"Ku-kurasa, Hm.. Tsunade-sensei i-itu Dewi Athena." Jawab Hinata dengan pandangan menerawang. Mengira-ngira jawaban apa yang tepat untuk dia berikan.
"Kau benar Hinata." Sahut Shikamaru, membenarkan perakataan Hinata.
"Bagaimana kalian bisa berpikir seperti itu?" Tanya Tsunade.
"Kau suka membicarakan kebijakan dan kurasa kau memang sangatlah bijak. Bukankah itulah Dewi Athena, Dewi Kebijaksanaan." Kata Shikamaru. Tsunade terlihat puas dengan jawaban Shikamaru dan yang lainnya juga sedikit tersenyum tipis.
"Yosh! Kurasa kalian memanglah yang kami cari!" Ucap Naruto berapi-api. Semua orang yang melihat kelakuan Naruto hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala saja.
"Ya, aku juga sangat yakin. Kalian sangatlah cerdas dan terutama pengetahuan kalian tentang Mitologi Yunani sangatlah hebat dan mencengangkan." Ungkap Kurenai sambil tersenyum, senyumnya membuat Hinata terpana. Hinata merasa seperti itulah senyum seorang ibu, Hinata sangat merindukan ibunya itu.
Tanpa Hinata sadari, ia menitikan air mata. Dia teringat dengan masa lalunya, saat ibunya tersenyum. Tapi hanyalah kesamaran yang dia lihat karena itu sudah sangat lama sekali.
Ingatan Hinata
"Hime, kau jangan menangis ya.. Kaa-san akan selalu bersamamu dan menjagamu." Kata Ibu Hinata sambil tersenyum.
"Hime, ayo tidur.." Senyum kembali terkembang diwajah Ibu Hinata.
"Hime, kau pasti bisa, ayo berjuanglah…" Ucap Ibu Hinata dengan senyum yang pernah lepas dari wajahnya.
"Hime, jagalah dirimu ya.. Kaa-san akan selalu disisimu, walau Kaa-san tidak akan tinggal di dunia ini lagi." Dan ketika Ibu Hinata akan menjemput ajalnya, dia masih tetap tersenyum. Senyuman yang begitu tulus. Senyuman seorang ibu.
Ingatan Hinata End
"-ta.. Hinata.." Panggil Seseorang. Hinata yang mendengar panggilan itu segera tersadar dari ingatan masa lalunya.
"Eh.." Gumam Hinata singkat.
"Kenapa melamun, terus mengapa menangis?" Tanya Shikamaru pada sahabat kecilnya ini.
"Huh! Teringat Kaa-san, Shikamaru-kun." Ucap Hinata, menjawab pertanyaan Shikamaru seraya menghapus air matanya.
"Ya, sudah." Ucap Shikamaru. Kemudian Hinata tersadar pandangan semua orang masih tertuju padanya. Hinata pun menjadi gugup. Ia memunduk lagi kemudia kembali memainkan jarinya.
"Hah! Baiklah kita lanjutkan. Hinata dan Shikamaru, tunjukkan kalung tersebut agar kami percaya bahwa kalianlah yang dicari." Ucap Tsunade.
Mengerti apa yang dibicarakan Tsunade, Shikamaru serta Hinata segera mengeluarkan kalunganya. Tsunade sekarang menjadi yakin melihat, rupa kalung itu yang sangat persis dengan Kalung Golden Ligth Carrier dari Bangsa Suta dan Silver Light Carrier dari Bangsa Tsuki.
"Kami yakin, kalian orang yang dicari." Ucap Tsunade disertai dengan anggukan dari Naruto, Sakura dan Kurenai sementara Sasuke hanya menjawab dengan gumaman andalannya yaitu Hn.
"Sekarang, kalianlah yang akan ditakdirkan menjalankan misi ini bersama kami." Ucap Naruto, yang sedari tadi absen bersuara.
"Tunggu.. misi apa?" Tanya Shikamaru bingung. Begitu pula dengan Hinata yang tengah memiringkan kepala dengan polosnya, menatap bingung Naruto. Dan Naruto yang melihat tatapan dan tingkah laku Hinata menjadi salah tingkah.
"Sudahlah, Hinata-chan jangan tatap aku seperti itu." Atau nanti kumakan kau, yah begitulah kelajutan ucapan Naruto walaupun dia mengucapkannya dalam hati.
"Ah.. Gomenne Naruto-senpai." Ujar Hinata sambil membungkuk.
"Tegaklah, Hinata-chan." Mendengar perintah Naruto, Hinata pun menegakkan badannya.
"Mengenai pertanyaan Shikamaru, aku akan menajawab. Misi ini adalah sebuah misi penyelamatan." Ucap Naruto.
"Jadi, maksudnya Olympus yang akan kita selamatkan?" Tanya Shikamaru lagi, mengingat pembicaraan mereka yang tadi sebelum dia dan Hinata tertangkap basah tengah menguping.
"Iya, kau benar sekali." Ucap Sakura yang akhirnya membuka suara.
"Jadi, bisa kita mulai misi ini secepatnya?" Tanya Sasuke yang juga sedari tadi absen berbicara.
"Tu-tunggu sebentar.." Kata Hinata. Semua perhatian tertuju pada Hinata sekarang. Hinata menjadi semakin gugup.
"Apa lagi?" Tanya Sasuke dengan tampang datar dan suara yang amat dingin, membuat Hinata langsung ciut.
"Teme! Jangan bersikap kasar." Teriak Naruto, memperingatkan Sasuke.
"Hn." Dan begitulah jawabannya.
"Ya, lanjutkan saja ucapanmu Hinata." Ucap Naruto sambil mendesah pelan melihat kelakuan sahabat kecilnya yang tak pernah berubah.
"A-aku ingin bertanya se-sesuatu." Ungkap Hinata pelan tapi masih cukup dapat didengar oleh orang di ruangan tersebut.
"Apa itu?" Tanya Tsunade penasaran.
"A-aku ingin mengetahui me-mengenai sejarah bangsaku. Ba-bagaimana mereka dapat bertemu kalian. Bagaimana mereka terlibat? Dan lainnya." Ucap Hinata dengan tetap menunduk.
"Aku juga. Aku ingin mengetahuinya." Ucap Shikamaru tiba-tiba.
"Aku serahkan kepadamu, Kurenai." Ucap Tsunade.
"Baiklah, akan aku ceritakan semuanya." Ucap Kurenai.
TBC
N/A : Yuu melakukan kesalahan pada chapter kemarin, seharusnya Sakura, Sasuke dan Naruto tidak seumuran dengan Shikamaru dan Hinata. Chapter depan mungkin akan banyak flashback, karena akan menceritakan tentang bangsa Suta dan Tsuki. Yuu harap Reader mau membaca kelanjutan cerita Yuu. Gomen ya kalau banyak typo. Arigatou juga nih yang mau review.
Balasan Review (Yang Log In sudah Yuu balas lewat PM):
Aiko : Arigatou ya sudah mau review. Kita lihat saja nanti ya.. Hinata akn jadi kuat atau tidak, masalah umur sudah Yuu jelaskan di atas, mereka akan satu sekolah kok, dan lagian sarannya sangat membantu. Panggil Yuu-chan saja, biar enak. Hehehe.. Lagian aku belum cocok dipanggil senpai.
Guest : Sebelumnya arigatou atas reviewnya. Hmm.. sebenarnya SasuSaku nggak terlalu mencolok, karena ku rasa aku akan lebih mementingkan misi mereka dan hubungan NH. Jadi maaf kalau buat kamu kecewa, kalau memang nggak berminat baca sih, nggak apa
Mao-chan : Arigatou sudah mau me-review ya.. Aku sih memang kurang bisa nih buat narasi yang nggak monoton, jadi ku harap chapter kali ini sudah sedikit terasa feelnya. Sarannya sangat membantu.
GUEST : Ya, ku rasa itu hal yang sah-sah saja, kan sudah ada di warning : Ide pasaran, jadi kalau kamu benar-benar baca warning-nya, kamu bakal tahu kalau ni cerita pasaran. Lagian aku seorang Hinata-cent jadi menurutku nggak masalah Hinata sama siapa saja. Tapi, arigatou reviewnya.
Uchiha-Haru : Ya, menurut aku, SH apalah pair yang bermasalah, lagi pula aku nggak akan memasukkan NS dalam fic ini, dan Ojou-sama? Bukannya itu fic tentang putrid? Ini jauh dari kata Kerajaan lho.. Aku kurang mengerti, tapi arigatou sudah mau review.
Sasuke-kun : Salah gitu kalau Hinata-cent? Ku rasa sah-sah saja, baiklah author mengaku salah menempatkan Sasuke dan Sakura dalam satu kurung, jadi author sudah perbaiki. Author nggak tahu karakter Hinata bakal jadi mary-sue atau tidak, karena Yuu membiarkan jalan cerita mengalir sesuai dengan pikiran Yuu. Ku rasa aku nggak akan buat cerita seperti itu deh. Sasuke diapa-apa-in? OOC? Di warning tertulis jelas OOC, jadi tak menutup kemungkinan Sasuke bakal OOC, jadi sebelum kamu kecewa lebih jauh lebih baik nggak usah baca fic ini deh. Arigatou sudah review.
Lady Hyuga : Yuu merasa tersanjung nih kalau fic ini buat penasaran. Arigatou sudah review. Hehehe..
Big Thanks : Nurima Reseisda Elf, Aiko, guest, hiki0717, deva. , chintyahyuuga1, Mao-chan, Uchiha Ouka, Akatsuki Hotaru, Aoyuki-chan, Yukio Akemi, GUEST, sasuke-kun, , Byakugan no Hime, Azarya senju, Lady Hyuga.
Sejujurnya, Yuu bingung kok banyak nggak suka SH sih, dan lagian yang mengharapkan SS-nya banyak, mungkin harus kecewa, karena peran SS tidak terlalu mencolok, Yuu mau pentingi pendekatan NH dan misinya dulu, terus peran SH juga nggak terlalu mencolok, mungkin di bagian akhir pair-pair seperti SS dan SH baru keluar, Yuu juga nggak bisa jamin bahwa SS akan keluar banyak, jadi sebelum kalian kecewa lebih baik tekan tombol back deh, sudah cukup Yuu membuat kalian kecewa.
Chapter berikutnya:
"Harapankan?"
"Klan Hyuuga akan mendapatkan kalung Golden Light Carrier dan akan memiliki kekuatan cahaya emas bintang."
"Aku mendapatkan sebuah ramalan."
"Apa tidak sebaiknya kita gunakan saja kalung itu?"
"Ohh! Tapi kita terlambat. Semua tidak tersisa dan bahkan kalung Golden Light Carrier tidak ditemukan di sini."
Mind To Review!
