The Love Between Gods and Humans : The Dark Of Olympus

Chapter 3

Author : Yuuna Emiko

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Naruto x Hinata (NaruHina), slight Sasuke x Hinata (SasuHina)

Rating : T

Genre : Adventure, Romance, Fantasy

Warning : OOC, gaje, abal-abal, miss typo, alur maksa, alur kecepatan, EYD berantakan, alur berantakan, Ide pasaran, dll.

DON'T LIKE.., DON'T READ..,

"…." Berbicara biasa

'….' Dalam Hati

"….." Makhluk Mitologi berbicara.

"….." Ramalan

Summary : "Hinata Hyuuga, seorang gadis kutu buku dan Shikamaru Nara seorang pemuda malas, ber IQ tinggi, mempunyai satu persamaan yaitu menyukai Mitologi Yunani. Tanpa disangka mereka bertemu Apollo, Ares, Afrodite dan dewa-dewi lainnya karena Hinata adalah seorang Suta dan Shikamaru adalah seorang Tsuki yang diramalkan oleh Oracle Delphi , akan membantu Olympus. Bagaimanakah petualangan mereka? Dan Siapakah sosok asli Apollo, Ares dan Afrodite serta Dewa-Dewi lainnya?"

A/N : Naruto, Sasuke, Sakura : 23 tahun, Hinata, Shikamaru : 21 tahun

Apollo : Naruto

Ares : Sasuke

Afrodite : Sakura

Athena : Tsunade

Zeus : Minato

Hera : Kushina

Hestia : Kurenai

Hermes : Kakashi

Poseidon : Jiraiya

Hades : Orochimaru

Dementer : Mei Terumi

Hephaestus : Kankurou

Dionisos : Killer Bee

Artemis : Naruko

Sebelumnya :

"Hmm, mengapa kalian di sini?" Tanya Jiraiya.

"Setelah mengetahui di Kediaman Nara tidak terjadi apa-apa, kami berpikir bahwa mungkin memang benar bahwa Kediaman Hyuuga lah yang sedang dalam bahaya, maka dari itu Kami segera ke sini. Hanya saja Orochimaru, Mei dan Kankuro tetap berjaga di Kediaman Nara."

"Ohh! Tapi kita terlambat. Semua tidak tersisa dan bahkan kalung Golden Light Carrier tidak ditemukan di sini." Ucap Kurenai setelah memeriksa keberadaan kalung tersebut.

"Kita tidak mampu melindungi mereka. Dan sekarang kalung tersebu hilang. Jika sampai pada orang yang memiliki hati jahat, tamatlah sudah." Ucap Tsunade dengan frustasi.

"Jadikan ini pelajaran, kita harus menjadikan ini sebagai kelalaian dan kesalahan terakhir kita. Jangan sampai terjadi lagi. Lagi pula firasatku mengatakan masih ada yang hidup." Ucap Naruto sambil menatap jejak kaki yang mengarah ke Hutan.

"Lihatlah, jejak kaki itu." Lanjut Naruto sambil mengarahkan telunjuknya menunjuk ke arah jejak kaki tersebut.

"Kita masih memiliki harapan." Naruto mengucapkannya dengan semangat dan terpancar sebuah harapan besar di jiwanya.

Chapter 3 : "Keputusan"

Lalu para Dewa pun pergi dari kediaman Hyuuga untuk kembali ke Olympus. Mereka akan meminta bantuan Kakashi untuk menemukan jejak orang-orang Klan Hyuuga yang masih hidup.

Sesampainya di Oympus, semua Dewa sudah berkumpul. Dewa-Dewi yang berjaga di Kediaman Nara juga telah kembali.

"Tousan, kita terlambat. Benarkan apa yang aku bilang?" Ucap Naruto. Sedih, itulah perasaan yang dialami Naruto saat ini. Naruto adalah salah satu Dewa yang paling baik, dia sangat mencintai kedamaian, dia juga sangat menghargai manusia fana.

"Ya, Naruto. Tapi, ini sudah terjadi. Lebih baik kita juga berusaha melindungi Klan Nara." Ucap Minato tenang, walaupun dalam lubuk hatinya dia sedang berduka.

"Kita juga harus mencari, Orang Klan Hyuuga yang masih hidup. Aku melihat jejaknya dan mengarah ke Hutan. Lebih baik kita mencari mereka, karena ada kemungkinan mereka masih hidup." Jelas Naruto. Minato yang mendengar penjelasan Naruto kemudian menganggukan kepala.

"Ya, Kakashi sebaiknya kau cari mereka. Jika sudah ketemu, bawa mereka ke tempat teraman, Mungkin lebih baik ke rumah Kurenai saja. Kau keberatan Kurenai?" Kata Minato sambil menatap Kakashi dan kemudian beralih menatap Kurenai.

"Tidak sama sekali, Minato." Ucap Kurenai sambil tersenyum. Iris merahnya menampakkan keteduhan dan kegembiraan. Kurenai suka menolong seseorang.

"Baiklah telah diputuskan, Killer Bee, Mei dan Naruko kalian berjaga-jagalah di Kediaman Nara. Kakashi jalankan tugas yang saya berikan. Dan yang lain jalankan aktivitas seperti biasa." Ucap Minato memberi perintah. Semua Dewa langsung menjalankan tugas dan keperluannya masing-masing.

"Pastikan ini menjadi kesalahan terakhir kita." Ucap Minato.

Flashback End

"Dan akhirnya Kakashi menemukannya, menemukan ayahmu dan ibumu serta pamanmu, hanya itu yang tersisa, karena yang lainnya telah tewas. Penyebab yang lain tewas adalah binatang buas, kelaparan dan dehidrasi." Jelas Kurenai. Kesedihan meliputi Hinata.

"Aku merawat ayah, ibumu, dan pamanmu sampai mereka siap untuk mandiri. Dan kami kembali melakukan kesalahan, kami tidak mampu melindungi kalian. Ayah, dan pamanmu tewas dalam kecelakaan mobil dan hanya kau, ibumu dan kakak sepupumu yang selamat. Tapi, Ibumu harus pergi karena sakit yang dideritanya." Ucap Kurenai sendu.

Hinata mengalirkan air matanya. Dia tak kuasa menahannya. Mendengar tentang insiden kecelakaan keluarganya, serta insiden penyerangan monster terhadap Klan Hyuuga. Dia sangat sedih, yang lain hanya menatap iba kepada Hinata, kecuali Sasuke.

Karena tak kuat menahan derasnya air mata yang tengah mengalir, Hinata berlari dari ruangan itu, dia berlari sekencang-kencangnya sambail beruraian air mata.

"Biar aku yang mengejarnya." Naruto memberi saran dan tanpa menunggu persetujuaan dari mereka yang ada di ruangan itu dia langsung berlari mengejar Hinata.

"HINATA! Tunggu!" Teriak Naruto sambil berusaha mengejar Hinata. Tapi, Hinata tidak menghiraukan sama sekali penggilan senpainya tersebut. Dia terus berlari sambil beruraian air mata. Dia tidak memperdulikan lagi tatapan heran dari orang di sekitarnya.

Atap, adalah tempat Hinata menyendiri. Dia selalu pergi ke sana ketika ada masalah. Naruto tahu itu, karena diam-diam Naruto sering memperhatikan Hinata.

Sesampainya di atap, Hinata langsung jatuh terduduk. Menumpahkan semua kesedihannya yang mendalam akibat terbukanya luka lama. Hinata tahu bahwa Naruto mengikutinya tapi tak dia hiraukan yang terpenting menumpahkan semua kesedihannya di sini.

"Hinata…" Naruto mengucapkan nama Hinata dengan lirih. Dia memandang sendu Hinata. Ketika dia sampai di atap yang terlihat hanyalah Hinata yang sedang menangis tersedu-sedu.

Naruto pun segera memeluk Hinata untuk menenangkannya. Naruto sadar bahwa yang dibutuhkan Hinata saat ini hanyalah sebuah ketenangan.

"Kenapa? Hiks.. hiks.. ke-kenapa ha-harus Klan Hyuuga?"

"…" Naruto tidak mampu menjawab pertanyaan Hinata.

"Kenapa Kami-sama mengambil mereka? Mendengar mereka yang mati sia-sia, me-membuat aku sedih Hiks.. hiks..."

"Hinata.. jangan salahkan Kami-sama. Mereka tidak mati sia-sia. Kematian mereka menjadi sia-sia ketika kau memutuskan untuk menyerah pada hidup." Balas Naruto masih dengan memeluk Hinata.

"Dengar, Hinata. Masa lalu memang membawa kenangan yang sulit untuk kita lupakan, baik kenang baik maupun kenangan buruk. Namun itu bakanlah alasan untuk tidak terus melangkah menuju masa depan." Kata Naruto bijak sambil mengangkat kepala Hinata agar Hinata menatap langsung pada irisnya.

"Kita sebagai Dewa akan melindungimu. Kita tidak berbuat kesalahan lagi. Itulah janji kami, dan akan kami tepati. Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah membantu kami menyelamatkan dunia." Ucap Naruto lagi sambil memandang iris lavender Hinata. Berusaha menyelaminya lebih dalam. Kemudian Naruto menghapus air mata yang masih terdapat di wajah Hinata.

"Ari-gatou, Naruto-senpai." Ucap Hinata sebelum kegelapan menyelimutinya.

Naruto yang melihat Hinata jatuh pingsan, hanya menunjukkan raut kekhawatirannya. Dia beruntung karena dia merupakan Dewa Penyembuh. Naruto berpikir, mungkin Hinata hanya kelelahan, lelah fisik dan hati. Maka dari itu, dia segera memberikan nektar kepada Hinata, dan hanya tinggal menunggu Hinata sadar.

Naruto menggendong Hinata ala bridal style, dan membawanya menuju UKS secepat mungkin.

~The Love Between Gods and Humans~

Hinata POV

Tempat apa ini? Di mana ini? aku melihat mayat tersebar di mana-mana. Aku melihat hal yang sangat mengerikan. Api di mana-mana, banyak sekali monster.

Gelap. Di sini sangat gelap. Sejauh mataku memandang hanyalah sebuah kehancuran. Langit memancarkan sinar sendu. Angin menyanyikan sebuah lagu kesedihan. Rasa takut menyerangku. Aku sungguh ketakutan. Tolong! Keluarkan aku dari lingkaran ketakutan ini.

Ha.. aku melihat dua orang pria. Yang satu sangat menakutkan dan satunya lagi memancarkan sinar yang terang. Perasaanku menghangat. Hatiku menjadi nyaman. Rasa takutku sirna karena pancaran tubuhnya, bagaikan matahari yang sangat terang.

Tapi, mereka terlibat sebuah pertarungan. Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Aku takut bahwa pemuda yang membuat hatiku menghangat tewas dan pergi untuk selama-lamanya seperti Kaasan dan Tousan. Rasa takut kembali menyelimuti hatiku. Rasa takutku bertambah saat melihat sabit yang di pegang oleh pria menyeramkan tadi, dan dia mengarahkan sabit itu tepat ke arah pemuda itu.

"TIDAKKK!" Sontak aku pun berteriak. Entah mengapa aku hanya mengikuti naluriku. Aku seperti sangat takut kehilangannya. Sangat takut sekali.

'-nata.. Hinata! Ada apa?" Suara seorang pria bergema dan membuyarkan semua kejadian yang kulihat tadi. Karena penasaran ku buka mataku untuk melihat siapa orang yang memanggilku.

Ketika mata ini terbuka, terlihatlah sepasang iris blue saffir yang sangat indah. Iris blue saffir itu seakan menghipnotisku untuk terus memandangnya. Ah.. wajahku serasa memanas.

"-ta.. Hinata.. Kau sudah sadar? Kau demam? Wajahmu memerah." Suara pia itu lagi tapi kali ini dia menempelkan telapak tangannya di keningku. Pasti wajaku bertambah merah.

"Tidak panas." Ucap pria tersebut. Ucapan pria tersebut segera menyadarkanku. Ternyata Pria itu adalah Naruto-senpai, ah tidak Dewa Apollo. Terus, tadi itu hanya mimpi. Syukurlah.

Hinata POV End

Naruto bingung, karena saat Hinata pingsan, Hinata berteriak kencang sekali mengatakan Tidak. Lantas, Naruto pun bertanya padanya apakah kau sudah sadar, begitulah pertanyaan Naruto, namun tidak ada jawaban yang keluar dari Hinata.

"Ah! Dia pasti bermimpi." Pikir Naruto.

Naruto melihat Hinata gelisah, maka dari itu Naruto pun memajukan wajahnya agar dapat berpandangan langsung pada wajah Hinata tapi tanpa disangka oleh Nauto, tiba-tiba kelopak mata Hinata terbuka menampakkan Iris Lavendernya. Terkejutlah Naruto namun Hinata hanya menatap lurus pada mata Naruto dan kemudian wajahnya memerah.

Naruto kembali dibuat bingung. Maka dia menanyakan keadaan Hinata lagi sambil memegang kening Hinata untuk memastikan dugaannya, namun tidak terbukti bahwa dugaannya benar.

Naruto kembali terkejut karena Hinata tiba-tiba bangun.

"Kau selalu membuatku terkejut." Gumam Naruto sweatdrop.

"Hmm.. Tadi Dewa Apollo bilang apa?" Tanya Hinata dengan wajah polosnya.

"Ah! Tidak! Tidak! Tidak ada!" Ucap Naruto sambil mengibas-ngibaskan tangannya tanda bahwa dia tidak berbicara apa pun.

"Hinata, jangan kamu panggil aku Dewa Apollo. Panggil saja nama asliku Naruto." Ucap Naruto kemudian. Menurut Naruto, Panggilan Dewa Apollo itu terlalu tidak enak di dengar.

"Ba-baiklah, Na-naruto-san." Ucap Hinata tergagap. Hinata sungguh malu berhadapan dengan seorang pemuda kecuali dengan Shikamaru tentunya. Apalagi di depannya ini adalah seorang Dewa yang sangat Hinata idolakan sedari dulu.

"Tidak! Tidak! Jangan pakai suffiks san. Terlalu formal."

"Lantas pakai suffiks apa?" Tanya Hinata sambil menatap Naruto polos.

"Bagaimana kalau kun?, jadi kamu panggil aku 'Naruto-kun' dan aku panggil kamu Hinata-chan." Usul Naruto. Mendengar usulan naruto bertambah merahlah wajah Hinata.

"Ba-baiklah, Na-na-naru-to-kun." Ucap Hinata dengan susah paya dan tak lupa rona merah yang masih setia melekat di pipinya yang putih.

"Nah, Hinata-chan, karena kau sudah sudah sadar, ayo kita ikut rapat." Ajak Naruto seraya berjalan keluar UKS. Saat ini sekolah telah sepi.

"Tunggu, rapat apa?" Suara Hinata menghentikan langkah kaki Naruto. Naruto pun berbalik menatap Hinata.

"Rapat mengenai Misi Penyalamatan dan detailnya nanti dijelaskan saat rapat. Shikamaru, Sasuke-teme, Sakura, Tsunade, dan Kurenai juga sudah menunggu." Jelas Naruto. Hinata pun hanya mengangguk dan mengikuti langkah Naruto.

~The Love Between Gods and Humans~

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu menggema di ruangan kepala sekolah. Suara wanita dewasa mengintrupsi agar orang mengetuk pintu diizinkan masuk ke ruangan tersebut. Maka masuklah orang tersebut.

"Naruto, Hinata kalian lama sekali." Ucap Sakura dengan tampang kesal.

"Gomenne, Sakura-chan, tadi Hinata-chan ping- AWWW! Ittaii!" Ternyata perkataan Naruto tadi berubah menjadi jeritan kesakitan setelah menerima hentakan kaki dari Hinata ke kakinya.

"Hinata-chan sakit tahu." Ucap Naruto sambil menatap Hinata kesal tak lupa bibirnya yang telah dikerucutkan, terlihat sangat imut.

"Hehehe!" Hinata hanya mampu menampilkan senyum yang dipaksakan. Semua orang menatap bingung mereka berdua.

"Ah! Sudahlah, mari kita mulai saja rapat ini." Ucap Tsunade masih tenang.

"Kau aneh, Dobe." Celetuk Sasuke.

"Justru kau yang lebih aneh, Teme!" Naruto berteriak dengan perempatan yang telah setia bertengger di kepalanya.

"Kau menuduh tanpa bukti, Dobe." Ucap Sasuke dengan kalemnya.

"Yang menuduh tanpa bukti itu kau Teme!" Ucap Naruto atau mungkn yang lebih tepat disebut teriakan.

Krek! Krek!

Suara tulang yang direnggangkan menggema di ruangan itu dan tak lama kemudian sebuah buku setebal kamus, melayang dimasing-masing kepala Sasuke dan Naruto. Oh.. sungguh malang nasib kalian.

"Owhh! Ittai!" Teriak keduanya bersamaan sambil mengusap kepala mereka yang baru saja tertimpa buku setebal kamus yang beratnya dua kilo.

"Ah! Sasuke-kun! Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka? Mana yang sakit? Sini aku obati!" Sakura panic sendiri melihat kekasih tercintanya kena lembar kamus tebal.

"Kalian mau diam sebentar atau mau diam selamanya?" Sementara Sakura sibuk sendiri, aura hitam sdah menyelimuti Tsunade dengan perempatan yang telah menghiasi kepalanya.

Glek!

"Mendokusei!" Shikamaru merasa bosan dengan pertengkaran Naruto dan Sasuke yang kekanak-kanakkan. Sesekali dia menguap.

"Kami pilih diam sebentar." Ucap Sasuke dan Naruto bersamaan.

"Bagus!" Tsunade tersenyum puas mendengar jawaban keduanya.

"Ah! Ka-kalian sungguh kompak." Ucap Hinata sambil tersenyum lembut.

"Tidak!" Bantah mereka bersamaan lagi. Takdir berkata lain, mereka terlihat sungguh kompak.

"Baiklah, bisa kita mulai sekarang?" Tanya Tsunade sambil menatap satu persatu peserta rapat yang ada di ruangan itu.

"Ya, silahkan." Ucap Kurenai, memberi jawaban.

"Jadi, mari kita mulai dari ramalan." Ucap Tsunade sambil menatap Naruto. Naruto mengerti dengan tatapan Tsunade dan kemudia menganggukan kepalanya singkat. Semua pasang mati kembali menatap Naruto.

"Bencana besar telah dimulai. Bencana yang membawa sebuah keputusan besar. Empat orang menjawab panggilan. Di antaranya Matahari dan Ular Berbisa serta Gadis Suta dan Pemuda Tsuki. Pusaka Olympus sangat diperlukan. Raja Kegelapan sedang membuka pintu. Olympus kan tetap Lestari atau Binasa." Begitulah isi ramalan yang diucapkan Naruto. Semua menyimak dengan serius apa yang diucapkan Naruto. Tapi Hinata masih tidak mengerti arti dari ramalan tersebut. Naruto menyadarinya.

"Jadi artinya, sudah jelas bahwa bencana besar sudah direncanakan dan akan segera dimulai. Bencana ini membawa sebuah keputusan besar. Empat orang menjawab panggilan. Diantaranya Matahari yang adalah aku, Ular Berbisa, Sasuke, Gadis Suta, Hinata dan Pemuda Tsuki, Shikamaru. Kita memerlukan pusaka Olympus. The Dark Of Olympus telah menunggu kita dan apa arti dari membuka pintu itu?. Olympus akan tetap ada atau hancur." Jelas Naruto.

Hinata sekarang mengerti dan ini masalah yang sangat gawat menurut Hinata karena dia tahu siapa The Dark Of Olympus itu. Dan dia adalah orang yang berbahaya. Tapi Hinata tidak mengerti mengapa The Dark Of Olympus itu bisa mengancam Olympus sedangkan dia sudah berada di kedalaman Tartarus.

"Tunggu, The Dark Of Olympus itu bukannya sudah berada di kedalaman Tartarus, lantas bagaimana bisa di mengancam dan menyerang Olympus?" Tanya Hinata. Hinata butuh kepastian. Ini juga untuk menambah wawasannya mengenai Mintologi Yunani.

"Hmm.. Dia telah terbentuk kembali, Hinata. Itu adalah hal yang lazim bagi mereka yang telah berada di Tartarus. Hanya saja kurasa terbentuknya kembali dia sangat tidak lazim. Bagaimana secepat itu? Lagipula aku sangat yakin pasti ada yang membantunya." Ucap Tsunade.

"Hmm.. Kalau tidak ada yang membantu dia, bagaimana mungkin monster-monster seperti Minotaur, Laestrigonians dan Singa Nemeas menyerang Klan Hyuuga pasti itu juga karena ada perintah seseorang yang berkaitan dengan The Dark Of Olympus." Lanjut Tsunade. Ya, benar apa yang diucapkan Tsunade. Semua juga menyetujui itu.

"Menyangkut apa yang dikatakan Hinata dan Tsunade tadi, aku mulai berpikir apakah pintu yang dimaksud di ramalan tersebut merupakan pintu ajal?" Ucap Sasuke yang sedari tadi diam. Sontak semua orang terkejut ketika mendengar spekulasi Sasuke.

"Mustahil, Hades tidak bilang apa pun." Ucap Tsunade.

"Tapi ini bisa saja terjadi, mengingat Hades dan Thanatos saja kesulitan menjaga Tartarus yang dipenuhi monster. Saat mereka lengah itu bisa saja terjadi." Balas Sasuke

"Kalau kau benar, ini akan menjadi masalah besar. Jika pintu ajal dibuka maka monster akan abadi dan mereka yang mati dapat kembali hidup." Tsunade kelihatan sedikit panik, pasalnya jikan monster abadi, mereka akan kesulitan membunuh monster-monster tersebut.

"Akan ku laporkan ini pada Zeus nanti." Ucap Sakura.

"Hmm.. Lupakan dulu masalah itu, aku berpikir, kami diikut sertakan dalam rapat ini karena ramalan tersebut juga melibatkan kami kan?" Tanya Shikamaru yang sedari tadi hanya menyimak.

"Ya." Balas Tsunade. Dia mentap Hinata dan Shikamaru satu persatu dengan kedua iris sewarna madunya itu.

"Jadi, saat ini kami menerima sebuah misi dari Tousan. Misinya adalah Penyelamatan Olympus karena misi kita yang satunya lagi yaitu mencari kalian telah selesai." Ucap Naruto sambil bersedekap. Hinata dan Shikamaru tahu siapa itu Ayah Naruto karena Ayah Naruto merupakan Raja para Dewa, yaitu Zeus.

"Kami membutuhkan kalian dalam misi ini. Tanpa kalian misi ini tidak akan berjalan dengan lancar. Kita tahu misi ini sangat berbahaya, tapi kalian pergi bersama Dewa-Dewa yang berbakat. Jadi, bersediakah kalian mengikuti misi ini?" Tanya Tsunade. Semua orang sangat berharap bahwa Hinata dan Shikamaru mau mengikuti misi ini, karena misi ini penting sekali dan misi inilah yang dapat menyelamatkan Olympus serta dunia.

"Misi terlalu berbahaya. Kami akan mempertimbangkannya terlebih dahulu. Mungkin besok kami akan memberikan jawabannya." Ucap Shikamaru. Benar, semua yang diucapkan Shikamaru ada benarnya, baik bagaimana pun misi ini terlalu berbahaya bagi manusia fana. Mereka bisa saja mati kapan pun.

"Baiklah. Kami harap, besok kalian akan memberikan jawabannya." Ucap Tsunade. Tsunade, Naruto, Kurenai, Sakura dan Sasuke sangat mengharapkan jawaban yang positif dari Hinata dan Shikamaru. Walaupun sudah dapat diprediksi dari ramalan tersebut, namun ramalan bisa saja berubah, tergantung yang di atas.

"Hmm.. hari sudah mulai sore, kalian boleh pulang ke rumah." Ucap Kurenai sambil melihat jendela yang ada di ruangan tersebut. Benar saja, ketika Hinata dan Shikamaru mengalihkan pandangan mereka pada jendala, langit sudah mulai menampakkan warna jingga. Dengan begitu, mereka segera berpamitan pada para Dewa-Dewi yang ada ruangan itu dan bergegas pulang.

~The Love Between Gods and Humans~

"Shikamaru-kun, bagaimana menurutmu tentang misi yang tadi." Tanya Hinata sambil mengalihkan pandangannya ke arah Shikamaru. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan pulang ke rumah. Kebetulan rumah mereka searah jadi mereka pulang bersama setiap selesai kuliah.

"Hmm.. Mendokusai." Balas Shikamaru seadanya. Sejujurnya, Shikamaru paling malas dengan segala hal yang merepotkan, dia sangat menghindari hal tersebut.

"Kalau menurutmu?" Tanya Shikamaru. Hinata kesal dengan tingkah laku Shikamaru, yang selalu menjawab dengan kata Mendokusei.

"Mendokusai." Jawab Hinata. Shikamaru menautkan alisnya.

"Hey, itu kata-kataku." Ujar Shikamaru.

"Biarin." Hinata membalas ucapan Shikamaru dengan cuek.

"Ya sudah, Hinata, kau mau ikut misi itu tidak?" Tanya Shikamaru. Hinata terlihat berpikir sebentar.

"Entahlah, masih kupikirkan." Shikamaru juga begitu. Jelas keduanya masih bingung, ikut atau tidak.

"Hinata kita berpisah di sini." Ucap Shikamaru. Ya, setelah pertigaan ini, rumah mereka berbeda arah. Hinata berjalan lurus sedangkan Shikamaru berjalan ke kanan.

"Ya, Sayonara Shikmaru-kun." Ucap Hinata sambil melambaikkan tangan.

"Hn."

~The Love Between Gods and Humans~

Hening melanda perjalanan Hinata menuju rumah. Perhatian Hinata teralihkan pada taman dekat rumahnya. Sungguh indah, itulah yang dipikirkan. Dengan latar langit yang berwarrna jingga dan matahari yang tenggelam, taman yang di penuhi dengan pohon sungguh menarik perhtian Hinata namun di enyahkannya pemikiran untuk singgah sebentar di taman itu karena waktu yang sudah hapir malam.

Hinata POV

Aku bingung, apakah aku harus ikut atau tidak. Jika aku ikut, mungkinkah akan berguna, aku hanyalah gadis lemah, walaupun ada kalung ini, aku takut hanya merepotkan Naruto-kun dan Sasuke-san. Mungkin aku perlu saran dari nenek Chiyo.

Hmm.. Aku jadi teringat Naruto-kun, kalau dipikir-pikir Naruto-kun itu memang seperti matahari ya.. begitu terang serta irisnya seperti langit yang biru, sungguh indah. Setiap dekatnya serasa nyaman dan tenang. Aku suka perasaan ini.

Hinata POV End

Hinata melamun dan sekali-sekali dia tersenyum, hingga tanpa sadar dia telah tiba di rumahnya.

"Tadaima." Ucap Hinata sambil melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu yang berada dekat dengan pintu. Rumah Hinata adalah rumah yang sederhana dan bergaya tradisional tapi terlihat elegan karena terdapat banyak tumbuhan di sana dari bunga-bunga sampai pepohonan.

"Okaeri, Hinata-sama." Terdengar suara Nenek Chiyo dari arah dapur. Mendengar sambutan itu Hinata segera tersenyum dan menghampiri Nenek Chiyo di dapur.

"Obaasan, mari Hinata bantu." Ucap Hinata seraya membantu Nenek Chiyo meletakkan makanan ke meja makan. Nenek Chiyo tersenyum melihat tingkah Hinata.

"Hinata-sama, sebaiknya mandi terlebih dahulu. Hmm.. dan kenapa Hinata-sama baru pulang terlambat?" Nek Chiyo mengucapkannya dengan ramah. Hinata hanya tersenyum menanggapi ucapan Nenek Chiyo.

"Ah.. Tidak apa, Obaasan. Setelah ini aku akan mandi. Masalah pulang terlambat, nanti akan aku ceritakan." Hinata membalas ucapan Nek Chiyo sambil menata meja makan.

"Baiklah." Ucap Nek Chiyo.

"Nah, selesai. Aku mandi dulu Obaasan." Ucap Hinata seraya pergi menuju kamarnya.

Hinata segera bergegas ke kamar agar dapat mandi. Menurut Hinata dengan kita mandi dapat menghilangkan segala kepenatan yang dialami kita seharian ini. Setelah mandi, Hinata segera berjalan turun ke lantai satu, tempat ruangan makan berada.

"Wah! Menu malam ini sepertinya enak." Ucap Hinata sambil berbinar-binar. Walaupun sedikit, menu malam ini memang sangat enak, ada Kare dan Karaage.

"Ittadakimasu!" Ucap Hinata dan Nek Chiyo serempak. Mereka makan dengan tenang, karena begitulah aturan dalam rumah ini.

Setelah selesai makan dan membersihkan piring dan sumpit yang dipakai untuk makan tadi, Hinata segera mengajak Nek Chiyo ke kamarnya.

Nek Chiyo duduk di kasur Hinata sedangkan Hinata berbaring di pangkuan Nek Chiyo.

"Obasan, aku mau menceritakan sesuatu." Ucap Hinata. Nek Chiyo sangat mengenal Hinata. Sifatnya sangat tertutup dan hanya mau terbuka jika bersama dengan Nenek Chiyo saja.

Nek Chiyo tersenyum dan membelai surai indigo Hinata. "Cerita apa itu, Hinata-sama?" Tanya Nenek Chiyo. Maka mulailah Hinata menceritakan semua kejadian di kampus tadi, dari pertemuan dengan Dewa-Dewi Olympus sampi tentang misi itu.

"Obaasan, aku ragu, apakah aku harus menerima misi itu atau tidak. Karena dalam lubuk hatiku yang terdalam masih ada perasaan takut tapi, di sisi lain aku sangat ingin mengikutinya karena dengan inilah aku dapat membalas budi pada Olympus." Ungkap Hinata mengeluarkan uneg-unegnya. Nenek Chiyo mengerti perasaan nonanya, nonanya pasti sedang bimbang.

"Nah, apakah yang ditakutkan Hinata-sama?" Tanya Nenek Chiyo. Mungkin dengan mengetahui apa yang ditakutkan nonanya, Nenek Chiyo dapat memberikan solusinya.

"A-aku.. aku takut nantinya, aku hanya merepotkan Naruto-kun, Sasuke-san dan jika Shikamaru-kun ikut, mungkin aku juga akan merepotkannya. Walaupun aku memiliki kalung ini, tidak akan mampu menutup kelemahan dalam diriku." Ucap Hinata sambil meremas baju tidurnya.

"Hinata-sama, ketakutan itu wajar dalam hidup manusia. Tapi, ketakutan itu haruslah dilawan, jika kita tidak melawan maka ketakutan itu sendirilah yang menghantui hidup kita dan tidak akan pernah berhenti mengganggu hidup kita." Ucap Nenek Chiyo bijak. Hinata sekarang sadar bahwa dia tidak seharusnya takut. Dia sudah yakin dengan keputusannya.

"Baiklah, sekarang aku sudah memutuskanya. Obaasan arigatou, hontouni arigatou." Ucap Hinata sambil bangkit dari pangkuan Nnek Chiyo krmudian memeluknya.

~The Love Between Gods and Humans~

"Jadi, kalian sudah memutuskannya?" Tanya Tsunade. Hinata, Naruto, Shikamaru, Sasuke dan Sakura serta Kurenai sudah berkumpul kembali di ruang kepala sekolah, saat ini adalah jam istirahat.

"Ya, kami memutuskan untuk-" Jeda Shikamaru sebentar sambil melirik Hinata untuk memastikan apakah Hinata yakin dengan keputusannya, dan Hinata mengerti apa maksud lirikan Shikamaru, maka dari itu dia menganggukan kepalanya dengan mantap.

"Kami akan ikut serta dalam misi ini." Ucap Hinata dan Shikamaru bersamaan sambil memandang ke depan dengan tatapan yang tegas. Mereka telah bercerita sebelumnya bahwa mereka telah mengambil keputusan dan keputusan itu adalah menerima misi itu. Mereka siap menghadapi segala konsekuensinya.

Mendengar jawaban yang mantap dari kedua orang tersebut membuat semua Dewa dan Dewi yang ada di sana tersenyum.

"Yosh! Bagus kalau begitu! Mari kita mulai misi ini besok!" Ucap Naruto dengan semangat yang menggebu-gebu. Dan hanya di tanggapi dengan kikikan kecil dari yang lain dan tatapan tajam dari Sasuke.

"Y-ya!" Jawab Hinata.

"Hn." Jawab Shikamaru dan Sasuke bersamaan.

TBC

A/N : Huh! Selesai juga. Kalau terlalu ngebosenin, gomen ya.. Kalau ada kesalahan kata-kata, gomenasai. Dan Yuu juga minta maaf karena updatenya lama, kuota Yuu habis nih, jadi nggak bisa update dulu. Dan mungkin mulai saat ini updatenya akan lama, karena sudah mau masuk sekolah dan Yuu tahun ini kelas 9, jadi makin banyak kesibukannya.

Satu lagi nih, kalau yang mengharapkan sebuah pertarungan, maaf ya kecewa. Yuu rasa pertarungannya belum ada di chapter-chapter awal.

Sedikit penjelasan mengenai Sasuke. Mengapa Yuu menggambarkan Sasuke menjadi Ular berbisa? Itu karena hewan yang keramat Ares adalah Ular berbisa. Sebenarnya hewan keramat Ares ada burung hantu dan burung hering, niat awalnya Yuu mau menggunakan burung hantu, namun Hewan keramat bagi Athena juga burung hantu, jadi nggak jadi deh. Mau tahu lebih lanjut? Cek di google.

Untuk yang review, favorite, follow dan silent reader Arigatou..

Mind To Review!