The Love Between Gods and Humans : The Dark Of Olympus
Chapter 4
Author : Yuuna Emiko
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Naruto x Hinata (NaruHina), slight Sasuke x Hinata (SasuHina)
Rating : T
Genre : Adventure, Romance, Fantasy
Warning : OOC, gaje, abal-abal, miss typo, alur maksa, alur kecepatan, EYD berantakan, alur berantakan, Ide pasaran, dll.
DON'T LIKE.., DON'T READ..,
"…." Berbicara biasa
'….' Dalam Hati
"….." Makhluk Mitologi berbicara.
"….." Ramalan
Summary : "Hinata Hyuuga, seorang gadis kutu buku dan Shikamaru Nara seorang pemuda malas, ber IQ tinggi, mempunyai satu persamaan yaitu menyukai Mitologi Yunani. Tanpa disangka mereka bertemu Apollo, Ares, Afrodite dan dewa-dewi lainnya karena Hinata adalah seorang Suta dan Shikamaru adalah seorang Tsuki yang diramalkan oleh Oracle Delphi , akan membantu Olympus. Bagaimanakah petualangan mereka? Dan Siapakah sosok asli Apollo, Ares dan Afrodite serta Dewa-Dewi lainnya?"
A/N : Naruto, Sasuke, Sakura : 23 tahun, Hinata, Shikamaru : 21 tahun (Naruto, Sasuke dan Sakura di bilang senpai karena mereka ikut kelas percepatan)
Apollo : Naruto
Ares : Sasuke
Afrodite : Sakura
Athena : Tsunade
Zeus : Minato
Hera : Kushina
Hestia : Kurenai
Hermes : Kakashi
Poseidon : Jiraiya
Hades : Orochimaru
Dementer : Mei Terumi
Hephaestus : Kankurou
Dionisos : Killer Bee
Artemis : Naruko
Sebelumnya :
"Kami akan ikut serta dalam misi ini." Ucap Hinata dan Shikamaru bersamaan sambil memandang ke depan dengan tatapan yang tegas. Mereka telah bercerita sebelumnya bahwa mereka telah mengambil keputusan dan keputusan itu adalah menerima misi itu. Mereka siap menghadapi segala konsekuensinya.
Mendengar jawaban yang mantap dari kedua orang tersebut membuat semua Dewa dan Dewi yang ada di sana tersenyum.
"Yosh! Bagus kalau begitu! Mari kita mulai misi ini besok!" Ucap Naruto dengan semangat yang menggebu-gebu. Dan hanya di tanggapi dengan kikikan kecil dari yang lain dan tatapan tajam dari Sasuke.
"Y-ya!" Jawab Hinata.
"Hn." Jawab Shikamaru dan Sasuke bersamaan.
Chapter 4 : "Langkah Awal"
"Shikamaru-kun, rasanya lega banget deh!" Ucap Hinata sambil tersenyum. Saat ini mereka telah berada di kelas karena jam istirahat telah berakhir.
"Ya, kau benar Hinata. Hoammm…" Jawab Shikamaru diiringi dengan uapannya.
"Ishh! Kamu ini kerjanya menguap terus." Seru Hinata. Jelas Hinata kesal karena hampir setiap saat Shikamaru selalu menguap, Hinata bahkan pernah berpikir bahwa Shikamaru mengidap suatu penyakit yang membuat orang selalu menguap atau mengantuk. Aneh memang, tapi itulah pemikiran Hinata yang masih polos ini.
"Kau jadi cerewet Hinata! Tertular Naruo yang cerewet itu ya?" Ucap Shikamaru sambil menatap Hinata. Saat mendengar nama Naruto terucap dari bibir Shikamaru, sontak membawa Hinata mengingat kebersamaan mereka kemarin, memerahlah wajah Hinata.
"Oy, Hinata, wajahmu memerah tuh!" Ucap Shikamaru, menyadarkan Hinata dari ingatannya tentang Naruto.
"Pasti terjadi sesuatu di antara kalian kan?" Tanya Shikamaru dengan tatapan menyelidik. Shikamaru tahu betul sifat Hinata, kalau wajahnya memerah pasti terjadi sesuatu dengannya, entah itu kejadian memalukan atau romantis.
"A..aa.. Ti..tidak terjadi a..apaa-apa." Ucap Hinata dengan gagap.
"Ya, sudahlah kalau tidak mau cerita. Lagi pula sensei sudah datang." Ucap Shikamaru dengan tatapan yang mengarah ke depan. Ketika Hinata mengarahkan pandangannya ke depan, ternyata benar apa yang diucapkaan Shikamaru, sensei sudah datang.
"Minna, untuk memulai pelajaran hari ini, buka buku kalian hal. 56, saya akan menjelaskan materi baru." Ucap guru tersebut.
"Haik, sensei." Ucap seluruh mahasiswa dan mahasiswi di ruangan tersebut.
~The Love Between Gods and Humans~
"Hinata-sama, harus hati-hati, pastikan kembali dengan selamat ya.." Ucap Nek Chiyo. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka untuk menjalankan misi. Hinata sudah menyiapkan segalanya.
"Haik, Obaasan, Hinata akan hati-hati." Jawab Hinata sambil memeluk Nenek Chiyo. Hinata sebenarnya sedih harus meninggalkan Nenek Chiyo, karena bagaimana pun Nenek Chiyo adalah orang yang menjaga Hinata sejak kecil dan sudah menjadi orang terdekat Hinata.
"Sayonara, Hinata-sama. Semoga berhasil." Nenek Chiyo mengucapkan selamat tinggal dan memberi semangat kepada Hinata. Sedangkan Hinata hanya tersenyum membalas ucapan Nek Chiyo.
"Sayonara, Obaasan. Arigatou." Ucap Hinata sambil berjalan pergi menuju Universitas Konoha, karena disanalah tempat berkumpul.
Setelah sampai di Universitas Konoha, Hinata segera bergegas menuju ruang kepala sekolah. Saat ini sekolah sangat sepi, karena hari ini adalah hari minggu, hari dimana sekolah libur dan besok kembali meanjutkan aktivitas sekolah seperti biasa.
"Hah! Akhirnya kau sampaii juga Hinata-chan!" Seru Naruto sambil nyengir. Melihat cengiran Naruto, sontak wajah Hinata memerah dan segralah dia menundukkan kepala sambil memainkan jari telunjuknya.
"Go..gomen." Hanya itu yang dapat diucapkan Hinata. Saat Hinata sampai memang semua orang telah menunggu dalam ruangan tersebut dan dialah yang terakhir datang.
"Sudahlah, lebih baik kita cepat memulai persiapan sebelum berangkat." Ucapan Tsunade membuat semua orang mengalihkan pandangannya kea rah tempat Tsunade duduk, termasuk Hinata yang tadi menunduk.
"Baiklah, sebelum kalian berangkat kami para Dewa akan memberikan senjata kepada Shikamaru dan Hinata." Tsunade menatap Hinata dan Shikamaru bergantian, kemudian dia mengelurkan sebuah kotak dari dalam lacinya.
"Ini untuk berjga-jaga, karena kalian tidak dapat menggunakan kekuatan kalung itu terus-menerus, sebab kalian akan kehabisan tenaga nantinya. Dan kalung tersebut bisa kalian gunakan baik siang maupun malam karena kekuatan kalung tersebut sudah terkumpul dan tidak pernah digunakan sama sekali." Jelas Tsunade panjang lebar sambil menunjukkan dua belati ke arah Shikamaru dan Hinata.
"Ini untukmu Hinata." Ucap Tsunade sambil menyerahkan belati dengan gagang emas kepada Hinata.
"Dan ini untukmu." Tsunade juga menyerahkan sebuah belati bergagang perak ke arah Shikamaru.
"Masih ada lagi yang kalian perlukan. Aku memberikan akan memberikan sebuah peta. Peta ini akan menunjukkan keberadaan kalian dan di mana wilayah kalian berada." Tsunade memberika peta tersebut kepada Shikamaru. Dan Shikamaru pun mengambilnya kemudian membuka peta itu tapi isinya kosong.
'Ah! Itu kan?' Batin Sasuke ketika melihat Tsunade memberikan peta itu kepada Shikamaru.
"Kosong?" Tanya Shikamaru sambil mengerutkan dahinya.
"Ya, peta itu akan menunjukkan gambarnya jika kalian sentuh dengan tangan, seperti ini sambil berucap tujuan kalian." Ucap Tsunade sambil menunjukkan cara menggunakan peta tersebut. Dia menyentuh bagian tengah peta dengan telunjukknya dan muncullah gambar-gambar jalan yang menunjukkan keberadaan mereka.
"Ooo.. begitu cara kerjanya." Gumam Shikamaru.
"Dan ini untukmu Hinata." Ucap Tsunade sambil memberikan sebuah botol yang tidak terlalu besar. Hinata menerima botol tersebut dan memandangnya.
"Kegunaannya adalah ketika temanmu terluka parah atau serakat bahkan mati, kamu dapat memberikannya kesempatan kedua untuknya hidup kembali dengan memberikan setetes cairan dalam botol tersebut ke dalam mulutnya." Jelas Tsunade. Hinata bahkan tak meyangka ada cairan seperti itu di dunai nyata. Hah, memang sejak Hinata mengetahui kebenaran segalanya dia sudah terjebak dalam hal-hal yang tidak masuk akal.
"Ingat, Hinata. Gunakan cairan ini dengan sebaik-baiknya." Ucap Tsunade kepada Hinata. Hinata mengalihkan perhatiannya dari botol tersebut kea rah Tsunade.
"Haik, Tsunade-sensei." Ucap Hinata sambil menganggukan kepala singkat, kemudian meletakkan botol tersebut di tas punggung yang sedari tadi dibawanya, begitu pula dengan Shikamaru yang meletakkan peta yang di beri Tsunade tad di tas punggungnya juga. Sedangkan belati mereka masih di tangan mereka masing-masing.
"Sebelum pergi, kalian sebaiknya memakai ini." Ucap Naruto. Sambil menunjukkan jubah dua jubah berwarna hijau lumut dan satu lagi berwarna ungu kelam, seperti rambut Hinata. Naruto dan Sasuke telah terlebih dahulu mengenakan jubah mereka. Naruto dengan jubah jingganya dan Sasuke dengan jubah ravennya.
Hinata merasa ada yang janggal, kenapa hanya Sasuke, Naruto, Shikamaru dan dirinya saja yang memakai jubah dan membawa tas, mirip orang yang mau berpetualang, kenapa Sakura tidak? Itulah pemikian Hinata saat ini. Dia memandang Sakura penuh arti.
"Ada apa Hinata-chan?" Sakura merasa Hinata menatapnya dengan pandangan bertanya. Hinata tersentk mendengar pertanyaan Sakura.
"Ah! Kenapa Sakura-san tidak pakai jubah?" Tanya Hinata. Mendengar pertanyaan tersebut Sakura tersenyum lembut.
"Oh! Aku tidak ikut misi ini Hinata-chan. Ingin larik di Ramalan yang diucapkan Naruto, Empat orang akan menjawab panggilan. Dan hanya kau, Shikamaru, Naruto dan Sasuke-kun yang dapat menjalankan misi ini. Karena kalianlah yang diramalkan. Bukan aku." Ucap Sakura sambil menghampiri Hinata dan menepuk bahu Hinata pelan seraya tersenyum lembut yang dibalas oleh Hinata dengan senyum yang manis menurut Naruto.
'Oh! Demi Dewa-Dewi, mungkin aku sudah gila.' Batin Naruto sambil mengalihkan tatapannya dari sosok Hinata. Wajahnya sudah dikuasai oleh rona merah.
"Wajah kau merah, Dobe." Ucap Sasuke menggoda Naruto. Salah satu kebiasaan Sasuke adalah menggoda Naruto dan tiu sangat tidak disukai oleh Naruto.
"Urusaii, Teme!" Jawab Naruto cemberut.
"Oh.. Aku lupa tentang ramalan itu, Sakura-san." Ucap Hinata.
"Jangan panggil pakai suffiks san, pakai saja suffiks chan, kan lebih enak di dengar." Ucap Sakura. Hinata menganggukan kepalanya.
"Baiklah, Sakura-chan." Ucap Hinata.
"Naruto, kau yang jadi pemimpin misi ini." Ucap Tsunade tiba-tiba. Naruto terkejut dengan ucapan Tsunade, sebab jika ada Sasuke pasti selalu Sasuke yang ditunjuk jadi pemimpin.
"Cih! Kenapa Dobe?" Tanya Sasuke sakratis pada Tsunade.
"Karena sepertinya Naruto lah yang pantas memimpin misi ini." Jawab Tsunade. Sasuke hanya pasrah dengan keputusan Tsunade yang mutlak.
"Naruto, bijak sekali jika kau mengambil gulungan ramalan terlebih duhulu sebelum memulai misi." Tsunade menyarankan. Naruto mengangguk singkat mendengar saran Naruto.
~The Love Between Gods and Humans~
"Bagaimana, Naruto? Kau sudah mengambilnya?" Tanya Kurenai. Tadi, setelah Tsunade menyarankan Naruto untuk mengambil gulungan ramalan, mereka segera bergegas ke kuil tempat Oracle Delphi berada. Kuil tersebut berada di dunia manusia jadi mudah bagi Shikamaru dan Hinata ke sana, tapi jika berada di Olympus juga memungkinkan Hinata dan Shikamaru ke sana.
"Ah! Baiklah akan saya bacakan ramalannya. Dengarkan baik-baik." Ucap Naruto kemudian membuka gulungan ramalan tersebut. Semua orang yang ada di depan Naruto menatapnya dengan serius. Mereka siap mendengar ramalan tersebut.
"Pusaka Olympus mustahil ditemukan tanpa keberanian dan tekad. Mereka tersebar di berbagai penjuru dunia. Di dataran tanpa hujan kan kalian temukan Golden Bow. Di balik awan kan kalian lihat Sword Red Sharingan. Dan di Negeri Nirdewa kan kalian perjuangkan Silver Arrow. Seseorang kan bawa pengaruh besar bagi Olympus. The Dark Olympus perlahan-lahan kan bangkit." Ujar Naruto. Setelah dia membacakan ramalan tersebut, Naruto memperhatikan satu-perrsatu ekspresi orang-orang di depannya tersebut.
"Itulah isinya. Aku rasa tidak perlu dijelaskan arti ramalan tersebut. Karena ku rasa kalian telah tau." Ucap Naruto. Mereka semua mengangguk singkat. Ia, mereka mengerti arti ramalan tersebut.
"Tapi, Negeri Nirdewa bukannya negeri yang tidak dapat dimasukki oleh Dewa? Bagaimana bisa kita mengambil Silver Arrow?" Hinata jelas penasaran, tidak mungkin kan kalau hanya dia dan Shikamaru yang mengambil Silver Arrow sendirian tanpa bantuan Dewa.
"Aku rasa kau sudah mengetahui jawabannya, Hinata." Jawab Tsunade. Hinata terbelalak, dugaannya ternyata benar.
"Ba-bagaima-na mung-kin ki-"
Hinata belum sempat melanjutkan ucapannya, karena suara Naruto memotongnya. "Mungkin saja, Hinata-chan. Kalian punya kekuatan. Ingat isi ramalan tersebut, Pusaka Olympus mustahil ditemukan tanpa keberanian dan tekad. Yakinilah diri kalian."
"Ba-baiklah akan kami coba." Ucap Hinata. Walaupun ada secercah ketidakyakinan dalam hati Hinata, namun dia tepis itu, karena baik bagaimana pun dia sudah siap menanggung segala resikonya sejak dia menerima misi ini.
"Kita sebaiknya bersiap terlebih dahulu, setengah jam lagi kita berangkat." Ucap Naruto, dan yang lain hanya mengangguk singkat.
"Aku juga harus pergi untuk melaporkannya kepada Minato-sama. Sayonara minna. Oh sebelum itu, CHUU! Ganbatte ne Sasuke-kun! Kembalilah dengan selamat." Ucap Sakura, sambil memeluk dan mencium pipi kanan Sasuke. Suara Sakura perlahan menghilang dengan ikuti menghilangnya tubuh Sakura, yang hanya menyisakan bunga-bunga Sakura yang jatuh seiring kepergiannya.
Sasuke jelas terkejut dengan kelakuan Sakura yang tiba-tiba begitu, tapi wajahnya dengan cepat kembali seperti biasanya, datar. Lain halnya reaksi Hinata, wajahnya sudah memerah, reaksi Naruto? Jangan ditanya ia sudah tertawa sementara Shikamaru tetap pada mode mengantuknya. Kalau Kurenai sih biasa-biasa saja.
"Aku juga akan kembali ke Universitas Tokyo." Ucap Tsunade sambil tersenyum singkat melihat kelakuan Sakura, kemudian menghilang diiringi dengan cahaya keemasan.
"Lantas mengapa kau di sini? Kau kan tidak ikut misi ini." Ucap Sasuke ketus sambil mengarahkan perhatiannya pada Kurenai. Mendengar itu, Kurenai hanya mendengus dan yang lainnya hanya menganggap itu angin lalu.
"Huh! Kau jangan ketus-ketus begitu. Aku kan hanya menemani kalian sampai kalian berangkat. Memangnya tidak boleh? Lagi pula aku tidak ada kelas." Jawab Kurenai kesal. Tentu saja dia kesal, niat dia baik tapi malah ditanyai dengan nada ketus oleh Sasuke.
"Hn. Tidak." Jawab Sasuke seadanya.
"Teme, ternyata kau masih kekanak-kanakkan ya? Hahahaha!" Naruto kau sudah membangunkan macan yang lagi tidur, sekarang Sasuke telah mencapai batas kesabarannya.
"DO-BE!" Ucap Sasuke dengan menambahkan tekanan pada katanya. Di kepalanya juga sudah terpampang perempatan yang dengan indahnya menghiasi surai ravennya.
"Apa, Teme?" Tanya Naruto tidak peka.
"Siapa yang kau bilang kekanakan, hah?" Tanya Sasuke, menatap Naruto dengan deathglare yang mematikan.
"Kau lah, siapa lagi?" Ucap Naruto masih tidak peka. Tapi, ketika dia menatap deathglare Sasuke, maka susahlah Naruto menelan ludahnya sendiri. Sasuke sudah marah besar.
"Ha-ha-ha-ha.. Lebih baik kau istirahat, Sasuke. Deathglare kau sungguh membuat orang frustasi." Ujar Naruto, sambil berbalik memunggungi Sasuke, dan berlari ke arah, berniat berlindung di belakang Hinata. Sedangkan Hinata yang menjadi tempat perlindungan Naruto hanya dapat tertawa, Naruto sempat terpana dengan tawa Hinata tapi Sasuke sudah berniat berlari ke arahnya.
"HUAAAA! GOMENNN SASUKEE!" Teriakan Naruto membahana di tempat tersebut.
"Kalian berdua diamlah, ini adalah kuil." Ucap Kurenai tapi tidak dihiraukan oleh Sasuke dan Naruto sama sekali. Hinata hanya dapat melanjutkan tawanya, dan Shikamaru sedari tadi sudah tertidur.
~The Love Between Gods and Humans~
"Minato-sama, saya kembali untuk melaporkan misi ini." Ucap Sakura yang sudah duduk di singgasananya di Olympus. Memang setiap 12 Dewa-Dewi Utama Olympus memiliki kursi kebesarannya masing-masing.
"Iya, lanjutkan Sakura." Perintah Minato. Di ruangan rapat di puncak gunung Olympus tersebut juga telah berkumpul semua Dewa-Dewi kecuali Sasuke, Naruto, Tsunade, dan Kurenai. Kursi mereka kosong. Setiap orang juga tidak dapat menempati kursi kebesaran Dewa sembarangan karena pada dasarnya Dewa-Dewi adalah orang yang sensitive.
"Hmm.. Kami telah menemukan mereka. Sekarang saat ini Naruto, Sasuke dan Gadis Suta serta Pemuda Tsuki tersebut akan menjalankan misi penyelamatan. Ramalan tentang misi ini sepertinya juga positif." Ucap Sakura melaporkan. Semua orang yang berada di ruangan tersebut tersenyum lega mendengarnya.
"Bagus. Sekarang kita hanya perlu waspada, karena sewaktu-waktu The Dark Of Olympus akan menyerang, karena aku rasa sangat sulit mengalahkan semua monster dan The Dark Of Olympus hanya dengan kekuatan yang berasal dari pusaka Olympus." Tutur Minato. Yang lain mengangguk setuju mendengar penuturan Minato.
"Kita juga harus memastikan bahwa Dewa-Dewi minor berada di pihak kita. Dan sebisa mungkin, kita harus menjauhkan manusia dari pertempuran ini." Ucap Minato lagi.
"Tapi Minato, aku tidak dapat membantu terlalu banyak, karena aku punya perang sendiri di bawah laut. Para Monster-monster laut yang telah lama punah kembali bangkit lagi." Ucap Jiraiya menyesal. Jiraiya memang mempunyai perang sendiri. Kerajaan bawah laut Jiraiya sedang terancam dengan adanya monster-monster kuno yang kemali hidup lagi.
"Yah, apa boleh buat, Niisan. Kau punya perangmu sendiri." Ucap Minato pasrah. Dengan itu berkuranglah daya tempur Olympus, karena salah satu Dewa terkuat tidak dapat ikut perang di Olympus.
"Gomenne, aku harus kembali ke Kerajaanku." Ucap Jiraiya kemudian menghilang ditelan air-air.
"Aku juga harus kembali." Orochimaru juga menghilang dilahap api-api hitam.
~The Love Between Gods and Humans~
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Naruto. Tiga puluh menit telah berlalu, sekarang waktu telah menunjukkan pukul setengah duabelas siang. Saatnya istirahat telah selesai.
"Kau yang pemimpin tapi kau yang tanya. Dasar tidak konsisten." Ucap Sasuke dengan nada yang ketus lagi.
"Hah! Terus kau tidak senang. Aku kan hanya bertanya. Siapa tahu saja ada yang masih lelah atau lapar atau yang lain. Terus siapa yang tidak konsisten, hah? Aku juga tidak berniat menja-"
"Dobe, kau sungguh cerewet. Aku kan hanya berbicara sedikit, kau jawab dengan panjang lebar." Ucap Sasuke.
"Ah! Sudahlah kalian, dari tadi bertengkar terus. Kalian Dewa tapi perilakunya sangat terlalu, mendokusei." Ujar Shikamaru kemudian berlalu pergi diikuti Hinata. Sementara Sasuke dan Naruto hanya menatap tajam Shikamaru, Kurenai hanya tertawa terbahak-bahak.
Mendengar tawa Kurenai, tatapan tajam Naruto dan Sasuke segera beralih ke arah Kurenai.
"Ya, sudahlah aku pergi dulu. Sayonara." Ucap Kurenai, kemudian menghilang bersamaan dengan nyala-nyala api. Kesal, itulah perasaan Naruto dan Sasuke saatn ini. Kemudian Sasuke segera berjalan menuju Hinata dan Shikamaru yang hampir pintu gerbang Kuil. Naruto menatap punggung ketiganya.
'Gomenne, minna. Aku tahu aku salah, tapi ini demi misi kita. Gomen, aku tidak mengatakan yang sebenarnya.' Ucap Naruto dalam hati. Dia mentapa punggung ketiga teman seperjalanannya dengan penuh arti. Kemudian, dia berlari kea rah mereka, bergabung dengan mereka, bercanda dengan mereka seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah dia tidak menyembunyikan apa pun namun dalam hati terdalamnya dia gelisah, sebab dia telah membohongi semua orang. Inilah kesalahan terbesarnya pada teman-temanya.
Mereka berjalan menuju dunia yang tidak pernah mereka kunjungi sebelumnya, berjuang bersama untuk menyelamatkan Olympus. Mereka memakai jubah mereka masing-masing, memasang tudung agar mereka tidak menjadi pusat perhatian orang, terutama bagi orang-orang yang mengenal mereka. Inilah langkah awal mereka untuk menyelematkan Olympus. Langkah yang membawa mereka ke dalam berbagai mara bahaya, konflik tak menentu dan disinilah takdir mulai memainkan perannya.
TBC
A/N : Huh! Pendek banget chapter kali ini. Sumpah deh! Yuu sudah nggak ada ide buat chapter kali ini. Yuu memang niatnya mau TBC-in waktu mereka mau berangkat buat menjalankan misi, tapi nggak tahu deh kalau sependek ini. Yuu minta maaf ya kalau fic Yuu kali ini terlalu terbelit-belit dan membingungkan. Yuu belum terlalu berpengalaman. Tapi, semoga kalian nggak bosan dan yang pastinya Yuu harap kalian nggak kapok baca fic ini.
Arigatou yang sudah review, fav dan follow cerita ini!
Mind To Review?
