Disclaimer © Masashi Kishimoto

This fic is mine

Rated © T

Warning © Ide pasaran, overdosis OOC, alur gak jelas, typo berkeliaran.

Summary © Sebuah kisah di lantai 13 Apartemen Akatsuki.

.

Bloody 13

Chapter 2

.

.

.

Posisi Hinata sekarang tepat membelakangi lift, berhadapan dengan orang yang baru saja menutup matanya dan memutar tubuhnya membelakangi lift.

Tangan yang menutup mata Hinata perlahan-lahan melonggar, Hinata membuka mata dan menaikkan pandangannya.

"Sasuke..?" Jantung Hinata berdegup sangat kencang saat mendapati Sasuke yang berdiri tepat di hadapannya. Tangan Sasuke yang satunya masih menempel di punggungnya.

"Kau tidak perlu melihatnya..." ucap Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari lift.

.

.

.

Lift telah dipasangi garis polisi, kasus penemuan mayat perempuan tanpa busana kini dalam penanganan pihak kepolisian. Hinata tidak sempat melihat pemandangan mengerikan yang membuatnya sangat penasaran, salahkan Sasuke yang tidak membiarkannya mendekati lift.

Sasuke membawa Hinata menjauhi lift. Mereka berdua hanya melihat kejadian tersebut dari kejauhan, Sasuke sudah cukup tahu dengan apa yang terjadi. Memiliki tubuh yang tinggi terkadang memberikan banyak kemudahan. Salah satunya, memudahkan melihat ditengah kerumunan orang banyak.

Tak berapa lama berselang, gadis berambut panjang dengan sebagian poni menutupi wajahnya, Yamanaka Ino, berteriak histeris saat mengetahui gadis malang yang menjadi korban pembunuhan sadis tersebut adalah salah satu teman baiknya, Karin.

"Kenapa harus begini..." kata Ino dengan suara serak, ia masih memeluk Hinata erat-erat.

"Sudahlah, Ino. Secepatnya pelakunya pasti ditangkap polisi..." Sakura pun ikut mengusap-usap punggung Ino untuk memberikan ketenangan pada Ino.

Mereka masih berdiri di lorong apartemen lantai 13, baru saja 4 orang polisi membawa pergi kantong mayat berisi jasad Karin.

"Naa, Sasuke, apa hari ini Karin tidak masuk sekolah? Kau kan sekelas dengannya..." tanya Sakura memandang Sasuke yang menjadi satu-satunya laki-laki diantara 3 perempuan di hadapannya.

"Seingatku, dia memang tidak masuk sekolah hari ini..." jawab Sasuke sekenanya.

"Lebih baik kalian kembali ke apartemen kalian masing-masing..." kata Gaara yang kebetulan lewat di kerumunan Sasuke, Hinata, Ino dan Sakura. Pemuda itu berjalan pelan menuju apartemennya di nomor 19.

"Matte yo... Gaara...!" Shikamaru terlihat mengejar Gaara dengan langkah setengah berlari, Sai mengekor di belakang Shikamaru.

Mereka bertiga terlibat perbincangan serius, terbukti dari raut wajah dan gerak gerik mereka. Melihat situasi seperti ini, Sasuke merasa tak harus tinggal diam mengamati 3 gadis yang berusaha saling menenangkan satu sama lain saat Shikamaru, Sai dan Gaara berbicara serius.

"Shino..." Sasuke memanggil Shino yang masih tak beranjak dari lift yang telah dipasangi garis polisi. Shino yang mendengar panggilan Sasuke beranjak dari pengamatannya dari lift yang telah mengurung mayat korban pembunuhan yang belum diketahui siapa pelakunya.

"Ada apa?" tanya Shino melihat Ino dengan mata yang bengkak.

"Antarkan Sakura dan Ino kembali ke apartemennya..." Sasuke menepuk pelan bahu Shino.

"Wakatta..."

"Hinata, apa kau tidak apa-apa sendirian?" tanya Sakura yang melihat bibir Hinata sedikit bergetar.

"Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan Ino? Kalau kau mau, aku bisa menemanimu malam ini..." tawar Hinata pada Ino.

"Tidak perlu, malam ini aku akan menginap di rumah tanteku saja" Ino mengikuti Shino yang berjalan menuju lift, disusul Sakura yang memberikan senyum kecil pada Hinata sebelum meninggalkan lantai 13.

Kini tersisa Hinata dan Sasuke, Sasuke masih bersandar di dinding apartemen sambil memandang Hinata yang seakan tak merelakan kepergian Sakura dan Ino meninggalkannya seorang diri.

"Apa kau takut?" tanya Sasuke santai.

"Ha? Ti-tidak..." Hinata menggeleng cepat.

"Benarkah?" Sasuke mencondongkan wajahnya memperhatikan wajah Hinata yang sedikit pucat. Hinata yang merasa wajah Sasuke terlalu dekat dengannya berusaha membuat jarak dengan melangkahkan kakinya ke belakang.

"Iya. Aku serius" kata Hinata mantap sambil membentuk pose peace di jarinya. Ia buru-buru menuju apartemennya lalu menutupnya rapat-rapat. Sasuke hanya menghela nafas berat.

Shikamaru dan Sai saling pandang dengan rasa heran saat Gaara mengakhiri pembicaraan mereka dan lebih memilih mengunci apartemennya rapat-rapat. Sasuke yang ketinggalan pembicaraan segera menghampiri Shikamaru dan Sai.

"Bagaimana?" tanya Sasuke.

"Entahlah, sepertinya kita tidak perlu ikut campur untuk kali ini.." ucap Sai yang membuang senyumnya, ia tak bisa membohongi dirinya sendiri dengan tersenyum di saat yang seperti ini.

"Bodoh. Kalau lebih dari ini bagaimana?" tanya Sasuke menaikkan nada suaranya.

"Kita serahkan pada polisi untuk menyelidikinya, Sasuke. Kita harus mengumpulkan petunjuk dari penyeledikan polisi, lalu saat kita menemukan celah. Kita tangkap basah saja" ujar Shikamaru malas-malasan sambil menyentuh pipi kirinya.

Shino keluar dari lift diikuti oleh Sasori dan Shion.

"Bagaimana autopsinya, Sasori?" tanya Sai pada Sasori yang baru saja kembali dari Rumah Sakit.

Sasori dan Shion adalah teman baik Karin tapi mereka berbeda dengan Ino yang tak bisa menahan emosinya. Oleh karena itu, Sasori dan Shion diizinkan ikut ke Rumah Sakit saat mereka memintanya pada polisi.

"Entahlah, tapi sepertinya Karin meninggal karena kehabisan darah pada bagian luka sayat di lehernya..." yang lain mengangguk mendengar penjelasan Sasori.

"Bagaimana mayat Karin bisa dimasukkan ke dalam lift tanpa ada orang yang melilhatnya?" Shino tak habis pikir.

"Lalu, kira-kira jam berapa kejadiannya?" tanya Shikamaru memandang Sasori dan Shion bergantian.

"Diperkirakan kejadiannya sekitar pukul 07 pagi, dilihat dari darah yang sudah mengering dan kondisi tubuh Karin yang benar-benar sudah kaku..." ucap Shion menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku sempat memeriksa CCTV, kurang lebih 30 menit seluruh CCTV di apartemen ini mati total tadi pagi" tambah Sai.

"Berarti, pelakunya sudah sangat mengerti dengan apartemen ini. Baik itu posisi CCTV dan juga sambungan-sambungan listrik yang ada di apartemen ini..." lanjut Sasori menghela nafas berat.

"Kira-kira motif pembunuhannya apa?" tanya Sasuke berusaha mengaitkan beberapa hal.

"Belum ada informasi tentang hal itu" jawab Shion sekenanya.

"Gaara mana?" tanya Shion tak melihat rambut merah Gaara.

"Ada di dalam. Kalian tahu dia orangnya seperti apa, dia selalu punya pemikirannya sendiri.." ucap Sai mengangkat bahu.

.

.

.

Pembicaraan dan perundingan mereka berakhir dengan kesepakatan bahwa mereka akan menunggu informasi lebih lanjut dari hasil penyeledikian polisi. Mereka kembali ke apartemen mereka masing-masing dengan tanda tanya besar yang mengganggu pikiran mereka.

Pembunuhan baru saja terjadi di apartemen Akatsuki dan lantai 13 adalah tempat penemuan mayat perempuan yang merupakan teman sekelas Sasuke, Karin. Suasana lantai 13 di Apartemen Akatsuki lebih terasa mencekam dibanding hari-hari sebelumnya.

Hinata, di apartemen nomor 13, berusaha membangkitkan imajinasinya untuk membayangkan pemandangan mengerikan yang tidak sempat ia lihat.

"Hee... Karin ya, aku bahkan belum pernah melihatnya..." Hinata berjalan menuju balkon kamarnya untuk menikmati angin malam.

Gadis berponi itu meregangkan seluruh tubuhnya saat merasakan hembusan angin malam yang menerbangkan helaian rambut indigonya.

Hal apa yang begitu menyenangkan saat kau berada di ketinggian? Iya, saat kau berada di ketinggian, kau bisa melihat segala sesuatunya dengan begitu jelas.

Berada di lantai 13 membuat Hinata cukup tinggi untuk melihat hampir seisi kota Konoha. Kilauan lampu-lampu jalan seakan menjadi kunang-kunang raksasa yang menghias kota.

Hinata menghentikan aktifitasnya mengamati pemandangan kota di hadapannya saat ia melirik ke sisi kiri dan mendapati pemuda berambut merah tengah menunduk lemah di balkon apartemen nomor 20.

Sasori setengah berdiri dan menjadikan teralis balkon sebagai tumpuan tangannya. Hembusan angin malam terlihat semakin membuatnya tak bisa melakukan apapun.

"Pasti berat untuknya.." gumam Hinata pelan kemudian memasuki kamarnya.

Sementara itu, pemilik apartemen nomor 19, Gaara, lebih memilih berbaring dan memandang langit-langit kamarnya. Sesekali matanya tertutup sambil membayangkan mayat perempuan yang ia lihat di lift.

Di sisi lain, Shino berusaha mengalihkan pikirannya dari sosok mayat Karin dengan membaca buku tentang anatomi serangga. Sedangkan, Shikamaru tak beranjak dari hadapan TV menunggu laporan penyelidikan dari pihak kepolisian.

Sai yang belum mendapatkan senyumnya sejak kejadian mengerikan menimpa Karin memilih menuangkan pemikirannya pada sebuah kertas kanvas dan bergulat dengan kuas berbagai warna. Ia seolah melukis rekaman kejadian pembunuhan Karin, ia melukis mayat Karin dan seseorang yang berdiri disamping mayat Karin.

Yah, Seseorang.

Sai melangkah mundur memandang lukisannya, ia berusaha menarik paksa ujung bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman.

Lain halnya dengan Sasuke, ia duduk di tepi kasur birunya sambil memandang layar Iphone-nya. Ia membaca chat history-nya dengan seseorang. Karin.

Karin

Sasuke-kun, aku memutuskan untuk tidak berharap padamu lagi.

Uchiha Sasuke

Maafkan aku, kau gadis yang baik. Kau akan mendapatkan yang lebih baik dariku.

Tapi aku sedikit terjekut, kau bukan orang yang gampang menyerah terhadap sesuatu.

Karin

Apa sekarang kau menyesal? Ada beberapa alasan dengan keputusanku ini.

Uchiha Sasuke

Aku menghargai itu tapi ku harap kita tetap berteman baik.

"Apa keputusannya untuk berhenti mengejarku ada hubungannya dengan kematiannya?" tanya Sasuke pada dirinya sendiri seraya membaca berulang kali pesan BBM Karin padanya beberapa hari yang lalu.

Berbicara mengenai pesona seorang Uchiha Sasuke, sudah menjadi rahasia umum bahwa ia menjadi salah satu siswa yang memiliki fans terbanyak di Konoha High School. Ada begitu banyak gadis yang ingin menjadi pacarnya, lokernya pun terkadang menjadi taman bunga dadakan atau menjadi keranjang coklat meskipun di luar hari Valentine.

Setahu Sasuke, Karin adalah gadis yang paling rela melakukan apapun untuknya. Selain itu, ada Shion yang akhir-akhir ini bertingkah tak biasa padanya. Ino juga pernah mendekati Sasuke tapi Sai berusaha memenangkan hati Ino sehingga Ino perlahan-lahan melupakan Sasuke. Sakura pun demikian, bahkan Sakura telah menyatakan perasaannya pada Sasuke namun ternyata Sasuke hanya menganggapnya teman. Tak berapa lama kemudian, Sasuke lepas dari Sakura saat Sasori memberikan perhatian lebih pada Sakura.

Lalu, saat semua orang merenung tentang kematian Karin. Dimana Shion?

.

.

.

Ting... Tong...

Hinata menyimpan novel yang ia baca saat mendengar bel apartemennya berbunyi. Entah mengapa, ia mendadak merasa sesak nafas. Pintu apartemennya seolah terlihat begitu horror.

Ting... Tong...

Sasuke pun mengalihkan pandangannya dari Iphone-nya.

Bel apartemen Sasuke dan Hinata bunyi secara bersamaan.

Mereka berdua berjalan ke pintu apartemen mereka masing-masing untuk melihat orang yang telah menekan bel. Tangan Sasuke dan Hinata secara bersamaan memegang gagang pintu apartemen mereka.

Cleck...

Pintu apartemen terbuka secara perlahan-lahan dan memperlihatkan sosok yang baru saja menekan bel apartemen.

"Shion..." gumam Sasuke heran saat Shion mendorongnya masuk ke apartemen. Shion kemudian menutup pintu dan berjalan masuk menuju kamar Sasuke.

"Apa ini?" tanya Sasuke mengekor di belakang Shion. Shion membawa selimut dan boneka Mickey Mouse kesayangannya.

"Apa lagi? Aku ingin menginap di sini.." Shion membaringkan tubuhnya di kasur milik Sasuke. Shion menghirup nafas dalam-dalam merasakan aroma maskulin kamar Sasuke.

"Jangan bercanda..." Sasuke berdiri di depan pintu kamarnya.

"Aku takut..." Shion berdiri melangkah mendekati Sasuke yang tak bergerak 1 cm pun dari tempatnya berdiri saat ini.

Tatapan mata Shion sangat berbeda dari biasanya, terlihat begitu sayu dan seperti menginginkan sesuatu. Ia semakin memperpendek jaraknya dengan Sasuke, tangan kanannya mengusap pelan tangan kiri Sasuke.

Sasuke mengeryitkan dahi melihat tingkah Shion yang semakin di luar kendali. Tak puas dengan tangan kiri Sasuke, Shion mengangkat pandangannya menatap garis wajah sempurna milik Sasuke.

"Sasuke..." suara Shion terdengar pelan dan serak, ia semakin mendekatkan wajahya pada Sasuke. Gadis berambut panjang itu menutup matanya pelan, ia berniat menyatukan bibirnya dengan bibir tipis Sasuke, perbedaan tinggi badan yang begitu jauh membuatnya harus sedikit berjinjit dan-

"Aku akan mengambil beberapa makanan..." ucap Sasuke datar. Shion membuka matanya dan beberapa detik kemudian Sasuke membelakanginya. Shion hanya menyeringai melihat reaksi Sasuke yang menolak ciuman darinya.

Merasa ada sesuatu yang terlupakan?

Bukankah bel apartemen Sasuke dan Hinata bunyi secara bersamaan?

Orang terakhir yang tak memiliki aktifitas adalah Shion.

Jika Shion yang menekan bel apartemen Sasuke, lalu siapa yang menekan bel apartemen Hinata?

Hinata berdiri mematung di pintu apartemennya saat melihat sosok-

"Gaara..." ucap Hinata pelan.

"Semua orang terlalu sibuk dengan kematian Karin sehingga melupakan ini.." Gaara mengangkat kresek plastik berisi-

"Brownies keju..." Hinata terlalu panik dan semua orang seolah tak mampu berpikir apapun selain kematian Karin, padahal kresek berisi brownies keju malang tersebut Hinata letakkan di samping pintu apartemennya, bahkan ia pun melupakannya.

"Aku minta maaf, aku tidak berniat mengabaikannya" Gaara berujar dengan nada suara yang pelan dan datar seperti biasanya.

'Anak ini seperti es krim saja. Manis tapi dingin...'

Hinata mempersilahkan Gaara masuk. Dari seluruh penghuni lantai 13, Gaara adalah yang paling dingin dan terlihat tak suka bersosialisasi. Hinata merasa harus membangun rapport dengan Gaara baik itu sebagai tetangga maupun sebagai teman sekelas.

Gaara meletakkan brownies keju di meja ruang ramu, ia duduk di sofa memperhatikan detail apartemen Hinata. Sementara itu, Hinata menuju dapur mengambil minuman, piring dan juga pisau.

"Sejak kapan rambutmu panjang?" Gaara memberikan pertanyaan aneh –menurut Hinata- saat Hinata mulai memotong brownies keju.

"Kenapa bertanya seperti itu?" Hinata meletakkan satu potong brownies keju di piring Gaara.

"Karena tidak banyak gadis yang berambut panjang" ucap Gaara meminum segelas cola.

"Sejak lulus Junior High School aku mulai memanjangkannya" Hinata menyalakan TV.

"Kenapa dipanjangkan?" Gaara memandang rambut ungu Hinata yang dibiarkan terurai.

"Ayahku menyukainya dan ku pikir it's look good on me. Hehe..." Hinata mengangkat bahunya tersenyum kecil.

"Kau tahu? Karin juga berambut panjang..." ucap Gaara memandang siaran TV, senyum kecil di bibir Hinata perlahan-lahan memudar setelah mendengar pernyataan Gaara.

"Seseorang tengah terobsesi terhadap sesuatu..." lanjut Gaara yang semakin membuat Hinata pucat.

"Se-sesuatu?" tanya Hinata penasaran.

"Rambut panjang..." jawab Gaara pelan sambil membalas tatapan Hinata.

"Lebih baik kau segera memotongnya" lanjut Gaara menghabiskan cola di gelasnya.

.

.

.

Jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kekar seseorang telah menunjukkan pukul 02.30. Pemuda berambut raven itu berjalan mengendap-endap diikuti oleh pemuda berambut nanas di belakangnya.

"Kau membawa senter kan?" tanya Sasuke pada Shikamaru.

"Ada.." Shikamaru menyerahkan satu senter pada Sasuke.

"Apa kau yakin tidak ada aktifitas lagi di apartemen ini?" tanya Sasuke memandang sekeliling.

"Aku telah memperhatikan apartemen ini semenjak pertama kali aku kesini, hampir 2 tahun yang lalu" Shikamaru mempercepat langkahnya.

"Sepertinya kau serius akan menjadi seorang Detektif..." Sasuke sedikit menyeringai mengingat Shikamaru yang selalu ingin menjadi seperti Ayahnya, seorang Kepala Polisi.

Mereka berdua berada di basement.

Hening.

Gelap.

Hanya ada jejeran mobil dan motor.

"Apa kau yakin disini?" tanya Sasuke mulai menyalakan senternya.

"Iya, basement ini adalah tempat paling memungkinkan untuk melakukan kejahatan. Ada banyak titik buta disini, tak terjangkau CCTV" Shikamaru melalui satu per satu mobil yang terparkir.

"Bisa saja dia melakukannya di luar area apartemen..." Sasuke siaga memandang ke belakang, takut-takut jika ada yang memergoki mereka.

"Tidak mungkin. Kalau 'dia' melakukannya di area apartemen, ia akan datang terlambat ke sekolah. Hari ini aku ikut penertiban di sekolah. Hanya ada beberapa orang yang terlambat. Uzumaki Naruto si pembuat onar, Rock Lee si rambut mangkok itu dan Akimichi Chouji" Shikamaru tiba di ujung basement, ia memilih jalan ke kiri.

"Dari ketiga orang itu, tidak mungkin mereka yang membunuh Karin" Sasuke mengeluarkan sarung tangan, untuknya dan untuk Shikamaru.

"Apa kau yakin dia dan polisi belum mensterilkan area ini?"

"Polisi masih fokus pada kemungkinan pembunuhan dan autopsi mayat, ditambah lagi hari ini bukan jadwal pengangkutan sampah jadi ku rasa beberapa bukti masih ada di sini. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Asumsinya, 'dia' tidak mungkin membawa pakaian orang yang baru saja ia bunuh ke sekolah, bukan?" Sasuke hanya mengangguk mendengar penjelasan Shikamaru, sepertinya Shikaku mengajarkan banyak hal pada anak tunggalnya.

Sasuke membantu memberikan pencahayaan saat Shikamaru sibuk mengobrak-abrik tong sampah di sepanjang lorong basement.

Tong sampah pertama, tidak ada.

Kedua, tidak ada.

Kelima pun tidak ada.

"Heh, sudah ku duga..." beberapa bulir keringat membasahi dahi Shikamaru saat tangannya membuka kantong plastik dan mendapati pakaian wanita di dalamnya. Tepat di tong sampah paling ujung.

"Sial..! Dia benar-benar melakukannya..." Sasuke pun hampir lupa bernafas saat ia menemukan pakaian Karin.

Tap

Tap

Tap

Suasana begitu tenang dan hening, tak heran jika suara sekecil apapun bisa terdengar. Termasuk suara derap langkah seseorang.

"Ada orang..." Sasuke menyadarkan Shikamaru untuk segera membereskan pakaian Karin.

"Itu pasti dia..." Shikamaru memasukkan pakaian Karin ke dalam ranselnya, ia dan Sasuke segera meninggalkan lorong basement.

"Kalau dia tak menemukan pakaian Karin yang ia tinggalkan disini, pasti ia curiga seseorang telah mengambilnya. Artinya, dia pasti akan mengawasi apartemen ini" Sasuke membuka sepatunya untuk mengurangi suara yang mungkin akan menimbulkan kecurigaan pada 'si pembunuh' Karin.

"Benar, dia akan mengawasi siapa yang masuk dan keluar apartemen setelah ini. Sial! Kita harus tidur diluar malam ini" Shikamaru berdecak kesal.

"Kalau pun kita ingin menginap di luar. Kita tidak mungkin menyalakan mesin kendaraan disaat seperti ini" lanjut Shikamaru.

"Kita tidur di mobil saja" Sasuke menyarankan.

"Aku tidak membawa kunci mobilku" Shikamaru dan Sasuke berhenti sejenak diantara jejeran mobil untuk memikirkan rencana mereka.

CLAANGG...

CLANGG...

Terdengar suara aluminium yang mendapat pukulan. Shikamaru sedikit mencuri pandang pada sumber suara. Pelaku pembunuhan Karin sedang mencari pakaian Karin yang ia tinggalkan. Ia terlihat begitu frustasi saat tak mendapati kantong plastik tempat pakaian Karin, ia menendang satu per satu tong sampah yang ada di hadapannya.

"Aku memang tidak pernah menggunakan mobilku tapi entah mengapa tadi aku membawa kuncinya" Sasuke mengeluarkan kunci mobilnya. Sasuke memang jarang menggunakan mobil, ia lebih memilih mengendarai motor kesayangannya.

"Lalu cara membukanya bagaimana? Tidak mungkin menyalakan alarm mobil.." Shikamaru berusaha menangkan dirinya dan mengatur pernafasannya.

"Bukan cuma kau yang belajar banyak. Aku juga. Aku telah mendesain alarm mobilku sendiri. Jadi saat aku menekan tombolnya, tidak akan ada suara apapa pun"

"Bagus. Ayo.."

Sasuke dan Shikamaru kemudian menuju tempat Sasuke memarkirkan mobilnya. Mereka tidak mungkin menyalakan senter, hal itu sama saja memberitahukan keberadaan mereka pada musuh. Agak sulit menemukan mobil Sasuke di tengah banyaknya mobil ditambah penerangan yang begitu samar dari lampu masuk di depan sana.

"Yosh... ini dia" tak sulit bagi Sasuke untuk mengenali mobilnya. Mobilnya adalah Ferarri satu-satunya di basement ini. Hal ini jugalah yang membuat Sasuke lebih memilih motor daripda mobilnya. Terlalu mencolok.

Sasuke menekan tombol alarm yang ada di kunci mobilnya. Sesuai dengan pertanyaan Sasuke barusan, pintu mobilnya terbuka tanpa suara apapun.

Mereka berdua dengan cepat memasuki mobil Ferrari merah yang dibeli langsung dari Jerman.

"Jangan merapatkan pintunya, nanti menimbulkan suara.." perintah Shikamaru. Mereka menutup pintu mobil namun tak sampai rapat.

Kalau si pembunuh Karin mendapati mereka dengan pintu mobil yang tak tertutup sempurna. Sekali tarik, habislah mereka.

Belum sempat Sasuke mendapatkan ketenangan di dalam mobilnya, matanya menangkan silauan cahaya yang berasal dari belakang.

"Apa ia mengikuti kita?" tanya Shikamaru ikut panik saat mendapati cahaya senter itu semakin mendekat ke arah mobil yang mereka tempati untuk bersembunyi.

Sasuke menggeleng. Mereka menunduk saat mendengar derap langkah yang semakin mendekat ke arah mereka. Meskipun kaca mobil Sasuke adalah kaca Ray Bend, mereka tetap takut jika pembunuh Karin melihat mereka di dalam mobil.

Sasuke dan Shikamaru merasa nyawa mereka sebagian telah hilang saat pembunuh Karin berdiri tepat di samping mobil Sasuke. Shikamaru adalah orang yang paling panik, bagaimana tidak? Orang yang juga mencari pakaian Karin berdiri tepat disampingnya, mereka berdua hanya terhalang pintu mobil Sasuke. Pintu mobil yang tak tertutup sepenuhnya.

"Siapa yang telah berani bermain-main denganku..." ucapnya dengan suara pelan. Datar, terkesan menakutkan dan penuh dengan aura membunuh.

Pelaku yang telah membunuh Karin berjalan menjauhi mobil Sasuke, ia menggunakan pakaian serba hitam dan serba tertutup. Tak ada bagian wajahnya yang terlihat sedikit pun.

Malam ini, mau tidak mau Sasuke dan Shikamaru harus menghabiskan malam panjang mereka di mobil

.

.

.

Kelas XI.1, kelas Sasuke berduka atas kepergian Karin. Tak ada pelajaran yang berlangsung di kelas yang konon katanya diisi oleh siswa dengan nilai di atas rata-rata. Kelas Hinata pun sama, tidak aktifitas belajar mengajar yang signifikan.

"Doakan saja yaa..." Hinata mengusap-usap punggung Ino yang menidurkan kepalanya di meja. Sudah sewajarnya Ino tak bisa ceria seperti biasanya saat ia baru saja kehilangan teman baiknya.

"Umm, Ino. Menurutmu, rambut panjang itu salah tidak?" mendengar pertanyaan Hinata, Ino perlahan bangkit dan melupakan kesedihannya kehilangan Karin.

"Tidak ada yang salah. Aku pikir, kita ini istimewa. Tidak banyak gadis yang mau sibuk dengan rambut panjangnya" Ino membelai rambut pirangnya.

"Istimewa. Apa kau tidak merasa 'keistimewaan' ini menarik perhatian seseorang?" Hinata pun menggenggam rambut indigo panjangnya.

"Seseorang? bukan hanya seseorang, Hinata. Pasti ada banyak orang diluar sana yang tertarik dengan rambut panjang seorang gadis. Terutama, seorang laki-laki" Ino menjelaskan dengan aura ceria dari wajahnya. Hinata bersyukur melihat teman sebangkunya yang bisa menampilkan wajah semangatnya lagi.

"Mungkin sebaiknya kita...memotongnya saja" ucap Hinata mulai murung.

"Memotongnya? Apa kau yakin? Dengar ya, Sasuke menyukai gadis berambut panjang.." Ino menahan dagunya dengan punggung tangannya, membayangkan seorang Uchiha Sasuke yang benar-benar merupakan kesempurnaan ciptaan Tuhan.

"Benarkah? Dari mana kau tahu?" tanya Hinata yang memang merasa tertarik dengan Sasuke sejak first sight mereka.

"Percaya atau tidak kami pernah mengadakan semacam forum untuk Sasuke. Kami bebas menanyakan apapun padanya dan dia harus menjawabnya dengan sejujur mungkin. Kau tahu? Kami menanyakan kriteria gadis yang ia suka, lalu dengan tampannya ia menjawab ia suka gadis berambut panjang" Satu hal yang Hinata ketahui, jika ada hal tentang Sasuke yang harus ia tanyakan, ia sudah tahu kemana ia harus bertanya.

"Umm. Sebaiknya kau invite pin BBM-nya..." Ino mengeluarkan Iphone-nya.

"Eh? Eh.. u-untuk apa?" wajah Hinata tiba-tiba merona merah.

"Untuk menanyakan prakiraan cuaca. Ayolah, Hinata... untuk mendekatinya" Ino men-scroll layar Iphone-nya untuk mencari nama Uchiha Sasuke.

"A-aku tidak yakin. Belum lagi sudah ada Shion yang lebih dulu dan kalau ku perhatikan ada banyak gadis yang selalu berkeliaran di sekitarnya.." Hinata menghembuskan nafas berat. Ia terlalu sibuk memandang pepohonan dari kaca jendela sehingga ia tidak sadar Ino telah menggunakan Iphone-nya untuk meng-invite pin BBM Sasuke.

Uchiha Sasuketelah menjadi teman Anda. Baru saja

"HAAA?" Hinata jelas shock saat ia mengambil Iphone-nya dari Ino dan mendapati news feed di BBM-nya.

"Santai saja. Meski cuek dan tidak pedulian tapi dia baik dan sopan terhadap seorang gadis..."

"Benarkah?" Hinata agak ragu, kalau ia perhatikan dari wajah, ekspresi dan tatapan seorang Uchiha Sasuke, Hinata tidak mendapatkan kesan 'sopan' tapi bagaimana pun sekali lagi 'don't judge the book by it's cover'.

Ino meninggalkan Hinata untuk ke toilet. Tak ada siapapun di kelas. Shino entah kemana, Gaara mungkin sedang latihan katana, Sakura dan Matsuri sedang ada latihan tari, Sasori paling-paling di klub seni bersama Sai. Lalu, Shion? Tak perlu ditanya, dia sudah pasti tak terpisahkan dengan Sasuke.

Hinata terus memperhatikan pintu, berharap Ino segera kembali. Namun, terkadang harapan selalu tak sesuai dengan kenyataan. Hinata berharap Ino yang datang namun ternyata-

"Jujur saja, aku kaget melihat namamu..." Sasuke mengeluarkan Iphone-nya lalu memperlihatkannya pada Hinata.

"Maaf kalau itu mengganggumu tapi tadi Ino yang-"

"Kau menyukaiku?" tanya Sasuke tak ada angin tak ada gempa, Hinata mengedipkan matanya berkali-kali berusaha mencerna baik-baik apa yang baru saja ia dengarkan dari bibir tipis Sasuke.

"Eh?" hanya dua huruf itu yang mampu Hinata keluarkan.

"Tidak masalah kalau kau menyukaiku. Itu wajar, semua gadis di sekolah ini juga seperti itu..." Sasuke memasukkan Iphone-nya di saku celananya, tatapan matanya tak lepas dari Hinata.

'Sopan? Apa ini yang namanya sopan?' batin Hinata sambil menggigit bibir bawahnya, ia berusaha menahan degup jantungnya yang semakin cepat, wajahnya pun terasa sangat panas saat mendengar pernyataan Sasuke. Perpaduan antara senang dan malu.

"Ku peringatkan..." Sasuke membungkuk meletakkan tangannya di meja Hinata, Hinata yang masih duduk di bangku hanya memundurkan tubuhnya untuk menjauhi Sasuke.

"Jangan pernah menggigit bibirmu dihadapanku..." ucap Sasuke datar dan menatap Hinata dalam-dalam.

Setelah memberikan sport jantung pada Hinata, Sasuke menarik tubuhnya lalu meninggalkan Hinata yang masih berusaha menetralkan pernafasannya.

Hinata melihat punggung Sasuke menghilang di balik dinding kelas XI.5. Kalau ditanya, apa bagian tubuh yang paling sexy dari pria, jujur saja Hinata akan menjawab punggung dan tangan. Tentu saja, punggung Sasuke adalah punggung paling sexy yang pernah ia lihat. Hinata tak bisa menahan senyum di wajahnya saat ia telah sembuh dari sport jantung yang diberikan Sasuke padanya.

'Padahal Ino bilang dia anak yang sopan...' Setelah puas tersenyum, kali ini Hinata sedikit muram membayangkan perilaku Sasuke yang tiba-tiba mengagetkannya.

Jam istirahat baru saja di mulai, Hinata tak berniat keluar kelas. Suasana KHS masih terlalu asing baginya, Ino, Sakura dan Matsuri belum kembali, ia tidak mungkin berjalan sendiri kesana kemari di area KHS.

Ada untungnya juga Hinata membawa bekal sisa sarapannya tadi pagi yang berlebih. Ia benar-benar lapar, ia membuka kotak bentonya dan segera melahapnya dengan bersemangat.

Sementara itu, di luar kelas...

"Yo, Sasukee...! Ayo ke kantin, aku lapar..." salah satu siswa KHS yang tidak terlalu pintar tapi entah mengapa antrian gadis yang ingin menjadi pacarnya tak kalah dari Sasuke dan Sasori.

"Aa, Naruto... kau makan saja sendiri. Aku tidak lapar" Sasuke bersandar santai di dinding kelas XI.5

"Apa yang kau lakukan disini, Sasuke? Tidak biasanya kau disini" Kiba heran melihat Sasuke yang tak biasanya berdiri bodoh di depan kelas yang bukan kelasnya.

"Aku... sedang menjaga seseorang" kata Sasuke dengan sedikit senyum di bibirnya,

"Hehh...? kenapa bagian bawah matamu hitam sekali?" tanya Naruto memperhatikan wajah Sasuke yang beda dari biasanya.

Asal tahu saja, Naruto. Terjebak tanpa tidur semalaman di mobil tidak akan membuat wajahmu baik-baik saja.

"Huuu... Ayo, Naruto. Biarkan saja dia" Kiba menyeret Naruto ke kantin.

Setelah penampakan Naruto dan Kiba tak terlihat lagi, Sasuke membalikkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke pintu untuk melihat Hinata. Hinata tengah makan dengan lahapnya, Sasuke sedikit tersenyum dan lama kelamaan senyum tipis itu berubah menjadi senyum lebar yang memperlihatkan jejeran gigi putihnya. Jarang sekali Sasuke harus senyum sampai menampilkan giginya.

Dari kejauhan, Sasuke melihat Ino, Sakura dan Matsuri. Sasuke sekali lagi melihat Hinata, kemudian ia beranjak meninggalkan depan kelas XI.5

"Haaaiii... Sassukkeee-kun~" sapa Sakura saat Sasuke melewati mereka. Sasuke hanya menjawabnya dengan anggukan kecil kemudian berlalu.

"Ah, itu dia yang membuatku tidak tahan. Dia terlalu sopan untuk pemuda tampan sepertinya.." ucap Sakura cekikian.

.

.

.

Pukul 6 sore, Hinata sudah rapi dengan dress putih selulut yang dihiasi motif hitam pada bagian bawahnya, bagian lehernya agak terbuka dengan tali kecil yang menempel di bahu Hinata. Rambutnya ia permak sebisa mungkin agar terlihat pendek, ia mengikatnya kemudian menggulungnya sebagian ke belakang. Entah mengapa pernyataan Gaara tempo hari membuatnya agak sedikit parno.

Hari ini Hinata akan ibadah di Gereja. Sebenarnya, Hinata bisa saja ibadah pagi di Gereja dekat sini tapi apa daya Ino memberikan alasan yang terlalu sulit untuk ia tolak.

"Sasuke itu rajin ibadah, ia tidak pernah absen ibadah. Sasuke ibadahnya di Gereja dekat alun-alun kota dan dia selalu ambil ibadah malam"

Alun-alun kota. Artinya, agak jauh dari Apartemen Akatsuki.

"Tenang saja, nanti kau akan melihat Sasuke. Gerejanya lumayan besar tapi hanya dia pemuda satu-satunya yang paling menonjol" ucap Ino bersemangat saat memasuki mobil Hinata. Hinata merasa sedikit berdosa, ia terlihat lebih ingin menemui Sasuke daripada menemui Tuhan.

"Biasanya aku ibadah bersama Karin..." lanjut Ino yang tiba-tiba melow.

"Sore wa daijoubu da. Kita hanya perlu mendoakannya saja" Ino mengangguk kecil saat mendengar pernyataan Hinata.

Hinata belum terlalu mengenal Konoha selain area Apartemen dan area KHS. Hinata mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, Ino dengan lincah menunjukkan arah jalan pada Hinata.

Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di depan sebuah Gereja yang terbilang besar. Ada begitu banyak jemaat yang datang malam ini, mungkin mereka memang lebih menyukai ibadah di malam hari.

"Waduh, antriannya penuh..." Hinata tak menemukan celah untuk memarkirkan mobilnya.

"Di pojok sana, biasanya disana belum penuh. Biar nanti mobilnya gampang keluar juga" Ino menunjuk ujung parkiran.

Hinata memarkirkan mobilnya paling pojok. Sebelah kanan adalah tembok beton sebagai pagar Gereja dan sebelah kiri belum ada mobil.

Ino dan Hinata turun dari mobil menuju pintu depan Gereja. Hinata terlihat memperhatikan sekeliling.

"Mencari Sasuke?" goda Ino pada Hinata.

"Ti-tidak. Aku hanya memperhatikan sekitar sini.. hehe" balas Hinata dengan tawa garing.

"Hei... Ino..." seorang gadis dengan empat kunciran di atas kepalanya menyapa Ino. Mereka berdua terlihat akrab sekali.

"Aku turut berduka atas kematian Karin..." Temari, seorang siswa kelas XII Konoha Vocational High School. Ino tampak mengangguk lemah.

"Halo..." Temari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Hinata.

"Hyuuga Hinata" Hinata membalas uluran tangan Temari.

"Aku Temari. Aku belum pernah melihatmu.." Temari melepas tangan Hinata, ia memperhatikan Hinata dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.

"Dia murid pindahan di sekolah kami..." sahut Ino.

"Seperti biasa, kau selalu berisik. Ayo ke depan" Temari mengajak Ino duduk di bagian depan altar Gereja.

"Ya ampun, Hinata. Aku lupa, hari ini aku paduan suara bersama Temari dan yang lainnya..." Ino tampak sedikit khawatir.

"Ah, tidak apa-apa" Hinata menggeleng cepat untuk meyakinkan Ino bahwa ia akan baik-baik saja.

Temari dan Ino meninggalkan Hinata yang kebingungan mencari tempat duduk, Gereja begitu ramai. Kursi bagian depan sudah penuh, ia pun tak mau kalau harus di lantai dua. Tidak ada pilihan lain, Hinata harus duduk di belakang. Ini adalah pertama kalinya ia duduk di belakang saat ibadah.

"Apa aku terlambat?" seseorang tiba-tiba duduk disamping Hinata,

"Sa-sasuke?"

"Sisa kursi ini yang kosong" sepertinya Sasuke berlari dari parkiran menuju Gereja. Sasuke sedikit kesulitan mengatur nafasnya, ia terlihat begitu takut melewatkan 1 detik saja saat ibadah di mulai.

"Ada apa dengan rambutmu?" tanya Sasuke dengan alis yang berkerut saat melihat rambut aneh Hinata yang tidak seperti biasanya.

"Ha-hanya ku gulung..." jawab Hinata seadanya.

"Jelek sekali..."

Hinata sedikit manyun mendengar pernyataan Sasuke tapi bagaimana pun ia patut bersyukur, meskipun Ino meninggalkannya sendiri ia masih punya Sasuke disampingnya. Hari ini tak ada Sasuke dengan tampilan seifuku sekolah yang itu itu saja. Hari ini, Sasuke mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang di gulung sebatas tengah lengan, ujung kemejanya ia masukkan ke dalam celana. Pemuda tinggi itu menggunakan jeans dengan warna senada dan sepatu converse hitam putih. Terlihat sangat rapi dan elegan.

Hinata menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan senyumnya. Sesekali ia menatap wajah Sasuke yang terlihat sangat serius saat menyanyikan bait demi bait lagu rohani.

Hari ini Hinata merasa ibadahnya tidak terlalu khidmat karena kehadiran Sasuke disampingnya. Ia bersumpah, minggu depan ia tidak akan duduk bersama Sasuke lagi. Belum selesai dengan pergulatan yang ada di kepalanya, Hinata lagi-lagi merasa ingin pingsan saja saat tangan besar nan hangat menggenggam erat tangan mungilnya.

Tangan Sasuke menggenggam tangannya di sela-sela nyanyian lagu rohani.

"Jangan memandangiku terus, nanti Tuhan marah padamu" Sasuke sedikit menurunkan wajahnya berbisik pada Hinata.

Hinata harus meminta pengampunan untuk kali ini, ia benar-benar tak bisa berpikir jernih terlebih saat jemari Sasuki memasuki cela-cela jemarinya. Genggaman tangan Sasuke terasa hangat dan lembut. Itu yang Hinata rasakan.

Ibadah malam ini berakhir pada pukul 09.30 malam. Selama ibadah dimulai sampai selesai, Sasuke tak pernah melepaskan genggaman tangannya.

Dari kejauhan, Ino datang mendekati Hinata dan Sasuke.

"Wah, ada Sasuke ya.." kata Ino sok polos.

"Kalian pulang sama siapa?" tanya Sasuke kepada Ino dan Hinata tapi tidak munafik, Sasuke hanya memandang Hinata.

"Aku... malam ini aku menginap di rumah keluargaku, aku akan di jemput oleh pamanku..." Ino memberikan kedipan mata singkat pada Hinata.

"Kau?" Sasuke menyenggol lengan Hinata.

"Aku... tadi aku kesini naik taxi. Mesin mobilku tiba-tiba tidak mau menyala.." Oke. Lengkap sudah dosa Hinata malam ini.

"Baiklah, kau pulang bersamaku. Kita tunggu Ino di jemput pamannya dulu sebelum meninggalkannya sendiri" kata Sasuke berjalan meninggalkan pintu Gereja diikuti Hinata dan Ino dibelakangnya yang berkomunikasi menggunakan bahasa alien.

"Tidak usah. Kalian pulang duluan saja.." Ino berusaha meyakinkan Sasuke. Bagaimana pun Ino adalah perempuan dan teman Sasuke juga.

"Kau yakin?"

"Iya. Hihi..." Ino tersenyum lebar.

Sasuke berjalan beriringan bersama Hinata menuju parkiran. Hinata sesekali berbalik memandang Ino yang melambaikan tangan padanya.

"Tunggu ya..." Hinata meminta Sasuke untuk menunggunya sebentar, ia kemudian berlari kecil menuju Ino yang masih berada di depan pintu Gereja.

"Apa lagi? Jangan bodoh. Ini kesempatanmu.." ucap Ino heran melihat Hinata kembali padanya.

"Ini kunci mobilku, kau pulang pakai mobilku saja" Hinata mengeluarkan kunci mobilnya.

"Kau gila. Aku tidak bisa menyetir..." Ino memandang Sasuke yang memperhatikan mereka berdua.

"Baiklah. Kau pegang saja kuncinya. Kalau Gereja sudah sepi dan aku belum kembali menjemputmu. Kau tekan tombolnya lalu tunggu aku di mobil. Aku pasti kembali menjemputmu. Oke?" Hinata mengacungkan jempolnya,

"Iya.. iya... aku mengerti"

Hinata telah hilang bersama Sasuke, meninggalkan Ino seorang diri. Waktu semakin berlalu, perlahan-lahan Gereja semakin sepi.

Tak ada siapapun di sekitarnya.

Hanya dirinya.

Sendiri.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Yosh, akhirnya dilanjut juga.

Bagaimana kasus pembunuhan Karin? Bagaimana hubungan Hinata dan Sasuke?

Atau ada yang penasaran apa yang akan terjadi pada Ino?

See you next chap guys, ^.^