Disclaimer © Masashi Kishimoto

This fic is mine

Rated © M

Warning © Ide pasaran, overdosis OOC, alur gak jelas, typo berkeliaran.

Summary © Sebuah kisah di lantai 13 Apartemen Akatsuki.

.

Bloody 13

Chapter 3

.

.

.

Hinata telah hilang bersama Sasuke, meninggalkan Ino seorang diri. Waktu semakin berlalu, perlahan-lahan Gereja semakin sepi.

Tak ada siapapun di sekitarnya.

Hanya dirinya.

Sendiri.

.

.

.

Mobil Sasuke melaju dengan kecepatan sedang membelah malam yang semakin larut, tak begitu banyak kendaraan di jalan raya Konoha malam ini, hanya ada beberapa pejalan kaki di trotoar dan street live yang selalu mendapat apresiasi di kalangan anak muda Konoha turut memberikan 'kehidupan' malam di Konoha.

Hinata yang merasa gugup satu mobil dengan Sasuke berusaha mengalihkan pandangannya memandang pemandangan kota dari balik jendela mobil Sasuke. Wajahnya terus-terusan terasa panas, belum lagi aroma mobil Sasuke yang benar-benar seperti wangi Sasuke membuatnya semakin merasakan sensasi aneh. Entah apa.

"Kenapa?" tanya Sasuke menyadari keanehan yang dialami Hinata.

"Eh? Ti-tidak apa-apa" jawab Hinata menggeleng cepat.

"Jadi apa yang akan kita lakukan malam ini?" tanya Sasuke fokus memandang jalan.

'Melakukan apa? Apa maksudnya?' batin Hinata memandang Sasuke yang tak mengalihkan pandangannya saat memberikan pertanyaan –yang menurut Hinata- aneh.

"Kita langsung pulang saja" bagaimana pun, Hinata harus cepat-cepat sampai di apartemen kemudian kembali lagi ke Gereja tempat Ino dan mobilnya menunggu kedatangannya.

Kalau dilihat-lihat, Sasuke benar-benar tampan dengan style rambutnya yang bisa dibilang jauh dari style rambut anak sekolah pada umumnya, tatapan matanya yang sulit diartikan, gesture-nya yang maskulin belum lagi-

"Kenapa terus-terusan memandangku?" pertanyaan pertama belum sempat Hinata jawab, kini Sasuke melemparkan pertanyaan kedua. Ada persamaan antara pertanyaan pertama dan pertanyaan kedua, kesamaannya adalah Hinata tidak tahu harus menjawab apa.

"Karena kau memberikan pertanyaan aneh" Hinata mengalihkan matanya dari wajah Sasuke, ia ikut memandang jalan.

Mobil mereka berhenti di traffic light.

Sasuke tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata, satu lengan kekarnya ia sisipkan di belakang punggung Hinata. Wajah Sasuke pun hanya berjarak beberapa senti dari wajah Hinata.

"A-apa?" Hinata berusaha mengambil jarak dari Sasuke yang semakin dekat dengannya, Hinata bahkan dapat merasakan hembusan nafas Sauske dan aroma parfum Sasuke yang benar-benar membuat wajahnya semakin merah.

"Apanya yang kenapa, hm?" Sasuke memiringkan wajahnya menatap dalam-dalam mata ungu Hinata.

"Pe-perhatikan jalannya, kau sedang mengemudi" tetap saja Hinata berusaha melepas tangan Sasuke yang melingkar di pinggangnya tapi sepertinya tangan Sasuke sudah terkunci disana.

"Apanya yang diperhatikan? Pelanggaran namanya kalau melanggar lampu merah" rasanya Hinata kehilangan seluruh kekuatannya saat tangan Sasuke yang satunya mulai bergerak mengelus pelan sisi wajahnya.

"Sa-sasuke" ada perasaan aneh yang menggerayapi Hinata saat jempol tangan Sasuke mengusap pelan bibir bawahnya, jarak mereka pun semakin dekat seiring dengat pelukan Sasuke yang semakin erat di pinggangnya.

"Aku-" Hinata menutup matanya antara takut dan penasaran apa yang akan Sasuke lakukan padanya saat bibir Sasuke makin mendekati wajahnya.

'Kenapa?' batin Hinata yang masih menutup matanya, 5 detik berlalu tapi tidak terjadi apa-apa seperti yang ia pikirkan.

Gadis bermata ungu itu kemudian membuka matanya dan masih mendapati Sasuke menatapnya dengan sedikit tersenyum.

"Sepertinya kau belum siap" Sasuke menurunkan tangannya dari wajah Hinata.

"Aku akan menunggumu sampai kau siap" lanjut Sasuke mengarahkan tangannya ke bagian belakang kepala Hinata kemudian-

Cup.

Sasuke mencium kening Hinata, pelan.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir pink Hinata, semuanya terlalu cepat sampai-sampai ia merasa tak diberi kesempatan untuk setidaknya memberi respon.

Sasuke tidak memperdulikan wajah bengong Hinata, setelah ia mengecup pelan kening Hinata ia kemudian memiringkan kepalanya dan mencari sesuatu di rambut Hinata.

Sasuke melepaskan beberapa jepitan di rambut Hinata sehingga rambut panjang itu kembali terurai. Sasuke kemudian merapikan rambut Hinata, memperbaiki poni Hinata dan menyelipkan beberapa helai rambut ungu itu di balik telinga Hinata.

"Aku suka rambut panjangmu, jangan diapa-apakan. Just stay the same, hm?" kata Sasuke menyelesaikan 'pekerjaan'nya dan kembali fokus ke jalan karena beberapa bunyi klakson dari belakang memaksa Sasuke untuk segera melajukan mobilnya.

Hinata mengangguk pelan.

"Apa ada yang mengganggumu?" tanya Sasuke menatap Hinata yang memegang rambutnya.

"Kemarin Gaara ke apartemenku" kata Hinata memandang lampu-lampu jalan.

"Gaara? Apa yang dia lakukan?" tanya Sasuke memelankan laju mobilnya.

"Dia mengembalikan brownies keju yang tidak sempat ku berikan karena penemuan mayat Karin di lift. Lalu..." Hinata menggantung kalimatnya, ia memegang mengatupkan kedua tangannya menerawang setiap kata yang diucapkan Gaara dengan nada suara yang begitu datar dan terkesan dingin.

"Lalu?" Sasuke menaikkan nada suaranya, pemuda bermata onyx itu pun tampak sedikit panik.

"Dia bilang seseorang tengah terobsesi dengan rambut panjang..." ucap Hinata pelan.

Sasuke memandang jalan dan Hinata secara bergantian, AC mobilnya begitu sejuk tapi tak ia pungkiri bahwa jantungnya memang memompa lebih cepat dari sebelumnya ketika mendengar penjelasan Hinata. Sebulir keringat mulai membahasi keningnya mewakili rasa penasaran yang tiba-tiba menghampirinya.

"Karin juga berambut panjang, ku rasa kematian Karin ada hubungannya dengan seseorang yang tengah terobsesi dengan rambut panjang seperti yang dikatakan Gaara" Hinata berhenti sambil mengangkat rambut panjangnya lalu memandanginya.

Sasuke menangkap ada rasa takut dalam diri Hinata.

"Gaara memintaku untuk memotongnya tapi aku tidak mau, bukan tidak mau, aku belum menemukan alasan untuk memotongnya. Makanya, ku putuskan untuk menggulungnya saja" Hinata mengakhiri kalimatnya sambil menatap Sasuke yang memandang lurus ke depan.

"Apa itu yang membuatmu takut?" tanya Sasuke sambil menggenggam telapak tangan Hinata.

"Umm..." Hinata bergumam pelan. Sensasi hangat genggaman tangan Sasuke membuatnya sedikit tenang.

"Jangan dipotong, jangan diapa-apakan. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, aku akan menjagamu" ucap Sasuke menepikan mobilnya.

"Kenapa berhenti?" tanya Hinata heran.

Tanpa menjawab pertanyaan Hinata, Sasuke melepas genggamannya pada tangan Hinata. Jemari tangannya kemudian beralih ke kancing kemejanya, ia membuka kancing kemejanya satu per satu.

'A-apa yang akan ia lakukan?' batin Hinata melihat aksi Sasuke.

Sasuke melepaskan kemeja hitamnya. Kini tubuh atletisnya hanya dilapisi oleh baju dalam putih tipis, itu pun tak berlangsung lama karena kini Sasuke pun melepasnya. Pemuda berambut hitam itu kemudian mengambil sesuatu di jok belakang mobilnya.

Sebuah kaos hitam.

Sasuke mengenakan kaos hitam tersebut dan menyerahkan kemeja hitamnya pada Hinata.

"Untuk apa?" tanya Hinata menerima kemeja hitam Sasuke.

"Untuk kau pakai" kata Sasuke merapikan kaos yang kini menempel di tubuhnya.

"Ha?" Hinata masih tidak mengerti.

"Jangan bilang 'ha'. Pakai saja, di luar udaranya dingin dan kau mengenakan pakaian tipis dan terbuka seperti itu. Nanti kau masuk angin" Sasuke masih memandang Hinata yang kebingungan menatap kemejanya yang sudah berpindah tangan.

"Di luar?" Hinata kemudian memandang keluar dan mendapati jejeran warung pinggir jalan yang tak lepas dari kepulan asap.

"Kau pasti belum makan sesuatu kan? Aku juga lapar. Mungkin kita bisa makan sesuatu disini" kata Sasuke menjelaskan maksudnya menepikan mobilnya.

"Atau kau mau ku pakaikan?" tanya Sasuke menggoda.

"Tidak. Aku bisa sendiri" Hinata menolak cepat kemudian memakai kemeja Sasuke.

Meskipun terlihat kebesaran setidaknya ia bersyukur tidak akan kedinginan.

Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menyusuri jejeran warung 'begadang' yang jam bukanya mulai dari pukul 7 malam sampai pukul 5 pagi. Tak hanya Sasuke dan Hinata yang menjadi pengunjung warung 'begadang', ada begitu banyak muda mudi yang memadati area ini. Ada yang memang untuk makan ada juga yang sekedar nongkrong bersama teman-teman.

"Mau makan apa?" tanya Sasuke pada Hinata yang masih takjub memandang satu per satu jejeran warung yang begitu ramai padahal malam sudah semakin larut.

"Umm, aku mau yang berkuah" kata Hinata memandang Sasuke.

"Begitu ya" Sasuke kemudian mengedarkan pandangannya mencari warung yang menyediakan makanan yang diinginkan Hinata.

"Disana"

Sasuke dan Hinata duduk berhadapan menunggu pesanan mereka datang. Sasuke memilih tempat yang tidak terlalu ramai karena pada dasarnya Sasuke adalah pemuja segala bentuk keheningan.

"Bagaimana penanganan kematian Karin?" Hinata membuka pembicaraan.

"Masih dalam penanganan kepolisian, kenapa?" tanya Sasuke sambil membakan sebatang rokok.

"Hari kematian Karin, di basement aku mendengar dan menemukan beberapa hal aneh. Aku pikir ini tidak ada hubungannya tapi tetap saja aku selalu memikirkannya" air face Hinata berubah, tidak ada wajah merah yang menggemaskan dan tidak ada wajah malu-malu yang berusaha ia sembunyikan.

Hinata dalam keadaan serius.

"Hal aneh?" tanya Sasuke menghisap pelan rokoknya.

"Aku tidak tahu harus bicara pada siapa tapi ku rasa aku harus memberitahumu tentang ini" Hinata meletakkan kedua tangannya diatas meja.

Sesaat, Sasuke memandang sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.

"Apa?"

"Aku mendengar suara, suara seseorang yang mungkin sedang dibekap. Aku juga menemukan ceceran darah dan saat aku berusaha mencari tahu suara apa itu, aku menemukan sebuah cutter berwarna merah. Mungkin tidak berwarna merah, ku rasa itu ceceran darah" ujar Hinata sambil mengingat kejadian yang dialaminya saat di basement.

"Persis seperti yang Shikamaru katakan, dia melakukannya di basement" kata Sasuke memutuskan untuk membuang batang rokoknya yang masih lumayan panjang, ia sudah tidak bernafsu menghisap nikotin itu saat mendengar penuturan Hinata.

"Shikamaru?" tanya Hinata heran saat Sasuke membawa-bawa nama Shikamaru.

"Ah, tidak apa-apa. Kami hanya sedang menduga-duga" Sasuke berusaha menenangkan Hinata agar tidak bertanya lebih jauh.

"Tadi kau bilang 'dia'. Apa kau mengenal 'dia'? Maksudku pelaku pembunuhan Karin?" diluar dugaan Sasuke, Hinata semakin gencar bertanya ingin memastikan banyak hal.

"Tidak, aku tidak mengenalnya" lagi, Sasuke mengelak.

"Kau menyembunyikan sesuatu, Sasuke" kata Hinata menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu memandang Sasuke berusaha mencari sesuatu di mata Sasuke.

"Dengar, Hinata. Aku, Shikamaru, Gaara dan semua orang di lantai 13 apartemen Akatsuki hampir semuanya menyembunyikan sesuatu" Sasuke membalas tatapan Hinata.

"Aku ingin kau melakukan satu hal" lanjut Sasuke.

"Apa?" Hinata menyipitkan matanya.

"Jangan pernah membicarakan apapun tentang kematian Karin pada orang lain selain aku. Mengenai suara, tetesan darah dan cutter yang kau lihat di basement, biarlah hanya kita berdua yang tahu" kata Sasuke memandang ke arah lain.

"Kenapa?" Hinata benar-benar tidak mengerti dengan pemuda yang ada di hadapannya.

"Meskipun aku akan menjaga dan melindungimu tapi aku tidak ingin kau terlibat apapun dengan masalah ini" kata Sasuke sedikit tersenyum.

"Wakatta"

Pesanan mereka datang. Hinata terlihat begitu menikmati sup daging sapi di hadapannya sementara Sasuke dengan anarkisnya memakan ayam goreng lalapan yang di pesannya.

Mereka berdua larut dalam makanan dan pikiran mereka masing-masing tanpa mereka ketahui dari kejauhan sepasang mata mengamati mereka dengan ponsel yang telah mengabadikan foto kebersamaan mereka.

.

.

.

Konoha semakin larut dalam dekapan kelamnya malam, bintang-bintang pun seolah tak diizinkan menghiasi langit malam ini. Benar-benar malam yang begitu mencekam dengan udara dingin yang terasa menusuk tulang.

Seorang gadis berambut pirang panjang duduk melantai di teras depan Gereja, menanti temannya yang mungkin tidak akan datang untuk menjemputnya.

"Padahal bukan musim dingin tapi kenapa dingin sekali" Ino mendekap dirinya sendiri untuk mengurangi sensasi dingin yang menyelimuti tubuhnya.

Gadis bermata aquamarine itu sedikit menyesal menolak tawaran Temari untuk mengantarkannya pulang.

"Mungkin lebih baik aku menunggu di dalam mobil saja" Ino kemudian berjalan menuju satu-satunya mobil yang terparkir di area parkiran.

Ino menekan tombol pada kunci mobil Hinata. Mobil Hinata mengeluarkan suara dengan lampu yang berkedip dua kali. Ino membuka pintu jok depan kemudian menutupnya kembali.

"Huh, ternyata disini lumayan hangat dan aku seperti orang bodoh di luar" Ino membuka sedikit jendela mobil Hinata untuk memberinya ruang bernafas, Ino juga meraih jaket berwarna putih yang tergantung di punggung jok pengemudi.

"Ku rasa Hinata tidak akan marah jika aku mengenakannya" gadis ceria itu kemudian mengenakan jaket Hinata dan perlahan-lahan rasa dingin pun tak lagi ia rasakan.

"Sasuke tidak mungkin langsung pulang. Huh, pemuda sepertinya tidak mungkin tidak memanfaatkan keadaan. Lebih baik aku meminta Sai untuk menjemputku" Ino mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat.

To : Hinata

"Tidak usah kembali ke sini, aku akan dijemput Sai. Kau berhutang penjelasan padaku, besok kau harus menceritakan apa yang kau lakukan bersama Sasuke, oke?"

Sent.

Hinata merasakan Iphone-nya bergetar, ia meraihnya dan membaca pesan singkat dari Ino. Ia tersenyum kecil sekaligus merasa bersalah karena telah meninggalkan Ino sendiri tapi setelah membaca kata 'aku akan dijemput Sai' Hinata merasa sedikit lega.

"Dari siapa?" tanya Sasuke pada Hinata.

"Dari operator" Hinata memasukkan Iphone-nya lalu melanjutkan menyeruput teh hijau hangatnya.

Ino kemudian mencari nama Sai dalam kontaknya dan mengirim pesan.

To : Sai

"Aku di Gereja Kavaleri, bisa tolong jemput aku?"

Sent.

5 menit berlalu tanpa balasan.

Tidak biasanya Sai berpisah dengan Iphone hitamnya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Ino kemudian memutuskan untuk menelpon Sai tapi nihil, tidak diangkat.

Sementara itu, di salah satu apartemen di lantai 9, empat orang anak muda sedang fokus menatap TV LCD big size yang menampilkan pertandingan bola, lebih tetapnya turnamen PS. Sai sedang kewalahan melawan Naruto yang telah melampauinya dengan skor 1-2, Kiba dan Lee berada tak jauh di belakang untuk memberikan dukungan pada Sai dan Naruto.

Hari ini adalah pertandingan final Sai dan Naruto, tak heran jika Sai menjauhkan Iphone-nya yang mode silent agar tidak mengganggunya. Tak heran jika pesan Ino tidak dibalas dan panggilannya pun tidak diangkat.

Tanpa Sai ketahui, seseorang mungkin sedang dalam bahaya dan menunggu pertolongannya.

"Sial. Tidak diangkat, huh" Ino melemparkan Iphone-nya ke jok disampingnya. Ia benar-benar jengkel.

Ia juga tidak enak meminta Hinata kembali untuk menjemputnya sementara ia sudah mengatakan bahwa Sai akan menjemputnya.

Tidak ada yang bisa Ino lakukan. Ia terlalu takut pulang menggunakan taksi tengah malam seperti ini. Putri tunggal Inoichi itu memutuskan untuk menunggu Sai menjemputnya, ia kemudian menyamankan posisinya bersandar di sandaran jok mobil Hinata.

Namun, belum sempat ia memejamkan matanya tiba-tiba ia terganggu oleh lampu mobil yang menuju ke arahnya.

"Apa itu Sai?" Ino mengintip dari balik celah jendela mobil yang ia turunkan.

"Itu bukan plat mobil Sai tapi sepertinya aku mengenal mobil itu.." Ino menajamkan pandangannya.

Mobil silver itu perlahan-lahan mengambil parkir tepat disamping mobil Hinata, tempat Ino menunggu Sai saat ini.

"Itu kan mobil Shion" ternyata Ino tidak salah, ia benar-benar mengenal mobil yang kini terparkir disamping mobil Hinata, itu mobil Shion.

"Apa yang ia lakukan malam-malam begini? Apa Sai memintanya untuk menjemputku?" Ino masih tidak terlalu mengerti mengapa Shion tiba-tiba berada di parkiran Gereja malam-malam begini.

"Atau mungkin aku minta tolong saja untuk diantarkan pu-"

Ino baru saja akan keluar dari mobil Hinata tapi ia mengurungkan niatnya ketika seorang pemuda keluar dari mobil Shion.

"I-itu kan... mereka berdua ada hubungan apa? Kenapa malam-malam berduaan di tempat seperti ini?" Tidak. Niat Ino yang sempat ingin minta tolong pada Shion untuk diantarkan pulang menghilang begitu saja saat ia melihat seorang pemuda turun dari mobil Shion.

Seorang pemuda bertubuh tinggi keluar dari mobil Shion, ia kemudian menutup pintu mobil saat Shion menghampirinya. Mereka berdua tepat berada di depan Ino.

"Kenapa disini?" tanya Shion pada –seseorang- sambil mengalungkan tangannya pada leher pemuda yang kini memeluknya erat.

"Aku bosan melakukannya di tempat tertutup, sesekali aku ingin melakukannya di tempat terbuka seperti ini" pemuda yang dikenal Ino tersebut semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Shion.

"Ternyata kau begitu liar, berbeda dengan Sasuke" Shion pun semakin merapatkan tubuhnya pada pemuda yang makin kesini makin meraba seluruh tubuhnya.

"Tentu saja, aku akan memberikan semua yang kau inginkan"

Pemuda itu kemudian mencium bibir mungil Shion. Ia mengisap benda lembut itu,sesekali menggigitnya dan menjilatinya. Tak lupa ia juga memainkan lidahnya di dalam mulut Shion, mengabsen satu per satu gigi Shion dan mengusap langit-langit mulut Shion.

"Ngghhh..."

"Ahhh..."

"Uugghhh...ahhh..."

Hanya suara-suara aneh yang mampu Shion keluarkan saat menerima perlakukan erotis pemuda yang seolah tak ingin melepaskan bibirnya.

"Astaga, ku pikir Shion menyukai Sasuke tapi kenapa malah bersama-" tanpa sadar Ino menutup mulutnya sendiri, takut-takut keberadannya akan diketahui.

"Nngghhhh..."

Shion terlihat semakin tak berdaya saat kancing bajunya terbuka satu per satu, pemuda itu kemudian melorotkan baju Shion hingga memperlihatkan bahu dan punggung Shion. Cara yang cukup erotis untuk menelanjangi seorang gadis.

Shion mengangkat kepalanya memandang langit malam untuk memberikan ruang lebih kepada pemuda yang kini berelayut di lehernya, ia sudah tidak perduli dengan bercak merah yang menghiasi leher putihnya.

Saat ini, ia seolah mendapatkan semua hal yang tidak bisa ia dapatkan dari Sasuke, mulai dari pelukan, ciuman atau mungkin lebih.

"Apa tidak apa-apa? Ini akan kelihatan" si pemuda menghentikan aktifitasnya menciumi leher Shion menunggu persetujuan Shion.

"Aaahh, tidak apa-apa, lakukan saja"

Setelah mendapat persetujuan, pemuda itu kemudian kembali menciumi leher Shion dengan nafas tersengal-sengal melawan birahi yang perlahan-lahan mulai menghampirinya. Tangannya pun tak tinggal diam, tangan kirinya beralih meremas bokong Shion dan tangan kanannya terlalu terlena mengelus dada Shion yang masih terbungkus bra.

"Aagghhh, uuhhh... aahh.. seperti ituuu..." Shion semakin meracau tidak jelas saat tangan besar meremas dadanya dengan lembut.

"Kau suka?" tanya sang pemuda menikmati ekspresi Shion yang benar-benar membuatnya ingin melakukan lebih dari ini.

"Kita di dalam mobil saja, aku sudah tidak tahan" pemuda itu kemudian membuka pintu jok penumpang mobil dan membiarkan pintu mobil terbuka, seolah membiarkan Ino menyaksikan pemandangan kemesraan mereka berdua.

Shion masuk ke dalam mobil mengambil posisi terlentang, pemuda itu kemudian mengatur jok mobil untuk memberinya ruang.

"Aku benar-benar merindukanmu" pemuda itu tepat berada di diatas Shion, ia kemudian melepaskan kaosnya dan meletakkannya di atas kepala Shion.

Tanpa menunggu aba-aba lagi, pemuda itu kemudian mencium pelan Shion, mulai dari bibir, pipi turun ke leher dan sampai pada salah satu bagian sensitif pada wanita, payudara.

"Uummmm..." gumam pemuda itu saat dengan ganasnya ia menghisap dan memainkan payudara kanan Shion dan tangannya tak tinggal diam melihat payudara kiri Shion yang menganggur. Ia pun kembali meremas benda kenyal nan lembut itu.

"Aakkhhhhh... Eengghhh.. Aku- aahhh..." Shion semakin menggeliat tak nyaman saat menerima sensasi geli dan nikmat dalam satu waktu yang bersamaan.

Kedua kakinya dibawah sana saling bergesekan menahan sensasi aneh di pangkal pahanya. Tangan pemuda itu tak lagi meremas dan memijat payudara Shion, tangan kekar itu perlahan-lahan menuruni bagian bawah tubuh Shion.

Perlahan, ia mengusap pelan paha bagian dalam milik Shion.

"Aaawwhh...aaghhh..."

"Kau sudah sangat basah" jari-jari pemuda itu mengelus pelan pangkal paha Shion yang masih di lapisi celana dalam dan hot pants.

"Aahh, jangan disitu... aaugghhh... aaaahhh..." Shion semakin bersuara erotis saat beberapa jari begitu lincah memainkan area kewanitaannya, naik turun ke kiri dan ke kanan. Sensasi yang benar-benar membuatnya gila.

"Bagaimana bisa kau mengatakan jangan ketika tubuhmu menyukainya, hm?" pemuda itu tambah semangat saat mendengar erangan-erangan tertahan yang keluar dari bibir Shion.

Dimainkan sekitar 5 menit membuat tubuh Shion menegang, sesuatu akan datang dan berontak keluar.

"AKUU AAKHHHH...!" bersamaan dengan teriakan Shion tubuhnya pun melemah. Ia mendapatkan orgasme pertamanya.

Sementara itu dari salah satu celah jendela mobil, sepasang mata tak beranjak dari pemandangan 2 pasang kaki yang saling tindih dan suara-suara menahan nikmat membuat mata itu tak ingin mengalihkan pandangannya.

Wajah Ino memerah.

"Huh, sepertinya Shion keenakan. Mungkin aku akan meminta Sai melakukannya untukku" gumam Ino yang baru kali ini menyaksikan pemandangan erotis itu secara langsung langsung. Biasanya ia hanya melihatnya dari media.

Pemuda bertubuh atletis itu memberikan jeda pada permainannya, membiarkan Shion menghirup oksigen dan mengumpulkan kembali tenaganya yang sempat terkuras setelah orgasme.

"Bagaimana? Ingin berhenti disini?" tanya pemuda itu.

"Nngghh... masukkan saja, aku juga sudah tidak tahan" pinta Shion manja sambil mengusap rambut lembut milik pemuda yang kini berada diatasnya.

Pemuda itu kemudian membuka kancing dan res celana Shion, Shion mengangkat pinggulnya agar celananya terlepas, ia bahkan melepas sendiri celana dalamnya. Pemuda itu pun tak tinggal diam saat gadis dibawahnya sudah tak mengenakan sehelai benang pun, ia pun segera melucuti jeans dan celana dalamnya.

Ia kemudian mengangkat satu kaki Shion yang ditumpukan pada pinggangnya, sementara kaki Shion yang satunya ia turunkan dari jok.

"Aku mulai" pemuda itu menggosokkan 'barang'nya sebelum memasukkannya ke dalam milik Shion.

"Aagghhh... enak sekali... ugghhhh" Shion tak tahan untuk tidak bersuara.

Tanpa pengaman, pemuda itu memasukkan 'barang'nya dengan pelan ke dalam tubuh Shion. Ia merasakan kehangatan dan sensasi pijatan saat benda miliknya masuk seutuhnya.

"Engghh, kau enak sekali seperti biasa" pemuda itu pun menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi nikmat saat ia telah menjadi satu dengan tubuh Shion.

"Ayo cepat, aku sudah tidak tahan" ucap Shion dengan nada serak, pinggulnya pun bergerak naik turun bahkan sebelum pemuda itu mulai memaju mundurkan miliknya.

"Heee, kau tidak sabaran sekali"

Suasana larut malam yang sepi seakan mengizinkan sepasang muda mudi itu untuk menyalurkan hasrat mereka, mobil yang mereka tempati pun tak kuasa menahan gerakan-gerakan mereka yang semakin ganas. Mobil itu bergerak menimbulkan suara decitan bersamaan dengan suara erotis seorang gadis yang sedang menuju orgasmenya.

"Astaga, mereka sampai sejauh itu" Ino geleng-geleng tidak percaya.

"Aagghh.. uhhhh... le-lebih cepat lagi"

"Aauuhhh... ah, disitu.. ahh ahh"

"Ngghh... ah, sakiitt... sakiitt..."

"Uhhh... aaiigghh... lebih dalam lagi"

Desahan-desahan Shion seakan menghibur malam yang sepi. Ia dan pemuda itu telah mencapai orgasmenya. Mereka kemudian berciuman singkat sebagai penutup permainan mereka malam ini.

"Huh, baguslah kalau sudah selesai" Ino pun merasa gerah berlama-lama di dalam mobil.

Shion dan pemuda yang baru saja memuaskannya keluar dari mobil. Berbeda dengan Shion yang masih telanjang bulat, pemuda itu kembali lengkap dengan jeans dan kaos coklatnya.

"Aku ingin pulang" Shion terlihat meronta saat lengan kecilnya masih dalam genggaman pemuda yang sebenarnya tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.

"Aku ingin meminta sesuatu" ucap pemuda itu sambil mengelus kepala Shion.

"Aku telah menyerahkan semuanya padamu, apa lagi?" tanya Shion mengeratkan pelukannya.

"Aku ingin rambutmu"

"Eh? Apa maksudmu?" Shion melepaskan pelukannya, kedua alisnya mengkerut mendengar permintaan seseorang yang telah membajiri rahimnya dengan spermanya.

"Apa? Rambut?" Ino pun tidak mengerti,

"Aku tidak berniat memotong rambutku" Shion menggenggam rambutnya.

"Kalau begitu akan ku ambil paksa" si pemuda menampilkan seringai pencabut nyawa miliknya.

"Paksa? Kau pikir kau siapa, hah?" Shion hendak meninggalkan pemuda itu tapi sayang sekali tangannya sudah di genggam erat.

"Lepaskan!" Shion berontak memaksa pemuda itu melepaskan tangannya.

Ino diserang rasa takut luar biasa saat melihat pemuda yang menahan Shion baru saja mengeluarkan sebuah cutter dari balik saku jeansnya.

"A-apa ini?" Shion semakin berontak saat pemuda itu perlahan-lahan menarik setelan cutter-nya.

"Jangan-jangan kau yang telah membunuh Karin?" lanjut Shion semakin ketakutan.

"Pembunuh Karin? Jadi..."

Kaki dan tangan Ino semakin gemetaran, ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia mencari Iphone-nya yang ia lemparkan ke jok sebelah tapi ia tak kunjung menemukannya, gadis itu bermaksud menelpon polisi. Ia juga tidak mungkin keluar begitu saja, berteriak meminta tolong di sekitar sini sama saja cari mati. Tidak akan ada yang mendengarkan.

"Bagaimana ini, kau sudah mengetahuinya. Aku tidak mungkin membiarkanmu hidup" pemuda itu mengelus kulit wajah Shion menggunakan ujung cutter-nya yang begitu tajam.

"Aku berjanji, aku tidak akan memberitahu siapa-siapa. Kau juga boleh mengambil rambutku, asal biarkan aku pergi" mata Shion berair, suara gemetar yang keluar dari bibir bergetarnya terdengar sangat ketakutan.

"Aku tidak ingin janjimu. Aku hanya ingin rambutmu dan juga...nyawamu"

Dengan wajah tanpa dosa, pemuda itu mengambil tali kecil dari kantong celananya untuk mengikat kedua tangan Shion.

Setelah mengikat kedua tangan Shion, ia kemudian membaringkan tubuh telanjang Shion di tanah berpasir.

"TOOLOOONNGG...!" Shion berteriak sekencang mungkin, suaranya yang ketakutan seolah menyayat hati dan pendengaran bagi siapa saja yang mendengarnya, termasuk Ino yang berjarak tak lebih dari 2 meter darinya.

"Dia gilaaa... benar-benar gilaaa" air mata ketakutan bercucuran dari mata Ino menyaksikan teman sekelasnya sebentar lagi akan dibunuh oleh orang yang tidak asing baginya.

"Berteriaklah sesukamu! Tidak ada yang bisa mendengarmu!" kata pemuda yang kini mengikat kedua kaki Shion.

Pasrah.

Tidak ada yang bisa Shion lakukan selain menangis dan berteriak sekencang mungkin.

"Sebaiknya aku mulai darimana ya.." suaranya terdengar pelan, dingin dan sangat menakutkan.

"AKU SALAH APA, HAH? AKU SALAH APA PADAMU, BRENGSEK?" jeritan Shion semakin membelah suasana kelamnya malam ini, tangan Ino yang gemetar ketakutan seolah tidak bisa bergerak mencari Iphone-nya yang entah dimana saat ia membutuhkannya.

"Aku menyukai lehermu" pemuda itu berjongkok disamping kepala Shion, telunjuknya menyentuh pelan kulit leher Shion yang masih menyisakan bekas kissmark yang ia buat sendiri.

"Aku mohooonn berheenntiii..." Shion memandang orang yang benar-benar tak ia duga menjadi pelaku pembunuhan Karin dan sekarang...orang itu akan membunuhnya.

"Jaaa naaa..."

CRAAATTTTT...

Sayatan pertama.

"AAARRRRGGGHHHH...!" Shion menjerit menahan perih saat kulitnya tersayat benda tipis nan tajam. Darah pun mengalir deras dari luka sayat di lehernya.

"Tuuhhaaannnn... Shion, apa yang harus aku lakukan" rasanya bernafas pun sulit untuk Ino lakukan saat ini. Shion yang menjerit kesakitan, Shion yang tengah disiksa, Shion yang sedang dibunuh berada tepat di depan mata Ino.

CCRAAAATTT...

Sayatan kedua.

"AAAAAAKKKKKKKHHH...!" tak ada lagi desahan tertahan penuh kenikmatan, kini hanya ada jeritan menahan sakitnya saat urat-urat nadi terputus oleh benda tajam.

Dua sayatan sudah cukup membuat Shion tak lagi mampu menggerakkan tangan dan kakinya, bernafas pun mulai sulit untuk ia lakukan, detak jantungnya semakin melemah, pandangan matanya yang kabur oleh air mata kini semakin kabur saat hidupnya tinggal menghitung mundur.

"Kau sudah mati? Huh, cepat sekali"

"Apa? Sh-shion sudaahh..." ingin rasanya Ino cepat-cepat pergi dari tempat ini.

Tak ada nafas, tak ada detakan jantung dan tak ada kedipan mata. Shion sudah tak bernyawa, terbujur kaku tanpa busana di area parkiran. Pembunuh berdarah dingin yang bahkan belum menyelesaikan studinya di Konoha High School itu mengambil sesuatu dari tasnya di dalam mobil Shion.

Sebuah alat cukur.

Ia menekan tombol pada alat itu kemudian mencukur habis rambut Shion hingga tak tersisa sehelai pun. Ia kemudian memasukkan rambut panjang Shion di dalam tasnya bersama alat cukur yang baru saja ia gunakan.

Tak hanya itu, ia kemudian memutari mobil menuju bagasi mobil mengambil sebuah... koper besar.

Tubuh mungil tak bernyawa itu kemudian dimasukkan paksa ke dalam koper lalu kembali di taruh di bagasi mobil.

Pemuda itu kemudian memandang sekeliling, termasuk ke arah mobil Hinata, tempat Ino bersembunyi. Ino menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan dirinya sendiri.

Pemuda itu merasa tak ada yang mengetahui perbuatannya, ia juga merasa tak ada siapapun disekitar sini. Ia memutar tubuhnya memegang gagang knop pintu mobil tapi-

Ddiiittt...diiitttt...

Iphone Ino berdering.

Sontak pemuda itu melepaskan tangannya dari knop pintu mobil. Ino panik mendengar Iphone-nya menimbulkan suara ketika ia sedang berusaha menyembunyikan keberadaannya.

Ddiitt...diiitttt...

Lagi.

Iphone Ino berdering.

Ternyata Iphone Ino terjepit di sela jok mobil Hinata, Ino sebisa mungkin mengambil Iphone-nya yang menampilkan panggilan dari seseorang. Sai.

Ino dengan lincah segera menekan tombol on-off pada Iphone-nya saat pembunuh Karin dan Shion berjalan mendekati mobil Hinata.

"Ada orang?" nada suara yang begitu pelan tapi nyaris membuat Ino ingin segera menjerit.

"Aku tahu ada orang di dalam" mata dinginnya mengintip di balik celah jendela mobil yang tak tertutup rapat. Ia meraih Iphone di sakunya kemudian memasukkannya untuk melihat siapa yang ada di dalam mobil.

Tidak ada.

Ino mana?

Untungnya Ino telah memprediksi kejadian ini, di waktu yang mendesak ia menyempatkan diri melangkah ke jok belakang kemudian menyembunyikan dirinya di bawah jok hingga akhirnya 'si pembunuh' tak melihatnya saat memasukkan cahaya Iphone ke jendela mobil Hinata.

Tangan pemuda itu bahkan masih berlumuran darah, ia melangkah mundur beberapa langkah untuk mengamati mobil yang ada di hadapannya. Tak puas dengan hanya mengamati dari satu sisi, pemuda itu kemudian mengelilingi mobil Hinata seperti sedang mencari tahu sesuatu.

Seringai kejam muncul di wajahnya saat menemukan sesuatu yang ia cari. Ia kembali ke posisinya semula, bagian pintu mobil yang kaca jendelanya sedikit terbuka.

"Awalnya ku pikir aku familiar dengan mobil ini, setidaknya aku pernah melihatnya sekali" kata pemuda itu dengan suara santai. Ino semakin menggigil ketakutan mendengarnya.

"Ayo cepat keluar" tentu saja, Ino tidak bodoh untuk menurutinya. Keluar sama saja cari mati.

"Baiklah, tidak masalah kalau kau tidak ingin keluar. Kita masih bisa bertemu lain waktu, kita bahkan bisa bertemu setiap hari sebagai sesama penghuni lantai 13. Terima kasih kepada stiker di bagian belakang mobilmu, stiker yang bertuliskan namamu, Hyuuga Hinata"

.

.

.

Sai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat Ino menunggunya. Sai begitu khawatir, belum lagi saat ia menelpon Ino, Ino malah mematikan Iphonenya. Bisa saja Ino di rampok dan barang-barangnya diambil, kalau hanya barangnya tidak masalah. Lalu bagaimana jika Ino diapa-apakan? Baru saja Karin meninggal di bunuh dengan tragis, seperi Sasuke dan Shikamaru, Sai pun tahu siapa pelaku pembunuhan itu.

"Siaaallll...!" Sai memukul kemudi mobilnya saat ia harus membuang-buang waktu terjebak di traffic light.

Sesaat mata hitamnya menangkap sebuah mobil yang tak asing baginya.

"Mobil Shion? Huh, dasar. Jam segini masih keluyuran di luar" ucap Sai menggeleng pelan.

Kurang dari 10 menit Sai sudah tiba di depan Gereja, ia membawa mobilnya mendekati satu-satunya mobil yang terparkir.

"Ino..!"

"HUUUUUAAAAA...!" Ino tak lagi mampu mengenali suara Sai, begitu ia mendengar namanya dipanggil ia sudah tak kuasa menahan jeritan ketakutan yang sedari tadi tertahan di bibirnya.

"Hei, ada apa? Ini aku" Sai berusaha membuka pintu mobil Hinata tapi sepertinya terkunci dari dalam.

"Si-siapa?" tanya Ino yang masih meringkuk di bawah jok belakang.

"Aku, Sai. Kau kenapa?" Ino memastikan pendengarannya menangkap suara Sai yang terdengar hangat dan menenangkan, berbeda dengan suara yang ia dengar beberapa waktu yang lalu.

Ino mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya yang tersisa setelah habis meredam rasa takutnya. Ia menarik sesuatu di pintu mobil Hinata dan membuka pintu mobil.

Air matanya tak lagi terbendung saat menatap Sai yang berdiri di hadapannya.

"He-hei, kenapa menangis?" Sai heran melihat Ino yang tiba-tiba menangis, tidak biasanya gadis seperti Ino menangis.

Melihat air mata yang mengucur tak henti dari ujung mata Ino, Sai tergerak dengan sendirinya merangkul tubuh Ino.

"Maafkan aku, Sayang. Aku membuatmu menunggu lama" kata Sai mengusap pelan punggung Ino.

"Ada apa? Kau tidak apa-apa kan?" tanya Sai melihat kepala Ino, pertanyaannya dijawab dengan gelengan lemah.

Ino memandang tanah di belakang Sai. Benar-benar seperti tak terjadi sesuatu. Sebelum pergi meninggalkan area parkiran pemuda itu menutupi tanah yang penuh dengan darah menggunakan pasir dan tanah sekitar.

"Kenapa mobil Hinata ada disini?" tanya Sai pada Ino yang sudah reda dari tangisnya.

Ino diam. Tak menjawab.

"Bukannya kau tidak bisa menyetir? Lalu kenapa menangis?"

Lagi. Tak ada jawaban.

"Baiklah, mungkin sebaiknya kita pulang saja"

Sai mengambil kunci mobil Hinata kemudian memasukkannya di clutch bag Ino, ia membimbing bahu Ino memasuki mobilnya dan kembali ke apartemen.

Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun. Sai terdiam tidak harus berkata apa lagi, semuanya ditanggapi sama oleh Ino. Diam.

"Apa aku membuatnya marah?"

Sai mengantarkan Ino sampai di depan pintu apartemennya.

"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja, tadi aku-" kata-kata Sai terputus saat tangan Ino menggenggam tangannya.

"Temani aku" ucap Ino singkat dengan tatapan kosong memandang ke depan.

Sai tidak bisa menolak. Ia benar-benar merasa bersalah membuat Ino menunggu lama hanya karena turnamen PS-nya, sebenarnya bukan itu juga, ia hanya tak mendengar suara panggilan masuk di Iphonenya.

Ino berjalan di depan menuju kamarnya diikuti Sai di belakangnya. Ino naik ke kasurnya kemudian menarik selimut hangatnya. Tidak ada cuci muka, gosok gigi dan membersihkan sisa make up, malam ini Ino merasa kehilangan sebagian jiwanya setelah melihat kejadian mengerikan yang terjadi tepat di depan matanya.

"Aku tidur di bawah" ucap Sai menuju lemari Ino mengambil futon.

"Tidak usah, tidurlah disampingku" Sai menarik nafasnya dalam-dalam kemudian berbaring disamping Ino.

"Tidurlah dan tenangkan dirimu. Aku disini bersamamu dan ceritakan semua padaku saat kau terbangun" Ino mengangguk pelan kemudian tertidur dalam dekapan hangat Sai.

.

.

.

Seperti biasa, dari langkah pertama sampai langkah terakhirnya memasuki gedung apartemen. Entah mengapa, semua sistem CCTV langsung mati total. Tangan malaikat maut itu menarik koper berisi mayat seseorang menuju lantai 13 apartemen nomor 7. Apartemen milik Shion.

Seolah serba tahu segalanya, jemari pemuda itu lincah menekan password apartemen Shion. Ia kembali menarik koper berdarah menuju kamar Shion dan berakhir di balkon kamar. Ia membuka res koper tersebut kemudian mengeluarkan mayat Shion.

Tanpa perasaan bersalah sedikit pun, ia mengangkat tubuh kaku Shion kemudian-

Menjatuhkannya tepat di bawah balkon Shion.

Ia kemudian membawa koper beserta tasnya yang berisi rambut Shion. Sesaat ia memandang pintu apartemen nomor 13, apartemen milik Hinata.

"Ku rasa aku membutuhkan rambut berwarna ungu..."

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Fufufu... adek nongol lagi, Bang.

Gpp ya fic ini ratenya di ganti M .'

Yang nunggu next chap mana reviiiieewwwnnyyaaahhhhh...