Disclaimer © Masashi Kishimoto

This fic is mine

Rated © M

Warning © Ide pasaran, overdosis OOC, alur gak jelas, typo berkeliaran.

Summary © Sebuah kisah di lantai 13 Apartemen Akatsuki.

.

Bloody 13

Chapter 4

.

.

.

Seolah serba tahu segalanya, jemari pemuda itu lincah menekan password apartemen Shion. Ia kembali menarik koper berdarah menuju kamar Shion dan berakhir di balkon kamar. Ia membuka res koper tersebut kemudian mengeluarkan mayat Shion.

Tanpa perasaan bersalah sedikit pun, ia mengangkat tubuh kaku Shion kemudian-

Menjatuhkannya tepat di bawah balkon Shion.

Ia kemudian membawa koper beserta tasnya yang berisi rambut Shion. Sesaat ia memandang pintu apartemen nomor 13, apartemen milik Hinata.

"Ku rasa aku membutuhkan rambut berwarna ungu..."

.

.

.

Hari biasa seperti biasanya, matahari seolah tak mengenal kata terlambat untuk mengusir gelap yang menyelimuti bumi. Sinarnya yang hangat perlahan-lahan membuat tetesan embun menguap seiring berputarnya jarum jam, tetesan embun yang tak lagi membasahi dedaunan dan rerumputan.

Bersama dengan dinginnya pagi ini, sepasang kekasih masih enggan merelakan kehangatan yang diberikan oleh selimut mereka.

"Ohayo" sapa Sai sambil mengeratkan pelukannya pada Ino.

"O-ohayo" Ino membalas dengan suara pelan. Sangat beda dengan Ino yang biasanya tidak mengenal kata 'pelan-pelan' dalam berbicara.

"Apa tidurmu nyenyak?" Sai masih enggan membuka matanya. Terlalu mengantuk untuk berbicara di pagi hari.

"Aa.. lumayan" kata Ino memandang lampu kamarnya dengan tatapan mata yang masih ketakutan dengan apa yang ia lihat semalam.

Tidak ada Ino yang lincah pagi ini. Tidak ada Ino yang begitu bersemangat untuk ke sekolah. Tidak ada Ino yang senantiasa memuja rambut pirang panjangnya, yang ada hanya Ino yang bangun dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya.

"Apa yang terjadi semalam, hm?" tanya Sai mulai penasaran.

"Ti-tidak ada. Aku hanya melihat pemburu anjing liar. Ada lelaki bersenjata yang membunuh seekor anjing. Ku pikir semoga bukan anjing Kiba" kata Ino, bohong.

"Benarkah?"

"Hu'um" kata Ino mengangguk pelan.

"Kalau tidak sehat tidak usah masuk sekolah. Bolos saja. Akan ku temani disini" ucap Sai melangkah turun dari kasur dan membuka jendela apartemen Ino, membiarkan sinar matahari menyinari mata aquamarine Ino dan sekaligus meyakinkan gadis itu bahwa ia masih hidup, bernafas dan masih berada di bumi.

"Tidak bisa. Kelasku ada ulangan harian Matematika hari ini, kalau tidak ikut katanya tidak bisa ikut ujian semester" Ino berusaha mati-matian membangunkan tubuhnya sendiri yang benar-benar terasa berat.

"Jadi, kau ingin aku melakukan apa?" tanya Sai meregangkan seluruh tubuhnya dan menghirup udara pagi yang segar.

"Aku akan mandi duluan, kau jangan kemana-kemana. Setelah aku selesai, baru kita ke kamarmu agar kau bisa mandi dan memakai seragam" kata Ino memandang Sai dari belakang. Ia benar-benar takut melakukan apa-apa sendirian untuk saat ini.

"Hee? Apa kau menyukaiku sampai segitunya?" Sai membalik badannya sambil menampilkan senyuman pertamanya hari ini.

"Jangan pernah meninggalkanku. Tetaplah disampingku" Ino melangkah mendekati Sai di dekat jendela lalu memeluknya untuk sejenak.

"Iya. Aku mengerti"

.

.

.

Berbeda dengan Ino dan Sai yang masih saling berbagi kehangatan di pagi hari, apartemen nomor 13 sudah terbuka oleh penghuninya yang lengkap dengan seragam sekolah. Seperti tak mempercayai perkataan Sasuke yang akan menjaganya, Hinata tetap menguncir rambutnya. Bahkan ia sampai menutupi kepalanya dengan topi sweater putihnya yang ia kenakan pagi ini. Entah untuk melawan sengatan dinginnya pagi atau entah untuk hal lain yang sedikit membuatnya...takut?

"Untung saja aku masih punya kunci serepnya" ucap Hinata sambil mengantongi kunci serep mobilnya. Ia berniat kembali ke Gereja untuk mengambil mobilnya. Ia mengabaikan BBM Sasuke yang mengajaknya berangkat bersama ke sekolah pagi ini.

"Handphone ada, earphone ada, dompet ad-"

"Yo..!"

"HAAA..!" pagi damai yang diidamkan Hinata menghilang begitu saja saat mendapat sapaan dari Gaara. Sapaan biasa dengan nada suara yang pelan tapi entah mengapa suara dingin itu sangat mengangetkan bagi telinga Hinata.

'Apa? Setelah mengagetkanku dia hanya diam?' lama-lama Hinata jengkel dengan tingkah Gaara yang terlalu berwajah WATADOS –wajahtanpadosa-

"Aku berangkat dulu-"

"Kenapa tidak berangkat bersama Sasuke?" tanya Gaara yang ternyata sudah lengkap dengan seragamnya, siap untuk ke sekolah.

"Kenapa Sasuke?" sumpah, Hinata benar-benar tidak mengerti dengan pemuda yang ada di hadapannya saat ini.

"Bukankah Sasuke mengajakmu berangkat bersama ke sekolah pagi ini?" Gaara tetap bertanya, ia terlihat tak berniat mengganti ekspresi wajahnya yang dingin dan nada suaranya yang datar.

'Apa? Dari mana dia tahu? Selain menakutkan apa dia juga seorang dukun? Peramal? Mind reader?' batin Hinata sambil mundur selangkah demi menjauhkan jaraknya dari Gaara.

"Aa, aku harus buru-buru ke sekolah. Aku ada janji dengan Sakura dan Matsuri. Lagi pula jam segini Sasuke belum-"

"Sasuke sudah bangun" lanjut Gaara tak mengalihkan matanya sedetik pun dari wajah Hinata.

"Tapi aku buru-buru jadi-" Hinata tetap berusaha menolak segala bentuk 'perintah' Gaara.

"Kita bisa berangkat bersama" kata Gaara memegang tali ranselnya.

"Ti-dak perlu. Ok? Tidak perlu!" tidak mungkin Hinata tidak menolak.

Hinata selalu merasa hidupnya tidak aman saat Gaara berada di sekitarnya dan sekarang? Pemuda itu mengajaknya berangkat bersama ke sekolah? Hanya orang gila yang mau –menurut Hinata-

"Apa kau takut?" Gaara melangkah kembali mengambil jaraknya yang baru saja dipisahkan oleh Hinata.

"Ti-tidak. Aku ti-"

"Perlu kau tahu. Ada hal yang lebih menakutkan yang menunggumu" Gaara seolah tak memberikan kesempatan bagi Hinata untuk berbicara.

"Ha?"

"Kalau kau takut padaku, kau bisa berangkat bersama Shikamaru" lanjut Gaara.

"Aku belum terlalu mengenal Shikamaru" setelah mendengar penjelasan Sasuke semalam yang mengatakan bahwa semua orang di lantai 13 menyembunyikan sesuatu, Hinata benar-benar tidak ingin mengambil resiko.

"Kalau begitu pergilah bersama Shino" Apa yang dipikirkan oleh Gaara? ia seolah tak ingin Hinata pergi sendirian.

"Gaara ka?" seseorang bermata coklat kemudian muncul di belakang Gaara.

"Sasori? Ohayo.." Hinata membungkuk sambil menyapa tetangga kamarnya yang jarang terlihat. Mungkin terlalu sibuk dengan kegiatan ekstrakurikulernya.

"Tidak baik memaksa seorang gadis, kau tahu?" Sasori berdiri sejajar dengan Gaara sambil menepuk pelan kepala Hinata yang tertutupi oleh topi sweaternya.

"Kalau begitu, aku duluan" melihat ada kesempatan ia bisa lolos dari Gaara, Hinata segera mempercepat langkahnya meninggalkan 2 pemuda berambut merah yang sepertinya memiliki urusan yang belum tuntas.

.

.

.

Hinata merasa lega menemukan mobilnya baik-baik saja tanpa satu goresan pun. Meninggalkan mobilnya seorang diri (?) di parkiran Gereja membuatnya sedikit harap-harap cemas. Pasalnya, tak jarang ia dengar kasus mobil yang 'dikerjai' saat ditinggal oleh pemiliknya di lahan parkir.

Gadis ber-sweater putih itu mengemudikan mobilnya memasuki gerbang Konoha High School yang mulai ramai oleh lalu lalang siswa KHS. Hinata memilih tempat parkir seperti biasanya.

"Hah, kenapa anak itu aneh sekali. Tatapan matanya, suaranya. Belum lagi mengajak berangkat bersama. Ha? Apa maksudnya? Agresif sekali" masih banyak sekali omelan yang entah Hinata perdengarkan pada siapa saat ia menutup pintu mobilnya dengan kesal.

"Itu dia..."

"haa, dia? Anak baru itu?"

"Padahal dia tidak terlalu cantik"

"Tapi kalau dilihat-lihat manis juga"

"Bukannya Sasuke suka perempuan yang tinggi bak model?"

"Dia kan pendek, kecil"

Hinata tidak terlalu bodoh untuk menyadari bahwa semua kata-kata yang baru saja ia dengar adalah perkataan yang membicarakan tentang dirinya. Ia hanya memasang wajah kebingungan tidak mengerti dengan gadis-gadis yang berlalu lalang di sekitarnya.

"Jahat sekali" suara berat nan sexy tiba-tiba muncul dari belakang mobil Hinata. Satu hal yang Hinata ketahui, penghuni lantai 13 Apartemen Akatsuki memiliki satu kesamaan. Suka membuat kaget orang lain.

"Huh, Sasuke" Hinata menarik nafas lega, ternyata Sasuke. Meskipun Sasuke dikelilingi oleh orang-orang dengan aura menyeramkan tetap saja Hinata merasa aman jika bersama dengan Sasuke.

"Kau bohong jika tidak melihat BBMku tadi pagi" kata Sasuke mengikuti langkah Hinata yang berjalan meninggalkan parkiran menuju kelas.

"Aku buru-buru" secepat apapun Hinata melangkah, faktor tinggi badan yang berbeda membuat Sasuke tetap berada di samping Hinata.

"Lagi pula biasanya kau ke sekolah bersama Shion" Hei..hei... jealous detected?

"Entahlah. Biasanya pagi-pagi dia sudah menunggu depan kamarku tapi pagi ini dia tidak ada tapi yang jelas pagi ini aku bersamamu" kata Sasuke melingkarkan lengannya di bahu Hinata.

"Apa ini?" tanya Hinata sambil menggerakkan bahunya. Meminta penjelasan mengapa tiba-tiba Sasuke memiliki otoritas meletakkan tangannya di bagian tubuhnya. Seingatnya, ia tidak pernah memberi izin pada Sasuke untuk melakukan sesuatu padanya.

"Ha, tidak perlu malu-malu. Lagi pula kau sudah terkenal sekarang" kata Sasuke tidak berniat melepaskan rangkulan tangannya.

Satu lagi kesamaan laki-laki penghuni lantai 13, sama-sama berwajah tanpa dosa. Lihatlah betapa polosnya Sasuke merangkul anak orang lain (?) di depan banyaknya siswa KHS yang berlalu lalang.

"Terkenal?" tanya Hinata bingung.

"Ku antar sampai ke kelasmu" kata Sasuke mengalihkan pertanyaan Hinata saat ia melewati kelasnya sendiri.

Sebelum meninggalkan Hinata di depan kelas XI.5, Sasuke menyempatkan dirinya memperhatikan seisi kelas XI.5. Lebih tepatnya melihat ke bangku Shion yang masih kosong.

"Sebentar lagi cuaca akan panas. Sebaiknya buka sweatermu ya.." kata Sasuke membungkukkan dirinya sambil membuka penutup kepala Hinata, memperhatikan rambut panjang yang terikat oleh karet berwarna putih.

Sasuke menampilkan sedikit raut wajah kecewa saat mendapati rambut Hinata masih dikuncir.

"Sasuke..!" Shino muncul di dekat pintu sambil memperbaiki letak kacamatanya.

"Shino?" Sasuke mengalihkan fokusnya terhadap Hinata dan menatap Shino.

"Bisa bicara sebentar?" Hinata memandang Sasuke dan Shino bergantian. Bukan petunjuk dari siapapun tapi gadis itu benar-benar merasa dirinya berada di luar lingkaran diantara Sasuke dan Shino yang sepertinya akan membicarakan sesuatu yang serius.

'Mungkin urusan laki-laki' batin Hinata tidak ingin ambil pusing.

"Wah, tumben sekali ada Sasuke" Sasori pun memunculkan dirinya di belakang Shino.

"Aku mengantarkan Hinata" kata Sasuke menepuk pelan kepala Hinata.

"Oh iya, Hinata. Aku membuat sandwich lebih tadi pagi. Tadi kau buru-buru ke sekolah, ku pikir kau tidak sempat sarapan" Sasori menyerahkan kotak bento berisi sandwich, memang benar tadi pagi Hinata tidak sempat serapan.

"Haaa? Benarkan? Untukku? Keliatannya en-"

Brukkk !

"Ahh, gomen..gomen... Aku masih mengantuk jadi tidak begitu memperhatikan jalan. sandwich-nya akan ku ganti besok, Hinata" kata Shikamaru menggaruk kepala, pemuda berkuncir itu baru saja menabrak dan menjatuhkan sandwich dari Sasori untuk Hinata.

"Shikamaru?" gumam Sasuke heran melihat kemunculan Shikamaru.

"Yah, Shikamaru. Dasar tukang tidur, padahal baru saja aku ingin membantu Hinata menghabiskannya" Matsuri menatap sandwich malang yang telah menyatu dengan lantai.

"Nee, Nee.. Hinata. Kau berhutang penjelasan" Sakura menyenggol bahu Hinata.

"Apa? Penjelasan apa?" tanya Hinata tidak mengerti.

"Tidak usah sok polos, ini buktinya" Matsuri memperlihatkan iPhone-nya pada Hinata, iPhone yang memperlihatkan fotonya dan foto Sasuke.

Tidak butuh waktu lebih dari satu menit, Hinata langsung ingat betul kapan tepatnya foto itu di jepret. Yah, tadi malam. Saat ia dan Sasuke kembali dari Gereja dan mampir makan di warung begadang.

Rasa penasaran Hinata juga sudah terbayarkan tentang mengapa hampir sema gadis-gadis KHS membicarakannya. Semuanya berkat Matsuri yang malam itu kebetulan mampir di warung begadang bersama sepupunya.

"Hei, ayo cepat hapus" Hinata mengejar Matsuri yang berlari memasuki kelas.

"Ayo, ceritakan!" disusul Sakura yang terus-terusan menarik sweater Hinata.

Sejak Hinata, Matsuri dan Sakura meninggalkan depan pintu kelas XI.5, hanya ada keheningan yang tercipta diantara pemuda yang sama-sama menghuni lantai 13 Apartemen Akatsuki.

Shikamaru yang menguap memandang langit dengan tatapan malasnya seperti biasa. Entah apa yang ia lakukan, yang jelas ia tidak tidur semalaman. Sibuk berhadapan dengan Macbooknya. Satu hal, ia tidak sedang mengerjakan tugas.

Shino yang notabene-nya tidak tegaan melihat makanan yang terbuang sia-sia bernisiatif untuk memungut 3 buah sandwich segar nan lezat milik Sasori yang baru saja dijatuhkan oleh Shikamaru.

Dan jangan lupakan Sasuke yang sepertinya enggan melepaskan tatapannya yang begitu sulit diartikan.

"Aku akan membuangnya" kata Shino berlalu sambil membawa sandwich malang tersebut.

"Semoga kau tidak berpikir untuk menyukainya" Sasuke tidak tahan untuk tidak mengatakan hal ini. Mengatakannya pada siapa? Sasori tentunya.

"Siapa? Dia?" sebenarnya Sasori tidak perlu bertanya karena ia tahu persis 'dia' yang dimaksud Sasuke adalah Hinata.

"Tidak usah khawatir, dia hanya teman sekelasku dan aku rasa aku perlu mengakrabkan diri dengannya" sambung Sasori setelah melirik singkat pada Hinata.

"Ah, sudahlah. Tidak baik bertengkar pagi-pagi hanya karena seorang gadis" kata Shikamaru sembari memutar tubuhnya saat ia mendengar sayup-sayup suara yang tak asing di telinganya.

Sai datang bersama Ino, sama halnya dengan Sasuke dan Hinata, pagi ini Sai mengantarkan Ino ke kelasnya. Tidak seperti biasanya. Ino benar-benar tampak tidak sehat. Wajahnya pucat dan tatapan matanya kosong. Belum lagi saat ia menaikkan pandangannya dan mendapati seseorang yang berdiri di depan kelasnya.

Kedua kakinya gemetaran.

Gadis berambut pirang itu tak sanggup untuk setidaknya membuat satu langkah lagi.

Ia berhenti.

Ia bahkan lupa untuk bernafas.

"Ah, Ino ka? Tidak biasanya. Apa kau sedang sakit?" tanya Shikamaru pada teman semasa SMPnya.

"Bisa kau lihat. Dia sedang tidak sehat, ayo masuk" Sai merangkul bahu Ino, menggiringnya memasuki kelas XI.5. Ino menundukkan pandangannya –tidak- lebih tepatnya menolak untuk melihat apapun saat ia melewati Sasuke, Sasori dan Shikamaru.

Kedatangan Ino disambut heran oleh teman-teman sekelasnya yang lain, termasuk Hinata, Matsuri dan Sakura.

"Dimana Gaara?" tanya Sasuke yang tak melihat rambut merah Gaara.

"Dia berangkat duluan. Pagi-pagi sekali ia sudah tidak ada di apartemen" kata Sai menjawab pertanyaan Sasuke.

Mereka sudah tinggal bersama sejak lama. Namun, mereka tak menunjukkan tanda-tanda keakraban sedikit pun tapi entah mengapa mereka masih saling memperhatikan.

"Kalian tidak baik berlama-lama disini. Bel sebentar lagi berbunyi" kata Sasori meninggalkan Sasuke, Shikamaru dan Sai. Pemuda bermata coklat itu berjalan menuju bangkunya sambil meregangkan seluruh tubuhnya.

Sasuke terlihat berat melangkahkan kakinya saat diseret oleh Shikamaru untuk menuju kelas mereka. Sedangkan Sai masih tetap berdiri tak bergeming memandang Ino dari luar kelas.

"Apa kau ingin terlambat? Iruka-sensei akan memeriksa PR" Shikamaru memperingatkan Sai untuk segera menuju kelas mereka, kelas XI.1

"Aku melupakan sesuatu di apartemen. Aku harus kembali" Sai kemudian berjalan tenang seperti biasanya meninggalkan kelas XI.5 dan meninggalkan Sasuke serta Shikamaru yang memandangnya penuh dengan perasaan bingung.

Satu hal. Sai bukan orang yang pelupa. Apapun itu.

.

.

.

Jam dinding ruang klub Biologi menunjukkan pukul 08.300 pagi. Waktu dimana seluruh ruang kelas KHS sibuk dengan kegiatan belajar mereka, entah itu menegangkan atau pun membosankan. Hanya kelas yang belajar seni musik yang terlihat begitu ceria pagi ini.

Saat seluruh siswa sibuk dengan mata pelajaran dan penjelasan guru di depan kelas, seorang siswa sama sekali tidak berminat dengan pelajaran di kelasnya. Sekalipun itu ulangan harian Matematika yang terkenal tak punya kata 'ampun' dalam kamus guru yang mengajarkannya.

Aburame Shino. Ketua klub Biologi. Ia memiliih menyendiri di ruangan luas ini dengan sekelumit pikiran yang ada di kepalanya. Pikiran yang lebih rumit dari ulangan harian Matematika tentang logaritma yang tengah berlangsung di kelasnya saat ini.

Ada begitu banyak jenis hewan di ruangan ini. Masing-masing hewan tertata rapi di kandang mereka masing-masing.

Shino menarik kursi kayu kemudian duduk di depan sebuah kadang yang berisi dua tikus putih lucu yang menggemaskan.

"Apa kabar kalian pagi ini" kata Shino sambil mengusap dua tikus dengan jari telunjuknya.

Setelah puas bermain dengan tikus-tikus tersebut, Shino mengalihkan padangannya pada 3 buah sandwich yang tadinya ia bawa untuk dibuang. Tangan Shino gemetar, bahkan ia dapat merasakan seluruh tubuhnya terasa dingin saat ia memegang sandwich tersebut.

Tangan gemetarnya kemudian memasukkan sandwich tersebut ke dalam kandang tikus. Dua tikus kelaparan itu langsung menghampiri sandwich tersebut lalu memakannya dengan lahap.

Mata Shino tak lepas dari kedua tikus tersebut. Bukannya ia sengaja tapi rasa penasarannya seolah tak mengizinkan Shino untuk melirik ke arah lain. Termasuk mengangkat iPhone-nya yang sedari tadi berdering.

Sekali lagi. Shino mengusap sebulir keringat yang mengalir dari pelipisnya. Ia pun tak jarang harus menghembuskan nafas berat untuk mengurangi kegelisahan dan ketakutannya.

5 menit berlalu.

Tikus-tikus yang telah kenyang kembali ke kegiatan mereka semula. Berlari kesana kemari, melompat dan tak jarang menggigiti jemari Shino yang masih betah mengelus-elus bulu putih mereka.

Lalu, sepersekian detik kemudian. Kedua tikus tersebut mulai menunjukkan keanehan. Mereka seolah tak mampu berlari, jangankan berlari berjalan pun terlihat begitu sulit untuk mereka lakukan.

"A-apa?" Shino terkejut. Ia menarik jemarinya dari tubuh halus tikus putih peliharaan seseorang.

"Racun pelumpuh? Tanpa rasa tanpa bau? Dan efek serangan jantung?" Tak hanya terkejut. Kali ini Shino berdiri dari kursinya, melangkah dua langkah ke belakang saat melihat kedua tikus tersebut telah tergeletak tak berdaya.

Kesimpulannya. Sandwich tersebut beracun.

Sasori berniat meracuni Hinata?

Sebaris kalimat tanya itulah yang berputar-putar di kepala Shino.

"Ta-tapi kenapa? Ku pikir Hinata tidak ada hubungannya" Shino membalik tubuhnya, ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya yang ia letakkan di salah satu meja di belakangnya.

"Apa yang telah terjadi?" lagi. Shino bertanya pada dirinya sendiri.

"Apa kau bertanya apa yang telah terjadi?" Shino mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang mengagetkannya. Suara tersebut familiar dan terdengar dari sisi kanannya.

Shino tidak menjawab. Ia hanya berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa begitu kering.

"Harusnya aku yang bertanya. Kamu apakaan tikus peliharaaankuu Shinoooo...!" jerit Naruto frustasi saat mendapati tikus di dalam box yang bertuliskan terbujur kaku.

'Aku bahkan tidak bisa mengenali suara Naruto' batin Shino yang telah mendapatkan kesadarannya setelah ia kehilangannya untuk beberapa detik.

"Kamu apaakaan Kyuubi dan Shukaku, SHINOOO...!" Naruto mengangkat dua tikus peliharannya kemudian meletakkannya hampir di depan wajah Shino. Kyuubi dan Shukaku adalah nama tikus peliharaan Naruto.

"A-aku tidak sengaja memberinya makanan kadaluarsa" kata Shino berbohong.

"Terus? Nilai ekstrakurikulerku bagaimana? Pasti Orochimaru-Sensei mengira aku tidak becus memelihara tikus" Naruto benar-benar jengkel terhadap Shino. Pasalnya, Kyuubi dan Shukaku adalah hewan yang harus Naruto asuh untuk kegiatan ekstrakurikulernya di Klub Biologi yang saat ini diketuai oleh Shino.

"Gampang. Nanti aku yang berbicara pada Sensei" kata Shino menenangkan Naruto.

"Janji? Awas saja kalau nilai ekskulku mengecewakan"

"Iya, iya. Aku mengerti, cerewet" Shino menjauhkan tikus-tikus Naruto dari hadapan wajahnya.

"Baiklah, kalau begitu aku mau mengunjungi Kiba dulu" kata Naruto melangkah meninggalkan Shino di ruang Klub Biologi.

"Kiba?"

"Iya, dia sedang kesulitan sekarang. Dulu sudah ku bilang masuk Klub Biologi saja karena ada kamu, atau masuk Klub Keputrian karena ada Sakura" Kiba masuk klub Keputrian? Oh Naruto,

"Memangnya Kiba masuk klub apa untuk ekskulnya?" tanya Shino penasaran.

"Apa kau tidak tahu? Sekarang dia mati-matian membuat ukiran di Klub Seni bersama Sai dan Sasori. Sudah, aku pergi dulu"

Klub Seni?

Bersama Sai dan...Sasori?

.

.

.

Deadline nilai ekstrakurikuler tidak lama lagi harus dikumpulkan. Tidak heran jika saat Ini Kiba harus mati-matian membuat sebuah ukiran sesuai dengan model yang ia setor kepada Sasori.

Pemuda pecinta anjing itu terlihat begitu intens menggerakkan peralatan demi peralatan yang tergeletak tak beraturan di sekitarnya.

"Astaga, ku pikir membuat ukiran-ukiran Yunani orang telanjang sangat mudah" cerocos Kiba yang benar-benar mengalami kesulitan.

Untung saja saat ini ruangan sedang kosong jadi ia bisa lebih fokus untuk mengerjakan ukirannya. Kiba hanya di temani oleh berbagai properti-properti seni, seperti gantungan baju yang penuh dengan berbagai jenis kostum untuk drama dan teatrikal, alat musik tradisional, lukisan-lukisan maestro buatan Sai dan tak lupa beberapa patung-patung wanita yang senantiasa menjadi objek ukur oleh mereka yang menyukai seni design.

"Sasori sedang ulangan harian Matematika, Sai kembali ke apartemen. Apa katanya? Ia lupa membawa ponselnya? Dan aku harus sendiri di tempat ini? Sendiri?" Kiba melempar sembarang peralatan yang baru saja ia gunakan.

"Dasar tukang mengeluh. Sudah sana kerjakan saja" kata Naruto yang baru masuk.

"Hal seperti ini susah, tahu. Memangnya kamu yang tahunya cuma memelihara tikus" Kiba menyindir.

"Tikusnya mati. Entah Shino apakan tapi katanya dia akan bertanggung jawab dengan nilaiku. Haha, tidak ku sangka kau benar-benar menyetor model ukiran Yunani ini" Naruto menertawan temannya yang sebenarnya saat itu ia tidak serius untuk mengusulkan ukiran Yunani pada Kiba.

"Ini salahmu. Dasar otak mesum. Kau yang mengusulkan agar mengumpulkan model ukiran ini" Kiba meletakkan kepalanya di meja, meratapi ukirannya yang tak kunjung selesai.

"Wah, ruang klub tempatmu keren sekali. Beda denganku yang hanya diisi oleh hewan. Lama-lama aku juga bisa jadi hewan"

Naruto yang dasarnya tidak bisa diam berjalan mengelilingi ruang klub seni yang jauh dari kata kecil. Ia menyentuh ini itu, mencoba ini itu, bahkan saat ini ia tengah mencoba pakaian penyihir yang sama sekali tidak cocok untuknya.

"Jangan sentuh sembarangan. Nanti ketahuan Sasori dan Sai, kau bisa dibunuh. Mengerti!" Kiba memperingatkan Naruto tapi ujung-ujungnya ia juga bergabung dengan Naruto untuk mengamati ini itu.

Sejak awal, Kiba tidak menaruh perhatian sepenuhnya pada klub ini. Klub seni hanya pelariannya untuk mendapatkan nilai ekstrakurikuler. Sebenarnya, ia ingin masuk klub yang lebih 'keren' seperti klub pengguna pedang yang diketuai oleh Gaara. meskipun saat latihan mereka hanya menggunakan kayu tapi Kiba benar-benar takut Gaara tidak memberinya ampun saat latihan.

Baru kali ini Kiba memutuskan untuk memperhatikan seluruh barang-barang yang ada di ruang klub.

"Wah, ini lukisan Sai yang kemarin memenangkan juara nasional" kata Kiba memperhatikan lukisan Sai yang beberapa orang tidak percaya bahwa lukisan tersebut dibuat oleh siswa sekolah menengah.

"Kalau ini action-figure Sasori yang sampai tembus pasar internasional" kali ini giliran Naruto yang mengomentari.

"Oh iya, bagaimana project Sasori saat ini?" tanya Naruto pada Kiba yang iseng mengenakan pakaian tentara Inggris.

"Project apa?" Kiba bertanya balik tidak mengerti.

"Itu project boneka lilinnya. Katanya ia akan mengikuti festival boneka lilin dekat-dekat ini, ia mendaftar sebagai peserta lomba" Naruto menjelaskan.

"Oh itu. Huum, katanya masih on progress" sebenarnya informasi ini Kiba dapatkan dengan mencuri dengar pembicaraan Sasori dengan peserta klub yang lain. Pada dasarnya, Kiba tidak terlalu peduli.

"Kau kan bagian dari klub ini. Apa kau pernah melihatnya? Pasti fantastis sekali, aku sangat penasaran ingin melihatnya. Apa ia akan membuat perempuan dengan body yang sexy?" Naruto mulai berangan-angan tidak jelas.

"Dia tidak mengerjakannya di klub. Katanya supaya jadi sureprize saat di perlombaan. Dia mengerjakannya di studio atau apalah. Semacam tempat rahasia" kata Kiba sambil mengangkat beberapa kain besar.

"Loh, ada rambut pirang?" Naruto berseru saat mendapati rambut pirang di bawah beberapa tumpukan kain yang tak sengaja Kiba angkat.

"Jangan diganggu. Ini bagian project Sasori. Ah, anak itu sangat terobsesi. Katanya, ia sampai harus mengelilingi salon untuk mencari rambut palsu terbaik untuk menjadi rambut boneka lilinnya" Kiba kembali menutup rambut pirang yang ia temukan dengan kain.

"Ckck, dia benar-benar berusaha. Yasudahlah. Cepat kerjakan ukiranmu"

"Iya, iya"

.

.

.

Sai turun dari taksi. Gerbang sekolah sudah tutup dan tidak ada celah baginya untuk keluar menggunakan mobilnya melewati gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat. Pemuda berambut hitam itu menghaturkan sedikit rasa terima kasih pada Naruto yang super nakal. Berkat Narutolah, ia menemukan 'jalan tikus' yang bisa digunakan untuk meninggalkan KHS tanpa melewati gerbang sekolah.

"Sai? Bolos sekolah?" tanya seorang gadis yang akan berangkat ke kampusnya saat berpapasan dengan Sai yang terlihat terburu-buru.

"Ah, ada sesuatu yang ketinggalan" seperti biasa, Sai membalas dengan senyum meskipun ia terburu-buru dikejar rasa penasarannya.

Ada beberapa hal yang mencurigakan menurut Sai.

Setahunya, Ino ke Gereja bersama Hinata. Sai mengetahuinya dari penjelasan Ino.

Lalu, Sasuke pulang bersama Hinata. Sai Memaklumi hal ini, ia tahu maksud sebenarnya dari Ino yang ingin agar Hinata pulang bersama Sasuke. yah, usaha seorang teman untuk temannya dalam hal percintaan. Untuk hal ini, Sai tidak ingin memberitahu Sasuke bahwa mobil Hinata tidak mogok atau apalah.

Kemudian. Ino menunggu di mobil Hinata dan sangat ketakutan saat Sai menjemputnya.

Malam itu, setahu Sai ada beberapa penghuni lantai 13 yang tidak berada di apartemen. Termasuk, Sasori, Shion dan Gaara.

Gaara meninggalkan apartemen pagi-pagi buta. Apa yang ia lakukan?

"Sial! Apa yang dilakukan anak itu" Sai mengecek iPhone-nya, mencari lokasi keberadaan Gaara.

Gampang saja mencari Gaara, meskipun tampangnya dingin dan aurnya menyeramkan, ia termasuk remaja yang tak pernah berpisah dengan iPhone-nya.

"Ayo, cepat!" Sai berbicara seolah iPhone-nya adalah benda yang bisa membalas perkataannya.

"Apa? Di bagian belakang apartemen?"

Setelah mendapat respon keberadaan Gaara, Sai langsung mempercepat langkahnya menuju bagian belakang apartemen. Sai berlari tidak memperdulikan tali sepatunya yang terbuka, ia bisa saja terjatuh setiap saat ia menginjak tali sepatunya. Seragamnya tak lagi rapi, kemeja putihnya dikeluarkan dan meliuk-liuk tertiup angin.

Gaara. Manusia dingin yang seolah serba tahu segalanya. Pemuda yang menyimpan banyak misteri yang tak ingin ia bagi.

Gaara juga, yang bisa jadi mengetahui apa yang terjadi pada Ino.

"Dia memang aneh tapi dia tahu banyak hal. Sial!" Sai terus memacu langkahnya.

Tepat di bagian belakang apartemen, seorang pemuda berambut merah berdiri tak bergeming. Ia Seolah begitu menikmati hembusan angin yang menerbangkan setiap surai merah bata miliknya.

Sebelum memutuskan menghampiri Gaara, Sai berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya. Sesekali ia harus meringis saat merasakan dadanya semakin sesak. Lalu dengan langkah pelan sambil memengagi perutnya, Sai menghampiri Gaara yang membelakanginya.

"Ah, kau tidak ke sekolah. Hari ini kelasmu ulangan harian Matematika" Sai memecah kebisingan dengan suaranya yang terputus-putus.

"Aku tidak tahu harus melakukan apa" Gaara tidak menanggapi pembicaraan Sai yang mengingatkannya tentang ulangan harian Matematika. Sebenarnya, Gaara tidak perlu diingatkan, ia tahu persis segala jadwal akademiknya.

"Maksudmu, hah..hah" Sai melangkah mendekati Gaara yang tak berniat mengalihkan pandangannya.

"Shion dimana?" tanya Gaara.

"Dimana? Ia tidak ada di kelasnya" jawab Sai menegakkan tubuhnya, ia melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing atas kemeja sekolahnya.

"Coba hubungi"

Gaara bukanlah siapa-siapa selain teman sekolah dan tetangga di lantai 13 tapi entah mengapa Sai tidak bisa menolak perintah Gaara. Ia lagi-lagi mengeluarkan iPhonenya untuk menghubungi nomor Shion.

5 kali tak ada jawaban.

"Tidak diangkat. Ada apa?" Sai benar-benar tidak mengerti.

"Coba lacak iPhonenya" lanjut Gaara memberi perintah. Sai menurut saja.

"Ada di kamarnya" jawab Sai cepat setelah mendapatkan deteksi lokasi iPhone Shion.

"Di kamarnya?" entahlah, kata-kata Gaara kali ini tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban pasti.

Gaara akhirnya membalikkan tubuhnya menghadap Sai yang bercucuran keringat. Setelah puas memandangi Sai, matanya kemudian menyusuri lantai demi lantai apartemen Akatsuki dan berhenti tepat pada lantai 13.

Beberapa detik Gaara menahan pandangannya pada lantai 13. Sai mengikuti arah pandangan Gaara.

"Itu, apa itu kamar Shion?" tanya Gaara sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sebuah balkon kamar.

"Iya, itu kamar Shion" Sai tahu persis letak kamar Shion dan arah jari telunjuk Gaara tepat mengarah ke kamar Shion.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Gaara menurunkan pandangannya.

"Apa? Dari tadi kau terus-terusan memberikan pertanyaan yang tidak jelas. Apa? Lakukan apa?" Sai mulai kehilangan kesabarannya.

Gaara kembali membelakangi Sai, mengambil sebatang ranting pohon. Ranting itu kemudian ia gunakan untuk menyingkirkan beberapa plastik di tumpukan sampah yang ada di hadapannya.

"Maksudku, apa yang harus kita lakukan dengan ini?" Gaara menggeser posisinya, memberikan celah pada Sai untuk melihat apa yang sebenarnya ingin ia tunjukkan.

Sebuah tangan pucat nan kaku yang muncul dari balik tumpukan sampah.

"HAH?"

Kaki Sai tak lagi mampu menahan berat badannya, ia berlutut di tanah memandang sebuah tangan yang menyembul dari balik tumpukan sampah. Ia tak perlu bertanya lebih lanjut, dapat ia simpulkan sendiri bahwa mayat yang ada di bawah tumpukan sampah tersebut adalah-

"SHHIIIOOOONNNNN...Aaaarrrrgggghhhhhh!" Sai meremas rambutnya, frustasi. Wajahnya memerah, ia bahkan tak menyadari bahwa beberapa bulir air matanya telah membasahi kulit wajah pucatnya.

Sai tidak pernah mengalami kekacauan emosi semacam ini sebelumnya.

"Apa? Apa yang harus kita lakukan?" Sai menundukkan pandangannya.

"Wajahnya pucat, di lehernya terdapat luka sayatan benda tipis yang begitu tajam, rambutnya tak tersisa sehelai pun, matanya mengisyaratkan bahwa ia begitu ketakutan lalu tubuhnya-"

"Be-berhenti, Gaara. Kau tahu sesuatu kan? Kau mengetahui semua kegilaan ini kan? Jangan diam saja, bodoh. Kita harus melakukan sesuatu!" Gaara harus sedikit berjinjit saat Sai mencengkeram dan mengangkat kerah seragamnya.

"Pertama. Kau harus menghubungi polisi" Gaara melepaskan cengkeraman tangan Sai pada lehernya yang mulai melonggar.

"Lalu, jangan katakan apapun. Kita tunggu yang lain selesai dengan pekerjaannya masing-masing" Gaara merapikan kemejanya yang kusut.

"Yang lain? Pekerjaan masing-masing?" Sai mengerjap-ngerjapkan matanya, mengusir penglihatan buramnya yang terhalang linangan air matanya. Linangan air mata kesedihan, ketakutan dan kegelisahan.

"Dan kita akan melakukannya dengan cara yang tak pernah ia duga" Gaara mengakhiri kalimatnya kemudian berlalu meninggalkan Sai yang benar-benar kehilangan akal.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Yosh, segini dulu gengs.

Wah, apa-apa kayaknya udah pada keliatan nih (?)

Yang nungguin next chap mana repiu-nyaahhh

Nb : soorrrii lamaaaaaaaaa XD

Bdw, Kika got new account

Pin : 5E0B13f7

Idline :

Ramein ya gengs.