Disclaimer © Masashi Kishimoto
This fic is mine
Rated © M
Warning © Ide pasaran, overdosis OOC, alur gak jelas, typo berkeliaran.
Summary © Sebuah kisah di lantai 13 Apartemen Akatsuki.
.
Bloody 13
Chapter 5
.
.
.
Note :
Kelas XI.1 (U. Sasuke, Sai, U. Naruto, Karin)
Kelas XI.5 (H. Hinata, H. Sakura, Matsuri, S. Gaara, A. Sasori, N. Shikamaru, I. Kiba, A. Shino, Shion)
.
.
.
"Pertama. Kau harus menghubungi polisi" Gaara melepaskan cengkeraman tangan Sai pada lehernya yang mulai melonggar.
"Lalu, jangan katakan apapun. Kita tunggu yang lain selesai dengan pekerjaannya masing-masing" Gaara merapikan kemejanya yang kusut.
"Yang lain? Pekerjaan masing-masing?" Sai mengerjap-ngerjapkan matanya, mengusir penglihatan buramnya yang terhalang linangan air matanya. Linangan air mata kesedihan, ketakutan dan kegelisahan.
"Dan kita akan melakukannya dengan cara yang tak pernah ia duga" Gaara mengakhiri kalimatnya kemudian berlalu meninggalkan Sai yang benar-benar kehilangan akal.
.
.
.
Suasana kelas XI.5 tak beda jauh dengan Tempat Pemakaman Umum Konoha. Tak ada yang berani bersuara saat ulangan harian Matematika tengah berlangsung. Hanya suara goresan pensil dan kerta, dan suara deru nafas berat sebagai pelepas beban menghadapi soal ujian yang benar-benar anarkis tak memberi belas kasih.
"Inuzuka Kiba?" tanya Anko-sensei tak melihat keberadaan siswa yang bertato dari lahir, sepertinya guru yang satu ini memang pecinta hitung-hitungan. Tidak Matematika, tidak Fisika, semua terlihat mudah baginya.
"Tidak ada, Sensei" jawab Shikamaru malas.
"Kemana?"
'Oh iya, Shikamaru. Nanti aku tidak masuk ulangan harian Matematika, Gaara juga tidak masuk. Kebetulan Gaara anaknya pintar, Gaara pasti bisa membujuk Anko-sensei untuk memberi ulangan susulan. Aku ikut bersama Gaara, nilai ekstrakurikulerku benar-benar mendesak. Tolong ya...' Shikamaru mengenang perkataan Kiba pagi tadi.
"Katanya menjemput Ayahnya di Bandara" jawab Shikamaru berbohong pada Anko-sensei.
"Yang benar saja? Tadi aku papasan dengan Kiba" bisik Sakura yang sebangku dengan Shikamaru.
"Ah, Entahlah aku tidak mau pusing jadi aku menurut saja" ucap Shikamaru bersiap tidur di meja.
"Hei, kerjakan dulu soal ujiannya baru tidur" desak Sakura tidak ingin Shikamaru berakhir tragis seperti saat pemilihan Ketua Osis dulu. Semua berantakan gara-gara nafsu tidur Shikamaru yang tak bisa dikendalikan.
"Sudah selesai"
"Eh?"
Shikamaru adalah teman sebangku Shino, sedangkan Kiba adalah teman sebangku Gaara. Jadi mengapa Sakura harus sebangku dengan Shikamaru?
Sekitar 30 menit yang lalu.
"Jadi, soal ulangan harian kali ini terbagi atas dua jenis soal. Soal A dan soal B" jelas Anko-Sensei dengan nada suaranya yang menyeramkan.
"Yaaahhhhh..." ucap hampir seluruh murid tak terima. Jelas saja, jenis soal yang dibagi menjadi dua adalah kode keras bahwa tak akan ada adegan contek mencontek hari ini.
"Dan juga, hari ini perempuan akan sebangku dengan laki-laki.." tambah Anko-sensei sambil memperhatikan seluruh kelas XI.5
"Yyaaaaahhhhhhhhhh...!" suara protes tak suka pun semakin menggema di ruang kelas XI.5 menanggapi permintaan Anko-sensei yang semakin menyulitkan.
"Dasar perempuan. Untung saja tidak minta dibuatkan candi" gumam Shikamaru.
"Haruno Sakura!" kata Anko-sensei memanggil nama salah satu murid yang memiliki warna rambut mencolok.
"Ha-hai'" Sakura berpose siap, menatap Anko-sensei dengan mantap sambil menegakkan punggungnya.
"Sepertinya Aburame Shino tidak masuk hari ini, jadi Sakura isi bangku disamping Shikamaru" perintah Anko-sensei.
"Yes. Lumayan bisa bertanya ini itu" ucap Sakura riang sambil mengangkat tas dan peralatan menulisnya.
"Shikamaru. Nanti ingatkan rumusnya dan cara mudah mengerjakannya ya, hihi" kata Sakura cekikikan duduk di bangku Shino, samping Shikamaru.
"Ah, berisik"
"Hyuuga Hinata" panggil Anko-sensei.
"Iya" jawab Hinata memegang tasnya, bersiap untuk pindah tempat.
"Yaampun, Gaara mana? Yasudah, Hinata sebangku dengan Chouji" Hinata segera menuruti perintah Anko-sensei untuk bergabung dengan Chouji.
Anko-sensei lincah memindahkan siswa-siswanya dan tibalah pada saat yang benar-benar tidak menguntungkan.
"Ino..." panggil Anko-sensei sambil melihat beberapa bangku yang masih kosong.
"Sebangku dengan Sasori ya" ucap Anko-sensei dengan santai.
"Eh?" Tentu saja Ino shock berat, sejenak ia mengarahkan pandangannya ke belakang memandang Sasori. Tanpa disangka, Sasori melempar senyum kecil kepada Ino.
"Ino?" Anko-sensei meminta agar Ino cepat-cepat menuju ke bangku Sasori.
"Hei, kau tampak tidak sehat" sapa Sasori memperhatikan Ino yang gugup untuk duduk disampingnya. Ino bahkan masih berdiri di depan bangku, terlihat ragu –bukan- tidak ingin duduk di bangku yang ditunjukkan untuknya.
"Ayo duduk. Anko-sensei bisa marah" kata Sasori menarik tas Ino yang membuat Ino tersentak dan seketika duduk di bangku samping Sasori.
Hinata yang kebetulan duduk di beberapa bangku di depan Ino menyempatkan diri memutar pandangannya untuk melihat keadaan Ino. Hinata tersenyum kecil kemudian mengucapkan kata 'gambare' tanpa suara pada Ino. Tanpa ia ketahui sepasang mata tajam sedang memandangnya dengan tatapan mata yang tak bisa diartikan.
Kita mungkin bisa mengikut pada Shikamaru, genius at birth but lazy choice. Baru beberapa menit berlalu pemuda cerdas sekaligus pemalas itu sudah menyelesaikan hampir ulangannya.
"Ya ampun, Shikamaru. Ini rumusnya bagaimana? Hei, bangun dulu..." Sakura berusaha membangunkan Shikamaru saat ia mendapati soal yang lumayan menyulitkannya.
Sementara itu, di jejeran bangku yang tak jauh di belakang, Ino tak yakin mampu menyelesaikan 5 nomor soal Matematika. Bagaimana tidak? Bernafas saja sulit ia lakukan, ia benar-benar ingin lari dari kelas ini.
Cleenngg...
Ino bahkan menjatuhkan pensilnya sendiri. Kedua tangannya benar-benar basah oleh keringat. Gadis berambut panjang itu merutuki dirinya sendiri yang tak becus memegang pensilnya, pasalnya kali ini Sasori berhenti dari aktifitas menghitungnya dan beralih menatap Ino.
"Kau kena-" baru saja Sasori ingin menyentuh dahi Ino tapi Ino buru-buru menepis tangan Sasori.
"Aku baik-baik saja. Iyah, aku baik-baik saja" Ucap Ino mengerjap-ngerjapkan matanya dan tanpa sadar Ino sedikit menggeser duduknya berniat menjauhi Sasori.
"Kau ini ada-ada saja, tidak biasanya" Sasori menghembuskan nafas berat lalu mencondongkan tubuhnya ke bawah meja untuk mengambil pensil Ino yang tergeletak di lantai kelas. Sekilas, Sasori sedikit mengerutkan alisnya dan memiringkan kepalanya. Pemuda penghuni kamar 20 itu mulai merasa ada yang aneh.
"Tadi malam kau kemana?" tanya Sasori sambil menyerahkan pensil Ino kepada pemiliknya.
"Eh?"
Bagai di sambar petir saat pendengaran Ino mendengar pertanyaan simpel yang baru saja keluar dari bibir Sasori. Kepala Ino seolah kosong dan berputar-putar, memori mengerikan yang terekam oleh matanya kembali menghantui dan mengambil alih seluruh isi pikiran Ino.
'Apa Ino memang sedang sakit? Atau anak itu yang telah memberitahukan Ino' batin Sasori memandang punggung seseorang di bagian jejeran bangku depan.
"Jadi, Ino. Kau kemana tadi malam?" Sasori mengulang pertanyaannya.
"A-aku..." Ino berusaha mememanggil seluruh suaranya yang entah menghilang dimana.
"Kemana? Kau tidak di apartemen kan?" Sasori meletakkan pensilnya, mata coklatnya kini intens menatap Ino yang semakin pucat mencari jawaban yang tepat untuk Sasori.
"Ta-di malam..."
"Sasori... Ino... selesaikan urusan ngobrol kalian di luar kelas. Sekarang kerjakan soal ulangan harian Matematika ini" kata Anko-sensei yang tiba-tiba muncul di samping bangku Ino dan Sasori.
"Hai'" jawab Ino dan Sasori bersamaan.
Ino merasa terselamatkan dengan keberadaan Anko-sensei yang berada di sekitarnya tapi hal tersebut tak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian, Anko-sensei meninggalkan bangku Ino dan Sasori berjalan menyusuri kelas untuk mengawasi ulangan harian Matematika yang sedang ia adakan.
Sasori membalik kertas ulangan Matematikanya. Kecerdasan Sasori memang diatas rata-rata, tak heran jika ia sudah mengerjakan lebih dari setengah soal Matematika yang diujikan. Ia sudah tak berminat lagi mengerjakan soal berikutnya. Kini pikirannya hanya bergulat pada seseorang.
Seseorang di depan sana.
"Chouji..." panggil Hinata sambil memegangi lehernya. Tiba-tiba Hinata merasa tidak enak.
"Ada apa?" Chouji bertanya balik sambil membaringkan kepalanya di meja. Soal Matematika terlalu membuat efek teler berlebihan bagi Chouji.
"Kau punya permen?" tanya Hinata sambil berusaha melirik ke belakang dengan ekor matanya.
'Apa ini? Kenapa aku merasa diawasi? Tapi siapa? Mungkin Anko-sensei' batin Hinata berusaha menepis segala pemikiran buruk yang menghampirinya.
"Ada. Kau mau rasa apel atau jeruk" kata Chouji memperlihatkan beberapa bungkus permen di dalam kotak pensilnya.
"Sankyuu.." ucap Hinata sambil tersenyum kecil mengambil sebungkus permen rasa apel.
"Apa Hinata juga merasa tidak enak badan karena soal matematika ini?" tanya Chouji tak berminat melanjutkan kegiatannya mengerjakan soal Matematikanya.
"Sepertinya begitu"
Hinata membuka bungkus permen rasa apel yang dengan suka rela diberikan Chouji padanya. Sambil mengunyah permen tersebut, Hinata lagi-lagi berusaha melirik ke belakang untuk melihat sesuatu. Entah apa.
'Sial. Aku harus memastikannya sendiri' batin Hinata sambil melirik ke belakang dan-
Kedua manik coklat Sasori tepat menembus permata bulan milik Hinata. Kedua pasang mata itu saling menangkap pandang satu sama lain. Hinata mengedipkan matanya beberapa kali dan tetap saja mata Sasori masih tertuju padanya.
Jika pandangan awal Hinata menangkap wajah datar andalan milik Sasori, kali ini Sasori menarik ujung bibirnya untuk menciptakan sedikit senyum. Senyuman yang sedikit membuat Hinata agak salting. Teman sekelas dan tetangga di apartemen lantai 13, untuk alasan itulah Hinata membalas senyuman Sasori dengan senyuman manisnya seperti biasa..
'Eh? Apa dia menyukaiku? Bagaimana ini? Aku pilih Sasuke atau Sasori? Ah, keduanya sama-sama tampan tapi ah aku ini mikir apa sih tapi sedari tadi dia melihatku dan kemudian tersenyum. Itu, itu kan?' batin Hinata mulai berpikir kejauhan.
Tepat setelah Hinata membalas senyum Sasori dan membalikkan badannya. Senyum ramah yang baru saja tercipta di wajah ramah Sasori berubah menjadi seringai yang begitu kejam. Sayangnya, Hinata telah berpikiran terbalik dengan apa yang baru saja dipikirkan oleh seseorang yang telah tersenyum padanya.
.
.
.
Seluruh siswa kelas XI.5 merasa mendapatkan nikmatnya bernafas kembali setelah kepergian Anko-sensei.
"Yosh, Ayo Hinata" ajak Sakura pada Hinata.
Pelajaran mereka berikutnya adalah pelajaran olahraga. Seluruh siswa terlihat begitu bersemangat, terutama siswa laki-laki. Setelah pusing dengan Matematika kemudian refreshing dengan olahraga sepertinya obat yang cukup mujarab untuk menghilangkan keletihan pikiran.
"Ano... kalian duluan saja. Aku sedang melanjutkan catatan Sejarahku. Kalau tidak, nanti Sarutobi-sensei marah besar" kata Hinata menulis dengan kecepatan tinggi.
"Hei..heii... dapat catatan dari mana?" goda Matsuri sambil mencolek-colek buku biru tempat catatan mata pelajaran Sejarah terlengkap seantero KHS –menurut Hinata-
"Aahh, i-ini buku Sasuke" ucap Hinata malu-malu.
"Huuuu... Dasar. Yasudah, Matsuri. Kita duluan saja. Biarkan dia bercinta dengan buku Sasuke" Sakura melenggang pergi sambil menyeret Matsuri, mereka akan menuju kamar mandi untuk mengganti seragam mereka dengan pakaian olahraga.
Hinata tak sendirian di kelas saat ini. Ada Ino yang entah kapan ia akan sehat kembali, ada Shikamaru yang semakin menyamankan tidurnya dan di belakang sana...
"Duluan saja, aku sedang chatting dengan penyedia properti boneka lilinku" kata Sasori saat Lee mengajaknya ke lapangan.
Tak ada suara diantara mereka berempat. Sasori yang entah sedang melakukan apa dengan ponselnya, Ino yang memang dari semalam tak berbicara, Hinata yang sedang membalap catatan Sejarahnya dan Shikamaru yang tak masuk hitungan –karena sedang tertidur-
"Ino, sebaiknya kau pulang saja" Hinata memutuskan menghilangkan keheningan kelas mereka semenjak seluruh penghuni kelas XI.5 menuju lapangan olahraga.
"Sai tidak di sekolah. Tadi katanya dia kembali ke apartemen. Dia melupakan sesuatu" kata Ino dengan suara pelan.
"Ah, hari ini aneh sekali. Shino tidak masuk, Kiba entah dimana, Gaara juga tidak di sekolah padahal pagi-pagi sekali ia sudah siap" cerocos Hinata.
"Umm.." gumam Ino pelan menanggapi Hinata.
"Lalu, Sai juga kembali ke apartemen dan Shion juga tidak masuk, huh" Hinata mengakhiri tulisannya. Ia menyimpan bukunya dan buku Sasuke di laci mejanya.
"Shikamaru, tidak ikut olahraga?" tanya Hinata sambil menarik seragam olahraganya. Hinata tahu betul, Shikamaru tidak mungkin lupa jadwal mata pelajaran tapi entah mengapa Hinata merasa berkewajiban untuk mengingatkan teman sekelasnya yang malas itu.
"Aku absen. Sedang tidak enak badan karena ngantuk" jawab Shikamaru dengan suara pelan.
"Yasudah"
Hinata melangkah meninggalkan kelas membawa seragam olahraga di tangan kanannya. Tepat saat Hinata menghilang di balik pintu kelas, Sasori memutuskan untuk mengambil seragam olahraganya dan keluar kelas. Mengikuti Hinata dengan sesuatu di saku celananya.
"Shi-Shikamaru...!" panggil Ino dengan suara bergetar.
"Hmm...kau sebaiknya istirahat saja"
"Bukan itu. I-itu...Sa-sori..." mendengar Ino menyebut kata Sasori, Shikamaru langsung bangkit dari tidurnya.
"Kenapa? Dia kenapa, Ino?" Shikamaru tiba-tiba kehilangan rasa ngantuk yang membuatnya tak enak badan untuk mengikuti pelajaran olahraga.
"Sepertinya dia mengikuti Hinata..." kata Ino menggenggam kedua tangannya.
'Sial. Apa Ino juga sudah tahu? Apa yang sebenarnya terjadi. Padahal Gaara belum memberi aba-aba' batin Shikamaru sambil memandang ke arah pintu kelas.
"Tidak apa-apa. Mereka mungkin sedang mengakrabkan diri seba-" kata-kata Shikamaru terpotong saat ia merasakan iPhone-nya bergetar di balik saku celana sekolahnya.
Shikamaru sedikit memaksa menelan ludahnya saat melihat pesan yang baru saja ia terima menampilkan nama Gaara. Sekilas, Shikamaru memandang Ino sebelum ia kembali memandang iPhoenya. Jempol Shikamaru menggeser lockscreen iPhone-nya dan mendapati pesan dari Gaara yang isinya-
'Ha? Sial..!' batin Shikamaru sambil membelalakkan mata.
"Ino, kemana Hinata pergi?" tanya Shikamaru dengan nada suara tinggi, pemuda berambut nanas itu segera meninggalkan bangku yang terkadang ia jadikan kasur.
"Mu-mungkin ke toilet untuk ganti ba-.."
Tanpa menghiraukan Ino yang kebingungan, Shikamaru segera berlari menuju toilet. Ia tak memperdulikan siswa lain yang ia tabrak, tak jarang ia menabrak siswa yang sedang membawa tumpukan buku. Shikamaru hanya mengucapkan kata maaf singkat lalu kembali berlari.
'Toilet...toilet.. toilet mana?' Batin Shikamaru.
Ada begitu banyak toilet di sekolah ini, Shikamaru bahkan tidak bisa memprediksi toilet mana yang akan Hinata gunakan untuk mengganti seragam.
Braaakkkkk...!
Shikamaru langsung membuka pintu toilet,
"AAAA... ADA LAKI-LAKIII..." jerit beberapa siswi. Shikamaru segera mengalihkan pandangannya.
"HINATAAA...! APA KAU ADA DI DALAM?" teriak Shikamaru mengeluarkan seluruh suaranya.
"TIDAK ADA. TIDAK ADA YANG NAMANYA HINATA. PERGI SANA, HENTAI..!"
Shikamaru yang terkenal sebagai pemuda baik-baik pun kini telah resmi menyandang gelar 'hentai' hanya karena mencari Hinata. Apa isi pesan yang dikirim Gaara kepada Shikamaru? Kenapa pemuda tenang dan pemalas itu berubah menjadi orang yang ketakutan seperti ini?
Sementara Shikamaru berlari naik turun tangga memeriksa beberapa toilet, seorang gadis berambut panjang sedang berjalan memasuki salah satu pintu toilet.
"Meski agak jauh tapi disini lumayan sepi. Huh, aku agak malu kalau harus ganti baju beramai-ramai" gumam Hinata membuka pintu toilet.
Sebelum Hinata memutuskan untuk melangkahkan kaki memasuki toilet, ia kembali merasakan perasaan aneh yang ia rasakan saat di kelas tadi. Hinata sedikit memutar kepalanya untuk melihat situasi di belakangnya.
Menyadari buruannya merasakan kehadirannya, sosok yang memang sedari tadi mengikuti Hinata melangkah mundur bersembunyi di balik tembok sambil memainkan ponselnya. Orang itu menciptakan sikap santai dan sok sibuk kepada siswa-siswa lain yang lewat.
'Ah, sudahlah' batin Hinata mengabaikan perasaan anehnya, ia dengan mantap memutar knop pintu dan menghilang di balik pintu toilet.
Seseorang yang berkamuflase kemudian keluar dari persembunyiannya. Tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celananya untuk memastikan bahwa ia tak melupakan benda kesayangannya.
Keadaan benar-benar sangat sepi. Setelah kepergian dua siswa kelas XI.3 yang kebetulan lewat di area toilet, sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Benar-benar keadaan yang sangat mendukung untuk melakukan kejahatan.
Angin berhembus pelan menggugurkan dedaunan pepohonan, angin yang seolah menggiring tangan seseorang untuk memutar knop pintu toilet yang baru saja dimasuki oleh Hinata.
Cleekkk...
"Hey..."
"Ha?"
"Apa yang sedang kau lakukan disini...Sasori?" tanya Shino yang tiba-tiba muncul di belakang Sasori saat tangannya memutar knop pintu.
"Aku sedang ingin mengganti seragam" jawab Sasori melepaskan tangannya dari knop pintu toilet dan berbalik saling berhadapan dengan Shino.
"Mengganti seragam? Bukankah kau belum buta untuk melihat bahwa kau baru saja akan membuka pintu toilet perempuan?" tanya Shino memperbaiki letak kacamatanya. Berbeda dengan Sasori yang masih lengkap dengan dasi, kini Shino sudah siap untuk olahraga basket hari ini.
"Hah, dan kau sendiri? kenapa kau bisa sampai disini?" tanya Sasori sedikit tertawa.
"Aku baru kembali dari ruang klub Biologi" jawab Shino intens memandang Sasori dari balik kacamata hitamnya.
"Ruang Klub Biologi? Setahuku, kau terlalu jauh memutar jika dari klub Biologi dan kau harus lewat sini" kata Sasori penuh penekanan pada setiap kata-katanya, pemuda itu juga semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Shino dengan tujuan untuk memberi tekanan mental pada tetangganya itu.
"Bukankah kau tahu bahwa aku memang suka jalan yang memutar?" tanya balik Shino tak ingin kalah.
"Apa yang sedang kalian rencanakan? Percuma saja. Aku akan tetap menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalanku, tidak peduli jika mereka orang-orang lantai 13" Sasori mengakhiri kalimatnya kemudian pergi meninggalkan Shino.
Sekitar 5 menit berlalu. Hinata keluar dari salah satu bilik toilet, ia telah siap mengikuti pelajaran olahraga hari ini. Rok, kemeja dan dasinya telah rapi di kresek plastik yang telah ia siapkan sebelumnya dan ia pun menguncir tinggi-tinggi rambut panjangnya.
Hinata berjalan menuju pintu keluar toilet, memutar knop pintu dan membukanya lalu-
"Hah, hah..." seseorang terlihat kehabisan nafas sambil membungkuk tepat di depan Hinata.
"Eh?" Hinata kaget tiba-tiba mendapati Shikamaru berada di sekitar sini.
"Shikamaru? Apa pemanasan sudah mulai? Tapi kau belum gan-"
"Apa kau baik-baik saja? Hah, ah, huuhh..." kata Shikamaru setengah mati memperbaiki sistem pernafasannya. Ia bahkan menyipitkan matanya untuk menahan rasa sakit di perutnya setelah berlarian kesana kemari.
"Aku tidak mengerti. Aku baik-baik saja. Aneh" kata Hinata melangkah meninggalkan Shikamaru.
"Baguslah. Apa kau menemui seseorang di sekitar sini?" tanya Shikamaru pada Hinata yang telah membelakanginya.
"Seseorang siapa maksudmu?" tanya Hinata sambil memutar tubuhnya melihat Shikamaru yang melonggarkan dasinya.
"Matsuri misalnya, atau Chouji?"
"Tidak. Tidak ada siapa-siapa"
'Apa mungkin Sasuke atau Shino sudah disini sebelum aku datang?'
.
.
.
Prrriiiiitttttttt...!
Suara sempritan Guy-sensei memenuhi lapangan outdoor KHS. Siswa laki-laki bermain basket sedangkan siswa perempuan masih lari keliling lapangan untuk pemanasan.
"Heh, kelasnya Hinata sedang pelajaran olahraga ya" gumam Sasuke yang baru kembali dari kantin membeli sekaleng cola.
"Hah, sini..." tiba-tiba cola Sasuke direbut oleh tangan yang muncul dari belakang Sasuke.
"Shikamaru?" tanya Sasuke heran melihat Shikamaru basah oleh keringat untuk pertama kalinya.
Iruka-sensei sedang ada urusan keluar kota, pelajaran Geografi di kelas XI.1 sedang kosong. Tak heran jika Sasuke sedang duduk ngadem di bawah pohon di tepi lapangan KHS tempat Hinata dan kelas XI.5 melakukan pemanasan. Di samping Sasuke ada Shikamaru yang telah menghabiskan cola Sasuke, wajah Shikamaru tak pernah seserius ini sebelumnya.
"Jadi, ada apa?" tanya Sasuke memulai pembicaraan.
'Apa mungkin Sasuke tidak tahu? Atau Gaara tidak memberitahunya karena ia tahu Sasuke akan langsung bertindak gegabah?' batin Shikamaru dalam hati.
"Aku juga tidak terlalu mengerti. Gaara dan Sai sedang tidak di sekolah. Aku yakin mereka pasti melakukan sesuatu atau setidaknya pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Aku yakin itu" kata Shikamaru mengusap pelipisnya yang masih basah oleh keringat.
"Aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Gaara. Ku pikir setelah kematian Karin dia akan berbicara sesuatu pada kita" kata Sasuke memperhatikan Hinata yang ketinggalan jauh saat pemanasan lari keliling lapangan.
"Katanya kita tidak perlu ikut campur, biar polisi yang menanganinya. Tapi Sasuke, aku sedikit curiga..." Shikamaru menggantung kata-katanya.
"Curiga? Curiga bagaimana?" tanya Sasuke penasaran.
"Hari ini, Gaara dan Sai tidak di sekolah. Lalu, Shion juga tidak masuk sekolah. Apa jangan-jangan..." lagi-lagi Shikamaru menggantung kata-katanya sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain.
"Ah, tidak mungkin. Shion adalah teman baiknya dan ku dengar mereka pernah pacaran semasa SMP jadi tidak mungkin kalau-" Sasuke berusaha menyimpulkan sendiri.
"Lalu untuk apa Gaara mengirimiku pesan untuk mulai menjaga Hinata" kata Shikamaru sambil memperlihatkan isi pesan Gaara pada Sasuke.
"Berarti..." gumam Sasuke berusaha mengingat pembicaraan mereka beberapa waktu yang lalu.
"Kau ingat kan? Gaara pernah bilang, kita tidak perlu khawatir terhadap gadis-gadis di sekitar kita selama Shion masih ada. Jika Shion sudah tidak ada, kita mulai harus berjaga-jaga dan bertindak" ucap Shikamaru yang masih mengenang jelas pembicaraan mereka di Ichiraku cafe.
"Lalu, misalnya Shion memang telah-"
"Selanjutnya monster itu akan mengincar Hinata" sambung Shikamaru tak membiarkan Sasuke melanjutkan perkataannya.
"Tapi, Hinata tidak ada hubungannya dan dia cuma siswa baru dan-"
"Dengar Sasuke, Karin berambut merah, dan misalnya Shion memang sudah menjadi korban, rambut Shion adalah pirang...lalu, warna apa lagi yang ia butuhkan?" tanya Shikamaru berusaha membangkitkan pemikiran Sasuke.
"Itu-"
"Apa warna pink?" tanya Shikamaru sambil memandang Sakura.
"Bukan. Itu terlalu pendek" jawab Sasuke mulai menerawang.
"Apa warna coklat?" tanya Shikamaru memandang Matsuri.
"Itu juga pendek jadi tidak mungkin"
"Pilihannya cuma dua, rambut pirang Ino dan rambut indigo Hinata. Kalau memang dia mengakhiri Shion, berarti dia sudah punya warna pirang, lalu sisanya?" Shikamaru tak lepas memandang Sasuke yang sedari tadi menundukkan pandangannya.
"HINAATAAAAAAAA...!" jerit beberapa siswa saat siswa yang bernama Hinata jatuh di lantai panas lapangan.
.
.
.
Ruang UKS KHS saat ini sedang berisi gadis berambut indigo yang terbaring tak sadarkan diri di salah satu kasur pasien. Beberapa menit yang lalu Hinata jatuh pingsan saat kepalanya mendapat hantaman keras dari bola basket yang mungkin dengan sengaja diarahkan padanya.
Sasuke yang kebetulan berada di sudut lapangan langsung berlarian dan menggendong Hinata menuju UKS. Kini, Sasuke duduk di kursi samping kasur tempat Hinata terbaring dengan dahi yang memar.
"Tsk. Tidak diangkat" entah sudah keberapa kalinya Sasuke menelpon tiga orang saat ia berada di UKS menunggu Hinata sadar. Ia menelpon Shion, Gaara dan Sai secara bergantian dari tadi.
Perkataan Shikamaru benar-benar membuat Sasuke resah, jika memang semuanya benar bahwa Shion memang sudah meninggal berarti benar bahwa Hinata adalah yang berikutnya tapi sampai sekarang Sasuke belum percaya bahwa Shion sudah meninggal. Tidak ada bukti dan kabar apapun mengenai hal tersebut.
Namun, beberapa hal lain membuat Sasuke curiga bukan main. Mengapa Gaara tidak masuk sekolah hari ini? Bukankah kata salah satu penghuni lantai 13 Gaara sudah siap pagi-pagi sekali untuk ke sekolah. Lalu, Sai? Kenapa anak itu? Dia bukan tipe orang pelupa. Kalaupun dia memang melupakan sesuatu pasti ia akan tetap kembali ke sekolah.
"Ah, sial!" kata Sasuke frustasi sambil mengacak rambutnya.
'Aku juga tidak mungkin memberitahu Hinata secara langsung, ini akan mengganggu semua rencana awal. Lalu, jika aku tidak memberitahunya dia benar-benar terancam. Kabar Shion juga belum jelas, Gaara dan Sai, Arrrggggghhh-'
"Ngghhh..." Hinata mulai mengeluarkan suara saat ia menggerakkan kepalanya.
"Hei, sudah bangun?" tanya Sasuke tersenyum ramah pada Hinata.
"Tadi kau terkena lemparan bola basket. Mungkin Lee yang terlalu bersemangat" lanjut Sasuke sambil mengelus pelan kepala Hinata.
'Bukan. Bukan Lee, saat itu Lee sedang menjaga bawah ring dan yang berperan sebagai power forward yang melempar bola saat itu adalah...' batin Hinata mencoba mengingat kejadian beberapa menit yang lalu tapi sepertinya benturan keras di kepalanya membuatnya lupa beberapa hal.
"Kau haus? Ingin minum sesuatu?" tanya Sasuke pada Hinata yang masih terlihat kebingungan.
"Umm... aku haus" kata Hinata pelan.
Sesaat, Sasuke memandang sekeliling. Tidak ada siapa-siapa, susternya pun entah kemana.
"Yasudah, kau tunggu disini. Aku ke kantin dulu" Sasuke menepuk pelan kepala Hinata sebelum meninggalkan UKS.
Sasuke berjalan cepat meninggalkan UKS, sementara itu seorang pemuda berambut merah sepertinya sedang menuju ke tempat Sasuke barusan, UKS, tempat Hinata yang baru sadar setelah pingsan.
Sasuke dan Sasori, mereka akan berpapasan dan dunia yakin bahwa Sasuke pasti akan menyadari bahwa ia berpapasan dengan Sasori dan Hinata terancam jika saja-
"Hei, Kak Sasuke. Gadis yang bersama kak Sasuke di foto ini siapa?" seorang siswa kelas XI tiba-tiba saja menarik tangan Sasuke yang membuat Sasuke membelakangi seseorang yang baru saja melewatinya.
"Oh, itu anak kelas XI.5, tetanggaku di apartemen. Sudah ya, aku buru-buru" jawab Sasuke kemudian berlalu menuju kantin untuk membeli minuman, tanpa Sasuke tahu bahwa yang akan meminum minuman yang ia beli bisa saja sudah... tidak ada.
.
.
.
Sepasang kaki itu berjalan pelan tanpa suara menuju salah satu ruang UKS tempat seorang gadis berambut panjang sedang berbaring lemah, tak berdaya dan...seorang diri.
Tangannya yang biasa berlumuran darah menarik pelan tirai penghalang untuk memperjelas pandangannya.
"Yo..!" sapa Sasori dengan nada suara pelan sambil tersenyum.
"Sasori?" tanya Hinata heran melihat keberadaan Sasori.
'Hei, dia mulai perhatian begini? Apa dia memang benar-benar menyukaiku?' batin Hinata berpikir ke lain arah.
"Apa ada yang luka serius? Mungkin kau inign kuantarkan ke rumah sakit?" tanya Sasori semakin mendekat ke arah kasur Hinata sambil memasukkan tangannya ke kantong celananya, memegang sesuatu disana.
'Apa ini? Ia tampak tidak tahu apa-apa tapi...' batin Sasori tak melihat tanda-tanda keanehan pada Hinata. Menurut penglihatan matanya, Hinata bertingkah biasa saja.
"Umm...tidak apa-apa. Hanya memar, besok juga sudah sembuh" jawab Hinata menggeleng kecil.
"Aku minta maaf. Tadi aku benar-benar tidak sengaja" kata Sasori menarik sesuatu keluar dari kantong celananya.
"Iya, sudah. Tidak apa-apa" kali ini Hinata menggeleng disertai senyum untuk meyakinkan Sasori bahwa ia sudah memaafkannya.
"Ini..." Sasori mengeluarkan sesuatu.
"Eh?" Hinata sedikit terkejut.
"Ini permen rasa apel. Setidaknya ini bentuk permintaan maafku" ucap Sasori menyerahkan 3 bungkus permen rasa apel.
"Sankyuu naa" kata Hinata meraih permen tersebut.
"Oh iya, aku benar-benar merasa bersalah. Seharusnya aku lebih berhati-hati agar tidak melukai seorang perempuan. Aku akan merasa bersalah seumur hidup jika kau tidak mau pulang bersamaku sepulang sekolah nanti" kata Sasori memberi tawaran pada Hinata.
"Pulang bersama?" Hinata mengulang pernyataan Sasori.
"Mungkin sekedar nongkrong di cafe menghabiskan segelas kopi? Aku benar-benar menyesal. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak beberapa waktu lalu untuk tidak menyakiti perempuan lagi dan nyatanya...aku melemparkan bola basket hingga kau pingsan" ujar Sasori panjang lebar.
'Menyakiti perempuan? Apa dia punya mantan pacar yang sangat ia cintai?' batin Hinata bertanya-tanya.
"Baiklah, aku juga sudah lama tidak jalan-jalan"
Pembicaraan singkat itu diakhiri dengan keluarnya Sasori dari ruang UKS, ia menggunakan seragam olahraganya untuk menutup kepalanya karena ia yakin Sasuke akan mengenalinya jika Sasuke muncul dari belakang saat kembali.
Benar saja. Sebelum masuk ruang UKS, Sasuke melihat seseorang sedang berjalan membelakanginya, kepalanya tertutup seragam olahraga, Sasuke tidak terlalu mengenalinya.
'Mungkin anak kelas lain yang akan olahraga' batin Sasuke acuh.
"Maaf lama" kata Sasuke memasuki ruang UKS.
Hinata sedikit tertawa saat melihat sosok Sasuke yang ada di hadapannya saat ini. Bayangannya, Sasuke akan datang membawa sebotol minuman dingin tapi nyatanya Sasuke datang dengan nampan di kedua tangannya, pemuda maskulin itu terlihat begitu kaku dan sangat berhati-hati saat berjalan, takut jika kuah bakso yang ada di tangannya tumpah.
"Hihi..." Hinata berusaha menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara tawanya yang meledak.
"Ada apa? Kau harus makan..." kata Sasuke meletakkan nampan di kasur dengan hati-hati.
"Sasuke. Seorang Uchiha Sasuke membawa nampan berisi bakso?" Hinata bangkit dari tidurnya, bahunya berguncang menahan tawanya.
"Ah, memangnya kenapa. Kau harus menghabiskannya, aku jauh-jauh dari kantin membawa ini" kata Sasuke mulai meniup sesendok kuah bakso.
"Apa kau tidak malu? Maksudku, apa orang lain tidak berkomentar jelek tentangmu?" tanya Hinata memiringkan kepalanya.
"Humm..? Berkomentar jelek?" Sasuke berusaha mengingat suara-suara yang mengomentarinya saat ia melewati begitu banyak belahan dunia di KHS sambil membawa nampan.
'Heh? Itu Kak Sasuke kan? Bawa nampan? Aawwww, manisnyyyaaaa'
'Aawww, kalau dia kerja di maid cafe aku pasti selalu datang ke sana...'
'Yaampun, aku mau jadi baksonya'
'Ihhh, menggemaskan sekali...'
'Wajah stoic bawa nampan bak pelayan? Aahhh, aku mau yang seperti itu...'
"Umm, tidak. Sepertinya ketampananku semakin bertambah saat membawa nampan ini" kata Sasuke mengakiri kalimatnya sambil menyuapkan sesendok kuah pada Hinata.
"Aku bisa sendiri" Hinata ingin meraih sendok di tangan Sasuke tapi Sasuke lincah menggerakkan tangannya agar Hinata tak meraihnya.
"Aku beri pilihan. Mau kuah ini dari sendok dan tanganku atau dari...mulutku?" tanya Sasuke menggoda Hinata (Awawaawww, pengen dari mulut deh .)
"Huh, dari sendok"
Suasana begitu tenang, hanya ada Sasuke yang kadang terlihat kaku menyuapi Hinata dan ada Hinata yang makan dengan lahap. Sebentar lagi jam menunjukkan pukul 12 siang, waktu yang tepat saat Sasuke datang membawakannya bakso untuk hidangan makan siang.
"Oh iya, Hinata. Mulai hari ini kau jangan jauh-jauh dariku ya" kata Sasuke serius.
"Oh ya? Memangnya kenapa? Apa aku akan diculik?" tanya balik Hinata sambil bercanda tapi entah mengapa raut wajah Sasuke semakin terlihat serius. Ia sama sekali tak menganggap kalimat Hinata barusan adalah candaan.
Sejenak, Sasuke menarik nafas berat.
"Karena kau kecil. Nanti kau hilang jika tidak ku awasi. Mengerti?" kata Sasuke sedikit tersenyum, bagaimana pun ia tidak ingin membuat Hinata ketakutan.
"Kenapa kau harus mengawasiku?" tanya Hinata tidak mengerti.
"Mau tau?" tanya Sasuke balik.
"Minum dulu" Sasuke menyodorkan sebotol minuman, Hinata meminumnya dengan wajah kebingungan.
Tepat setelah Hinata meneguk tegukan terakhir, Sasuke segera meraih botol minuman tersebut dan-
"Eh?"
Sebuah ciuman mendarat di bibir Hinata.
Sasuke menciumnya.
3 detik berjalan dan ciuman itu belum berakhir.
Jangankan berakhir, Sasuke bahkan mendekatkan dirinya untuk merasakan sensasi lebih. Tangan kirinya yang tadi memegang minuman kini beralih ke punggung Hinata untuk mendorong gadis itu lebih dekat dengannya, sedangkan tangan kanannya menyelusup di balik tengkuk Hinata dan jempolnya menyusuri garis rahang Hinata.
Sasuke memiringkan wajahnya untuk mendapatkan akses yang lebih leluasa untuk melumat bibir lembut yang sudah beberapa malam terakhir mengisi pikirannya. Tak puas dengan hanya melumat, kini Sasuke menjilati bibir bawah Hinata untuk meminta izin masuk lebih jauh ke dalam mulut Hinata.
"Hah..." Hinata baru kali ini merasakan sensasi 'aneh' tersebut, ia sontak mendorong Sasuke.
"Kenapa?" tanya Sasuke memandang Hinata yang menundukkan pandangannya. Tak ada jawaban, Hinata menggeleng pelan sambil mengusap bibirnya.
"Tidak suka?" tanya Sasuke menarik wajah Hinata untuk menatapnya.
"Bu-bukan begitu" Hinata merespon cepat.
"Heh, jadi kau suka ya"
"Itu..."
"Kalau suka akan ku beri lebih"
Ddrrrtt... ddrrrttttt...
Jarak bibir Sasuke dan bibir Hinata hanya tinggal beberapa senti tapi Sasuke mengurungkan niatnya saat merasakan iPhone-nya bergetar. Sasuke segera menjauhkan diri dari Hinata, sudah dari tadi ia menunggu iPhone-nya berbunyi.
"Tunggu.." kata Sasuke mengambil jarak dari Hinata untuk membuka email yang baru saja ia terima.
'Dari Sai' batin Sasuke melihat nama pengirim.
Sekali geser, email tersebut terbuka dan sepersekian detik kemudian Sasuke langsung memasukkan iPhonenya ke kantong celananya.
"Umm... Hinata..." Sasuke memanggil Hinata dengan pandangan matanya yang tidak tenang.
"Ya?" Hinata terlihat bingung.
"Ku pikir aku harus pulang duluan" kata Sasuke dengan hati perih melihat foto wajah Shion tanpa rambut, sayatan di bagian leher, mulut yang terbuka dan mata yang melotot. Dari foto yang dikirim Sai, sepertinya apartemen mereka mulai ramai oleh polisi.
"Kenapa?" Hinata masih belum terlalu mengerti.
"Nanti pulang sekolah kau langsung pulang ke apartemen. Aku harus bergegas. Ingat ya langsung pulang. Love you..." kata Sasuke sedikit malu saat mengucapkan dua kata terakhir dalam kalimatnya.
Tak hanya Sasuke, sepertinya Shino dan Shikamaru pun mendapat email yang sama. Mereka berdua terlihat berlari menuju 'jalan tikus' untuk kembali ke apartemen.
"Tapi aku sudah janji dengan Sasori" gumam Hinata melihat punggung Sasuke yang menghilang di balik pintu UKS
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Gimana? Udah agak cepet kan updtenya. Setidaknya lebih cepat dari pada nungguin gebetan peka.
Segini dulu ya gengs. Kayaknya masih ada 2 chapter deh.
Moga gak bosenin dan temen-temen tetep nunggu kelanjutannya yah.
See you next chap
Bdw, Kika got new account
Pin : 5E0B13f7
Idline :
