Disclaimer © Masashi Kishimoto
This fic is mine
Rated © M
Warning © Ide pasaran, overdosis OOC, alur gak jelas, typo berkeliaran.
Summary © Sebuah kisah di lantai 13 Apartemen Akatsuki.
Note © Kelas XI.1 (U. Sasuke, Sai, U. Naruto, Karin)
Kelas XI.5 (H. Hinata, H. Sakura, Matsuri, S. Gaara, A. Sasori, N. Shikamaru, I. Kiba, A. Shino, Shion)
.
Bloody 13
Chapter 6
.
.
.
"Tapi aku sudah janji dengan Sasori" gumam Hinata melihat punggung Sasuke yang menghilang di balik pintu UKS
.
.
.
Berbeda dengan beberapa hari yang lalu, pusat keramaian dan jeritan histeris berpusat di lift lantai 13 apartemen Akatsuki. Kali ini, keramaian, jeritan, tangisan dan deraian air mata berpusat di bagian belakang Apartemen Akatsuki. Tempat mayat Shion ditemukan dengan kondisi mengenaskan.
Garis polisi dengan warna kuningnya yang khas seakan menjadi momok yang begitu mengagetkan bagi penghuni apartemen Akatsuki. Garis polisi yang menghiasi apartemen Akatsuki bukan hanya terjadi sekali. Bahkan sebelum kasus kematian Karin, garis polisi sering ditemukan di sekitar apartemen Akatsuki dan kali ini garis polisi tersebut dipasang mengelilingi semua area penemuan mayat Shion.
"Sejak kapan?" tanya Sasuke pada Gaara yang berdiri di bawah pohon tak jauh dari kerumunan polisi dan warga sekitar.
"Ku perkirakan tadi malam" jawab Gaara mengangkat kepalanya memandang sinar matahari yang memaksa melewati sela sela dedauanan pepohonan.
"Lalu mayatnya mana?" tanya Shikamaru yang ikut bergabung, pemuda berambut nanas itu bertanya pada salah seorang temannya yang terlihat tak lagi mampu menahan tubuhnya sendiri. Sai kini terduduk memandang lurus dengan tatapan kosong.
"Sudah dibawa" sambung Gaara yang tak melihat tanda-tanda Sai akan menjawab pertanyaan Shikamaru dengan keadaannya yang masih sangat shock.
"Apa ini penyebab kau tidak masuk sekolah?" Shino pun datang memberikan pertanyaan sambil berjalan menghampiri kerumunan teman-temannya. Shino sesekali melirik ke belakang untuk melihat aktivitas kepolisian yang sedang melakukan olah TKP.
"Hmm.." anggukan singkat Gaara menjadi jawaban memuaskan untuk pertanyaan Shino.
"Gaara, ada satu hal yang membuat kami penasaran" Sahut Sasuke memandang Gaara yang tak berniat mengganti posisinya yang masih bersandar di batang pohon.
"Apa?"
"Bagaimana kau bisa tahu semuanya?" tanya Sasuke intens memandang Gaara yang memejamkan matanya sambil menghirup dalam-dalam udara siang yang sangat memuakkan baginya.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Gaara melemparkan pertanyaan tanpa membuka matanya.
"Entahlah tapi kau yang paling tahu segalanya. Kau bahkan memberikan ide padaku untuk melakukan apa yang sekarang aku lakukan" sambung Shikamaru.
"Bagaimana aku menjawabnya..." Gaara menggantung kalimatnya. Memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menjelaskan maksudnya kepada teman-temannya.
"Tapi berada di apartemen nomor 19 memberikan keuntungan tersendiri buatku" sambung Gaara memandang satu per satu temannya.
"Keuntungan?" Shino memicingkan matanya di balik kaca mata hitamnya.
"Ngomong-ngomong, apartemen Gaara di apartemen 19 dan apartemen Sasori..." gumam Shikamaru pelan sambil berusaha menghubungkan sesuatu.
"Di apartemen 20" Sasuke melanjutkan kalimat Shikamaru.
"Kesimpulannya, apartemen 19 dan apartemen 20 berdekatan. Apa kau melakukan sesuatu?" tanya Shino yang merasa mulai menemukan satu petunjuk pasti.
"Ku rasa seperti itu" Gaara menjawab singkat.
"Lagipula, hanya ada dua apartemen yang tidak pernah kita masuki di lantai 13" Sai yang sedari tadi menyimak kini mengeluarkan pendapatnya.
"Apartemen Gaara dan Sasori" Sasuke menebak setelah ia menelusuri seluruh ingatannya yang memang tak pernah menginjakkan kaki di apartemen Gaara dan Sasori.
"Entah mengapa aku merasa dua apartemen ini berbeda dengan apartemen yang lain" kata Shikamaru memijat lehernya yang tegang setelah kurang tidur berhari-hari.
"Apa kita harus masuk ke apartemen Sasori?" tanya Shino sekaligus memberikan ide.
"Jangan" sergah Gaara.
"Kenapa?" tanya yang lain hampir bersamaan.
"Setelah salah satu dari kita masuk ke apartemen itu bisa dipastikan tak sampai 24 jam Sasori akan melenyapkannya" Gaara memberikan alasannya dan entah mengapa alasan yang diberikan Gaara semakin membuat keadaan menjadi rumit dan sulit dimengerti.
"Kenapa? Kita ini sudah berteman lama. Apa Sasori tidak mengizinkan kita jika memintanya secara baik-baik?" Sasuke sudah tidak sabar.
"Tentu saja tidak. Kalau pun kita membobol pintu apartemennya, itu sama saja kita cari masalah" lanjut Gaara.
"Memangnya apartemen Sasori itu seperti apa? Bandar narkoba? Markas senjata api?" tanya Shino mulai kesal.
"Entahlah tapi di apartemen itulah segala sesuatunya bermula dan di apartemen itu pula misteri ini akan berakhir"
'Astaga, aku semakin tidak mengerti jalan pikiran anak ini' batin Shikamaru.
"Bisa kau perjelas cara bicaramu?" Sai yang masih duduk mengangkat pandangannya untuk menatap pemuda berambut merah yang dari tadi bicara tidak jelas.
"Di apartemen itu, segala luka ditutupi oleh keindahan"
'Apa dia akan masuk jurusan sastra saat kuliah nanti?' batin Sasuke.
"Baiklah. Dari penjelasanmu, kita akan mengerti semua yang terjadi saat kita melihat isi apartemen Sasori. Lalu, bagaimana kita bisa tahu jika kita tidak bisa masuk ke dalamnya? Ini sama saja dengan hobi berenang tapi tidak tahu berenang" kata Shikamaru bingung harus bertindak bagaimana.
"Kita bisa tahu apa isi apartemen Sasori" kata Gaara duduk disamping Sai.
"Caranya?" Sasuke, Shikamaru, dan Shino ikut berjongkok memandang Gaara.
"Gampang saja. Kita harus masuk ke dalamnya" jawaban Gaara sontak membuat teman-temannya yang lain mengerutkan alis.
"Tadi katamu-"
"Tentu saja yang masuk bukan salah satu dari kita" lanjut Gaara tak memberi kesempatan pada Sasuke untuk menyela.
"Siapa?" Gaara sedikit memberi jeda sebelum ia menjawab pertanyaan Shino.
"Hinata" jawab Gaara mantap.
"Ha?"
"Bukankah Shikamaru sudah kuperingatkan untuk mengawasi Hinata?" Gaara meminta konfirmasi pada Shikamaru.
"Iya, sudah kulakukan" jawab Shikamaru sambil mengangguk
"Jadi, gadis itu tidak boleh mati sebelum ia masuk ke apartemen Sasori" lanjut Gaara menjelaskan rencananya.
"Tadi katamu kita akan mati setelah masuk apartemen Sasori. Jadi, setelah Hinata masuk ia akan mati? Apa kau begitu kejam untuk menggunakan orang lain? Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua" tentu saja, komentar protes tak terima ini berasal dari Sasuke.
"Dia tidak akan mati. Ini menjadi tugas kita untuk melindunginya setelah ia masuk ke apartemen Sasori" Gaara tahu betul maksud Sasuke terlepas dari perasaannya terhadap Hinata.
"Singkatnya, ini semacam taruhan" sepertinya Shikamaru mendukung Gaara.
"Tapi taruhannya nyawa. Kita harus memikirkannya baik-baik sebelum melakukanya" Sai agak sedikit takut dengan resiko besar yang menanti mereka.
"Benar sekali. Bukan nyawa Hinata saja yang akan lenyap setelah itu. Jika Hinata menceritakan apa yang ia lihat di apartemen Sasori, itu sama saja kita semua juga tahu apa yang terjadi. Lalu,..." Shino sudah tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Kalau Hinata tidak boleh mati sebelum ia masuk ke apartemen Sasori. Lalu, dimana ia sekarang?"
.
.
.
Kring...kring...kring...
Suara terindah bagi seluruh siswa di muka bumi telah berdering. Termasuk siswa KHS yang kini tengah berhamburan meninggalkan ruang kelas yang tak beda jauh dengan neraka dunia setelah bel tanda pulang sekolah memanjakan pendengaran mereka.
"Buku yang kita cari sudah ada di toko buku langganan kita"
"Ada kue baru di bakery shop depan lampu merah simpang lima"
"Ah, tugasnya deadline besok"
"Tidur siang mungkin yang terindah"
Kalimat diatas adalah beberapa kalimat yang terdengar di telinga Hinata saat ia berusaha membereskan buku dan peralatan menulisnya dengan buru-buru.
"Buru-buru sekali" tegur Sakura pada Hinata sambil meminum habis vanilla shakenya.
"Ah, aku ada janji" kata Hinata memasukkan kotak pensilnya ke dalam tas.
"Sama siapa? Bukannya Sasuke pulang duluan?" tanya Sakura bingung.
"Jaa naa...!"
Hinata melangkahkan kakinya keluar dari kelas XI.5 menuju parkiran mobil. Sesekali ia menatap jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia mempercepat langkahnya sambil berusaha menyelip diantara beberapa siswa KHS yang berjalan beriringan bercerita ini itu tak memperdulikan siswa lain yang akan lewat, seolah KHS adalah milik mereka.
Setelah berhasil melewati kerumunan siswa KHS, Hinata mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang telah membuat janji dengannya.
Hinata tersenyum kecil saat seseorang yang tak jauh darinya mengangkat tangannya sambil mengatakan 'hai..'
"Maaf ya. Tadi aku ada urusan jadi keluar kelas duluan" ucap Sasori saat Hinata menghampirinya.
"Umm, tidak apa-apa" kata Hinata sambil merapikan beberapa helai rambut panjangnya yang menutupi wajahnya saat tertiup angin.
"Jadi kita akan kemana?" tanya Sasori. Hinata berpikir sejenak.
"Di Ichiraku kafe saja, bagaimana?" Hinata menyarankan tempat yang ia kunjungi saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di Konoha.
Untuk beberapa hal yang tak bisa Sasori mengerti, Hinata memilih mengendarai mobilnya sendiri saat ia menawarkan pada Hinata untuk berangkat bersama menggunakan mobilnya.
'Apa ia menjaga jarak setelah melihat semuanya? Tapi tidak mungkin ia akan dengan mudah meneriwa tawaranku. Apa dia menantangku? Atau...' batin Sasori melihat Hinata dari balik jendela mobilnya
'Kenapa Sasuke dan yang lainnya pulang duluan? Sasuke juga memintaku untuk langsung ke apartemen saat pulang sekolah. Sebenarnya ada apa?' batin Hinata menancap gas mobilnya menuju Ichiraku kafe.
Sasori membiarkan Hinata yang memilih tempat duduk. Hinata memilih salah satu sudut kafe yang tidak terlalu ramai dan dekat dengan jendela. Ichiraku kafe tak begitu ramai siang ini, hanya ada beberapa pengunjung yang masih seumuran dengan mereka.
Jam pulang sekolah memang tak luput dari perut keroncongan yang selalu memaksa untuk segera dipuaskan. Oleh karena itu, Hinata memesan chicken steak untuk makan siangnya dan black oreo untuk minumannya. Sedangkan, Sasori lebih memilih menikmati sup daging sapi dan segelas jus jeruk dengan warna yang menjamin kesegarannya.
"Silahkan dinikmati.." kata salah satu pelayan Ichiraku kafe saat meletakkan pesanan meja 13, meja tempat Sasori dan Hinata.
Tak butuh waktu lama, Hinata segera menambahkan sambal kepada steaknya sebelum ia memakanya. Sejenak, Hinata menutup mata dan mengatupkan kedua tangannya untuk mengucap syukur kepada Sang Pencipta atas berkat makanan yang diberikan padanya hari ini.
"Itadakimasuu..." kata Hinata mengakhiri doanya dan mulai menyantap hidangannya dengan lahap.
"Makanan favorit?" tanya Sasori pada Hinata saat ia menyuapkan sesendok kuah hangat sup daging sapi yang ada dihadapannya.
"Tidak juga. Kebetulan tampilannya menggugah selera" jawab Hinata singkat dan melanjutkan makannya.
"Kalau boleh tahu, kenapa mengajakku makan seperti ini?" tanya Hinata yang tak lagi mampu menahan rasa penasarannya.
"Bukannya sudah ku bilang saat di UKS tadi. Ini sebagai rasa permintaan maafku tidak sengaja melemparkan bola basket" jawab Sasori melirik singkat pada Hinata yang sibuk mengaduk minuman black oreonya.
"Entah ini perasaanku saja atau apa tapi aku rasa kau memiliki tujuan lain mengapa kau mengajakku kesini" lanjut Hinata to the point.
"Apa perempuan memang selalu sehebat ini?" tanya Sasori menghentikan aktifitas makannya dan lebih memilih bersandar di sandaran kursi sambil menatap Hinata lekat-lekat.
"Apa aku benar?" Hinata bertanya balik dengan tetap mengunyah nikmatnya potongan potongan daging ayamm di dalam mulutnya.
"Baiklah. Ini mungkin pertanyaan aneh buatmu tapi tetap saja aku ingin mempertanyakanya. Apa hubunganmu dengan Sasuke?" tanya Sasori memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sekolahnya.
"Ummm...Bagaimana yaa..." gumam Hinata memikirkan apa yang akan ia katakan.
'Tadi dia menciumku lalu mengatakan I Love You. Apa itu artinya...'
"Kami hanya teman. Kenapa?" Hinata merasa masih terlalu dini menyatakan dirinya sebagai kekasih Sasuke hanya karena ciuman singkat dan pertanyaan I Love You. Baginya, hal seperti itu bisa dikatakan oleh siapa saja dalam keadaan bercanda.
Apa Sasuke bercanda? Entahlah.
"Ku dengar, Sasuke dekat dengan banyak gadis tapi belum pernah ada yang berhasil sampai menginjakkan kaki di dalam mobil Ferarrinya Sasuke" jawab Sasori dengan maksud tersembunyi yang entah apa.
"Benarkah? Tadi malam aku diantar pulang Sasuke menggunakan mobil Ferrarinya sepulang dari Gereja" kata Hinata riang.
"Kau pulang Gereja jam berapa? Kau mengendarai mobilmu sendiri saat ke Gereja kan?" tanya Sasori dengan nada suara yang sedikit menyelidik.
"Pertanyaanmu aneh. Aku tidak mengerti" kata Hinata memasang wajah tidak mengerti saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Sasori.
'Apa? Jadi bukan dia? Apa dia belum tahu kematian Shion? Apa Sasuke belum memberitahunya? Atau sengaja tidak memberitahunya? Gaara tidak masuk sekolah, Sasuke dan yang lainnya pulang duluan. Jam segini seharusnya mayat Shion sudah ditemukan jadi-'
"Hey...Kenapa melamun?" tanya Hinata sambil membunyikan mangkok sup Sasori menggunakan sendoknya.
"Hinata...!" panggil Sasori dengan nada suara yang tegas.
"I-iya?
"Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu" kata Sasori sambil mengangkat gelas jus jeruknya lalu meminumnya.
"Apa itu?" tanya Hinata penasaran.
"Kau akan jadi orang pertama yang melihatnya karena itu kau harus janji tidak memberi tahu siapapun" lanjut Sasori.
"Kenapa harus aku?" tanya Hinata mulai dihampiri rasa curiga.
"Ku rasa kau orang yang tepat"
"Tepat dalam hal apa?" tanya Hinata semakin penasaran.
"Ini tentang festival boneka lilin yang akan diadakan tak lama lagi"
.
.
.
Masih di bagian belakang apartemen Akatsuki.
5 orang penghuni lantai 13 apartemen Akatsuki masih duduk di bawah pohon yang lumayan menghalangi mereka dari terik sinar matahari saat menyaksikan lingkaran garis polisi yang masih ramai oleh mereka yang penasaran ingin melihat kejadian tragis yang akhir-akhir ini terjadi di sekitar apartemen Akatsuki.
Tak ada sepatah kata pun. Sasuke yang terlalu menikmati hisapan demi hisapan rokok disela jari telunjuk dan jari tengahnya. Shikamaru yang mengambil posisi cuek berbaring di tanah sambil memejamkan matanya berharap ia akan hanyut ke alam tidur. Shino yang masih memperhatikan garis polisi dan tumpukan sampah tempat mayat Shion ditemukan.
'Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Seharusnya kita bergerak sekarang. Tapi Gaara masih menunggu momen. Momen apa?' batin Shino tak habis pikir.
Sai masih menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya yang bertumpu pada kedua lututnya. Sedangkan, Gaara sedari tadi tak berhenti bermain dengan iPhone hitamnya. Apa yang ia lakukan? Bermain game? Menonton blue film? Tidak ada yang tahu.
"Sudah lewat jam pulang sekolah. Seharusnya Hinata sudah meninggalkan sekolah" kata Gaara tiba-tiba memecah kebisingan yang mereka ciptakan sendiri.
"Tadi sudah kuperingatkan untuk langsung pulang setelah pelajaran berakhir" sahut Sasuke sambil mengeluarkan asap rokok dari hidungnya.
"Apa kau yakin dia akan mendengarkanmu?" tanya Gaara yang entah mengapa membuat perasaan kesal menguak di dada Sasuke.
"Kau ini kenapa? Apa maksudmu sebenarnya?" Sasuke bertanya balik menggunakan nada suara menjengkelkan miliknya.
"Harusnya aku yang bertanya kau ini yang kenapa. Akan bahaya jika Sasori mendahului kita membawa Hinata ke apartemennya atau ke suatu tempat. Kau tahu kan? Hinata adalah kunci rencana kita, kalau dia-"
"Cukup! Aku tidak ingin kau melanjutkannya" kata Sai memotong kalimat Gaara.
"Hinata itu manusia. Dia perempuan. Kenapa kau memperlakukannya seolah-olah dia hanya alat kita?!" lanjut Sai memandang jengkel terhadap Gaara.
"Justru karena dia manusia dan karena dia perempuan aku mengkhawatirkannya. Dia memiliki seluruh kriteria akhir yang dibutuhkan oleh Sasori. Kau lupa dengan perempuan yang berambut panjang? Apa Hinata berambut cepak? Hah?" Gaara pun tak kalah naik pitam dari Sai.
"Nomornya tidak aktif" sahut Shino memandang layar iPhonenya.
"Coba cari lokasinya" perintah Sasuke sambil menghampiri Shino.
"Tidak ditemukan"
.
.
.
Waktu yang sama di sebuah ruangan yang tak nampak seperti sebuah apartemen. Namun, lebih mirip-
"Apa ini ruang pameran? Sugggeeeeee naaa...!"
Decak kagum tak henti-hentinya keluar dari bibir mungil Hinata saat Sasori pertama kali menyalakan lampu apartemennya yang terbiasa gelap.
Apartemen Sasori lebih terlihat seperti sebuah ruangan pameran hidup yang penuh dengan ornamen ornamen manusia. Sofa yang seharusnya menjadi kursi untuk tamu dipenuhi oleh peralatan-peralatan seni seperti kertas kanvas dengan ukuran besar, berbagai peralatan memahat, kuas berbagai ukuran dan lantai depan sofa tersebut penuh dengan cat warna warni.
Di bagian dinding kiri apartemen terdapat ruas-ruas dinding yang dilapisi dengan kaca yang diisi dengan-
"Ini model kepala perempuan yang ku kumpulkan" jawab Sasori saat Hinata menanyakannya.
"Wah, benar-benar cantik dan persis seperti perempuan asli. Matanya, hidungnya, bibirnya dan rambutnya" puji Hinata memandang salah satu kepala perempuan dari balik kaca yang menghalanginya.
"Boleh kusentuh?" tanya Hinata tersenyum lebar penuh antusias.
"Tentu saja, tidak" jawab Sasori santai.
"Kau pasti bekerja keras untuk ini" Hinata masih tak bisa melepaskan pandangannya dari salah satu model kepala perempuan yang menurut Hinata sangat cantik dengan rambut hitam panjang dan senyuman kecil yang menghias wajah manisya.
"Sankyuu naa.." ucap Sasori sambil melempar sembarang ransel sekolahnya.
"Kau selalu membuat wajah tersenyum?" tanya Hinata pada Sasori yang telah mengganti seragam sekolahnya dengan kaos berwarna navy yang terlihat pas di badannya.
Dari 5 model kepala wanita yang Sasori buat, semuanya memasang ekspresi yang sama.
Tersenyum.
"Aku merindukan senyuman seseorang. Jadi, ku pikir dengan membuat wajah tersenyum aku bisa selalu melihatnya tersenyum" jawab Sasori sambil membawakan dua gelas minuman untuknya dan Hinata.
'Melihatnya tersenyum? Siapa?' batin Hinata bertanya-tanya penasaran.
"Aww, ini sedikit mengerikan" Hinata bergidik ngeri saat melihat bagian dinding sebelah kanan yang hanya diisi oleh beberapa bagian tubuh yang terbuat dari lilin. Misalnya, kaki dan tangan.
"Haha, kau tidak akan bisa membuat boneka manusia tanpa tangan dan kaki" Sasuke sedikit tertawa saat ia menyodorkan segelas minuman pada Hinata.
"Benar-benar tangan yang feminim" Hinata berusaha mengalahkan rasa takutnya saat ia memutuskan untuk mendekati sebuah lengan perempuan yang lengkap dengan cincin permata dan gelang dengan motif senada.
"Tangan perempuan adalah yang paling kuat di dunia ini. Perempuan melakukan segalanya dengan kedua tangan kecilnya. Katanya, belaiannya bisa menghilangkan luka. Dekapannya lebih hangat dari kain wol manapun. Pelukannya bisa menguatkan bagi siapapun yang telah lelah dipermainkan dunia" kata Sasori sedikit tersenyum sambil memandang sebuah tangan buatannya yang sama-sama terlindungi kaca.
"Kenapa hanya 'katanya'?" tanya Hinata merasa ada yang janggal dari kalimat Sasori. Kalimat yang terucap biasa saja namun terdapat luka yang mendalam jika didengarkan lebih dalam.
"Karena itu aku ingin membuktikanya" Sasori meminum habis air di gelasnya.
"Membuktikan?"
"Aku ingin membuktikan bahwa semua hal yang ada dalam diri perempuan bisa mereka temukan dalam sebuah boneka. Tepatnya pada bonekaku" jujur saja, dari tadi kata-kata Sasori terlalu membingungkan bagi Hinata.
"Tidak mungkin, Sasori. Apa yang hidup dan apa yang mati tidak bisa disamakan"
"Mati?" tanya Sasori sedikit curiga dan khawatir.
"Maksudku, sesuatu yang tidak bisa bergerak" sanggah Hinata cepat.
"Aku sangat ingin memenangkan lomba di festival itu" kata Sasori memindahkan beberapa peralatannya di sofa lalu duduk memandang ke arah jendela.
"Apa hadiahnya sangat besar?" tanya Hinata masih berjalan kesana kemari memandang beberapa action figure yang tertata rapi di lemari etalase yang sangat besar.
"Bukah hanya itu. Aku merasa memang harus memenangkannya dengan bonekaku" kata Sasori memandang sesuatu di sudut ruangan yang masih tertutup dengan kain putih.
"Bonekamu? Oh iya, semua orang di sekolah membicarakan bonekamu. Katanya kau menyembunyikannya di markas rahasia atau di suatu tempat. Entahlah" Hinata jelas antusias setelah ia berada di apartemen yang untuk pertama kalinya dimasuki orang lain selain Sasori, dirinya sendiri.
"Disana" Sasori menunjuk bonekanya dengan menggerakkan dagunya.
"Wah, dari bayangannya terlihat seperti perempuan sempurna" puji Hinata berusaha mengintip dari balik kain yang tertiup angin.
"Belum sempurna" sahut Sasori memandang sebuah kotak yang berisi beberapa cutter.
"Belum sempurna bagaimana? Belum ada bajunya yah? Aku bisa rekomendasi banyak model baju jika kau mau" kata Hinata memandang beberapa helaian rambut berwarna di lantai apartemen Sasori.
"Bukan itu" Sasori berdiri dari duduknya lalu mendekati Hinata yang membelakanginya.
"Lalu?"
.
.
.
Ting tong...
Ting tong...
Entah sudah berapa kali Sasuke menekan bel apartemen Hinata tapi tak ada tanda-tanda Hinata akan membuka pintu apartemennya.
Jantung Sasuke berdetak lebih cepat dari pada gerak detik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Kakinya tak bisa tenang, sesekali ia menendang dinding, pintu bahkan ingin sekali ia menendang dirinya sendiri membiarkan Hinata pulang sendiri setelah keadaan begitu genting.
"Bagaimana?" tanya Shino yang berdiri di depan pintu apartemen nomor 8 miliknya.
"Sakura, Ino dan Matsuri juga tidak melihatnya. Katanya, sebelum pulang sekolah Hinata ada janji dengan seseorang" Sai mengeraskan suaranya saat berbicara dari depan pintu apartemen nomor 18.
"Aku tidak bisa menjamin ia baik-baik saja sekarang" sahut Gaara dari depan pintu apartemen 19.
"Shikamaru!" panggil Gaara pada Shikamaru yang stay di depan pintu apartemen 16.
"Apa?"
"Coba cek apa yang kita bicarakan sebelum kesini" perintah Gaara.
"Aku mengerti" Shikamaru mengakhiri kalimatnya dan menghilang di balik pintu apartemen 16.
Mereka bisa saja berdiri menunggu Hinata di depan apartemen nomor 13, apartemen milik Hinata, tapi mereka tidak ingin membuat Hinata curiga dengan berkumpul di depan apartemennya. Rencananya, saat ada tanda-tanda pintu apartemen Hinata akan dibuka, Sasuke akan memberi kode 'aman' lalu Gaara, Shikamaru, Sai, Shino dan Sai langsung masuk ke apartemen mereka masing-masing tanpa menimbulkan kecurigaan Hinata.
Namun, sampai sekarang pintu apartemen Hinata belum-
"Sasuke?" tanya Hinata membuka sedikit pintu apartemennya.
Gaara, Sai, dan Shino yang menyadari perubahan ekspresi wajah Sasuke langsung membuka pintu apartemen mereka masing-masing. Setidaknya mereka tahu, Hinata masih bernyawa.
Tak ada jawaban.
Sasuke langsung membuka lebar pintu apartemen Hinata. Hinata mengangkat pandangannya memandang wajah Sasuke yang masih datar memandangnya. Tak seperti Sasuke yang biasanya.
"Seragammu kusut" kata Hinata pelan sambil menarik ujung lengan kemeja Sasuke.
Sasuke masih diam.
"Rambutmu juga berantakan" tangan mungil Hinata kini beralih meraih kepala Sasuke, mengusap rambutnya pelan dan sedikit tersenyum.
"Eh?"
Hinata memasang wajah bingungnya saat tubuhnya tiba-tiba menghangat oleh pelukan yang diberikan Sasuke. Pelukan yang begitu erat hingga membuatnya sulit untuk bernafas.
"Sasuke?" Hinata berusaha memberi ruang pada dirinya sendiri untuk melihat Sasuke tapi nihil. Hinata terlalu sulit melihat wajah Sasuke yang bersembunyi di balik kepalanya.
"Kau kemana saja? Aku mengkhawatirkanmu" Sasuke bersuara namun belum berniat melepas pelukannya.
"Aku pulang sekolah langsung kembali ke apartemen" jawab Hinata pasrah menunggu Sasuke melepaskan pelukannya.
"Aku menghubungimu tapi-"
"iPhoneku error setelah ku upgrade ke iOS yang baru. Aku tidur siang" jelas, Hinata berbohong.
"Aku takut kau kenapa-napa. Shion-"
"Aku mendengarnya"
.
.
.
Sasuke berbaring di spring bednya menerawang kosong atas apa yang telah menimpa teman-temannya. Hari ini, Hinata tidak bisa dihubungi dan katanya sepulang sekolah ia langsung pulang dan tidur siang.
"Mungkin hanya perasaanku saja" Sasuke meyakinkan dirinya lalu memejamkan matanya. Berharap untuk tidur agar lelah di tubuhnya sedikit berkurang.
Sementara itu, sekitar pukul 1 malam, penghuni apartemen nomor 16 masih sibuk berkutat dengan dua komputer dan satu Macbook di hadapannya.
"Untuk apa kau memanggilku" tanya Gaara yang duduk di tepi kasur Shikamaru memandang aktifitas di layar monitor di kedua komputer dan Macbook Shikamaru.
"Aku harus menunjukkan ini padamu" kata Shikamaru lincah mengetik dan mengklik beberapa bagian di monitor komputernya.
"Ini adalah interpretasi reaksi gelombang elektromagnetik yang kupasang di depan pintu masuk apartemen Sasori seperti yang kau perintahkan" Shikamaru mulai menyampaikan hal mengganjal yang telah terjadi.
"Aktifitas 24 jam terakhir?" tanya Gaara yang menghampiri komputer Shikamaru.
"Iya. Begitulah" kata Shikamaru mengangkat kepalanya menatap langit-langit kamarnya.
"Apa artinya?"
"Berdasarkan pengawasan beberapa minggu terakhir setelah aku berhasil memasang pendeteksi ini, reaksi yang muncul selalu sama dan aku menjadikannya kode untuk Sasori. Gelombang berwarna hitam" jelas Shikamaru.
"Lalu?" lanjut Gaara menangkap ada yang tidak beres pada pengawasan Shikamaru.
"Beberapa jam yang lalu, tepatnya siang hari. Ada reaksi lain yang muncul selain reaksi Sasori" Shikamaru kembali fokus pada monitornya.
"Jadi?"
"Ku beri kode warna merah untuk orang selain Sasori. Siang tadi, dua gelombang ini terdeteksi dalam waktu yang bersamaan. Gelombang berwarna hitam dan merah" Shikamaru melanjutkan penjelasannya.
"Sebelumnya, tidak ada yang pernah masuk ke apartemen Sasori. Siang tadi, Sasori mengajak seseorang masuk ke dalam apartemennya. Dari keterangan Sasuke, Hinata mengatakan bahwa ia langsung pulang dan tidur" Shikamaru menghembuskan nafas berat untuk mengurangi rasa gugup yang mulai menghampirinya.
"Ada dua kemungkinan. Sasori memang membawa orang lain ke dalam apartemennya atau jika Hinata berbohong, sudah pasti ia membawa Hinata" otak encer Gaara langsung bisa menyimpulkan inti dari penjelasan Shikamaru.
"Sial! Dia mendahului kita" Shikamaru beranjak dari kursinya, ia membuka jendela kamarnya untuk menghirup aroma angin malam.
"Jangan beritahu Sasuke dan yang lainnya. Mereka tidak bisa mendengarkanku lagi, mereka bisa bertindak gegabah" Gaara memejamkan matanya, rencananya mulai kacau.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Cepat atau lambat Sasori akan mengincar Hinata"
"Dari kertas uji coba yang diciptakan Shino, Shino menemukan banyak zat kimia pengawet dalam apartemen Sasori saat ia menyelipkannya ke bagian bawah pintu apartemen Sasori untuk mendeteksi lewat udara. Jika perkiraanku benar, anak itu benar-benar membuat boneka lilin menggunakan organ manusia" Gaara berbicara seolah meminta pendapat Shikamaru.
"Bagaimana kau bisa menyimpulkannya?" tanya Shikamaru menghabiskan kopinya.
"Aku dan dia berasal dari kota yang sama. Dari kecil sampai sekarang, kami selalu berada di sekolah yang sama. Bisa dikatakan, aku tahu semua yang terjadi padanya" lanjut Gaara.
"Apa mungkin obsesi gilanya ini berasal dari masa lalunya?" tanya Shikamaru mulai menangkap arah pembicaraan Gaara.
"Kalau memang seperti itu, maka tujuannya membuat boneka lilin..." gumam Gaara dengan nada suara yang pelan.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Shikamaru yang belum meragukan pendengarannya. Ia yakin, Gaara baru saja mengatakan sesuatu.
"Yang paling penting sekarang adalah kita harus membuat Sasori menjauhi Hinata" kata Gaara memutar kursinya menghadap Shikamaru.
"Caranya?"
.
.
.
Hinata tak bisa menahan senyuman lebarnya saat ia mendapati kertas dari Sasuke yang memintanya untuk menghampiri Sasuke di mobilnya saat pulang sekolah. Hari ini Sasuke berangkat ke sekolah tanpa motor tanpa mobil. Tanpa mobil sudah jelas, Sasuke tidak ingin terlalu mencolok di sekolah.
"Hei..." sapa Hinata pada Sasuke yang duduk di jok pengemudi.
"Hei..." Sasuke menyapa balik dengan senyum kecilnya yang menawan seperti biasa.
"Puas menggunakan mobilku seharian?" tanya Hinata menggoda Sasuke tapi Sasuke hanya diam menatapnya dengan tatapan yang eerrrrrr...sexy?
"Berhenti menatapku seperti itu" kata Hinata membuang pandangannya. Memandang Sasuke berlama-lama hanya bisa mendatangkan masalah.
"Kenapa?" tanya Sasuke semakin mendekatkan dirinya.
"Aku malu" jawab Hinata terang-terangan.
"Malu kenapa?" bisik Sasuke di telinga Hinata.
'Apa dia tidak tahu dilarang?' batin Hinata.
"Kalau terlalu dekat begini, aku-" kata Hinata pelan saat Sasuke memutar wajahnya menghadap wajah Sasuke.
"Dekat begini saja kau sudah malu?" tanya Sasuke menundukkan wajahnya mencari wajah Hinata yang bersembunyi di balik rambut panjangnya.
"I-iya" jawab Hinata mengangguk pelan.
"Kalau begitu akan ku lakukan sesuatu yang lebih memalukan"
Langsung saja Sasuke melumat bibir lembut Hinata tanpa izin kepada yang empunya. Sekali lagi, Sasuke menggeser duduknya untuk sedikit lebih dekat dengan tubuh Hinata hingga tubuh mereka bersentuhan.
Tak puas dengan hanya melumat, Sasuke benar-benar melakukan hal yang lebih memalukan. Ia menggigit bibir bawah Hinata hingga mulut tak berdaya itu terbuka dan memberikan akses bagi lidah Sasuke untuk mengabsen satu per satu gigi Hinata, menggelitik langit-langit mulut Hinata dan yang paling membuat Hinata gila adalah saat Sasuke mempermainkan dan menghisap dalam-dalam lidahnya.
"Mmmhhh..." Sasuke sedikit tersenyum di tengah-tengah kegiatannya saat mendengar suara Hinata mulai berubah menjadi desahan.
Seperti mendapat perintah entah dari mana, tangan Sasuke bergerak dengan sendirinya untuk mengelus kepala Hinata, lalu turun ke punggung Hinata dan berputar ke bagian depan.
'Gawat, aku tidak bisa berhenti' batin Sasuke yang telah diambil alih oleh iblis dalam dirinya.
"Ngghhh...mmmhhhh..." hanya suara itu yang bisa Hinata keluarkan saat tangan besar Sasuke mulai merada dadanya dari luar.
"Ahh... hah, ahhh..." Sasuke melepas ciumannya, tapi wajah Sasuke masih bersembunyi di leher Hinata dan tangannya masih tidak berhenti setelah membuka tiga kancing atas seragam Hinata.
"Sasu...aahhhh..." Hinata menggit bibirnya menahan suaranya yang akan keluar saat Sasuke menjilat dan menggigit lehernya.
"Sudaahh, hen..ahhh..hentikaann..." tangan Hinata mencoba mendorong dada Sasuke agar Sasuke menjauh dan menghentikan seluruh aktifitasnya yang benar-benar membuat kepalanya kosong.
"SASUKEE..!" bentak Hinata meminta saat Sasuke berani memasukkan tangannya dan menyentuh dadanya.
"Eh?" Sasuke kembali ke dunia nyata saat mendengar suara Hinata yang membentaknya.
"Aku takut ketahuan" kata Hinata malu-malu menaikkan tali bra-nya dan mengancingkan kembali kemeja sekolahnya.
"Ah, i-iya"
'Sial! Aku terburu-buru' batin Sasuke yang baru sadar mereka berada di tempat yang salah.
"Jadi? Untuk apa memanggilku ke mobilku sendiri?" tanya Hinata sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena ulahnya sendiri.
"E-tttoooo..." Sasuke meraih sesuatu di jok belakang.
"Apa ini?" Hinata memiringkan kepalanya penasaran dengan apa yang diberikan Sasuke. Sebuah kotak –bukan- keranjanng? Yang berisi...
"Meeooonnnggg~"
"HUUUAAAA...!" jerit Hinata mengagetkan Sasuke.
"Kau takut kucing?" tanya Sasuke merasa bersalah.
"Eh? Ti-tidak, a-aku hanya tidak menyangka ini ku...kucing"
'Makhluk paling ku takuti di dunia kenapa harus ada disini? Kenapa harus Sasuke yang memberikannya?'
"Ini kucing persia. Lucu kan?" tanya Sasuke tidak yakin.
"I-ini lucu sekali. Uummm... kenapa tiba-tiba memberiku kucing?" tanya Hinata yang terlihat sangat nyata saat ia berusaha menjauhkan dirinya dari kucing yang kini sudah ada di pangkuannya.
.
.
.
"Sasuke, aku ingin kau membelikan kucing untuk Hinata. Minta Hinata untuk memeliharanya dan membawanya kemana pun ia pergi" perintah Gaara seolah berbicara pada tembok.
"Untuk apa? Kenapa harus aku?" tanya Sasuke agak protes.
"Karena pemberianmu tidak mungkin ditolak Hinata"
"Tapi untuk apa? Gaara sialan!"
.
.
.
"Kau mungkin berpikir aku bercanda saat mengatakan I Love You di UKS tempo hari" Sasuke tak berani lagi memandang Hinata, ia lebih memilih memandang siswa KHS yang lalu lalang sambil meremas stir mobil Hinata untuk mengurangi perasaan gugupnya.
"O-oh ya?" reaksi Hinata malu-malu.
"Aku serius. I want you to be mine..." kata Sasuke menundukkan wajahnya.
'Heehh, setelah menciumku dan menyentuh ini itu, dia bisa malu juga rupanya'batin Hinata sambil tersenyum melihat tingkah Sasuke yang benar-benar kehilangan kepercayaan dirinya.
"Hu'um"
.
.
.
To Be Continued
Satu hal yang Kika minta ma temen-temen... "Mohon ampun akuuuuu~" *telatUPlagi*
*SeeyounextchapGengs,
*RnRyaakkk
