Disclaimer © Masashi Kishimoto
This fic is mine
Rated © M
Warning © Ide pasaran, overdosis OOC, alur gak jelas, typo berkeliaran.
Summary © Sebuah kisah di lantai 13 Apartemen Akatsuki.
Note © Kelas XI.1 (U. Sasuke, Sai, U. Naruto, Karin)
Kelas XI.5 (H. Hinata, H. Sakura, Matsuri, S. Gaara, A. Sasori, N. Shikamaru, I. Kiba, A. Shino, Shion)
.
Bloody 13
Chapter 7
.
.
.
Langit dan cahaya matahari kembali berkolaborasi menciptakan warna yang tak pernah bosan mata memandangnya. Perpaduan antara awan lembut yang bercampur dengan cahaya orange matahari senja membuat siapa saja yang melihatnya meminta kepada Tuhan untuk menghentikan waktu untuk beberapa menit saja.
Angin sore berhembus pelan mengusap wajah damai seorang pemuda yang tengah menikmati kesendiriannya menyaksikan matahari yang akan kembali ke peraduannya. Matanya tertutup rapat sembari ia mengangkat wajahnya menghadap ke langit untuk semakin meresapi angin sore yang kembali menerbangkan helaian rambut merahnya. Ujung bibirnya pun sedikit ia tarik untuk menciptakan senyum tipis di wajahnya.
Drrtt... ddrrtt..
Suara getaran iPhone yang baru saja menerima email menghamburkan khayalan indah yang telah tergambar nyata di dalam benaknya. Manik coklatnya pun terbuka. Pemuda itu kembali ke dunia nyata dimana banyak hal yang ia sesali dan banyak hal yang ingin ia ulangi.
Rasanya ia ingin terlahir kembali dan memperbaiki segala sesuatu yang salah dalam hidupnya.
Pemuda berkulit putih itu kemudian menghampiri meja kaca tempat ia meletakkan iPhonenya.
Sebuah email masuk.
"ehh, jadwalnya dimajukan ya" gumamnya entah pada siapa saat membaca email yang baru saja diterimanya.
"Mau bagaimana lagi. Aku harus mempercepatnya. Sisa gaun dan...sentuhan terakhir di rambutnya" ucapnya pelan sambil menatap bonekanya.
.
.
.
Banyak orang melewatkan senja yang begitu indah hari ini. Salah satunya adalah mereka yang terperangkap di dalam mobil dan keramaian lalu lintas kota.
Namun, beberapa diantara mereka memilih cara lain untuk menghabiskan waktunya sore ini. Seperti Sai dan Ino dan sedang mengendarai mobil menuju ke suatu tempat.
"Sebenarnya aku tidak yakin ingin mengajakmu sore ini. Biasanya sepulang sekolah kau langsung pulang ke rumah tantemu tapi hari ini kau menungguku hingga ekskulku selesai. Jadi, kupikir aku harus melakukan ini. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini terus menerus" ucap Sai pelan sambil sesekali melirik Ino disampingnya yang tak mengalihkan pandangannya dari kaca jendela mobil.
"Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi. Berikan waktu untuk dirimu. Kau akan baik-baik saja bersamaku" sambung Sai saat tak mendapat jawaban apapun dari Ino.
"Sai..." panggil Ino pelan sambil memandang Sai. Gadis berambut panjang itu meraih tangan kiri Sai kemudian ia genggam.
"Iya?" balas Sai lembut.
"Tentang Karin, Shion... aku-"
"Ssstttt... Jangan bahas itu lagi" sergah Sai tak ingin mendengar Ino membahas apa-apa lagi tentang kematian teman-teman mereka.
"Tapi, sebenarnya-"
"Sayang, sudahlah. Kau tidak perlu membebani dirimu dengan kejadian ini. Kalau Gaara pernah mengatakan sesuatu yang aneh padamu. Jangan terlalu dihiraukan. Kau akan baik-baik saja bersamaku. Mengerti?" Sai mengakhiri kalimatnya sambil mengelus pelan kepala Ino.
Ino tidak tau harus memulai dari mana, saat ingin membicarakannya ia selalu diliputi rasa takut. Bahkan sekedar mengingat apa yang telah ia lihat saja, gadis yang dulunya periang itu merasa ada Sasori di belakangnya yang bersiap untuk mengakhiri hidupnya kapan saja.
Kejadian yang benar-benar mengguncang mental Ino.
Hari ini, Ino berusaha menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang begitu spesial baginya tapi...
'Dia tidak ingin mendengarkanku' batin Ino memejamkan matanya.
Ino mengerti mengapa Sai tak membiarkannya bercerita tentang Karin dan Shion. Ino tahu betul, semua itu karena Sai menyayanginya dan tidak ingin terjadi hal-hal buruk padanya.
"Arigatou" kata Ino sambil tersenyum pada Sai.
"Tidak biasanya kau bilang begitu" balas Sai merasa lucu saat Ino yang dikenalnya angkuh dan penuh gengsi mengucapkan kata 'terima kasih'
"Aku sudah bilang terima kasih kenapa tidak dijawab?" tanya Ino sedikit mendorong bahu Sai yang sedang fokus menyetir.
"Akan ku balas saat lingkaran hitam di bawah matamu sudah hilang"
Untuk beberapa saat, Ino mengurungkan niatnya untuk menceritakan hal-hal yang akan merusak hari mereka saat Ino sadar bahwa ia sedang berada di parkiran Mall terbesar di Konoha. Konoha Mall.
Sai dan Ino turun dari mobil sambil berjalan menyusuri ubin demi ubin lantai Konoha Mall. Sore hari seperti ini memang saat yang tepat bagi anak sekolah untuk melepas lelah setelah seharian berhadapan dengan pelajaran yang menguras otak dan berhadapan dengan guru yang tak mengerti cara menjadi lemah lembut dalam mengajar.
Tak hanya Ino dan Sai yang mengunjungi mall dengan seragam sekolah kebanggaan mereka. Sejauh mata memandang ada banyak sekali pengunjung mall yang masih lengkap dengan seragam sekolah, sepatu dan tas mereka. Ada yang sedang bermain di time zone, mencoba ini itu di stan aksesories dan ada juga yang mengganjal perut mereka dengan makanan favorit di sekitar food court.
"Nah, jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Sai memandang sekeliling.
"Umm... aku haus" sahut Ino mencari tempat minuman.
"Ayo cari minum" ajak Sai merangkul bahu Ino.
Setelah mengantri cukup lelah, akhirnya tenggorokan Ino yang kering dimanjakan oleh milk shake black oreo kesukaannya. Sementara Sai yang memang agak aneh ia lebih memilih minum air mineral saja.
"Suka sekali?" tanya Sai pada Ino yang terlihat sangat menikmati minumannya.
"Hu'um" jawab Ino dengan anggukan.
"Apa mungkin karena aku yang memberikannya?" tanya Sai sambil menyentuh bagian belakang kepalanya. Ia agak ragu sekaligus malu untuk mengatakannya.
"Hahaha... dasar gila. Ini karena memang rasanya yang enak" balas Ino tertawa renyah.
"Ah, Dasar. Oh iya, selanjutnya kau mau apa?" tanya Sai menghentikan langkahnya, menarik Ino ke tempat yang lumayan tak terlihat.
"Ada film komedi romantis. Bagaimana kalau kita nonton?" tanya Ino memberi saran.
"Nonton ya. Oke! Tapi aku ada urusan sebentar. Apa tidak apa-apa kalau kau ke atas duluan?" tanya Sai pada Ino.
"Memangnya kenapa?" tanya Ino agak manyun.
"iPhoneku ketinggalan di mobil. Tidak apa-apa ya?" Sai meminta persetujuan dengan sedikit memelas.
"Dasar aneh. Akhir-akhir ini kau sering sekali melupakan iPhonemu. Ya sudah. Jangan lama"
"Iya, Sayang" balas Sai dengan senyumannya seperti biasa.
Ino membelah keramaian Konoha Mall menuju lantai 2 tempat studio bioskop. Baru beberapa langkah ia melangkah, ia kembali memutar pandangannya mencari Sai di belakangnya. Ia tersenyum kecil saat masih mendapati Sai tersenyum dan melambaikan tangan padanya.
Sementara Sai sudah benar-benar yakin Ino tak lagi melihatnya. Sai pun meninggalkan tempatnya. Bukan ke parkiran untuk mengambil iPhonenya yang tidak ketinggalan di mobil atau gampangnya Sai memang sengaja tidak membawa iPhonenya. Ia tak ingin diganggu saat ia menghabiskan waktu bersama kekasihnya.
Namun, belum setengah jam ia berada di Konoha Mall, mata hitamnya menangkap pemandangan yang benar-benar membuatnya terganggu lebih dari apapun.
Sai berjalan pelan menghampiri seseorang di depan sana yang tengah membelakanginya. Sai tahu ia tak akan salah orang. Ia tahu betul gerak-gerik orang yang ada di depannya. Caranya berdiri, caranya memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana...
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sai saat ia mensejajarkan posisinya dengan orang yang tak pernah ia sangka akan bertemu di tempat yang bermana Mall.
"Hanya melihat-lihat. Apa itu salah?" tanya orang yang ditemui Sai.
"Tentu saja salah. Orang sepertimu akan sangat salah jika berada di tempat ramai seperti ini, Gaara" sahut Sai agak menaikkan nada suaranya.
"Sini.." kata Gaara meraih botol air minum di tangan Sai. Pemuda berambut merah itu kemudian meminum air tersebut sampai habis.
"Apa kau sehaus itu?" tanya Sai heran. Tak ada jawaban dari Gaara. Gaara hanya menatap Sai dengan tatapan kosongnya seperti biasa lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
Sai benar-benar tak habis pikir bisa menemukan Gaara di tempat seperti ini. Belum lagi ia berdiri di tempat dimana semua orang berlalu lalang mengganggunya. Sai ikut memperhatikan apa yang diperhatikan oleh Gaara.
Oke. Pemandangan pertama. Sai melihat beberapa orang memakai kaos yang sama sedang mengatur beberapa properti.
'Mereka kru' batin Sai.
Pemandangan kedua. Sebagian kru menyusun begitu banyak kursi.
Pemandangan ketiga. Spanduk acara.
'Festival...boneka...lilin' batin Sai sambil menatap Gaara yang ada di samping kirinya. Gaara pun menatap balik kepada Sai.
"Jadi...-"
"Ah, kau benar. Fesival boneka lilin akan diadakan 1 hari lagi atau lebih tepatnya besok" ucap Gaara dengan nada datarnya seperti biasa.
'Sudah ku duga. Orang aneh sepertinya tidak mungkin berada di tempat seperti ini jika tidak ada hal yang mengganjal di pikirannya' batin Sai mengikuti Gaara memasuki area pameran.
Gaara mengambil salah satu kursi lalu duduk dan tak melakukan apa-apa.
"Jangan terlalu berlama-lama disini. Ino sedang menunggumu" kata Gaara melipat tangan di depan dada lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi"
'Bagaimana dia...' batin Sai heran.
"Orang aneh sepertimu tidak mungkin ke tempat seperti ini seorang diri. Kalau tidak bersama Ino, lalu kau akan bersama siapa lagi?" Gaara memutar pandangannya menatap Sai yang baru saja menarik kursi untuk ia duduki. Sai terbengong tak tahu harus berkata apa.
"Kemampuan khusus. Aku tidak percaya hal semacam itu. Terkadang kita mengetahui jalan pikiran seseorang karena kita sudah lama mengenalnya" lanjut Gaara sambil tersenyum tipis.
"Dasar aneh" balas Sai dengan senyumannya lalu meninggalkan Gaara seorang diri di tengah keramaian.
.
.
.
"Akan ku jaga baik-baik" ucap Hinata mulai merasa pipinya ngilu setelah tersenyum seharian. Bahkan saat ingin memasuki apartemennya pun ia tersenyum.
'ya..ya..ya, makhluk tampan yang satu ini benar-benar membuatku tersenyum pada hal-hal yang tidak penting sekalipun. Aku bahkan tersenyum saat menerima hewan yang begitu ku takuti' batin Hinata.
"Ummm..." gumam Sasuke memandang ke dalam apartemen Hinata.
"Kenapa?" tanya Hinata ikut memandangi apartemennya.
"Kenapa kau begitu bodoh? Itu sebuah kode, mengerti?" sahut Sasuke sedikit jengkel.
"Kode?" tanya Hinata tidak mengerti.
"Aku ingin masuk" jawab Sasuke santai dan terkesan memerintah.
Sasuke memasuki apartemen Hinata sambil membawa bungkusan yang berisi makanan kucing.
'Ah, dia niat sekali aku memelihara makhluk berbulu ini' batin Hinata meletakkan keranjang kucingnya di depan sofa.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Sasuke duduk di sofa. Pertanyaan yang jauh dari kesan kalimat tanya.
"Anggap saja seperti rumah sendiri" kata Hinata sedikit gugup saat Sasuke menanyainya sambil menghiasi wajah tampannya dengan senyuman yang sedikit aneh.
"Benarkah? Kalau ku anggap seperti rumah sendiri, berarti segala isinya adalah milikku. Termasuk orang-orang yang ada di dalamnya..." kata Sasuke melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing kemeja atasnya.
"Sini..." panggil Sasuke pada Hinata sambil menepuk sofa di samping kanannya.
"A-apa?"
"Ayo sini..." Sasuke mengulang panggilannya. Hinata tidak tahu harus berbuat apa, yang ia tahu ia harus duduk disamping Sasuke.
Hinata tak mampu mengeluarkan suara apapun saat Sasuke tak berjarak darinya. Begitu dekat, begitu hangat dan aroma parfumnya masih begitu terasa.
"Apa tidak apa-apa seperti ini?" tanya Sasuke meminta persetujuan Hinata saat ia merangkul pinggang Hinata dan bersandar di bahu Hinata.
"Hu'um.." gumam Hinata sambil mengangguk pelan.
Sementara Sasuke mengeratkan pelukannya dan merapatkan hidungnya pada leher Hinata, perasaan gugup lagi-lagi menyerang Hinata. tangan Sasuke yang menempel di pinggangnya dan deru nafas Sasuke yang menggelitik lehernya benar-benar memberikan sensasi aneh pada Hinata.
'Arrghh... kenapa telinga dan wajahku jadi panas begini'
"Kenapa?" tanya Hinata terkejut saat Sasuke tiba-tiba menarik kepalanya dari bahunya.
"Kenapa kau pendek sekali? Aku tidak nyaman. Punggungku sakit harus membungkuk untuk bersandar" keluh Sasuke dengan suara bisikannya yang sedikit serak.
"Kau ini-"
"Berbaring saja ya..." ucap Sasuke sambil mendorong Hinata untuk berbaring di sofa.
Sofa apartemen Hinata memang tidak terlalu besar tapi muat untuknya dan Sasuke jika posisi mereka...berdempetan begitu rapat.
"Sa-sa-sasuke, a-aku..." kata Hinata terbata-bata saat Sasuke menindihnya. Dadanya yang bersentuhan dengan dada Sasuke benar-benar membuat jantungnya ingin pecah.
"Kenapa?" tanya Sasuke berbisik pelan di telinga Hinata. Kaki panjangnya pun mulai ia selipkan diantara kedua paha Hinata.
"A-aku belum menyalakan lampu" kata Hinata berusaha menghindar.
"Tidak perlu. Meskipun gelap, aku masih bisa melihat wajahmu yang mulai memerah" kata Sasuke mengakhiri kalimatnya sambil mencium pelan bibir Hinata.
Tidak ada balasan.
"Tidak suka?" tanya Sasuke melepas ciumannya.
"A-aku malu" kata Hinata menahan dada Sasuke.
"Kalau begitu akan ku lakukan sesuatu yang lebih memalukan"
Sasuke memutuskan untuk tidak bersuara lagi. Ia bersumpah akan mengabaikan apapun yang akan Hinata katakan di tengah aksinya.
Memulai dengan melepas satu per satu kancing baju Hinata, melepas pengait bra, hingga melorotkan rok Hinata telah Sasuke lakukan. Kata-kata seperti
"Angggh,.."
"Su-sudah, aku..."
"Sa-sasukeehh...~"
"Be-berheentii...~"
Terdengar menjadi nada suara penyemangat bagi Sasuke. Berbeda dengan tadi siang saat Hinata memintanya berhenti ia akan berhenti tapi kali ini..
'Tidak akan. Tidak ada siapa-siapa disini...'
Puas dengan bibir lembut Hinata, puas memberi gigitan dan tanda merah di leher Hinata, kini Sasuke beralih pada benda yang paling membuatnya bersemangat sekaligus penasaran.
"Ini..." kata Sasuke saat meremasnya pelan.
"Ah, aaanghhh... ja-jangan itu..." desah Hinata saat merasakan dadanya mendapat pijatan lembut yang tidak lama lagi akan membuatnya gila.
"Lembut sekali..." kata Sasuke menciumnya pelan.
'Dia benar-benar sudah tidak mendengarkanku' batin Hinata memejamkan matanya dan menahan agar suaranya tidak keluar lagi.
"Aaaaahhhhhh...~"
Di luar dugaan. Hinata tak mampu menahan apapun lagi saat merasakan mulut dan lidah hangat Sasuke membelai dan mengulum putingnya.
"Sa-sasukeehh, ku-mohonnnn..."
Drrtt...Drrrtt...
iPHone Sasuke bergetar. Sebuah panggilan masuk.
"Moshi-mosh-"
"Ya, sudah kau lakukan yang aku pinta?" tanya seseorang di balik telepon.
"Iya, sudah" kata Sasuke ketus. Tangan kirinya masih mengunci tangan kanan Hinata yang sedari tadi berontak.
"Baguslah" balas si pengganggu –menurut Sasuke-
"Yasudah. Ku tu-"
"Tunggu"
"Apa lagi, Bodoh.." Sasuke semakin kesal.
"Aku hanya memintamu membeli kucing dan makanan kucing. Aku tidak memintamu melakukan hal lain" lanjut Gaara sambil berkeliling mengawasi tempat festival akan diadakan.
"Umm...I-iya. A-aku tidak melakukan apa-apa" jawab Sasuke melepas tangan Hinata.
Hinata yang merasa Sasuke mulai melemah menarik dirinya lalu dengan cepat ia mengenakan bra dan pakaiannya kembali. Sasuke yang menyadari Hinata sudah lepas darinya hanya bisa menghela nafas berat.
"Dari nada suaramu kau terdengar kesal. Apa aku mengganggu kegiatanmu?" lagi. Gaara bertanya dengan nada suara tanpa dosa.
"Iya. Iya, sudah. Aku tidak melakukan apa-apa"
Tit.
Sasuke menutup telpon.
"Siapa?" tanya Hinata yang kembali lengkap dengan pakaiannya.
"Gaara" jawab Sasuke dengan nada suara lemah.
"Kalau begitu aku akan mandi dan menyiapkan makan malam" kata Hinata menuju kamarnya.
"Ahh, maaf ya, Sayang"
'Apa? dia bilang Sayang...?' batin Hinata sambil tersenyum kecil.
"Umm.. Kenapa?" tanya Hinata balik.
"Kau ini ya, kau tidak bertanya dengan baik. Seharusnya kau bertanya 'kenapa, Sayang?'" Kata Sasuke mengoreksi perkataan Hinata.
"Kenapa...Sa..yang?"
"Kau harus mengucapkannya sesering mungkin agar kau terbiasa" lanjut Sasuke menceramahi Hinata sambil merapikan kancing baju dan dasinya yang berantakan karena ulahnya sendiri.
"Yosh... Aku harus pergi. Aku punya janji makan malam dengan keluargaku. Lebih tepatnya dengan Kakakku" kata Sasuke menghampiri Hinata yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Aku janji besok malam kita akan makan malam berdua dan melanjutkan yang tadi" lanjut Sasuke tersenyum sambil mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hinata. Tak lupa tepukan pelan di kepala Hinata menjadi akhir dari percakapan mereka.
"Mata naa..." kata Hinata melambaikan tangannya pada Sasuke yang akan memasuki lift.
Sebelum memutuskan memasuki lift, Sasuke menekan saklar lampu sehingga gelap tak lagi menguasai lorong apartemen lantai 13.
"Entahlah. Siang, malam, gelap atau pun terang seperti ini rasanya sama saja. Apartemen ini terkesan misterius dan menyembunyikan banyak hal" gumam Hinata pada dirinya sendiri.
'Meeoonngggg~' sahut kucing putih pemberian Sasuke saat melihat tuannya masuk.
"I-iya. Kau pasti lapar" kata Hinata berjongkok di depan keranjang kucingnya.
"Aku bahkan belum memberikanmu nama" lanjut Hinata memikirkan nama untuk penghuni baru apartemennya.
"Bagaimana kalau 'Hime-chan' saja?"
"Meeonnnggg~"
"Sepertinya kau menyukainya"
.
.
.
Jarum jam mewakili perjalanan waktu dimana gelap malam terasa semakin mencekam. Tak ada bintang, tak ada cahaya bulan, bahkan hembusan angin malam ini pun terasa menusuk tulang.
"Sensasi dingin yang aneh" ucap seorang pemuda berambut nanas saat merasakan angin menembus jendela kamarnya yang sengaja ia buka.
Nara Shikamaru, salah satu siswa Konoha High School yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, hanya saja ia terlalu malas untuk melakukan hal-hal yang merepotkan. Saat ulangan pun ia tidak mau repot, setelah ia yakin menjawab cukup soal untuk meluluskannya ia akan lebih memilih tidur.
Namun, beberapa hal akan menidurkan rasa malas pemuda berambut nanas itu jika menyangkut sesuatu yang penuh misteri. Seperti apa yang tengah terjadi di sekitarnya saat ini.
"Lumayan melelahkan juga mengerjakan apa yang diminta si Gaara sialan itu" kata Shikamaru meregangkan tubuhnya di depan jendela kamarnya yang terbuka lebar.
"Dasar sok sibuk. Padahal aku memintanya untuk mengerjakan PRku selagi mengerjakan pekerjaan dari Gaara" lanjut Shikamaru merutuki pesan dari Sasuke yang mengatakan ia ada janji makan malam dengan keluarganya dan menginap di luar.
"Sai pun ikut menginap di rumah tantenya Ino. Inilah mengapa punya kekasih itu merepotkan" gerutu Shikamaru entah pada siapa.
Shikamaru melangkah keluar dari apartemennya dan menuju ke salah satu pintu apartemen dan berdiri di depannya.
"Buka pintunya. Aku ada di depan" kata Shikamaru pada iPhonenya setelah memastikan tak ada orang lain selain dirinya di lorong apartemen.
"Kenapa tidak kau tekan saja belnya?" sahut seseorang di balik telepon.
"Jangan banyak bicara"
Clek.
Pintu apartemen terbuka dan tampaklah sesosok pemuda berkulit pucat dan berambut merah yang seolah bersembunyi di balik pintu apartemennya.
"Apa?" tanya Gaara pelan memandang Shikamaru yang memasang wajah serius di hadapannya.
"Kau benar-benar anak yang manis. Menepati janji untuk membiarkanku memasuki apartemenmu" kata Shikamaru yang menerobos memasuki apartemen Gaara.
Cklek.
Shikamaru segera mencari saklar lampu untuk menerangi apartemen seorang Sabaku Gaara yang tanpa penerangan sedikit pun.
'Entah bagaimana anak ini bisa melihat dalam gelap' batin Shikamaru tak habis pikir.
Sepersekian detik kemudian setelah seluruh lampu dinyalakan-
"Hahaha..." Shikamaru tertawa. Entah apa yang menurutnya lucu.
"Lebih baik kau keluar saja" ucap Gaara berlalu sambil menghisap sebatang rokok.
"Kau benar-benar gila" kata Shikamaru mengakhiri tawanya.
Jika apartemen Sasori lebih mirip dengan ruang pameran hidup maka apartemen Gaara akan lebih mirip dengan ruangan seorang agen penyadap rahasia.
Kabel beraneka warna saling terkait di dinding, monitor berukuran besar, aktivitas komputer yang terus-terusan berfungsi selama 24 jam dalam sehari dan beberapa peralatan membingungkan lainnya.
Satu hal yang Shikamaru syukuri. Apartemen tempatnya sekarang ini terlihat bersih dan terawat. Semua barang terletak di tempatnya masing-masing.
"Aku pikir setelah lulus kita harus masuk akademi kepolisian bersama-sama" kata Shikamaru memukul pelan kepala Gaara saat ia menghampirinya di balkon apartemen.
"Entahlah~" kata Gaara memandang lurus sambil menawarkan sebatang rokok pada Shikamaru.
"Aku tidak-"
"Sesekali kau harus mencobanya" lanjut Gaara meletakkan rokok yang baru saja ditolak oleh Shikamaru.
"Jadi, bagaimana dengan Shino?" tanya Shikamaru yang memilih duduk di kursi.
"Dia di laboratorium sekolah malam ini. Orang aneh itu sudah meminta izin kepada Kepala Laboratorium untuk menggunakan lab malam ini" jawab Gaara.
"Lalu bagaimana dengan Hinata? Apa kau yakin bukan dia yang masuk ke apartemen Sasori hari itu?" tanya Shikamaru yang masih diliputi rasa kebingungan.
"Aku juga tidak terlalu yakin" lagi-lagi Gaara memberikan jawaban yang membuat bingung semua orang.
"Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Gaara berbalik memandang Shikamaru yang duduk bersandar di kursi kayu tempatnya biasa tertidur sambil duduk.
"Tentu saja. Aku bukan tipe orang yang malas dalam hal seperti ini"
'Ah, sial. Aku sudah tidak punya alasan' batin Gaara.
"Kalau kau tidak keberatan aku ingin meminta tolong kau mencarikan sesuatu untukku" kata Gaara memutar tubuhnya berhadapan dengan Shikamaru.
"Apa lagi? Aku pikir semuanya sudah lengkap" kata Shikamaru tak merasa kekurangan apapun.
"Aku butuh semacam alat-"
"Baiklah, baiklah, aku mengerti. Kirimkan aku detail barangnya sekalian tempat dimana aku bisa mendapatkannya. Bersamamu berlama-lama membuatku mengantuk saja. Aku pergi" kata Shikamaru meninggalkan apartemen Gaara.
'Aku pikir aku tidak membodohinya. Ia sengaja menurutiku' batin Gaara melihat Shikamaru menutup pintu apartemennya.
'Dasar bodoh. Dia pikir bisa membodohiku dengan cara seperti ini. Selalu saja melakukan sesuatu sendirian' batin Shikamaru menuju basement tempatnya memarkirkan mobil kesayangannya.
Gaara kembali ke hadapan komputernya dan berkutat dengan rangkaian kabel yang saling terhubung menuju ke suatu ruangan, Shikamaru mengemudikan mobilnya menuju batas kota tempat barang yang diperlukan berada.
"Kau sengaja kan? Dasar gila" kata Shikamaru menggeleng pelan saat membaca pesan dari Gaara. Pesan yang berisi detail alat dan tempat untuk mendapatkannya. Tempat yang lumayan jauh.
Laboratorium Konoha High School pun masih belum tidur saat jam tak lama lagi menuju pergantian hari. Shino hanya menyalakan beberapa lampu di laboratorium agar tak terlalu menarik perhatian. Meskipun ia sudah mendapat izin, ia tidak menginginkan adanya gangguan sekecil apapun. Penjaga sekolah, misalnya.
"Dia pikir hanya dia yang bisa melakukan segala sesuatunya dengan hebat dan keren. Aku, keturunan Aburame pun bisa melakukan hal yang sama" kata Shino menyemangati dirinya sambil berkutat dengan berbagai gelas reaksi berisi aneka warna cairan kimia.
Lain halnya dengan Sai yang harus terjebak di rumah keluarga Ino.
"Oh, jadi ini pacarnya keponakan Tante. Ganteng yah.." puji tante Ino pada Sai saat Ino memperkenalkan Sai sebagai kekasihnya.
"Mau mandi, ganti baju, atau makan dulu?" tanya Ino pada Sai yang pertama kali berkunjung ke rumah keluarga Ino.
"Aku rasa makan saja, aku harus mengerjakan sesuatu" jawab Sai mengingat pesan yang dikirim oleh Gaara padanya.
'Kerjakan dengan baik. Yang kau perlukan sudah ku kirim di emalmu –Gr-
"Mengerjakan apa? Apa kau punya tugas untuk besok?" tanya Ino yang berencana menghabiskan malam ini bersama Sai, entah itu sekedar menonton, bercerita atau diajari menggambar.
"Maaf ya, Sayang" kata Sai sambil mencium kening Ino.
Setelah makan malam, Ino dan Sai beralih ke ruang keluarga untuk menonton acara TV. Tepatnya, hanya Ino yang menonton TV sedangkan Sai yang berada agak jauh terlihat sibuk dengan Macbook di hadapannya.
Rambut hitamnya yang selalu rapi kini terlihat sedikit berantakan, dasinya yang terbiasa menggantung manis kini ia longgarkan dan hal yang paling menarik perhatian Ino adalah wajah Sai yang selalu dihiasi senyum kini berubah drastis menjadi wajah yang begitu serius.
"Jangan terlalu lama memandang. Nanti kau bisa makin jatuh cinta. Itu bukan salahku ya" ucap Sai tanpa mengalihkan perhatiannya dari Macbook di hadapannya.
"Isshhh.. kepedean. Cepat selesaikan. Akan ku temani sampai kau selesai" kata Ino memeluk boneka beruangnya sambil menonton acara gosip kesukannya.
Waktu semakin berlalu. Sai semakin bersemangat tapi Ino yang akan menunggunya sampai selesai kini sudah tertidur.
Sebelum melanjutkan mengerjakan pekerjaan dari Gaara, Sai mengambilkan selimut untuk menutupi tubuh Ino yang hanya dibalut baju tidur motif stroberi yang tipis.
"Oyasumi"
Tak ketinggalan Uchiha Sasuke yang merasa acara makan malamnya sedikit berantakan. Makan malam kali ini bukan hanya sekedar makan bersama Kakaknya yang rutin ia lakukan setiap sebulan sekali. Makan malam kali ini dihadiri oleh utusan relasi perusahaan yang bekerja sama dengan Uchiha.
'ck. Merepotkan saja' batin Sasuke setelah membaca pesan masuk dari Gaara.
"Hey, tidak sopan memeriksa ponsel saat sedang makan seperti ini" tegur Uchiha Itachi pada adiknya yang duduk disampingnya.
"Iya, iya. Aku mengerti" balas Sasuke ketus.
"Apa yang mengganggumu?" bisik Itachi.
"Aku butuh bantuan Kakak"
.
.
.
Ting...tong...
Ting...tong...
Pukul 2 pagi.
Bel apartemen Hinata baru saja berbunyi.
"Nghh.. Apa itu Sasuke?" Hinata bangun dari tidurnya dan mengucek matanya yang sedikit bengkak.
"Tapi katanya ia menginap di apartemen Kakaknya" kata Hinata melangkah mendekati pintu apartemennya.
Rasa takut sedikit menghampiri Hinata, tidak biasanya apartemennya kedatangan tamu di jam seperti ini.
"Mungkin saja, Shikamaru, atau Shino atau Gaara butuh sesuatu"
Ada seseorang yang lupa Hinata sebutkan namanya. Seseorang yang sangat membutuhkan sesuatu darinya.
"Konbanwa..."
"Ha? Kau mengagetkanku" kata Hinata menenangkan dirinya setelah terkejut oleh ucapan selamat malam yang diberikan Sasori.
"Belum tidur?" tanya Sasori dengan tatapan mata yang dingin.
"Be-belum. A-aku mendengar, i-itu, ja-jadi a-aku.." kata Hinata terbata-bata saat ia merasakan aura Sasori tak lagi sama dengan Sasori yang ia kenal sebelum malam ini.
"Kau tahu..." kata Sasori menahan pintu apartemen Hinata untuk mencegah Hinata segera menutup pintu jika ia mulai melakukan aksinya.
"A-apa?" tanya Hinata memundurkan langkahnya.
"Aku..." Sasori menggantung kata-katanya seraya memasukkan tangan kanannya ke saku jaket hitamnya. Saku tempat ia menyimpan cutter tertajam yang ia miliki. Cutter yang sengaja ia siapkan untuk pelengkap boneka lilinnya.
"Ingin..." Ibu jari Sasori mulai menarik cutternya.
'meeeonnnnggg...~'
"Eh..?" Sasori terjekut. Ia memundurkan langkahnya menjauhi pintu apartemen Hinata. Tangan kiri yang tadinya ia gunakan untuk menahan pintu apartemen pun ia lepaskan.
Kucing pemberian Sasuke menghampiri Hinata yang berada di depan pintu apartemen. Sebelum tidur, Hinata memutuskan untuk mengeluarkan Hime-chan dari kandangnya. Bagaimanapun, Hinata harus mencoba berdamai dengan pemberian imut dari Sasuke.
"Hime-chan?" Hinata tak menyangka kucingnya menghampirinya.
"Ku-kucing yang manis" kata Sasori sambil tersenyum.
"Sou ka? Ini pemberian dari Sasuke" kata Hinata senang meskipun ia masih menggeser posisinya saat kucing imut tersebut mendekatinya.
'Yokatta, akhirnya dia tersenyum. Tadi itu dia sangat menakutkan' batin Hinata merasa baikan.
"Jadi, kenapa malam-malam begini menekan bel apartemenku?" tanya Hinata ramah.
"Aku hanya ingin meminjam gunting. Aku lupa dimana menyimpan guntingku" kata Sasori bohong.
"Sebentar ya" kata Hinata masuk ke dalam apartemennya mencarikan gunting untuk Sasori.
Sasori diam tak bergeming di depan pintu apartemen Hinata. Seharusnnya saat ini ia sudah menyusul Hinata masuk ke dalam apartemen. Membunuhnya lalu mengambil rambutnya.
Selesai.
Tapi...
Kucing persia yang tertidur di depan pintu benar-benar menghalangi niat Sasori. Pengalaman masa kecilnya yang pernah terluka oleh serangan kucing yang terkena virus berbahaya benar-benar membuatnya trauma.
'Gaara sialan. Jangan panggil aku Sasori jika aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan dan aku bersumpah akan melenyapkan apa saja yang menghalangi jalanku' batin Sasori penuh amarah.
"Ini guntingnya" kata Hinata memberikan gunting pada Sasori.
"Sankyuu" Sasori cepat-cepat mengambil gunting tersebut lalu kembali ke apartemennya.
Hinata menutup kembali pintu apartemennya. Ia sedikit lega, ternyata kedatangan Sasori hanya untuk meminjam gunting.
Ting...tong...
Belum sempat Hinata menyelimuti dirinya dengan selimut hangatnya, bel apartemennya kembali ditekan oleh seseorang.
Hinata berdiam diri, ia berniat mengabaikan orang yang menekan bel apartemennya.
Ting...tong...
Entah apa yang harus Hinata lakukan. Bisa saja itu Sasori yang masih memerlukan sesuatu tapi ia terlalu takut untuk membuka pintu apartemennya.
"Bagaiamana pun, tersenyum seperti apapun. Malam ini dia benar-benar berbeda. Aku takut" kata Hinata gemetar sambil memeluk bantal gulingnya.
Ting..tong..
Ting...tong..ting..tong...ting..tong...
Ting...tong..ting...toonnng...
Ting...tong..ting...toonnng...
Bel ditekan secara beruntun.
"Kenapa lama sekali" tanya Sasori saat mendapati Hinata membuka pintu apartemennya.
"A-aku di- di kamar mandi" jawab Hinata berbohong.
"Bukankah kau pernah berkata jika aku membutuhkan sesuatu untuk bonekaku, aku bisa memanggilmu?" tanya Sasori memasang wajah ramah.
"Ta-tapi sekarang sudah larut malam" kata Hinata berusaha mengelak.
"Aku membutuhkan bantuanmu sekarang. Aku harus menyelesaikannya malam ini. Festival boneka lilin akan diadakan besok. Aku mohon" minta Sasori dengan wajah memelas andalannya.
"Ba-baiklah tapi kucingku..."Hinata berbalik memandang kucing mungilnya yang sedang tertidur di sofa.
"Tidak apa. Biar aku yang membawanya. Dari gerak gerikmu kau terlihat tak menyukai kucing" Sasori menebak dengan tepat sekali.
"Tidak! Aku menyukainya" Hinata membantah. Dalam pikirannya, ia tidak ingin Sasori memberi tahu Sasuke bahwa ia tidak menyukai kucing pemberiannya.
"Baiklah. Sepertinya kau memang sangat menyayangi Sasuke. Kau duluan saja ke apartemenku. Pintunya tidak tertutup, biar aku yang menggendong kucingmu. Kucing seperti itu biasanya bulunya rontok. Aku tidak ingin apapun mengotorimu" kata Sasori menelan paksa ludahnya saat memandang benda berbulu yang menyisakan ketakutan dalam dirinya.
"A-aku mengerti" Hinata. Gadis yang benar-benar tidak mengerti situasi berjalan dengan tenang menuju ke apartemen nomor 20. Apartemen dimana segala kegilaan dianggap sebuah hal yang normal.
Hinata menghilang di balik pintu apartemen 20 sama halnya Sasori yang menghilang di balik pintu apartemen nomor 13.
Kaki putihnya tanpa alas kaki berjalan perlahan menghampiri kucing putih yang tertidur nyaman di sofa.
"Apa kau pikir bisa menghentikanku dengan menghadapkanku dengan ketakutanku?" tanya Sasori seolah Gaara bisa mendengarnya. Tangan kanannya mengeluarkan benda berwarna hitam yang begitu mengkilat.
"Aku...bukan anak kecil yang dulu kau kenal" tangan Sasori bergetar memegang pistol yang kini ada di tangannya.
Ingatannya kembali ke masa dimana ia sendirian di jalanan di tengah malam yang gelap. Hujan membasahi tubuh mungilnya , bibirnya bergetar menahan dingin yang menguasainya dan tak lama kemudian beberapa ekor kucing menyerangnya. Mencakarnya, menggigitnya, dan hal itu sangat menyakitkan bagi Sasori.
Bukan sakit pada tubuhnya yang membuat pandangan matanya buram oleh air mata. Melainkan rasa sakit di hatinya. Malam itu, ia kembali menjadi orang yang disalahkan atas hal buruk yang terjadi di tengah keluarganya. Hal buruk yang ia sendiri pun tak menginginkannya.
"Su-sudah lama aku ingin melakukan hal ini" kata Sasori mengarahkan tangan gemetarnya yang menggenggam pistol kedap suara pada seekor kucing tak bersalah yang ada di hadapannya.
Shoouuffftttt...
Tembakan pertama. Tepat mengenai perut sang kucing. Darah mengalir deras keluar dari perut kucing tersebut, terlihat begitu kontras dengan bulu putihnya yang begitu lembut.
Shoouuffftttt...
Tembakan kedua. Tepat ke bagian kepala.
Segalanya berakhir.
"Sudah ku bilang kan? Segala yang menghalangiku akan lenyap"
Sasori kembali ke apartemennya tempat Hinata menunggunya untuk memberikan bantuan yang ia minta.
"Maaf membuatmu menunggu lama" Sasori menyapa Hinata setelah ia meletakkan jaket hitamnya yang berisi senjata yang baru saja mengakhiri nyawa makhluk mungil yang begitu berharga bagi Hinata.
.
.
.
TBC
.
.
.
Kika merasa bersalah banget up-nya lama, *basilo*
Karenanya Kika mengharapkan ampunan kalian setelah Kika UP 2 Chap sekaligus.
RnR dulu sebelum next chap yeaaaa~
