Disclaimer © Masashi Kishimoto

This fic is mine

Rated © M

Warning © Ide pasaran, overdosis OOC, alur gak jelas, typo berkeliaran.

Summary © Sebuah kisah di lantai 13 Apartemen Akatsuki.

Note © Kelas XI.1 (U. Sasuke, Sai, U. Naruto, Karin)

Kelas XI.5 (H. Hinata, H. Sakura, Matsuri, S. Gaara, A. Sasori, N. Shikamaru, I. Kiba, A. Shino, Shion)

.

Bloody 13

Chapter 8

.

.

.

Sasori kembali ke apartemennya tempat Hinata menunggunya untuk memberikan bantuan yang ia minta.

"Maaf membuatmu menunggu lama" Sasori menyapa Hinata setelah ia meletakkan jaket hitamnya yang berisi senjata yang baru saja mengakhiri nyawa makhluk mungil yang begitu berharga bagi Hinata.

"Tidak masalah tapi kucingku-" balas Hinata tersenyum dan menanyakan keberadaan kucingnya.

"Kau tahu? Ini akan memakan waktu yang lama" kata Sasori melangkahkan kakinya menghampiri Hinata yang berdiri tak jauh dari boneka lilinnya yang masih tertutup oleh kain putih.

"Aku akan disini sampai kau menyelesaikan bonekamu. Lagi pula besok kan hari minggu. Kita libur sekolah" kata Hinata berbalik memandang kain putih penutup boneka yang melambai tertiup angin.

"Bisa kau mengirim pesan pada Sasuke bahwa besok pagi kau harus ke rumah keluargamu?" tanya Sasori dengan nada suara pelan sambil memilih cutter yang akan ia gunakan.

"Untuk apa?" tanya Hinata menggenggam erat iPhonenya.

"Aku tidak ingin Sasuke mengkhawatirkanmu dan aku tidak suka gangguan" kata Sasori setelah memutuskan akan menggunakan cutter yang tadi ia bawa ke apartemen Hinata.

Hinata patuh saja. Ia merasa melakukan kesalahan besar saat memutuskan untuk membuka pintu apartemennya. Di tambah lagi, ia seharusnya tidak berada di tempat seperti ini.

"Sudah ku lakukan" kata Hinata menunjukkan pesan yang baru saja ia kirim ke Sasuke.

"Baguslah... ayo, kita mulai" kata Sasori mendekati Hinata dan memandang wajah Hinata lekat-lekat.

"Kau terlalu dek-"

"Shhhttt..." Sasori menangkap tangan Hinata yang akan mendorongnya.

"Bukankah kita akan menyelesaikan bonekamu? Lebih baik kita-"

"Kau tahu? Cutter ini yang akan menyelesaikan bonekaku" kata Sasori penuh penekanan sambil menyentuhkan cutter tajamnya pada wajah Hinata.

Hinata semakin terpaku tak mampu bergerak. Bernafas pun sangat sulit ia lakukan saat cutter tajam nan mengkilat itu menyentuh wajahnya. Terasa begitu dingin. Belum lagi Sasori yang begitu dekat dengannya. Aroma parfum yang begitu wangi tapi sangat berbeda dengan wangi Sasuke yang penuh dengan keamanan dan kenyamanan. Aroma Sasori penuh terasa penuh ancaman baginya.

'Apa yang ku lakukan disini...!' jerit Hinata pada dirinya sendiri.

"Hentikan, Sasori. Kau gila..!" maki Hinata pada Sasori yang tak melepaskan pandangannya pada matanya.

"Anggap saja begitu. Pertama kali aku melihatmu, aku begitu menyukai warna yang satu ini..." Sasori mengalihkan tangannya untuk menyentuh rambut panjang Hinata.

'Apa ini yang dimaksud Gaara dengan seseorang yang terobsesi dengan rambut panjang?' Hinata semakin ketakutan. Tak sadar ia terus melangkah ke belakang, akhirnya ia terjebak diantara dinding dan tubuh Sasori.

"Aku telah memiliki yang merah. Aku juga memiliki yang pirang. Tapi, aku belum memiliki warna yang satu ini" kata Sasori mengambil sebagian rambut Hinata untuk kemudian ia hirup aromanya.

"Me-merah? Pirang? Apa kau orang yang mereka bicarakan itu?" Hinata memberanikan diri bersuara.

"Hahaha... apa mereka selalu membicarakanku? Aku akan membuat seluruh dunia membicarakanku dengan boneka lilin terbaik sepanjang masa yang akan aku ciptakan" kata Sasori menarik rambut Hinata.

"Ayo kita mulai, manis.."

Hinata menutup matanya saat Sasori semakin merapatkan dirinya. Telinga Hinata tak lagi mampu mendengar kata yang terucap oleh bibir tipis Sasori. Tangannya berusaha meronta menghalangi benda tajam yang akan melukainya. Gadis mungil itu benar-benar ketakutan.

Udara yang begitu dingin.

Ruangan yang hanya disinari lampu tidur.

Gelap.

Craaannngggg...

Hinata berusaha menghindar dan menyenggol sebuah mangkuk kaca.

"Sa-sasori..."

Selesai.

Sasori mendapatkan apa yang ia inginkan tapi entah mengapa ia hanya memandang kosong pada rambut indigo panjang yang ada di genggaman tangannya.

Sementara itu, Hinata...

Ia memejamkan matanya setelah mengeluarkan air mata terakhirnya malam ini.

.

.

.

Pukul 4 pagi.

Seorang pemuda berjalan menyusuri setiap meter apartemen Akatsuki menuju basement tempat ia memarkirkan mobil box yang telah ia siapkan beberapa hari sebelumnya. Mata coklatnya yang biasa bercahaya dan menatap tajam kini tampak sedikit sayu.

Pemuda siswa kelas XI Konoha High School itu tak berjalan sendiri, ia ditemani dengan sebuah peti yang cukup untuk memuat satu orang. Ia memilih suatu tempat untuk menyelesaikan bonekanya. Ia tak ingin pandangan matanya terganggu oleh seorang gadis yang berlumuran cairan berwarna saat ia tengah menyempurnakan sentuhan terakhir pada maha karyanya.

Sasori, meninggalkan apartemen Akatsuki nomor 20 dengan seorang gadis yang tergeletak tak berdaya di kasurnya.

.

.

.

Mall terbesar dan paling bergengsi di Konona kini tak hanya ramai oleh mereka yang ingin belanja atau sekedar ingin menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga, namun juga ramai oleh orang-orang dari kalangan eksklusif yang mendapat undangan VIP untuk menghadiri festival boneka lilin berskala internasional ini.

Seluruh lantai dasar Konoha Mall dipasangi garis pembatas untuk acara besar ini. Kursi-kursi tertata rapi dan panggung besar nan mewah di depan sana tempat beberapa peti yang masih tertutup berjejer dengan rapi.

Isi dari peti-peti elegan tersebut sangat bisa dipastikan. Yap, apalagi kalau bukan boneka-boneka lilin karya dari mereka yang begitu mencintai keindahan dan menjunjung tinggi kegigihan dan kerja keras.

Barisan kursi paling depan adalah peserta lomba dan barisan kursi di belakangnya adalah undangan VIP.

Tak hanya mahakarya boneka lilin yang akan dipamerkan. Ada begitu banyak stan-stan yang disediakan untuk menghibur pengunjung yang tidak termasuk tamu undangan. Misalnya, rumah hantu, stan pakaian cosplay, stan makanan, games dan masih banyak lagi.

"Oeh, mana yang lain" kata Sasuke menghampiri Shikamaru yang duduk tak jauh dari lokasi pameran. Shikamaru memilih menunggu di food court untuk mengisi perutnya sambil menunggu saat yang tepat untuk melakukan pekerjaannya.

"Lebih baik kau makan dulu" kata Shikamaru sambil menaikkan tangannya memanggil seorang pelayan.

"Aku jus tomat saja" kata Sasuke masih mengedarkan pandangannya dengan gelisah.

Shikamaru terlihat berbicara dengan pelayan dan ditanggapi dengan anggukan oleh pelayan tersebut. Gampang saja, Shikamaru memesankan jus tomat untuk Sasuke dan meminta tambahan makanan untuk dirinya.

"Hinata mana?" tanya Sasuke pada Shikamaru.

Shikamaru meletakkan sendoknya, ia menelan paksa makanan yang ada di dalam mulutnya dengan meminum jus buah naga favoritnya.

"Kenapa?" tanya Sasuke heran melihat reaksi Shikamaru yang tidak biasanya terlihat bodoh. Shikamaru tampak kaget dan sedikit membulatkan mata.

"Kenapa kau bertanya hal itu padaku?" tanya Shikamaru panik.

"Sekitar pukul 3 pagi ia mengirimkan pesan padaku. Katanya ia akan ke rumah keluarganya" jawab Sasuke sambil memandang iPhonenya.

"Gaara mana?" tanya Shikamaru kebingungan. Ia merasa telah melewatkan beberapa momen yang seharusnya tidak boleh ia lewatkan atau lebih tepatnya momen yang seharusnya tidak terjadi.

"Mungkin sedang berada... ah, aku tidak tahu" kata Sasuke menggeleng ragu

"Sai mana?" kini giliran Sasuke yang bertanya.

"Ada di belakang panggung" jawab Shikamaru mengarahkan pandangannya pada panggung dengan dekorasi yang sangat megah.

"Ha? Di belakang panggung?" gumam Sasuke bingung.

"Hei, apa kau melihat Sasori?" tanya Sasuke sambil mendekatkan tubuhnya pada Shikamaru.

"Iya, dia ada di barisan peserta. Dia mengenakan jas hitam dan kemeja abu-abu kotak-kotak" ucap Shikamaru sedikit berbisik.

"Kalau dia berada disini berarti apa dia telah menyelesaikan bonekanya?" kata Sasuke memberikan pertanyaan untuk memastikan.

"Tepat. Tadi pagi beberapa kru membantu mengangkat peti bonekanya" kata Shikamaru memperhatikan area pameran.

"Aku jadi semakin bingung. Menurut Gaara, Sasori tidak akan menyelesaikan bonekanya jika ia tidak mendapatkan Hinata tapi tadi pagi pukul 3 Hinata masih mengirimiku pesan. Apa mungkin ia memutuskan untuk memilih gadis lain?" tanya Sasuke pada dirinya sendiri.

"Lebih baik kau pakai ini dan tunggu di tempat yang diinstruksikan oleh Sai" kata Shikamaru memberikan alat komunikasi sejeneis earphone kepada Sasuke.

"Aku mengerti"

Acara telah di mulai.

Sambutan-sambutan telah diberikan oleh pihak-pihak yang terlibat langsung dengan pagelaran akbar ini. Misalnya, Ketua Pania, Penanggung Jawab dan sebagainya.

Acara dibuka oleh tarian, drama musikal dan paduan suara. Semua orang terlihat begitu menikmati pementasan yang terlihat begitu profesional.

"Hei, Nagato. Kabel kamera 1 sepertinya terjepit" perintah seseorang yang mengenakan pakaian kru.

"Aku mengerti" kata Sai yang sekarang di panggil Nagato. Ya, pemuda itu terjebak oleh keadaan dan ia tengah mengenakan pakaian kru dan name tag atas nama Nagato.

Salahkah Shikamaru untuk semua ini.

Shikamaru memeriksa semua data kru dan menemukan bahwa salah satu kru bernama Nagato berhalangan hadir. Oleh karena itu, ia membajak seluruh data tentang Nagato dan menggantinya dengan data Sai, termasuk foto, sidik jari dan sebagainya.

'Aku harap semuanya berhasil. Aku tidak ingin buang tenaga sia-sia disini' batin Sai merapikan kabel yang saling bertautan.

Tibalah pada saat yang ditunggu-tunggu.

Saat dimana peti berisi boneka lilin akan dibuka satu per satu dan peserta lomba akan mempresentasikan hasil karyanya.

Ada begitu banyak figure boneka lilin. Mulai dari figure mistis, pemimpin negara zaman perang, dewa dan sebagainya.

"Acaranya dimulai" kata Shikamaru menekan benda kecil yang tertempel di telinganya.

'Jangan sampai terlewat' sahut seseorang di balik alat komuniasi tersebut.

"Kau dimana, sialan?" tanya Sai yang juga sedang terhubung.

'Aku mengandalkan kalian'

Tit.

Sasuke hanya menyimak. Dia sudah hafal betul dengan kebingungan semacam ini. Tak banyak yang ia ingin tanyakan, ia hanya ingin bertanya tentang keadaan Hinata. Meskipun ia telah menerima pesan, ia tetap saja khawatir. Belum lagi, saat di telpon Hinata tak mengangkat panggilannya.

"Berikutnya, mari kita sambut peserta terakhir kita, sekaligus peserta termuda di ajang bergengsi ini...Akasuna Sasori"

'Ini diaa...' batin Sai, Shikamaru, Gaara dan Shino hampir bersamaan.

"Terima kasih. Perkenalkan, aku Akasuna Sasori. Biasa dipanggil Sasori. Aku masih seorang pelajar di Konoha High School...aku membuat boneka ini-"

Sasori menghentikan kata-katanya saat matanya silau oleh cahaya proyektor. Pemuda berambut merah itu mundur beberapa langkah untuk melihat apa kiranya yang tersorot.

Ternyata... rekaman video saat ia sedang mengerjakan proyek bonekanya.

"Bagus, Sai..." puji seseorang di balik alat komunikasi.

"Tentu saja" balas Sai tersenyum sambil mengoperasikan proyektor yang menampilkan video Sasori saat membuat bonekanya.

Sasori meletakkan mic-nya.

Ia mengedarkan pandangannya mencari siapa pelaku dari semua ini. Matanya terlihat begitu panik dan Sasori tampak menelan paksa ludahnya berkali-kali. Ia tidak menyangka ternyata kegiatannya selama ini dipantau oleh seseorang.

'Sejak kapan dia masuk?' batin Sasori panik.

Beberapa frame video terlewat. Ada yang mengganggu Sasori. Gambar yang diperlihatkan hanyalah gambar saat ia mengerjakan bonekanya dengan normal. Tak ada adegan menyeret-nyeret mayat perempuan, tak ada adegan membuat relief di dinding apartemennya menggunakan mayat yang kemudian ia lapisi dengan semen.

Semuanya terlihat normal dan penuh kerja keras. Sasori yang mulai mengecat, membuat campuran lilin dan berbagai zat kimia, Sasori yang tertidur di tengah-tengah kegiatannya dan Sasori yang mengerjakan tugas sekolahnya tak jauh dari proyek bonekanya.

'Apa dia hanya menayangkan ini? Apa dia menantangku?' batin Sasori berusaha menyembunyikan kepanikannya.

Dan hal terakhir yang membuat Sasori nyaris menitikkan air mata adalah foto seorang perempuan cantik yang tengah tersenyum lembut dan terkesan begitu hangat.

Foto ibu Sasori.

Seseorang yang tak sempat ia lihat. Tak sempat ia rasakan pelukannya dan seseorang yang tak sempat ia lihat senyumnya. Sekaligus, seseorang yang membuat terus disalahkan oleh keluarganya.

"Jadi ini apartemennya" Sasuke tak sadar ia berbicara sendiri saat menyaksikan video yang sedang terputar.

"Dia benar-benar melakukannya dengan baik" Shikamaru pun bersuara.

"Jangan lengah. Tetap perhatikan segala sesuatunya"

"Iya, brengsek" ucap Sasuke, Shikamaru dan Sai bersamaan.

Video pun berakhir.

Prok...prok...prokk...

Tepuk tangan begitu meriah menggelegar di seluruh ruangan bersamaan dengan berakhirnya video Sasori. Seluruh undangan yang duduk merasa tak sempurna jika mereka tidak berdiri sambil bertepuk tangan. Mereka begitu kagum kepada anak muda yang mengerjakan proyeknya dengan sungguh-sungguh namun tak melupakan kewajibannya sebagai seorang pelajar.

Jika peserta lain harus berbicara menceritakan kerja keras dan pengalamannya selama membuat boneka, maka Sasori hanya perlu diam dan membiarkan rekaman video yang menceritakan segalanya.

Terakhir.

Saat yang paling mendebarkan.

Saat dimana peti berisi boneka milik Sasori dibuka.

Peti tersebut terbuka sepenuhnya.

Memperlihatkan boneka lilin yang mengenakan gaun putih yang begitu indah, gaun yang memperlihatkan bahu putih seorang perempuan dewasa. Seluruh garis wajah dan garis tubuhnya tampak sempurna. Boneka cantik tersebut memiliki bola mata yang begitu indah, berwarna hitam dan tampak berkilauan, hidung yang mungil dan bibir ranum yang terlihat basah.

Lalu, hal yang paling menarik perhatian adalah...

"Sugeee, rambutnya berwarna warni.." gumam seorang tamu undangan.

"Cantik sekali. Bergerak sedikit boneka itu sudah bukan boneka lagi. Benar-benar nyata" puji seorang tamu undangan lainnya.

Rambut boneka milik Sasori tampak begitu kontras diantara rambut boneka-boneka lainnya yang hanya memiliki satu warna rambut.

Rambut hitam, merah, pirang dan...

Ungu.

"UNGU..?" Teriak Sasuke, Shikamaru dan Sai bersamaan.

"Halo...halo...Gaara, kau mendengarku kan? Hey, Hey, bagaimana bisa dia mendapatkan rambut berwarna ungu..." Sasuke langsung panik. Ia menekan alat komunikasi yang ada di telinganya kemudian berbicara membabi buta.

"Shikamaru, Sai...!" panggil Sasuke.

"Aku tidak tahu hal itu. Yang aku tahu, aku harus menayangkan video ini dan memasang kamera pengintai di beberapa sudut" Sai menjelaskan tugasnya pada Sasuke.

"Aku meminta beberapa anggota polisi untuk menyamar dan membawa Sasori ke suatu tempat setelah acara berakhir. Sisanya, aku tidak mengerti" Shikamaru pun merasa heran. Perasaannya benar. Ia telah melewatkan momen.

"Selanjutnya bagaimana?" tanya Sai.

"Penilaian dan pemberian hadiah. Setelah itu minta Sasuke untuk menyiapkan supir serta limousinnya" kata Gaara mengintruksi.

"Tenanglah, Sasuke. Semuanya akan segera berakhir!" Gaara menegaskan suaranya.

"Tapi aku tidak bisa-"

"Berdasarkan penilaian dan pertimbangan dari Dewan Juri, pemenang dari lomba ini adalah.."

"Peserta termuda kita"

"Akasuna Sasori..."

Prok...prok...prok...

Tepukan tangan meriah kembali menggema saat pengumuman nama pemenang telah diumumkan.

"Sudah ku duga. Dia akan menang. Awasi dia. Setelah ini dia berencana langsung terbang ke luar negeri dengan hadiah yang akan ia terima" Gaara kembali memberikan instruksi. Gampang saja Gaara mengetahui segala sesuatu yang terjadi di lokasi pameran. Sai tidak sia-sia datang pagi-pagi untuk memasang kamera penyadap di berbagai titik.

Beberapa orang penting di acara ini memberikan buket bunga kepada Sasori sebagai pemenang. Hadiah, kemewahan dan nama yang dikenal adalah kebanggaan kedua bagi Sasori. Kebanggaan yang paling ia rasakan adalah ketika boneka buatannya mendapat penghargaan dari semua orang dan dibicarakan oleh banyak orang.

"Cek..cek..cek... "seorang lelaki paruh baya mengambil mic dan meredam semua suara kegaduhan yang terdengar. Sasori pun mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa kiranya pemilik suara berat itu.

"Aku Shikaku. Pemilik perusahaan majalah terbesar di negeri ini. Sebelumnya, penanggung jawab acara ini memandatangani perjanjian denganku. Aku dan majalahku akan menjadi yang pertama mengeluarkan artikel internasional mengenai pemenang event ini" kata lelaki tinggi besar bernama Shikaku.

"Arigatou" kata Sasori membungkuk.

'Lihat...seluruh dunia akan membicarakanku saat aku menghilang nantinya'

Shikaku memimpin jalan melewati karpet merah menuju limousin hitam mengkilat menunggu mereka di depan pintu keluar mall diikuti oleh Sasori dan beberapa orang lelaki berseragam serba hitam.

"Silahkan masuk" kata seorang supir yang belakangan diketahui bekerja sebagai supir keluarga Uchiha. Lebih tepatnya supir pribadi Itachi. Berterimakasihlah pada Sasuke yang memiliki Itachi sebagai kakaknya untuk hal yang satu ini, Kakak yang memiliki segalanya

"Mereka sudah berangkat" kata Shikamaru memberikan informasi.

"Baiklah, kalian segera menyusul"

"Hinata, bagaimana dengannya?" lagi. Pertanyaan ini keluar dari mulut Sasuke.

"Maafkan aku Sasuke. Ada hal yang lebih penting yang harus ku lakukan"

.

.

.

Limousin hitam nan mewah berjalan dengan kecepatan 60 km/jam menyusuri jalan aspal Konoha menuju suatu tempat untuk mewawancarai Sasori yang keluar sebagai pemenang lomba.

"Selamat ya. Kau pantas mendapatkannya setelah semua kerja kerasmu. Kau juga memberikan presentasi yang menarik tentang ilustrasi kerjamu selama mengerjakan proyek bonekamu" kata Shikaku memulai pembicaraan.

"Terima kasih, Pak" jawab Sasori sambil tersenyum.

"Gaara. Apa maksudmu melakukan ini semua. Bagaimana kau bisa mendapatkan video itu. Kapan kau memasuki apartemenku. Kau pasti melihat semua yang telah ku lakukan. Mengapa kau tidak menayangkan semuanya. Apa kau menantangku? Apa kau ingin menakutiku?" Sasori tak habis pikir.

"Apa yang akan Shikamaru lakukan. Semoga aku tidak terlibat dalam permainan anak kecil" batin Shikaku yang merasa dipermainkan oleh anaknya saat ia diminta untuk berpura-pura menjadi pemilik perusahaan majalah.

"Pak, aku tidak memiliki banyak waktu untuk ini. Aku punya sedikit urusan" kata Sasori yang mengingat jadwal keberangkatan pesawatnya ke Itali tidak lama lagi.

.

.

.

20 menit menyusuri jalanan Konoha, akhirnya limousin yang dikendarai oleh Shikaku dan Sasori menepi di sebuah basement salah satu apartemen termewah di Konoha. apartemen Hidden Village.

"Lewat sini..." kata Shikaku menunjukkan jalan.

Lantai 35 kamar 2008.

Shikaku menekan password apartemen tersebut dan membukanya. Shikaku berjalan masuk diikuti dengan Sasori dan dua orang berpakaian hitam yang entah muncul dari mana ikut masuk ke dalam apartemen.

Sasori sedikit terkejut saat ia melangkahkan kaki lebih dalam dan mendapati sebuah foto keluarga dengan ukuran besar yang terpajang di dinding apartemen. Hal yang membuat Sasori terkejut adalah salah satu wajah di dalam foto keluarga tersebut tak asing baginya. Tepatnya, ia mengenalnya.

"Sasuke..."

Lagi. Terima kasih kepada Sasuke yang memiliki Itachi. Tugas Sasuke adalah menyiapkan limousin beserta supirnya dan menyiapkan markas rahasia yang cukup mewah. Akhirnya, Sasuke memutuskan untuk meminjam apartemen Itachi yang sedang ke Filiphina.

"Selamat atas kemenanganmu, Sasori" kata Gaara angkuh tersenyum sinis kepada Sasori.

"Apa yang-" Sasori memutar tubuhnya untuk memastikan apa yang terjadi. Benar saja, di depan pintu apartemen telah berjaga dua orang lengkap dengan senjatanya.

"Perkenalkan. Dia Nara Shikaku. Kepala inspektur kepolisian Konoha yang identitasnya tak pernah dipublikasikan. Kasihan sekali kau tidak mengenali wajahnya" Gaara membakar rokoknya sambil melihat ke arah Shikaku.

"Nara?" Sasori membeo.

"Ayahnya Shikamaru" sambung Shino yang muncul dari salah satu sudut ruangan.

"Selamat datang di apartemen Uchiha Itachi" Sasuke memasuki apartemen masih menggunakan kaos kru lengkap dengan name tag-nya. Diikuti Sai dan Shikamaru di belakangnya dan sebuah peti berisi boneka Sasori yang diangkut oleh 4 orang anggota kepolisian.

"Duduklah, Sasori. Kau tidak akan bisa lari dari tempat ini" kata Shikamaru berlalu melewati Sasori. Shikamaru berdiri di samping Gaara menatap tajam pada Sasori.

"Langsung saja. Kau akan ditahan atas pembunuhan berantai dan pemerkosaan yang kau lakukan" kata Gaara menunjuk langsung tepat di depan wajah Sasori.

"Jangan gila" kata Sasori santai sambil duduk di kursi yang sudah disiapkan.

"Karin, Shion, dan beberapa orang sebelumnya" Shikamaru mengambil alih pembicaraan.

"Karin. Aku bersama Sasuke menemukan seragam Karin di tong sampah yang kau tinggalkan. Seragam itu ada di plastik hitam itu" tunjuk Sasori pada kantong plastik berwarna hitam yang berada diatas meja.

"Lalu, soal CCTV yang mati selama 30 menit. Sebenarnya kau tidak mematikannya, kau hanya menggantinya dengan pemandangan apartemen beberapa hari yang lalu yang bisa dengan gampang kau kendalikan melalui iPhonemu. Video rekaman cctv aslinya ada disini" kata Shikamaru memperlihatkan sebuah disk.

"Aku juga memiliki disk rekaman Shion" Shikamaru membuka telapak tangannya dan Gaara langsung memberikan disk yang dimaksud pada Shikamaru.

"Dan yang paling penting adalah...aku memiliki semua aktifitasmu selama 24 jam di dalam apartemenmu" kata Gaara penuh kekesalan mendekati Sasori.

"Ba-bagaimana kau memiliki rekaman itu?" tanya Sasuke penasaran.

"Bukankah tidak ada yang pernah masuk ke apartemen Sasori?" lanjut Sai kebingungan.

"Password apartemennya gampang saja. Setiap dua hari ia mengganti passwordnya. Pemuda lemah ini hanya menggunakan dua versi password. Tanggal lahir ibunya dan tanggal meninggal ibunya atau lebih tepatnya tanggal lahirnya sendiri" kata Gaara menundukkan wajahnya memandang Sasori yang duduk di kursi.

"Aku sengaja mengatakan belum pernah ada yang masuk ke apartemennya. Aku tidak ingin kalian menggangguku" lanjut Gaara.

"Dasar brengsek!" batin Shikamaru, Sasuke, Shino dan Sai bersamaan.

"Kau benar-benar mengetahuiku lebih dari apapun" balas Sasori dengan tatapan mata bencinya.

"Bagaimana bisa kau masuk tanpa sepengetahuanku?" lanjut Sasori.

"Setiap kau akan meninggalkan apartemenmu, kau selalu menyimpan refill pensil di engsel pintu apartemenmu. Jika pensil itu patah sebelum kau pulang, berarti ada orang yang memasuki apartemenmu selain dirimu. Karenanya, aku selalu mengganti refill pensil itu setiap aku keluar dari apartemenmu. Aku tak sering-sering masuk. Aku hanya masuk untuk memasang kamera penyadap. Itu saja" Gaara mengakhiri penjelasannya dengan menghisap dalam-dalam rokoknya.

"Video lengkapnya ada disini" sahut Shikaku begitu prihatin. Ia tak menyangka anak muda dihadapannya tengah berurusan dengan pembunuhan yang biasanya dilakukan oleh profesional.

"Lalu untuk seorang model terkenal lewat majalah Mizukage. Aku punya ini" kini giliran Shino yang angkat bicara sambil membawa sejenis cairan di tangannya.

"Jika cairan ini ku campurkan dengan air..." Shino menuangkan cairan tersebut ke wadah yang lumayan besar yang berisi air.

"Lalu ku siramkan seperti ini..." Shino mengambil gelas lalu mengisinya dengan air campuran cairan kimia buatannya.

Shino menyiramkan air tersebut pada bagian tangan boneka Sasori dan-

"MENGELUPAS..!" seru yang lain bersamaan.

"Li-lilinnya terkelupas sempurna" sahut salah seorang anggota polisi.

"Kalau kalian ingin tahu siapa yang ada dibalik polesan lilin ini...siramkan saja cairan ini" Shino mundur dan membiarkan anggota polisi yang melakukannya.

Tak hanya Sasori yang ternganga tak percaya melihat apa yang terjadi, semua orang yang ada di ruangan apartemen Itachi pun melakukan hal yang tak jauh berbeda dengan Sasori.

Semua lapisan lilin yang ada perlahan-lahan retak kemudian melebur bersama air.

Hal yang paling mengejutkan kemudian datang setelah tak ada lagi lapisan lilin yang tertempel pada-

"Tu-tubuuhhh?" Shikaku terkejut.

"Tu-tubuh asli?" tak ketinggalan, Sai dan Sasuke. Gaara, Shikamaru dan Shino sudah cukup tau apa yang akan terjadi.

"Jadi, pencarian polisi terhadap salah seorang model yang menghilang di sekitar apartemen Akatsuki berakhir disini" kata Gaara lantang.

Baru kali ini Gaara terlihat banyak bicara. Tidak heran mengapa Sasori yang menjadi pemenang lomba ini. Dari segi pahatan tubuh sempurna seorang perempuan saja ia sudah menang. Apa yang lebih sempurna dari tubuh seorang model?

"Untuk beberapa orang hilang lainnya Ayah bisa mengirimkan polisi untuk memeriksa apartemen akatsuki lantai 13, apartemen nomor 20. Relief yang timbul di sepanjang dinding kamar Maniak ini adalah jenazah manusia" kata Shikamaru menginformasikan pada Ayahnya.

"Apa aku akan berakhir disini?" tanya Sasori mengarahkan pandangannya ke luar jendela.

"Tentu saja tidak. Kau akan membusuk di penjara. Sialan..!" maki Sasuke.

"Oh iya, sekedar menginformasikan. Pembunuhan Shion yang kau lakukan di depan gereja malam itu bukan Hinata yang memergokimu tapi Ino" Gaara hampir saja lupa hal yang satu ini.

"Jadi-..." Sai sudah tak heran lagi mengapa Ino bertingkah aneh akhir-akhir ini.

"Bodoh. Kenapa tidak kuhabisi saja sekalian malam itu" gerutu Sasori dengan nada suara yang teramat santai. Seolah membunuh adalah hal yang sangat biasa baginya.

"Sialan kau..!"

Bruuuggghhh...!

Sai melayangkan pukulan keras tepat di pipi kiri Sasori. Ujung bibir Sasori mengeluarkan darah.

"Tunggu! Kita melupakan sesuatu" Sasuke menghampiri Sasori.

"Dimana Hinata?" tanya Sasuke dengan nada suara yang cukup keras.

"Ini..." Gaara melemparkan baju tidur Hinata yang penuh dengan cairan berwarna merah.

"A-apa artinya ini?" tanya Sasuke pada dirinya sendiri.

"Artinya semuanya sudah selesai" suara lembut, pelan dan terdengar sangat khas. Sasuke memutar tubuhnya dan-

"HINATAAA...!" buru-buru Sasuke memeluk orang yang sedari tadi tak ia ketahui keberadaannya.

"Syukurlah kau baik-baik saja" kata Sasuke melepaskan pelukannya.

"Kau tampak sedikit berbeda.." gumam Sasuke pelan sambil memiringkan wajahnya.

"Dasar bodoh. Rambutku sekarang pendek" kata Hinata tersenyum memegangi rambutnya. Rambut Hinata yang sekarang adalah model rambut di atas bahu (model rambut Hinata di Boruto the movie)

"Bagaimana..?" Sai pun sedikit kebingungan.

"Bukankah sudah ku bilang, kau tidak perlu khawatir jika aku sudah mengatakan kau tidak perlu khawatir" lanjut Gaara.

"Malam itu aku ke apartemen Sasori. Sebelum Sasori sampai di apartemennya, Gaara mengirimkanku pesan untuk menyanyikan sebuah lagu anak. Kebetulan aku hafal lagu itu. Jadi, saat Sasori akan melakukan hal buruk padaku, aku menyanyikan lagu itu dengan pelan karena aku sedikit ketakutan. Tidak ku sangka Sasori mundur dan menjatuhkan cutter-nya. Kemudian-" Hinata menggantung kata-katanya.

"Kemudian ia menangis. Begitulah si lemah ini" kata Gaara merutuki Sasori.

"Lagu twinkle-twinkle little star adalah lagu yang paling sering Sasori dengarkan waktu ia kecil. Ibunya meninggal saat melahirkannya" Gaara melanjutkan penjelasannya.

"Cukup, Gaara!" bentak Sasori.

"Semasa ibunya mengandung Sasori. Ibu Sasori sempat merekam suaranya sambil menyanyikan lagu itu. Beberapa tahun kemudian, Sasori mendapatkan rekaman itu dan mendengarkannya hampir setiap saat. Ia terlalu lemah untuk menjadi orang yang disalahkan atas meninggalnya ibunya. Ayahnya menikah lagi dan keluarga Ibunya selalu menyalahkannya dan akhirnya ia menjadi orang gila seperti yang ada di hadapan kalian sekarang ini" Gaara mengakhiri penjelasannya sambil melemparkan buku pada Sasori. Sasori hanya diam.

"Lalu cairan merah apa ini?" tanya Sasuke masih tak mengerti.

"Aku tidak sengaja menyenggol wadah berisi cat berwarna merah. Cairan itu membasahi bajuku. Lalu setelah itu, aku menggunting rambutku sendiri dan memberikannya pada Sasori. Aku ingin ia menyelesaikan kegilaannya dengan cara yang indah. Aku menangis, saat aku menyadari rambutku tak lagi panjang. Aku takut kau tidak lagi menyukaiku, aku-"

"Sudahlah, yang penting kau baik-baik saja" Sasuke kembali memeluk Hinata.

"Soal kucing yang kau berikan-"

"Tidak perlu kau jelaskan. Kau melalui saat yang sulit. Aku sudah bisa menebak apa yang terjadi pada kucing itu" kata Sasuke.

"Akan ku berikan yang baru" sambung Sasuke.

"Kalau bisa aku mau anjing saja" kata Hinata membalas pelukan Sasuke.

"Kalau kau memang sudah mengetahui ini sejak awal. Kenapa tidak kau lakukan ini di area pameran?" Sasori kembali mempertanyakan hal ini pada Gaara.

"Apa? bisa kau pikir baik-baik pertanyaanmu?" Gaara menarik kerah baju Sasori.

"Semua ini karena kami adalah temanmu. Kami menyayangimu, brengsek. Kau tidak sendiri. Kami peduli padamu, sialan!" maki Shikamaru prihatin.

Tidak ada lagi pemberontakan dan tatapan tajam dari Sasori. Matanya terlalu lelah melemparkan tatapan benci. Kini ia membiarkan matanya lemah saat mengeluarkan air mata.

Sasori di tahan.

Polisi pun kembali ramai di apartemen Akatsuki. Mereka membongkar apartemen 20 di lantai 13. Tak ada dari mereka yang tidak menggeleng saat menemukan apa yang tertimbun semen dan membentuk relief di dinding apartemen Sasori.

Pencarian pada gadis-gadis yang hilang dan potongan-potongan tubuh yang hilang berakhir di sini.

.

.

.

Lantai 13 apartemen akatsuki kosong malam ini dan untuk beberapa hari ke depan. Gaara dan Shino ikut menginap di rumah Shikamaru, Sai menumpang tinggal sementara di rumah keluarga Ino. Sedangkan Hinata, tinggal bersama Sasuke di apartemen Itachi yang sedang kosong.

"Ini masakan makan malam yang aku janjikan" kata Hinata tersenyum malu-malu saat menata makanan di atas meja makan.

"Setelah makan, aku ingin kita melanjutkan yang sempat tertunda itu"

.

.

.

The end/fin/owari

.

.

.

Akhirnya selesai juga.

Makasih banget buat teman-teman yang udah baca fic amburadul ini sampe chap akhir.

Semoga temen-temen tetep nungguin fic-fic Kika yang lain ya.

*salam*