"Yato, jelaskan padaku tindakan pelecehan ini."
Yato dan Hiyori, kini keduanya duduk manis bersisian dengan kepala menunduk. Sementara Mayu dan Kazuma berdiri di depan mereka. Mayu berinisiatif membawa mereka ke halaman belakang, sebelum ketahuan oleh guru lain. Hiyori ingin menyangkal, tapi tak bisa. Kalau kebenaran terungkap, dirinya yang dalam bahaya.
Murid kampret.
"Demi Dewa WC se-alam semesta, Kazuma. Aku tidak melakukan apa-apa!" Yato mulai menangis ―tentu membela diri. Dia gak merasa salah, kok. Pedih sekali rasanya dituduh yang bukan bukan, hatinya jadi lecet.
"Yato, 28 tahun. Guru olahraga honorer, kere, suka berhutang dan jones. Tersangka utama tiap kasus pencurian sabun dari rumah Kazuma, kini melakukan pelecehan terhadap seorang siswi." Mayu membuka sebuah buku catatan seorang Yato berisikan riwayat hidup―aib― dari orang di depannya. Mayu lalu menatap Yato penuh intimidasi.
Yato pucet.
"Dengan ini, maka Yato-san mendapat hukuman tidak akan dapat snack fullo saat rapat guru." Kazuma membenahi letak kacamatanya, di mana bagian ujungnya mendadak bersinar. Yato memegang kepalanya sendiri karena frustrasi,
"TIDAAAK!"
.
.
.
.
.
Yato Cari Jodoh
Hak Cipta : Adachitoka
Peminjaman karakter oleh Panda Dayo
AU. OOC. Typo(s)
Slight YatoBisha. (Gantian okayyy)
.
.
.
"M-maaf, Yato-sensei, aku cuma mau memberi stik fullo sesuai janjiku kemarin. Aku letakkan di meja guru saja, karena tidak tahu rumah sensei."
Di koridor yang sepi, mereka kini berada. Yato masih tersedu-sedu. Ingusnya yang berwarna hijau sampai mengalir turun dari lubang harta karun miliknya.
"Ti-tidak apa, hiks. Aku harus kuat...hiks..aku laki-laki.." Yato mengusap titik air mata kesengsaraannya. Laki-laki harus setrong dan tidak boleh menaruh dendam terhadap sesama umat, pesan mbah Iwami dahulu kala untuk anak-anak panti.
Hiyori kasihan, tapi jijik di saat bersamaan. Hiyori tersentak, tiba-tiba teringat sesuatu.
"Sensei, bolehkah aku bertanya?" Hiyori sedikit mendongakkan wajahnya agar dapat menatap Yato dengan jelas.
"Dan apa itu anakku?" Yato kembali ceria dengan kilau-kilau di sekelilingnya.
Boleh gak Hiyori nyekek orang ini?
"Bayi yang dibawa Yato-sensei itu...sebenarnya anak siapa?" Hiyori kepo.
Yato pucet (2)
"K-kenapa tiba-tiba? Ah, maaf aku harus mengajar! Adios!" Yato melambai sebelum berlari secepat kilat. Meninggalkan Hiyori dan seringaiannya.
"Detektif Iki Hiyori akan menguak semua misteri ini."
.
.
.
.
.
"Jadi, namanya Yukine."
Mayu masih menatap bayi pirang yang diletakkan di meja kerja Yato itu. Ia mengamati tiap senti dengan teliti. Tampangnya sih tidak mirip, tapi sifat mata duitannya sudah tak diragukan lagi.
"Aku yakin Yato menculik anak seseorang." Geram Kazuma.
"Bukannya kau ada jadwal mengajar, Kazuma-san?"
"Mana bisa aku meninggalkan anak kecil seperti Yukine seorang diri! Bu-bukannya aku tertarik atau apa, ya! Hmph."
Dasar cowok tsundere, batin Mayu.
"Aaa!" Bayi itu mengangkat kedua tangannya, seakan minta digendong. Mayu berbinar seketika dan merentangkan tangan untuk mengangkatnya. Tapi sebelum fantasi indah itu terjadi, Mayu mendapati matanya jadi buram seketika.
Yukine meludahi wajahnya.
"Bayi sialan!" Mayu hendak melempar tubuh kecil itu kalau tidak ditahan Kazuma.
"Mayu-san! Istighfar! Nyebut!"
Sekarang ia semakin yakin bahwa ini adalah anaknya Yato. Tapi, kenapa rambutnya pirang, ya?
Otak Mayu berputar cepat.
"AHAA! Aku tahu sekarang, Kazuma." Mayu berhenti bergerak dan justru mengulum senyum misterius.
"Tentang?" Heran Kazuma.
"Kalau benar ini anak Yato-san, darimana rambut pirangnya berasal?"
Iya, ya. Rambutnya Yato kan asli item, dan gak mungkin bayi ini pirangnya dibuat-buat mengingat Yato pelit dunia akhirat. Kalaupun ada, pasti ia akan menabungnya. Tapi, pastilah wanita yang ia nananini berambut sama dengan Yukine jika demikian. Hasil dari kromosom X dan kromosom Y tidak rumit bila baik-baik dipikirkan. Perkataan Mayu memang masuk akal.
Kazuma menerka-nerka dalam hati sebelum disuarakan, "Bule?"
Tapi, bule mana yang mau sama cowok buluk begitu? Kere lagi. Sama sekali tidak cerah masa depannya.
Mayu menggeleng. Menaikkan satu alis sambil melirik penuh arti.
"Satu-satunya wanita berambut pirang di wilayah ini."
Loading 1%
Loading 15%
Loading 37%
Internal server error.
404 not found.
Hati Kazuma mendadak remuk seukuran mikroskopis dan pecahannya berserakan ke mana-mana. Ia bukanlah orang lemot bila menyangkut clue personal. Pria itu berkeringat dingin.
"Jangan katakan―" semoga ini hanya mimpi, "―Veena?"
Tak lama kemudian, Yato masuk ke ruang guru dan memanggil Yukine.
"Yukine~"
Kazuma melirik tajam. Mayu memasang pose tinju, membuat Yato bertanya-tanya apa yang terjadi.
"A―apa?" Apa mereka tahu kalau selama ini Yato yang mencuri jatah snack mereka tiap kali ada rapat guru?
"Ikut kami. Sekarang."
Yato tak dapat menolak ketika kedua lengannya dicengkeram erat. Ia diseret ke arah jendela ruang guru yang terbuka lebar.
"Maksudnya apa?!"
"Jangan coba-coba bodohi kami karena kami sudah tahu kebenarannya." Sinis Mayu.
"Aku benar-benar tidak menyangka, Yato-san. Kupikir selama ini aku menghormatimu, tapi..."
"KALIAN BICARA APA?!" Yato meronta melihat ke arah bawah. Gile aja, ruang guru di lantai tiga. Kalau dia dilempar dari sini, tubuhnya bakal hancur berkeping-keping.
"Jujurlah, Yato. Kau sudah menananini mpok Bisha, bukan?" Mayu meremat lengan Yato kuat-kuat.
"Adaw! Enggak!" Lengan Yato yang jadi korban rasanya nyut-nyutan. Sakit, qaqa...
"Bisakah kita lempar Yato-san sekarang, Mayu-san?" Kazuma tidak suka berbasa-basi.
"Time out! Time out! Aku tidak mengerti!"
.
.
.
.
.
.
Siapa yang tidak kenal mpok Bishamon di distrik Regalia. Wajahnya cantik, bodinya bak gitar spanyol dan punya aset gede, pasti populer di kalangan lelaki. Dia adalah pemilik warung nasi padang satu-satunya di wilayah itu. Harga menunya cukup ekonomis dan terjangkau, wajar saja bila menganggap Yato suka mampir ke sana karena faktor biaya.
Dan sekarang, usai jam kerja tepat di pukul tiga sore, Yato diiringi -diseret dan diikat seluruh tubuh- oleh Mayu dan Kazuma ke warung penjual bohay yang satu itu. Sementara Yukine berada dalam gendongan Mayu dan Kazuma yang bertugas menyeret raga guru olahraga itu.
Yato adalah korban sebenarnya di sini, tolong.
Warga distrik Regalia yang kebetulan melihat sama sekali tak merasa kasihan, mereka mengira Yato belum bayar hutang seperti biasa.
'Aku benci kalian semua! Hiiro, muncullah sekarang, kumohon!' Seru Yato dalam hati.
Pintu digeser. Kala itu warung nasi padang mpok Bishamon hampir tutup dan sepi. Mpok Bishamon terlihat sedang beres-beres sisa perabotan makan yang belum dicuci.
"Kazuma? Mayu-san? Ada ap-"
SIIIIIING
Mata Bishamon berubah merah kala melihat Yato.
"Hutangmu, Yato-san. Tiga belas ribu yen."
Gledek imajiner menggelegar hebat di belakang Yato.
Sebenarnya Yato biasa membeli paket hemat di warung ini berupa nasi, tempe, dan telor ceplok, tapi seminggu lalu ia khilaf makan rendang dan ayam dalam porsi besar. Yato lelah melatih tim sepakbola menuju kejuaraan nasional dan perlu asupan gizi demi tubuhnya yang kurus ini. Yato bilang jika ia akan membayar saat pengumuman hasil pertandingan. Tim sepakbola sekolah menang, dan Yato mengingkari janjinya.
"E-eh, mpok...bi..bisa kasih saya wak-"
JDUAK
Yato ditimpuk panci yang pantatnya gosong.
"A-ano, Veena. Ehem, kami ingin bertanya." Kazuma melirik-lirik aduhai pada Mayu di sebelahnya. Mayu mengambil nafas panjang sebelum berbicara.
"Kau tahu anak ini?"
Diangkatnya tubuh kecil Yukine dan menunjukkannya pada Bishamon.
Mpok Bishamon yang sedang dalam mode ganas langsung jinak melihat kelucuan Yukine.
"Ha-hatiku terasa berdebar...oh inikah cinta...?" Bishamon mengelus pipi lembut Yukine. Bayi pirang itu diam saja, dan memejamkan mata menikmati sentuhan Bishamon di pipinya. Yukine lalu tertawa kecil.
Sekarang Kazuma yang kesamber gledek.
"Ja..jadi..." Sialan. "Yukine benar-benar..."
Sedikit cerita, Kazuma ada rasa sama mpok Bishamon. Dulu, Bishamon memberinya motivasi untuk bekerja menjadi guru, karena profesi itu adalah cita-cita Bishamon yang tidak pernah bisa kesampean. Kisah itu menginspirasi seorang Kazuma untuk menjadi guru yang baik dan benar, lagi pengasih dan penyayang.
Tuhan, padahal Kazuma baik hati rajin bersedekah dan tidak sombong. Mengapa justru mendapat kepahitan seperti ini.
Kazuma jatuh terduduk, rasanya lemas. Gebetannya sekarang diambil orang. Ia bisa apa.
Hashimoto Kazuma, 28 tahun. Patah hati untuk pertama kalinya.
"Ah, lucunya~"
Kazuma tahu dia tidak berpenghasilan seperti pejabat.
"Sini sama tante Bisha~"
Kazuma tahu ia sudah kalah.
"Aih~"
Kazuma tahu, yang mana batasan-batasannya. Ada sesuatu yang tak dapat ia raih meski ia banting tulang setiap hari.
"Apakah dia anakmu, Bishamon?" Mayu frontal.
Irisnya menatap Mayu, "Tidak, sih. Tapi aku mau kok jadi ibunya~" Bishamon dan Yukine terlihat sangat lengket.
'Aku yakin mpok Bishamon adalah emak Yukine! Yakin!' Batin Mayu heboh.
'Veena, janganlah kau berdusta ketika kenyataan tepat di depan mata.' by batin Kazuma.
"Lepaskan ikatan ini, dasar biadab!" Yato masih berusaha melepaskan diri dari lilitan tali sambil muter-muter ngesot.
Mayu menyeringai saat mendapat ide. Boleh dicoba.
"Yukine memang tidak punya ibu, tapi dia punya ayah. Mungkin kau mau menikah dengan ayahnya?"
Kazuma memukul lantai warung yang tak berdosa. Helainya sebagian jatuh ke depan menutupi wajahnya.
'Bangke kau Yato! Dasar bangkeeeeeee! Temen makan temen! Busuggggg!' Kazuma misuh-misuh dalam hati.
"Ah, memangnya siapa ayah bayi ini?" Bishamon masih tampak bahagia sambil menggendong Yukine. Bayi itu juga tersenyum meniru penjual warung makan terlaris di distrik Regalia itu.
Mayu menarik kencang ujung tali dan menghentikan aksi klogat-kloget Yato dengan sekali gerakan.
"Yato-san."
Kecoak pada terbang.
Bishamon menatap Yukine. Bergantian dengan Yato.
Yukine.
Yato.
Yukine.
Yato.
Yukine.
Yato.
Yukine.
Bishamon menelan ludah. Biarpun bapaknya belingsatan, najis dan kampungan kaya gitu, tetapi dia menyayangi Yukine meski baru bertemu. Sayang kalau bayi ini diurus Yato seorang diri, pasti kurang gizi dan tidak bisa hidup dengan layak nanti.
Untuk itu Bishamon harus mengambil langkah demi menjamin kesehatan serta kesejahteraan Yukine ke depan.
.
Sedikit ragu, tapi diucapkannya juga.
"Aku mau."
.
.
.
.
Bersambung xD /dibakar/
A/N : hahhaha mumpung ada ide wqwqwq
Balasan review :
ATHAYPRI : hahaha beelzebub kaco parah tuh XD tapi lebih suka manganya sih, kalo aku pribadi but animenya juga okee~ terimakasih sudah mampir!
Frazka 15 : aku takkan bosan menunggumu hadir di kotak amal (?) Huhuhu dendam...apa ya...Yato udah kutelpon buat bersih2 tapi ga dateng jadi gue dendam /gagitu/
Karena janda lebih menggoda /gak/
Terimakasih reviewnya sangat moodboster buat panda ;;_;;
ziddanStrife : wah, untung suka ehehehehe *megap-megap* makasih reviewnya~~
aster-bunny-bee : yato harus selalu dingeneskan say (?) #NDA. Terimakasih sudah menanti *mewek*
kirisa mio : karena Yukine terlalu presyes ;u; wah ngikutin manganya aja Kirisa-san, biar gak bosen ehehehehe. Terima kasih reviewnya!
MiracleUsagi : wah makasihhh banyak udah mampir (sama yang di daiya juga, aku sampaikan di sini gpp kan ya ehehehe) semoga juga suka chapter ini! *v*)b
Tiramisu-chan30 : mau daftar jadi bininya Yato? /gak/ terimakasih reviewnya~!
reycchi : iya mb kazuma kebelet kawin kelamaan jomblo sih *lirik adachitoka* /jangan gitu pan/ Yukine harus dibuat seoenyoeh mungkin /5 /g
Terima kasih untuk semua yang baca, sampai fav/foll atau review. Terima kasih juga atas semangatnya. Semuanya adalah bentuk apresiasi tak ternilai bagi panda ;;w;;) kangen juga noragami kapan balik jadi anime hueheueheuheueheu #srooootttt
Sampai jumpa di chapter depan!
(Gak ada yang nungguin elo)
thanks for read
siluman panda
