Bleach © Tite Kubo
Sorry for typo dan ke-ooc-an karakter.
Setelah jam pelajaran berakhir, Rukia mengunjungi ruang klub teater yang terletak di lantai atas sekali gedung sekolah. Siang ini adalah pengumuman dari pembagian peran untuk murid-murid angkatan pertama yang sudah lulus pada tahap penyeleksian. Saking semangatnya, ia sampai melupakan Rurichiyo yang ingin mengajaknya pulang bersama.
Paling-paling Rurichiyo dijemput Kenryuu dan Enryuu juga.
Dengan penuh penasaran, Rukia masuk ke dalam ruangan itu. Ia merasa sedikit cemas dan juga—bolehkah ia berharap agar mendapatkan posisi di atas panggung? Ah, ia tidak boleh berharap lebih, juga jangan berharap menjadi pemeran utama. Jadi figuran saja juga tak apa. Karena ia sadar, untuk menjadi seorang artis sekolah harus memiliki fisik yang sempurna. Dan tinggi badan bukan salah satunya.
Di dalam sana sudah banyak murid-murid yang berkumpul untuk melihat kertas pengumuman yang tertempel pada mading ruangan ini. Rukia langsung mendekat untuk membaca tulisan yang berada di sana. Ia butuh sedikit perjuangan untuk melewati kerumunan agar dapat berada tepat di depan mading. Matanya langsung menyapu semua yang sudah tertulis di sana.
Dan senyumnya langsung terkembang ketika ia dapat membaca namanya pada sebuah baris—Kuchiki Rukia tergabung pada pemeran panggung posisi tiga belas.
Detik ini senyum lebar terlukis di wajahnya. Well, ia rasa itu tidak terlalu buruk daripada peran sebuah pohon.
Setelah ini ia baru bisa pulang dengan tenang.
.
.
Dua puluh soal PR matematika dalam beberapa menit membuat Rukia menguap. Ia menyeka air yang muncul di sudut matanya. Kadang apa yang orang dewasa katakan itu benar. Masalah terbesar anak sekolah adalah matematika. Oh, astaga.
Rukia meletakan sikunya dan menumpukan dagu pada telapak tangannya. Posisi ini adalah ketika ia sudah mulai bosan. Jika harus memilih, lebih baik ia mengerjakan 30 soal esai sastra Jepang. Kalau saja di hadapannya tidak ada Ichigo yang sedang mengawasinya (sebagai tutor yang sedikit kejam) mungkin Rukia sudah jatuh tertidur dari tadi. Janji Ichigo ditepati dengan akurat untuk memantau tugas sekolahnya.
Konsentrasi Rukia terpecah saat ia merasakan serangan pada perut bagian bawah, beberapa keringat mulai keluar sedikit berlebihan. Oh, kalau sudah seperti ini datang bulan akan segera tiba dalam beberapa jam ke depan.
"Apa kau baik-baik saja?" Ichigo menyadarinya, kelihatannya Rukia tidak berpura-pura.
Rukia menyeka keringat di dahi lalu menyingkirkan poni panjang yang terjuntai ke balik daun telinganya. "Hanya sakit perut biasa." Selain purutnya yang mendadak bermasalah, kelihatannya kakinya mulai terasa kram. Oh, sial. Setiap bulan ia pasti merasakan hal ini.
"Biar kuambilkan obatmu."
"Nanti saja." Rukia langsung menghentikan Ichigo. Tampaknya Ichigo sudah bisa menebak jenis sakit perut yang ia punya. Sejujurnya ini sedikit memalukan. "Setelah PR-ku selesai saja."
Sakit perut Rukia untuk sesaat menghilang. Bernapas lega, ia kembali menulis ke atas bukunya.
Ichigo tidak hanya memperhatikan apa yang dikerjakan Rukia. Ia mengawasi gerak-gerik mata besar gadis dan bulu matanya yang panjang itu. Bola matanya bergerak ke buku cetak, lalu ke buku tulis lagi. Sesekali ia memejamkan mata seolah berpikir keras. Lalu ia menggerak-gerakkan bibir seolah sedang menggerutukan sesuatu.
Kemudian, pandangan Ichigo jatuh ke hidung yang mungil itu. Bentuk hidungnya sangatlah lucu, Ichigo tidak akan pernah bosan memandangnya.
Menikahinya pada usia yang masih sangat muda memberikan Ichigo kesempatan untuk mengamati perkembangan fisik dan mental istrinya, ia bertambah tinggi lima senti selama beberapa tahun ini. Tubuhnya juga sudah lebih berisi. Dan err.. pinggulnya terlihat sedikit bagus untuk dipandangi. Perubahan fisik yang sudah masuk ke tahap dewasa.
Selama ini mereka tidak pernah tidur dalam satu ruangan karena kebijakan dari kakaknya, Hisana. Kakaknya menyetujui pernikahan mereka asalkan Ichigo bertindak sebagaimana mestinya. Rukia belum cukup umur jika mereka harus melakukan hubungan. Yeah, Ichigo tahu itu. Ia hanya tidak bisa menunggu Rukia hingga berumur dua puluh tahun untuk segera menikahinya. Karena Ichigo tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari selama ia membiarkan Rukia jauh dari jangkauannya. Bisa jadi mereka tidak akan pernah bersama. Maka dari itu Ichigo memohon kepada kakaknya untuk segera menikahinya. Agar ia bisa hidup bersama sesegera mungkin. Karena Rukia adalah jodohnya, takdirnya, dan darah Rukia adalah sumber kekuatannya ketika ia tidak berdaya.
Seorang vampire hanya memiliki satu sumber darah sebagai penolong dalam kehidupannya. Dan Ichigo sangat bersyukur pada akhirnya mereka bertemu setelah selama ini ia mencari. Maka dari itu apapun alasannya, vampir tidak akan melepaskan pasangannya ketika mereka sudah menemukannya. Vampir memang sangat egois.
"Selesai!" Rukia berseru dengan semangat. Akhirnya penderitaan malam ini telah berakhir.
Ichigo segera mengambil alih dan mengoreksinya. Dahinya terlihat berkerut saat mulai membaca tulisan Rukia. "Masih ada beberapa soal yang harus dibenarkan." Ichigo meletakan kembali buku tulis itu.
Rukia hanya mendesah pasrah. Kenapa matematika itu sulit sekali? "Tapi, perutku mulai kambuh lagi, Ichigo. Kepalaku juga mulai pusing. Boleh aku tidur dulu? Besok pagi pasti akan kuperbaiki…" pinta Rukia dengan wajah memelas.
Ichigo tidak dapat menolak. Wajahnya begitu polos dan membuat hatinya melemah walau kelihatannya dibuat-buat. Pada akhirnya Ichigo hanya bisa mendesah. "Baiklah kalau begitu. Jangan lupa minum obatmu."
"Selamat malam!" Rukia melompat dari kursinya lalu segera menuju ke tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi dadanya. Sementara Ichigo menuju ke saklar lampu untuk mematikannya.
"Selamat malam."
.
.
.
Jam pelajaran kelima hari ini adalah pendidikan penjaskes. Untuk hari ini Rukia bersyukur karena sekolah mereka memiliki gedung olahraga. Ini sudah semakin siang dan semua murid tidak akan sanggup untuk berlari di lapangan luar. Walau di dalam gedung ini memiliki beberapa pendingin, Rukia masih saja berkeringat. Sebenarnya ia ingin segera menepi karena perutnya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Kadang Rukia sangat iri pada Rurichiyo karena temannya itu tidak memiliki keluhan pada saat datang bulan.
"Rukia, apa kau baik-baik saja?" Rurichiyo langsung mendekatinya karena lari gadis itu mulai memelan.
"Aku hanya butuh obatku saja…" jawab Rukia lemah, napasnya mulai memberat akibat menahan sakit, sementara kakinya masih dipaksa untuk berjalan mengelilingi lapangan. Masih ada setengah lapangan lagi sampai ia bisa mencapai garis pembatas.
Sedikit banyaknya Rurichiyo merasakan cemas, "apa kau membawa obatmu? Aku akan mengambilnya sekarang."
"Aku lupa, karena pagi tadi aku sibuk memperbaiki PR matematikaku," kali ini Rukia tak sanggup lagi berjalan, ia menghentikan langkah kakinya sembari memegangi perut. Hari pertama datang bulan memang paling menyiksa.
"Rukia!" Rurichiyo berseru karena Rukia sudah merosot pada detik berikutnya. "Kau harus ke UKS sekarang!"
Untuk menjawab saran Rurichiyo pun Rukia sudah tak mampu. Sakit di perutnya sudah menguasai pikirannya. Semua badan terasa kaku, kepalanya terasa sangat pusing dan rasanya seperti sedang menghadapi dewa kematian.
Rukia mengerang di bahu Rurichiyo. Pasti Rukia berusaha melawan rasa sakitnya. Gadis bermata hijau itu tidak dapat membayangkan seberapa menderitanya Rukia sekarang. Yang bisa ia lakukan hanya panik dan memanggil guru yang berdiri tidak jauh darinya.
"Apa yang sudah terjadi dengan Kuchiki?" Sadou-sensei bertanya ketika ia sudah berada di dekat mereka. Sadou berjongkok untuk mengecek kondisi salah satu muridnya.
"Rukia mendadak sakit, sensei." beritahu Rurichiyo.
"Aku mengerti. Akan kubawa ke UKS segera." Sadou menarik badan Rukia dan menggendong gadis kecil itu di kedua tangannya. Raut wajah Rukia sudah sedikit tenang mungkin ia sudah melewati kontraksi yang datang. Meskipun begitu, keadaannya masih terlihat lemah. Rukia bahkan tidak sadar ia tengah dibawa sekarang.
"Biar aku saja yang membawanya ke UKS." Baru saja Sadou keluar dari gedung olahraga beberapa langkah, ia bertemu dengan salah satu rekan kerjanya—Kurosaki-sensei.
Sadou menghentikan langkahnya. Kenapa Ichigo bisa berada di sini sekarang? Mata madunya memandang dengan tegas seolah semua keinginannya tidak bisa ditolak oleh apapun.
"Jika kau meninggalkan kelasmu untuk mengantar anak ini, murid-muridmu pasti akan berkeliaran," ujar Ichigo lagi karena Sadou hanya diam saja. Sebelumnya Ichigo sudah dapat merasakan kondisi roh Rukia yang melemah. Saat ia mengeceknya ke sini ternyata benar seperti itu. Dan satu lagi, Ichigo tidak suka melihat ada seorang pria yang menggendong istrinya walau bertujuan baik. Itu sedikit mengganggu.
Well, apa yang dikatakan Ichigo ada benarnya. Namanya juga anak SMA, barang sebentar saja guru tidak ada mereka pasti berbuat ulah. "Apa kau sedang tidak ada jadwal mengajar?"
"Yeah, hanya kebetulan."
"Baiklah, aku serahkan padamu." Sadou memindahkan Rukia pada kedua tangan Ichigo. Gadis itu tidak terlalu berat jadi, tidak sulit untuk memindahkannya.
"Terimakasih, Ichigo." setelah itu Sadou kembali masuk ke dalam gedung.
.
.
.
Ichigo menarik selimut sampai menutupi leher Rukia tanpa suara. Kemudian tangan Ichigo menyisihkan helai poni yang menutupi wajah polosnya ketika tidur. Beberapa jejak keringat masih betengger di dahinya. Kelihatannya ini sedikit parah.
Ichigo ingat saat pertama kali Rukia datang bulan. Saat itu ia masih kelas dua SMP. Ichigo begitu panik karena Rukia sampai berguling-guling ketika ia menahan sakit di perutnya. Tanpa pikir panjang, ia melarikan Rukia ke rumah sakit agar ia mendapati pertolongan. Jenis datang bulan Rukia memang sedikit berat dari anak gadis lainnya. Ia harus mengonsumsi obat ketika jadwalnya sudah tiba. Benar-benar gadis yang malang.
Ichigo melirik jam tangannya. Dalam beberapa menit lagi ia harus menghadiri sebuah rapat. Sebenarnya ia berat untuk meninggalkan Rukia sendirian di sini dan perawat penjaga sekarang entah pergi kemana. Tapi, ia juga tidak mungkin meninggalkan rapatnya.
Sekali lagi Ichigo memperhatikan istrinya. Ia tidur begitu damai dalam beberapa menit ini. Dan sepertinya Rukia akan tetap baik-baik saja.
"Hanya setengah jam setelah itu kita akan pulang." Ichigo mencium dahi Rukia sekilas sebelum ia pergi dari UKS.
.
.
.
Ruang rapat guru SMA 1 Karakura terbuka, satu persatu guru mulai keluar dari sana. Rapat barusan hanya membicarakan tentang mid semester pada kurikulum terbaru ini. Guru ditempatkan pada sebuah kelompok untuk menyusun soal-soal ujian minggu depan. Dalam satu kelompok hanya terdiri dari dua guru. Dan Ichigo tidak menyangka ia akan bekerja sama dengan—
"Kurosaki-kun!" yeah, ia lah co-teacher yang dimaksud tadi. Suaranya benar-benar nyaring, ia cocok jika masuk ke dalam klub cheerleaders. Tapi, sayang umrnya tidak pantas lagi. "Senang sekali bisa bekerja sama denganmu untuk mid semester ini."
Ichigo bingung untuk menanggapinya karena ia terlalu bersemangat. "Mohon kerja samanya, Inoue-san."
"Cukup panggil Inoue saja, ahahah." Inoue tertawa renyah. "Mulai besok kita akan menyusun soal-soal. Bagaimana kalau kita mengerjakannya di apartemenku saja setelah jam pulang sekolah? Kita bisa bersantai sambil minum teh," ujarnya dengan senyuman yang lebar.
"Aku rasa kita bisa mencuri jam istirahat untuk memulai mengerjakannya."
"Eh, tapi lebih baik setelah pulang sekolah saja. Kita punya banyak waktu. Ahahahh!"
Ini… terdengar seperti ajakan untuk kencan.
"Yeah… Aku akan melihat jadwal besok dulu."
"Oh iya, aku ada kelas setelah ini. Daaaah, Kurosaki-kun, sampai jumpa lagi!" Inoue berjalan mundur sementara tatapannya tidak teralihkan sedikitpun dari Ichigo, serta lambaian tangannya yang belum terhenti sampai ia menuju ke belokan di sebelah kanan.
Satu lagi orang aneh yang harus ia temui yang selalu menyisipkan tawa disetiap pembicaraan.
.
.
.
Saat Rukia membuka mata ia mendapati dirinya sudah berada di dalam kamarnya. Rukia melirik jam dinding yang menunjukan pukul enam sore. Astaga, ia sudah tidur hampir empat jam. Saat Rukia mencoba bangun untuk duduk, lagi-lagi ia harus mendapati rasa pusing di kepalanya. Oh, ini sudah seperti penyakit keras saja, membuatnya selalu kesulitan setiap bulan.
"Oh, kau sudah bangun." Ichigo muncul dari balik pintu kamarnya membawa nampan berisi bubur dan juga susu putih. Wangi masakan Ichigo tercium lezat, kebetulan sekali Rukia benar-benar lapar sekarang.
"Bagaimana aku bisa berada di kamar, Ichigo. Apa ada yang mengantarku?"
"Aku yang membawamu pulang," Ichigo mengambil tempat duduk di sisi ranjang Rukia.
"Be-benarkah? Bagaimana tanggapan orang-orang nanti? Mereka akan curiga…"
"Lebih curiga lagi jika orang lain mengantarmu, kan? Sekarang makanlah dulu ini."
Rukia mengambil alih mangkuk bubur itu. Terkadang perlakukan Ichigo sedikit berlebihan sebab gadis itu masih memiliki pencernaan yang bagus untuk makan nasi. Tanpa mencoba memprotes seperti apa yang dipikirkannya, Rukia mulai menyendok bubur itu.
Soal rahasia pernikahan mereka di sekolah dan kecurigaan teman-temannya, Rukia masih merasa was-was walaupun beberapa alat bodoh dari kenalan Ichigo (kalau tidak salah namanya Urahara) yang selalu memanipulasi pikiran orang di sekitar mereka. Bahkan tetangga di komplek ini pun tidak menyadari mereka berdua adalah suami dan istri walau keributan di dalam rumah mereka selalu terdengar.
.
.
.
Sudah hampir jam dua belas malam tapi Ichigo masih betah menatap layar laptopnya. Ia hanya mengerjakan RPP untuk satu semester ini sebelum mid semester sudah dimulai. Mengerjakan itu sebenarnya tidak akan memakan waktu sampai berjam-jam kalau saja ia tidak membuka juga salah satu aplikasi game yang berada di alat elektronik itu.
Dari dalam kamarnya Ichigo mendengarkan sesuatu, seperti suara erangan dari kamar istrinya. Kemudian Ichigo mencoba memastikan lagi dalam beberapa detik kemudian. Erangan itu kembali terdengar tampak lebih gelisah. Segera saja Ichigo menutup semua menu yang sedang berjalan pada laptopnya. Mematikan alat elektronik itu, lalu berjalan keluar dari kamarnya.
"Engh… aku tidak ingin berperan sebagai pohon… tidak… tidak ingin…"
Ternyata istrinya sedang mengigau rupanya, dahinya tampak berkerut dan ia sedang memeluk boneka besar yang sering Ichigo juluki the-fuck-Almighty-Chappy. Ichigo tak dapat menahan untuk tersenyum. Obsesi istrinya untuk menjadi pemeran dalam sebuah teater sangat besar bahkan sampai masuk ke dalam mimpinya.
Ichigo mengusap dahinya lembut. Wajahnya begitu mungil dan menggemaskan, bahkan dahinya dapat terkubur dalam telapak tangan yang besar itu.
"Jang… an pergi. Tetaplah di sini. Aku takut…" Rukia mengigau lagi dengan suara serak.
Dahi Ichigo berkerut mendengar itu, Rukia masih belum keluar dari mimpi buruknya juga ternyata.
Ichigo masuk bergabung ke dalam selimutnya. Ia menyingkirkan the Almighty Chappy ke sisi lain agar ia bisa memeluk tubuh istrinya. "Sssh, tenanglah, aku selalu berada di sisimu."
Tanpa harus menyadarinya ini terasa nyaman, raut cemas di wajah Rukia sedikit mereda saat ia sudah berada di rengkuhan suaminya. Ichigo menepuk-nepuk pelan punggung Rukia membantu gadis itu memasuki tidur yang nyenyak tanpa mimpi buruk menganggunya.
Satu hal yang baru Ichigo akui sekarang saat memandangi wajah istrinya dalam jarak dekat. Dia begitu sangat manis dan juga lucu. Andai ia selalu seperti ini walau tidak dalam keadaan tidur, Ichigo pasti senang sekali untuk memeluknya setiap saat.
Dan perlahan Ichigo mulai memejamkan matanya pula.
.
.
.
Pagi memang selalu datang lebih cepat walau melewati hampir delapan jam. Rukia mengerjab karena ia mulai merasa silau. Cahaya ternyata sudah menyelinap dari celah tirai kamarnya. Sepertinya Ichigo belum bersuara untuk membangunkannya. Ada baiknya ia kembali tidur—mungkin sekitar sepuluh menit lagi jika boleh.
Rukia membalik badannya menghadap ke sebelah kiri. Biasanya the Almighty Chappy dari seluruh Chappy yang ia punya ada di sampingnya, Rukia menarik Chappynya masuk ke dalam pelukannya. Ini lebih hangat dari biasanya dan juga tidak setebal… biasanya?
Rukia langsung membuka mata untuk memastikan bahwa bonekanya baik-baik saja.
"KYAAAAA~"
Teriakan itu lebih dari cukup untuk membangunkan Ichigo. Kini Chappy yang biasanya berada di sampingnya sudah berubah menjadi suaminya.
"Berisik sekali." Masih dalam keadaan mengantuk Ichigo mengorek sebelah telinganya dengan menggunakan jari kelingking. Apa sebegitu horornya mendapati suami berada di sampingnya?
Rukia merasa sedikit malu akibat ekspresi yang terlalu berlebihan tadi. "Ke-kenapa kau berada di dalam kamarku?" ia tergagap karena menyadari Ichigo tidur di sampingnya dengan boxer pendek dan baju kaos biasa. Yeah, ia tampak seksi jika dilihat dari sudut pandang wanita lain. Tapi ini tetap saja memalukan bagi Rukia.
Ichigo menggaruk kepalanya. "Bukannya kau sendiri yang memanggilku ke mari?" Kemudian Ichigo menyeringai. Pagi hari memang paling bagus untuk menggoda seorang gadis polos. "Sesekali sepertinya bagus juga jika kita tidur bersama."
"Mana mungkin aku memanggilmu, idiot!" yeah, Ichigo pasti berbohong, seingatnya satu jam setelah makan malam ia minum obat dan segera tertidur.
Bahkan saat Rukia marah-marah dengan wajah yang memerah, Ichigo merasa ia tetap saja lucu sekali. "Akui saja. Kau sangat menikmati tidurmu malam tadi."
Tidak mungkin. Tidak mungkin ia menikmati itu. Rukia mencoba mengingat ia mimpi apa semalam—ia berada di panggung sekolah sebagai pohon tiga. Lalu semua pemeran meninggalkannya terkurung di dalam pohon. Itu mengerikan. Kemudian suaminya datang melepas jeratan pohon tersebut menariknya ke dalam pelukan yang hangat. Argh, Rukia tidak mau mengakui bahwa ia menikmatinya.
"Pergi dari kamarku sekarang!"
Tampaknya istrinya sudah bisa ke sekolah hari ini.
.
.
.
"Apa? Kalian tidur bersama semalam?!" seru Rurichiyo dengan mata yang berbinar-binar. "Lalu apa yang terjadi?"
Sudut bibir Rukia berkedut. "Apa yang kau harapkan? Saat menyadari itu aku langsung meneriakinya."
Rurichiyo menarik badannya kembali bersender ke kursi sembari melipat tangannya di depan dada. Rukia benar-benar membosankan.
"Jangan memasang tampang kecewa, bodoh."
"Apa kau tidak cemas jika Kurosaki-sensei meilirik gadis lain?"
"Tolong kecilkan suaramu bodoh, kita berada di dalam kelas." Rukia melepaskan ransel yang berada di punggungnya dan menaruhnya ke atas meja. Masih terlalu pagi Rurichiyo sudah harus mengurusi rumah tangganya. Sekali saja tidak pernah membahas yang lain. Kenapa selalu dirinya yang menjadi bahan perbincangan?
"Sorry." Rurichiyo menurunkan volume suaranya. "Apa kau tidak tahu gossip akhir-akhir ini?"
Rukia menggeleng tampak tidak tertarik.
"Inoue-sensei dan Kurosaki-sensei dikabarkan sedang dekat. Dan mereka adalah kombinasi antara guru killer dan guru lemah lembut yang sangat cocok," jelas Rurichiyo. "Tapi, tenang saja. Kau tidak perlu cemas Rukia! Aku selalu akan mendukungmu."
Dalam beberapa detik Rukia terpaku. "Kurasa memang mereka serasi," komentar Rukia pelan.
"Jangan berbicara seperti itu!" sela Rurichiyo tegas. "Kau tidak boleh berpasrah hanya karena kau masih terlalu muda. Kau hanya harus membuat Kurosaki-sensei tidak bisa melirik wanita manapun! Jangan menyerah hanya karena dia seksi."
Rukia menghela napas pasrah. Selama ini tinggal bersama dengan Ichigo tidak pernah membuatnya merasa risih. Rukia tidak pernah mengurus masalah suaminya dalam hal apapun. Itu bukan berarti ia tidak peduli. Hanya saja ia tidak tahu harus berbuat apa sebagai pasangan normal lainnya. Rukia sadar ia hanya gadis biasa yang tidak memiliki kelebihan yang menonjol, karena selama ini belum ada seorang lelaki yang mencoba mendekatinya baik hanya menawarkan bantuan atau meminta nomer telepon. Dan bisa jadi suatu hari nanti Ichigo akan melirik wanita lain yang memiliki daya tarik lebih baik ketimbang darah yang ia miliki.
"Rukia aku punya ide!"
Rukia mengangkat kepalanya merasa tertarik dengan kalimatnya. "Apa?"
"Kita teror Inoue-sensei agar tidak main mata dengan suamimu. Kirimkan dia surat kaleng ancaman!"
Mata Rukia menyipit. Dari awal memang seharusnya ia tak mengharapkan ide temannya. "Lupakan saja ide dungumu itu."
.
.
.
Ichigo tidak menyangka mereka akan menghabiskan waktu hampir tiga jam di apartemen Inoue. Andai saja ia tidak menerima tawaran makan malam dulu dari co-teacher-nya itu (serta pencuci mulut dengan berbagai varian jus) mungkin akan menghemat waktu satu jam lebih awal. Hari ini mereka baru menyelesaikan soal-soal untuk kelas tiga. Masih ada dua tingkat soal lagi yang harus mereka susun dan mungkin akan membuatnya terlambat terus untuk pulang ke rumah. Yeah, mungkin lain kali Ichigo lebih memilih mengerjakannya di sekolah saja.
Inoue mengantar Ichigo sampai ke pintu depan apartemennya, rasanya benar-benar menyenangkan dapat bekerja sama dalam hal ini. Ini pertanda baik baginya. Oh, Tuhan, walau Ichigo adalah guru baru di SMA Karakura 1. Tapi, ia tidak sedikitpun kesulitan dalam menjalani tugasnya. Ichigo tampak lebih berpengalaman darinya dan ia sudah belajar banyak dari pria itu. Itu adalah salah satu nilai plus yang diberikan Inoue, tentu ketampanan dan postur tingginya termasuk ke dalamnya. Sungguh pria yang sempurna.
"Kurosaki-kun, terimakasih untuk hari ini, ahahahha."
"Aku juga ingin berterima kasih karena telah merepotkanmu."
Inoue langsung menggeleng cepat. "Hm, tidak-tidak. Aku sangat bahagia sekali bahwa masakanku telah dimakan olehmu. Besok-besok aku akan membuatkan masakan yang lebih enak lagi!" ah, ia bersemangat sekali.
"Kurasa aku harus segera pulang. Daah, Inoue." Ichigo segera mengakhiri basa-basinya.
"Tunggu dulu, Kurosaki-kun!" Inoue langsung menaruh sesuatu pada tangan Ichigo. Sebuah kartu nama yang mau tak mau harus Ichigo ambil.
Wajah Inoue sudah merah sekali. Ia ragu untuk mengatakan ini. "Te-telepon aku jika kau tidak sibuk."
Ichigo memandangi sesaat kartu nama itu. Ada nomor telepon yang tertera di sana. Sebelum Ichigo dapat berkomentar, Inoue sudah duluan menutup pintu. Apa-apaan wanita itu tidak mengijinkannya berbicara satu kalimat lagi saja.
Apa yang sudah Inoue Orihime lakukan tadi? Ini di luar kendali. Ia bergerak secara naluri dan atas keinginannya. Oh, Tuhan semoga Ichigo segera menelponnya dan tidak mengabaikannya. Dari balik pintu depan, Inoue masih bersender di sana. Sementara Ichigo mulai melangkah meninggalkan apartemen Inoue.
.
.
.
Saat Ichigo tiba di rumah, ia melihat istrinya tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Oh, kasian sekali. Ia pasti sedang menunggu kepulangannya.
Ichigo mendekat ke arahnya. Ia memperbaiki posisi tidur Rukia yang tidak bisa dikatakan sebagai posisi yang bagus. Tangan kanannya menumpu berat badannya. Sementara kakinya menggantung di udara. Ichigo hanya menggeleng-geleng sambil merutuki istrinya itu.
Ichigo melirik dress Rukia yang sedikit tersingkap, itu sedikit memperlihatkan bagian bawah paha mulusnya dan membuat Ichigo sedikit penasaran. Bolehkah ia membiarkan posisi baju tidurnya tetap seperti itu tanpa menutupinya?
Rukia menggeliat membuat Ichigo kembali menegapkan badan. Tampaknya ia sudah bangun sekarang.
"Kau sudah pulang ternyata?" Rukia menguap sekali kemudian ia mulai bangkit dengan rasa malas. Garis leher baju dress Rukia agak sedikit kebesaran, sehingga ketika ia mulai bergerak duduk, garis leher itu keluar dari bahunya dan memperlihatkan lengan atas mulusnya.
Ichigo tidak bisa menolong untuk kesusahan dari meneguk air ludah. "Aku minta maaf karena pulang terlambat," ujar Ichigo mengalihkan perhatiannya pada televisi."
"Apa kau sudah makan?" Tanya Rukia dengan suara yang masih terdengar serak.
"Ya, aku sudah makan di luar. Bagaimana denganmu sendiri?"
Rukia menaikan bahunya acuh. Padahal ia menunggu Ichigo untuk makan malam bersama tapi ternyata pria itu sudah makan duluan. Apa boleh buat, lagipula ia sudah tak lapar lagi. "Pasti kau makan di apartemen Inoue-sensei." Masih setengah mengantuk Rukia mengatakan itu.
"Hanya satu piring kari dan jus jeruk."
"Apa? Kenapa ia bisa tahu makanan kesukaanmu?"
Ichigo mengerjab. Sejak kapan Rukia mengetahui ia suka kari? Apa mungkin istrinya memperhatikan selera makannya yang sedikit berbeda jika ada menu kari?
"Aku tadi masak kari juga!" sambung Rukia. "Dan jus jeruk…" kali ini suaranya sedikit melemah. "Sia-sia saja aku masak itu, kalau begini jadinya lebih baik aku tidak melakukannya!"
Kenapa istrinya mendadak marah begitu? "Akan tetap aku makan besok pagi, oke?" Ichigo mencoba meredakan emosi Rukia. Ini sudah hampir malam dan ia sedikit lelah untuk berdebat.
"Tidak perlu, aku tidak akan memasak itu lagi!"
Dahi Ichigo langsung berkerut. "Ada apa dengan istriku yang masih muda ini? Apa sedang… cemburu?" Ichigo menyeringai. Ia menggeser posisi duduknya lebih mendekat ke arah Rukia.
Jejak-jejak merah muda timbul di kedua pipi istrinya. Ini semua karena ia tidak bisa menahan emosi setelah terjaga dari tidur. Belum lagi adanya komentar gossip mengenai suaminya dari siang tadi di sekolah. "Bu-bukan begitu, itu karena kau tidak memikirkanku… bahwa aku pasti akan menyiapkanmu makanan di rumah. Seharusnya kau bisa menerkanya!"
"Aku tentu memikirkanmu, Rukia."
Tampaknya Rukia salah mengambil kata-kata. Detik berikutnya Ichigo mendorongnya hingga pria itu bisa berada di atasnya, Ichigo mengklaim bibirnya dengan lembut, matanya tertutup perlahan untuk merasakan apakah istrinya berani membalas ciumannya—Baiklah, ia tidak mendapatkan itu.
"Ich.. chigo, apa yang kau lakukan?" Rukia dapat mengeluarkan suaranya ketika ciuman Ichigo pindah ke pipinya. Menciumi kedua pipi halus istrinya dengan mesra. Owh, ia sangat menggemaskan.
Kecanggungan pergerakan badan istrinya begitu terlihat. Ichigo lebih baik menghentikannya. Akhirnya ia menarik diri dan membantu Rukia duduk juga. "Kau!"
Ichigo tersenyum, "lain kali aku tidak akan makan di luar."
"I-itu tidak masalah kau mau makan dimanapun. Itu terserah kau!" Kegugupan di wajah Rukia tidak bisa ditutupi walaupun kembali dengan marah-marah.
Ichigo melonggarkan dasinya tampaknya ia mulai kepanasan. Dan kejadian selanjutnya adalah—
Chup! Chup! Chup!
Kyaaa!
Kembali membuat Rukia berteriak karena mencuri-cium di beberapa bagian wajahnya. Well, jangan pernah salahkan Ichigo.
.
.
.
[tbc]
Haruna Aoi : hahah Ichigo sabar kok, bisa nahan nafsu, lagian Rukia badannya juga kecil, kan XD oke, thanks for reading.
Je je : Yah, Ichigo baru sekali minum darah Rukia karena ia takut ketagihan, bisa-bisa mati juga tuh anak kalo disedot terus wakakakka XD soal Ishida, iyep dia emang vampire tapi kayaknya perannya gak banyak deh soalnya dia aja masih kerja di SMP kemarin XD ok, terimakasih atas pertanyaannya.
Ciro : Makasih sudah review.
Guest : Wah boleh juga tuh, boleh deh dipake idemu ntar XD makasih ya.
Guest2 : OMG, syukurlah jika kamu suka. Aku takut ntar kamu skeptis ke aku. Jangan yaaaa XD tenccuuu.
Summer : Makasih
Terimakasih sudah membaca.
