Aku mengantar Evie dan Mal ke kamar mereka di asrama putri. Setiap anak yang kami lewati, semuanya memandangi kami—tepatnya memandang ke arah kedua anak baru ini. Kupikir wajar, karena, pertama, mereka anak baru dan ini baru pertama kali dalam seumur hidup semua orang di Auradon melihat secara langsung orang dari Pulau Terhilang. Kedua, Evie dan Mal adalah putri dari Evil Queen dan Maleficent, salah dua dari musuh terburuk yang dibuang ke Pulau Terhilang. Ketiga, walau sekali pun mereka bukan anak baru, kuyakin keduanya akan tetap mencuri perhatian dengan gaya busana mereka—tidak ada seorang pun di Auradon yang berpakaian seperti mereka. Keempat, Evie dan Mal merangkul masing-masing satu tanganku, secara tidak langsung aku merasa seperti sedang menjadi tawanan mereka.

Bagaimana dengan Doug yang mengantar dua anak baru yang lain? Maksudku, di sini aku sangat sering menggigit bibir, kecuali saat aku menjelaskan blok mana itu apa pada kedua gadis baru ini.

.

.

Disclaimer: Descendants adalah milik Disney, OC adalah milik author, author tidak mengambil keuntungan.

Warning: Akan ada kemungkinan OC menjadi mary-sue tapi author berusaha untuk tidak berlebihan. OC x Jay, slight other minor pairings, mungkin OOC.

.

Heart's Stealer
Chapter 2

by Fei Mei

.

.

Kamar yang kami tuju ada di paling ujung. Begitu aku menemukan pintu kamar dengan papan nama bertuliskan 'Mal & Evie', aku langsung membukakan pintu bagi mereka, mempersilakan mereka masuk duluan.

Setiap kamar asrama di Auradon sebenarnya sama saja—sama besar, segala macam perabotnya sama, desain dan tata ruangnya sama, warnanya sama. Kamar perempuan akan sama semua, begitu juga dengan kamar laki-laki. Satu-satunya kamar yang berbeda adalah kamar Ben, karena tidur sendiri di kamarnya.

"Wow, tempat ini sangat—"

"—menjijikan," kata Mal memotong perkataan temannya.

Ah, oke, keluar dari mulut seorang anak dari Pulau Terhilang, aku tidak bisa merasa kaget dengan komentar itu. Aku hanya harus membiasakan diri mendengar komentar-komentar semacam itu ke depannya.

"Ya, kan?" timpal Evie. "Sangat menjijikan. Ew."

"Uh, aku akan bisa mendapat terlalu banyak terbakar sinar matahari," kata Mal lagi.

"Iya!" ucap Evie setuju.

"E!" panggil Mal dan keduanya langsung meraih gorden di jendela terdekat dan langsung menutup jendela. Karena hari masih siang, aku tidak menyalakan lampu kamar ini, dan sekarang jadi agak remang karena hanya mengandalkan cahaya dari cahaya matahari yang menembus gorden saja.

"Eh, sebenarnya, kalau kalian tidak senang dengan kamarnya, kalian bisa mendekorasi sendiri," kataku, mendapat perhatian mereka. "Mengubah cat dinding, menambah perabot, apapun. Aku dan teman sekamarku melakukannya."

"Dengan menambah jendela kamar?" tebak Mal.

"Bukan, bukan," jawabku sambil tersenyum. "Kami hanya menambah rak buku dan mengubah warna dinding. Aku suka warna biru dan Lonnie suka warna merah muda, jadi kami mengecatnya menjadi ungu kemerahan."

"Oooh, aku suka pilihan warna favoritmu," kata Evie. Aku hanya bisa tersenyum padanya. Maksudku, sepertnya Mal jelas suka warna ungu karena pakaiannya serba ungu. Sedangkan Evie, kupikir ia pasti suka warna biru karena dari atas sampai bawah, kecuali tasnya, berwarna biru.

"Baiklah, sebelum aku membiarkan kalian istirahat, adakah yang ingin kalian tanyakan?" tanyaku. Evie dan Mal saling pandang kemudian menoleh padaku lagi dan menggelengkan kepala mereka. "Selamat beristirahat, kalau begitu." Dan setelahnya aku meninggalkan mereka.

.

.

Lonnie menghujaniku banyak pertanyaan mengenai keempat murid baru begitu aku kembali ke kamar. Huh, padahal tadinya ia sedang membaca buku di atas ranjang. Karena aku sendiri juga baru tahu sebatas nama—oh, aku belum tahu satu nama selain Jay, Evie, dan Mal—dan orangtua mereka, jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaan Lonnie dengan detil. Malah, aku hampir tersedak sendiri saat gadis ini bertanya kalau ada anak yang tampan.

"T-tampan?" pekikku pelan, kurasakan pipiku menghangat.

Teman sekamarku ini langsung terkikik senang. "Oooh, ada yang membuatmu tertarik, ya?"

"Bukan begitu!" jawabku cepat, dan rasa hangat di pipiku masih terus ada.

"Siapa? Siapa?" tanya Lonnie senang.

"Lonnie, berhentilah menggodaku!" erangku lemah.

Ia malah tertawa. "Aku tidak menggodamu, aku hanya tanya saja!"

"Uh, kau menyebalkan!" erangku lagi.

"Jadi? Siapa?"

Kugigit bibirku, agak ragu untuk menjawab. Maksudku, yah, aku tidak yakin kalau aku harus menjawab ini. Tapi Lonnie mendesakku lagi, membuatku menghela dan menyerah. "Jay," bisikku.

"Jay? Putra Jafar?" tanyanya. Aku mengangguk, ia tersenyum senang. "Wow, tak kusangka yang akan menjadi cina pertamamu adalah seorang anak nakal!"

Aku termegap. "Lonnie! Aku tidak bilang-bilang apa-apa soal cinta pertama!"

"Beth!" kata Lonnie tidak mau kalah. "Kalau tidak pernah suka pada siapa pun, kan? Nah, berarti Jay jadi cinta pertamamu!"

"A-aku tidak bilang apa-apa soal s-suka!" kataku dengan wajah yang kupikir sudah semerah tomat. "Aku kan, hanya, eh, bilang dia tampan, mungkin tubuhnya agak sedikit atletis dan tinggi, senyumnya manis, dan, yah, dia memberiku bunga. Tapi aku—"

"Kau benar-benar suka dia?" tanya Lonnie sambil menyengir.

"Aku baru bertemu dengannya hari ini, Lonnie!" erangku.

"Yah, itulah kekuatan cinta pada pandangan pertama," katanya sambil masih menyengir. "Dan, bunga?"

Aku merogoh saku rokku, memperlihatkan bunga kecil yang dipungut Jay di pinggir jalan. "Sewaktu bersalaman denganku, ia mengambil bunga ini di pinggir jalan dan diberikannya padaku."

Lonnie masih menyengir. "Dan kau menyimpannya?"

Kuputar bola mataku. "Aku hanya mengikuti kata-kata mamaku, aku harus menerima dan menyimpan barang pemberian orang lain, suka mau pun tidak."

"Dalam kasus ini kupikir kau suka," kata Lonnie.

Aku mengerang. Uh, yang benar saja.

.

.

Keesokkan harinya, aku melihat Jane, putri Kepala Sekolah, di depan suatu kelas. Kulihat ia sedang memegang kertas-kertas di tangannya, dan wajahnya gugup. Aku agak menyerngit, karena seingatku harusnya ia pergi ke kelas Biologi, kelas yang sama dengan yang kutuju sekarang. Perlahan kuhampiri dia.

"Hai, Jane," sapaku lembut.

Jane agak terkejut saat kusapa, dan ia berusaha tersenyum walau aku masih bisa melihat kegugupan yang ada di wajahnya. "H-hai, Beth."

"Kau sedang apa? Kau tidak mungkin dihukum, kan?" godaku sambil menyengir kecil. Tentu saja, Jane mana mungkin kena hukum, mungkin ia malah adalah murid dengan sikap yang paling baik, mengingat ibunya adalah seorang Ibu Peri. Dan lagi, mana mungkin ia dihukum di sini padahal ruang kelasnya di jam ini bukanlah di sini?

"Ah, aku s-sedang menunggu ibuku menyelesaikan kelasnya y-yang ini," jawabnya. "A-aku ingin minta tanda tangan di kertas ini, u-untuk koronasi Ben."

Aku mengangguk paham. "Tapi ... kalau menunggu ibumu begini, tidakkah kau akan telat masuk kelas?"

"I-iya, sih ... " gumamnya. "Tapi aku takut ... ibuku sedang, eh, mengajar empat anak dari Pulau Terhilang itu ... "

Sekarang aku menyerngit. "Kenapa takut?"

"B-bagaimana kalau aku dikerjai saat masuk kelas? Bagaimana kalau a-aku diejek? Atau, bagaimana kalau aku d-dimasukkan dalam daftar anak-anak yang akan dikerjai?" tanya Jane cemas.

" ... Huh, aku tidak pernah kepikiran untuk yang itu," gumamku.

"Ya, kan?!"

"Tapi mereka tidak akan bisa melakukannya di Auradon, Jane," ujarku pelan. "Begini, bagaimana kalau aku menemanimu masuk? Biar kalau memang kau akan dikerjai, kau tidak sendirian. Dan lagi, kita akan benar-benar telat masuk kelas kalau kau tidak segera minta tanda tangan ibumu."

Jane memkirkannya sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Aku tersenyum kecil dan ia berjalan duluan masuk ke kelas yang sedang diajar Ibu Peri.

Kelas itu sangat sepi—benar-benar sepi. Jelas saja, hanya ada lima orang yang ada di ruangan yang bisa menampung tiga puluhan murid ini sekarang. Jane berjalan lewat barisan tengah, agak berlari kecil menuju ibunya yang ada di depan kelas, sedangkan aku hanya berjalan cepat mengikuti gadis itu dari belakang. Jane memekik pelan saat ia melewati keempat murid kelas ini. Aku hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum kecil melihat tingkahnya.

"Oh, halo, anak-anakku," sapa Ibu Peri sambil tersenyum ketika akhirnya kami tiba di depan kelas.

Ibu Peri sudah biasa memanggil semua murid dengan sebutan anak-anaknya, tidak hanya pada putrinya sendiri. Makanya, kalau keempat orang ini tidak tahu kalau aku adik Ben, maka mereka akan berpikir bahwa aku dan Jane bersaudara dan sama-sama anak dari Ibu Peri.

"Hai, Bu," sapa Jane dengan nada takut.

"Selamat pagi, Kepala Sekolah, aku hanya ingin menemani Jane," balasku. Ibu Peri mengangguk padaku lalu menoleh lagi putrinya sendiri.

"Kau diminta untuk menandatangani sesuatu untuk koronasi," ujar Jane sambil agak gugup, lalu menyerahkan kertas yang ada di tangannya pada Ibu Peri.

Ibu Peri mengambil kertas itu dan menandatangani beberapa kertas, setelah itu menyerahkannya lagi pada putrinya. Bukannya langsung mempersilakan kami kembali ke kelas masing-masing, Ibu Peri malah memperkenalkan putrinya pada keempat murid kelasnya. "Kalian ingat putriku, Jane?"

"Ma, jangan!" pekik Jane takut.

"Tidak apa-apa," kata Ibu Peri. "Jane, ini mereka semua. Oh, dan kalian sudah kenal Bethany, kan?"

"Hai, Beth," sapa Jay. Aku menoleh padanya dan melihat ia mengedipkan sebelah matanya padaku. Langsung saja aku menggigit bibir dan memalingkan wajah agar mereka tidak menyadari rona merah di mukaku.

"Tidak apa-apa, hiraukan saja aku, seperti yang tadi kalian lakukan," kata Jane, masih agak gemetar.

Jane berlari kecil meninggalkan ibunya, aku pun ikut di belakangnya. Lagi-lagi Jane memekik saat harus melewati keempat anak itu. Sedangkan aku tidak kuasa untuk melirik Jay dengan sudut mataku saat berjalan melewatinya. Kulihat ia terus menyengir jahil sambil terus menatapku.

"Phew, aku keluar dari kelas ini dengan selamat!" ujar Jane segera setelah kami keluar dari ruang kelas ibunya. Mau tak mau aku tersenyum mendengarnya. Kami pun segera berjalan ke kelas Biologi.

Sambil berjalan, aku jadi kepikiran tentang apa yang dikatakan Lonnie kemarin, soal Jay. Maksudku, aku benar-benar baru bertemu pemuda itu, mungkin baru sekitar dua puluh empat jam atau lebih sedikit. Memang benar aku belum pernah suka pada siapa pun—suka dalam hal lebih dari sekedar teman—tapi masa iya, sekalinya aku suka pada seseorang, itu terjadi hanya dalam pandangan pertama?

.

.

Waktu kecil, aku paling tidak suka matematika, makanya nilai raporku selalu paling rendah untuk pelajaran yang satu itu, tidak pernah merah tapi sangat pas-pasan. Orangtuaku tidak pernah marah atau mengungkapkan rasa kecewa gara-gara ini, mereka juga tidak pernah membandingkan aku dengan Ben yang selalu mendapat nilai tinggi untuk kelas matematika.

Suatu ketika Ben masuk ke kamarku dan mengajariku matematika. Dengan susah payah dan penuh kesabaran, kakakku mengajari sebisanya sampai mungkin setahun. Nilai matematikaku meningkat perlahan setiap tes, sampai aku bisa mendapat nilai A untuk pelajaran matematika di akhir kelas tiga SD. Dan di kelas empat, aku berhasil jadi juara umum karena Ben masih menemaniku belajar bahkan untuk semua pelajaran, tanpa kuminta, sampai akhirnya dari kelas empat itu bukannya aku naik ke kelas lima, malah aku langsung naik ke kelas enam dan sekelas dengan Ben. Sejak itu aku jadi suka pelajaran matematika.

Yang dulunya aku tidak pernah mau duduk paling depan di kelas hitung-hitungan itu, sekarang aku berusaha untuk duduk di paling depan. Tetapi kali ini aku tidak berhasil dapat kursi di paling depan. Sebelum masuk kelas matematika tadi, aku menghabiskan waktu istirahat siangku di perpustakaan dengan Lonnie, dan baru sadar kalau kami harus segera ke kelas saat bel berbunyi. Kami agak telat masuk kelas, dan tidak dapat duduk bersebelahan di paling depan. Yah, setidaknya Mr Ramsey belum masuk kelas.

Masuk kelas, hanya tinggal dua kursi yang belum ditempati: kursi di sebelah Eri yang menggunakan kursi roda, dan kursi di sebelah Jay. Lonnie menyengir padaku lalu buru-buru duduk di samping Eri. Sambil menggurutu pelan dalam hati, aku pun beranjak ke samping Jay sambil menggigit bibir dan duduk di sampingnya.

"Hai, Beth," sapa Jay saat aku sudah duduk di sampingnya.

Aku menoleh dan berusaha tersenyum kecil padanya. "Hai, Jay."

"Kupikir tadi aku yang paling terlambat masuk kelas tadi," ujar Jay. "Lima menit kemudian kau duduk di sampingku."

Senyumku melebar. "Aku habis dari perpustakaan dengan Lonnie untuk meminjam beberapa buku."

"Beberapa buku, yang ini?" tanya Jay sambil menunjuk tumpukan buku tebal yang kutaruh di atas mejaku. Aku mengangguk. "Kau penggila buku?"

Aku mengangguk lagi. "Lonnie juga, pas sekali kami sekamar tahun ini."

"Tunggu, maksudnya setiap tahun kau akan sekamar dengan anak yang berbeda? Tahun depan aku tidak akan dengan Carlos?" tanya Jay.

AAAAAHH ... akhirnya aku tahu nama pemuda yang pendek itu!

"Tidak juga, tapi biasanya akan diacak lagi kamarnya. Untuk kau dan teman-temanmu, Ibu Peri sengaja membuatmu sekamar dengan Carlos, dan Evie dengan Mal, karena kalian masih anak baru dan pasti akan sangat canggung kalau harus sekamar dengan orang lain," jelasku. "Dan lagi, Ben baru menetapkan kalian untuk pindah ke sini setelah beberapa saat kami masuk kamar."

Jay menyengir. "Boleh aku sekamar denganmu tahun depan?"

Aku termegap dan wajahku memanas. "T-tidak boleh! Laki-laki hanya boleh sekamar dengan laki-laki, begitu juga perempuan dengan perempuan!" Uuuh, kenapa Mr Ramsey belum masuk kelas juga, sih?

"Aku bercanda. Oh, omong-omong," Jay merogoh kantong bajunya dan menyodorkan sesuatu. Aku agak bingung melihatnya, karena ia menyodorkan bunga kecil padaku, seperti waktu kemarin ia bertemu denganku. "Tadi saat jam olahraga, aku menemukan ini di samping tribun, tersisih sendiri."

Aku menyerngit sambil menerimanya. "Kenapa kau memberikan aku bunga yang tersisih, lagi?"

Ia mengangkat bahu. "Aku ingin ambil bunga yang ada di rerumputan, tapi kalau aku menginjak rumput, pasti akan dimarahi. Jadi aku ambil yang tidak perlu menginjak rumput."

Mau tak mau aku tersenyum kecil mendengarnya. "Terimakasih, Jay."

"Untuk tidak menginjak rumput?" tanyanya sambil menyerngit.

Aku terkekeh pelan, lalu kulihat Mr Ramsey akhirnya masuk kelas dan menuju ke depan kelas. "Itu, dan untuk bunga ini. Biasanya orang memberiku buket bunga plastik, atau buket bunga asli yang sudah dihias rapi dan diberi parfum, tapi kau memberiku dengan apa adanya," bisikku sambil tersenyum.

Kulihat Jay tersenyum. "Kau tahu, mungkin aku harus lebih sering melihat sekeliling, siapa tahu aku menemukan bunga yang di pinggir jalan lagi untuk diberikan kepadamu." Aku harus menggigit bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar, tak lupa agak menunduk agar jangan memamerkan wajahku yang merona.

"Jay!" seru Mr Ramsey. "Peraturan pertama di kelas ini adalah JANGAN MENGOBROL! Ingat itu!"

... Aku lupa, Mr Ramsey sangat galak.

.

.

"Dia memberimu bunga lagi?!" pekik Lonnie senang. Heran, aku yang dapat bunga, malah Lonnie yang memekik senang. "Astaga, kalian saling suka!"

"Lonnie!" pekikku pelan, sambil menarik tangannya masuk ke dalam kamar mandi. Jelas saja, aku tidak mau sampai orang-orang mendengar apa yang temanku itu katakan, lalu gosip pun tersebar.

"Ayolah, Beth, aku melihatmu dengan Jay tadi, dan kau jelas-jelas terlihat suka padanya!" kata Lonnie setelah kami masuk kamar mandi.

"Lonnie, pertama, dia hanya memberiku bunga, bukan berarti dia suka padaku," kataku, "kedua, aku bersikap seperti tadi di kelas bukan karena aku suka padanya, tapi karena ia ada di dekatku—kau tahu anak laki-laki yang dekat denganku itu hanya Ben, dan atau Doug."

"Tapi—" Lonnie menghentikan perkataannya sambil menyerngit melihat pada cermin. Ia menoleh ke belakang, tepatnya ke arah pintu. Sambil ikutan menyerngit aku menoleh juga, melihat ke obyek yang membuat Lonnie menyerngit. "—Jane?"

Sekarang aku menyerngit bukan karena melihat teman yang bersamaku ini menyerngit, melainkan karena aku melihat Jane. Wajahnya memang wajah anak gadis Ibu Peri, pakaian yang dikenakannya pun sama dengan ia kenakan saat aku bertemu dengannya saat sebelum dan sedang kelas Biologi. Tetapi tatanan rambutnya sangat jauh berbeda. Bukan rambut pendek yang disisir rapi serta mengenakan bando, tetapi rambut yang agak panjang bergelombang, diikat ke samping dan mengenakan pita panjang. Manis sekali, kupikir.

"Hei," sapa Jane gugup sambil tersenyum kecil.

"Wow, apa yang terjadi dengan rambutmu?" tanya Lonnie.

"Mal," jawab Jane singkat. "Ia mengubah rambutku menjadi begini."

"Mal? Bagaimana caranya?" kini aku yang bertanya.

"D-dia menggunakan sihir yang ada di buku mantranya," ujar Jane, masih agak gugup, tapi suaranya menyiratkan rasa senang. "Menurutmu ini cocok denganku?"

Aku mengangguk sambil tersenyum. "Ibumu sudah tahu?"

Jane menggeleng. "Astaga, ia tidak akan suka ini, kan?"

"Bohong saja!" sahut Lonnie. Aku termegap kecil. "Maksudku, yah, bilang saja kau habis pakai sambungan rambut atau obat apa."

"Oh, aku tidak kepikiran," gumam Jane.

"Aku juga ingin minta Mal, ah!" kata Lonnie. "Siapa tahu Mal bisa membuat rambutku panjang tanpa harus terlihat seperti mamaku." Aku terkekeh mendengarnya. "Kau mau ikut, Beth? Kita bisa mendatangi kamarnya sekarang."

"Aku ada pengukuran gaun lagi hari ini, untuk koronasi," ujarku. "Titip salam untuk Evie dan Mal?"

Lonnie mengangguk.

.

.

Aku tidak paham, sungguh, kenapa aku harus punya dua gaun baru untuk koronasi Ben? Dua, dan baru. Mama bilang gaun pertama dipakai untuk koronasi, gaun kedua untuk pesta setelah koronasi. Baiklah, tapi kenapa mesti baru? Masih ada beberapa gaun di lemari bajuku yang belum pernah kupakai, gara-gara aku tidak suka pakai gaun mewah.

Uh, Ben yang akan diangkat jadi raja, kenapa harus aku ikut-ikut punya baju baru? aku tidak mengerti jalan pikiran papa. Iya, papa, bukan mama. Bagaimana pun dulu mama bukan seorang putri, ia hanya gadis biasa, sedangkan papa seorang pangeran. Jadi, soal koronasi, itu urusan papa saja yang paham, mama hanya mengikuti kata-katanya saja, termasuk soal urusan gaunku. Huh.

Ketika pengukuran gaun sudah selesai, aku berniat untuk langsung ke kamar saja. Tapi entah kebetulan atau apa, baru saja aku masuk ke gedung asrama, aku bertemu dengan Jay yang juga akan masuk asrama. Ia langsung tersenyum lebar padaku, membuat wajahku merona merah melihatnya.

Jay menghampiriku. "Hai, Beth," ucapnya senang.

"Hai, Jay," balasku pelan, lalu mataku tertuju pada kaos seragam tim tourney di tangannya. "Um, ada apa dengan seragam itu?"

"Oh, Pelatih Jenkins bilang aku masuk tim sekarang," jawabnya, masih terus tersenyum. Jay merentangkan kaos yang ia pegang, lalu aku bisa melihat nomor delapan dan nama 'JAY' di punggung kaos itu.

"Sungguh? Selamat!" kataku, agak tidak percaya bahwa ia bisa bergabung dengan tim.

"Dan, omong-omong, aku menemukan ini lagi tadi," kata Jay, ia merogoh saku bajunya lagi dan menyodorkanku bunga kecil lagi.

"Lagi? Untuk kedua kalinya hari ini?" tanyaku, antara bingung, tercengang, dan terperangah.

Jay mengangkat sebelah bahunya. "Kebetulan aku melihatnya."

Aku tersenyum kecil sambil menerima bunga itu. "Terimakasih, Jay."

"Bethany!" panggil seseorang. Aku menoleh, melihat Mr Ramsey, guru matematika kami, agak tergeropoh menghampiriku. "Syukurlah aku bisa bertemu denganmu di sini."

"Uh, ada apa, Mr Ramsey?" tanyaku.

"Besok aku tidak akan bisa hadir di kelas. Aku ingin titip hasil tes yang tadi, biar besok kau bagikan pada teman-temanmu, lalu yang mendapat nilai merah bisa belajar lagi dan lusa kita bisa segera mulai topik baru," kata Mr Ramsey sambil menyodorkan tumpukan kertas.

Ah, ya, hasil tes. Selain galak, salah satu kebiasaan Mr Ramsey adalah memberikan tes setiap kali ia selesai mengajarkan suatu topik. Karena topik yang diajarkan tadi hanya butuh sekali pertemuan, jadi ia langsung memberi tes. Seperti ujian, tidak boleh kerja sama, tapi tes kecil ini boleh buka buku.

Aku mengangguk sambil menerima tumpukan kertas itu. Mr Ramsey langsung pergi setelahnya. Aku melihat lembar kertas yang paling atas dan bernamakan 'Jay', mataku langsung agak membulat sempurna melihat nilainya. Huruf F besar dengan tinta merah tercetak di kotak nilai. Sontak aku menoleh pada pemuda yang sedang ada bersamaku.

"Ah, seriusan, nih?" erang Jay sambil menarik lembar hasil tesnya sendiri dari tanganku. "Yah, waktu di Dragon Hall aku juga payah, sih."

Mendengar nama itu, aku menyerngit. "Dragon Hall?"

"Itu sekolah yang di Pulau," jawab Jay. "Aku parah soal matematika yang pakai rumus-rumus aneh."

Aku langsung terkekeh pelan mendengarnya—aku seperti mendengar ucapanku sendiri sewaktu SD. "Jay, kau mau kuajari?"

"Kau mau mengajariku?" tanyanya sambil menyerngit.

Kuanggukkan kepalaku dan tersenyum. "Dulu aku paling benci matematika, tapi Ben dengan sangat sabar mengajariku sampai aku suka pelajaran ini. Mungkin aku bisa membantumu belajar seperti yang pernah Ben lakukan padaku—oh, atau aku bisa minta Ben menjadi tutor untukmu."

"Tidak, tidak, kau saja," kata Jay cepat sambil menyengir. "Sekarang bisa? Di kamarku?"

"Eh, aku harus ke kamar dulu, mungkin aku akan ke kamarmu jam enam?" tawarku. Jay mengangguk. "Oke, eh, sampai ketemu nanti."

Aku tersenyum, dan sebelum senyumku terlalu lebar langsung saja aku menggigit bibir dan memalingkan wajah, setelahnya langsung melangkah cepat menuju kamarku. Uh, kuyakin Lonnie akan langsung menggodaku mengenai ini.

.

.

TBC

.

.