"Kami hanya belajar saja, Lonnie," erangku untuk kesekian kalinya, kuharap ini yang terakhir, karena jam dinding sudah menunjukkan pukul enam kurang sepuluh.
"Oh, aku tidak yakin ini akan menjadi belajar saja, Beth," balas Lonnie, untuk kesekian kalinya juga.
"Lonnie!" erangku, lagi.
"Beth!" balasnya dengan nada yang sama denganku, beda dengan wajahku yang sudah mulai kesal karena ia menggodaku, wajahnya malah terlihat semakin riang. "Buktinya kau berpakaian manis hanya untuk mengajari Jay matematika!"
M-manis? "Lonnie, ini gaya berpakaianku yang biasa, ingat? Dan tidak mungkin aku datang ke kamarnya dengan piyama!"
Gadis Asia, yang omong-omong rambutnya sudah dibuat panjang dan ditata ulang menjadi sangat bagus oleh Mal, hanya terkekeh. "Oke, oke, terserah. Sudah mau jam enam, selamat menikmati kegiatan belajar kalian," godanya lagi, setidaknya kali ini ia hanya menggunakan kata 'belajar', bukan 'kencan' atau apa pun yang menjurus ke sana.
.
.
Disclaimer: Descendants adalah milik Disney, OC adalah milik author, author tidak mengambil keuntungan.
Warning: Akan ada kemungkinan OC menjadi mary-sue tapi author berusaha untuk tidak berlebihan. OC x Jay, slight other minor pairings, mungkin OOC.
.
Heart's Stealer
Chapter 3
by Fei Mei
.
.
Aku mengetuk pintu kamar Jay dan Carlos. Hanya butuh waktu sangat sebentar untuk seseorang dari dalam kamar membukakan pintu. Dan yang membuka pintu adalah Carlos. Aku langsung tersenyum padanya, sedangkan ia tampak terkejut melihatku.
"Uh, hai, Carlos," sapaku. "Eh, aku ada janji untuk membantu Jay belajar matematika di kamar kalian. Dia ada?"
"Oh, oh, yah, masuklah," katanya, aku pun masuk dan mengucapkan terimakasih padanya. Aku langsung tersenyum melihat Jay di dalam. Belum sempat salah satu dari kami mengucapkan sepatah kata, Carlos mengeluarkan suaranya lagi, "kau mengusirku hanya karena kau ingin belajar dengan Beth?!"
Aku menyerngit, menatap Carlos dan Jay bergantian. "Apa?"
"Kalau dia mau mengajari matematika, aku juga ingin ikut!" sahut Carlos.
Jay menghampiri pemuda yang lebih pendek darinya, dan aku bisa melihat Jay mendorong temannya menuju pintu. "Kau sudah dapat B+, itu sudah tinggi, aku dapat F!"
"Aku ingin dapat A!" raung Carlos, berusaha melepaskan diri dari Jay.
"Carlos—" Jay menghentikan kalimatnya saat kulihat Carlos berhasil lepas dari Jay.
Putra Cruella itu berlari dengan cepat ke arahku. Aku agak kaget karena ia bersembunyi di punggungku. Ketika Jay menghampiriku untuk bisa menangkapnya, Carlos terus bersembunyi di belakangku, menarik-narik bajuku agar aku terus bisa menutupinya. Jay yang kesal karena tak bisa mendapatkan Carlos terus, mungkin memutuskan untuk menggeser tubuhku, makanya ia memegang erat bahuku. Tapi mungkin ada satu hal yang diluar perhitungan Jay, ia tidak tahu kalau dengan melakukan hal itu, wajah kami akan begitu dekat.
Aku bisa langsung merasakan wajahku menghangat karena wajah Jay ada di depanku. Dan ia juga tampak terkejut.
"Oh, eh, maaf," gumam Jay sambil perlahan melepaskan tangannya dariku.
"Tidak apa," gumamku sambil tersenyum kecil, lalu menoleh pada Carlos dan setelahnya pada Jay lagi. "Kenapa kita tidak belajar bertiga? Mungkin akan lebih seru?"
"A-apa?" tanya Jay, bersamaan dengan Carlos yang kegirangan sambil berseru 'yes!'.
"Yah, biar sekalian," kataku lagi.
Jay akhirnya menyerah dan duduk di kursi. Aku ikut duduk di kursi di sampingnya, muai membuka buku teks matematika. Sedangkan Carlos baru duduk di samping kami setelah ia mengambil hasil tesnya.
.
.
Mungkin karena dari awal nilai Carlos tidak buruk, makanya ia lebih cepat paham akan apa yang kujelaskan dan bisa selesai mengerjakan contoh soal di buku teks lebih cepat dibanding Jay. Yah, waktu aku melihat lembar jawab tes milik Carlos, memang ia hanya salah pada bagian hasil akhirnya—kupikir mungkin ia hanya kurang teliti saat menghitung hasil akhir.
Sedangkan Jay, ia benar waktu bilang bahwa ia parah dalam pelajaran ini, mungkin malah lebih parah dari pada zaman aku masih membenci matematika. Sebisa mungkin aku mengajarinya, dan Carlos, seperti bagaimana Ben mengajariku. Aku tidak tahu apakah Jay benar-benar mengerti atau tidak, ia hanya mengangguk-angguk saja. Untuk mengerjakan contoh soal yang ada di buku teks, aku masih harus membantunya, selebihnya aku minta dia untuk mengerjakannya sendiri sambil melihat catatan yang telah kuberikan tadi.
Ketika Carlos sudah selesai, aku sempat melirik soal bagian Jay sebelum aku memeriksa hasil pengerjaan putra Cruella. Aku agak merasa lega waktu melihat si putra Jafar ternyata sedang mengerjakan nomor tujuh dari sepuluh soal.
Aku memeriksa hasil kerja Carlos, setelahnya tersenyum karena semua rumus dan hasil yang ia dapatkan itu benar. Carlos memekik senang dan langsung mengaduh setelahnya karena Jay melemparinya kotak pensil sambil bilang bahwa temannya itu berisik.
"Apa yang kalian lakukan di Auradon untuk bersenang-senang?" tanya Carlos yang sudah selesai belajar.
"Uh, setiap orang berbeda-beda, mungkin," gumamku. "Sebagian menghabiskan waktu di lapangan, tapi aku lebih sering membaca di perpustakaan atau di kamar."
Carlos menyerngit. "Kau memasukkan kegiatan membaca sebagai kegiatan bersenang-senang?"
"Makanya kubilang bahwa setiap orang berbeda-beda," ujarku sambil tersenyum kecil. "Oh, bagaimana dengan kalian sewaktu di Pulau?"
Pemuda berambut pirang itu menggigit bibir lalu spontan menoleh pada Jay. Agak menyerngit, aku ikut menoleh pada pemuda yang tinggi itu. Kulihat Jay dan Carlos saling melirik, aku jadi bingung sendiri.
"Begitulah," jawab keduanya bersamaan sambil mengangkat bahu.
"Apa? Maksudnya apa?" tanyaku.
"Tidak penting," kata Carlos cepat. "Kudengar kau pernah lompat kelas, kan? Berarti kau anak yang jenius dalam semua mata pelajaran?"
Wajahku menghangat dan menggeleng. "Aku hanya bisa mengandalkan nilai teori untuk pelajaran komputer. Aku agak buta teknologi, makanya kalau ulangan, aku harus sangat menghapal teorinya."
"Kau tinggal di Auradon dan tetap gaptek? Wow," komentar Carlos.
Aku terkekeh. "Bagaimana denganmu sendiri?"
"Aku? Komputer adalah pelajaran favoritku. Itu sangat seru, kau tahu. Aneh, tapi seru," jawab Carlos.
"Yah, Carlos adalah yang paling canggih soal teknologi di antara kami," celetuk Jay. "Nih, aku sudah selesai."
Jay menyodorkan hasil kerjanya padaku. Sambil tersenyum aku langsung menerima dan memeriksanya. Waktu memeriksa pun Carlos tadi, kupikir gaya tulisan Carlos itu sudah yang paling berantakan, tapi ternyata Jay masih agak lebih parah. Yah, setidaknya aku masih bisa membacanya.
Aku menandai empat nomor dengan pensil, lalu mengopernya lagi pada pemiliknya. "Jay, pemilihan rumusnya sudah benar semua, tapi untuk empat nomor yang kutandai itu berarti kau salah memasukkan angka. Enam nomor selebihnya sudah benar sampai hasilnya." Jay mengerang sambil melihat kembali kertasnya. Aku tersenyum lembut. "Tidak apa, setidaknya sekarang kau tahu rumus apa digunakan untuk kapan. Kau hanya harus bisa lebih memahami bahasa soal."
Pemuda itu mengangguk, dan tepat pada saat itu, aku mendengar suara keroncongan perut milikku. Aku menggigit bibirku, melirik ke arah jam dinding. Astaga, sudah mau jam sembilan?
"Kau belum makan malam?" tanya Jay pelan, aku mengangguk. "Uh, yah, kita bisa melanjutkannya besok, kan? Aku juga belum makan malam. Carlos?"
"Huh? Oh, aku sudah makan sebelum kembali ke kamar tadi," jawab Carlos.
"Kantin pasti sudah tutup jam segini," gumamku sambil berdiri dari kursi. "Aku akan buat makan malam di dapur, mau ikut, Jay?" Jay mengangguk dan kami pun keluar kamar, menuju dapur asrama.
.
.
Kulkas dapur asrama tidak pernah penuh. Wajar, sih, karena memang jarang diisi, juga jarang ada penghuni asrama yang datang untuk masak sendiri. Biasanya anak-anak akan beli makanan di kantin, bukan membuat makanan sendiri. Dan kalau bukan karena sekarang kantin sudah tutup, aku juga tidak akan kepikiran untuk masak sendiri.
Aku berpikir untuk memasak sesuatu yang mudah dan cepat, apalagi karena sudah malam. Jadi kuputuskan untuk membuat nasi goreng. Kuambil wortel, buncis, bumbu dasar, dan menyendokkan dua porsi nasi putih ke piring. Sambil aku sedang menyiapkan bahan-bahan, Jay hanya berdiri di dekatku, sesekali aku menoleh padanya dan mendapati ia sedang menontoniku. Kugigit bibir dan berusaha agar bisa berkonsentrasi memasak.
"Kau seorang tuan putri, kan?" tanya Jay tiba-tiba ketika aku sedang memanaskan minyak di wajan.
Menyerngit, aku menoleh padanya. "Uh, ya, kenapa tanya begitu?"
"Yah, kupikir tuan putri tidak akan tahu cara memasak," ujarnya sambil mengangkat bahu.
Aku tersenyum kecil mendengarnya. "Mama pernah mengajariku memasak. Dulu dia bukan tuan putri, dan ia mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri tiap hari. Mama bilang, walau tidak ahli, perempuan harus tetap bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak."
"Oke, baiklah, beberapa pertanyaan cepat," ujar Jay. "Kau senang menjadi tuan putri?"
"Uh, biasa saja, mungkin?" jawabku dengan nada bertanya. "Maksudku, sebagian besar murid sekolah ini adalah keluarga dari kerajaan yang berbeda-beda, jadi rasanya tidak ada yang spesial dengan menjadi tuan putri."
"Hm, warna favorit?"
"Biru," jawabku. "Kau?"
"Merah, atau jingga. Hewan favorit?"
"Kupu-kupu," jawabku sambil tersenyum.
"Seriusan? Itu kan, kecil!" komentar Jay.
Kuangkat bahu. "Yah, dia kuat dengan caranya sendiri, dan mereka cantik. Bagaimana denganmu?"
"Ular, terutama kobra. Mereka keren." Yah, dia sebagai putra Jafar, entah kenapa aku tidak merasa heran dengan jawaban itu. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. "Pacar?"
Aku langsung tersedak, perlahan menoleh padanya, padahal tadinya aku sudah siap untuk memasukkan nasi putih dalam wajan. "Ap-apa?"
Kudapati Jay menyengir kecil padaku. "Kau punya pacar?"
"Oh, um, tidak," jawabku pelan, sambil hati-hati memasukkan nasi putih.
"Tipe ideal?" tanyanya lagi.
Uh, entah wajahku memanas karena ada di depan kompor yang menyala, atau karena pertanyaan Jay. "Eh, mungkin ... yang ... eh, entahlah, aku tidak pernah memikirkannya. Tapi kalau bisa, aku tidak ingin berhubungan dengan seorang pangeran."
"Kenapa? Kalau kau menikah dengan pangeran, kau bisa jadi ratu, kan?"
Aku tersenyum kecut sambil mengaduk nasi di wajan. "Pertama, biasanya putri dan pangeran menikah atas dasar politik, bukan cinta. Kedua, aku tidak mau jadi ratu, Jay, aku tidak cocok untuk itu—bahkan aku tidak masalah kalau orangtuaku bukan raja dan ratu."
"Kenapa?" tanya Jay lagi. Aku tidak bisa menoleh padanya sekarang, tapi lewat nadanya, aku yakin ia menyerngit saat ini. "Bukankah kalau jadi ratu, kau bisa jadi penguasa?"
"Menjadi penguasa bukan hal penting untukku, Jay. Dan lagi, tanggung jawab sebagai ratu itu akan sangat sulit, aku tidak yakin kalau aku mampu mengerjakannya. Menjadi putri yang harus tersenyum di depan orang-orang saja sudah cukup membuatku lelah sendiri," kataku.
"Tapi kenapa harus menyebut 'pangeran'?" tanya Jay lagi. "Maksudku, kau bisa saja menyebut 'raja muda', atau penghuni kerajaan lainnya. Kenapa spesifik pada 'pangeran'?"
Kugigit bibirku. Astaga, pemuda ini memang agak payah dalam matematika, tapi dia pintar menangkap kalimat yang terlontar!
"Kau tidak perlu jawab kalau tidak mau," kata Jay cepat setelahnya.
Aku tersenyum kecil. Kuambil dua piring dan mulai memindahkan nasi goreng yang sudah jadi ke dua piring bersih. Kutaruh kedua piring nasi goreng di meja, dan kami berdua duduk, bersiap untuk makan.
Jay menyendok besar nasi gorengnya ke dalam mulut. "Mm, ini enak!"
Lagi-lagi aku tersenyum, lalu senyum itu memudar. "Untuk pertanyaanmu yang terakhir tadi ... jawabannya adalah Chad."
"Chad?" tanya Jay sebelum ia menyuap lagi.
Aku mengangguk. "Pangeran Chad Charming. Putra dari Cinderella. Mama berteman baik dengan Cinderella, dan mereka ingin menjodohkan kami. Berawal dari obrolan biasa saja, sebenarnya, tapi makin lama keduanya seperti benar-benar ingin menikahkan kami. Dan kurasa jika kami besar nanti dan masing-masing belum punya pasangan, mungkin kami akan benar-benar menikah karena ini."
"Jadi ... itu sebabnya kau bilang tidak ingin dengan pangeran?" tanya Jay.
Lagi-lagi aku mengangguk lalu tersenyum kecil. "Dengan aku yang sekarang, sepertinya tidak mungkin aku akan dapat pacar. Jadi sebagai gantinya, aku hanya tinggal berharap Chad segera punya pacar dan melamar gadis itu biar aku aman."
"Masih banyak pangeran yang lain di luar sana, Beth," kata Jay mengingatkan.
"Aku tahu itu. Tapi setidaknya aku akan selamat dari perjodohan yang dibicarakan mama dengan Cinderella," kataku lalu mulai makan masakanku.
.
.
Sudah hampir tiga minggu sejak kedatangan Mal, Evie, Jay, dan Carlos ke Auradon. Kurasa keempatnya sudah cukup bisa berbaur. Yah, bukannya berbaur bagaimana, sih, maksudku setidaknya mereka tidak seperti yang anak-anak takutkan.
Mal sering didatangi para gadis untuk diminta mengubah gaya rambut mereka. Setelahnya para gadis itu akan minta nasihat fesyen pada Evie—dan, ya, aku sangat mengakui bahwa Evie adalah perancang busana yang sangat baik. Kalau tumpukan pesanannya tidak banyak, aku juga ingin sekali-kali memintanya membuatkanku baju. Jay memang sudah diterima masuk dalam tim Lacrosse, tapi aku belum pernah sekali pun melihatnya latihan—yah, aku bahkan tidak pernah melihat kakakku sendiri latihan, sih, paling hanya menonton saat pertandingannya saja. Soal Carlos, dia masuk tim juga, tapi sebagai cadangan, gara-gara Ben mendapati pemuda itu bisa berlari dengan sangat cepat.
Sejak malam aku mengajari Jay matematika, hampir setiap malam aku datang ke kamar pemuda itu untuk membantunya belajar. Tentu saja aku harus mendengar godaan Lonnie tiap kali aku akan keluar kamar untuk ke kamar Jay. Dan, oh, hampir setiap hari juga Jay memberikanku bunga kecil yang diakui ia temukan di pinggir jalan. Bunga-bunga yang ia berikan tidak terlalu kecil sebenarnya, tapi tidak bisa masuk ke dalam vas air, jadi aku hanya bisa menaruhnya di meja belajar.
Wajahku masih sering menghangat sendiri tiap kali bertemu dengan Jay, aku tidak mengerti kenapa. Aku bahkan semakin sulit untuk menahan senyum saat ia tersenyum padaku. Aku tidak pernah menceritakan soal ini pada Lonnie, tentu saja. Tidak menceritakan padanya saja sudah membuatnya menggodaku, apalagi kalau ia sampai tahu wajahku selalu merona gara-gara pemuda itu?
Aku tidak yakin akan nyaman jika membicarakan soal Jay pada mama dan papa. Pada mama mungkin tidak masalah, tapi setelahnya mama pasti akan menceritakannya pada papa dan bisa-bisa segalanya jadi runyam.
Pilihan terakhirku adalah Ben. Kakakku itu selalu tahu apa pun yang sedang atau telah terjadi padaku—ia sudah seperti buku-harian-berjalan-ku. Sama, aku juga diperlakukan sama dengan Ben. Tapi karena makin lama Ben makin sibuk untuk menyiapkan diri menjadi raja, kami hanya bisa berkomunikasi lewat ponsel, seperti berkirim pesan walau isinya hanya emoticon. Khusus untuk hal ini, aku ingin bicara langsung dengan kakakku, tidak lewat pesan, surel, atau telepon. Aku ingin bicara empat mata dengannya.
Jadi siang ini, setelah kelas usai, aku bertemu dengan Ben di kamarnya yang besar—lebih tepatnya luas, karena bagaimana pun dia akan jadi raja, jadi kamarnya beda sendiri. Aku langsung menceritakan soal Jay, tentang bagaimana wajahku menghangat di dekatnya. Setiap hari memang aku ada mengirimi Ben pesan tentang Jay, tapi hanya seputar kalau Jay memberiku bunga atau kalau aku mengajari pemuda itu. Tapi topik yang kubawa hari ini padanya itu baru pertama kali. Ben langsung menyengir lebar setelah aku menceritakan hal itu padanya.
Ia menggeleng pelan. "Kau suka padanya, Beth," katanya sambil tersenyum.
"Ben, jangan ikut-ikutan Lonnie!" erangku.
Sekarang Ben malah terkekeh. "Aku tidak ikut-ikutan, tapi menurut penilaianku, kau suka Jay. Dan mungkin Jay juga suka padamu. Kalau ia tidak suka, kenapa ia mau memberikanmu bunga?"
"Mungkin dia ingin menggodaku? Mengisengiku? Ia dari Pulau Terhilang, Ben, kita tidak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikiran mereka," kataku.
Ben masih tersenyum lembut sambil mengusap puncak kepalaku. "Jangan menilai orang sembarangan, kita sedang berusaha memberi mereka kesempatan, ingat? Dan kalau pun ternyata Jay memang suka padamu, itu bukan hal buruk. Lalu kalau kau suka padanya juga, itu pun hal baik."
"Tapi dia orang dari Pulau, Ben ... "
"Aku tidak masalah," katanya enteng. "Kalau adikku bahagia, aku ikut bahagia." Uh, kakakku terlalu lembut.
.
.
Saat tengah malam aku terbangun dan perutku menggurutu minta makan. Aku mengerang kecil dan merutuk dalam hati, kenapa bisa-bisanya aku lapar tengah malam begini? Kalau aku menuruti keinginan perut, aku bisa gendut. Tapi kalau aku tidak menurutinya. Aku tidak akan bisa tidur. Akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dari ranjang dan pelan-pelan keluar dari kamar, berusaha tidak mengeluarkan suara apa pun yang bisa membangunkan Lonnie.
Aku langsung pergi menuju dapur. Langsung aku menyerngit ketika mendapati pintu dapur terbuka dan lampunya menyala. Kupikir mungkin ada anak yang sedang bernasib sama denganku saat ini. Ketika aku masuk ke dalam dapur, aku langsung bisa melihat Mal yang sedang mengaduk sesuatu, Evie dan Jay masing-masing berdiri di sisi Mal, sedangkan Carlos duduk di salah satu pantri.
"Um, hai!" sapaku pelan sambil menghampiri Mal. Gadis itu terkejut melihatku, lalu aku bisa melihatnya dan Evie memasang wajah gugup.
"Heeeii, Beth, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Evie sambil memaksakan senyum.
"Aku terbangun dan merasa lapar, jadinya aku ingin makan?" jawabku dengan nada bertanya. "Apa yang sedang kalian buat?"
"Tidak ada yang istimewa, hanya biskuit," jawab Mal cepat.
Perutku menggerutu lagi, kupikir mungkin mencicipi adonan Mal akan membuat perutku bisa bertahan sebentar. Jadi dengan cepat aku menyolek sedikit adonan di tangan si Gadis Ungu dengan jari telunjukku dan langsung mencicipinya, bersamaan dengan Mal dan Evie yang berusaha mencegahku untuk mencicipi adonannya.
"Aku tidak akan mencoleknya sampai dua kali, kok," gumamku.
"Um, kau merasakan sesuatu?" tanya Mal dengan hati-hati.
"Yah, seperti mungkin ini kurang sesuatu?" tanya Evie juga.
Aku menyerngit. Aku bisa merasakan rasa manis gula di lidahku, tapi tidak menemukan rasa lain. Hm, apa yang kurang?
Saat aku masih memikirkan apa yang kurang dari adonan Mal, Jay mendekatiku sambil tersenyum lebar. "Hai, Beth."
Mataku mengerjap dan sesungguhnya agak bingung dengan Jay. Maksudku, aku bukannya baru datang sekarang, tapi Jay baru menyapaku detik ini. Aneh. "Hai, Jay," balasku pelan. Oh, aku tahu apa yang kurang! Aku menoleh pada Mal. "Kau bisa menambahkan cip."
Mal menyerngit. "Cip?"
Aku mengangguk. "Cip coklat. Itu adalah yang terpenting untuk adonan seperti ini," kataku. Mal dan Evie masih tampak bingung. "Tunggu, tidakkah ibu kalian pernah membuatkan biskuit cip coklat? Seperti, saat kalian sedang sedih, biskuitnya masih terasa hangat karena baru diangkat dari oven, dan dengan segelas susu, dan dia akan membuat kalian tersenyum, dan mengatakan semuanya dalam sudut pandang yang berbeda, dan ... " Aku jadi terbayang dan mengingat biskuit buatan mama. Dulu, sebelum pekerjaan sebagai ratu makin banyak, tiap hari Minggu mama akan membuatkan biskuit untuk kami makan berempat di taman. Lalu—oh, tunggu, kenapa sekarang mereka menatapku dengan seperti itu? "Eh, kenapa kalian menatapku begitu?"
" ... Itu berbeda dengan tempat asal kami," gumam Mal.
Aku menyerngit. Aku tahu mereka berasa dari 'dunia' yang benar-benar berbeda denganku, tapi yang namanya orangtua tetaplah orangtua, kan? Tidak peduli mereka penjahat atau bukan, harusnya mereka tetap mengasihi anak-anak mereka, bukan?
"Oh, eh, kupikir para penjahat pun bisa sayang pada anak-anak mereka ... " ucapku pelan, jadi merasa sangat bersalah. Aku melihat masing-masing dari Evie, Mal, Jay, dan Carlos membuat ekspresi sedih. Mata mereka menatap ke bawah, didukung dengan tundukkan kepala mereka. Fiks, aku jadi merasa makin bersalah. Aku terbiasa disayang mama, papa, dan Ben, tanpa sadar aku melukai perasaan keempat orang ini. "Aku minta maaf," ucapku dengan tulus dan sedih.
Dengan cepat jari Mal mengusap kelopak mataku. Wajahnya yang murung tiba-tiba langsung berubah menjadi ceria lagi. Tidak hanya Mal, ketiga temannya pun sama. Jay langsung menghadap oven, Carlos turun dari pantri—hei, apakah itu Dude yang ada di baskom alumunium?—, dan Evie menghampiriku untuk mendorongku menuju pintu.
"Oke, ya, tapi kami harus segera memasukkan ini ke oven," kata Mal riang dengan cepat. "Jadi, terimakasih sudah datang ke sini!"
"Tapi aku—"
"Semoga malammu menyenangkan!" potong Evie sambil terus mendorongku keluar. "Sampai jumpa besok! Mimpi yang buruk!"
Evie langsung menutup pintu dapur begitu aku menginjakkan kaki di luar dapur. Astaga, apakah itu memang sudah jadi khas mereka?
Perutku menggerutu lagi, dan aku jadi kesal sendiri. Huh, seharusnya aku menyimpan cemilan dalam kamar, biar aku jangan mengalami hal seperti ini!
Dengan langkah gontai aku berjalan kembali ke kamar, berharap masih bisa tertidur walau lapar. Tepat saat aku ingin membuka pintu kamar, seseorang membukanya duluan dari kamar. Lonnie. Aku dan dia sama-sama terkejut mendapati wajah satu sama lain, ialah yang membuka pintu.
"Beth, dari mana saja, kau?" tanya Lonnie. "Aku terbangun dan melihat ranjangmu kosong!"
"Aku lapar, ingin mencari makanan di dapur, tapi ternyata dapur sedang dipakai orang lain," jawabku sambil masuk kamar.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanyanya sambil membuka laci di meja belajarnya. "Aku punya persediaan cemilan, tahu!" katanya sambil menunjukkan sekantong penuh cemilan.
Dengan susah payah aku menelan ludah melihat banyaknya makanan kecil. "Aku boleh minta?"
"Tentu saja, makanlah!" kata Lonnie.
Fiks, Lonnie akan jadi sahabat terbaikku sepanjang masa nomor dua setelah Ben!
.
.
TBC
.
.
