Aku tidak membenci pelajaran komputer, tidak begitu. Tapi mungkin karena memang akunya saja yang buta teknologi, jadinya aku sangat malas sendiri untuk mempelajarinya, dan hanya bisa mengandalkan ingatanku akan teori yang kubaca di buku.

Oh, kenapa aku tidak minta tolong Carlos mengajariku? Makin hari, kan Ben semakin sibuk dengan persiapan menjadi raja, sedangkan Lonnie yang menjadi teman sekamarku juga tidak paham teknologi. Jadi mungkin aku bisa minta tolong pada Carlos! Tepat setelah aku berpikir begitu, aku berpapasan dengan putra Cruella itu saat keluar dari ruang komputer.

"Hai, Carlos," sapaku.

Ia tampak sedang terburu-buru, tapi masih menyempatkan diri untuk menoleh padaku. "Oh, hai, Beth! Apa?"

Kuhampiri dia. "Eh, aku hanya berpikir ... mungkin kau bisa mengajariku tentang komputer?"

Carlos menyerngit. "Kenapa aku bisa mau mengajarimu komputer?"

"Karena aku tidak bisa?" jawabku dengan nada bertanya.

"Carlos, cepat!" panggil Evie, kulihat gadis itu ada di pintu. "Hai, Beth!"

Aku melambai kecil pada Evie sebelum menoleh pada Carlos lagi. "Uh, aku tidak tahu kalau sedang buru-buru, maaf."

"Tidak, tidak, tidak masalah," kata Carlos cepat, tapi ia seakan ingin langsung menyusul Evie. "Kau tahu, aku akan mengajarimu di kamarku, setelah, yah, kau sekalian mengajari Jay matematika seperti biasa."

"Sungguh?" tanyaku senang.

Carlos mengangguk. "Ya, ya, oke, aku harus pergi sekarang."

Kali ini aku yang mengangguk. "Terimakasih, Carlos." Dan Carlos pun berlari keluar.

.

.

Disclaimer: Descendants adalah milik Disney, OC adalah milik author, author tidak mengambil keuntungan.

Warning: Akan ada kemungkinan OC menjadi mary-sue tapi author berusaha untuk tidak berlebihan. OC x Jay, slight other minor pairings, mungkin OOC.

.

Heart's Stealer
Chapter 4

by Fei Mei

.

.

Saat aku sedang mempersiapkan buku pelajaranku yang selanjutnya di loker, Jay menghampiriku. Ia berdiri dan bersandar di sebelah lokerku sambil tersenyum padaku. Mau tak mau aku membalas kecil senyumannya.

"Hai, Beth," sapa Jay, masih tersenyum.

"Hai, Jay," balasku.

"Kau tahu, aku merasa tidak enak karena kemarin kami tiba-tiba mengusirmu dari dapur begitu saja," ucapnya.

Aku menggeleng dan tersenyum. "Tidak apa. Kadang kalau aku sedang memasak, aku juga tidak ingin ada penonton."

"Yah, aku tetap merasa tidak enak padamu, jadi aku mengambil satu biskuit yang dibuat Mal untukmu," kata Jay, sambil menyodorkan plastik kecil berisi sebuah biskuit cip coklat padaku.

"Jay, aku tidak marah, sungguh, kau tidak perlu melakukan ini," kataku tulus.

Pemuda itu masih terus tersenyum. Dan karena aku tidak kunjung mengambil biskuit darinya, ia pun mengambil tanganku dan meletakkan biskuit itu di tanganku. "Kalau begitu, anggap saja aku sedang ingin memberikan ini padamu."

"Baiklah, terimakasih, Jay," kataku sambil tersenyum. "Boleh kucicipi sekarang?"

Ia langsung tersenyum lebar. "Tentu!"

Jadi aku pun menggigit kecil ujung biskuit itu dan mengunyahnya dalam mulut. Hm, tidak buruk. Maksudku, tentu saja adonan dan biskuit yang sudah jadi akan terasa berbeda. Tapi sejak mama makin sibuk dengan tugasnya menjadi ratu, sepertinya aku sudah agak lama tidak makan biskuit seperti ini. Mungkin ketika Ben menjadi raja nanti, mama akan bisa sempat lagi membuat biskuit biar kami berempat bisa duduk di taman sama-sama lagi.

"Bagaimana rasanya?" tanya Jay, masih tersenyum.

"Enak," akuku.

"E-enak? Tidak ada yang lain?" tanya Jay, senyumannya perlahan menjadi serngitan.

Kuangkat bahu. "Yah, mungkin kalian hanya kurang memasukkan cip coklat. Maksudku, kalian tidak usah terlalu takut kebanyakan cip. Terlalu banyak cip akan membuat biskuitnya makin enak, terlalu sedikit cip akan membuat biskuitnya terkesan biasa saja."

"Um, tidak ada yang lain?" tanya Jay lagi.

Kali ini aku ikutan menyerngit. "Memang aku harus merasakan apa dari biskuit ini?"

"Apa?" Jay terkesiap, lalu memaksakan tawa. "Oh, tidak, tidak, kau tahu, ini pertama kalinya kami membuat makanan seperti ini. Khawatir kalau ada rasa yang aneh."

Aku menggeleng dan menggigit biskuitnya lagi, tersenyum sambil mengunyahnya. "Tidak, tidak ada yang aneh. Ini enak. Kalau kalian ingin membuatnya lagi, bisa beritahu agar aku kebagian juga?" pintaku.

"Ya, ya, tentu," kata Jay. "Tapi, seriusan, kau tidak merasakan apa-apa?"

Kuputar bola mataku, tapi tetap tersenyum. "Maksudmu seperti aku tiba-tiba sakit perut setelah menelan biskuit ini? Tidak, Jay, aku baik-baik saja."

"Oh, bagus," katanya, lagi-lagi memaksakan tawa. "Hei, uh, kau akan nonton pertandingan Lacrosse nanti sore? Aku akan main, lho."

Aku mengerang pelan. "Aku tidak bisa. Aku sangat ingin nonton, tapi aku tidak bisa."

"Apa? Kenapa?" tanya Jay bingung.

"Cinderella mengajakku dan mama untuk jamuan teh," kataku dengan sedih. "Mama benar-benar senang dan tidak sabar. Uh, padahal aku menantikan pertandingan hari ini, kau tahu, ini mungkin adalah pertandingan tourney terakhir Ben."

Jay menyerngit. "Pertandingan terakhir Ben?"

Aku mengangguk. "Ben akan jadi raja, dan ia tidak akan sempat untuk ikut pertandingan lagi, jadi mungkin ini yang terakhir untuknya dan aku ingin menyemangatinya. Tapi tiba-tiba mama memberitahuku soal undangan Cinderella yang sudah diterima mama dengan senang, aku jadi tidak tega bilang tidak pada mama."

"Um, oke," kata Jay agak salah tingkah. "Jika kami menang nanti, mungkin kita bisa bertemu? Berdua?"

Aku tersenyum kecut. "Kalian pasti menang, Jay—Ben sudah cerita kalau kau dan Carlos sangat baik saat latihan." Aku menghela kecil. "Aku tidak bisa janji untuk bertemu. Kalau Chad pulang ke istananya nanti sebelum jamuan teh Cinderella usai, mungkin aku akan ada di sana sampai malam. Mungkin besok saja?"

Jay mengangguk. "Besok, oke. Kalau kami menang hari ini, besok jam sembilan pagi aku akan mengetuk pintu kamarmu."

Langsung saja aku terkekeh pelan. "Baiklah, aku akan ke kelas sekarang. Terimakasih untuk biskuitnya, Jay."

.

.

Di istana Cinderella, sampai jam enam sore pun Chad tidak kunjung pulang kemari, padahal harusnya pertandingan sudah selesai dari satu atau dua jam yang lalu. Jamuan teh pun sebenarnya sudah usai dari jam lima, tapi sang tuan rumah menahanku dan mama, ia ingin menunggu sampai putranya pulang. Mama, sih, tidak masalah, ia malah enak bisa mengobrol dengan Cinderella. Sedangkan aku? Hanya bisa bolak-balik melihat layar ponsel yang kupangku di pahaku. Mama selalu melarangku menaruh ponsel di atas meja tamu atau meja makan, makanya kupangku saja.

Jam enam lewat sedikit, kurasakan ponselku bergetar, tanda ada pesan masuk. Aku langsung membuka pesan itu, yang ternyata dari Ben.

'Dari Ben
Aku melakukan hal yang sangat gila habis pertandingan tadi. Kau belum kembali ke asrama? Aku ingin segera cerita langsung padamu!
'

Aku mengerang dalam hati. Uuuuhh, aku ingin segera kembali ke asrama dan bertemu kakakku!

Langsung saja aku mengetik balasannya.

'Kepada Ben
Cinderella menahan kami di sini sampai Chad datang.
'

Tidak sampai semenit, aku mendapat balasannya.

'Dari Ben
Chad tidak pulang ke istana orangtuanya. Kupikir ia akan menghabiskan waktunya malam ini dengan Audrey. Jangan tanya, aku akan beritahumu secara langsung kalau bertemu denganmu.
'

Aku menyerngit. Dengan Audrey? Ben tidak salah ketik, kan? Bukankah Audrey itu pacar kakakku? Kenapa gadis itu malah melewatkan malam dengan Chad? Apa ini bagian dari 'hal gila' yang dilakukan Ben?

Tapi untungnya Ben memberitahu soal Chad yang tidak akan pulang, aku bisa memberitahu ibunya dan membiarkan kami pulang sekarang.

Aku berdeham pelan. "Ratu Cinderella," panggilku pelan. Kedua ratu—mamaku dan mama Chad—itu menghentikan obrolan mereka dan menoleh padaku. "Ben baru saja mengirimiku pesan, bilang kalau Chad tidak pulang kemari."

Cinderella langsung memasang wajah sedih. "Begitukah? Padahal aku sudah merindukannya!"

"Hari Keluarga minggu depan, Cinder, bersabarlah," kata mama dengan lembut.

"Yah, baiklah," gumam Cinderella.

"Dan, eh, Ben juga bilang kalau ia ingin bicara hal penting denganku. Jadi kalau boleh, aku ingin kembali ke asrama duluan," ucapku.

Cinderella mengangguk. Tapi ternyata mama ikut pamit juga. Baguslah, setidaknya aku tidak perlu melewatkan perjalanan di hari yang sudah agak gelap seorang diri.

.

.

Sampai di asrama, aku langsung ke kamar Ben. Kuketuk pintu kamarnya dan langsung dibukakan oleh yang punya kamar dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Yep, kakakku tampan, dan aku tidak pernah malu untuk mengakuinya.

Belum sempat aku menyapanya, Ben lebih dulu memelukku erat. Sambil agak terkekeh aku membalas pelukannya.

"Hai, Ben," sapaku pelan dalam pelukannya.

"Beth, aku kangen sekali padamu, tidak bohong," katanya. Aku terkekeh lagi.

Ketika akhirnya Ben melepas pelukannya, kami pun masuk kamar. "Bagaimana pertandingannya?"

"Kami menang," jawab Ben dengan senang, "berkat Jay dan Carlos. Mereka tim yang hebat."

"Aaaw, aku ikut senang Ben, selamat!" Kupeluk kakakku sekali lagi sebentar.

"Kau tahu, saat di pertandingan tadi, dan saat penyerahan piala, kulihat Jay agak kecewa tiap kali melihat ke arah tribun. Kupikir itu pasti karena kau tidak ada di bangku penonton tadi," kata Ben.

"Yah, aku sudah memberitahunya kalau aku harus ikut jamuan teh Cinderella," gumamku.

Ben mengangguk dan tersenyum. "Mungkin ia sangat ingin kau melihatnya bermain."

Sebenarnya aku juga ingin melihat Jay dan Carlos bermain. Maksudku, saat mereka latihan pun aku tidak melihat sama sekali. Oke, jika ada pertandingan lagi, aku harus bisa menontonnya!

"Jadi, hal gila apa yang kau lakukan tadi?" tanyaku kemudian sambil menyengir. Cengiranku langsung lenyap mengingat soal Chad dan Audrey. "Dan kenapa Chad bisa dengan Audrey?"

Kakakku tersenyum lebar. "Aku menyatakan cinta pada Mal lewat lagu di hadapan semua orang usai pertandingan!"

Aku termegap. "Ap-apa?! Menyatakan cinta—pada Mal?! Mal yang dari pulau?!"

"Ada berapa Mal di Auradon, Beth? Ya, Mal, putri dari Maleficent, aku menyatakan cinta padanya dan dia akan menemaniku saat koronasi."

Masih aku agak tidak percaya mendengarnya. "T-tunggu, tapi, kau? Kau tidak pernah bilang kalau kau suka Mal!" Ben memang sering cerita tentang Mal sejak gadis itu dan teman-temannya datang ke Auradon, tapi ia tidak pernah bilang suka soal Gadis Ungu tersebut.

Ben mengangkat sebelah bahu. "Aku tidak pernah sadar kalau selama ini aku suka dia, Beth. Dan saat aku tersadar tadi, aku menyerukan namanya secara spontan. Sungguh, nyanyian itu, tarian itu, semuanya adalah hal tergila yang pernah kulakukan seumur hidupku!"

"Jadi kau putus dengan Audrey, makanya Audrey bisa langsung dengan Chad, sedangkan kau sekarang dengan Mal?" tanyaku, minta konfirmasi.

Kakakku mengangguk mantap. "Tepat. Dan, sebenarnya aku tidak habis pikir kenapa Audrey bisa begitu langsung dapat pacar baru. Maksudku, dari dulu ia mengejarku, ingat? Dan saat kami berpacaran, ia menempel terus padaku. Ketika putus, mungkin semenit kemudian dia langsung memamerkan Chad."

"Yah, kau juga begitu pada Mal, kan?" kataku sambil tersenyum kecil. "Setidaknya, kau suka Mal, kan? Bukannya menjadi Mal sebagai tameng agar tidak ada gadis yang mengejar-ngejarmu lagi?" Ben tersenyum dan mengangguk lagi. "Kalau begitu, aku turut senang padamu, Ben."

Iya, aku senang untuknya. Bagaimana pun, awalnya Ben pacaran dengan Audrey karena ideku. Tidak spesifik meminta Ben pacaran dengan Audrey, sih. Jadi begini, dari dulu Ben selalu disukai para gadis, dan hampir semuanya tertarik pada kakakku antara hanya karena wajah atau hanya karena ia akan menjadi raja. Masuk SMA, para gadis semakin mengejar Ben dan kakakku ini semakin kewalahan menghadapi mereka—belum lagi kalau ada para 'fans' gila, seperti Audrey dan beberapa gadis lain. Kuusulkan pada Ben untuk memacari salah satu dari penggemarnya yang paling 'gila', hanya biar ia tidak perlu memusingkan fansnya yang lain, serta 'pacarnya' itu bisa menghalangi setiap gadis yang ingin mendekatinya. Daaaann, terpilihlah Audrey!

Makanya saat ini, ketika Ben bilang ia suka Mal dan sekarang mereka berpacaran, aku senang mendengarnya. Ben tidak akan perlu pura-pura merasa suka pada gadis yang ada di sampingnya, karena ia memang benar suka pada Mal. Sama seperti Ben yang bilang tidak masalah jika aku suka pada Jay yang walau pun berasalah dari pulau, aku juga tidak masalah pada fakta Mal dari Pulau Terhilang kini menjadi pacar kakakku.

Jay. Aku masih tidak paham soalnya. Aku tidak yakin kalau aku suka padanya. Maksudku, bisa saja aku hanya mengagumi tangan atletis yang hampir selalu ia pamerkan, kan? Atau wajah menawannya, terutama saat ia sedang tersenyum? Atau mungkin aku hanya merasa senang dengan caranya memperlakukanku, seperti memberiku bunga? Atau malah aku hanya merasa tertarik karena ia datang dari tempat yang berbeda denganku?

"Kau memikirkan soal Jay?" tanya Ben tiba-tiba, membuyarkan pikiranku.

"Kenapa kau bisa tahu?" tanyaku pelan.

Ben menyengir lalu mengacak pelan rambut di puncak kepalaku. "Kau adikku, tentu saja aku tahu. Beth, jangan terlalu dipikirkan. Kalau memang suka, kau juga akan tahu, kok." Aku mengangguk. "Kau sudah beri selamat padanya dan Carlos untuk pertandingan yang tadi?"

Aku menggeleng. "Sampai di asrama, aku langsung kemari. Tadi siang Jay bilang kalau ia menang, besok pagi akan ke kamarku."

"Kalian akan kencan?" tanya Ben sambil tersenyum.

"Apa? Tidak, tidak, ia hanya mengajakku jalan saja, berdua. Itu bukan kencan, kan?"

"Astaga, Beth! Itu kencan!" kata Ben senang. "Akhirnya kau meng-iya-kan ajakan kencan seseorang!"

Aku termegap. "I-itu ternyata kencan? Oh, oh, astaga!"

"Yah, mungkin kau benar suka dia, kau tahu? Makanya kau mengiyakan saja ajakannya," kata Ben sambil menyengir.

"Uuuh, aku harus bagaimana? Ben, aku tidak tahu kalau itu kencan! Kalau tahu, aku pasti menolaknya!"

"Beth, Beth, tenanglah," katanya sambil agak terkekeh. "Mungkin memang sudah saatnya. Kau selalu menolak ajakan kencan atau ajakan jalan, makan siang, makan malam, dan lainnya dari semua pemuda. Tapi dari Jay, kau menerimanya. Mungkin memang itu pertanda. Jalani saja."

"Menurutmu aku tetap harus pergi kencan dengan Jay besok?"

Ben mengangguk. "Tidak apa, Beth, percayalah."

Yah, kuharap Ben benar.

.

.

Keesokkan paginya, jam sembilan tepat, ketukan pada pintu kamar membuat Lonnie menghentikan godaannya padaku. Iya, karena dia tahu Jay akan membawaku jalan hari ini, Lonnie tidak hentinya menggodaku. Bahkan ia dengan semangat menata rambutku dan merias wajahku. Kalau aku tidak bilang padanya agar meriasku tipis-tipis saja, wajahku pasti sudah menor saking semangatnya gadis itu.

Aku tidak minta Lonnie meriasku, tidak begitu. Ia saja yang dengan sangat senang dan berinisiatif untuk mengurus rambut dan riasan wajahku, apalagi setelah aku berganti baju. Aku tidak mengenakan baju spesial atau apa, hanya pakaian yang biasa kukenakan sehari-hari saja. Aku tidak ingin terlalu gugup untuk hari ini, makanya aku mengenakan baju yang kuanggap nyaman untuk dipakai.

Kubuka pintu kamar, mendapati Jay berdiri di depan kamarku sambil tersenyum. Sama sepertiku, ia juga tidak mengenakan pakaian formal, hanya pakaian yang sehari-hari ia pakai—kuharap ini pertanda bahwa kami bukannya berkencan.

Senyumnya perlahan lenyap dan sekarang ia agak tercengang melihatku dari atas sampai bawah. Tatapannya membuatku gugup.

"Oh, astaga, aku tahu harusnya tidak perlu riasan wajah!" erangku pelan.

"Tidak, tidak, astaga, tidak apa," kata Jay cepat. "Aku hanya, yah, selama ini dengan pakaian yang seperti itu, wajahmu tanpa riasan. Dan hari ini kau pakai riasan, tetap tampak manis."

Wajahku menghangat mendengarnya. 'Tetap tampak manis', berarti selama ini ia menganggapku manis?

"Siap untuk jalan?" tanyanya.

.

.

Jay membawaku ke suatu tempat di samping sungai. Aku memang tahu ada sungai kecil di dekat gedung sekolah, tapi aku tidak tahu kalau pemuda ini tahu soal sungai tersebut. Tidak ada hiasan apa-apa, tapi aku bisa melihat karpet kecil direntangkan di samping sungai dengan tudung saji yang agak besar.

Layaknya seorang pria sejati, Jay membantuku duduk duluan, setelah itu baru ia duduk di hadapanku. Aku hanya bisa tersenyum saat melihatnya membuka tudung saji, dan senyumku makin lebar saat melihat ada berbagai makanan kecil di sana.

"Um, Jay, kau yang menyiapkan ini semua?" tanyaku, tak percaya.

"Kau ingin aku jujur atau bohong?" tanyanya balik sambil menyengir. Ia terkekeh pelan lalu menjawabnya sendiri. "Lonnie memberitahuku tentang sungai ini, lalu ia memberiku ide makanan apa saja yang harus kusiapkan. Jadi ini berkatnya. Tapi, ya, aku yang menyiapkannya. Dengan Carlos. Lebih banyak Carlos. Tapi aku juga ikut menyiapkan."

Mau tak mau aku terkekeh mendengar jawabannya yang mungkin berkesan agak terlalu jujur. Tapi aku senang, setidaknya ia tidak menyombongkan diri. Kucomot salah satu makanan kecil yang ada, yakni yang berbentuk kerucut yang bagian atasnya berwarna coklat dan bawahnya berwarna merah muda. Begitu kumasukkan ke dalam mulut, aku dapat merasakan rasa coklat dan stroberi. Astaga, dua rasa kesukaanku ada dalam satu makanan!

"Oh, astaga, dari mana kau dapatkan ini?!" tanyaku senang sambil mengambil satu lagi.

Pemuda di depanku terkekeh pelan melihat. "Uh, Carlos mencarinya lewat bantuan internet, lalu kami beli secara online. Semua makanan kecil di sini juga begitu."

"Ini benar-benar enak," kataku sambil begitu menikmati coklat-stroberi berbentuk kerucut itu. "Jay, sini, kau harus coba."

Aku menyodorkan satu buah padanya. Kupikir ia akan mengambil coklat-stroberi itu dengan tangannya dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri. Tapi malah ia memajukan kepalanya, melahap langsung dari tanganku. Aku termegap terutama saat bibirnya mengenai jariku. Langsung saja aku merasa wajahku memanas.

"Hm, kau benar, ini enak," katanya sambil mengunyah.

Lalu aku jadi kepikiran. Apakah ini memang benar kencan?

"Jay ... " gumamku. "Um, apa ini sebenarnya kencan?"

Jay terlihat bingung dan tertawa kecil. "Kalau kau ingin anggap ini sebagai kencan, kenapa tidak? Yah, seperti kau tidak pernah kencan saja."

"Memang tidak pernah ... " ucapku pelan, tapi kuyakin ia masih bisa mendengarnya, buktinya ia agak tercengang.

"K-kau tidak pernah kencan?" tanyanya. "Maksudku, kau cantik, tidak ada yang mengajakmu keluar?"

Kuangkat sebelah bahu. "Ada, beberapa, tapi aku tidak pernah mengiyakan ajakan kencan mereka, atau ajakan mereka untuk keluar, makan, jalan-jalan berdua ..."

"Lalu kenapa kau mengiyakan aku?" tanyanya bingung.

Aku mendesah pelan. "Aku tidak tahu ini kencan atau bukan. Dan lagi, mereka yang selama ini mengajakku jalan, mereka melihatku sebagai tuan putri. Aku tidak suka itu. Dan ketika aku melihat tatapanmu padaku, aku memang tidak tahu apa yang kupikirkan, tapi aku tahu itu adalah tatapan yang berbeda dengan anak-anak laki-laki itu."

Ia terlihat senang. "Jadi aku berbeda dengan para pemuda itu?"

Kuanggukkan kepalaku. "Kau, Carlos, Doug. Saat aku dengan kalian, aku merasa seperti seorang Beth, bukannya putri Bethany."

Senyum Jay yang tadinya sempat mengembang, kini pudar lagi. "Aku, Carlos, dan Doug? Jadi kalau Carlos atau Doug mengajakmu, kau akan mau?"

"Itu aku tidak tahu ..." gumamku.

"Kau tahu, aku ingin kau berjanji sesuatu padaku," katanya, membuatku menatapnya bingung. "Kalau Carlos atau Doug mengajakmu kencan, jangan mau."

Aku menyerngit. "Kenapa?"

"Pokoknya jangan mau, oke? Sekarang kita harus mencoba makanan yang lain, ayo," katanya, sambil kemudian menyodorkan salah satu piring kue. Dengan bingung aku menerimanya dan mulai mencicipi sepotong.

Selama beberapa saat aku dan Jay mencicipi setiap makanan yang ada sambil mengobrol kecil. Daripada mengobrol, lebih tepatnya tanya jawab, sih. Kami bergantian bertanya dan menjawab, seperti tentang hobi, buku favorit, kelas kesukaan, dan sebagainya. Sesekali aku tertawa kecil saat melihat mulut Jay belepotan karena coklat. Aku harus menghampirinya untuk membantunya membersihkan bekas coklat dengan tisu.

Setelah puas makan, kami masih tanya-jawab sebentar, sebelum akhirnya ia mengajakku berenang.

"Tidak, terimakasih," tolakku cepat.

Jay menyengir. "Oh, ya, Lonnie memberitahuku satu hal yang cukup menarik. Dia bilang kau paling tidak bisa berenang."

Aku termegap. "Astaga, Lonnie bilang begitu?"

Ia terus menyengir, kali ini sambil melepas pakaiannya. "Tidak apa, aku akan mengajarimu, sebagai ganti kau sudah mengajariku matematika."

"Tidak, kau tidak usah repot-repot—oh," perkataanku terhenti.

Nafasku langsung tersekat waktu melihat tubuh Jay yang atletis itu. Kini ia hanya berbalutkan celana pendek yang menggantung di pinggangnya. Spontan aku langsung memalingkan wajah, berharap Jay jangan melihat betapa merahnya wajahku saat ini.

Aku mendengar suara kekehan Jay, lalu kurasakan kedua tangannya membuatku berdiri dari tempat dudukku. "Ayolah, aku akan mengajarimu," ujarnya sambil membawaku ke pinggir sungai. Kedua tangannya melingkar di pinggang dan perutku, membuat punggungku menempel pada dada bidangnya. Yep, ia sedang memelukku dari belakang.

"J-Jay, aku bahkan tidak bawa baju ganti!" pekikku pelan. Sungguh, aku gugup bukan main, pertama karena Jay memegangiku, kedua karena Jay sedang bertelanjang dada.

"Jangan khawatir untuk yang itu," katanya. "Saat merencanakan soal ini, Lonnie sudah menitipkanku baju gantimu."

Lagi-lagi aku termegap. Astaga, kenapa Lonnie begitu tega padaku?!

"J-Jay—"

"Aku akan mengajarimu, aku akan memegangimu dalam air," katanya.

Saat aku masih agak meronta, ingin melepaskan diri darinya, pandangan mataku bertemu dengan tatapan matanya. Ia menyengir tadi, tapi perlahan sorotan matanya melembut. Ia menatapku dengan lembut.

"Aku tidak akan membiarkanmu tenggelam, janji," ucapnya.

" ... Baiklah ... " kataku, yang akhirnya menyerah.

Jay tersenyum, lalu melepaskan dekapannya. Satu tangannya masih memegangi lenganku, kupikir mungkin karena ia tidak ingin aku lari. Jadi ia perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam air, dan menarikku ikut ke dalam sungai. Ah, mungkin sejak awal Lonnie memang sengaja merias tipis wajahku agar riasannya tidak berantakan saat kena air. Dasar.

.

.

TBC

.

.