Audrey mungkin adalah salah satu gadis yang tidak akan bisa kujadikan teman. Bukannya tidak mau, tapi tidak bisa. Aku dan dia terlalu berbeda, dan selama ia berpacaran dengan Ben, Audrey hanya pura-pura baik kepadaku, sok manis padaku di hadapan kakakku. Huh, padahal sewaktu belum pacaran dengan Ben, gadis itu tidak mempedulikanku sama sekali. Tidak, aku tidak membencinya, sama sekali tidak, sebisa mungkin aku hanya ingin menghindarinya. Tapi kalau memang kami berpapasan, pasti sulit untuk menghindar, kan?
Itulah yang terjadi hari ini. Sejak Ben cerita bahwa ia dan Audrey telah putus, aku belum pernah berpapasan dengan putri tunggal Aurora itu. Dan hari ini, saat aku hendak ke kamar Jay untuk mengajarinya matematika, aku berpapasan dengan Audrey. Aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa. Tersenyumkah? Atau malah pura-pura tidak melihat? Tapi Audrey bereaksi duluan.
"Bethany," katanya dengan nada mengejek.
Aku menghela pelan, memaksakan senyum di wajah. "Hai, Audrey."
"Kau senang sekarang aku putus dengan kakakmu?" tanya Audrey, dan sebelum aku bisa menjawab, ia bicara lagi. "Tentu saja kau senang! Dan kau tahu, Beth? Aku senang akhirnya aku tidak perlu pura-pura berbaik hati pada gadis manja sepertimu lagi, anak kecil manja yang selalu minta dituruti oleh orangtuanya, sampai berhasil meminta Kepala Sekolah membuatmu lompat kelas! Penjilat!"
Langsung saja aku tercengang mendengarnya. Audrey sudah sangat sering menyebutku sebagai 'adik kecil Ben'. Aku tidak tahu apa panggilannya untukku di belakangku, tapi ini baru pertama kalinya di depanku ia menyebutku 'anak kecil', 'gadis manja', sampai 'penjilat'. Bahkan selama ini tidak pernah ada yang menyebut begitu di depanku secara langsung.
Mungkin aku memang masih kecil—walau hanya setahun lebih muda dari Ben, dan tubuhku memang lebih kecil dari gadis-gadis seusiaku. Mungkin aku memang masih manja, tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk menjadi seperti mama yang mandiri. Tapi, penjilat? Meminta Ibu Peri membuatku lompat kelas? Selalu minta mama papa untuk menurutiku? TIDAK PERNAH! Maksudku, tentu aku ingin mama dan papa menurutiku, tapi itu hanya keinginan dalam hati—kuyakin semua anak di seluruh dunia juga mau, tapi aku tidak sampai merengek dan memaksa!
Memikirkan itu aku jadi sedih sendiri. Aku tahu Audrey agak menyebalkan. Tapi bagaimana kalau tidak hanya ia saja yang memikirkan begitu tentangku? Mataku memanas sendiri. Dan sesuatu yang paling aku kesalkan malah terjadi: aku mulai meneteskan air mata. Yep, aku tidak bisa marah, saat aku kesal aku hanya bisa menangis.
"Audrey, apa aku pernah berbuat salah padamu sampai kau tampaknya begitu membenciku?" tanyaku pelan.
"Kau menempel terus pada Ben, Non, padahal dia pacarku—sekarang sudah jadi mantan pacar, tapi dia dulu pacarku," kata Audrey.
Aku menyerngit. "Dia kakakku, apa salahnya aku dekat dengannya?"
"Astaga, kau tidak mengerti juga? Saat dia jadi pacarku, jelas aku tidak suka dia dekat dengan gadis lain. Kecuali kalau kau laki-laki, aku tidak masalah karena aku tahu Ben bukan penyuka sesama jenis."
"Audrey, aku adiknya!" kataku.
"Aku pacarnya!" katanya tidak mau kalah.
"Hei, hei, ada apa?" Itu suara Jay. Ia datang dari belakangku. Aku menoleh dan melihatnya dengan Carlos membawa setoples coklat. Keduanya menghampiri kami. "Beth? Kau menangis?"
Aku menggeleng dengan cepat sambil menunduk. Segera kuhapus air mataku yang sudah mengalir pelan dengan tanganku.
"Cengeng," dengus Audrey lalu ia pergi begitu saja.
.
.
Disclaimer: Descendants adalah milik Disney, OC adalah milik author, author tidak mengambil keuntungan.
Warning: Akan ada kemungkinan OC menjadi mary-sue tapi author berusaha untuk tidak berlebihan. OC x Jay, slight other minor pairings, mungkin OOC.
.
Heart's Stealer
Chapter 5
by Fei Mei
.
.
Jay memaksaku cerita tentang apa yang terjadi di antara aku dan Audrey. Karena ia terus memaksa, jadilah aku memberitahunya tentang apa saja yang gadis itu bilang tentang aku. Putra Jafar itu langsung marah-marah sendiri, dan kalau bukan karena aku dan Carlos menahannya, ia sudah beberapa kali ingin keluar kamar untuk melabrak Audrey.
Kupikir 'agenda' kami untuk belajar hari ini akhirnya tidak jadi. Jay yang kesal langsung duduk melipat tangan di ranjang—heran, padahal aku yang diejek, kenapa dia yang kesal? Sedangkan Carlos menawariku coklat yang ada di toples di tangannya, sampai kami berdua memakannya sama-sama. Huh, padahal karena tahu hari ini libur, kami sudah berencana untuk belajar seharian: aku mengajari Jay matematika, Carlos mengajariku komputer.
"Kau ingin kami antar ke kakakmu?" tanya Carlos. "Mungkin dia perlu tahu seperti apa tingkah mantan pacarnya?"
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum kecut. "Ini masalahku dengan Audrey, dan ia juga tidak bawa-bawa nama Ben tadi. Lagipula ... Ben sedang kencan dengan Mal sekarang, aku tidak mau mengganggunya."
Carlos menyerngit, lalu kulihat ia sekilas bertukar pandang dengan Jay. "Mereka sedang kencan?"
Kuanggukkan kepalaku. "Di Enchanted Lake. Mal tidak memberitahu kalian?" Jay dan Carlos menggeleng bersamaan.
Jay menghampiriku dan Carlos lagi di meja. "Oke, baiklah, sekarang kau mau apa? Kalau masih ingin sesi belajar, aku tidak masalah."
Aku tersenyum dan mengangguk. Jay mengambil buku matematikanya, dan aku mengajarinya dulu sebelum memberikannya latihan soal. Dan ketika Jay sedang mengerjakan latihan soalnya, giliran Carlos yang mengajariku menggunakan laptopnya.
Sambil memerhatikan penjelasan Carlos, aku jadi kepikiran. Keempat anak dari Pulau Terhilang ini mungkin adalah anak-anak dari musuh terburuk kami yang ada di Auradon. Tapi mereka berempat ini punya kelebihan, masing-masing punya sesuatu yang membuat mereka tidak terlihat buruk.
Evie sangat pantas jadi penasehat fesyen—aku pernah masuk ke kamarnya dan Mal, pas saat ia sedang menjahit dengan mesin. Aku tahu dia pandai menilai dan memadupadankan pakaian, tapi aku tidak tahu kalau ia punya mesin jahit sendiri.
Mal, walau ia punya buku mantra, ia tidak menggunakannya untuk mengusili orang-orang di Auradon, malah ia membuat senang para siswi di sini dengan mengubah gaya rambut mereka sesuai permintaan—tanpa bayaran pula!
Jay, yang kudengar dari kakakku, sangat kasar dan brutal dan hobi berkelahi. Tapi sekarang ia malah menjadi pemain kebanggaan tim tourney Auradon.
Dan Carlos ... sebenarnya kupikir ia adalah satu-satunya dari mereka berempat yang tidak cocok dengan sebutan 'anak penjahat', tanpa bermaksud merendahkan, aku tidak bisa melihat sisi buruk dari Carlos sama sekali. Tapi sama seperti ketiga anak yang lain, Carlos punya kelebihan, dan ia sedang mengajariku kelebihannya itu.
Mungkin keputusan Ben untuk membawa keempatnya bersekolah di Auradon adalah hal yang tepat. Mungkin anak-anak dari para penjahat di Pulau Terhilang memang adalah anak-anak yang inosen, tidak hanya Evie, Mal, Jay, dan Carlos. Mungkin mereka memang layak diberi kesempatan di Auradon.
.
.
Setiap tahun pada Hari Keluarga di Auradon, pasti ada pertunjukan apa untuk menyambut para tamu. Dan untuk tahun ini, pertunjukan itu diketuai oleh Ben. Biasanya hanya marching band seperti waktu menyambut Mal dan teman-temannya, atau pertunjukan akrobat. Tapi Ben ingin yang berbeda—kakakku itu mengarang sebuah lagu, lalu meminta guru tari kami membuat koreografinya agar ia dan sekitar dua puluh murid lainnya bisa membawa pertunjukkan itu. Awalnya Ben ingin semua anak terlibat, tapi guru tari tidak setuju, sehingga mereka mengundi siapa saja yang akan ikut Ben dalam pertunjukan itu. Dan walau pun namaku tidak ditarik undian, nyatanya Ben telah menarikku duluan untuk ikut ambil bagian, sebagai pianis.
Bukannya aku senang main piano, ya. Aku memang bisa memainkannya, tapi tidak ahli. Satu-satunya alasan waktu kecil aku belajar main piano adalah karena disuruh mama. Waktu kecil, Ben sudah menunjukkan ketertarikannya dalam bidang tarik suara. Mama dan papa sangat senang akan itu. Tetapi aku tidak menunjukkan keahlian apa-apa, hanya hobi membaca buku. Mama pun memutuskan agar aku belajar musik, dan dipanggilnyalah guru piano untuk mengajariku.
Hari ini adalah hari terakhir latihan untuk pertunjukkan Hari Keluarga. Semua peserta hadir, tentu saja, guru tari pun juga. Aku mulai memainkan intro di pianoku, anak-anak yang lain mulai menari sesuai dengan yang diajarkan guru tari, dan menyanyikan lagu yang Ben buat. Karena sudah latihan berkali-kali, di hari terakhir latihan ini kami hanya perlu latihan dua kali soalnya memang sudah baik.
Kami selesai latihan saat hari mulai senja. Aku dan Ben sudah dipesankan agar kami makan malam hari ini dengan orangtua kami di istana. Jadi usai latihan, kami segera ganti baju dan masuk limosin untuk diantar ke istana.
Aku dan Ben duduk duluan di ruang makan. Mama dan papa belum tampak batang hidungnya di ruang ini. Jadinya kami berdua mengobrol sambil menunggu. Kutanya ia soal kencannya dengan Mal, karena seingatku ia belum cerita sama sekali. Jadi sambil tersenyum dan semangat Ben menceritakan kencannya. Aku senang sekali melihatnya begitu antusias saat bercerita. Waktu ia masih berpacaran dengan Audrey, ia tampak tidak tertarik untuk menceritakan jalannya kencan mereka, mungkin ini memang bertanda Ben tidak pernah suka Audrey dan sekarang ia memang suka Mal. Aku sangat senang untuk kakakku.
Sekarang giliran ia yang bertanya. "Bagaimana denganmu dan Jay?"
Langsung saja aku mengerjap. "Aku dan Jay? Ada apa denganku dan Jay?"
Ben masih tersenyum. "Setelah kencan itu, bagaimana dengan kalian?"
Kuangkat bahu. "Biasa saja. Kami masih belajar sama-sama, Carlos juga."
"Jadi kalian tidak berpacaran?"
"Ap-apa? Ben, aku bahkan tidak tahu aku suka padanya atau tidak," ujarku. "Dan tidak mungkin Jay suka padaku."
"Ya? Sudah berapa banyak bunga yang ia berikan padamu? Dan berapa banyak yang kau simpan?" tantang Ben sambil menyengir.
Saat aku hendak menghitungnya dalam hati, suara papa mengagetkanku. "Siapa yang memberi gadis kecilku bunga?" tanya papa. Agak kaget, aku langsung menoleh ke arah pintu, asal suara, melihat papa sedang berjalan masuk ruang makan dengan mama.
"Hai, pa, ma," sapa Ben.
Mama tersenyum dan menyapa kami, lalu mencium lembut pipiku. Papa melakukan yang sama, bedanya ia menanyakan soal bunga lagi.
"Siapa yang memberimu bunga?" tanya papa lagi sambil ia dan mama duduk di kursi.
Kugigit bibirku. "Umm ... " Aku tidak yakin aku akan mau menjawab pertanyaan itu.
"Jay!" sahut Ben senang.
Aku termegap. "Ben!"
"Jay?" tanya mama. Mama tersenyum menggodaku, sedangkan ekspresi di wajah papa seakan menandakan ia tidak suka aku mendapat bunga dari seorang pemuda.
"Dari Pulau, putra Jafar," kata Ben.
"Ben!" kataku lagi. Kakakku satu ini benar-benar, deh.
Senyuman mama lenyap perlahan, matanya mengerjap. "Dari P-pulau?"
Papa ikut mengerjap juga. "Jafar?"
"Ya! Jay pemain yang hebat di tim," kata Ben. "Ia dan Beth tidak mau mengakui kalau keduanya saling suka."
Wajahku makin menghangat. "Ben, diamlah!"
"Sayang," panggil mama lembut, tapi aku masih bisa melihat ekspresi terkejutnya. "Kau suka pemuda ini?"
Kugigit bibirku sambil berpikir dengan gugup. "Aku tidak tahu, Ma. Percayalah, aku bahkan tidak tahu seperti apa rasa suka itu."
Kini mama menggapai lembut tanganku yang ada di sampingnya. Wajahnya sudah tidak terkejut lagi, kali ini ia tersenyum kecil. "Ajaklah ia makan siang di meja kita besok, ya?"
Sekarang malah aku yang memasang tampang kaget. Mama ingin Jay makan siang dengan kita? "Mama yakin?" Mama mengangguk.
.
.
Aku tidak mengerti kenapa, tapi kalau esoknya adalah 'hari besar', maka malam sebelumnya aku akan sangat sulit tidur—masih untung kalau bisa pulau satu atau dua jam, aku pernah sampai tidak bisa terlelap sama sekali. Heran. Apakah itu perlombaan, pertunjukan, acara spesial, sebagainya. Di malam sebelum anak-anak Pulau datang, aku hanya bisa terlelap dua jam. Dan kemarin malam, karena hari ini aku akan bermain piano dalam rangka pertunjukan Hari Keluarga, aku malah tidak terlelap sama sekali. Aku hanya tinggal berharap jangan sampai aku teler saat sedang bermain piano di hadapan orang banyak.
Karena aku tidak bisa tidur sama sekali, saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam lima pagi, aku memutuskan untuk bangkit dari ranjang, dan langsung bersiap-siap sendiri. Mandi, berpakaian, dan pergi sarapan di dapur sambil membawa kertas not biar maksudnya habis sarapan aku bisa langsung latihan sendiri.
Di taman, tempat kami akan mempertunjukkan lagu 'Be My Guest' yang dikarang kakakku, pianonya sudah disiapkan. Kunyalakan alat musik yang belum disambungkan pada speaker, lalu mulai latihan sendiri.
Kupikir aku hanya seorang diri di taman, tapi pikiranku terbukti salah ketika aku melihat Jay yang tiba-tiba kulihat melewati taman. Ia dan aku sama-sama terkejut. Aku langsung menghentikan permainan pianoku sambil Jay menghampiri.
"Beth? Kau sedang apa pagi-pagi di sini?" tanyanya.
"Um, aku sedang latihan untuk pertunjukan nanti," jawabku. "Kau?"
"Aku, eh, jalan-jalan pagi?" jawabnya dengan nada bertanya.
"Kau melakukannya tiap hari?" tanyaku sambil agak menyerngit.
Ia mengangkat bahunya. "Kurang lebih begitu. Hei, kau bisa main piano?"
"Sedikit. Ben memaksaku untuk memainkan piano untuk pertunjukkannya."
Jay mengangguk. "Jangan bilang kau latihan sepanjang malam, kantung matamu hitam," katanya sambil mengusap bagian bawah kantung mataku.
Aku agak terkesiap dan kaget saat jemarinya mengenai kulit wajahku. Aku tidak siap kalau ia menyentuhku tiba-tiba begini. Jemarinya mengusap pelan pipi atasku, sambil dengan satu mataku aku bisa melihatnya samar sedang menatapku cemas. Kuharap ia segera melepaskan sentuhannya, aku tidak mau ia bisa merasakan hangatnya wajahku akan perlakuannya.
Tapi ia tak kunjung melepaskan sentuhannya dari wajahku, malah, ia membuatku makin sulit bernafas dengan mulai membelai kecil pipiku, dan semakin turun pada bibirku. Saat ia mengusap bibirku dengan ibu jarinya, aku bisa melihatnya menunduk dan wajahnya semakin dekat denganku. Kutelan ludah dengan sangat susah payah, lalu aku buru-buru melangkah kecil ke belakang, mau tak mau jemari Jay pun lepas dari daerah wajahku.
"Um, k-kantung mataku hitam karena semalaman tidak bisa tidur sama sekali," ujarku cepat. "Aku sudah lama tidak main piano, dan hari ini aku harus memainkannya di hadapan orang banyak. Aku gugup, jadi tidak bisa tidur."
Jay mengangguk dengan canggung. "Oh, eh, mungkin aku harus kembali ke kamar." Kali ini aku yang mengangguk. "Sampai ketemu nanti?" Aku mengangguk lagi.
Saat Jay pergi, aku langsung menghembuskan nafas. Kupegang wajahku dengan dua tangan, dan bisa kurasakan hangatnya wajahku lewat kedua telapak tanganku sambil aku duduk di kursi piano. Jantungku berdegup kencang, apalagi saat mengingat bagaimana jari Jay ada di sekitar wajahku. Astaga, ada apa denganku?
.
.
Langit sangat cerah di pagi menjelang siang hari ini. 'Sangat cerah' di sini maksudnya adalah langit yang sangat mendukung. Terang, tetapi cahaya matahari tidak terik sampai silau. Walau sudah mulai siang, angin yang berhembus sangat sejuk, seakan memang mendukung acara Hari Keluarga di Auradon.
Telapak tanganku agak berkeringat dingin, menandakan betapa gugupnya aku. Jemariku agak gemetar saat memainkan piano, untungnya aku tidak memencet tuts yang salah tadi. Dan kalau kamera menyorot wajahku dengan dekat tadi, aku yakin akan jelas sekali bahwa wajahku gugup.
Karena aku sangat fokus bermain piano, alias mataku hanya terpaku pada piano, aku tidak tahu bagaimana penampilan Ben dan para murid yang menari lainnya. Tapi tadi aku sempat mendengar ada suara cekikikan beberapa penonton, kuharap mereka bukan menertawakanku.
Begitu selesai bermain piano, aku membungkuk hormat pada penonton cepat-cepat bersama dengan Ben dan yang lainnya. Habis itu, karena terlalu malu di depan banyak orang, aku buru-buru menyingkir dan menghampiri kedua orangtuaku bersama dengan Ben. Mama dan papa masih bertepuk tangan sembari kami menghampiri mereka, padahal yang lainnya sudah tidak ada yang bertepuk tangan, mungkin.
"Kerja bagus, kalian berdua," puji papa.
"Beth, permainan pianomu tadi baik," puji mama.
"Aku gemetar sekali tadi," akuku pelan.
Ben mengacak lembut rambut di puncak kepalaku, lalu ia mencium keningku. "Adikku memang yang terbaik," gumamnya.
Mama dan papa menggiring kami dan meminta seorang fotografer mengikuti kami. Kami berempat berdiri di pinggir taman, bersiap untuk difoto. Aku dan Ben ada di tengah, papa di sampingku, mama di samping Ben, sehingga warna pakaian kami jadi selang-seling biru-kuning-biru-kuning.
"Siap?" tanya fotografer.
Tidak ada yang menjawab, aku hanya tersenyum sebaik mungkin menghadap ke kamera. Kupikir mungkin mama, papa, dan Ben juga sedang sibuk tersenyum sehingga tidak menjawabnya.
"Oh, omong-omong aku punya pacar baru," aku Ben.
"Begitukah?" tanya Mama. "Yah, aku tidak pernah mengatakannya, tapi aku selalu berpikir kalau Audrey agak angkuh." Aku mengangguk setuju. "Senyumnya palsu." Aku mengangguk lagi.
"Apa kami tahu pacar barumu?" tanya papa.
"Begitulah," jawab Ben. Lalu aku melihat ada Mal bersama dengan ketiga temannya di dekat chocolate fountain. Kupikir Ben pasti juga melihatnya. "Mal!" panggilnya.
"Apa?" tanya mama kaget, bersamaan dengan bunyi kamera.
Setelahnya aku menggigit bibir, pasti hasil foto tadi agak aneh, aku jamin itu. Kami turun dari tempat foto. Ben segera meninggalkan sisi kami untuk menghampiri Mal, sedangkan papa memegang lenganku.
"Jadi kau dengan putra Jafar, Ben dengan putrinya Maleficent?" tanya papa. Ia tidak menggeram, tidak marah, tapi wajahnya jelas-jelas menyiratkan rasa bingung.
"Ben dengan Mal, ya. Tapi aku tidak dengan Jay. Kami hanya berteman," jawabku gugup. Aku tidak salah, kan?
Ben menghampiri kami lagi, dengan Mal di sampingnya. Aku bisa melihat gadis itu tersenyum gugup, dan aku hanya bisa tersenyum kecil padanya.
"Ma, pa, ini Mal, dari Pulau. Dia pacarku," ujar Ben memperkenalkan gadis itu.
"Hai," ucap Mal agak gugup.
"Hai," balas mama lembut.
"Aku berpikir mungkin dia bisa bergabung dengan kita untuk makan siang," kata Ben. "Kau tahu, sekalian karena Jay akan makan dengan kita juga," tambahnya, sambil melepar cengiran padaku.
Oh, aku lupa kalau kemarin malam mama bilang agar Jay bisa makan di meja kita siang ini! Tadi pagi aku bertemu dengan pemuda itu dan aku lupa untuk memberitahunya. Yah, wajahku sudah merona duluan, mana bisa aku kepikiran untuk memberitahunya?
"Tentu saja," jawab papa. "Teman dari Ben dan Bethany—"
"—uh, sebenarnya aku dan Jay datang dengan teman-teman kami," kata Mal cepat.
"Yah, kau bisa mengundang mereka," kata mama. "Semakin banyak akan semakin menyenangkan."
"Oh, aku akan beritahu Jay, kalau begitu," ucapku. "Aku belum memberitahunya."
"Ya, kau beritahu dia, Sayang," ujar mama. Aku mengangguk dan pergi.
Kuhampiri Evie yang sedang menggendong Dude, sedangkan Carlos dan Jay sedang sibuk melapisi stroberi dengan coklat dan menjulurkan lidah mereka ke chocolate fountain. Aku bisa melihat orang-orang di sekitar mereka menunjukkan wajah risih dan tidak mau di dekat mereka. Entah karena ketiganya anak dari para musuh, atau karena kedua pemuda ini melakukan tindakan aneh.
"Hai, kalian," sapaku.
"Hai!" balas Evie sambil tersenyum lebar. Berbeda dengan senyum Mal, Evie selalu membalas senyumku dengan lebar dan tanpa dibuat-buat. "Oh, aku suka sekali permainan pianomu!"
Carlos hanya melambaikan satu tangannya padaku tapi mulutnya masih sibuk dengan coklat. Aku tidak bisa tahan untuk terkekeh. Sedangkan Jay langsung menyingkir dari chocolate fountain dan menghampiriku dengan mulutnya yang agak belepotan, tapi berusaha ia bersihkan dengan lidahnya. Aku terkekeh melihat tingkahnya.
Kuambil tisu yang disediakan di meja lalu mengelap pelan mulutnya sambil tersenyum geli. "Kalian menikmati coklatnya?" tanyaku.
"Aku bisa makan coklat ini sampai malam!" kata Carlos. Aku tertawa kecil.
"Um, aku minta maaf kalau orangtua kalian tidak bisa hadir kemari," kataku.
"Oh, tidak apa, Ibu Peri memberi kami kesempatan untuk video call dengan orangtua kami di kelas tadi," kata Evie.
"Begitukah? Tapi kalian pasti lebih berharap mereka bisa datang dibanding hanya lewat monitor, kan?" tanyaku.
Carlos, Evie, dan Jay langsung murung. "Kalau tahu apa yang akan mereka katakan tadi, aku lebih berharap dari awal tidak usah saja," kata Carlos jujur.
Aku menyerngit. "Seburuk itukah?" Ketiganya mengangguk. "Aku minta maaf kalau begitu. Um, Jay, mamaku mengundangmu dan Mal untuk makan siang dengan kami nanti. Kau mau? Evie dan Carlos boleh ikut juga, katanya."
Mata Jay membulat. "Mamamu mengundangku?" Aku mengangguk. "Oh, yah, tentu aku mau. Maksudku, kau ada di sana juga, kan, nanti?" Aku mengangguk lagi.
.
.
Aku dan mama sedang menonton para pria bermain. Sesekali kami tertawa kecil kalau ada yang terjatuh dan adegan lainnya. Tapi suara bisik-bisik penonton yang lain menarik perhatianku. Aku menoleh ke suara bisik-bisik itu, melihat beberapa murid sedang membicarakan sesuatu sambil memerhatikan ke suatu tempat. Penasaran, aku menoleh ke obyek perhatian mereka. Ada Evie, Jay dan Carlos di sana, bersama dengan gerombolan orang. Satu persatu mulai menghampiri mereka. Aku berdiri dari tempat dudukku, menghampiri mereka juga.
"Mereka dibesarkan oleh orangtua mereka, Ben!" Itu suara Chad. Aku berusaha segera masuk ke dalam gerombolan itu. Maksudku, kalau sampai Chad menyebut nama Ben, berarti kakakku ada di tengah gerombolan itu, kan? Dan kalau ada Evie, Jay, dan Carlos, berarti ada Mal juga di depan sana.
Benar juga, begitu aku sampai di tengah gerombolan, aku melihat Chad sedang berhadapan dengan Ben dan Mal. Ada Audrey dan Ratu Leah di belakang Chad. Ada apa ini?
"Menurutmu apa yang para penjahat ajarkan pada anak-anak mereka?!" seru Chad lagi. Kupikir ia menaikkan volume suaranya dengan sengaja agar semua orang mendengarnya. "Kebaikan? Keadilan? Bukan!" Chad menunjuk Mal. "Kau merebut pacar orang!" Lalu pada Jay, Evie, dan Carlos. "Kau senang menyakiti orang. Kau bukan apa-apa selain pecinta emas dan melakukan tindakan curang!"
Aku memang pernah kesal pada Audrey karena ia menghinaku, mengataiku tanpa tahu kebenaran. Sekarang aku berpikir mungkin Audrey dan Chad adalah pasangan yang sangat pas, karena keduanya suka menuduh. Chad tidak tahu apa-apa tentang keempat anak itu. Aku memang belum lama mengenal mereka, tapi aku tahu mereka anak-anak inosen, seperti yang Ben bilang. Putra Cinderella itu tidak berhak menghina mereka begini.
Sekali lagi Chad menunjuk pada Jay. "Kau, aku tidak tahu apa baiknya kau sampai Beth mau berteman dengan orang macam kau. Aku tidak tahu berapa banyak yang telah kau curi darinya, pasti sangat banyak, mengingat di hari pertama kedatanganmu ke Auradon, ponsel dan cincinku langsung raib! Ramuan cinta apa yang kau berikan padanya ?!"
"Ap-apa?" tanyaku, mungkin sedikit agak keras, karena setelahnya sebagian besar orang-orang yang menggerombol langsung menoleh padaku. Mata Jay membulat sempurna saat melihatku.
Aku tahu Jay adalah seorang pencuri saat di pulau, tapi aku tidak tahu kalau ia tetap melakukannya di Auradon. Dan, ramuan cinta? Apa itu yang menyebabkanku selalu merasa gugup saat bersama dengannya?
Jadi, semuanya, apa yang terjadi di antara aku dan Jay, semuanya bohong?
.
.
TBC
.
.
