Aku menangis. Antara sedih, kesal, dan bingung, semuanya melebur jadi air mata yang mengalir deras di pipiku. Aku tidak tahu lagi yang mana yang benar dan mana yang salah.
Chad memang orang yang menyebalkan menurutku, tapi perkataannya cukup masuk akal walau aku tidak mau percaya. Aku pun tidak ingin mendengar penjelasan Jay dan langsung berlari pergi dari taman sambil menangis.
Hal yang paling membuatku sedih bukanlah fakta bahwa Jay mencuri, melainkan tentang ia memberiku ramuan cinta. Aku tidak tahu bagaimana ia melakukannya, tapi yang Chad bilang itu bisa jadi benar—dan itu yang membuatku wajahku menghangat setiap ada Jay.
Berarti mungkin selama ini yang dikatakan Ben itu benar: aku suka Jay. Tapi rasa suka ini palsu, karena rasa suka ini berasal dari ramuan cinta.
Sekarang bagaimana?
.
.
Disclaimer: Descendants adalah milik Disney, OC adalah milik author, author tidak mengambil keuntungan.
Warning: Akan ada kemungkinan OC menjadi mary-sue tapi author berusaha untuk tidak berlebihan. OC x Jay, slight other minor pairings, mungkin OOC.
.
Heart's Stealer
Chapter 6
by Fei Mei
.
.
Ben masuk ke dalam kamarnya dan menghampiriku di ranjang. Yep, saat lari meninggalkan taman tadi, aku langsung masuk ke kamarnya. Aku tidak mau masuk ke kamar asramaku sendiri.
Saat Ben masuk ini, tangisanku sudah tidak sederas tadi, tapi, ya, aku masih sesunggukkan. Kakakku duduk di sampingku di ranjang dan memelukku, membiarkan kepalaku bersandar di pundaknya sambil terus mengisak.
"Ramuan cinta, Ben," gumamku. "Mungkin itu sebabnya aku bisa punya perasaan ini."
"Beth, kalau kau suka padanya karena ramuan cinta, maka kau akan terus percaya padanya, bukannya seperti ini," ujarnya lembut. "Dan, ini salahku kau sampai begini, Beth. Aku yang mengundang mereka ke Auradon."
Aku menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Kau juga tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Beth, tentang kencanku dan Mal waktu itu, ada satu hal yang tidak kuceritakan padamu atau pada siapa pun," ujar Ben.
Langsung saja aku menyerngit, menatapnya bingung. "Apa?"
"Kencannya sangat, sangat, menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dibanding saat aku bersama dengan Audrey," ucapnya pelan. "Beth, aku berenang di Enchanted Lake, dan semua masih terasa menyenangkan."
Aku masih menyerngit. "Apa hubungannya dengan kau berenang di sana?"
Ben tersenyum kecil. "Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi kuyakin Mal sempat memberiku tamuan cinta—tunggu, dengarkan aku dulu. Awalnya aku tidak sadar sama sekali. Tapi begitu aku berenang di danau itu, aku merasa ada suatu kekuatan yang lepas dariku. Saat itu aku tahu kalau aku terkena ramuan cinta.
"Aku tidak marah sama sekali, maksudku, toh selama aku dalam ramuan cinta itu, Mal tidak melakukan hal aneh, tidak memanfaatkanku. Jadi aku berpikir mungkin ia sama seperti penggemarku yang lain, tapi yang ini lebih berani bertindak.
"Karena di dalam danau aku telah tersadar, kupikir mungkin aku akan mengerjainya sedikit, pura-pura masih dalam pengaruh mantranya. Tapi tiba-tiba Mal menyeburkan dirinya ke dalam danau, berpikir bahwa aku tenggelam, padahal ia sendiri tidak bisa berenang. Saat itu aku berpikir mungkin ia berbeda dengan para penggemarku seperti Audrey, mungkin Mal memang benar peduli padaku—bukan karena aku seorang pangeran, seorang calon raja, tapi sebagai aku sendiri.
"Aku tahu dari awal aku sudah tertarik padanya, Beth, dan saat aku membawanya keluar dari dari danau, kupikir mungkin aku benar tertarik padanya. Sampai sekarang, aku terus menjadi pacarnya, bukan karena aku ingin pura-pura, tapi karena perlahan aku jadi suka padanya."
Aku agak tercengang mendengar cerita Ben yang panjang lebar itu. Mal memberinya ramuan cinta? "Sampai saat ini berarti hanya aku yang tahu kalau sebenarnya kau sudah lepas dari mantra itu?" Ben mengangguk dan tersenyum.
"Oh, aku ingat," kata Ben lagi. "Sepertinya aku tahu ia menaruh ramuan cinta itu di mana. Sebelum pertandingan, Mal menawariku biskuit. Saat kucoba makan, itulah momen ramuan itu bekerja."
Langsung saja aku tersentak dan mengerjap. "Biskuit? Apa itu adalah biskuit dengan cip coklat, dan ada rasa kacang Walnut?"
Ben mengangguk. "Kau tahu?"
"Jay memberikanku biskuit itu dan kumakan sampai habis," gumamku tegang. "Ben, Jay memberiku ramuan cinta juga!"
"Um, oke, baiklah, tapi setahuku, orang yang kena ramuan cinta, tidak akan tahu dan percaya kalau dirinya kena mantra cinta," ujar Ben.
"Jay memberikanku biskuit itu, Ben!" erangku.
Ben menggeleng dan menghela. "Begini, aku akan bawa kau ke Enchanted Lake, kau membasuh dirimu di sana, dan kita akan tahu kau terkena mantra cinta atau tidak."
Aku mengangguk setuju. Tanpa berlama-lama lagi, Ben langsung menggandengku keluar kamar. Dengan cepat kami menghampiri motornya dan mengenakan helm. Ben mengebut sampai ke pinggir hutan—jalan pintas terdekat menuju danau itu.
Sampai di sana, Ben menunjuk ke tempat yang dangkal buatku. Langsung saja aku melepas sepatuku, perlahan masuk ke dalam air. Aku tetap belum bisa berenang, jadi mungkin aku hanya akan diam di dalam air saja. Tangan Ben terus memegangiku, tapi karena seluruh tubuhku harus masuk ke dalam air, maka tangan Ben ikut masuk juga sedikit—ia bilang ingin memastikan kalau aku tidak kenapa-kenapa dalam danau.
Beberapa detik setelah sekujur tubuhku basah kena air danau, Ben menarikku keluar lagi. Ia segera menaruh handuk besar di tubuhku, sedangkan aku sibuk tersedu-sedu karena antara dinginnya air atau perasaan sakit hatiku masih terus ada sama seperti tadi.
"Bagaimana?" tanyanya lembut sambil merangkul punggungku.
Aku menggeleng lesu. "Tidak ada yang berubah."
"Kau suka Jay, Beth, terimalah faktanya. Mungkin kau memang memakan ramuan cinta itu, tapi entah bagaimana itu pasti tidak bekerja padamu, atau Jay memberimu biskuit yang salah. Apa pun itu, perasaanmu padanya itu bukan karena mantra," jelas Ben lembut.
"Aku tidak paham, Ben," isakku. "Kenapa rasanya sakit sekali? Dadaku sesak, aku tidak bisa berhenti menangis, aku tidak mau begini!"
Ia mengusap lenganku lembut. "Beth, kau suka Jay, lalu kau kecewa padanya, makanya rasanya sakit. Itu wajar, dan itu adalah bukti kau suka padanya."
"Kenapa harus Jay? Dia seorang pencuri, Ben, kenapa aku bisa sampai suka padanya?" tanyaku pelan.
"Kau tahu dia pencuri," gumamnya. "Jay sudah berhasil mencuri hatimu, Adikku."
.
.
Aku baru kembali ke kamarku saat pagi hari. Semalaman aku tidur di ranjang Ben. Kakakku itu tidak pernah masalah dengan aku tidur di sampingnya. Mungkin ia sudah terbiasa, terutama saat hujan lebat dan petir kencang, ia sudah sangat hapal tabiatku yang akan langsung menyelinap ke ranjangnya. Dan semalam ia memegangi tanganku sambil kami tidur. Kuyakin mataku bengkak karena kemarin menangis terus. Jelas saja, aku bahkan bisa tertidur lelap walau besok hari besar pun itu karena aku sudah terlalu lelah menangis.
Pagi-pagi benar aku kembali ke kamarku, sengaja biar aku jangan bertemu dengan siapa-siapa di lorong asrama, agar jangan ada yang melihat mata bengkakku. Lonnie adalah satu-satunya yang mendapati mataku bengkak.
Gadis Asia itu terjaga begitu aku masuk kamar kami. Aku tidak tahu memang ia terjaga sepanjang malam, atau belum lama bangun, atau baru bangun saat aku membuka pintu kamar. Tapi yang jelas, begitu tahu aku masuk kamar, Lonnie langsung memeluk erat, dan memberitahuku kalau mataku bengkak.
"Semalam gaun dan tiaramu sudah diantar ke sini," ujarnya pelan. "Kau mau mandi duluan? Maksudku, kau pasti harus ada di istana dari pagi, kan?"
Aku mengangguk dan memaksakan senyum. Kuambil handuk dan masuk kamar mandi. Dengan cepat aku mandi dan mengenakan gaun baruku yang berwarna kuning terang. Gaun ini sangat cantik. Aku memang bukan penggemar gaun atau terusan apa pun, tapi aku harus mengakui gaun baru ini sangat cantik. Sederhana, tanpa banyak model lipitan, tapi indah. Mungkin perancang bajunya sudah hapal dengan keinginanku.
Gaunnya panjang sampai menutupi kakiku, kupikir walau aku menggunakan high heels nanti, aku harus tetap agak mengangkat bagian depan roknya. Kalau menggunakan gaun resmi seperti ini, aku paling suka rok lebarnya. Bukan hanya saat aku mengenakan gaun resmi, tapi juga saat aku melihat gaun-gaun resmi yang dikenakan gadis lain.
Gaun ini tak berlengan, dan malah bahuku terekspos sempurna karena gaun ini. yah, setidaknya yang kusyukuri adalah bagian punggungnya tidak rendah. Jadi bagian atas gaunnya agak ketat, sedangkan pinggang ke bawah agak melebar.
Usai mengenakan gaun, aku kembali ke kamar dan mengenakan high heels. Lonnie tersenyum dan bilang akan membantuku merias wajah dan menata rambut. Dia tahu aku tidak suka memakai riasan tebal—sebenarnya aku malah tidak suka pakai riasan apa pun di wajah. Tapi ini acara yang sangat penting, aku harus pakai riasan. Dan lagi Lonnie juga berusaha menutupi bagian mataku yang masih agak bengkak karena habis menangis semalaman.
Lonnie agak me -roll rambut panjangku. Ben bilang ia paling senang saat melihat rambutku terurai—ditata seperti apa pun, asal terurai dan bukan diikat atau disanggul, itu bagus. Kalimat dari kakakku yang berikutnya membuatku terkekeh geli: ia bilang kalau rambutku disanggul, apalagi sema helai rambutku terangkat, dia tidak akan bisa menepuk atau mencium puncak kepala. Dan karena Lonnie juga tahu soal itu, ia pun tidak pernah sampai menyanggul rambutku—padahal tiara lebih mudah dipakai jika rambut disanggul.
Riasan wajah sudah, tatanan rambut sudah. Sekarang Lonnie mengenakan tiara di kepalaku. "Oh, Beth, kau cantik sekali! Aku ingin bilang 'kau mirip tuan putri', tapi aku ingat kalau kau memang seorang tuan putri," katanya.
Mau tak mau aku tersenyum. "Lonnie, aku bisa cantik begini karenamu. Terimakasih."
.
.
Aku naik kereta kuda besar bersama dengan mama dan papa, sedangkan Ben akan naik ereta kuda yang agak lebih kecil dengan Mal. Aku dan orangtuaku sampai istana duluan. Aku tahu akan ada sangat banyak orang yang menonton langsung acara koronasi, tapi aku tidak menyangka bisa ada sebanyak ini. Orang-orang di jalan tadi menyambut kereta kuda kami, mama dan papa tak hentinya membalas lambaian tangan orang-orang yang kami lewati, sedangkan aku hanya bisa melempar senyum kecil.
Kami turun dari kereta kuda, mendapati banyak orang sudah menunggu di depan istana. Mungkin sudah ada yang mengambil posisi di dalam, tapi yang pasti kami bertiga akan tetap menunggu di sini sampai Ben tiba.
Papa menggandeng tangan mama sambil menaiki tangga, sedangkan aku dibantu oleh seorang petugas. Di atas anak tangga, di depan pintu, mama dan papa melempar senyum pada semua orang, aku berusaha melakukan hal yang sama. Sebelum naik kereta kuda tadi, sebenarnya mama sudah bilang tidak apa kalau aku ingin absen hari ini, ia akan paham, tapi aku tidak mau karena tidak ingin melewatkan acara koronasi kakakku. Jadi mama dan papa hanya berpesan agar aku jangan memaksakan diri.
Saat aku melempar senyum pada orang-orang di setiap sudut, pandangan mataku menangkap sosok Jay yang sedang bersama dengan Evie dan Carlos. Kutangkap sosoknya yang sedang memerhatikanku, entah sejak kapan, tapi ia memberikanku senyum sedih saat aku menatapnya. Oke, aku tahu aku tidak kena ramuan cintanya, tapi aku masih merasa kecewa saja padanya. Melihatnya sekarang di sana, antara membuat dadaku hangat, atau membuatku teringat akan rasa kecewaku padanya. Aku merutuk pelan dalam hati, kenapa ia harus terlihat sangat tampan hari ini? Maksudku, yah, wajahnya memang menawan, tapi pakaiannya tidak pernah rapi. Hari ini ia mengikat rambut panjangnya di belakang, mengenakan celana panjang dan kemeja lengan panjang, ia tampak bersih dan rapi. Walau begitu, senyumku memudar, dan langsung saja aku memalingkan wajahku darinya.
Untunglah kereta kuda Ben akhirnya sampai. Ia turun dari sana, lalu membantu Mal. Astaga, gadis itu cantik sekali! Dia memang gadis ungu, mau mengenakan pakaian biasa atau gaun resmi, semua berwarna ungu. Tapi beda dengan ungu gelap yang biasa ia pakai, hari ini ungunya muda dan lembut. Dengan mengenakan gaun itu, ia tinggal mengenakan tiara untuk menjadikan dirinya tuan putri yang asli.
Ben dan Mal menaiki tangga. Ben tersenyum lebar dengan tulus, seperti yang ia selalu lakukan. Sedangkan Mal, ia hanya bisa memaksakan senyum, kupikir karena memang ia tidak terbiasa menghadapi orang sebanyak ini, belum lagi baru saja ia mendapat cap buruk waktu Hari Keluarga kemarin.
"Tentang hari kemarin, aku hanya—"
"—Aku sudah beritahu Ben bahwa ini tidak akan mudah," kata papa, memotong perkataan Mal.
"Kau juga mengajariku bahwa seorang raja harus percaya pada dirinya sendiri," kata Ben.
"Aku bilang begitu? Aku bijak sekali," kata papa sambil menyengir.
Mal menoleh padaku. "Beth, soal Jay—"
"—Kalian bisa bicarakan soal itu nanti, ada banyak waktu untuk itu," kata mama lembut, Mal mengangguk. Lalu ia memegang tangan putranya. "Ben, kami sangat bangga padamu, kau mendengarkan kata hatimu."
"Terimakasih, Ma," kata Ben, masih terus tersenyum. Ia menoleh padaku. "Kau tidak mau memeluk kakakmu?"
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Kuputuskan untuk memeluknya sebentar. Kurasakan Ben ini memelukku erat, tapi mungkin ia sadar bahwa memelukku terlalu erat akan membuat tatanan rambutku rusak.
"Kau akan jadi raja yang baik, Ben," gumamku di pelakukannya. Ben mengangguk dan mencium kecil keningku.
Papa menggandeng mama masuk ke dalam pintu, aku menyusul dari belakang mereka.
"—Raja Adam dan Ratu Belle!" kata penyambut tamu. Semua orang langsung mendekat ke arah karpet yang ada di tengah. Mama dan papa berjalan di atas karpet, orang-orang menunduk hormat. "Dan tuan putri kita yang cantik, Putri Bethany!"Aku pun berjalan maju juga, mendapati orang-orang menunduk hormat padaku juga. Uh, aku ingin cepat-cepat sampai di depan biar aku tidak usah mendapat penunjukkan hormat yang seperti ini!
Mama dan papa berdiri di atas panggung, sedangkan begitu aku sampai di depan, aku berdiri di satu anak tangga tepat sebelum panggung. Habis itu penyambut tamu memanggil nama Ben. Pintu besar istana terbuka lagi, kakakku masuk, dan semua membungkuk hormat untuk yang ketiga kalinya.
Ibu Peri berjalan ke tengah panggung. Saat Ben tiba di depan, ia langsung berhadapan dengan Ibu Peri yang tersenyum lembut padanya. Ben berlutut, Ibu Peri mengambil mahkota papa dan meletakkannya di kepala kakakku. Mama membuka penutup kaca tongkat sihir Ibu Peri, lalu menyerahkannya kepada yang punya, keduanya mencium pipi masing-masing sebelum mama kembali ke sisi papa, sedangkan Ben masih berlutut.
Paduan suara yang daritadi melantunkan sebuah lagu yang agak pelan, kini telah selesai bernyanyi. Berarti ini adalah momen terpenting acara hari ini. Ibu Peri menyentuh pelan bahu kanan lalu bahu kiri Ben menggunakan tongkat sihirnya.
"Apakah kamu bersumpah, pada seluruh warga Auradon, dengan keadilan dan tanggungjawab selama kau menduduki tahta?" tanya Ibu Peri. Suaranya kencang, tapi tetap terdengar lembut.
"Aku bersumpah," jawab Ben. Aku tersenyum, mungkin terharu juga.
Ibu Peri kini mengangkat tongkat sihirnya. "Dan dengan hormat dan sukacita, aku mengangkatmu sebagai raja yang baru—"
Perkataan Ibu Peri terhenti bersamaan dengan terdengarnya suara megapan orang-orang termasuk aku. Jelas saja, Jane, putri dari Ibu Peri, tiba-tiba merebut tongkat sihir ibunya sendiri. Aku kaget, sejak kapan gadis itu beranjak ke depan? Dan, oh, apa yang terjadi dengan rambutnya? Bukankah Mal sudah mengubah rambutnya?
Jane turun dari panggung membawa tongkat sihir yang kupikir agak di luar kendali. Jane pun memegangnya dua tangan dengan susah payah, apalagi karena dari ujung tongkat itu keluar percikan cahaya. Lebih parah lagi, tiba-tiba aku melihat cahaya lurus berwarna biru keluar dari ujung tongkat, memecahkan kaca jendela atas, menuju langit-langit. Tapi saat garis cahaya itu lenyap, percikan pada ujung tongkat masih ada.
"Nak, apa yang kau lakukan?!" pekik Ibu Peri.
"Jika kau tidak mau membuatku menjadi cantik, aku akan melakukannya sendiri!" seru Jane. Kali ini tongkat sesekali menembakkan cahaya kecil ke arah yang tak menentu. "Bibbidi-Bobbidi-Boo!"
Tidak ada yang terjadi, malah sepertinya tongkat itu makin tidak terkendali.
"Berlindung!" seru papa.
Mama menarikku mendekat padanya dan papa, jadi keduanya memegangiku. Aku bisa melihat Ben melindungi Mal, sedangkan orang-orang lain berusaha melindungi kiri-kanan atau kepalanya sendiri.
Lalu kulihat Mal berlari meninggal Ben, menuju Jane, dan dengan mudah ia merebut tongkat sihir itu. Berhasil mendapatkannya, aku bisa melihat orang-orang bukan merasa lega, malah semakin ngeri. Aku paham kenapa, dan sesungguhnya aku pun merasakan hal yang sama dengan mereka.
"Mal, berikan tongkatnya padaku," ujar Ben sambil mendekati pacarnya. Nah, kan, Ben pun takut.
"Mundur," kata Mal.
"Mal, tidak apa," ujar Ben lagi.
"Ben, kubilang mundur!" pekik Mal, menunjukkan tongkat sihir di depannya.
"Aku sudah memperingatkanmu!" sahut Audrey di barisan depan.
Mal langsung mengarahkan tongkat di tangannya pada Audrey, sehingga gadis itu pun mundur dan beberapa orang memekik takut. Lalu kulihat Evie, Jay, dan Carlos berdiri di belakang Mal.
"Ayo," kata Carlos, tapi wajahnya tegang.
"Waktunya pembalasan," kata Jay, wajahnya sedih.
"Kau benar-benar ingin melakukan ini?" tanya Ben.
"Kami tidak punya pilihan, Ben!" raung Mal. "Orangtua kami—"
"—Orangtuamu membuat pilihan mereka sendiri," potong Ben. "Sekarang kau harus membuat pilihan sendiri juga."
Mal terdiam. Ia melihat kepadaku dengan sedih, lalu pada Ibu Peri, dan terakhir pada Ben. Ia masih memegang tongkat sihir di depannya, tapi aku bisa melihat ia siap untuk menangis. "Kupikir aku ingin menjadi baik," katanya pelan.
"Kau baik," tekan Ben.
"Bagaimana kau tahu itu?" tantang Mal.
"Karena ... karena aku mendengarkan kata hatiku," jawab Ben. Oh, Ben benar-benar akan jadi raja yang penuh pengertian.
Mal mulai menurunkan tongkatnya. "Aku mau mendengarkan kata hatiku juga," katanya, "dan hatiku berkata bahwa kita bukan orangtua kita." Ia berbalik menatap teman-temannya. Ia menoleh pada Jay. "Maksudku, mencuri barang tidak membuatmu senang, Tourney dan pizza perayaan kemenangan dengan tim membuatmu senang. Jay, aku bahkan tidak pernah melihatmu begitu bahagia sampai kau datang ke sini dan bertemu Beth." Mal menoleh padaku sebentar. Dan sesungguhnya aku bisa merasakan pegangan tangan mama dan papa mengendur, bersamaan dengan kudapati tatapan lembut Jay padaku.
"Dan kau, mengelus perut Dude membuatmu senang, siapa sangka, kan?" kata Mal berikutnya pada Carlos. Sekarang ia menoleh pada Evie. "Dan, Evie, kau tidak usah pura-pura bodoh untuk medapatkan seseorang. Kau sangat cerdas." Aku mengangguk setuju diam-diam.
"Dan aku tidak mau mengambil alih dunia dengan kejahatan. Aku mau pergi ke sekolah. Aku ingin dengan Ben," kata Mal, lalu ia memperlihatkan jemarinya pada Ben, aku bisa melihat cincin Ben di tangan gadis itu. Gadis itu menoleh lagi pada teman-temannya. "Kita berteman membuatku sangat senang. " Mal menjulurkan tangannya pada teman-temannya. "Aku memilih baik, teman-teman."
Jay yag kedua menjulurkan tangannya. "Aku memilih baik juga." Lalu ia langsung menatapku dan tersenyum lembut.
Evie selanjutnya. "Aku memilih baik."
Tetapi Carlos tidak langsung mengikuti aksi teman-temannya. "Jadi, hanya ingin memastikan. Kita tidak usah khawatir tentang betapa marah para orangtua kita nantinya? Karena mereka pasti akan sangat, sangat marah."
"Orangtua kalian tidak akan bisa datang kemari," kata Ben meyakinkan.
"Oke, kalau begitu, baik," kata Carlos akhirnya sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya pada teman-temannya.
Mal menoleh pada Ben, dan kakakku itu ikut maju menjulurkan tangannya dan bergabung dengan mereka. Kali ini Jay menoleh padaku lagi, dan tidak hanya menoleh, ia meluruskan satu tangannya, seakan memintaku untuk menyambut tangannya yang terulur. Ben pun melirikku sambil tersenyum, seakan mengajak bergabung. Aku melirik pada mama dan papa. Keduanya melepaskan pegangan mereka dariku, mama mengangguk dan tersenyum. Jadi aku tersenyum kecil, menuruni panggung, berjalan menghampiri Jay dan menyambut tangannya. Aku pun akhirnya menjulurkan tanganku seperti yang Ben lakukan, sambil satu tanganku masih digenggam erat Jay.
Masih seperti ini, aku menoleh pada Jay, mendapati ia juga menoleh padaku, tersenyum lembut padaku, sambil kurasakan ibu jarinya mengusap pelan punggung tanganku. Dan aku teringat bahwa aku memang menyukainya.
Suara kaca yang pecah mengagetkan kami. Asap hitam memusar di depan panggung, semua orang langsung melangkah mundur. Saat asap itu lenyap, ibu Mal, Maleficent tampak wajahnya. Orang-orang memekik. Kami mundur, pegangan tangan Jay makin erat dan ia membawaku agak mundur lagi, malah ia menutupi tubuhku dengan tubuhnya.
"Aku kembaliii~!" kata Maleficent riang.
"Pergilah, Ibu," kata Mal.
"Kau sangat lucu," kata Maleficent. "Tongkatnya, sini." Dari balik punggung Jay, aku masih bisa melihat Mal tidak bergeming. "Cepatlah."
Tapi akhirnya Mal melempar tongkat itu pada Ibu Peri. Pemilik tongkat itu pun langsung mulai mengucapkan mantranya, tapi dipotong Maleficent. Ibunya Mal itu menggunakan sihirnya dengan tongkatnya yang menjulur ke atas. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan, apa yang terjadi. Tapi sedetik kemudian, semuanya berbeda.
Yep. Kulihat Ben ingin melompat untuk menyerang, tapi ditahan Mal. Jay tidak lagi memegangi tanganku, entah dia dari mana tapi yang jelas dengan cepat ia menghampiriku, menanyakan keadaanku.
Tunggu, mana Maleficent?
.
.
TBC
.
.
