"Beth, Beth, kau baik-baik, saja?" tanya Jay sambil menghampiriku dengan wajah cemas.
Aku mengerjap bingung. "Um, ya, mana Maleficent? Aku hanya berkedip satu kali dan dia hilang ... "
"Dia menyihir kalian menjadi patung, tapi sekarang, yah, pokoknya dia sudah kalah, jadi mengecil, dan Ibu Peri membuat kalian bisa bergerak lagi," jawab Jay.
Masih saja aku bingung. "Apa maksudmu mengecil?" Jay menunjuk ke lantai. Aku tidak menemukan apa pun di lantai kecuali semacam kadal kecil berwarna hitam. Tunggu, Maleficent bisa berubah menjadi naga besar, kan? Maksudnya dia yang masih dalam wujud naga itu mengecil menjadi seperti kadal? "Itu Maleficent?" Jay mengangguk.
"Yah, Mal hebat, kau tahu?" kata Jay sambil terkekeh pelan.
Aku tersenyum kecil dan menggenggam lembut tangannya dengan kedua tanganku. "Terimakasih, Jay."
"Apa? Bukan, bukan, Mal yang mengalahkan ibunya," kata Jay, "aku, Carlos, dan Evie hanya seperti pemandu sorak."
"Tapi kuyakin ia tidak akan bisa berhasil tanpa kalian," ujarku. "Terimakasih, Jay."
Akhirnya Jay tersenyum dan ia memelukku.
.
.
Disclaimer: Descendants adalah milik Disney, OC adalah milik author, author tidak mengambil keuntungan.
Warning: Akan ada kemungkinan OC menjadi mary-sue tapi author berusaha untuk tidak berlebihan. OC x Jay, slight other minor pairings, mungkin OOC.
.
Heart's Stealer
Chapter 7
by Fei Mei
.
.
Pesta sehabis koronasi pun digelar di halaman istana untuk para murid SMA Auradon. Aku dan Ben sudah berganti baju dari baju resmi kami—gaunku yang kedua tidaklah sepanjang gaun pertamaku, yang ini hanya sedikit di atas lutut, roknya lebar, bahuku masih terbuka, dan tiaraku masih terselip di kepalaku.
Musik dinyalakan dengan keras, sehingga sebagian besar para hadirin pesta menari. Aku melihat Ben, sebagai tuan rumah, menari dengan Mal. Evie menari dengan Doug—aku senang melihat mereka berdua, mereka terlihat manis saat bersama. Carlos membiarkan Dude menari seorang (seekor) diri, dan pemuda itu mengajak Jane menari. Sedangkan aku? Aku tidak suka berada di tengah keramaian, kalau bisa malah aku ingin langsung kembali ke kamar dan istirahat. Tapi kutahu mama tidak akan senang, jadi biarlah aku duduk di pinggir taman seorang diri. Toh, sebenarnya aku juga sudah menari dengan Ben duluan di awal tadi. Karena tahu adiknya tidak suka dilihat banyak orang terlalu lama, ia pun melepaskanku setelah satu lagu habis. Jadi, ya, sekarang aku seorang diri.
Jay datang menghampiriku sambil tersenyum. Tapi ia tidak langsung duduk di sampingku atau mengucapkan sesutu, malah ia berjongkok di samping bangku, membuatku menyerngit. Tapi ketika ia sudah tidak berjongkok lagi, aku bisa melihat sekuntum bunga kecil di tangannya, disodorkannya padaku
"Beth, menarilah denganku," ajaknya sambil menyodorkan bunga itu.
Aku menggeleng pelan dan tersenyum kecil, tetapi tetap menerima bunga itu. "Kau menari saja dengan yang lain, Jay, aku sendiri di sini tidak apa, di sana terlalu ramai."
Ia mengangkat bahu dan duduk di sampingku. "Yah, kalau kau tidak mau ke sana, aku juga di sini saja."
Langsung saja aku menyerngit. "Sungguh, Jay, aku tidak apa sendiri."
Jay tersenyum, mengambil satu tanganku dan mencium punggung tanganku. Aku teringat saat pertama kali ia datang ke Auradon, ia mencium punggung tanganku juga—benar-benar bibirnya menyentuh kulitku. "Aku ingin di sini denganmu, Beth. Tidak ada yang menarik untuk berada di sana buatku kalau tidak ada kamu." Hatiku tersentuh, padahal tidak ada ramuan cinta dalamku, kan? "Dan, eh, aku ingat aku belum minta maaf untuk apa yang terjadi kemarin."
Kugelengkan cepat kepalaku. "Aku tahu kau tidak memberiku ramuan cinta atau mantra apa pun. Maksudku, kemarin malam Ben membawaku ke Enchandted Lake, ia bilang bahwa mantra dari Mal lenyap saat ia berenang di danau itu. Dan untuk tahu aku kena mantra yang sama atau tidak, aku masuk ke danau juga. Tidak ada, Jay, tidak ada mantra apa pun dalamku."
"Aku tahu," gumam Jay. "Tapi aku memang memberikan biskuit dengan ramuan cinta, kau memakannya, Beth. Saat tahu mantra itu bekerja untuk Ben, aku segera menghampirimu untuk memberimu biskuit itu—Mal tidak tahu kalau aku mengambil sedikit dari adonannya. Aku bingung karena tidak ada perubahan darimu. Aku mengaku pada Mal soal ini, dan jawabannya cukup mengejutkanku."
Aku menyerngit, lagi. "Biskuitnya tidak bekerja kalau darimu?"
Senyumnya melebar dan tetap terlihat lembut. "Tidak, harusnya itu bekerja. Satu-satunya yang membuat mantra itu tidak bekerja pada seseorang ... adalah karena orang yang memakan ramuan itu sudah lebih dulu menyukai si pemberi."
Langsung saja aku termegap. Tunggu, kalau Jay sudah tahu soal itu, berarti ia juga tahu kalau aku, eh, suka padanya?! "K-kau tahu aku—?" Jay terus tersenyum dan mengangguk. Aku menggigit bibir dan memalingkan muka.
Pemuda ini malah terkekeh, dengan satu tangannya yang tidak memegangi tanganku, ia menggunakan jemarinya untuk menarik wajahku untuk berhadapan dengannya lagi. "Aku menyukaimu, Beth, itulah sebabnya aku mengambi adonan itu dari Mal. Kupikir kau tidak akan mungkin suka padaku, jadi kupikir saat Mal membuat ramuan cinta, aku bisa mengambilnya sebagian. Tapi aku tidak menyangka kalau tanpa biskuit itu sebenarnya kamu sudah punya perasaan padaku."
Wajahku makin menghangat. "Berarti Mal dan yang lain juga sudah tahu kalau aku, eh, s-suka, padamu?"
Ia menggeleng. "Kalau Mal tidak memberitahu siapa-siapa, berarti ini hanya di antara aku, kau, dan Mal. Dan kupikir dengan Ben juga." Aku mengangguk. "Kau tahu, pertama kali aku memberimu bunga begini, itu hanya karena ingin menggodamu. Saat kubilang kau cantik waktu itu, itu benar. Tapi ya, bunganya karena aku ingin menggodamu. Namun, wajahmu begitu manis saat menerima bunga itu. Ingin melihatnya lagi, kuputuskan untuk memberi bunga seperti itu lagi, lagi, dan lagi. Kau tahu kenapa aku melakukannya, dan tidak memberimu bunga yang, yah, lebih layak untuk seorang putri?" Aku menggeleng. "Bunga yang tersisih sendiri itu biasanya karena mereka berbeda. Saat yang lain dipetik untuk hiasan, bunga ini tersisih. Tapi mereka tetap cantik, walau di pinggir. Justru, karena hanya ada satu di tempat itu, dialah yang membuat tempat itu terlihat lebih baik. Dan kau, Beth, kaulah bunga yang tersisih itu. Kau berbeda dengan yang lain. Di saat mereka ada untuk hiasan semata, kau ada untuk membuat segalanya lebih baik. Kau membuatku merasa lebih baik."
Aku tercengang mendengarnya. Gawat, kalau Jay membuat dadaku terasa lebih hangat lebih dari ini, aku pasti tidak akan kuat untuk menahan tangis karena terharu.
Kudengar musik yang diputarkan sekarang adalah lagu yang lambat. Jay berdiri dari kursinya, berdiri di hadapanku sambil tersenyum. "Beth, berdansalah denganku."
"Jay, aku sudah bilang—"
"—Aku tidak bilang menari di tengah halaman, Beth," ujarnya lembut. "Di sini, kita bisa berdansa di sini saja. Aku hanya ingin berdansa denganmu."
Perlahan senyumku mengembang. Akhirnya kuturuti saja permintaannya dan berdiri. Jay memegang kedua tanganku, tapi kami tidak langsung berdansa. Kulihat wajahnya menjadi tegang dan gugup. Aku menyerngit.
" ... Kau tahu bagaimana cara berdansa, kan?" tanyaku memastikan.
"Aku tahu bagaimana menari hiphop. Dansa? Tidak," akunya.
Aku terkekeh pelan. "Kau tidak tahu bagaimana cara berdansa dan kau masih mengajakku?"
Ia mengangkat bahu. "Aku hanya ingin menari denganmu."
Senyumku mengembang lebar. "Baiklah, kuajari. Lingkarkan satu tanganmu ke pinggangku." Dengan canggung Jay menurut. Ia segera melingkarkan tangannya ke pinggangku, membuat tubuh kami menjadi sangat dekat. Aku tahu ini adalah instruksiku, tapi aku belum menyiapkan hati untuk berada sedekat ini dengannya. "Nah, tangan yang satu lagi memegang tanganku—ya, seperti ini. Baiklah. Ikuti irama kakiku, dan tolong jangan sampai menginjak kakiku."
Jay menyengir kecil, tapi mengangguk juga. Aku mulai menggerakkan kakiku, melangkah seakan membuat sebuah segi empat. Maju, kanan, mundur, kiri, dan begitu terus. Dan karena memang seperti itu saja, tubuh Jay sudah tidak begitu kaku, kakinya sudah membiasakan diri dengan gerakan kakiku.
"Hm, ini jauh lebih mudah daripada matematika," komentarnya sambil menyengir kecil.
Mau tak mau aku tertawa, tapi berusaha agar tidak terlalu terbahak-bahak. "Kau membandingkan ini dengan matematika?"
Ia ikut tertawa denganku, tapi itu tak berlangsung lama. Jay menghentikan tawanya dan menatap lurus ke mataku. Aku menghentikan tawaku juga saat menyadari betapa dalamnya ia menatapku. Gerakan kaki kami perlahan semakin lambat. Kupasang telinga baik-baik dan kusadari ternyata lagunya sudah habis.
Kini kami berhenti. Jay menundukkan kepalanya, tangannya semakin erat di pinggangku. Satu tangannya yang tadi memegang tanganku saat menari, kini memegang sisi wajahku. Saat wajah Jay semakin dekat dengan wajahku, wajahku menghangat dan spontan kututup mataku, dan langsung saja kurasakan sesuatu yang lembut dan agak basah menempel di bibirku.
Bibir Jay, pikirku. Jay menciumku.
Jay baru melepaskan bibirnya dariku saat kami sama-sama terkejut mendengar suara keras ledakan kembang api. Kubuka mataku, mendapati langit berkelap-kelip karena cahaya kembang api. Lalu kudapati wajah Jay yang masih menatapku. Ia menunduk lagi, hanya untuk menempelkan keningnya di keningku.
"Bagaimana dengan ciuman pertamamu?" tanyanya pelan sambil tersenyum lembut.
Aku termegap. "Ap-apa—bagaimana kau tahu—?"
"Lonnie," jawabnya. "Saat ia memberitahuku cemilan apa saja yang kau suka, dia memberitahuku untuk jangan pernah merampas ciuman pertamamu kalau aku tidak serius tentangmu. Dan sekarang, aku serius tentangmu, Beth, jadi aku menciummu." Jay tersenyum lembut, membuat hatiku meleleh mendengarnya.
"Dasar," dengusku lemah sambil menunduk, menggeleng, dan berharap wajah merahku tak terlihat olehnya. "Kau memang pencuri."
"H-hah?" tanya Jay kaget. "B-begini. Oke, yah, di Pulau memang aku mencuri banyak hal tiap saat. Tapi saat di Auradon aku tidak selalu mencuri—sejak aku tahu aku tertarik padamu, aku berusaha menahan gatalnya tanganku, berusaha tidak mengambil apa pun yang bukan hakku. Yah, aku memang pencuri ponsel dan cincin Chad di hari pertamaku di sini, beberapa perhiasan, dan apa pun itu, tapi setelah aku pergi kencan denganmu, keesokkan harinya aku mengembalikannya pada mereka, tanpa mereka tahu akulah yang mengambilnya. Tapi aku berani sumpah, Beth, aku tidak pernah mencuri darimu, aku tidak pernah mengambil apa pun."
Kuteguk ludah dan dengan susah payah aku menemui pandangan matanya. "Jay, kau mengambil banyak hal dariku," gumamku.
Jay membelalakkan matanya. "Ap-apa?"
Aku tersenyum kecil. "Contohnya ... baru saja kau mencuri ciuman pertamaku. Kau mengambilnya dariku, Jay." Wajah terkejut pemuda ini melunak. "Lalu kau mengambil kesempatan sebagai pemuda pertama yang kuiyakan untuk pergi kencan, padahal aku tidak tahu kalau itu adalah kencan. Kau mengambil kesempatan sebagai pemuda pertama yang menggandeng dan memelukku—tentu saja selain Ben. Kau juga mengambil kesempatan sebagai pemuda pertama, selain Ben, yang berdansa denganku."
Ia terkekeh kecil. "Ah, ya, mungkin aku mengambil beberapa hal darimu. Tapi sejujurnya, aku tidak ingin menjadi 'pemuda pertama' untukmu Beth, aku ingin jadi 'satu-satunya pemuda' untukmu."
"Kita akan lihat perkembangannya nanti, ya?" gumamku, Jay mengangguk. "Apa kau pernah, eh, mencium seorang gadis sebelumnya?"
"Uh, Beth, aku tidak ingin bohong padamu, oke? Tapi kalau hanya sekedar mencium, aku sering melakukannya dengan beberapa gadis di Pulau, lebih dari sekedar mencium pun pernah," katanya, membuat pipiku menghangat sendiri saat mendengar 'lebih dari sekedar mencium'. "Tapi, tidak pernah, Beth, aku tidak pernah mencium siapa pun seperti yang kulakukan padamu. Ciumanku dengan mereka, itu hanya main-main. Sedangkan denganmu, aku serius tentangmu. Beth, apa kau serius denganku juga?"
Aku tercengang mendengar pertanyaan itu. Ini adalah pertama kalinya aku merasakan perasaan ini. Apakah aku serius? Memandang mata Jay yang menatapku sayang, dadaku merasa semakin hangat. Aku tidak tahu aku sanggup mengucapkan kata apa pun, jadi aku hanya mengangguk pelan.
Jay tersenyum senang. "Beth, maukah kau jadi pacarku?"
Lansung saja aku termegap pelan. Pertanyaan tentang aku serius atau tidak saja sudah cukup membuatku bingung, kini ia membuatku terkejut. Aku masih agak bingung tentang normal atau tidaknya suka pada seseorang yang baru saja kutemui, sekarang aku harus berpikir wajar atau tidak berpacaran dengan seseorang yang baru kukenal selama sebulan. Walau ini adalah cinta pada pandangan pertama atau apa pun yang Lonnie pernah bilang, tetap saja sebulan adalah waktu yang terlalu singkat untuk mengenal satu sama lain, kan?
Ia masih menatapku lembut. "Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, tidak apa, aku bisa tunggu, Beth. Tahu kau punya perasaan yang sama denganku saja sudah lebih dari cukup."
"Terimakasih, Jay," gumamku, berusaha tersenyum. "Tapi ... kupikir aku harus menjawabnya sekarang."
Yep, Jay memberanikan dirinya untuk menciumku, untuk menyatakan perasaannya, untuk meminta maaf soal ramuan cinta serta menjelaskannya, untuk menyatakan keseriusannya, untuk berkata jujur tentang dirinya, semuanya dalam hari yang sama—dalam hitungan menit saja. Tidak adil kalau saat aku memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi aku tidak menjawabnya dengan benar.
Saat aku sudah yakin mendapati diriku tersenyum lenyum, aku baru menjawabnya. "Aku mau, Jay," gumamku pelan, "dengan senang hati, aku mau jadi pacarmu."
Perlahan senyum Jay melebar, dan bahkan ia tertawa senang. Kedua tangannya di pinggangku, mengangkat tubuhku dan memutar tubuh kami—bahkan kakiku sampai melayang dari tanah. Aku memekik kecil, tapi ikut tertawa dengannya. Saat ia menurunkanku ke tanah lagi, Jay mencium keningku dengan lembut.
"Kau tahu, sebenarnya ada satu hal penting yang kau curi dariku, dan aku belum menyebutkannya tadi," ujarku.
Jay menyerngit. "Um, aku mengambil kesempatan untuk menjadi pacar pertamamu?" lalu ia menyengir kecil.
Aku tertawa kecil. "Yah, itu salah satunya. Tapi lebih dari segalanya, Jay. Kau mencuri hatiku." Ia melenyapkan cengirannya, berganti menjadi senyum kecil. "Kau cinta pertamaku, Jay."
"Hm, kau bilang kau seorang putri, tapi kau juga sudah mencuri dariku, Beth," katanya sambil tersenyum. "Kau mencuri hatiku juga."
Kami terkekeh. Jay menghentikan kekehannya duluan. Ia menunduk, lagi. Kali ini, dengan lebih yakin, ia mencium bibirku lagi dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Beth," gumamnya.
Aku tersenyum kecil. "Begitu? Hanya dengan dua ciuman kau bisa berubah dari 'suka' menjadi 'cinta'?" godaku.
Jay menyengir. "Mungkin begitu. Mari kita cari tahu apa yang terjadi setelah ciuman ketiga," katanya.
Dan aku pun terhanyut di ciumannya lagi.
.
.
Setahun kemudian.
Ben masih sibuk sebagai raja yang baru, sehingga ia tidak pernah masuk sekolah lagi. Sebagai gantinya, karena bagaimana pun umurnya masih umur anak sekolah, papa mendatangkan guru privat untuknya. Tidak ada yang menyalahkannya, semua merasa wajar. Tapi aku kangen kakakku bukan main. Di tahun ajaran kemarin memang aku sangat jarang sekelas dengan kakakku, tapi setidaknya aku bisa bertemu di kamarnya. Sekarang? Bahkan Ben baru ada di kamar saat ia akan tidur. Tentu saja aku tidak akan datang ke kamarnya malam-malam untuk mengganggu istirahatnya.
Tapi aku bersyukur kami punya ponsel. Walau sibuk, ia akan menyempatkan diri mengirimiku pesan 'selamat pagi adik kecil, jangan terlambat sekolah' dan 'mimpi indah, Beth, aku sayang kamu' setiap harinya dengan kalimat yang berbeda. Selain dua pesan itu, ia akan mencuri-curi kesempatan hanya untuk memberitahuku apa yang sedang ia lakukan: menandatangani surat, membaca arsip lama, dan sebagainya. Dan kalau ia berhasil menyelesaikan tugasnya hari itu sebelum jam sembilan malam, yang mana sangat jarang sekali, ia akan meneleponku.
Evie, Mal, Jay, dan Carlos masih tetap di Auradon, dan semuanya berjalan seperti hari-hari biasa. Mungkin bedanya adalah keempatnya benar-benar menjadi bagian dari kami sekarang. Kuyakin masih ada beberapa atau banyak orang yang masih takut atau curiga pada mereka, tapi kebanyakan sudah bisa menerima keempat anak ini. Yang paling senang soal ini adalah Ben, tentu saja, karena bagaimana pun juga inilah yang dia inginkan: memberikan kesempatan pada anak-anak dari para penjahat, menunjukkan kalau mereka sebenarnya inosen.
Hubunganku dan Jay semakin dekat selama setahun ini, dan ia sudah beberapa kali membawaku pergi kencan. Aku masih sesekali bertemu dengannya dan Carlos malam-malam di kamar mereka untuk mengajari Jay matematika, dan Carlos mengajariku komputer. Tapi setiap pagi, atau kapan pun saat Jay menemukanku berjalan seorang diri, ia akan menarikku ke lorong atau ruang kosong hanya untuk mencium hidung dan kelopak mataku, lalu ia akan mencium punggung tanganku sebelum kami ke kelas masing-masing.
Aku pernah tanya kenapa Jay sangat jarang mencium pipi atau kening atau puncak kepalaku. Ia bilang, karena Ben menciumku di tiga daerah itu. Aku ingat betul penjelasannya.
"Ben mencium pipi, kening, dan puncak kepalamu. Ben adalah kakakmu, aku bukan, aku adalah pacarmu. Aku ingin menciummu tidak seperti kakakmu. Seperti, apa Ben mencium bibirmu? Tidak, jadi akulah yang mencium bibirmu. Hal yang sama berlaku untuk mata, hidung, dan tanganmu. Tidak peduli kalau aku harus membungkuk tiap kali ingin mencium hidungmu."
Uh, wajahku langsung menghangat sendiri tiap kali mengingat perkataannya. Bukan berarti ia tidak pernah mencium pipi, kening, atau puncak kepalaku. Pernah, tapi jarang. Jay lebih sering hanya menempelkan dagunya di puncak kepalaku saja saat ia memelukku.
Lonnie masih sering menggodaku, bahkan jadi makin sering menggodaku, mungkin. Heran, kupikir dengan aku dan Jay berpacaran, godaan Lonnie tentang kami akan terhenti, tapi ternyata malah makin parah. Wajahku masih tetap merona merah tiap kali ia menggodaku.
Aku sayang Jay, serius. Aku juga sayang Lonnie, Carlos, Evie, dan Mal. Tapi sesayang-sayangnya aku pada mereka, aku jauh lebih sayang Ben, makanya aku langsung mengiyakan saat kakakku itu mengajakku bertemu waktu ia sedang 'meliburkan diri' sore ini. yah, sebenarnya nanti malam aku sudah janji kencan dengan Jay, sih. Berarti aku harus ingat waktu saat mengobrol dengan Ben, kalau bisa. Lagipula, hei, Jay tidak bisa menyalahkanku kalau aku kangen Ben, kan?
Dengan cepat aku ke kamar Ben, kamarnya yang ada di istana. Aku sudah sengaja mengenakan baju rapi untuk kencanku malam ini, biar dari istana aku langsung bisa pergi dengan Jay.
Ben langsung memelukku erat saat aku datang ke kamarnya. Aku membalas pelukannya. Setahun! Astaga, ia tidak memelukku ini sudah setahun!
"Tidak apa kau libur sore ini?" tanyaku saat kami melepas pelukan masing-masing.
"Tidak masalah. Aku terlalu kangen adikku, sulit konsentrasi jadinya," jawabnya sambil menyengir lalu mencium keningku. Kami duduk di sofa. "Bagaimana kabarmu dengan Jay?"
"Aku baik, kau tahu itu. Jay juga baik."
Ben tersenyum dan menggeleng. "Maksudku, hubungan kalian."
"Oh," gumamku. "Um, baik, mungkin? Aku ada kencan dengannya malam ini."
"Hm, aku sudah dengar dari Mal. Selamat, Beth," ucapnya.
Aku menyerngit. "Selamat?"
Ia terkekeh. "Aku hanya ingin mengucapkannya. Kau akan tahu kenapa saat kalian kencan nanti. Omong-omong, sebentar lagi kau akan ujian akhir, kan?"
Kuanggukkan kepalaku. "Bukankah kau juga?"
"Aku masih tahun depan. Papa tidak ingin aku memusingkan tugas raja baru dan ujian sekolah di saat bersamaan," katanya. Aku mengangguk setuju dengan papa.
Kami mengobrol ringan setelahnya. Ia mengeluh sambil agak bercanda saat membicarakan tentang tugas-tugasnya menjadi raja, dan tentang bagaimana penasihat raja yang baru ternyata pemikirannya tidak begitu sejalan dengannya. Ben bilang para senat masih ada yang merendahkannya serta menganggap kakakku masih terlalu muda untuk menjadi raja. Sesungguhnya, aku juga menganggap ia masih terlalu muda, tapi aku tidak akan mau meremehkan kakakku.
"Omong-omong, aku sebenarnya kepikiran sesuatu," kata Ben. "Kita agak berhasil soal Mal dan teman-temannya di sini. Mungkin kita bisa memilih beberapa anak lagi dari Pulau untuk diundang kemari?"
"Kau yakin? Maksudku, yang ini berhasil karena Mal dan kau saling suka, begitu juga denganku dan Jay. Bagaimana kalau yang berikutnya malah membawa bencana?" tanyaku sambil menyerngit.
"Di saat itulah kita akan membutuhkan Mal, Evie, Carlos, dan Jay untuk membimbing mereka. Kalau kau, mama, dan papa sudah setuju, aku akan bicara dengan mereka."
"Lalu ... kau sudah memikirkan siapa yang kau undang?"
Ben mengangguk. "Anak Ursula, Kapten Hook, Ratu Hati, dan ... Gaston."
Aku membelalakkan mataku. "G-Gaston? Kau yakin?"
Ia mengangguk lagi. "Mal dan Audrey sudah berdamai—benar-benar berdamai. Kupikir, mungkin kita juga bisa mencobanya."
"Yah ... aku tidak begitu masalah. Tapi kau benar-benar harus bicarakan ini dengan mama dan papa, Ben," pesanku.
"Tentu. Oh, jam berapa kau harus bertemu Jay?" tanya Ben.
Kulirik jam dinding dan termegap. "Sepuluh menit lagi! Astaga, Ben, aku harus pergi!"
"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi?" ujarnya, aku mengangguk. Kami berpelukan lagi sebelum aku pergi ke pinggir sungai untuk bertemu dengan Jay.
.
.
Memang aku bertemu dengan Jay itu sudah agak terlambat. Kami janjian jam tujuh, dan aku baru tiba di tempat janjian jam tujuh lewat lima belas. Huft, untung saja ia tidak marah, lagipula aku langsung memberitahunya kalau aku habis bertemu dengan Ben.
Kami makan malam di samping sungai, sungai yang sama dengan tempat kami kencan pertama kali. Kalau waktu itu kami duduk makan cemilan di atas tikar, kali ini Jay sudah menyiapkan sajian makan malam di atas meja, jadi kami duduk di kursi.
Usai makan, Jay menyalakan musik pelan lewat ponselnya, lalu mengajakku berdansa. Aku tersenyum geli saat menyambut tangannya yang mengundangku dansa. Setahun lalu aku mengajarinya berdansa, dan sekarang ia sudah mahir memimpin dansa kami. Mau tak mau aku tersenyum padanya.
Saat musik berhenti, Jay mencium lembut bibirku, lalu tersenyum. Ia mengagetkanku dengan mundur selangkah dan langsung berlutut sambil memegangi kedua tanganku. Aku tercengang.
"Putri Bethany," ujarnya, "aku mencintaimu. Aku tahu aku dari Pulau, aku sudah pernah banyak mencuri, dan sama sekali bukan dari keluarga kerajaan. Aku belum bisa membelikanmu cincin yang layak untukmu. Tapi aku mencintaimu. Beth, aku tidak tahu kapan, tapi maukah kau menikah denganku suatu hari nanti?"
Tubuhku kaku. Aku tidak mempersiapkan diri untuk ini. Aku tidak menyangka ini akan terjadi. Mama tidak pernah mengajari bagaimana cara menanggapi suatu lamaran. Dan, oh, apakah ini alasan kenapa Ben mengucapkan selamat padaku? Kakakku tahu kalau pacarku akan melamar malam ini?
"K-Kau beritahu Ben?" tanyaku pelan.
"Um, yah. Aku meneleponnya, minta izin," katanya. "Aku juga ingin minta izin pada kedua orangtuamu, tapi aku tidak tahu bagaimana menghubungi mereka."
Astaga, Jay sudah memikirkan semuanya. Dia ingin menikahiku. Aku terharu dan air mataku menetes. Ia langsung buru-buru berdiri dan mengusap pipiku.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kau akan menangis," gumamnya.
Aku menggeleng pelan. "A-aku senang, Jay, aku hanya tidak menyangka kau akan melamarku malam ini," kataku sambil tersenyum. "Aku mau, aku mau menikah denganmu suatu saat nanti."
"Sungguh?" tanyanya tak percaya. Aku mengangguk dan ia langsung melompak kegirangan, setelahnya ia memelukku. Jay merogoh saku bajunya, lalu aku bisa melihat sebuah kalung dengan gantungan berbentuk ular kecil berwarna perak. "Yah, seperti yang kubilang, aku tidak punya cincin untuk kuberikan padamu. Sebagai gantinya, aku ingin memberikanmu ini, dulu milik ibuku sebelum ia meninggal."
Lagi-lagi aku tercengang. "Kau yakin? Itu milik ibumu, kan? Apa tidak apa?"
Ia mengangkat sebelah bahunya. "Ibu memberikan ini padaku sebelum ia meninggal, jadi aku menjaganya agar tidak hilang. Aku tidak ingin kehilanganmu juga, Beth, jadi aku ingin memberikan ini padamu."
"Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Jay," ucapku sambil tersenyum. "Bisakah kau tolong pakaikan padaku?"
Jay mengangguk lalu ke belakangku untuk mengenakan kalung itu di leherku. Setelah sudah, aku membalikkan tubuhku dan bertemu dengan tatapan matanya. Ia tersenyum dan mencium bibirku lagi.
"Aku mencintaimu, Beth," bisiknya.
Aku tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Jay."
Ia menyengir kecil. "Aku tidak tahu kapan, tapi aku akan mengambil kesempatan untuk menjadi satu-satunya pria yang akan menjadi pendamping hidupmu."
Langsung saja aku terkekeh pelan bersamanya, sebelum akhirnya kami berciuman lagi.
Ini sempurna.
.
.
THE END
.
.
